Naruto milik MasashiKishimoto-sensei
Healer milik OzellieOzel dan Ainirahmi26
Sasuke bersidekap seraya menatap keindahan gemerlap malam kota Tokyo yang menarik. Dia bersandar pada dinding kamar sembari menatap kota di balik kaca jendela besar di kamarnya. Tangan kanannya mengangkat mug berisi kopi hitam yang diolahnya sendiri. Ini adalah minuman kesukaan Sasuke. Minuman yang bisa meredakan sesaat kefrustasiannya. Aroma harum kopi dapat menjernihkan pikirannya yang suntuk.
Ini sudah memasuki minggu ketiga, dimana dia hanya berdiam diri di apartemen. Tak ada interaksi dengan dunia luar semenjak dia keluar dari rumah sakit. Proses pemulihan wajahnya cukup memakan waktu yang lama. Meskipun kini, bekas memar sudah memudar, tetap saja masih ada beberapa titik di wajahnya yang membiru, terutama di sudut bibirnya. Tinggal sedikit saja memang, tetapi tetap saja merusak penampilannya.
Mata kelamnya menyipit kala melihat tetesan-tetesan air hujan dari balik kaca. Kini hujan semakin deras. Dia menyibakkan gorden, bermaksud untuk menutupnya. Perlahan dia berjalan menuju ranjang empuknya yang didominasi dengan nuansa biru tua. Dia meletakkan mug tepat di sebelah lampu tidur.
Jujur saja jika Sasuke benar-benar bosan dengan semua rutinitasnya selama tiga minggu ini. Dia tak melakukan kegiatan apapun yang berarti. Semua dikerjakan di dalam apartemen, bahkan olahraga sekalipun. Dia tak bisa membohongi nuraninya jika kehidupan di luar sana jauh lebih menarik. Dia memang tak suka keramaian, tetapi sepi seperti ini jauh lebih tidak menyenangkan. Di luar sana, dia memiliki banyak penggemar dengan karakter bermacam-macam. Terkadang dia muak sekali melihat tingkah mereka yang terlalu memujanya. Tetapi sekarang dia sadar bahwa keberadaan merekalah yang mampu meredam kebosanan Sasuke.
Bukan berarti Sasuke mengakui jika dia membutuhkan perhatian penggemarnya. Tetap saja di dalam hatinya mereka hanyalah sekelompok hewan yang haus akan daging segar. Sasuke hanya mencoba bersikap manusiawi dan merenungi apa kesalahannya, seperti yang dikatakan Hatake Kakashi. Meskipun sampai sekarang juga, Sasuke enggan mengakui bahwa semua yang diucapkannya hanyalah keemosionalan semata.
"Bangun, tidur! Lalu bangun, kemudian tidur!"
Sasuke memutar bola matanya dengan bosan kala melihat seorang lelaki bertubuh jangkung dengan sangkar burung di tangannya. Sangkar tersebut berisi burung gagak hitam yang dipeliharanya sejak tiga bulan lalu. Di belakang lelaki itu, muncullah Obito yang menatap tajam. Dia mengambil paksa sangkar burung tersebut dari tangan lelaki bertubuh jangkung tersebut, kemudian membawanya keluar ruangan.
Ini yang kesekian kalinya Uchiha Itachi, yang merupakan kakak kandung Sasuke, berkunjung ke apartemen mewahnya. Sampai Sasuke jengkel melihatnya sendiri. Padahal sewaktu dulu, Itachi tak pernah menyempatkan diri untuk mengunjungi sang adik.
"Mau apa kau kemari lagi?" tanyanya ketus. Sebenarnya pertanyaan ini selalu dicetusnya tiap kali Itachi datang. Bayangkan saja betapa bosannya Itachi mendengar kalimat itu-itu saja. "Aku tak membutuhkanmu!"
Itachi tersenyum kecut kala mendengar pengusiran yang dilontarkan sang adik. Namun dia tak ingin terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Apalagi kini kondisi adiknya sedang buruk, baik fisik maupun mental. "Kau sudah makan malam?" tanya Itachi lalu duduk di ranjang Sasuke dengan kaki yang bersila. Sementara Obito sudah meninggalkan kamar dan membiarkan kakak beradik tersebut mengobrol. "Kalau boleh menebak, sepertinya belum."
Sasuke masih diam tak kunjung bergeming. Seolah kakaknya tak ada disana. Dia masih asyik menyesap kopinya seraya memandang beberapa figura yang terpajang di dinding kamarnya. Dari semua figura yang ada, terdapat satu foto yang paling asing menurutnya. Foto dirinya bersama salah satu penggemar yang mengidap kanker darah.
Seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang berkepala botak kini sudah berpulang pada Yang Maha Kuasa, dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini. Foto itu diambil kala Sasuke baru merintis karir, saat usianya masih 19 tahun. Waktu itu Sasuke masih polos. Dia bahkan ikut menitikkan air mata kala manajernya mengatakan bahwa penggemarnya telah meninggal dunia, dua hari setelah Sasuke menjenguknya ke rumah sakit. Sayangnya, Sasuke tak sempat hadir ke pemakamannya marena dia sedang berada di luar negeri. Namun sekembalinya dia dari luar negeri, dia menyempatkan diri untuk berbelasungkawa pada keluarga yang ditinggalkan sang mendiang.
Pada masa itu dia belum secemerlang sekarang. Begitu sulitnya untuk meraih popularitas. Dia harus membangun sendiri dengan susah payah demi karirnya. Namun kini semua kejayaan hancur sudah. Dia tak bisa memungkiri penyesalan di hati terutama saat ingatannya berlabuh pada kejadian tiga minggu lalu. Seandainya waktu bisa diputar, dia ingin sekali menarik kata-katanya.
"Sedang merenungi dosa-dosamu, Sasuke?" Suara Itachi menghentikan lamunan Sasuke. Pria bersurai panjang itu terkekeh geli kala mendapati sang adik yang melamun sambil memandangi foto Sasuke dan penggemarnya yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan berbagai alat bantu untuk tetap bertahan hidup. Sayangnya, penggemar Sasuke tersebut sudah meninggal dunia.
"Pergilah, Itachi!" ujar Sasuke ketus lalu meletakkan mug di atas meja. Dia berdiri lalu berjalan menunu toilet. Dia tak perlu menutup pintu karena yang dilakukannya hanyalah menyikat gigi saja. "Kau masih disini?" tanyanya masih dengan ketus, kala melihat sang kakak yang kini berbaring di atas ranjangnya.
"Aku mau menginap disini!" ujar Itachi lalu membuka bajunya. Dia tidur dengan bertelanjang dada. "Tak apa, kan?" Kemudian dia menarik selimut Sasuke seolah itu adalah miliknya, lalu tidur dengan santainya.
"Pergilah, Itachi! Kau mengganggu!" teriak Sasuke marah. Sikap sang kakak yang seenaknya membuatnya gusar. "Masih ada kamar satu lagi di sebelah."
Sasuke semakin kesal saat sang kakak kini menarik selimut hingga seluruh tubuhnya tertutup. Dia mendecak kesal lalu berjalan keluar kamar dan memilih tidur di kamar tamu. "Itachi sialan!" umpatnya kesal lalu berbaring di atas ranjang. Mata kelamnya memandangi langit-langit kamar yang dicat putih. Tak ada hal yang menarik disana, namun hal itu mampu memejamkan matanya hingga pada akhirnya benar-benar terlelap.
"Selamat atas penghargaan sebagai Aktor Pendatang Baru Terbaik tahun ini, Gaara-kun!"
Senyum di bibir Gaara melebar kala seorang gadis bersurai panjang datang memberi sebuah kejutan manis untuk dirinya. Sebuah kue tar berukuran kecil yang sudah pasti adalah buatan tangan Hinata. Dia beranjak dari ranjang lalu menghamburkan diri ke dalam pelukan Hinata seerat-eratnya. "Aku senang sekali!" serunya bersemangat. Seharusnya kemarin Hinata akan menjadi pasangan pendamping Gaara di acara perhelatan tersebut,namun karena ada urusan yang tak bisa ditinggalkan oleh Hinata, maka Gaara terpaksa hadir sendirian.
Hinata terkekeh geli lalu membalas pelukan Gaara. Tangan kanannya tak ikut merangkul karena masih memegang kue tersebut. "Aku kan sahabat yang baik," katanya seraya bergerak mundur saat pelukan Gaara mengendur. "Lalu, bagaimana dengan kedua boys lainnya? Apa mereka tak datang?"
"Entahlah, aku tak peduli, yang jelas ada kau disini saja sudah cukup!" sahut Gaara acuh. Dia mengendikkan bahunya lalu berjalan keluar dari kamar menuju sofa. Lebih nyaman mengobrol di ruang tengah daripada di kamar, bukan? Apalagi mereka berbeda jenis kelamin, sangat tidak boleh berada dalam satu ruangan yang sama. "Kupikir kau benar-benar melupakanku semenjak merintis karir di segala bidang."
Hinata mengerucutkan bibirnya kala mendengar lontaran penuh sindiran padanya. Hampir setengah tahun dia tak pernah berkumpul bersama teman-temannya lagi. Dia memang sibuk akhir-akhir ini. Tak ada yang ditutup-tutupi. "Maafkan aku, Gaara-kun," Hinata duduk di sebelah Gaara. Kue tar diletakkannya di atas meja. "Aku memang sibuk, kau tahu kan jika Neji-nii pergi..."
"Ya, ya, ya, kau sudah berulang kali mengatakannya via telepon. Bahkan aku sudah hapal apa kata-kata selanjutnya." Gaara mendecak kesal lalu mengalihkan pandangannya ke arah meja dapur. Mata hijaunya memicing tajam saat mendapati kursi dapur berdecit, seperti digeser. "Oi, Naruto, Shika! Mau sampai kapan kalian bersembunyi?" Gaara berteriak nyaring disertai kekehan geli. Gadis di sebelahnya juga ikut terkikik geli kala melihat reaksi Gaara yang tanpa beban kala meneriaki kedua sahabatnya yang juga sebenarnya ingin memberikannya kejutan. Tetapi sepertinya, justru Shikamaru dan Naruto yang terkejut.
"Kejutannya gagal!" keluh Naruto seraya berjalan meninggalkan meja makan. Wajah tampannya memberengut tak suka saat mendapati raut datar Gaara yang seolah tanpa beban.
Tepat di belakangnya ada Shikamaru yang mendengus kesal. Bukannya kesal pada Gaara, dia justru jengkel pada Naruto. "Sudah kukatakan tadi jika tak usah pakai kejutan segala!" ujarnya ketus. "Kau seperti tak tahu Gaara saja, Naruto. Dia hanya peduli dengan Hinata."
Gaara menyunggingkan senyum tipis kala melihat Shikamaru yang mendecih kesal. Lelaki yang bekerja sebagai perancang animasi tersebut benar-benar tak suka menghadapi hal-hal yang menurutnya sangat merepotkan. Maka dari itu dia memutuskan untuk tidak memiliki status hubungan dengan wanita manapun. "Lagipula untuk apa aku merindukan kalian? Kita hampir bertemu setiap hari, bukan?"
Sabaku Gaara, Uzumaki Naruto, dan Nara Shikamaru berada dalam satu agensi yang sama, yakni Wajik Entertainment. Hanya saja mereka berada di bidang berbeda. Gaara lebih fokus pada bidang modelling, dan baru-baru ini mulai menjajaki dunia seni peran. Naruto lebih fokus pada karir menyanyi, dan juga drama musikal di beberapa panggung teater. Sementara Shikamaru adalah seorang perancang karakter animasi untuk beberapa serial anime remaja di Jepang, beberapa kali dia juga sempat mengisi suara karakter untuk animasi.
"Setidaknya kau menyambut mereka dengan ramah, Gaara-kun," Hinata menutup mulutnya sembari menahan tawa. Dia tak bisa mengabaikan mimik cemberut Naruto yang menurutnya sangat menggemaskan. "Oh ya, ngomong-ngomong, aku tak menyangka, loh kau bisa mendapat penghargaan di ajang bergengsi itu."
Gaara tersenyum tipis. Dia juga turut bangga akan prestasinya. Menurutnya ini akan menjadi batu loncatannya dalam seni peran. "Aku juga tak menyangka akan menang. Padahal aku sempat berpikir Zabuza-san yang akan menjadi pemenang."
"Zabuza? Si berandalan itu? Mana mungkin ada yang mengidolakannya?" Naruto mencibir.
"Akh, kau sombong sekali, Naruto-kun. Mentang-mentang kemarin kau mendapat gelar Solo Hattrick tadi malam." Hinata menyipitkan matanya sembari memandangi Naruto yang hanya mampu tersenyum kikuk karena menahan malu.
Ini adalah tahun ketiga Naruto dalam mempertahankan posisinya sebagai Penyanyi Solo Pria Terbaik. Dia memang pantas mendapatkannya. Selain karena suaranya yang merdu, wajah tampan, dan sifat supelnya, Naruto juga bisa memadukan semua karakternya dalam teater musikal. "Akh, itu biasa saja, kok!" serunya malu. Dia menggaruk-garuk surai pirangnya sebagai bentuk pengalihan. "Mungkin kalau Gaara bisa menaikkan levelnya menjadi Aktor Terbaik, dan mengalahkan Uchiha Sasuke, ini akan jadi berita terbaik."
"Oh, si Uchiha itu, ya," sahut Shikamaru seraya duduk di sofa single. "Selama tujuh tahun dia berhasil mempertahankan posisinya. Dia bahkan mengalahkan rekor aktor senior Senju Hashirama yang berhasil mempertahankan posisinya selama enam tahun berturut-turut." Matanya mengikuti Hinata yang kini berdiri seraya berjalan ke dapur. Pandangan matanya terlepas saat suara datar Gaara mulai berkumandang.
"Kemarin dia tak datang," ujar Gaara seraya menaikkan kakinya ke atas sofa seraya duduk bersila. Naruto juga ikut-ikutan duduk bersila seperti Gaara, namun dia lebih memilih untuk duduk di karpet berbulu di hadapan meja kecil.
"Siapa? Si Uchiha?" tanya Naruto lalu meraih toples yang berisi kacang goreng dari atas meja. "Mana berani dia menampakkan wajahnya semenjak kejadian saat dia yang memukulmu."
"Bukan tidak berani, Naruto. Tapi kau tahu jika agensinya menangguhkannya selama beberapa bulan sampai semua gosip tentangnya mereda." Shikamaru menyahut. Matanya kembali terfokus pada Hinata yang kini muncul dari dapur dengan empat gelas jus jeruk. "Tapi aku heran, bisa-bisanya dia memenangkan penghargaan itu sementara dia telah menghina penggemarnya, bukankah itu aneh?"
"Rumornya rekaman itu palsu," sahut Naruto lalu mengambil jus jeruk, sesaat setelah Hinata menyuguhkannya di atas meja. "Kau tahu saja seleraku, Hinata-chan," pujinya lalu meneguk jusnya. Bibirnya menyunggikan senyuman disertai kelopak mata kecoklatan yang terpejam.
Hinata hanya menyunggingkan senyuman kecil kala melihat ekspresi Naruto. "Aku memang ahlinya," katanya lalu duduk di sofa bersama Gaara.
"Kupikir rekaman itu palsu, mungkin saja itu ulah para haters atau sensasi yang dilakukan agensinya untuk mempertahankan eksistensi artisnya." Gaara meraih jus jeruk miliknya, lalu meneguknya perlahan. "Pasalnya berita tersebut mendadak sekali munculnya."
"Rekaman? Rekaman apa yang kalian bicarakan saat ini?" tanya Hinata heran. Dua memandang Gaara penuh keingintahuan. "Rekaman Sasuke?" tebaknya.
Gaara mengangguk. Gelas yang ada di tangan kanannya tak kunjung diletakkan di atas meja. Dia masih asyik menggenggamnya seraya menggoyang-goyangkan perlahan. "Wajahku terasa berat!" ujarnya lalu mengenai gelas tersebut di sekitar pipinya. "Kalian pikir aku tidur jam berapa kemarin!" gerutunya. "Lalu, kalian datang membangunkanku."
Hinata melotot marah. "Jadi, kau tidak suka kami berkunjung ke sini, huh?" geramnya.
Gaara tersenyum kikuk, kemudian dia mengacungkan jari telunjuk dan tengah secara bersamaan. "Perdamaian!" ujarnya.
Hinata mendecak kesal, lalu menumpukan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Mata keperakannya melihat bagaimana konyolnya Naruto mencampakkan kacang ke udara lalu mengangakan mulutnya. Dia menanti kacang tersebut masuk ke mulutnya. Terlihat kekanakan sekali, bukan? Beberapa kacang yang tak berhasil masuk ke mulutnya, telah menggelinding ke segala tempat. Bukannya diambil, Naruto malah cenderung membiarkan.
"Kau bersihkan itu, Naruto!" ujar Gaara ketus.
Naruto tersentak kaget kala mendengar suara Gaara yang penuh ancaman. Dia menegakkan kepalanya dan menatap ketiga sahabatnya satu persatu. Seketika pipinya memerah. Dia merasa malu dipergoki sedang bertingkah konyol. Jika Shikamaru dan Gaara, sih dia tak mempermasalahkan. Tetapi di hadapan Hinata, tentu sangatlah memalukan.
"Oh, ya, Gaara-kun, sepertinya aku harus pulang sekarang. Pekerjaan di kantor menumpuk. Aku tak yakin mereka akan selesai dengan sendirinya, jadi aku harus kesana."
"Tapi kita belum memakan kuenya."Gaara mengendikkan dagunya pada kue tar yang dibawa Hinata sebelumnya.
"Maaf, Gaara-kun, tapi aku tidak bisa berlama-lama hari ini. Hinata berdiri lalu mengambil tas tangannya yang tadi diletakkannya di sofa single. Tepat di kursi yang mana Shikamaru duduki. "Bisa bergeser sedikit, Shika-kun?" Hinata berusaha menarik tali tas yang ditimpa bokong Shikamaru.
"Oh, baiklah," Shikamaru mengangkat sedikit bokongnya agar Hinata dapat mengambil tasnya.
"Coba cium dulu, Hinata. Siapa tahu aroma kentut Shika masih tertinggal di tasmu," kelakar Naruto.
Shikamaru memicingkan matanya. Dia terlihat kesal dengan ujaran sahabatnya yang kekanakan. "Diam kau!" dengusnya. Si lelaki pirang masih tertawa lepas.
"Akan kuantar!" Gaara berdiri dan mengikuti Hinata yang sudah pergi lebih dulu. Dia sempat melirik Shikamaru yang sendak memukuli Naruto dengan bantal sofa. "Ada-ada saja," kikiknya.
"Untung saja ada Naruto-kun di antara kita," ujar Hinata lalu berbalik. Dia menunggu Gaara yang sedang memakai sendalnya. Kemudian mereka berjalan secara bersamaan menuju lift. "Kalau semua sahabatku bersikap dingin sepertimu, mungkin akan jadi mengerikan. Aku tak bisa membayangkan betapa awkward hubungan pertemanan kita."
"Memang ada apa denganku?" Dahi Gaara mengerut. Dia merasa ditindas oleh Hinata melalui ucapannya barusan. "Justru kupikir bahwa akulah yang paling normal," katanya.
Hinata terkekeh geli. Dia tak merespon kata-kata Gaara barusan. "Aku mengendarai taksi saja," ujar Hinata lalu keluar terlebih dahulu dari lift. "Aku yakin sekali jika kondisi apartemenmu pasti sangat berantakan." Dia membayangkan apa yang akan terjadi disana. Apalagi kondisi terakhir Shikamaru dan Naruto adalah dalam mode pertarungan. Pasti ada saja barang yang rusak karena ulah mereka.
"Akh sialan! Kalau ada barang yang rusak, kuhajar mereka.
Sementara itu, di dalam apartemen Gaara, kedua lelaki sedang asyik menyapu lantai ruang tengah. Mereka tampak diam dan serius saat sedang bekerja. Tak ada lagi perseteruan seperti tadi. Mereka malah tidak saling bertegur satu sama lain. Untuk Shikamaru, tentu itu bukanlah hal yang aneh. Dia memang tak akan berbicara jika tak ada yang menyapanya lebih dulu. Tetapi kalau hal ini dikondisikan pada Naruto, tentu akan lain ceritanya. Jika dalam kondisi diam seperti ini, tentu karena ada hal yang sedang dipikirkannya.
"Pasti Gaara akan membunuh kita!" ujar Naruto lalu memasukkan pecahan beling ke dalam plastik besar.
"Kita?" Alis Shikamaru naik. "Kau saja, aku tidak. Bukannya kakimu yang menendang televisi Gaara?"
"Aku tidak sengaja!" tukas Naruto tak mau disalahkan. "Lagipula kalau kau tak menggangguku, pasti aku tak akan seperti itu."
"Salahkan pergerakanmu yang berlebihan, Naruto!" geram Shikamaru. Dia menghempaskan sapu yang dipegangnya. "Kau bahkan tak merasa bersalah sedikitpun."
"Aku akan mengganti televisi Gaara," ujar Naruto kesal karena terus dipojokkan seperti itu. Dia merasa terintimidasi.
"Jika dalam waktu setengah jam aku tak menonton berita pagi di televisi, akan kubunuh kalian berdua!"
Suara datar namun penuh tekanan di beberapa kata, menggelegar. Gaara dan Shikamaru menatap si lelaki bersurai merah dengan mimik takut dan bersalah.
"Mana ada toko elektronik yang buka pada jam enam pagi!" ujar Shikamaru seraya mengendikkan bahunya.
"Shika benar, Gaara. Tunggulah pukul sembilan nanti, kami akan melesat untuk membeli televisi barumu."
"Jika dalam hitungan ketiga kalian tidak pergi maka..."
"Fine!" teriak Shikamaru dan Naruto secara bersamaan. "We must go now!" Mereka berlari meninggalkan apartemen Gaara terburu-buru. Bukan hanya itu saja, beling-beling yang masih berserakan di lantai begitu saja.
Emosi Gaara semakin menaik. "Awas saja kalian berdua!" gerutunya marah.
Program televisi di berbagai stasiun tak ada yang menarik perhatian Sasuke. Dia masih sibuk menggonta-ganti tayangan televisi tanpa minat sekalipun. "Bosan sekali," gumamnya lalu mengganti siaran televisi pada program gosip. Kali ini masih tentang berita mengenai ajang penghargaan bergengsi kemarin. Dia mendapatkan penghargaan sebagai Aktor Terbaik Tahun Ini. Sayangnya dia tak bisa ikut hadir disana lantaran proses pengangguhan yang dijalaninya.
Disaat semua tamu datang dengan pasangan masing-masing, ada seorang pria yang juga ikut menyabet penghargaan sebagai Artis Pendatang Baru Terbaik Tahun Ini, tak membawa siapapun. Dia bahkan mengakui bahwa dirinya masih single dan fokus pada karirnya. Dengan setelan serba abu-abu dan sepatu pantofel hitamnya, dia berjalan menyusuri karpet merah dengan percaya diri.
"Pokoknya penghargaan ini kupersembahkan untuk para senior yang telah lebih dulu merintis karir di dunia seni peran." Gaara tersenyum kecil. "Senju Hashirama adalah idolaku. Aku sudah lama mengagumi beliau."
Kilauan cahaya kamera menyorot Gaara yang kini sedang diwawancari oleh beberapa wartawan yang mengerubunginya. "Tentu saja penghargaan ini akan menjadi pemicu dan semangatku untuk semakin mengasah kemampuan acting dan dengan keberhasilanku memenangkannya, kuharap ini akan menjadi awal permulaan yang baik."
"Baru memerankan dua film saja sudah belagu," Sasuke menggerutu. Mata hitamnya terfokus pada layar kaca televisi yang masih menayangkan acara gosip pagi.
"Masuk nominasi saja sudah cukup bagiku, aku tak mau muluk-muluk berharap untuk menjadi juara. Jika tahun depan aku diikutsertakan dalam nominasi Aktor Terbaik Tahun Ini, tentu aku tak akan menolak. Tetapi jika berambisi untuk menjatuhkan karir orang lain demi penghargaan, kupikir tidak perlu," Gaara tersenyum manis. "Biarlah aku menang di hati para penggemar."
"Ya, sudah seharusnya kau berkaca!" Sasuke menyeringai. "Mana mungkin aktor abal-abal sepertimu bisa mengalahkanku." Dia berujar penuh keangkuhan.
"Semenjak pemberitaan buruk dan menghilangnya Uchiha Sasuke dari industri hiburan menimbulkan berbagai macam spekulasi. Bagaimana tanggapan Anda mengenai salah satu penggemar Anda yang mengatakan bahwa dirinya dulu adalah penggemar Uchiha Sasuke yang berpindah haluan menjadi penggemar Anda karena karakter yang hampir mirip. Apa Anda merasa keberatan dengan para penggemar Uchiha Sasuke yang menuduh Anda sebagai plagiat karakter?"
"Aku tak terlalu mendengar berita tentangku di luar sana." Gaara masih saja tersenyum pada wartawan. "Biarlah haters mau berkata apa, selagi tidak melukai hati keluargaku, kupikir aku bisa bertahan."
"Lalu bagaimana pendapat Anda tentang beberapa website dan blog yang beredar di media online, yang mana mereka mulai membanding-bandingkan kelebihan Anda dibandingkan salah satu aktor senior?"
"Kalau untuk masalah itu, aku tak ingin mengambil pusing. Jika aku dibanding-bandingkan dengan aktor senior, itu artinya kemampuanku hampir menyamainya." Gaara menjawab singkat. "Lain kali kita mengobrol, ya. See you!"
"Dibandingkan dengan aktor senior?" gumam Sasuke pelan. Dia segera beranjak dari sofa menuju kamarnya. Dengan cepat dia mengambil ponsel lalu mengetik sebuah kunci pencarian di internet. Aktor senior yang dibandingkan dengan Sabaku Gaara.
Mata kelam Sasuke menelusuri berbagai macam website dan blog di penelusuran pencarian. Beberapa headline cukup menarik karena mengandung unsur provokasi. Namun ada salah satu judul yang lebih membakar kemarahan Sasuke hingga ke level tertinggi.
Ini dia beberapa fakta yang akan membuktikan betapa Uchiha Sasuke tak ada apa-apanya dibandingkan Gaara Sabaku.
"Jadi aku yang dimaksud mereka?" geram Sasuke.
BERSAMBUNG
Terima kasih sudah membaca
Chapter genap dikerjakan oleh OzellieOzel.
Chapter ganjil ditulis oleh ainirahmi26
sorry kalau perbedaan style kami membuat kalian tak nyaman
