Bunyi dentingan piano mengalun lembut memenuhi ruangan dimana seorang wanita dewasa dan seorang gadis kecil duduk berdampingan. Wanita itu tersenyum hangat sembari memainkan pianonya dengan begitu riang dan si kecil yang nampak begitu menikmati. Bahkan senyuman mereka pun mengembang begitu tulus untuk satu sama lain.

"Nah, apakah Hinata-chan tahu lagu yang baru saja ibu mainkan?" sang ibu tersenyum lembut saat menanyakannya.

Si anak tampak berpikir dengan bibir mengerucut lucu, namun hanya menggeleng lemah, tak tahu setelahnya dengan wajah bertanya-tanya ingin tahu.

"Atlantic prince."

Destiny

Disclaimer : Semua karakter dalam cerita adalah milik Masashi Kishimoto.

Pairing : SasuHina

Warning : Typo bertebaran, OOC, ide pasaran dan masih banyak kekurangan lain.

Uchiha Sasuke: 18 tahun

Hinata, Matsuri: 17 tahun

.

.

[04]

Happy Reading~

[Setiap orang punya lukanya masing-masing]

.

.

Hinata berlari, menerobos hujan-meski tak sederas sebelumnya, tapi cukup membuat seluruh badannya basah kuyup. Tak peduli dengan dinginnya yang serasa menusuk tulang dan juga beragam pandangan heran dari orang-orang yang ia lewati tanpa sadar. Hanya satu tujuannya, rumah.

Saat itu umurnya 9 tahun dan Hinata kecil menyukai kehidupan yang ia miliki, terlahir di keluarga Hyuga. Memiliki ayah, ibu, dan juga seorang kakak disisinya yang begitu menyayanginya benar-benar membuat semuanya terasa sempurna. Dan semuanya terlengkapi saat Hinata mendengar jika ia akan segera memiliki seorang adik yang disampaikan oleh ibunya secara langsung dengan raut wajah berbinar-binar. Hinata tersenyum senang, tertawa gembira lantas memeluk ibunya antusias saat mendengarnya. Dan untuk pertama kalinya Hinata kecil berharap agar kehidupannya tetap seperti ini. Sederhana saja, bahagia bersama keluarganya yang utuh.

Namun, semua harapannya terasa begitu sia-sia saat sebuah kecelakaan yang begitu mengerikan menghampiri dan merenggut seluruh kebahagiaan yang ia punya, begitu cepat dan tak terelakkan. Dimana mobil yang ia kendarai bersama ibunya ditubruk oleh mobil bak terbuka yang membawa banyak galon dari arah berlawanan hingga terseret beberapa meter untuk kemudian terbalik secara mengenaskan dengan badan mobil yang rusak di banyak bagian.

Hinata masih dalam keadaan sadar saat itu. Tubuhnya terjepit, terluka, dan penuh darah, yang juga mengaburkan pandangannya. Satu-satunya yang Hinata lihat saat itu adalah keadaan ibu yang duduk disampingnya dengan tubuh bersimbah darah, sedangkan supirnya, Hinata tak tahu bagaimana keadaanya. Hinata menangis, sembari memanggil 'Ibu' berulang kali namun tak ada jawaban apapun, ia takut. Posisi mobilnya yang terbalik benar-benar membuat keadaan semakin parah. Badannya terasa sakit semua, sesak dan tak bisa bergerak, bahkan suara tangisan serta rintihan minta tolongnya sama sekali tak terdengar karena tertahan kaca mobil yang tertutup.

'Saat itu aku tak menyadari bahwa kehidupanku setiap harinya sangatlah berharga.'

Ruangan putih dengan bau obat-obatan yang menyengat terlihat penuh sesak oleh beberapa perawat dan juga dokter yang lalu lalang dengan panik-pemandangan yang wajar untuk unit gawat darurat. Setelah menerima pertolongan pertama, Hinata duduk disamping ibunya yang terbaring lemah dengan luka yang cukup parah di kepala, dan beberapa bagian tubuhnya yang lain, hingga ibunya harus menggunakan penyangga leher, infus juga telah terpasang.

Meskipun Hinata juga terluka yang tak terbilang ringan. Ia masih sanggup menarik dan meminta seorang dokter untuk segera menyelamatkan ibunya.

"Dokter, tolong selamatkan ibuku."

Hinata terus menangis, bukan karena luka-luka yang ia derita. Tapi, karena ibunya. Ia berulang kali berdoa agar ibu dan juga calon adiknya baik-baik saja. "Ibu, tolong..." suaranya lemah memohon hampir putus asa, jemari kecilnya bertautan penuh kegelisahan, rasa takut, dan khawatir yang menumpuk.

Namun, sekali lagi Hinata serasa ingin mati. Bunyi itu terdengar menyakitkan ditelinga Hinata, hingga ia reflek menutup kedua telinga dengan tangannya yang bebas. "I-ibu-"

'Aku kehilangan mereka di depan mataku dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Untuk Ibu, dan juga calon adikku.-semuanya.'

Pasien Hyuga Hikari, meninggal tanggal 27 Januari pukul 13.15 petang.

"..kumohon, jangan lakukan ini padaku. Ibu." Dan Hinata serasa terhempas saat kenyataan melemparnya jatuh begitu telak. Tubuhnya mulai kebas dan mati rasa. Menangis pun Hinata sudah tak sanggup, meski lelehan air matanya terus saja mengalir turun membasahi pipinya tanpa henti. Bahkan pelukan erat dari kakaknya yang telah datang sama sekali tak merubah apapun. Dalam pandangannya yang mulai meremang, Hinata melihat ayahnya, berdiri mematung, dan sama sekali tak memadangnya. Hinata ingin memanggilnya, namun tenggorokannya tercekat menyakitkan hingga kegelapan mengambil alih seluruh kesadarannya.

'Benar, apa yang bisa dilakukakan dari seorang gadis kecil berusia 9 tahun?'

Hinata meremas kerah seragamnya keras dan kasar dengan tangan bergetar, nafasnya berhembus tak beraturan dan tergesa, lehernya seperti tercekik-tak bisa bernapas-saat tanpa sadar ingatannya tentang kecelakaan itu mendobrak naik kepermukaan tanpa ampun seperti film rusak setelah mendengar ayahnya kembali.

"Anda baik-baik saja, nona?"

Saat ini Hinata sudah berdiri di depan pintu rumahnya, rumah yang ia tinggali bersama kakaknya, dengan tampilan berantakan. Seluruh badan basah, nafas tak beraturan dan wajah pucat cukup menggambarkan keadaan Hinata saat ini, menyedihkan. Hinata berdiri cukup lama tanpa ingin mengetuk pintu sama sekali, hanya berdiri dengan kedua tangan terkepal erat. 'jangan pernah tunjukkan kelemahanmu pada siapapun, Hinata.' peringatnya keras.

"Bagaimana kabar ayahku selama ini, Yamato-san?" Hinata bertanya lirih pada seseorang yang Hinata kenal begitu lama sebagai asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan ayahnya yang menjemputnya. Meski ditinggalkan Hinata begitu saja.

"Hiashi-sama, beliau selalu sehat, nona." Tanggapnya pelan.

Hinata sedikit terhuyung kemudian membungkuk dengan kedua tangan bertumpu lutut, tertawa hambar saat mendengarnya, tubuhnya masih bergetar, deru nafasnya juga masih tak beraturan dan Hinata benci mengakui jika dirinya masih begitu lemah dan tak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk dirinya sendiri sekalipun.

Setelah menegakkan tubuhnya Hinata kemudian berlalu beniat masuk melewati pintu belakang, "Jangan mengikutiku."pesan Hinata datar.

.

.

.

.

.

Sasuke ternyata memang tak kembali ke agensinya, melainkan ke apartemennya. Berjalan santai dengan tudung jaket yang melindungi dan menyembunyikan surainya, melewati beberapa wartawan yang memaksa masuk-namun dihalangi oleh petugas keamanan disana-sampai ia benar-benar masuk ke dalam lift yang menutup saat ia memencet angka 20.

Saat sampai di apartemen, Sasuke menemukan Karin tengah berdiri dan bersandar di samping pintu dengan kedua lengan bersidekap di depan dada.

"Darimana saja kau? Ada apa dengan tanganmu itu? Kau terluka?" tanya karin tanpa jeda.

Dan Sasuke hanya menghela napas lelah, "Bukan apa-apa."

"Hishh, benar-benar. Buka pintunya, ada yang ingin kubicarakan." suruhnya kemudian. Sasuke mendekat dan mulai memasukan beberapa digit angka ke pintunya. "Lagipula kenapa kau rubah pasword segala sih." Karin tampak menggerutu kesal.

"Hn." jawabnya singkat pada karin yang masih setia mengekor di belakangnya yang nampak dongkol mendengar jawaban ambigunya itu. Apakah satu kata dengan dua huruf itu bisa disebut jawaban? Itu bahkan lebih terdengar seperti dengungan lebah, pikirnya jahat.

Berdehem singkat sebelum ia mulai buka suara sembari membuka note di smartphone miliknya, "Baiklah, singkat saja. Kau sudah bisa kembali ke sekolah mulai besok lusa." menggeser layar notepadnya ke bawah, "Kau juga tak memiliki jadwal yang terlalu padat. Jadi, kau bisa fokus pada sekolahmu."

"Hanya itu?" Sasuke bertanya dengan alis terangkat.

"Kenapa? Kau pikir aku akan melupakan kekacauan yang baru saja kau buat?"

"Hn."

"Bisakah kau menjawabku dengan benar?" protesnya. "Untuk masalah bodohmu itu, pihak agensilah yang mengurusnya dan sepertinya mereka berhasil membuat kesepakatan dengan stasiun tv itu agar memotong bagian itu." jelasnya kemudian.

"Baguslah kalau begitu." respon Sasuke singkat sembari membuka kulkas dan meminum sekotak kecil jus tomatnya.

"Bagus kau bilang? Ya~ kau tak tahu kepalaku hampir dipenggal jiraya-san, Hah?" curhat karin hiperbola. "Berhenti mencari masalah, huh? Media bisa sangat berbahaya jika kau tak berhati-hati, Sasuke." peringatnya. "Dan lagi untuk sementara ini, jangan lakukan apapun sampai masalah ini selesai."

Tapi seakan tak mendengar, Sasuke lantas masuk ke kamarnya setelah berkata, "Hanya itu saja kan yang ingin kau sampaikan? Baiklah, sekarang pergilah."

"kau ingat semua apa yang aku katakan, kan? Awas saja jika kau membuat masalah." Karin kembali mengingatkan dari balik pintu, "KAU DENGAR?" teriaknya hampir frustasi sebelum benar-benar pergi meninggalkan apartemen Sasuke, "Auugghh, rambutku rasanya mau rontok." dengan segala sumpah serapahnya tentu saja.

Di kamarnya, Sasuke segera membuka jaketnya lantas melemparnya asal. Memandangi sapu tangan ungu lembut yang membalut lukanya sebentar, membukannya kasar untuk kemudian ia buang ke sembarang arah dan masuk kamar mandi. Kurang dari 30 detik, Sasuke keluar dan kembali memungut sapu tangan yang ia buang untuk kemudian ia letakkan di tempat cucian dan melesat cepat kembali ke dalam kamar mandi sembari mendumel samar.

Uchiha Sasuke, adalah putra bungsu dikeluarga Uchiha. Ayahnya Uchiha Fugaku adalah seorang profesor dokter di sebuah rumah sakit yang ia dirikan sendiri, Sinra Hospital. Mengikuti jejak ayahnya, kakaknya, Uchiha Itachi juga adalah seorang dokter bedah jantung yang bekerja membantu ayahnya.

Sasuke adalah salah satu aktor dengan masa training paling sedikit, yaitu 1 tahun. Meski usianya masih menginjak 18 tahun tapi Sasuke telah belajar banyak tentang bagaimana bertahan hidup. Keputusannya untuk hidup mandiri memang ia putuskan sejak ia secara dadakan menjajah dunia intertainer. Saat duduk di SMP kelas 3, diusianya yang ke 15 Sasuke ditawari untuk menjadi seorang model sebuah majalah remaja di perusahaan menengah.

Hingga ia menemukan sebuah agensi yang cukup bergensi yang kemudian menawarinya sebuah kontrak. Awalnya Sasuke agak ragu, namun akhirnya ia menandatanganinya setelah berhasil meyakinkan keluargannya. Saat itu keluarganya sempat bertanya, apakah cita-citanya memang menjadi seorang artis? Dan Sasuke menggeleng hingga mendatangkan kebingungan di wajah keluarganya. Alasanya saat itu, ia ingin hidup mandiri dan mencari biaya sekolah serta kuliahnya sendiri nanti. Setidaknya Sasuke mencoba untuk tak melepas apapun peluang yang ia dapatkan. Dan mengenai cita-cita, sejujurnya menjadi artis memang bukanlah sebuah profesi yang akan ia tekuni selamanya. Menjadi dokter adalah cita-cita Sasuke yang sesungguhnya.

Yang Sasuke ingat, saat usianya 10 tahun, Sasuke dengan ditemani ibunya memang sering mengunjungi rumah sakit dimana ayahnya bekerja sementara kakaknya masih menuntaskan kuliah kedokterannya di luar negeri-Stanford university school of medicine, California. Dan melihat ayahnya yang tampak luar biasa dengan setelan jas lab putihnya membuat Sasuke berpikir jika profesi seorang dokter akan cocok juga untuknya, alasan yang sederhana memang.

Meski ujian masuknya bukan main sulitnya, bukanlah hal yang berat bagi seorang Uchiha sepertinya. Meski dihadapkan dengan pekerjaannya yang kadang begitu padat, juga absen sekolah yang tak terbilang sedikit, Sasuke selalu bisa memperbaiki seluruh nilainya tanpa cacat dan sempurna, itulah kelebihannya-bersyukurlah karena ia terlahir di keluarga Uchiha yang rata-rata memiliki kecerdasan otak yang luar biasa.

Seperti keadannya sekarang, jika tak salah hitung sudah selama 2 bulan lebih Sasuke cuti dari sekolahnya untuk menyelesaikan syuting dramanya sekaligus promosi. Jadi, setelah ia benar-benar menyelesaikan pekerjaannya Sasuke tak punya waktu hanya untuk sekedar bersantai dan kembali ke sekolah sama sekali tak akan menjadi bebannya selain itu Sasuke memang bukanlah tipe orang yang akan membuang-buang waktu dengan percuma.

Setelah sekitar 20 menit membersihkan diri, Sasuke keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi, menyambar ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya lantas menghubungi supir kediaman Uchiha untuk mengambil mobilnya yang tertinggal di depan gedung tempatnya mengadakan jumpa fans sedang ia menghentikan sebuah taksi untuk ia tumpangi sampai ia menuju ke kediaman Uchiha, tempat seharusnya ia pulang.

Sasuke masih nampak serius dengan ponselnya sebelum memasukkannya kembali ke saku dan mengalihkan pandangannya keluar. Hujan masih saja turun, membuat hawa menjadi lebih dingin saat hari mulai bertambah malam.

"Wah~ lihatlah siapa yang datang. Si artis terkenal akhirnya pulang kerumah, hm?"

"Berisik."

Selalu seperti ini, sambutan jika kakaknya berada dirumah, membuatnya kesal saat pertama kali manjejakkan kaki di kediaman Uchiha merupakan kelebihannya.

"Kak, ayah dan ibu mana? Kenapa hanya wajah jelekmu itu yang terlihat di rumah?" Sasuke bertanya sekaligus mengejek di saat bersamaan.

"Dasar bocah kurang ajar." Sasuke berhasil menghindar dari lemparan bantal yang kakaknya arahkan secara asal padanya, "Ayah dan ibu berkunjung ke rumah nenek dan mungkin akan pulang besok." Jawab Itachi setengah dongkol.

"Wah~ wajah jelek dan pemarah, kau jadi lebih mirip nenek-nenek, kak." oloknya dengan wajah datar yang tak kalah menyebalkan.

"Yakkk." Sasuke ngacir secepat kilat, dengan senyum puas diwajahnya.

Sasuke memang selalu menjadi pembalas yang baik jika kakaknya cari gara-gara dengannya.

Saat sampai di kamarnya Sasuke segera merebahkan diri di atas kasur king size miliknya dengan sebelah tangan terangkat menutupi keningnya, sedang kedua matanya tampak terpejam memikirkan sesuatu, sebelum terdengar dengusan kesal setelahnya.

"Berani sekali dia mengacuhkanku."

"Pergi begitu saja tanpa berkata apapun?!"

"Ck, seharusnya aku tak mengantarnya sampai halte." Dan begitu seterusnya.

'drrtdrtt'

Merasa ponselnya bergetar sebagai tanda pesan masuk, Sasuke segera mengambil dan membacanya segera, ia sedikit serius dengan ponsel yang ia pegang, kemudian menyeringai setelahnya.

"Aku mendapatkanmu, Hyuga Hinata."

.

.

.

.

.

Dok dok dok

"Hinata, kau di dalam? Buka pintunya."

Malam itu, Hinata masih mengurung diri di dalam kamar. Tanpa keluar sedikitpun.

Neji yakin jika Hinata tentu masih syok saat mendengar ayahnya kembali dan datang berkunjung tiba-tiba, setelah 8 tahun Hinata tak pernah bertemu dengannya.

"Ambilkan kunci cadangan." perintahnya pada salah satu pelayan wanita yang berdiri panik di sampingnya. Namun, semuannya tampak membeku saat pintu perlahan terbuka−

"Ada apa, kak?"−menampilkan Hinata di baliknya.

"Kau, baik-baik saja? Nenek Chiyo mengatakan jika kau pulang dalam keadaan basah kuyup." Neji bertanya hati-hati dan khawatir.

Dan Hinata terkekeh. Terlihat-amat-sangat-di-buat-buat, "Kakak hanya terlalu khawatir. Lihatlah! Apa aku terlihat buruk?"

Neji nampak menghela napas sejenak, belum sepenuhnya lega saat melihat Hinata bersin berkali-kali dengan hidung memerah. "Lain kali, jangan pernah kau ulangi hal seperti itu. Dan ya, kau terlihat buruk." Tambah Neji saat ia telah berhasil masuk ke kamar Hinata sepenuhnya. "Kakak bawakan obat dan juga Vitamin untukmu, Minumlah."

Hinata terdiam sejenak, kemudian mengangguk lemah saat kakaknya kembali memusatkan pandangannya pada Hinata. "Aku baik, Kak. Sangat baik." Tegasnya.

"A-apa hanya ini yang ingin kakak sampaikan, padaku?"

"Ayah−"

Deg

"−kau sungguh tak ingin menemuinya?"

Kali ini, Hinata hanya diam dan sama sekali tak menjawab.

Neji selalu mengingat kenangan itu, tersimpan rapi di sudut otaknya. Kenangan pertama kali Neji menatap kedua bola mata bening adiknya yang berpendar indah di bawah timpahan lampu rumah sakit yang menyala saat adiknya pertama kali lahir di dunia. Tangan mungilnya bergetar mencari kehangatan dan menggenggam jari Neji begitu erat dengan rengekan manisnya. Dan mulai saat itu, Neji berkata pada dirinya sendiri, bahwa ia akan melindungi adiknya, Hyuga Hinata.

Dulu maupun sekarang, bagi Neji, Hinata tetaplah seorang anak kecil yang selalu ingin ia lindungi dengan kedua tangannya. Neji selalu suka saat tangan mungil Hinata menggenggamnya kuat kemanapun ia pergi. Merajuk saat menginginkan sesuatu, tertawa begitu polosnya, dan menangis sekeras-kerasnya dengan mata sembab, hidung merah dan pipi gembilnya jika ia tak sengaja jatuh dan terluka saat bermain atau karena hal-hal lainnya yang membuatnya sedih ataupun gembira. Neji selalu suka saat Hinata dengan mudah mengekpresikan apapun yang ia rasakan itu, tertawa saat ia gembira dan menangis saat ia merasa sakit.

Namun, semuanya berubah setelah peristiwa kecelakaan itu terjadi, keluarganya dan Hinatanya telah berubah. Sejak kematian ibunya, Neji tak pernah lagi melihat Hinata menangis, ia pernah berpikir jika itu mungkin keadaan yang bagus. Tapi, ia mulai menyadari bahwa itu juga tidak benar, meski terkadang Hinata lebih banyak tersenyum saat ia menemaninya di rumah sakit. Bagi Neji Senyum itu, bukanlah senyuman yang biasa Hinata berikan untuknya, senyum itu seperti menahan beribu-ribu rasa sakit, senyum yang terlalu di paksakan dan Neji sungguh tak menyukainya.

"Sampai kapan kau akan hidup seperti ini?" Neji bermonolog lirih sembari menoleh dan melirik pintu kamar Hinata yang kembali terkunci, sendu. "Maafkan kakak. Karena masih belum bisa menjadi kakak yang bisa kau andalkan, Hinata."

Melirik Vitamin dan obat demam di atas nakas yang kakaknya bawakan sekilas, lantas Hinata dengan perlahan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya tanpa berniat meminum obatnya, sama sekali. Panas yang mulai menjalari seluruh tubuhnya, membuat wajah Hinata terlihat memerah, matanya mendadak terasa memberat, dan nafasnya mulai tersengal. Saat itu, hanya jam yang berdetak di dindinglah yang tahu, setetes air matanya jatuh, tanpa sanggup ia tahan.

'Maaf kak, meski seluruh badanku terasa sakit semua, entah kenapa hatiku merasa lega, karena dengan beginilah aku bisa bertahan hidup. Maafkan aku, Kakak.'

.

.

.

.

.

Sasuke terus mengamati bangunan rumah di depan sana penuh minat. "Jadi, disinilah ia tinggal? Tidak buruk juga."

Rumah berlantai dua itu cukup besar-meski tak sebesar kediaman Uchiha-dengan gerbang yang berdiri kokoh, rumah bercat krem itu tampak begitu asri dan teduh saat terlihat dari luar karena beberapa pohon tinggi yang tumbuh disekitarnya.

Tak lama kemudian, Hinata yang baru saja keluar berhasil mengalihkan perhatian Sasuke sepenuhnya. Hari ini merupakan akhir pekan, jadi Sasuke sedikit penasaran kemana Hinata akan pergi, terlebih di hari yang masih terbilang pagi, pukul 08.00.

Saat itu Hinata menggunakan pakaian hitam sepanjang lutut dengan aksen putih di pinggiran kerah dan lengannya tak lupa dengan tas punggung putihnya. Sementara surai sepunggungnya ia biarkan tergera begitu bebasnya.

"Apa dia memang hanya bisa menggunakan kakinya untuk pergi kemanapun?" tanyanya entah pada siapa sembari mengikuti kearah Hinata pergi dengan wajah tak habis pikir. Dan sebelum memutuskan mengikuti Hinata, Sasuke masih sempat melihat kearah seorang pria-seumuran kakaknya-tengah memandang kearah Hinata dengan raut wajah khawatir dari depan gerbang tempat Hinata baru saja keluar.

Setelah itu, tanpa pikir panjang Sasuke memutuskan untuk mengikuti Hinata. "Ck, kenapa aku jadi lebih mirip stalker begini?"

Saat itu Sasuke melihat Hinata berjalan begitu aneh, terkadang Hinata akan berhenti sejenak sembari bersandar pada sesuatu seperti tembok atau pohon yang ia lewati kemudian berjalan kembali dan begitu seterusnya. 'Ada apa dengannya?' begitulah pikirnya.

Setelah berjalan cukup jauh, Hinata kemudian berhenti di halte dan segera masuk ke dalam bus saat bus datang, "Terus ikuti dan jangan sampai tertinggal." Pesan Sasuke pada supirnya.

15 menit perjalanan, bus yang ditumpangi Hinata akhirnya berhenti, dan Hinata terlihat turun setelahnya, "Sebenarnya, mau pergi kemana dia?"

Sasuke masih mengikuti Hinata dengan mobilnya tentu saja. Melihat Hinata yang nampak memasuki sebuah toko bunga, akhirnya Sasuke memutuskan untuk keluar juga. Agar tak terlihat mencolok, Sasuke menggunakan bennie hitam untuk menutupi surainya juga sebuah masker hitam untuk melindungi wajahnya.

'Oke, sekarang kau pantas jika disebut sebagai stalker, Sasuke.'

'Matsuri Florist,' kira-kira begitulah tulisan yang Sasuke baca saat ia berdiri di depan toko.

"Apa kau akan pergi mengunjungi ibumu lagi, Hinata-chan?"

Sasuke berhasil masuk dan terlihat berdiri membelakangi tak jauh dengan tempat Hinata berdiri.

"Ini, bunga Crysant yang kau minta."

"Terimakasih, Matsuri-chan." Tersenyum lembut, Hinata menerima uluran bunga yang ia pesan dari Matsuri.

"Apa kau baik-baik saja, Nata-chan? Wajahmu terlihat pucat. Apa perlu aku menemanimu?" Matsuri bertanya khawatir saat mendapati wajah pucat Hinata. Tangannya sempat terulur berniat menyentuh keningnya, namun tangan ini menahannya dengan lembut, masih tersenyum Hinata meyakinkan, "Aku baik-baik saja, Matsuri-chan. Kau tak perlu khawatir."

"T-tapi−"

"Baiklah, sepertinya aku akan pergi. Terimakasih untuk bunganya, Matsuri-chan." Potong Hinata cepat.

"B-baiklah. Hati-hatilah kalau begitu."

Hinata mengangguk, "Aku pergi." Sasuke terdiam sejenak, sampai Hinata keluar dan melewatinya begitu saja. Dan untuk pertama kalinya Sasuke merasa tertarik pada satu hal, Hyuga Hinata dengan segala hal yang berusaha ia sembunyikan.

Disinilah Sasuke sekarang, di sebuah pemakaman umum yang Sasuke akui cukup jauh jika ditinjau dari tempat tinggal Hinata.

Kira-kira sudah 1 jam lamanya Sasuke melihat Hinata berada disana. Hanya berdiri tanpa melakukan apapun. 'Sangat aneh'

"Kupikir benar jika ada orang yang mengatakan bahwa dunia ini begitu sempit." Awalnya Hinata nampak terpaku dan terkejut sejenak melihat Sasuke berdiri tak jauh didepannya tepat setelah ia turun dari bukit, tempat makam ibu Hinata berada.

Hinata hanya menatap Sasuke yang berdiri didepannya sekilas kemudian kembali berjalan, berniat mengabaikannya dengan pandangan sama, datar dan tak peduli.

"Kuharap kau tak lupa dengan perjanjiannya−" Sasuke kembali berujar cepat saat Hinata mulai berjalan kearahnya. "−karena aku sudah menemukanmu." Sambungnya saat Hinata mulai berjalan mendekat kearahnya.

Hinata tersenyum sinis, "Membuntutiku, lebih tepatnya."

"Kau tahu, jika bukan jawaban sinis seperti itu yang ingin kudengar."

"Aku tak pernah menyetujuinnya." putusnya datar saat telah melewati Sasuke.

"Wah~ kau memang benar-benar berbakat membuat orang kesal." Sindirnya dengan nada rendah sembari tersenyum miring, dan tentu Hinata tak melihatnya, "Dan lagi, jangan berkeliaran dengan wajah seperti itu, menyedihkan." tambahnya sedikit keras sembari menatap punggung Hinata yang tampak berhenti setelah mendengarnya.

"A-apa, maksudmu?" buka Hinata meminta penjelasan. Terlihat dari wajahnya, Hinata nampak tak menyukai penilaian Sasuke terhadapnya.

"Dengan pandangan seperti itu, kau seolah mengatakan bahwa kau orang yang paling menderita. Apa aku salah?"

Hinata terlihat kaget namun hanya sebentar sebelum tertawa begitu hambar dan untuk pertama kalinya Sasuke sungguh tak menyukainya, "Kau sungguh berbakat membuat orang membencimu."

"Benarkah? Kupikir semua orang mencintaiku." Candanya dengan senyum percaya diri sementara Hinata masih berdiri diam di tempatnya. "Kurasa benar, jika kau punya kepribadian ganda. Atau jangan-jangan−"

"−beginikah dirimu yang sebenarnya?"

"Aku tak peduli apa yang kau katakan. Dan berhentilah mengikutiku." lantas berbalik berniat pergi sebelum-

"Jika sakit minumlah obat. Berhentilah bersikap egois dan membuat orang-orang disekitarmu khawatir, Hyuga Hinata."-suara Sasuke lagi-lagi menghentikannya.

Kedua tangan Hinata tampak mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Dan tanpa mengeluarkan suara apapun, kembali berjalan dengan langkahnya yang lemah.

"Orang sepertimu. Aku benar-benar membencinya." Desisnya lirih.

Entah kenapa Hinata begitu membenci orang itu sekarang, Uchiha Sasuke. Orang asing yang dengan lancang masuk, kemudian mempermainkannya. Mengetahui semua yang ia sembunyikan dan menghancurkannya begitu mudah. Dan Hinata lebih membencinya karena orang asing itulah yang mengetahui segalanya, tentangnya yang masih begitu lemah dan itu benar-benar melukai harga dirinya. Hinata, akan membenci orang itu selamanya,

"Bagaimana lukamu akan sembuh jika kau menyembunyikannya, dasar bodoh." Tambah Sasuke lirih sembari memandang Hinata yang perlahan mulai menjauh.

Menghembuskan napas kasar setelahnya, "Bagus Sasuke. Sejak kapan kau begitu tertarik dengan kehidupan orang lain?" ejeknya pada diri sendiri sembari mengusap wajahnya kasar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Tolong, ucapkan terimakasih pada Hyuga Hinata yang sukses membuatnya kacau begini, Dasar sial.

To Be Continued

a/n: Saya tahu ini makin gaje, ya ampun. Pundung :'(

oke, sebelumnya ada yang bertanya dimana Gaara kan? Untuk chapter-chapter ini aku memang sengaja fokusin ke Sasuke sama Hinata dulu. Mungkin chapter selanjutnya atau selanjutnya lagi aku bakal masukin Gaara :"D

Makasih untuk semuanya yang udah baca chapter ini dan yang kemarin! Buat yang udah review, fave, dan follow juga, saya kagak tahu mau ngomong apa :-D.

Selalu, kritik dan saranya akan aku terima dengan baik, jadi, monggo direview dan selalu dukung saya :-D Sangkyu.

Oke, see you next chapter~

With love,

Sandarara