Akhirnyaaa chapter 4 ini selesai juga! *salto*

Terimakasih kepada seluruh pembaca yg msih setia menanti lanjutan cerita ini *bow 90 degrees*

Maaf untuk update yang cukup lama. Ada beberapa hambatan dalam mencari 'pencerahan'.

Seperti biasa, silakan salurkan ide/kritik/saran anda melalui Review box dibawah :D

Arigatou, minna! :D

CHAPTER 4

NORMAL POV

Makarov, masih dengan cucunya, berdiri berhadapan di ruangannya yang sangat besar.

"Tugasmu adalah melindungi identitas Roxanne yang sebenarnya, dari seluruh anggota guild. Terutama dari Natsu, Gajeel, dan Wendy, serta para exceed mereka," ucap Makarov tajam.

"What? Tunggu dulu, Kakek. Kenapa harus aku? Dan kenapa kita harus melakukannya? Lalu tentang Natsu, Gajeel, dan Wendy. Ada apa dengan mereka bertiga?" Laxus bertubi-tubi menghujani pertanyaan pada kakeknya.

"Tenanglah, nak," Makarov mencoba menjelaskan satu per satu pada cucu sematawayangnya ini.

"Aku mempercayakannya padamu karena hanya dirimu yang mengetahui siapa gadis itu sebenarnya. Kita tidak bisa membiarkan seluruh orang tau kalau Roxanne ada hubungannya dengan Acnologia, naga hitam itu musuh kita. Coba kau pikir apa yang akan mereka lakukan kalau mereka tau yang sebenarnya. Mereka tidak akan segan-segan membunuh Roxanne. Lalu Natsu, Gajeel, dan Wendy. Mereka adalah dragon slayer. Musuh utama Acnologia adalah dragon slayerseperti mereka bertiga dan tentu saja Natsu, Gajeel, dan Wendy sangat membenci Acnologia. Hal yang amat buruk akan terjadi kalau mereka mengetahui yang sebenarnya," jawab Makarov panjang.

"Tapi-"

"Aku percayakan tugas ini padamu," ucap Makarov lalu membelakangi cucunya. "Dan lanjutkanlah masa pengasinganmu."

Makarov yakin cucunya bisa mengemban tugas ini. Dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak bisa begitu saja membiarkan orang-orang tau siapa gadis itu sebenarnya. Di sisi lain, dia juga tidak bisa membiarkan gadis itu sendirian di luar sana.

Roxanne, gadis itu... Tidak bertingkah selayaknya keluarga DéLacour. Dia tidak tertutup dengan orang asing atau mempermasalahkan jenis sihir. Dia dengan mudahnya berbaur dengan anggota guild yang sama sekali tidak ia kenal. Dan sekarang masih ada satu tanda tanya besar di kepalanya yang tersisa yaitu, bagaimana bisa ia, dan juga Laxus, tidak merasakan kekuatan sihir apapun dari gadis itu.

Laxus melangkahkan kakinya keluar dari ruangan besar itu tanpa sepatah kata pun. Ia masih tidak habis pikir dengan kakeknya itu. Ketika ia keluar dari ruangan Makarov, Freed Justice menemuinya.

"Apa yang dikatakan Master?" Tanya pria berambut hijau itu.

"Tidak ada. Hanya memberiku tugas," jawab Laxus pendek.

"Tugas apa? Laxus, ayo kita lakukan tugas itu bersama!" Freed memasang wajah bersemangatnya.

"Hahaha bukan tugas itu, Freed. Kakek menyuruhku melanjutkan masa pengusiranku. Jadi, maaf. Kita tidak bisa bekerja sama untuk melakukan tugas itu," jawab Laxus dengan senyuman yang cukup tulus dan melambaikan sebelah tangannya kepada Freed lalu berjalan menuju kamarnya. Raijinshuu, mereka adalah tim terbaik yang pernah ia miliki. Freed, Bixlow, Evergreen. Tak terhitung lagi misi yang telah mereka jalani selama ini. Sungguh tim yang menyenangkan dan juga tangguh, pastinya.

Laxus tiba di kamarnya. Ia mengambil mantel bulu yang selalu bertanggar di pundaknya dan sebuah tas seperti samsak. Ia memastikan semua barangnya tidak ada yang tertinggal, headset kesayangannya juga sudah menempel di telinganya. Laxus menghela nafas. Setelah bimbang sesaat, tangannya meraih selembar kertas dan sebuah pena. Ia mulai menggoreskan pena dan merangkai beberapa kata. Mungkin ini aneh, tapi ia mengaku pada dirinya sendiri kalau dia tidak pandai merangkai kata, untuk seorang gadis, tepatnya.

Tidak begitu banyak yang ditulis Laxus pada lembar coklat itu. Ia meletakkan kertas itu di antara kumpulan CDmusik kesukaannya. Ia menatap sekeliling kamarnya. Ruangan ini, pasti akan sangat ia rindukan. Ruangan ini... Menjadi saksi bisu setiap kali Laxus membuka matanya di pagi hari. Gadis itu, Si Satan Soul itu, selalu membangunkannya setiap pagi. Mira tidak pernah mengeluh tentang susahnya membangunkan seorang Laxus Dreyar, mengajaknya sarapan, menyuruhnya merapikan kamar, yah setiap hari seperti itu. Tapi untuk beberapa saat ini, ia akan kehilangan momen manis itu. Laxus tersenyum kecil lalu berjalan keluar, menuju pintu utama guild.

"Kau mau kemana, Laxus?" Tanya Mirajane dari meja bar ketika Laxus melewatinya.

Laxus menghentikan langkahnya. Apa ia perlu mengatakannya? Sebaiknya ia mengatakannya saja. Gadis ini sudah pasti bisa menjaga rahasianya.

"Mira…" ucap Laxus pelan dan memandang mira. Gadis berambut silver itu menatapnya polos. Ah, mata biru itu. Laxus begitu menyukai iris Mirajane. Warna yang sangat tenang seperti air. Ia… betah memandangi dua bola mata itu lama-lama.

"Laxus?" ucap Mirajane menyadarkan Laxus dari lautan lamunannya. "Kau mau kemana?"

"Ah-i-itu… Aku akan pergi. Kau tau 'kan aku ini masih diusir," jawab Laxus sedikit gelagapan.

"Jadi… Kau…"

"Begitulah," jawab Laxus mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin membuat gadis di depannya mati khawatir. Begitulah Mirajane Strauss, masih tetap seperti yang dulu. "Bisa aku minta tolong?"

"Tentu saja. Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Mirajane pelan.

"Bisakah kau menjaga Kakek selama aku pergi?" Laxus begitu polos mengucapkan kata-kata itu hingga membuat Mirajane cukup terkejut lalu ia cepat-cepat memperjelas maksutnya. "Ma-maksutku… Dia kan sudah tua… Jadinya… Bisakah kau… Hm… Semacam-"

"Tentu saja," potong Mirajane tersenyum. Kedua matanya membentuk bulan sabit yang sempurna, "Master akan baik-baik saja. Kau tenanglah."

Laxus hanya tersenyum lega kepada Mira. Gadis ini sangat mengerti dirinya dengan baik, lebih dari siapapun. Dan entah mengapa, kakinya terasa sangat berat untuk meninggalkan tempatnya berpijak saat ini.

"Laxus," ucap Mira pelan.

"Hm?"

"Bisakah aku... Bertemu denganmu… Setiap hari?" Mira menundukkan kepalanya. Menyembunyikan ekspresi yang begitu tidak enak.

Sementara Laxus hanya tersenyum kecil. "Aku akan segera kembali."

Laxus melemparkan senyum tulus dari hatinya kepada gadis itu. Mira hanya bisa menatapnya sendu dan tanpa ia sadari, semburat merah perlahan muncul dari kedua pipinya yang putih.

Ya, ia serasa sangat rapuh ketika penyihir petir itu jauh darinya walaupun ia sendiri tau Laxus sangat bisa menjaga diri. Ketika tidak ada Laxus di sisinya, separuh nafasnya ikut menghilang. Ketika Laxus berada di dekatnya, semua terasa tenang, damai, dan begitu menyenangkan. Walaupun orang-orang mengatakan Laxus itu cuek pada sekelilingnya, tapi itu sebuah 'Big No' bagi Mirajane.

"See you, Mira." Laxus mengucapkan salam perpisahan 'sementara' dan menyadarkan Mira dari lamunannya.

"Jaga dirimu baik-baik!" Mirajane melambaikan tangannya dan tersenyum mengiringi kepergian Laxus untuk melanjutkan masa pengusirannya. Mata birunya masih terpaku pada sosok pria berambut kuning itu. Kedua tangannya tergenggam di dadanya. "Be right back, Laxus."

"Take care, Mira,"ucap Laxus dalam hati dan menyinggung senyum kecil.

Laxus Dreyar melangkahkan kakinya menjauh dari guild-nya, Fairy Tail. Sudah saatnya ia melanjutkan masa pengusirannya. Kakinya melangkah menuju selatan Magnolia. Bersembunyi di dalam hutan sepertinya tidak begitu buruk.

Sementara di meja bar Fairy Tail, gadis berambut perak itu masih terpaku pada sosok pria yang baru saja meninggalkan guild.Laxus. Entah kenapa hatinya semakin tidak tenang melihat tubuh pria itu semakin menghilang di ujung sana. Ingin rasanya ia berlari, berteriak, dan menghentikan pria itu dari kepergiannya. Tapi ada daya. Itu adalah perintah dari Master. Andai saja ia tahu kemana pria itu pergi...

"Mira-nee, kau melihat apa?" Lisanna, adik bungsunya itu mengalihkan perhatiannya. "Kau baik-baik saja, Mira-nee?"

"Ah, Lisanna. Aku baik-baik saja. Ada apa?" tanya Mirajane.

Lisanna terdiam dan tidak menjawab pertanyaan kakak perempuannya itu. Mata Mirajane masih menerawang jauh, jauh dari Lisanna. Akhirnya Lisanna menghela nafas dan tersenyum kecil. Ia sudah tahu kenapa kakaknya yang model seksi ini termenung seperti itu. Namanya cinta kalau sudah bicara ya seperti ini, manusia hidup bisa berubah menjadi patung dalam hitungan detik.

"Mira-nee, dia akan baik-baik saja," ucap Lisanna pelan. "Dia sudah dewasa. Dia juga penyihir yang kuat. Masalah seperti ini tidak akan mengganggunya. Percayalah. Ah, dan satu lagi. Dia pasti akan kembali!"

Lisanna mengedipkan sebelah mata kepada kakaknya itu. Mirajane mulai menyaring kata-kata Lisanna. Tanpa ia sadari, seulas senyum terbentuk dari kedua bibirnya. Ya, lelaki itu akan baik-baik saja. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah menunggu lelaki itu kembali. Kembali ke guild,dan kembali ke sisinya.

Matahari semakin meredup di ufuk barat. Magnolia begitu tenang. Namun tidak untuk Fairy Tail. Guild itu tetap ricuh, tetap ramai, namun tetap menyenangkan dan bersahabat. Kericuhan itu semakin menjadi ketika seorang dragon slayer berambut pink pulang dari misinya. Guild terkuat di Fiore itu semakin ricuh karena ulah si dragon slayer dan Ice Mage yang selalu melupakan pakaiannya itu. Dan tentu saja, Si Titania menjadi penengah mereka.

Mirajane Strauss terlihat tidak begitu bersemangat namun ia tetap memasang senyuman manisnya itu. Malam akhirnya datang menutupi langit Magnolia.

"Mira-nee, aku tidur dulu. Selamat malam," ucap adik bungsunya itu.

"Selamat malam, Lisanna," balas Mirajane.

Mirajane melangkahkan kakinya dengan lemas menuju kamarnya, membaringkan tubuhnya di kasur, dan meringkuk di dalam selimut. Hatinya tidak karuan hai ini. Ia menutup matanya dan mencoba tenang. Ia bersiap menemui lelaki itu, di alam mimpi mereka.

Matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya, namun seorang gadis berambut perak sudah berjalan menyusuri koridor guild kebanggaannya. Kakinya melangkah pelan, matanya sendu, nafasnya juga terasa begitu berat. Langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu. Sebelah tangannya menggenggap knop pintu itu, sebelahnya lagi tergenggam di dadanya. Ia sedikit ragu membuka pintu itu. Ia tahu kamar itu pasti kosong, tapi entah mengapa ia tidak bisa menghentikan langkahnya menuju pintu itu.

Ia membuka pintu kamar itu dengan pelan. Perlahan terbuka dan akhirnya, yang ia temui hanya kamar kosong, tidak ada siapa-siapa. Dahinya berkerut dan menghela nafas berat. Lelaki itu biasanya terbaring di kasur itu lalu ia akan membangunkannya.

Fajar ini, terasa tidak biasa untuknya. Mirajane berdiri terdiam di tengah-tengah kamar Laxus. Semuanya tertata rapi. Sebuah lukisan besar berlambang Fairy Tail terpampang di dinding. Kaset-kaset musik kesukaan Laxus juga berderet rapi.

"Apa ini?"

Tangan Mirajane mengambil sebuah kertas bewarna coklat yang terselip di antara kaset-kaset musik Laxus. Ia membuka lipatan kertas itu dan... Sedikit terkejut ketika membacanya.

"Jangan membangunkanku terlalu pagi. Kau tau aku tidak menyukai hal itu. Aku tidak pergi jauh, hanya di hutan selatan Magnolia. Take Care, Mira. Laxus Dreyar."

Seulas senyum tipis terbentuk dari kedua bibir Mira tanpa ia sadari. Ada sedikit rasa ketenangan menyelimuti hatinya. Tanpa pikir panjang, ia berlari meninggalkan kamar Laxus dan melesat menuju kamarnya tanpa menimbulkan suara apapun. Ia menyambar mantelnya lalu kembali melesat ke dapur.

Guild masih sangat sepi. Tidak ada satu member pun yang terbangun, hanya dirinya yang sedang berkutat di dapur guild, memotong beberapa buah-buahan, sayur-sayuran, lalu mencampurkannya dalam satu wadah. Tak lupa beberapa potongan roti dan sebotol susu putih. Mungkin terdengar geli, tapi ia lebih suka melihat Laxus minum susu daripada meneguk bir atau anggur.

Mirajane selesai dengan perbekalannya. Ia membuka pintu guild dengan perlahan. Seisi Magnolia juga masih tertidur.

Mirajane menggunakan Take Over Satan Soul dan melesat dengan kedua sayapnya menuju hutan selatan secepat kilat. Entah bisikan setan mana yang ia dengarkan. Ketika membaca surat Laxus, keinginan untuk langsung menemui lelaki itu tidak dapat dihindari lagi.

Beberapa menit kemudian, Mirajane sampai di hutan. Ia menggunakan Satan Instinct-nya untuk melacak sihir Laxus dan itu terlalu gampang untuk seorang Mirajane. Kakinya terhenti di depan sebuah rumah kecil, cukup kecil. Lelaki itu, ada di balik pintu kayu ini.

Jantung Mira berdetak dua kali lebih cepat. Ia... Merasa cukup gugup untuk membuka pintu itu, padahal dialah satu-satunya orang yang selalu membangunkan Laxus setiap paginya.

Satan Soul Mirajane menghilang dan dia sudah kembali ke wujud aslinya. Dengan perlahan, ia membuka pintu kayu itu. Mata birunya menangkap bayangan seorang pria berbadan cukup besar terbaring di sebuah kasur di sudut rumah itu. Hanya ada sebuah kasur, sebuah kursi panjang dengan meja kecil di depannya, perapian, dan sebuah kamar mandi, sepertinya.

Kaki Mirajane memasuki rumah itu dengan pelan agar lelaki itu tidak terbangun. Ia meletakkan barang bawaannya di atas meja, lalu berjalan mendekati pria itu. Ia memandangi wajah tampan penyihir petir itu. Memandangi Laxus selama ia tertidur adalah salah satu hal yang paling ia sukai.

Satu hal yang dilupakan oleh Mirajane adalah kesensitifan Laxus sangat tinggi.

"Hm," Laxus bergumam pelan dan itu cukup mengejutkan Mirajane.

"Mira…"

"Oh, maaf aku membangunkanmu," ucap Mira dalam sekejap. Mira terdiam. Bukankah tadi Laxus memanggil namanya? Lalu kenaapa sekarang dia tidak bangun? Mirajane memutar bola matanya. Lelaki ini pasti sedang mengigau. Tapi dia sungguh-sungguh ada disini sekarang, bukan di alam mimpi mage petir itu.

Tunggu dulu. Otak Mirajane mulai mengambil kesimpulan. Kalau Laxus tadi mengigau, berarti dia sedang… Memimpikan dirinya? Mirajane tersenyum kecil dan tentu saja pipinya sudah memerah seperti tomat.

Di antara mereka berdua memang tidak pernah terjadi 'pernyataan' cinta. Laxus bukanlah pria yang gampang terikat dengan seorang wanita dan juga dia tidak mahir dalam menjalin sebuah hubungan. Tetapi ia sudah cukup tahu bagaimana perasaan mage petir itu padanya dan Mirajane tidak memerlukan pernyataan konyol yang seperti diharapkan gadis-gadis lainnya.

Hubungan mereka bisa dibilang cukup semu. Laxus tidak pernah menunjukkan perasaannya kepada Mirajane secara terang-terangan dan Mira cukup pandai dalam menyembunyikan perasaannya. Saat Laxus mencoba menunjukkan perhatiannya kepada Mira, Mira malah kebingungan setengah mati kenapa cucu Makarov yang super dingin itu selalu mencoba mendekatinya. Puncaknya adalah ketika kejadian itu, hari kematian Lisanna.

Laxus selalu berada di sisinya. Menemaninya selama masa pengobatan ketika Mirajane hampir lepas kendali, membawa Mirajane ke bukit yang cukup tenang dengan hamparan rumput yang begitu luas, dan slalu mendengarkan setiap ocehan Mirajane.

Senyum Mira semakin melebar tanpa ia sadari. Laxus… tidaklah cuek, ketus, atau sebagainya. Dia normal. Hanya saja, dia tidak gampang membuka diri.

"Hei, bangunlah," ucap Mirajane menepuk punggung Laxus.

"Masih terlalu pagi, Mira," gumam Laxus pelan dan menarik selimutnya. Laxus membuka matanya dengan cepat lalu membalikkan badannya. "MIRA?!"

"Ini sudah pagi, bodoh," ucap Mira.

"K… Kau?" Laxus cukup terkejut melihat Mirajane yang tersenyum di depannya dan dahinya sedikit berkerut. "Bagaimana kau bisa disini?"

"Aku membaca suratmu, tentu saja," jawab Mirajane mengalihkan padangannya.

"Ah itu," ucap Laxus. "Aku kira aku sedang bermimpi. Kau membangunkanku, seperti biasanya. How sweet."

Laxus menyungging senyum kecil, sementara Mira masih mengedarkan pandangannya ke arah lain.

"Bangunlah. Aku membawakan sarapan untukmu," ucap Mirajane dan berjalan menuju meja tempatnya menaruh keranjang makannya.

Laxus hanya menyeringai kecil melihat gadisnya mengeluarkan beberapa makanan. Ia tahu pasti Mirajane akan menemuinya. Bukan karena dia terlalu percaya diri, tapi ia tau, gadis itu… Juga tidak ingin saling berjauhan.

"Jadi… Kau sudah lama disini?" Tanya Laxus dan bangkit dari kasurnya.

"Tidak juga," jawab Mirajane yang masih sibuk dengan masakannya.

Laxus memilih duduk dan menyaksikan si Demon cantik itu menyiapkan sarapan. Mata emerald-nya… Hanya tidak bisa–dan dia tidak tau kenapa–teralihkan dari sosok gadis berambut perak itu.

"Sudah siap. Ayo, sarapan dulu," ucap Mirajane menyodorkan sepotong sandwich kepada Laxus.

"Kau membuatnya?" Tanya Laxus sebelum memakan sandwich.

"Kau kira ada orang lain yang mau membawakanmu makanan sepagi ini?" balas Mirajane dan mulai memakan sandwich -nya.

"Hei, aku hanya bertanya, sweetheart," ucap Laxus menyungging senyum kepada Mirajane.

Nafas Mirajane terhenti sesaat. Ia mengalihkan pandangannya. Darahnya mendidih di pipinya dan pasti sudah memerah. Jantungan berdetak dua kali lebih cepat. Kami-sama!

Mungkin bisa dibilang gombal, tapi itu adalah salah satu hal kecil yang disukai Mirajane, setiap kali Laxus memanggilnya dengan panggilan cinta seperti itu, dengan lembut.

"Kakek tau kau kemari?" Tanya Laxus tiba-tiba.

"T-Tidak," jawab Mirajane dengan sedikit terbata, efek kecil dari perkataan Laxus sebelumnya.

"Tidak ada yang tahu?" Tanya Laxus lagi dan Mira hanya menggeleng pelan. Mereka terdiam sesaat. Laxus masih mengunyah sandwich-nya sementara Mirajane menghentikan kunyahaannya.

"Jadi… Berapa lama kau akan berdiam disini?" Tanya Mirajane tiba-tiba. Tatapan Mirajane terlihat begitu kosong dan terfokus pada lantai kayu yang ia injak.

Laxus menghentikan kunyahannya dan menatap gadis di hadapannya. Ia menghela nafas, "Entahlah."

Mirajane menghela nafas dengan berat. Ia sudah tahu jawabannya tapi entah mengapa ia menjadi semakin tidak tenang.

"Aku tidak tahu sampai kapan akan seperti ini. Itu semua tergantung kakek tua itu. Tapi kau tidak perlu khawatir dan juga tidak perlu datang sepagi in-"

"Bukan itu!" Mirajane memotong kalimat Laxus dengan nada yang cukup tinggi. "Aku… Tidak peduli seberapa pagi aku harus bangun, membuatkan sarapan untukmu, lalu datang kemari. Aku tidak peduli kalau setiap hari harus melakukan hal-hal itu. Aku hanya… Merasa aneh–kau tau–kalau kau tidak ada di dekatku."

Laxus terpaku mendengar perkataan Mirajane. Sesaat kemudian ia tersenyum kecil, "Aku juga merasakan hal yang sama."

Keduanya hanya terdiam. Laxus tidak tau harus berkata apalagi. Ia tidak tahu kapan kakeknya itu akan mengakhiri masa pengusirannya ini. Ia juga tau kalau Mira tidak ingin jauh darinya dan dia juga seperti itu. Ia juga pasti akan sangat merindukan kehadiran gadis itu disisinya. Tapi ia tidak mungkin membiarkan gadis itu bangun di pagi buta lalu menemuinya di hutan setiap hari, dan tidak diketahui siapapun. Tidak. Mirajane tidak perlu melakukan hal itu.

Mirajane masih tertunduk. Mata birunya menerawang kosong. Ia tidak peduli seberapa pagi ia harus bangun lalu menyiapkan sarapan untuk Laxus dan menemuinya di hutan. Yang terpenting baginya adalah, melihat sosok pria yang ia sayangi itu secara langsung. Itu sudah cukup membuat Mirajane tenang.

"Dengar, aku akan baik-baik saja dan kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Saat Kakek mengakhiri hukumannya, aku akan langsung berlari kepadamu," ucap Laxus memecah keheningan. "Saat itu juga."

Mirajane menatap kedua mata Laxus dalam. Mata Laxus seolah berbicara dan mengulang kembali janjinya, mencoba meyakinkan Mira kalau lelaki itu pasti akan kembali. Bibir Mira akhirnya tertarik ke atas dan ia bernafas lega.

"Aku janji," ucap Laxus ikut tersenyum.

Mirajane mengangguk pelan. Ia akan menggenggam erat janji lelaki itu dan akan selalu mendoakan Laxus.

"Aku harus kembali ke guild," ucap Mirajane.

"Secepat itu?" Tanya Laxus.

"Hmm. Seisi guild akan heboh kalau aku tidak muncul," jawab Mirajane.

"Baiklah," ucap Laxus tenang.

Mirajane akhirnya selesai dengan keranjang makanannya dan dia bersiap untuk kembali ke guild.

"Raijinshuu tidak tau kau disini?" Tanya Mirajane melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dan diikuti oleh Laxus dari belakang.

"Tidak."

"Hanya aku yang tahu?" Mira kembali bertanya.

"Ya."

Ketika tangan Mirajane hendak membuka pintu kayu di hadapannya itu, sebelah tangan Laxus menahan pintu itu agar tidak terbuka. Mirajane cukup terkejut dan berbalik hendak menanyakan apa yang lelaki itu lakukan.

Namun, ketika ia berbalik, Laxus sudah berdiri sangat dekat dengannya. Pipi Mirajane terasa panas ketika lelaki itu menundukkan kepalanya dan sekarang mata mereka saling menatap dengan ketinggian yang sama.

"Aku harap gadisku yang cantik ini tidak memberitahukan siapapun tentang keberadaanku, terutama Raijinshuu. Itu pasti akan membuat mereka… Lebih tidak terkontrol," ucap Laxus dengan nada pelan yang cukup 'menggoda'.

Gadisku yang cantik? Kata-kata Laxus itu terulang berkali-kali diotak Mirajane dan ia, sudah tidak bisa menyembunyikan pipinya yang memerah.

"Kau tau, kau terlihat semakin cantik ketika kau terpojok seperti ini, Mirajane," ucap Laxus menyungging senyum dan tawanya meledak.

"Laxus!" geram Mirajane dan menghentikan tawa Laxus.

"Okay okay. Aku percaya padamu, Mira. Dan ingat, jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Percayalah," ucap Laxus mengedipkan sebelah matanya. "Take care, Mira."

Tanpa disangka-sangka, Laxus mendaratkan kecupannya di kening Mirajane. Sontak Mirajane terdiam seribu bahasa. Darahnya mengalir semakin deras ke pipinya dan jantungnya serasa akan loncat dari rongga dadanya. Laxus… Baru saja mencium keningnya! Kami-sama!

"Kau akan mematung terus?" ucap Laxus menyadarkan lamunan Mirajane.

"E-Eh, tidak. Aku akan kembali sekarang," jawab Mirajane lalu berjalan keluar dari rumah kecil Laxus Dreyar. Ia merubah wujudnya menjadi Satan Soul dan terbang secepat kilat. Mata emerald Laxus terus tertuju pada Demon cantik itu hingga menghilang di batas pandangnnya.

Baik Mira maupun Laxus, mereka berdua sama sekali tidak menyadari kalau ada sepasang mata kelabu yang terus mengintai mereka, dari awal Mirajane memasuki rumah itu hingga mereka berpisah. Tentu saja itu karena mereka terlalu menikmati waktu berdua, hanya ada Laxus Dreyar dan Mirajane Strauss, tanpa orang lain.

- TO BE CONTINUED -

I guess y'all know who's those eye's is :)

Berlanjut ke chapter 5, minna! :D