Couplet 2– Dream Started
(Meng Xia Ji Dong / Dream Started © Jay Chou)
"KRINGGGG!"
Weker berdering kencang, namun yang sedang dibangunkannya masih tertidur lelap bagai Sleeping Beauty. Weker terus menghujam gendang telinga Cao Yin dengan deringannya yang menulikan telinga. Perempuan itu akhirnya bangun pada deringan ke-6, mematikan weker-nya yang sudah ngos-ngosan dalam imajinasi seorang bocah kecil.
Cao Yin menggosok mata kanannya, menguap lebar. Dengan keadaan masih mengumpulkan nyawa, ia melihat jarum jam weker.
"…Oh… baru jam sembilan rupanya…," sekali lagi ia menguap, meletakkan weker kembali ke atas meja kecil lalu merebahkan diri, ingin melanjutkan mimpinya mengenai seorang pangeran yang mendampinginya bernyanyi dengan permainan gitarnya yang merdu di atas panggung mewah dari emas dan perak. Siapakah pangeran dalam mimpinya itu ia tidak tahu pasti. Yang jelas ia adalah seorang pria yang sangat tampan dengan tubuh yang tinggi dan fisik yang ideal.
Saat ia akan memejamkan matanya, ia teringat akan sesuatu yang sangat penting. Kejadian semalam. Jam sembilan pagi. Mendadak ia melompat dari kasur, hampir tersandung karena kaki kirinya terlilit oleh selimut. Panik menghantamnya bak pelantak gerbang kota, matanya membelalak lebar. SUDAH JAM SEMBILAN DAN SATU JAM LAGI IA HARUS BERTEMU DENGAN AYAH ANGKATNYA DI W2E!
Ia menyambar baju dan topeng yang sudah dipersiapkan olehnya sejak semalam, bergegas mandi dan berdandan se-simple-nya agar bisa mengejar waktu. Ia berangkat dengan sangat terburu-buru, di tengah jalan ia lupa bahwa ia belum sarapan. Belum lagi jalanan yang dilaluinya macet! Cao Yin semakin panik. Waktu yang ia punya hanya kurang dari 15 menit!
"Temui aku di kantorku besok jam 10 pagi. Meskipun kau adalah anak angkatku serta bagian dari keluarga Cao, keterlambatan tidak diampuni!"
Niangnya akan perkataan Cao Cao semalam membuat dirinya semakin panik. Ia keluar dari mobil McLaren F1 yang dikendarai oleh pamannya, Xiahou Dun dan memilih naik ojek motor agar bisa cepat sampai ke W2E. Ia bersyukur telah memilih set t-shirt kasual dengan celana jeans sebagai pakaiannya hari ini.
Seketika ojek berhenti di depan gedung W2E, Cao Yin menyerahkan uang pada si tukang ojek dan tanpa memedulikan kembalian, langsung melesat masuk ke dalam gedung. Saking paniknya ia sampai tidak memedulikan siapa yang ada di hadapannya., menerobos setiap karyawan kantor yang berada di jalannya seperti banteng keraton sampai beberapa dari mereka ada yang jatuh. Cao Yin hanya bisa berteriak 'Maaf!' sementara kakinya tetap memacu dengan kecepatan penuh.
Tepat lima menit sebelum waktu yang dijanjikan, ia telah sampai di depan pintu kantor Cao Cao. Ia mengatur napasnya terlebih dahulu, merapihkan rambutnya yang acak-acakan oleh lari gila barusan. Topeng tidak dikenakan, rasanya tidak perlu mengumpatkan wajah dari para calon rekannya. Mereka adalah calon rekan, bukan calon penguntit, dan ia sedang tidak berada di atas panggung. Ia mengetuk pintu setelah merapihkan pakaiannya.
"Masuk," balas Cao Cao dari dalam. Cao Yin membuka pintu kantor, menemukan bahwa Cao Cao tidak sendirian.
"Wenruo dan Zihuan?" gumamnya.
Xun Yu melambai kecil pada Cao Yin, menyambutnya dengan senyuman ramah sementara Cao Pi… mukanya masam. Selain kedua orang ini, ada tiga orang lain yang mendampingi. Cao Yin melangkah masuk, berhenti di samping tiga orang yang tidak dikenalnya.
"Baiklah, semua anggota sudah hadir," Cao Cao angkat bicara. "Karena kalian semua baru saling bertemu, silahkan memperkenalkan diri pada masing-masing calon rekan baru kalian."
Pria berambut pirang maju, memperkenalkan dirinya. "Namaku Guo Fengxiao alias Guo Jia," ia memperkenalkan dirinya dengan nada yang sangat sopan. Aura seorang profesional sudah bisa terasa hanya dengan menatap sepasang mata biru muda-nya saja. "Keahlianku adalah memainkan piano, gitar akustik, biola klasik maupun elektrik, harmonika , saksofon dan 'perfect pitch'. Genre musik yang biasa kumainkan adalah C-pop dan lagu-lagu bernuansa romance. Salam kenal," Guo Jia membungkuk.
"Fengxiao juga memiliki keahlian untuk men-design kostum untuk kalian. Kekasihnya adalah seorang penjahit yang sangat lihai sehingga kita bisa menyerahkan urusan kostum pada mereka," Cao Cao memperkenalkan Guo Jia lebih jauh.
"Woah! Salam kenal, Guo gege!" pemuda yang berdiri di sebelah temannya yang bertubuh lebih pendek darinya bersalaman dengan Guo Jia. Lalu ia maju untuk memperkenalkan diri. "Namaku Li Mancheng alias Li Dian! Keahlianku adalah bermain drum dan gitar elektrik."
Li Dian mendekati pemuda terpendek yang berdiri di sampingnya. "Aku dan temanku ini," ia menepuk bahu kanan pria itu, "dahulunya rekan satu band dan hingga sekarang, kami berdua adalah sahabat serta kombinasi terbaik! Namanya adalah Yue Wenqian alias Yue Jin! Dia pintar bermain gitar elektrik dan gitar double-neck. Ia sama tuanya denganku tetapi tubuhnya jauh lebih kecil!"
Lelaki bernama Yue Jin itu langsung menjitak keras Li Dian dari belakang. "Kau tidak perlu mengatakan hal yang tidak penting!" hardiknya.
Li Dian tertawa renyah sembari menggosok kepalanya, "Ya sudahlah… kau tidak perlu sampai semarah itu dihadapan Cao laoban, Wenqian didi!" satu jitakan yang dua kali lebih menyakitkan kembali mendarat di bagian kepala yang sama.
"Berisik sekali…" gumam Cao Pi, rada kesal dengan dua remaja yang dianggapnya tidak lebih dari bocah bau kencur. Suaranya terlalu pelan untuk tertangkap oleh kuping-kuping lain.
Cao Cao mengangguk. "Zihuan, giliranmu untuk memperkenalkan diri."
Cao Pi menghela napas panjang. "Cao Zihuan alias Cao Pi. Pianis dan aktor profesional," sama sekali tidak ada niat merendahkan diri dari Cao Pi, ia mengatakan yang menurutnya apa adanya. Perkenalan Cao Pi berlangsung singkat, padat dan sangat jelas. Pengenalan sifatnya ia lakukan dengan kontak mata. Menatap tajam dan dingin kedua lelaki ribut itu, juga Cao Yin.
"Zihuan, jangan menatap rekan-rekan barumu seperti itu," Cao Cao menasihati. "Nah, sekarang… perkenalkan dirimu."
Ketiga pemuda baru itu menatap Cao Yin, terkecuali Cao Pi yang sama sekali tidak tertarik karena ia sudah mengetahui siapa identitas asli perempuan ini.
"Na-namaku…" bola mata Cao Yin bergetar, ia gugup sekali menyadari dirinya ditatap sedemikian oleh tiga lelaki itu. "Namaku Luo Yinyue!" ia membungkuk. "Bakatku tidak sehebat Anda sekalian tetapi, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk memajukan W2E! Mohon kerjasamanya"
Semuanya diam melihat kekagokan Cao Yin, melihatnya sebagai sosok yang mudah gugup dan sepertinya pemalu.
"Yinyue xiaojie tidak perlu se-formal itu terhadap kami," Guo Jia tersenyum ramah. "Usia kita semua tidak berbeda jauh, bukan?"
Cao Yin mengangkat wajahnya, mengangguk pelan.
"Baiklah, kini kalian semua telah mengenal satu sama lain meski baru sebagian kecil. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku yakin kalian bisa bertambah akrab dan lebih mengenal satu sama lain," Cao Cao berdiri tegak.
"Fengxiao," pemilik nama tersebut menoleh menghadap Cao Cao, "aku yakin kau adalah seorang yang cerdas dan perhitungan. Kau kutetapkan sebagai ketua band ini dan Zihuan," Cao Cao masih sempat menghentikan Cao Pi yang hendak melawan, "Keputusanku adalah final dan tidak dapat diganggu-gugat!"
Cao Pi hanya diam mendengar perkataan Ayahnya.
"Aku yakin kau sanggup mengemban tanggung jawab ini, Fengxiao."
Guo Jia mengangguk. "Saya tidak akan mengecewakan Cao daren."
"Itulah jawaban yang kuingin dengar dari seorang profesional sepertimu," Cao Cao menatap empat anggota lainnya. "Dan kalian, ikuti arahan Fengxiao karena ia adalah Ketua kalian, mengerti?"
"Mengerti!" selain Cao Pi, mereka menjawab serempak.
Cao Cao menyuruh Xun Yu untuk menuntun band baru ini ke ruang band agar mereka bisa mengorganisir diri. Ia juga menyuruh Xun Yu untuk mengajak mereka berkeliling agar mereka tidak tersesat dalam bangunan yang berliku-liku jalannya di kemudian hari.
Ruang band untuk mereka berada di lantai dua. Ukurannya yang luas dibagi menjadi tiga bagian: ruang band, ruang untuk merekam sekaligus mengatur keperluan rekaman, mini bar pun tidak luput dari kelengkapan ruangan. Keempat sisi tembok ruang band dilapisi oleh karpet khusus untuk meredam suara, begitu juga dengan bagian langit-langitnya. Satu set instrumen untuk band lengkap sudah ditata rapih, dilengkapi pula dengan televisi LCD 64 inci dan sound system yang canggih.
Li Dian-lah yang paling pertama menunjukkan keantusiasan. "Lihat ini!" Li Dian langsung duduk di belakang drum kit, "Player Date keluaran C&C!" ia lekas menggenggam kedua stik drum, memainkan ritme dasar permainan drum. "Suaranya mantap!" ia menginjak pedal, membunyikan drum bass-nya. "Ini hebat!"
Keempat anggota yang lainnya masuk dengan santai, tidak seperti Li Dian yang seperti anak balita masuk ke dalam arena permainan. Xun Yu meninggalkan mereka karena ia harus menyelesaikan skrip film terbarunya. Yue Jin berjalan mendekati lemari etalase yang memajang berbagai jenis gitar; akustik, klasik, gitar listrik dan sebagainya. Ia membuka pintu lemari, mengambil keluar gitar listrik double-neck. Kemudian ia mencolokkan kabel gitar pada sebuah ampli, memainkan kunci E Minor dan C Major. Suara gitar listrik nyaring memenuhi ruangan. Li Dian kembali memainkan tempo dasar sementara Yue Jin ikut mengiringi dengan gitarnya.
Tepat seperti yang Li Dian katakan sebelumnya, mereka memanglah sebuah kombinasi yang sangat cocok; seperti gula dengan es teh. Guo Jia memerhatikan permainan mereka dengan teliti, kakinya menghentak-hentak lantai mengikuti ritme instrumen. Yue Jin dan Li Dian bermain penuh semangat, terbakar oleh passion mereka terhadap musik.
Setelah mereka selesai dengan permainan mereka, Guo Jia dan Cao Yin bertepuk tangan.
"Li gege-"
"Guo gege!" Li Dian memotong sebelum Guo Jia bisa memberikan sepatah komentar. "Seharusnya kami yang memanggilmu dengan 'gege' atau bahkan 'Leader'! Kau adalah yang Ketuanya sekaligus yang tertua! Apa kalau dipanggil dalam bahasa Jepang? 'Guo-senpai'!"
"Wow," Yue Jin menoleh ke Li Dian. "Aku tidak tahu kau ternyata pandai berbahasa Jepang..."
"Pamanku punya kenalan orang Jepang," Li Dian meletakkan stik drumnya. "Jadi, dia fasih berbahasa Jepang dan sempat mengajariku sedikit kata-kata dasar Jepang."
"Ah... apa yang ingin Guo gege katakan barusan? Maaf aku telah memotongmu," Li Dian membungkuk meminta maaf.
Guo Jia mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti mengapa kau memotong, Mancheng," ia tersenyum. "Permainan kalian hebat sekali. Benar-benar sepasang musisi yang sangat cocok!"
"Tentu saja!" Li Dian berdiri, menepuk bahu Yue Jin dari belakang dengan keras sampai Yue Jin terdorong oleh momentum. "Kami berdua sudah berkarir selama dua tahun sebelum bergabung dengan W2E!"
"Sudah bisa kupastikan posisi kalian memang paling tepat di sini; drum untuk Mancheng dan gitaris untuk Wenqian," ia menoleh kepada kedua orang yang berdiri di belakangnya. "Cao xiong ingin menunjukkan pada kami permainan piano Anda? Kami semua di sini sangat terhormat untuk melihat performa seorang pianis profesional dengan mata-kepala sendiri."
Cao Pi menatap keyboard hitam yang berdiri tidak jauh dari drum. Sorot matanya tetap dingin, kali ini ditambah dengan rasa jijik juga meremehkan. Bukan pada Guo Jia ia tunjukkan itu, tetapi pada keyboard yang meski adalah kualitas unggulan.
"Hmph," Cao Pi mendengus. "Aku tidak akan bergabung dengan band ini jika mereka hanya menyediakan keyboard sampah ini untuk kumainkan," Ia bertolak keluar ruangan. "Jika kalian ingin melihatku bermain, datanglah ke orkestra yang diadakan di Balai Kota Xuchang," tanpa memberi lebih banyak detil, Cao Pi keluar, meninggalkan keempat orang lainnya di ruang band.
Cao Yin hendak mengejarnya namun dihentikan oleh Guo Jia. "Dia benar. Seorang profesional tidak mau memainkan keyboard seperti ini."
Li Dian kesal melihat tingkah Cao Pi yang menurutnya keterlaluan sekali. "Hei, aku tahu dia anak bos tetapi, itu kalau ia merendahkan barang ini, sama saja ia merendahkan perusahaan Ayahnya sendiri!"
Yue Jin menepuk bahu Li Dian. "Tenanglah, Mancheng. Kebanyakan profesional memang menjual dirinya terlalu tinggi."
"Maafkan tingkah Zihuan yang keterlaluan itu!" Cao Yin membungkuk pada tiga rekannya. "Ia memanglah seorang perfeksionis yang mengutamakan kualitas dan sifatnya sangat kasar!"
Lantas, tiga rekannya bingung. Mengapa pula orang yang (mereka kira) tidak ada hubungan keluarga dengan Cao Cao malah meminta maaf atas kekasaran Cao Pi? Tidakkah ini terlalu berlebihan?
"Xiaojie, kau tidak salah apa-apa," Guo Jia menggelengkan kepala. "Aku bisa memaklumi perkataan Cao xiong tadi," ia berjalan, duduk di belakang keyboard. "Sebaiknya kita ikuti dahulu apa yang diinginkan oleh Cao xiong. Aku akan coba berbicara pada Cao daren mengenai masalah ini."
"Terima kasih, Fengxiao ge!" Cao Yin kembali membungkuk.
"Tanggalkan formalitas seperti membungkuk, xiaojie," tangannya mengibas pelan dari arah Yin hingga Yue Jin. "Kita semua di sini adalah setara jadi, formalitas tidak perlu terlalu ditekankan."
Guo Jia meletakkan jemari kedua tangannya di atas tuts piano. Ia lalu menggeser setengah oktaf, kemudian jari telunjuk tangan kanannya menekan tuts putih, menandakan permainannya dimulai. Jari tengah, ibu jari dan kelingking menekan tuts putih, hitam dan putih secara bersamaan. Setelah dua ketuk, tangan kiri mulai bergerak menekan tuts untuk mendampingi permainan tangan kanan.
Permainan piano-nya berhasil membuat yang lainnya terpukau. Lagu yang dimainkannya begitu elegan, nuasanya lebih mengarah pada suasana pesta formal yang mewah. Cao Yin berawang-awang dirinya bersama sang Pangeran dalam mimpinya semalam menari mengikuti musik indah ini.
Semuanya bertepuk tangan ketika Guo Jia selesai bermain. Li Dian menyoraki ketuanya, "Permainan Guo gege sungguh memukau dan elegan! Apakah kau sering dipanggil dalam acara pernikahan, Guo gege? Lagu yang kau mainkan nuasanya lebih bernuasa demikian!"
Guo Jia tertawa pelan. "Aku tidak bisa berbohong mengenai itu. Aku memang sering dipanggil untuk bermain dalam acara pernikahan dan pesta formal lainnya."
"Lagu apa yang kau mainkan, Fengxiao gege?" tanya Cao Yin.
"Judulnya adalah 'The Moment'. Lagu ini dibawakan oleh Kenny G. dan sangat terkenal sebagai lagu pendamping pesta formal," Guo Jia menjelaskan. "Lagu ini akan semakin bagus bila ada saksofon yang bisa menemaninya. Kenny G. sendiri adalah pemain saksofon."
Junior-nya mengangguk mengerti mendengar cerita senior mereka. Ia lalu menoleh pada Cao Yin. "Xiaojie, bagaimana kalau Anda menyanyi untuk kami yang berada di sini? Cao daren sangat membanggakan suara Anda sehingga kami sekali mendengarnya."
"Benar!" Li Dian menyerobot. "Laoban sangat memuji suaramu, Yinyue!" ia mengacungkan jempol pada Cao Yin.
Hanya Guo Jia yang bisa melihat jelas wajah Cao Yin merona merah. Ia mengangguk lalu memposisikan diri di depan mic. Ia menarik napas, membuka mulutnya lalu mulai menyanyi.
"Wei xiao ba, jiu suan bu duan shi bai
Zhan qi lai, zai zhong lai ba cui ruo tui kai
Xin xin zai nao hai bie rang ling hun kong bai
Zai xian zai zai wei lai wo wei ni he cai..."
Cao Mengde tidak pernah 'tong kosong nyaring bunyinya'.
"Wei xiao ba, jiu suan bu duan shi bai
Zhan qi lai, zai zhong lai ba cui ruo tui kai
Xin xin zai nao hai bie rang ling hun kong bai
Zai xian zai zai wei lai wo wei ni he cai..."
Semuanya bertepuk tangan mendengar nyanyian singkat dari Cao Yin. Sang Penyanyi tersenyum lebar, senang karena rekan-rekannya menyukai suara serta lagu yang dibawa olehnya. Inilah pertama kali ada orang selain ayah angkat-nya yang mendengarnya menyanyi, juga yang pertama bertepuk tangan untuk performanya.
"Hmm... kau bersuara sorpano, mampu mencapai nada yang tinggi dengan sangat mudah tanpa harus 'memalsukan' suaramu dan yang lebih hebatnya lagi, tidak pecah," Guo Jia menilai. "Tetapi, untuk menyanyikan sebuah lagu rendah, sorpano tidak bisa menggantikan contralto. Range-nya sudah berbeda jauh."
Cao Yin mengangguk. "Pernah kucoba nyanyikan sebuah lagu contralto, suaraku tidak bisa mencapainya."
"Kecuali Yinyue bisa diduetkan dengan seorang penyanyi wanita contralto atau pria baritone," Yue Jin berpendapat.
"Sekarang formasi band kita sudah ditetapkan, kecuali untuk diriku dan Cao xiong. Kita harus bisa membujuknya untuk bergabung dengan band kita..."
"Anak itu sangat sulit didekati, kau tahu itu?" Li Dian menggeleng-geleng kala mengingat lagak Cao Pi yang sok. "Rasanya seperti kau hendak menggenggam awan di langit dari permukaan bumi dengan tangan kosong."
Perumpamaan itu memang terdengar sedikit hiperbola, namun, itulah kenyataannya.
"Masalah Cao xiong serahkan saja padaku," Guo Jia tersenyum, wajahnya tenang dan yakin. "Aku tahu bagaimana cara untuk menariknya ke dalam band ini."
"Hanya dengan membelikan sebuah piano termahal kualitas terbaik di kolong langit ini? Tidak mungkin, Guo gege. Persentase kesuksesannya kurang dari lima persen..." Yue Jin mengurut dagu.
"Kita kembangkan lima persen itu sepuluh kali lipatnya," balas Guo Jia.
"Ah...? Bagaimana caranya? Kau sudah lihat tabiatnya," Yue Jin masih tidak percaya.
"Mancheng dan Wenqian tidak perlu khawatir. 'Shun feng si tuo' – kita hanya perlu mengikuti arah anginnya. Jika melawan, habislah kita."
"Apakah kau memiliki ide, Fengxiao gege?"
"Cao xiong adalah tipe perfeksionis dan memandang rendah semua di sekitarnya. Kita bisa membuktikan bahwa kita dapat memenuhi ekspektasinya, bahkan lebih tinggi dari yang ia harapkan," jawab Guo Jia, optimis.
"Tiga minggu dari sekarang, akan diadakan Music Jade Concert di Beijing. Kita unjuk kemampuan di sana."
Penghuni ruang band lainnya mendadak seperti tersambar petir. Wajah Li Dian melongo.
"TIGA MINGGU?!" Li Dian mendadak bangkit dari kursinya, kursi sampai terjatuh oleh gerakan mendadaknya. Guo Jia mengangguk. "Guo gege, kita baru saja mengenal masing-masing dan tiga minggu itu–"
"Tunjukkan bahwa dirimu seorang profesional, Mancheng," Guo Jia masih kalem, namun nadanya berubah menjadi serius. "Kita bisa dalam waktu tiga minggu."
"Tetapi, kau tidak hanya boleh memperhitungkan soal latihan kita! Persiapan baju konser, proposal untuk ikut bergabung dalam konser itu dan yang lebih mengkhawatirkan – lagunya!"
Wajah si ketua masih sangat tenang. "Aku sudah terbiasa menghadapi yang seperti ini, serahkan saja padaku. Aku akan mengajukan proposal pada Cao daren, Beliau telah mengetahui bakat kita jadi untuk persetujuannya tidaklah sulit. Untuk urusan kostum, kekasihku dan para penjahitnya bisa menyelesaikan empat kostum kurang dari tiga minggu. Aku bisa menuyusun sebuah lagu hanya dalam dua hari."
Cao Yin hanya diam menatap perdebatan yang sedang terjadi antara Guo Jia dan Li Dian. Seperti inikah rasanya menjadi pihak penengah yang tidak bisa melakukan satu hal apapun, batih Cao Yin.
Tidak tahan dengan perdebatan yang makin memanas, Cao Yin angkat bicara. "Mancheng xiong!" Cao Yin memotong perdebatan. "Cao daren sudah mengangkat Fengxiao gege sebagai ketua kita! Beliau tidak pernah salah menunjuk orang untuk tugas yang tidak sembarangan! Jika kau terus berdebat dengan Fengxiao gege, itu berarti kau berdebat dengan Beliau juga!"
Dihardik seperti itu oleh Cao Yin, Li Dian kalah telak. Ia hanya bisa mengikuti dan mempercayai Guo Jia akan semua tanggung-jawabnya sebagai seorang Ketua.
...
"Hari ini cukup sekian," Guo Jia berdiri, membersihkan keyboard sebelum menutupnya dengan kain. "Besok, kita akan berlatih lagu yang akan kita bawa untuk Music Jade Concert."
"Baik!" serempak ketiga rekannya.
"Persiapkan stamina dan mental kalian baik-baik. Jangan sampai stress dan jatuh sakit. Satu dari kita yang sakit, kemungkinan kita untuk berpartisipasi akan menurun. Kalian percaya padaku bahwa kita dapat melewati krisis ini!"
"Kami mempercayai Guo gege!"
Keempat anggota band itu mengucapkan sampai jumpa, bubar dari ruangan band, pulang ke rumah masing-masing. Alat-alat instrumen berdiam dalam ruangan gelap itu, seakan sedang beristirahat.
...
To Be Continued...
A/N: Whew! Akhirnya chapter 2 bisa saya publish setelah selesai menghadapi perang 3 hari di sekolah (UN)!
Sebenarnya, saya udah punya tabungan 13 chapter lagi tapi, mungkin bisa bertambah, mungkin bisa berkurang lololol. Sampai sekarang sih, belum kelihatan main pairingnya... nanti. Di chapter kemudian baru keliatan.
BTW, saya ada mention Zhong Yingfang yang adalah OC milik Silvermoon Arisato (inget si author STUCK! itu? Si php itu? Jangan bilang saya ngomongin dia begini di belakang #DICAMBUKSENPAI #DIBUANGKELAUTJAWA). Dan status Yingfang di sini adalah sebagai seorang penjahit (kalau ga salah inget, di canon-nya Phoenix Form, demikianlah ia) dan dia itu kekasihnya (pacarnya) Guo Jia.
Ik Guo Jia sangatlah OP (over power, atau singkat kata, dewo). Canonically, he does. Tapi, secara canon, dia itu sakit-sakitan, di sini pun demikian. Li Dian dan Yue Jin saya lihat di game itu sangatlah dekat hubungannya (sampaisayakiramerekamaho) dan menurut saya, combo antara gitaris (Yue Jin) dan drummer (Li Dian) itu sudah dijodohkan oleh Langit #plak.
Anyway, saya mau bertanya beberapa hal.
1. Apakah karakter-karakter Canon (dalam arti asli milik DW) itu terlalu OOC sejauh ini?
2. Apakah Cao Yin, OC saya itu, terlalu sue?
Review sangat diterima! Sankyu!
Stay tuned, readers!
