_GAARA'S FANG _

Desclaimer: Masashi Kishim0t0

Rating: T

Pairing: Sai x Gaara x Naru x Sasu x Sai + Neji x Tenten

By: Kinoshita no Shoujo

Genre : Romance / tragedy (walaupun cenderung ke tragedy,sih)

NB: Siapkan lagu Sahabat Kecilku-Gita G., ya..

Makasih buat yang udah repiu Kino-chan.. Ok, Rajin-rajin baca fic, ^__^


Chapter 3

Rumah Sakit Nee-Gaara, 08.21 am

"Bagaimana ini Shikamaru..??" Sai cemas tak terkendali. Air matanya yang jatuh sudah tak terhitung lagi. Mukanya merah basah. Shikamaru hanya bisa membuang nafas dan membawa kepala Sai perlahan membenam ke sebelah pundaknya. Naruto dan Sasuke saling erat berpegangan tangan. Sasuke merasakan tangan Naruto gemetar hebat. Terasa dingin bila dibanding dengan tangannya. Dia maklum, saudara angkatnya ini memang cerewet dan terlihat kuat, tapi sebenarnya Naruto orangnya lemah dan khawatiran.

Pintu ruang UGD terbuka. Seorang suster keluar dari ruang itu dengan membawa secarik kertas dengan alas meja dada, "Apakah ada dari pihak keluarga Gaara?"

Mereka terperanjat mendekati suster tersebut. "Bagaimana keadaannya, Sus?" tanya Sai mewakili.

Suster bertubuh semampai itu mengernyit tanda tak percaya. Meragukan pertanyaan Sai. "Apakah anda keluarganya?" ulang Suster berambut pink ini.

Shikamaru menjawab, "Buk-"

"IYA!" jawab Sai cepat melebihi Shikamaru. Semula semua menatap Sai dengan tatapan tak mengerti. Namun akhirnya mereka mengangguk pasrah membenarkan tindakan Sai.

"Baik, ikut saya." Suster tersebut berjalan menjauhi UGD dan berbelok kiri di pertigaan lorong paviliun Merpati. The ShippudenZ mengekor. Naruto dan Sasuke mencoba bertabah. Sai masih terisak, matanya bengeb dan mulai membengkak karena kebanyakan nangis. Shikamaru mengusap pundak Sai, mencoba menenangkannya walaupun ragu-ragu. Karena dia memang nggak ahli soal yang beginian.

Suster itu masuk ke sebuah ruang bercat putih yang tata ruangnya mirip klinik sekolah milik ibu Tsunade. Naruto, Sasuke, Sai dan Shikamaru pun dipersilahkan duduk. Sai dan Shikamaru duduk di depan Suster sedangkan Naruto dan Sasuke mengalah duduk di sudut ruangan karena kursi di depan suster hanya tersedia dua buah.

Suster itu mengapitkan kedua telapak tangannya dan menaruhnya di atas meja, "Begini.. Intinya Gaara selamat,"

Sontak ekspresi mereka berempat mengangkat kepala dan menunjukkan wajah lega penuh syukur kepada Tuhan semesta alam yang telah memberi kehidupan ini, "Alhamdulillahhh..." Sai malah semakin kencang menangis, membenamkan kembali wajahnya ke pundak Shikamaru. Suara tangisan yang memilukan, tangisan yang mengharu-biru, tetapi itu tak lain merupakan tangisan yang penuh rasa syukur..

"akan tetapi," Suster melanjutkan. Mereka kembali fokus pada Suster. Mereka tahu, kata 'Tapi' adalah kata yang menyedihkan, bila terdengar setelah kabar baik. Dan mereka tak ingin kemungkinan terburuklah yang akan diucapkan Suster.

"mulai sekarang, kalian harus manggung tanpa Gaara." Kata Suster yang memang sudah tahu ketenaran grup band pemula ini. "Gaara tidak akan ikut manggung bersama kalian," ulang Suster. Kata-kata ini membuat seluruh personil lainnya bingung sebaiknya hendak berkata apa. Tidak mungkin bagi sebuah band dapat berdiri tanpa seorang gitaris.

"Apa Gaara baik-baik saja,Sus??" tanya Sai serius.

"Seluruh tubuhnya tidak ada yang luka sedikitpun. Tadi dia di angkut kesini memang kelihatan hitam karena terkena abu arang bangunan yang hangus disekitarnya. Sekarng sudah dibersihkan oleh petugas medis. Cuma kedua telapak tangannya yang parah. Seperti terbakar api dalam waktu lama. Gaara mungkin tidak akan bisa bermain gitar lagi." Jelas Suster.

"Setelah ini Gaara akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Dia harus mendapat pengawasan dokter dalam beberapa hari disamping menunggu dia sadar. Gaara pingsan karena terlalu banyak menghirup asap. Paru-parunya butuh sedikit pemulihan." Kata Suster. "Baik, hanya itu yang bisa saya katakan. Tolong diselesaikan administrasinya." Suster memberi pengertian pada mereka.

"Baik, Sus. Terima kasih banyak," Shikamaru berdiri sambil tetap memegang pundak Gaara, mengajaknya untuk juga ikut berdiri.

"Sama-sama. Semoga Gaara cepat sembuh,ya.." senyum manis Suster memberi semangat. Shikamaru dan Sai membalas senyuman itu sekenanya. Naruto dan Sasuke ikut berdiri dan keluar ruang itu.

"Kalian ajak Sai ke ruang Gaara dulu. Aku mau selesaikan administrasinya sebentar," kata Shikamaru menyerahkan Sai kepada Naruto dan Sasuke. Mereka mengangguk. Shikamaru berbalik dan berjalan menuju ruang administrasi yang terletak di ujung lain rumah sakit.

Naruto, Sasuke dan Sai kembali ke ruang UGD. Dari jauh terlihat Gaara didorong oleh dua perawat laki-laki dengan infus yang menggantung di samping dorongan itu. Mereka berpapasan. Disana terlihat Gaara seperti tidur nyenyak sekali. Ditubuhnya masih tersisa coretan abu hitam walaupun sudah tak seberapa.

Naruto, Sasuke dan Sai mengikuti Gaara. Di lorong Lily, kamar nomor 401 lah Gaara di letakkan. Setelah kedua perawat itu membaringkan Gaara di kasur dan menyelimutinya, mereka pamit kepada Naruto, Sasuke dan Sai, "permisi,".

"Terima kasih banyak," jawab Naruto dan Sasuke bersamaan.

Sai masuk ke toilet. Pintunya tak di tutup. Suara keran terdengar sebentar. Lalu Sai ke luar dan duduk di kasur putih semu hijau tempat Gaara dibaringkan. Dia mengelus lembut wajah Gaara. Menghilangkan sisa abu yang tersisa di pipinya. Tangan Sai membersihkan debu arang dikening Gaara dengan sapu tangan basah. Menata rambut merah bata Gaara yang acak-acakan. Pandangannya kemudian teralih pada kedua tangan Gaara yang terbalut perban tebal dari siku sampai ujung jari. Air mata Sai meleleh.

"Sudah, sudah.." hibur Naruto mengusap punggung Sai.

"Oh,ya Naruto, tolong kamu sms Shikamaru. Beritahu alamat kamar Gaara." Suruh Sasuke. Naruto mengangguk dan meraih HP di saku kemeja seragamnya.

Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu. Pintu itu terbuka, ternyata Shikamaru. Lalu Shikamaru terlihat mempersilahkan seseorang di belakangnya. Bu Tsunade dan Om Gai muncul dengan dua buah kresek putih beserta satu parcel buah-buahan.

"Bagaimana keadaan Gaara?" tanya guru biology yang merangkap petugas klinik sekolah ini.

"Alhamdulillah tidak apa-apa, Bu. Cuma tangannya yang terkena luka bakar," jawab Sasuke. "tapi, kenapa Bu Tsunade dan Pak Gai tahu kalau Gaara bakal rawat inap?" tanyanya sambil menunjuk buah tangan yang tengah di letakkan Tsunade di almari kayu di samping Gaara.

"Sebenarnya kami tadi menelepon Shikamaru. Katanya Gaara selamat. Jadi kami kesini menjenguk sebagai wakil dari pihak sekolah," terang Om Gai. Sasuke dan Naruto mengangguk tanda mengerti.

"Bagaimana dengan administrasinya?" tanya Naruto menatap Shikamaru.

"Sudah ditanggung pihak sekolah," Shikamaru menoleh pada Om Gai.

Om Gai tersenyum lebar, "Serahkan saja pada kami!"

Tsunade menimpali, "Kami tidak bisa berlama-lama karena harus mengurus urusan sekolah. Banyak file sekolah yang hangus terbakar. Gedungnya juga harus segera direnovasi. Karena sebentar lagi akan diadakan ulangan semester satu,"

Naruto dkk mengangguk.

"Benar. Kami pamit dulu, ya.." kata Om Gai say bai-bai, "Semoga Gaara cepat sembuh.. Jangan lupa tetap belajar untuk ujian semester!"

Naruto dan yang lain membungkukkan badan, "Terima kasih, mohon do'anya.."

Shikamarulah yang pertama kali menegakkan badan. Dia menatap Gaara yang tertidur dengan pulas. Dia kemudian melihat Naruto yang menekan tombol TV dan menggonta-ganti channel dan berhenti di acara Derings. Disana Hinata Gutawa sedang berpose sedih berdiri di panggung,

Kau jauh melangkah, melewati batas waktu,

menjauh dariku akankah kita berjumpa kembali..

"Kalian mau makan apa? Biasanya jam segini kita pasti makan di kantin sekolah." Kata Shikamaru menatap jam tangan hitamnya yang berstyle ala rocker yang menunjukkan pukul 11.

"Hmm, aku dan Sasuke nasi pecel aja. Kamu apa Sai?" toleh Naruto pada Sai.

"Aku terserah aja,"

Shikamaru beranjak dari sofa dan keluar dari kamar Gaara. Dia berjalan menjauh. Di telinganya masih terdengar Suara Hinata Gutawa yang mengalun,

Sahabat kecilku, masihkah kau ingat aku,

saat kau lantunkan segala cita dan tujuan mulia..

"Tumben Shikamaru jadi rajin begini. Padahal biasanya leyeh-leyeh nggak tahu sikon. Ringan tangan sekali dia," kata Naruto pada Sasuke dengan menjinjit sebelah alisnya menunjukkan rasa heran.

"Mungkin dia syok dengan keadaan Gaara. Mereka dari SD 'kan selalu bersama. Kayak kita," Sasuke tersenyum tulus pada Naruto. Tangannya menggenggam tangan saudara angkatnya itu. Jarang-jarang Sasuke bersikap semanis itu.

"Bukan SD, tapi dari play grup!" protes Naruto membenarkan dengan wajah yang sedikit merah. Menunjukkan bibir manyunnya.

"Iya, iya.." Sasuke mengalah. Naruto dan Sasuke tersenyum satu sama lain.

Sai yang melihat perasaan saling suka dari dua sejoli itu merasakan jealous. Tapi dia mampu menempatkan rasa irinya itu jauh-jauh mengingat Gaara yang masih tak sadarkan diri.

Tak ada satu pun masa seindah saat kita bersama,

Bermain-main hingga lupa waktu

Mungkinkah kita 'kan mengulangnya..

Shikamaru yang berjalan menuju kantin rumah sakit menghentikan langkah tatkala melihat tulisan 'Ruang Kepala Rumah Sakit' tertera di salah satu dari sekian papan hijau yang menggantung di atasnya. Dia tahu, Gaara adalah anak dari kepala rumah sakit ini. Tapi dia tak berniat menuju ruang itu karena dia tahu, Suster tadi mungkin sudah memberitahu ayah Gaara tentang keadaan anaknya. Shikamaru kembali meneruskan langkah.

Tiada.. tiada lagi tawamu

yang slalu menemani sgala sedihku..

Dugaan Shikamaru sama sekali tak meleset, tak lama setelah Shikamaru keluar ruang Gaara, Kepala Rumah Sakit ini masuk.

"Maaf, apa Gaara di sini??" tanyanya tergopoh dengan nafas tak beraturan. Terlihat sekali wajah pucat dan capek yang tengah dialami.

Sasuke dan Naruto kaget melihat seorang pria tampan setengah baya masuk ke dalam ruangan. Rambutnya seperti rambut Gaara. Merah bata. "I-Iya.."

Pria dengan perawakan tegap itu segera mendekati teman mereka yang terbaring lemah di sisi tempat tidur dan mengusap rambut Gaara, "Gaara, putraku.." Sasuke dan Naruto malah makin kaget. Mereka berpandangan. Pria itu kemudian memandang sejoli itu lekat-lekat lalu bertanya, "Bagaimana bisa seperti ini??"

Tiada.. tiada lagi candamu

Yang slalu menghibur di saat ku lara..

Sasuke dan Naruto kembali saling berpandangan. Mereka mempersilahkan pria -yang baru mereka ketahui itu ayah Gaara- duduk di kursi yang mulanya di pakai oleh Sasuke. Tak banyak bertanya, mereka menjelaskan secara runtut kejadian perkara yang mereka tahu kepada pria itu sampai saat Gaara terbaring di ruang 401 ini.

Bila malam tiba, ku slalu mohonkan doa,

menjaga jiwamu hingga suatu masa bertemu lagi..

"Gaara.. Kenapa kamu juga ikut-ikutan sakitt.." keluh ayah Gaara.

Mendengar rintihanayah Gaara, Tiba-tiba Naruto teringat Temari Nee-san, kakak Gaara yang kata Gaara juga sedang dirawat di rumah sakit, "Oh,ya.. Nee-san apa juga di rawat di rumah sakit ini? Bagaimana keadaannya?" tanyanya pada ayah Gaara. Ayah Gaara mengangguk, "Alhamdulillah keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya, walaupun belum sadarkan diri.".

"Begitu, insyaallah setelah ini saya akan mengunjungi Nee-san," kata Naruto pada ayah Gaara.

"Terima kasih banyak," Ayah Gaara tersenyum. Dibalas lagi senyuman manis oleh Naruto. Sasuke cengok sebentar, tapi masih menjaga imejnya sebagai seorang Uchiha. Dia tak mau rasa ingin tahunya mendorong dirinya untuk memotong pembicaraan yang dia sendiri tidak tahu topik apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang ini. Tapi dia mengerti kalau ada orang lain lagi yang dirawat di rumah sakit yang sama. Orang di kenal Naruto, juga ayah Gaara.

Krett.. Sai keluar dari toilet. Dia menggenggam produk facial wash di tangan kiri. Mukanya terlihat basah bercampur segar. Tetapi matanya masih merah dan pelupuk matanya sedikit bengkak. Tatapan mata heran melihat ada seorang pria berjas putih yang tengah mengobrol dengan kedua sahabatnya. Setelah memasukkan produk bermerek ponds itu ke tasnya di sofa, Sai mendekat pada mereka bertiga. Tak tanggung, dia bertanya pada Naruto dan Sasuke.

"Siapa ini Naruto? Apa dokter yang akan merawat Gaara, ya?" tanyanya polos. Ayah Gaara tersenyum simpul melihat cewek cantik berkulit putih pucat ini.

Naruto dan Sasuke menggeleng buru-buru. "Bukan, dia ayah Gaara, kebetulan kepala rumah sakit ini.." jawab Naruto.

Mendengar itu, Sai langsung menundukkan badan memberi hormat, "Paman.."

"Iya,.." sapanya balik.

"Kok paman bisa tahu kalau Gaara di sini?" tanya Sai mewakili pertanyaan yang dari tadi dipendam oleh Sasuke dan Naruto.

"Saya diberitahu oleh suster Sakura, asisten saya yang tadi memang sedang bertugas di ruang UGD," Terangnya. Refleks Sai, Sasuke dan Naruto menampakkan ekspresi, 'OHH.. Begitu...'.

Ayah Gaara bergantian memandang ketiga remaja ini dengan tatapan mengamati. "Ada apa, Om?" tanya Sai.

"Mana Shikamaru?" fokus ayah Gaara sekarang berada di Sai. "Oh, dia sedang membelikan makan siang untuk kami, Om.." jawab Sai penuh santun. Langkahnya kini bertujuan ke dapur kamar. Mengambil beberapa sendok gula dan secelup teh Sariwangi. "Oh, begitu." respon ayah Gaara singkat. Cangkir yang telah berisi teh hangat manis itu kemudian diletakkan di meja samping ayah Gaara. "Silahkan, Om. Diminum dulu.." Sai menyodorkan secangkir putih mendekat ke arah ayah Gaara. "Wah, terima kasih banyak. Oiya, ngomong-ngomong nama kalian siapa? Kalian belum memperkenalkan diri, lho.." pertama ayah Gaara menatap cewek bermata onyx. "Saya Sai, Om. Saya berteman dekat dengan Gaara.." kata Sai malu-malu tapi tak mau menunjukkan wajah tersipunya. Tetapi ayah Gaara melihat itu dan tersenyum tanda mengerti. Mengerti kalau gadis di depannya ini mungkin adalah 'masa depan' Gaara. Matanya kemudian beralih tujuan ke cewek berambut pirang panjang yang berada di samping Sai. "Lalu yang ini?"

"Saya Naruto, Om.." Naruto tersenyum khas seperti biasanya. Penyipitan dari iris mata bak berlian biru yang berkilau membuat ayah Gaara sedikit terkejut dengan gadis satu ini. Aura positif yang dirasakan terpancar dari senyum sungging Naruto. Padahal dari tadi mereka mengobrol, tidak terasa sama sekali. "Wah, auramu positif sekali, ya Naruto!" ayah gaara memuji.

"Ah, biasa saja Om!" Sasuke yang dari tadi diam tiba-tiba angkat bicara. "Nggak ada yang istimewa!" Sasuke membuang wajahnya dari Naruto. Walau berpaling, mata tajam itu masih menatap Naruto dari ujung tepi kelopaknya. Naruto yang semula tersipu atas pujian ayah Gaara, mendadak ilpil sama Sasuke. Manyun andalannya muncul lagi.

"DASAR TEME!!" tanpa sadar Naruto mendorong kuat lengan kanan Sasuke. Dan GUBRAK! ! Terjungkallah Sasuke dengan sangat sukses. Tersimpuh di bawah Naruto. Dengan kursi yang jomplang di belakang, membuat posisi Si Uchiha ini sangat-luar biasa tidak elit- sama sekali.

Perempatan jalan sangat jelas terlukis di kening Sasuke. Alisnya bertumpuk, sudah tak bisa dihitung lagi ada berapa lipatan. "DOBEEEEEEEEE!!!" Teriak Sasuke murka. Ditariknya dengan kuat rok Naruto yang masih dalam jangakauan. Cewek pirang ini kaget bukan main dengan tindakan Sasuke. "Te-Teme!! Jangan tarik rokku, Bodoh!" Naruto mati-matian mempertahankan rok seragam berwarna merah cerah bergaris orange itu. Tapi tenaga cewe' kok dibandingin tenaganya cowo'? Alhasil, Naruto sudah tak kuat lagi menahan roknya yang ditarik Sasuke dari bawah. Untung saja belum melorot. +_+

"ukh,, Lepaskan Teme!! Malu 'kan dilihat ayahnya Gaara!" Sasuke tertegun. Membeku. Berhenti dari aktivitasnya. Dia menoleh pelan ke arah ayah Gaara. Cowok ini tak menyadari kalau sedari tadi ayah Gaara menahan tawa dengan perbuatan konyol yang dilakukannya pada Naruto. Otomatis, wajah Sasuke matang bagai arang terbakar. Mau dikemanakan klan uchiha imejnya dipertahankan dari kakek buyut hingga ke canggah??

"Hehehe.." perbuatan dua insan berhasil membuat ayah gaara tertawa geli. Dengan susah payah beliau bangkit dari tawa. "Kalian semangat sekali, ya..".

Naruto menyungging senyum tak ikhlas, "hehe.. Kalau si Teme ini namanya Sasuke, Om! Ingat baik-baik,ya nama si cowo' mesum ini!"

"Baik, baik.. pasti aku ingat." Senyum ayah Gaara mengembang sebentar. Sasuke jadi nggak ada mood buat bicara lagi. Darkface seketika bersarang di benaknya.

Si Sai yang dari tadi memperhatikan polah tingkah kedua sahabatnya jadi sweatdrop sendirian. Malu 'kan dilihat calon mertua! Inginnya dia sih, ayah gaara adalah calon mertuanya mendatang. Tapi itu juga tergantung Gaara yang sekarang ini masih tak sadarkan diri. Apa dia mau menerima hati Sai yang dari dulu menimang rasa cinta yang kian memburu perasaan untuk hasrat ingin memiliki Gaara seorang. *Cieeee..

Pembicaraan plus obrolan singkat antar delapan mata ini berlanjut hingga Ayah Gaara beranjak dari kursi putih yang menjadi hangat setelah didudukinya. "Om kembali ke kantor dulu,ya.. Om titip Gaara.." senyum manis yang tampak dari raut wajah ayah Gaara begitu tulus dipandang. Ketiga manusia yang dipamiti terpukau akan pancaran indah dari ayah Gaara. "Baik, Om.."

Setelah ayah Gaara memutar knop pintu dari luar, Naruto memulai berceloteh. "Eh, ayah kok beda sama anak,ya? Sensasinya kerasa beda banget! Walaupun.. sama-sama keren, sih..." Naruto ngelirik Sasuke yang masih sibuk mengatur posisi duduk. Bangkit dari pose tak elitnya.

"Apa liat-liat??" Sasuke dingin. Moodnya jelek banget.

Naruto buang muka. Sai tak peduli dengan itu. Sai terus mendekat pada tubuh yang terkulai lemah di tempat pembaringan. Di elus rambut merah bata yang selalu terhembus lembut saat dia memainkan petikan gitar di kala musim semi tiba.. Begitu menghangatkan. Sangat menyejukkan. Ingatan deja vu Sai membawanya hanyut saat pertama melihat Gaara. Ya, Sai memang terkena panah cupid begitu pertama kali melihat Gaara yang sedang memainkan gitar yamahanya di bawah pohon talok..

#

TBC... (..--_--..)



Repiew-repiew-repiew.. (^_^)

Maap, ya readers.. adegan Sai n Gaara dilebihin dari adegan SasuNaru.. tapi tenang, aja... pahlawan munculnya belakangan! Hehehe..

Naru n Kino mengucapkan, Selamat Natal N tahun baru bagi yang merayakaaaan...!! Merry Christmas and Happy new year..!

Oiya, Kino ada satu fic buat natal. Judulnya Christmas Night.. Baca, ya.. hehhe^-^

My room, 11.56 pm

HOAhhhh.....(+0+)

ngantukk....

Zzzzzzzzzz...... (--o--)

(ngebiarin winamp nyala di headset sampai keesokan harinya)

11