Title: My Pretty Girl

Author : Dae Lee Moon

Genre : Romance, Family dan temukan sendiri ne xD

Rate : T (GS)

Cast :

Do Kyungsoo a.k.a Kim Kyungsoo

Kim Jongin a.k.a Kim Jongin

And others!

Warning: GS (mianhae for DKS), Typo's Bertebaran, Cerita Pasaran, GAJE, Alur Kecepetan, OOC.

Summary :Apa salah jika aku jatuh cinta padanya?/ "Aku tidak pernah berbohong padamu Kim Jongin!"-Kyungsoo/ "Mianhae.. jika aku harus menyingkirkanmu"- Jongin/ "Apa dia benar-benar ingin membunuhku..hiks"/ Bad Summary/GS!/KaiSoo in here. RnR plis!^^

.

.

Cerita ini hanya untuk orang yang menyukainya. Kalo nggak suka ya jangan dibaca. Don't be a plagiator! Tidak terima bash.. this is just my imajination. RnR please^^

Let's be a good reader and happy reading^^

.

.

My Pretty Girl

#Chapter 3#

.

.

.

.

.

.

Sudah 4 bulan Kyungsoo menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa sekaligus calon pewaris yang dipersiapkan untuk sebuah perusahaan besar. Dia sudah menjalani hari-harinya dengan baik. Kyungsoo juga telah menyelesaikan semester tiganya dengan angka yang bisa dibilang berhasil memuaskan 'master'nya. Jongin sangat senang karenanya. Dan karena itu juga, Jongin terkadang lupa akan tujuannya untuk menyingkirkan Kyungsoo dan berpikir bahwa Kyungsoo pantas untuk mendapatkan apa yang seharusnya telah menjadi miliknya.

Malam ini Kyungsoo sangat bosan berada di kamar yang sangat luas itu sendirian. Kemudian dia keluar dan melihat pintu kamar Jongin yang tertutup. Kyungsoo tidak berani mengganggunya atau meminta Jongin untuk sekedar berbincang dengannya. Ahh.. Sepertinya dia sudah semakin dekat dengan Kim Jongin.

Kemudian Kyungsoo pergi ke salah satu ruangan yang pernah ditunjukkan oleh kakek padanya, ruang kerja appanya. Ruangan itu terlihat berbeda dengan ruangan-ruangan lainnya. Sebuah ruangan dengan dua pintu besar yang terpisah dengan ruangan lainnya. Mungkin dulu appanya lebih menyukai tempat yang seperti itu. Agar tidak mudah terganggu, mungkin saja.

Kesan pertama yang dirasakan Kyungsoo mengenai ruangan itu membuatnya ingin segera memasukinya. Kyungsoo menggenggam gagang pintu itu dengan kedua tangannya. Lalu didorong perlahan. Suara denyitan yang ditimbulkan karena pintu yang menggesek lantai tetap terdengar meski Kyungsoo telah berusaha mendorong pintu sepelan mungkin.

Mungkin ruangan ini memang jarang atau bahkan sudah tidak pernah digunakan. Tapi jika dilihat di dalamnya, tidak mungkin jika ruangan ini dibiarkan begitu saja. Kakeknya pasti masih merawat ruangan ini meski secara berkala. Buktinya Kyungsoo merasa masih berada di dalam rumah kakeknya walaupun sejauh ini yang dilihatnya hanyalah barisan buku dan benda-benda kuno peninggalan appanya.

Kyungsoo berdiri di depan meja kerja besar yang dulunya adalah milik appanya. Dia duduk di kursi itu, kursi yang menghadap pada sepasang pintu yang mengarah langsung ke taman belakang rumah kakeknya.

Kyungsoo mulai mengamati benda-benda yang masih berada di atas meja sampai sekarang. Tapi dari benda-benda itu tidak ada satu pun bingkai foto keluarganya di sana. Seharusnya benda itu ada, mungkin appanya sengaja menyimpannya sebelum pindah dari rumah ini mengingat ruangan ini merupakan ruangan khusus dan hanya maid tertentu yang boleh membersihkannya. Karena bosan, Kyungsoo menelfon salah satu temannya, Baekhyun.

"Yeoboseyo... Yak! Kyung. KEMANA SAJA KAU HUH! KENAPA BARU MENELFONKU SEKARANG. Kau baik-baik saja bukan? Tidak ada yang menyakitimu kan?"

Blablabla~ belum sempat Kyungsoo membalas sapaan dari Baekhyun, temannya itu sudah mengebomnya dengan sederet pertanyaan. Sampai-sampai Kyungsoo harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.

"Nan gwaenchana..." jawaban lembut Kyungsoo berhasil menghentikan mulut Byun Baekhyun dengan seribu pertanyaannya.

"Boggoshipeo.. kau tidak merindukanku?" ucap Kyungsoo dengan ekspresi manisnya. Sayang sekali di ruangan itu tidak ada siapapun yang bisa melihat ekspresi manis Kyungsoo yang mungkin sejak pindah ke rumah itu belum pernah ia tunjukkan pada siapapun.

"Yak! Mana mungkin aku tidak merindukanmu. Kukira kau sudah pindah karena tidak pernah melihatmu di kampus lagi"

Sejak awal Kyungsoo dan Baekhyun adalah teman, sahabat dekat dan teman satu fakultas di SM University. Namun Kyungsoo terpaksa bahkan lebih tepatnya dipaksa untuk pindah fakultas. Apa boleh? Tentu saja. Kalian lupa siapa pemilik Universitas itu.

Bisnis Management, fakultas yang sama dengan Kim Jongin. Tapi bagi Kyungsoo itu sangat membosankan, bukan stylenya dan yang jelas itu bukan keinginannya. Semester tiga yang baru dan hanya dijalani selama 4 bulan. Mungkin hanya orang-orang ber-IQ di atas 300 yang bisa melakukannya.

Karena itulah, Jongin bekerja disana untuk mengajari Kyungsoo. Memberi les privat selama sehari penuh setelah pulang dari kampus. Betapa melelahkannya hari-hari Kyungsoo. Bagaimana ia bisa menghubungi sahabatnya, untuk mandipun harus menunggu instruksi dari 'masternya'. Jinjja.

"Huft.."

"Boggoshipeoso..." Baekhyun yang tadinya ingin kembali meluapkan segala kekesalannya pada akhirnya melunak setelah mendengar hela nafas Kyungsoo yang terdengar berat.

"Apa kau senang tinggal disana?" selidik Baekhyun.

"Tentu saja, semua teman-temanku bahkan mengatakan bahwa aku adalah orang yang beruntung bisa tinggal di 'istana'.he" jawab Kyungsoo dengan tawa paksa.

Tidak. Kyungsoo tidak senang berada di rumah itu. Kyungsoo tidak suka jauh dari keluarga dan sahabatnya. Bahkan kakeknya sampai sekarang tidak pernah pulang dan dia pun tidak diijinkan untuk menemui kakeknya. Kyungsoo tidak suka hidupnya diatur oleh orang lain. Kyungsoo tidak suka semua orang yang ada di rumah itu.

"Kedengarannya tidak seperti itu?" Baekhyun semakin gencar menyelidik.

"Aniya... Aniya... bahkan aku menyukai seseorang di sini" katanya sambil melambai-lambaikan tangannya, meski Baekhyun tidak mungkin melihatnya.

"Wow.. sudah kuduga! Kau pasti jatuh cinta padanya. Huh Kim Jongin itu. Sudah ku duga kau pasti akan berakhir seperti di drama-drama"

"Aniya! Kim Jongin aniya. Aku menyukai Ibu kepala. Pemimpin pelayan di sini"

"MWO?" Kyungsoo kembali menjauhkan ponselnya setelah mendengar lengkingan Baekhyun.

"Dia sangat baik padaku Baek, seperti ibuku sendiri. Kau tahu bukan..." lagi-lagi Kyungsoo berubah murung setelah membicarakan sosok ibunya.

"Arraseo..arraseoo.. kukira kau akan jatuh cinta pada pangeran itu. Kkkk~"

"Apa boleh aku jatuh cinta padanya? Bahkan sampai sekarang aku tidak yakin jika dia mempercayaiku..." Kyungsoo berkata sangat pelan hingga Baekhyun tidak bisa menangkap apa yang baru saja Kyungsoo katakan. Dia seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.

"Ye? Sepertinya tadi kau mengatakan sesuatu" tapi tetap saja Baekhyun bisa menyimpulkan bahwa Kyungsoo memang mengatakan sesuatu.

"Aniya.." Kyungsoo mencoba mengelak.

"Ayolah Kyung.. untuk apa kau menyembunyikannya dariku"

Lama.. tidak ada jawaban dari Kyungsoo.

"Jika kau belum mau menceritakannya padaku aku tutup"

"Arraseo..arraseo.." Kyungsoo menyerah, dia masih ingin berbincang dengan temannya.

"Geurom. Aku akan mendengarkannya dengan baik"

"Baek... Sebenarnya bukan aku. Ini bukan ceritaku"

"Ye?" Baekhyun termangu, tapi dia belum mau bertanya sebelum Kyungsoo bercerita.

"Jika seseorang menyukai seseorang yang lain tapi orang itu sama sekali tidak menyukainya bahkan tidak mempercayainya, apa yang harus dilakukan oleh orang itu?" Kyungsoo mengatakannya dengan sangat hati-hati. Mungkin Baekhyun akan pusing karena pertanyaannya terlalu berputar-putar.

"Rupanya kau benar-benar menyukai pangeran itu..." tanpa diduga Baekhyun bisa menebak maksud dari pertanyaannya dengan benar. Susah payah Kyungsoo memutar-mutar pertanyaannya toh akhirnya Baekhyun bisa mengerti juga.

"Ani! KU BILANG BUKAN AKU. Tidak ada hubungannya sama sekali denganku" Kyungsoo menggerutu karena tidak tahu lagi bagaimana harus mengelak sekarang ini.

"Arrasoo... anggap saja jika itu bukan dirimu. Tapi Kyungsoo yang lain. Kupikir di Korea tidak hanya ada satu Kyungsoo. Kkk~" Baekhyun terkekeh geli membayangkan reaksi Kyungsoo sekarang.

"Joha! Anggap saja itu aku. Lagipula aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu Baek! Tapi sekali lagi ORANG ITU BUKAN KIM JONGIN" Kyungsoo mencoba menegaskan kembali. tapi bukankah malah menjadi semakin jelas. Jika sudah tercebur ke dalam lumpur nodanya pasti akan jelas terlihat. Ckckck

"Geurom? Kalau bukan pangeran tampan itu lalu siapa?"

"Apa?! Bukan, bukan..bukan dia. Tapi.. Mr. M" jawab Kyungsoo asal.

"Oh.. nuguya?" sebenarnya Baekhyun ingin sekali tertawa.

Kyungsoo memang tidak pandai berbohong. Lagi pula kenapa dia harus menyembunyikannya. Apa salah jika Kyungsoo menyukai pangeran itu. Yang jelas Baekhyun akan tetap mengikuti permainan Kyungsoo. Ya, Baekhyun hanya perlu mengikutinya. Jangan sampai Kyungsoo marah padanya jika Baekhyun sampai mendahului Kyungsoo.

"Dia itu temanku, kami bertemu belum lama ini. Sayangnya kami bertemu pada waktu yang tidak tepat. Sehingga dia sering tidak percaya padaku. Tapi, karena pertemuan yang tidak disengaja itulah aku mulai menyukainya" jawab Kyungsoo.

"Kenapa dia tidak percaya padamu. Apa kau tidak pernah menjelaskan padanya?" tanya Baekhyun.

"Aku sudah mencobanya tapi dia selalu menganggapku telah membohonginya" jawab Kyungsoo.

"Kenapa tidak kau biarkan saja?" tanya Baekhyun seenak jidatnya.

"Itu menyulitkanku. Terlebih lagi dia tidak ingin aku bersamanya"

"Kenapa TIDAK KAU TINGGALKAN SAJA KIM JONGIN SIALAN ITU!" Baekhyun lepas kendali. Dia tidak tahan mendengarkan keluhan Kyungsoo lebih lama lagi.

"Ya! Sudah kubilang dia bukan Kim Jongin dan aku memang ingin segera pergi dari rumah ini, aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin pulang ke rumahku" jawab Kyungsoo.

Kreettt.. Kretttt...

"Sudah dulu yah, sepertinya ada sesuatu. Terimakasih" kata Kyungsoo sebelum memutuskan sambunyannya.

Tadi Kyungsoo seperti mendengar suara sofa berdenyit. Dan suara itu berasal dari sofa yang berada di depan meja appanya. Kyungsoo mencari tahu dengan melangkahkan kakinya mendekati sofa itu. Sebelumnya dia telah meraih sebuah piala di atas meja, mungkin milik appanya. Hanya untuk berjaga-jaga jika ada penyusup di ruangan itu. Tapi setelah menemukannya Kyungsoo sangat terkejut.

"ASTAGA! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI KIM JONGIN!" Ternyata itu adalah Jongin. karena sangat terkejutnya, Kyungsoo sampai menjatuhkan piala itu hingga mengenai kakinya. Dan tidak sadar jika telah melukai jari kelingkingnya.

"Hmm... apa yang sedang kau lakukan disini. Mengganggu saja" tanya Jongin sembari menguap, meregangkan tubuhnya dengan santai dan mata yang masih tertutup.

"Seharusnya pertanyaan itu untukmu. Akh.." Kyungsoo baru menyadari jika jari kakinya terluka.

"Yak! Kau kenapa. APA YANG KAU LAKUKAN HINGGA MEMBUAT KAKIMU BERDARAH SEPERTI ITU!" Jongin benar-benar sudah membuka matanya sekarang setelah mendengar rintihan Kyungsoo.

Tapi bukankah berlebihan jika memarahi Kyungsoo seperti itu tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kyungsoo sebenarnya ingin sekali membungkam mulut Jongin sebelum dirinya ditarik untuk duduk di sofa.

"Chakhamanyo.." Jongin langsung pergi setelah menyuruh Kyungsoo duduk di sofa yang ditempatinya tadi.

"Neo eoddikha?"

Tanpa menjawab pertanyaan Kyungsoo, Jongin sudah pergi meninggalkannya begitu saja. Tapi tak lama setelahnya Jongin kembali lagi dengan baskom yang berisi air hangat, handuk kecil dan kotak P3K lengkap dengan isinya.

"Aigoo.. apa yang kau lakukan Kim Jongin.." tanya Kyungsoo meledek. Mengamati Jongin yang dengan telaten membersihkan lukanya.

"Aniya aniya.. aku tidak boleh mengaku padanya" Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya setelah larut dari pikirannya.

"Mwo? Appo?" tanya Jongin.

"Euh? Aniya.." rupanya tadi Jongin melihat Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya.

"...oh, sudah selesai. Gomawoyo~ jarang sekali kau bersikap baik padaku"

"Seharusnya tadi aku membiarkanmu melakukannya sendiri" jawab Jongin sambil merapikan peralatan yang dibawanya.

"Mwo! Jinjja"

"Lagi pula siapa lagi yang melukai dirinya sendiri selain bukan kau" Jongin mendudukkan dirinya di sofa yang berbeda dengan Kyungsoo.

"Aku tidak sengaja pabbo. Aku hanya terkejut melihatmu ada di ruangan ini. Kenapa kau ada disini? Apa kau tidur di sini?"

"Memangnya tidak boleh jika aku tidur di sini. Tadinya tempat ini begitu tenang sebelum kau datang ke rumah ini. Mungkin mulai sekarang aku harus mencari tempat yang baru"

"Begitukah.." Kyungsoo menundukkan wajahnya, merasa bersalah karena menjadi beban bagi Jongin.

"Apa kau rindu pada appa dan adikmu?" tanya Jongin tiba-tiba.

"Dari mana kau tahu? Apakah... tadi kau mendengar pembicaraanku?!" tanya Kyungsoo waspada.

"Pembicaraan yang mana? Dari tadi aku tidur di sini. Mana mungkin aku mendengarmu? Lagi pula itu sudah terlihat dari wajahmu" jawab Jongin.

"Ne,, aku ingin pulang. Apa dengan begitu kau mau membantuku menemui mereka? Pasti kau akan senang jika aku tidak kembali lagi ke sini kan?" tanya Kyungsoo sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi .

"Mwo!"

"Ne. Aku akan sangat senang jika kau tidak kembali lagi, puas!" jawab Jongin sebelum pergi meninggalkan Kyungsoo.

"Kenapa dia jadi pemarah seperti itu?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Oh! Haraboji!"

"Haraboji!"teriak Kyungsoo dan Jongin hampir bersamaan.

"Aigoo.. cucu-cucu kakek baru pulang hm" Soo Man menghampiri Jongin dan Kyungsoo kemudian memberikan pelukan kepada mereka.

"Kakek sudah pulang. Setelah ini tidak kembali ke rumah sakit lagikan?" tanya Kyungsoo dengan tangan yang masih bertautan dengan tangan kakeknya.

"Ne. Kakek sudah sehat dan tidak akan pernah ke rumah sakit lagi"

"Jeongmal?" tanya Kyungsoo kegirangan.

"Hm.. yakso! Sepertinya kau senang sekali jika kakek berada di rumah. Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?" tanya kakek sambil membelai pipi Kyungsoo.

Kyungsoo sempat melirik ke arah Kristal dan Jung ahjumma yang memberikan tatapan tajam padanya.

"Aniya.. me- "

"Syukurlah jika kakek baik-baik saja. Aku harus kembali mengajar Kyungsoo. Selamat beristirahat. Geurom.."

Belum sempat Kyungsoo melanjutkan perkataannya, Jongin sudah menyeretnya ke ruang belajar.

"Beristirahatlah. Haraboji..." Kyungsoo melambai-lambaikan tangannya tang tidak di genggam oleh Jongin. kakek pun tersenyum.

"Sepertinya bukan sekarang.." katanya kemudian kembali ke kamarnya, meninggalkan dua yeoja orang yang terlihat sedang menyimpan kekesalan di hati mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Yak! Tidak bisakah kita berhenti sebentar? Kakek baru saja kembali dan kita baru saja melewatkan makan malam bersama" Kyungsoo yang terlihat kesal membanting bukunya di hadapan Jongin sambil mempoutkan bibirnya.

"Duduk. Tidak peduli itu kakek atau presiden sekalipun. Waktu belajarmu sangat berharga. Ingat itu baik-baik NONA" jawab Jongin telak.

"Aku membencimu Kim Jongin!" mau tidak mau Kyungsoo harus kembali berhadapan dengan buku-bukunya.

Sesekali Kyungsoo mencuri pandang ke arah Jongin. Mencari waktu untuk keluar dari ruang belajar selagi 'masternya' itu lengah.

Namun sejauh ini Jongin masih terjaga. Apalagi ruangan itu sangat tenang. Bergerak sedikit saja sudah bisa terdengar. Kyungsoo hanya mampu menyumpahi Jongin di dalam hatinya.

"Apa kau sedang menyumpahiku sekarang?" tanya Jongin tiba-tiba.

"Heol! Bagaimana dia bisa tahu. Apa dia bisa mendengar hati orang lain? Omo!" Kyungsoo berubah parno seketika.

"U-untuk apa aku menyumpahimu. J-jika aku ingin, a-aku akan mengatakannya langsung padamu" jawab Kyungsoo terbata. Mencoba agar Jongin tidak bisa mendengar suara hatinya lagi.

"Cih. Kau masih bisa berbohong padaku" tanya Jongin yang tiba-tiba mengambil buku yang menutupi wajah Kyungsoo hingga wajah mereka berhadapan. Sangat dekat hingga Kyungsoo bisa merasakan hembusan nafas Jongin di wajahnya.

"Can you... hear my heart...?" dengan susah payah Kyungsoo mengeluarkan pertanyaan itu. Dia tidak akan kuat menahan nafasnya terlalu lama sedangkan Kim Jongin belum juga menjauh dari hadapannya.

Jongin mengedipkan matanya beberapa kali sambil mencerna pertanyaan Kyungsoo. Kemudian dengan cepat ia menjauhkan wajahnya dari wajah Kyungsoo lalu memegang dadanya dengan kuat. Jongin merasakan dadanya sangat panas. Sepertinya jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Ya. Gwaenchana?" Kyungsoo mendekatkan dirinya lalu memegang tangan Jongin yang masih memegangi dadanya.

"MENJAUH DARIKU!" tanpa disangka Jongin mengatakan hal itu padanya sambil menampik tangan Kyungsoo dari tangannya. Kyungsoo merasa sedikit sakit hati.

"Mian.. aku akan tambah kepanasan jika kau terlalu dekat denganku" karena merasa tindakannya berlebihan, Jongin meminta maaf dengan tulus pada Kyungsoo.

"Ye?" Kyungsoo pun bingung. Sebenarnya dia tidak terlalu mempermasalahkan hal tadi, hanya ada sedikit rasa sakit di hatinya.

Tapi apa benar dia kepanasan. Kenapa Kyungsoo malah merasakan hal sebaliknya. Bahkan Kyungsoo sampai mengecek remote AC-NYA. 18 derajat celcius. Apa terlalu panas baginya. Kyungsoo sampai pusing memikirkannya. Tapi sebelum benar-benar pusing, seseorang datang ke ruang belajar dan menghentikan segala pemikiran-pemikiran Kyungsoo yang membuatnya pusing sendiri.

"Maaf nona, anda ditunggu oleh tuan Kim di kamar beliau" kata pelayan wanita itu kemudian.

"Bilang pada kakek, nona Kyungsoo sedang belajar. Jadi lebih baik jika pertemuan ini ditunda sampai besok pagi"

Belum sempat Kyungsoo membuka mulutnya untuk berterimakasih pada pelayan itu, Jongin sudah bangkit dan mengatakan bahwa Kyungsoo tidak bisa pergi. Dan itu membuat Kyungsoo semakin kesal padanya.

"Tapi dengan Tuan muda Jongin juga..." kata pelayan itu kemudian.

"Ye?" ucap Kyungsoo dan Jongin bersamaan. Untuk apa kakeknya meminta bertemu dengan mereka malam-malam seperti ini. Setidaknya itulah yang sedang dipikirkan kedua insan muda itu.

Mereka berdua akhirnya menemui Soo Man, dengan begitu pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di kepala mereka akan terjawab.

"Kalian sudah datang, duduklah"

Mereka pun duduk di sofa yang ada di sana.

"Rupanya kakek sudah menunggu kami, sepertinya ada yang penting?" Kyungsoo yang memulai perbincangan itu. Sedangkan Jongin hanya diam menunggu jawaban kakek.

"Kau benar. Memang ada yang harus aku sampaikan pada kalian berdua. Kalian berdua, menikahlah"

"Mwo?" jawaban kakek sontak membuat kedua insan yang ada disana membulatkan matanya karena terkejut.

"Mwoya jigeum! Kenapa kakek selalu membuat keputusan sendiri" Jongin sampai harus berdiri karena marah.

"Aku sudah membicarakan hal ini pada ayah Kyungsoo dan dia menyerahkan semuanya padamu"

"Jadi kakek hanya perlu pendapatnya. Dan tidak pernah peduli dengan pendapatku. APA KARENA AKU BUKAN CUCU KANDUNG KAKEK!" Jongin naik pitam.

"Wae? Sireo! KAU KIRA AKU MENERIMANYA HUH!" melihat reaksi yang Jongin berikan mau tidak mau Kyungsoo juga harus berkata demikian. Kyungsoo ikut berdiri. Matanya memanas sudah tidak mampu menampung air mata yang akan keluar.

.

.

.

TBC

Annyeong reader-nim saya kembali^^

Mian sudah membuat kalian menunggu lama. Mianhae..

Kira-kira Kyungsoo ama Jongin mau nerima pernikahan itu nggak yah? Ayo main tebak-tebakan.

Tolong tinggalkan pesan kalian di kotak review. And gomawo buat yang udah mau susah-susah buat review. Jeongmal gomawo..

Review Juseyo~

Happy New Year~~~ *duar