Mafia Jung, I LOVE YOU!
Hallo..
Kimmy datang lagi, menuntaskan perjumpaan kita di FF ini. Aku berterimakasih dan minta maaf, kalau FF ini tidak berkenan di hati kalian semua. (ini apa deh) hehe.. apakah nanti setelah selesai membaca, kalian akan merasa puas atau tidak, atau malah kesel karena kimmy author yg gak bisa ngertiin maksud dan keinginan readers, apapun reaksi kalian nantinya, ini adalah yg bisa kimmy bikin sesuai kemampuanku.. T^T
Karena sebagian besar meminta kimmy agar FF ini dijadikan Mpreg, maka .. jeeeng jeeeng jeeenggg... hahaha.. Yeah, kimmy kabulkaaaan.. kkk~ tapi yg minta NCnya jangan diblur, wadohhh.. aku belum siap, aku kan masih unyu,, kkk~
Kepada semua yang sudah memberi review, masukan dan saran, aku selalu baca baik-baik dan mencoba memperbaiki sesuai kemampuan aku. Semoga bisa diterima. :-D
Ohya, baca FF ini pelan-pelan aja. kalau aus minum dulu, kalau lapar makan dulu, kalau ngantuk tidur dulu.. Hahahaha.. Peace.. (^-^)v
Jangan lupa ya, tetep kasih masukannya, i'll wait..
.
.
Enjoy Reading~
.
(Before)
"Aku merindukanmu.." bisik Yunho begitu lirih.
Dan malam itu sekali lagi Yunho mengagahi Jaejoong tanpa pernah memberi kejelasan tentang perasaannya yang sebenarnya terhadap malaikat cantik tersebut. Sedangkan Kim Jaejoong merasa semakin terperosok ke dalam sebuah lubang bernama kehinaan.
.
.
Kim Jaejoong bangun dengan rasa pusing luar biasa dan ngilu pada bagian bawah tubuhnya. Semalam Yunho begitu bersemangat saat merasuki dirinya. Berpuluh-puluh kali Yunho membisikan Jaejoong bahwa ia merindukannya. Ya…. Tentu saja Jaejoong mengerti, Jung Yunho merindukan tubuhnya.
"Boojae, hari ini kau ikut denganku." Perintah Yunho.
"Kemana?" tanya Jaejoong pelan tanpa maksud melawan, dalam hatinya ia berpikir apakah mungkin Yunho akan mengajaknya jalan-jalan mengingat ini adalah hari libur.
"Kau akan tahu nanti." Jawab Yunho.
.
"Terima kasih." Ucap Jaejoong pada Himchan yang membukakan pintu mobil untuknya, kemudian Jaejoong masuk kedalam mobil dan duduk tenang disana.
Sebelum Jung Yunho menyusul Jaejoong masuk kedalam mobil, tatapan mata Yunho seakan mengatakan sesuatu pada Himchan. Mengerti akan maksud Yunho, Himchan dengan tatapan waspada melihat kesekitar pekarangan dan kemudian mengangguk patuh.
"Segera laksanakan, Sajangnim."
Himchan berjalan masuk ke dalam mansion dan Yunho tersenyum meremehkan. "Kau pikir aku tidak bisa mencium keberadaan anak buahmu, Kim Young Min? Jangan harap kau bisa mendekat selangkah saja ke dalam area kekuasaanku."
Kemudian Yunho masuk kedalam mobil dan duduk disamping Jaejoong yang kini terdiam di bangku penumpang. Wajah Yunho penuh seringai menyeramkan, Jaejoong menelan kasar salivanya melihat perubahan ekspresi wajah Yunho.
"Jung Hyun, biar aku yang mengendarai mobil ini. Kau pakailah mobil audi hitamku, dan ikuti mobil ini pelan-pelan.." Tegas Yunho.
"Baik, Sajangnim." Jung Hyun mengangguk penuh hormat dan keluar dari mobil itu. Yunho berpindah duduk di belakang kemudi dan membiarkan Jaejoong tetap duduk di bangku belakang. Sebenarnya Jaejoong sangat penasaran dan ingin bertanya namun ia urungkan niatnya karena ia tahu, ia tidak berhak ikut campur urusan Yunho..
Yunho mulai mengendarai mobilnya keluar gerbang megah mansionnya dengan kecepatan sedang. Jaejoong yang sedikit merindukan keramaian dunia luar, hanya memandang santai keluar jendela. Jaejoong belum mengetahui situasi yang sebenarnya tidak sesantai itu. Mobil Yunho berada paling depan sedangkan mobil pribadinya yang justru dikendarai Jung Hyun berada dibelakangnya, seperti sedang dikawal.
Tiba-tiba sebuah mobil Jeep hitam terlihat menyelip di antara mobil yang tengah dikendarai Yunho dan mobil yang dikemudikan Jung Hyun. Mobil itu melesat cepat seperti akan menghadang jalannya mobil Jung Hyun, seketika itu Yunho menginjak pedal gasnya dengan kekuatan maksimal dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Jaejoong mulai bisa membaca situasi, ia menatap kebelakang dan mengerutkan dahinya, karena mobil yang dikendarai Jung Hyun tertinggal dan berhenti di tengah-tengah kerumunan mobil-mobil Jeep yang menghadangnya.
Yunho terus menambah kecepatan laju mobil yang dikendarainya. Jaejoong sampai harus memegang ujung bangku, menahan tubuhnya yang terpental-pental akibat aksi brutal Yunho.
"YA NAMJA GILA, BISAKAH KAU LEBIH PELAN-PELAN!" teriak Jaejoong yang mulai merasa mual..
Yunho tidak mengubris teriakan Jaejoong barusan. Dengan sebelah tangan Yunho membuka notepadnya. Seketika wajah Yunho berubah penuh dengan amarah.
Jaejoong melihat Yunho mengambil pistol dari dalam saku mantelnya. Wajah Jaejoong memucat begitu melihat pistol itu. Apa Yunho akan menembaknya karena ia sudah berani berteriak tadi?
Jantung Jaejoong berdetak begitu cepat.
Sesekali Yunho melihat ke layar notepadnya, namun tidak mengurangi kehati-hatiannya dalam menyetir. Kecepatan mobil Yunho mulai berkurang saat mobil itu sampai disalah area satu gedung parlement yang tertutup. Dan berhenti tepat di pintu masuk khusus emergency.
Yunho membalikkan tubuhnya dan menatap Jaejoong yang kini sibuk menenangkan jantungnya. "Kau tunggu disini. Jangan pernah berniat untuk kabur." tegas Jung Yunho.
Jaejoong menjawab ucapan Yunho hanya dengan menganggukan kepalanya cepat.
Yunho melepas seatbeltnya, tergesa-gesa membuka pintu mobil dan langsung berlari keluar. Ada sedikit kelegaan didalam hati Jaejoong saat ia tahu bahwa Yunho tidak membunuhnya. Mungkin pikiran Jaejoong saja yang terlalu berlebihan. Ia jadi sangat paranoid jika melihat Yunho dan pistol.
"Eh.. itu seperti.. Paman?"
Jaejoong membulatkan matanya saat melihat seseorang yang mirip pamannya baru saja keluar dari gedung itu dan berjalan santai masuk ke mobilnya. Aneh. Bukankan gedung parlement ini tutup. Bukankah semua pejabatnya sedang libur? Jaejoong melirik notepad Yunho yang tertinggal dibangku kemudi. Terlihat disana sebuah foto profile seorang pejabat bernama Lee Soo Man dan informasi lainnya tentang pejabat tersebut. Dan yang membuat mata Jaejoong terbelalak lebar adalah keterangan yang ada di bawah foto itu. "Prompt to be Killed"
Jaejoong menelan ludahnya kasar, ia mengerti, Yunho akan membunuh pejabat itu sekarang.. Jaejoong memegang ujung kursi mobil itu dengan erat. Yunho benar- benar menyeramkan. Dan Jaejoong merasa semakin yakin dan terpuruk akan kenyataan bahwa Yunho benar- benar bisa sangat menguasai hidup siapapun, termasuk dirinya.
Entah darimana Jaejoong mendapat kesimpulan bahwa, ia tidak akan pernah bisa lepas dari Yunho. Jung Yunho tidak akan pernah melepaskannya.. Tidak akan..
Dan itu sangat menakutkan.
Tidak lama, Yunho kembali dengan membawa berkas tebal di tangannya. Terlihat bekas cipratan darah di wajah tampan Yunho. Jaejoong yakin darah itu milik pejabat yang saat ini sudah berhasil dibunuh Yunho.
Jaejoong sempat terkejut saat Yunho tiba-tiba membuka pintu penumpang tempat Jaejoong duduk.
"Duduklah disampingku." Pintanya lembut.
Jaejoong mengangguk patuh, tubuhnya sedikit gemetaran melihat wajah Yunho yang berhiaskan darah. Yunho sangat sedih mendapati kenyataan bahwa Jaejoong kembali ketakutan dengan dirinya.
Ketika Jung Yunho dan Kim Jaejoong sudah berada di dalam mobil, keheningan canggung menyelimuti mereka berdua.
"Kau tahu apa yang baru saja aku lakukan?" tanya Yunho pelan sambil mengelap wajahnya dengan tisyu basah.
Jaejoong menoleh menatap Yunho. Ia memandangi Yunho yang terlihat kesulitan membersihkan wajahnya karena sebelah tangannya yang memegang kemudi.
"Aku tahu." Jawab Jaejoong. "Kau habis membunuh orang kan?" tanya jaejoong pelan.
Yunho mengangguk. Ia terus mengusap pipinya, tapi karena tidak tahu dimana bagian yang terkena cipratan darah. Maka ia hanya mengosok-gosoknya asal. Jaejoong mengambil alih tisyu basah di tangan Yunho dan mengusap pipi Yunho lembut. Sangat lembut. Yunho tertegun dengan perlakuan tiba-tiba Jaejoong. Perasaannya amburadul. Namja cantik ini betul-betul pandai mengaduk-ngaduk hati dan emosinya. Sedangkan Jaejoong sendiri tidak mengerti, kenapa tangan dan hatinya seakan bergerak sendiri, melakukan hal yang tidak diperintahkan otaknya..
Yunho menatap Jaejoong sekilas. Kemudian ia memberikan berkas tebal yang tadi ditaruhnya asal di dashboard ke pangkuan Jaejoong.
"Bukalah."
Jaejoong hanya menurut saja apa yang dikatakan Yunho. Tangannya mulai membuka satu persatu lembar berkas tebal tersebut.
Mulutnya terbuka, tidak percaya atas apa yang dibacanya. Di dalam berkas itu, terdapat bukti pengalihan lahan pertambangan milik Negara menjadi atas nama Kim Corporation, dan yang membuat Jaejoong merasakan matanya mulai memanas adalah ada nama dan tanda tangan Appanya yang dibubuhkan di kertas-kertas itu. Dan tanggal penanda tanganan itu terjadi tepat pada hari dimana Jaejoong kehilangan kedua orang tuanya.
"Appamu dipaksa menandatangani perpindahan asset illegal Negara itu." Jelas Yunho, agar Jaejoong tidak salah faham terhadap Appanya.
"Darimana kau tahu?" tanya Jaejoong walaupun tentu saja ia yakin Appanya bukan orang serakah dan jahat yang berniat menguasai asset milik Negara.
"Aku sudah mengambil rekaman CCTV saat kejadian itu terjadi. Appamu terpaksa menandatangani berkas itu, karena Kim Young Min menodongkan pistolnya tepat di kening Ummamu." Jelas Yunho lagi.
Jaejoong tidak bisa lagi menahan laju air matanya, jadi benar, orang yang dilihatnya tadi keluar dari gedung itu adalah pamannya. Jaejoong sangat bingung kenapa ada orang yang begitu terobsesi untuk menjadi kaya dan menguasai kerajaan bisnis milik Appanya, terlebih orang itu adalah pamannya sendiri.
Jaejoong menatap Yunho dalam. Ia perhatikan wajah namja yang telah membelinya, memperkosanya berkali-kali dan merubah hidupnya dalam sekejap. Jaejoong tidak pernah bisa membaca Yunho. Jung Yunho selalu berubah-ubah. Dan Jaejoong lelah harus terus mengira-ngira seperti apa sosok Yunho sebenarnya
"Kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Jaejoong lirih.
"Karena aku ..." Yunho baru saja hendak menjawab pertanyaan Jaejoong, sebelum ponselnya berdering nyaring.
Jaejoong memperhatikan perubahan ekspresi wajah Yunho yang mengeras saat mendengarkan orang yang menjadi lawan bicaranya di telefon..
'kali ini apa lagi.' Batin Jaaejoong.
"Aku akan kesana, secepatnya." Jawab Yunho mengakhiri hubungan telefonnya.
"Kita akan kemana?" tanya Jaejoong ragu-ragu.
Yunho menoleh menatap Jaejoong sebentar, kemudian kembali focus memperhatikan jalan, "Kita akan ke rumah sakit. Jung Hyun tertembak."
Jaejoong menutup mulutnya tidak percaya, apa yang terjadi pada Jung Hyun sebenarnya? Siapa orang-orang yang mengepung mobil audi Yunho yang dikendarai Jung Hyun tadi? Tapi Jaejoong takut untuk bertanya, entah mengapa ia merasa takut dengan jawaban yang akan ia dengar.
.
.
Saat Jaejoong dan Yunho tiba di rumah sakit, sudah terlihat Junsu dan Yoochun disana. Junsu dengan lembut menarik tangan Jaejoong untuk duduk di kursi yang berjajar di depan ruang gawat darurat dimana Jung Hyun tengah mendapat penanganan dokter.
"Mereka menginginkan Jaejoong, Yunho Hyung." Mendengar namanya disebut oleh Park Yoochun membuat Jaejoong refleks mendongak menatap dua pria tampan yang tengah serius membicarakan sesuatu itu.
Apa yang sedang dibicarakan oleh mereka berdua sebenarnya? siapa yang sedang menginginkan dirinya? Jaejoong memandangi wajah lelah Yunho dan menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian ia merunduk memandangi sepatunya.
"Joongie tenang saja, ne" Junsu mengusap pelan rambut halus jaejoong.
"Sebenarnya ada apa, Suie Hyung? Kenapa semuanya semakin tidak bisa aku mengerti." Tanya Jaejoong pada Junsu dengan nada suara yang terdengar putus asa.
Junsu memeluk Jaejoong, merasa prihatin dengan nasib Jaejoong. "Tidak ada apa-apa, Joongie. Kau aman bersama kami, sayang."
.
.
Hari ini cukup melelahkan bagi Jaejoong, ia terus menerus dibawa Yunho, kemanapun namja tampan itu pergi. Setelah memastikan keadaan Jung Hyun baik-baik saja di rumah sakit. Yunho kembali mengajaknya pergi ke suatu tempat lagi, sebuah rumah megah yang tampak dijaga ketat oleh para body guard berbadan besar dan bertampang seram.
Jung Yunho keluar dari mobilnya dan membuka kaca mata hitamnya. Jaejoong menelan liurnya kasar dan belum beranjak keluar dari mobil. Seakan jika ia keluar dari mobil itu, ia akan langsung dikeroyok oleh pasukan berbadan kekar itu.
Yunho berjalan kesisi pintu mobil dan membukakan pintu itu dengan sangat gentle untuk Jaejoong. Dengan ragu Jaejoong menatap uluran tangan Yunho. Ketakutan tetap terpancar dari kedua mata kelam Jaejoong.
"Ayo..." Jung Yunho menggerak-gerakkan tangannya seakan meminta Jaejoong segera menyambut uluran tangannya.
Jaejoong mengangguk pelan. Yunho menutup pintu mobilnya setelah Jaejoong berdiri disampingnya. Wajah pucat Jaejoong cukup membuat Yunho mengerti.
"Tidak usah takut." Bisik Yunho di telinga Jaejoong lembut.
Jaejoong kembali mengangguk. Yunho merengkuh tubuh mungil Jaejoong dan mulai berjalan masuk ke dalam rumah super megah tersebut. Beberapa namja berbadan kekar berjalan dibelakang Yunho dan Jaejoong.
Jung Yunho membuka sebuah pintu kayu jati yang terlihat sangat kokoh itu dengan gerakan yang sangat mantap.
"Selamat datang, anakku." Sambut seorang Yeoja paruh baya yang masih tampak sangat cantik, kemudian yeoja bermata bulat besar itu memeluk Jung Yunho dengan sangat erat. "Aku sangat merindukanmu, anak nakal.."
Jaejoong membulatkan matanya saat melihat adegan unyu yang sedang berlangsung di hadapannya.
"Omo.. inikah namja cantik yang kau ceritakan pada Umma, Jung? Oh Tuhan.. kau sungguh sangat beruntung, Yunho.." Yeoja itu beralih menatap Jaejoong dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Jaejoong merasa kikuk dipandangi sedemikian rupa oleh Yeoja cantik itu, ia membungkukkan badannya hormat. "Annyeonghaseyo Ahjumma, Kim Jaejoong imnida."
"Annyeong.. Chagiya.. aku Jung Heechul, Umma dari anak durhaka ini." Yeoja itu memperkenalkan dirinya dengan cara yang sangat unik.
Jaejoong tersenyum dan menutupi mulutnya dengan punggung tangan, ciri khas seorang Kim Jaejoong yang mulai dihapal oleh Yunho.
"Dimana Appa, Umma?" tanya Yunho.
"Dia sudah menunggumu di ruangannya, sejak kau menceritakan kejadian tadi di telefon." Jawab Ummanya acuh, yeoja cantik itu masih sibuk mengagumi seorang Kim Jaejoong.
Jung Yunho mengangguk, "Boojae, kau mengobrolah dengan Umma. Aku ada perlu dengan Appaku sebentar."
"Tidak usah khawatir. Joongie akan aman bersama Umma. Kau pergilah sana yang lama, Yunho." Usir Ummanya.
Tidak lama kedua makhluk cantik itu sudah terlihat akrab. Jaejoong seperti menemukan kembali kasih sayang seorang ibu pada diri yeoja cantik itu. Jung Heechul sangat baik, hangat dan menyenangkan. Mereka berdua sedang sibuk menyiapkan makan malam besar bersama beberapa maid di dapur elegan mansion megah itu. Jaejoong terlihat sangat cantik dan juga ceria, hal itu membuat hati Jung Heecul berdesir hangat. Dalam hatinya ia mengutuk perbuatan orang yang tega-teganya bernafsu untuk membunuh malaikat baik hati seperti Jaejoong hanya karena mengincar harta kekayaan yang dimiliki namja cantik ini.
.
"Joongie, untuk sementara waktu, kau tinggal disini bersama Umma, ne." kata Yunho tiba-tiba disaat mereka tengah menikmati makan malam bersama di ruang makan super mewah kediaman utama keluarga Jung..
"Iya, Joongie mau kan tinggal disini?" tanya Umma Jung lembut.
Kim Jaejoong tidak mengerti, mengapa orang-orang seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Semua orang tampak khawatir dengan keselamatan dirinya, sebenarnya ada apa? Kim Jaejoong merasa menjadi bodoh karena tidak tahu apa-apa.
"Ne, aku mau, Jung Ahjumma." Jawab Jaejoong pelan.
"Aish.. sudah berapa kali Umma bilang, jangan panggil aku Ahjumma." Gemas Heechul pada namja cantik itu.
"Joongie lupa, Umma." Jawab jaejoong malu-malu.
Jung Siwon memperhatikan interaksi antara istrinya dengan namja cantik yang dipastikan sebentar lagi akan menjadi menantunya itu, ia tersenyum memuji kejelian mata anaknya dalam memilih calon istri. Dan ia berjanji akan membantu Yunho melindungi namja cantik itu dari kejaran Kim Young Min dan jajaran Red Kama yang sedang mencari keberadaan Jaejoong dan ingin melenyapkan nyawa namja cantik itu, bahkan mereka mulai berani merangkak masuk ke daerah kekuasaan keluarga Jung dan membuat urusan dengan kelompok mafia terbesar yang paling disegani di seluruh Korea Selatan itu.
.
.
Sudah satu minggu Jaejoong tinggal bersama keluarga Jung di mansion utama keluarga mafia tersebut. Hidupnya sangat bahagia disana, ia dilimpahi kasih sayang dan cinta yang begitu besar oleh Umma dan Appa Jung. Walaupun sempat ada beberapa insiden aneh yang berkali-kali hampir mengancam keselamatan nyawa Jaejoong.
Dan sudah terhitung satu minggu juga ia tidak bertemu dengan Jung Yunho. Jaejoong merasakan ada yang kurang dari hari-harinya. Bolehkah ia mengakui bahwa ia merindukan Jung Yunho?
Jaejoong terus melamun memandangi langit malam yang tampak cerah dan dipenuhi bintang-bintang dari balkon kamarnya. Namja cantik itu terlalu sibuk dengan lamunannya sampai tidak mendengar suara langkah kaki yang masuk ke kamarnya dan mendekat ke tempat ia berada.
"Kau belum tidur?" tanya Yunho lembut.
Tubuh Jaejoong tersentak, ia kaget dengan tangan kekar yang tiba-tiba melingkari pinggangnya dan suara berat yang menyapa telinganya.
Jaejoong melepaskan rengkuhan possessive Yunho pada pinggangnya, dan membalik tubuhnya menghadap Yunho.
"Kenapa belum tidur?" tanya Yunho lagi sambil menyibakan poni yang menutupi kening Jaejoong..
Jaejoong menggeleng-geleng. Sudah lama ia tidak melihat Yunho. Dan kini namja tampan itu tengah berdiri di hadapannya. Dan Jaejoong merasa Jung Yunho menjadi berkali-kali lipat lebih tampan dari yang dilihatnya terakhir kali.
"Aku merindukanmu." Yunho berbisik pelan.
Jaejoong merunduk. Ia tahu kalimat Yunho. Yunho merindukan tubuhnya. Dan sebentar lagi ia pasti akan ditarik ke atas kasur lalu dibaringkan dengan paksa, lalu sesuatu yang lembut dan basah akan menjamahi seluruh tubuhnya, dan tidak lama kemudian benda keras milik Yunho akan merasuki tubuhnya, lalu desahan-desahan nikmat mulai terdengar dari bibir keduanya. Dan.. wait.. kenapa Jaejoong jadi berfantasi sendiri. 'Ini gila.' Pikirnya dalam hati.
"Boojae, aku merindukanmu." Ulang Yunho yang merasa tidak ditanggapi oleh sang pujaan hati.
"Katakan padaku apa maksudmu?" tanya Jaejoong kali ini.
"Aku merindukanmu." Ulang Yunho polos..
"Apa artinya itu?" desak Jaejoong.
Yunho membawa tangan Jaejoong ke dadanya, "Boojae, apa kau bisa merasakan debaran jantungku yang menggila karenamu?"
Jaejoong menelan liurnya kasar dan menatap Yunho tidak percaya. "Yunh…"
"Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Aku tidak mengerti, tapi tolong ketahuilah.." Yunho mengambil nafasnya perlahan dan berucap lembut, "Aku sangat mencintaimu, Boojae. Maaf aku terlambat menyadari ini. Tolong ajari aku caranya mencintai dengan benar."
DEGH
Mata Jaejoong yang besar itu semakin membesar saat mendengar mantra ajaib yang diucapkan Yunho barusan. Sebuah kalimat penuh magis yang terdengar sangat manis.
"Benarkah?"
Yunho mengangguk, "Aku berjanji tidak akan pernah lagi menyakitimu, berbuat kasar padamu dan memaksakan kehendaku lagi padamu."
"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya jaejoong sungguh-sungguh.
"Kau boleh membunuhku, saat aku mengingkari janjiku."
Yunho memeluk tubuh Jaejoong erat, ketika melihat tetesan-tetesan bening mulai meluncur bebas dari mata indah namja cantik itu.
"Maafkan perbuatanku yang kemarin-kemarin. Dan maaf karena aku tidak bisa jujur sejak awal."
Bibir tebal Yunho menyapa lembut bibir merah penuh milik Jaejoong, ini adalah ciuman pertama mereka yang terasa begitu manis dibibir Jaejoong. Ciuman yang membuat Jaejoong berharap akan sesuatu yang indah ke depannya.
"Kau adalah miliku." Putus Yunho tiba-tiba ketika ciuman mereka terlepas.
Jaejoong mengeleng-geleng, "Kau egois."
"Aku selalu mendapatkan apa yang aku mau."
"Kau bodoh."
"Aku hanya menjadi bodoh saat berhadapan denganmu."
"Kau jahat."
"Aku jahat untuk sesuatu yang menurutku benar."
"Kau membeliku." Kata jaejoong telak.
"Aku membelimu, agar aku bisa melindungimu." Yunho menatap langsung ke dalam mata kelam sehitam malam milik Jaejoong.
"Kenapa?" tanya Jaejoong yang matanya mulai memanas dengan jawaban-jawaban yang dilontarkan Yunho.
"Karena aku sangat mencintaimu."
Kim Jaejoong sukses terisak dalam pelukan Yunho. Kemudian dengan mudahnya Yunho membopong tubuh ringan namja cantik itu dan membawanya masuk ke kamar pribadi Yunho.
"Kau mau apa?" tantang Jaejoong.
"Aku ingin memilikimu seutuhnya, memiliki tubuhmu, hatimu dan cintamu. Bolehkah?" tanya Yunho meminta ijin.
Jaejoong tersenyum dengan sangat tulus untuk pertama kalinya pada Yunho. Ia memandangi wajah tampan namja yang sempat sangat dibencinya itu. Kemudian dengan mantap ia mengangguk.
"Jadikanlah aku milikmu seutuhnya, mafia tampanku." Goda Jaejoong, karena jujur saja ia sendiri juga sudah tidak tahan untuk merasakan kembali sentuhan-sentuhan Yunho di tubuhnya.
"Saranghae, Boojae."
"Nado saranghae, Mafia Jung!" jawab Jaejoong mantap.
Dan malam itu, adalah malam paling membahagiakan dalam hidup seorang Kim Jaejoong. Untuk pertama kalinya ia merasa bercinta dengan Yunho. Bercinta dalam arti sebenar-benarnya. Bercinta dengan penuh cinta. Dirinya diterbangkan oleh sensasi-sensasi yang diberikan Yunho padanya. Bolehkah Jaejoong berharap bahwa kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya?
.
.
Keesokannya pagi-pagi sekali, Jaejoong terbangun dengan perasaan sangat sedih. Baru saja semalam ia merasakan bahagia yang tiada tertandingi, tapi kini ia terbangun sendirian di atas kasurnya tanpa keberadaan Yunho di sampingnya. Kenapa Yunho meninggalkannya sendirian? Apakah Yunho membuangnya setelah Jaejoong memberikan hati dan cinta yang ia miliki seutuhnya pada namja tampan itu?
Buru-buru ia memakai pakaian yang ia ambil asal di lemari. Dan keluar mencari namja yang berhasil mencuri hatinya ke seluruh ruangan di mansion besar itu. Kemudian langkah kakinya berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Ragu-ragu jaejoong mengintip ke dalam ruangan itu, ia bisa melihat Jung Umma, Jung Appa, Yunho dan juga Park Yoochun berada disana.
Jaejoong baru saja mengayunkan tangannya hendak mengetuk pintu itu, namun gerakannya tertahan ketika mendengar suara Jung Appa. "Red Kama telah Appa handle. Antek-antek mereka sudah ditarik mundur oleh Mr. Tanaka kembali ke Jepang. Kita hanya harus fokus melindungi Jaejoong dari Kim Young Min dan anak buahnya."
Jaejoong terus memasang telinganya baik-baik.
"Selama kita tidak bisa membaca pergerakan Kim Young Min, Joongie akan tetap tinggal disini dan tidak diperbolehkan sama sekali keluar dari lingkungan rumah ini." Kata Jung Appa lagi.
"Yeobo, tidak bisakah kau bergerak lebih cepat lagi? Aku takut kalau sampai kejadian seperti beberapa waktu lalu itu terulang lagi dan bagaimana kalau suatu saat salah satu dari mereka berhasil mencelakai calon menantu cantikku." Pinta Jung Umma dengan nada suara khawatir.
Ya, dua hari lalu Jaejoong hampir mati disuntik racun oleh seorang yeoja yang berpura-pura menjadi penjual bunga yang lewat di depan halaman rumah keluarga Jung. Beruntung ada seorang body guard yang memang telah curiga dengan gelagat aneh penjual bunga itu sejak awal. Ia terus memperhatikan interaksi yeoja itu dengan Tuan Mudanya, dan ketika ia melihat yeoja itu mengeluarkan sebuah jarum suntik dari kantong bajunya saat itu juga ia mencekal tangan wanita muda itu dan memutarnya sehingga suntikan racun itu berbalik menusuk dirinya sendiri, tidak lama kemudian wanita itu mengalami kejang hebat dan meninggal di tempat dengan seluruh tubuh yang membiru.
"Jaejoong akan aman selama kita terus menjaganya, Chullie." suara Appa Jung terdengar menenangkan isrtinya.
"Umma tenang saja, aku akan segera membereskan semua ini." Jung Yunho berkata tegas.
Jaejoong mengusap cairan bening yang jatuh dari pelupuk matanya, ia berjalan menjauhi ruangan itu dan kembali ke kamarnya. Sungguh ia tidak habis pikir kenapa Pamannya bisa begitu kejam terhadap keluarganya, ia sudah melihat rekaman CCTV saat Ummanya disandera dan Appanya dipaksa menandatangani berkas pengalihan asset Negara. Lalu ia juga sudah tahu misteri kematian kedua orang tuanya yang ternyata memang sudah direncanakan sejak awal. Kecelakaan itu disengaja. Kim Young Min adalah dalang dari semua kejadian buruk yang menimpa keluarganya. Dan saat ini ia harus mendengar kenyataan bahwa nyawanyalah yang menjadi incaran sang paman.
'Umma, Appa, aku akan membayar kematian kalian berdua dengan harga yang pantas. Aku akan membalas perbuatan bejat manusia jahanam itu dengan tanganku sendiri. Aku bersumpah.' Tekad Jaejoong dalam hatinya.
.
.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, sekarang Kim Jaejoong menyandang marga baru, ia sudah menjadi seorang Jung. Jung Yunho dan Kim Jaejoong menikah tiga hari yang lalu. Sebuah pernikahan sederhana yang sangat khidmat, yang di hadiri hanya oleh kerabat dekat keluarga Jung.
Jung Jaejoong kini menjelma menjadi namja belia yang tampak dewasa dan anggun, kecantikkan dan kebahagian terpancar dari wajahnya. Apalagi, ia mulai diperbolehkan keluar oleh Yunho, meskipun tetap dengan penjagaan ketat body guard-body guard berbadan kekar yang kadang masih membuat Jaejoong bergidik ngeri.
Sedangkan Jung Yunho tetap dengan kesibukannya mengurus kerajaan bisnisnya, mengusut tuntas dan mengumpulkan bukti kejahatan Kim Young Min, dan juga mencari cara untuk mengembalikan kejayaan Kim Corporation ke tangan pemilik sesungguhnya yaitu istrinya. Untuk urusan yang satu itu Jung Yunho tidak melibatkan siapapun. Ia ingin dirinya yang terjun langsung mengurus hak milik istrinya.
Malam ini Jung Yunho dengan mudahnya masuk ke dalam sebuah ruangan bertuliskan 'Kim's Corporation Financial officer'
"Siapa disana?" teriak suara seorang pria tua berkaca mata tebal yang terkejut saat melihat seseorang dengan wajah stoic dan tatapan dingin merobos masuk ke ruangannya di tengah malam.
"Sedang menghitung hasil pengelapan dana perusahaan, eoh?" ejek Yunho dengan santainya.
"SIAPA KAU? MAU APA KEMARI?" pria tua itu berteriak ketakutan begitu batang hidung Yunho mulai mendekat ke tempatnya duduk..
Jung Yunho mendecih, "Aku mau kau berikan padaku semua bukti penggelapan yang dilakukan bos barumu."
"APA MAKSUDMU, HAH?" pria itu mencoba melawan.
.
Traaakkk..
Yunho dengan santai menodongkan pistolnya tepat di kening pria tua bernama Choi Hyoje, yang diangkat sebagai direktur keuangan oleh Kim Young Min beberapa bulan lalu.
"Apa perlu ku ulangi lagi? Cepat berikan apa yang aku minta, atau pistol ini akan meledakkan kepalamu."
Pria tua bangka itu terdiam dan menatap Yunho penuh ketakutan, keringat mulai mengucur deras dari pelipisnya, tubuh pendeknya terdorong ke sudut ruangan kerjanya tersebut.
"Satu…" Yunho mulai menghitung.
"Dua.."
"Ti…" Jemari Yunho baru saja akan menarik pelatuk benda besi itu,
"HENTIKAN! ! ! INI! ! Ini semua bukti peralihan perusahaan, penggelapan dana, dan perjanjian palsu yang dibuat oleh Kim Young Min." dengan tangan yang bergetar hebat, pria tua itu menyerahkan bukti yang Yunho minta padanya.
Jung Yunho menyeringai, tangannya terulur mengambil berkas peralihan asset-asset itu, ia juga mengambil stempel atas nama istrinya yang kerap kali di salah gunakan oleh pria tua pendek itu atas perintah bosnya., "Terimakasih sudah bekerja sama denganku." Yunho tersenyum kecut.
Pria tua itu menghembuskan nafasnya lega, namun ….
"Sekarang tidurlah dengan tenang." Suara Jung Yunho mengema di ruangan besar itu, dan...
.
DOOOOORRRRRR
Jung Yunho menarik pelatuk pistol yang digenggamnya dengan sangat mantap.
"Dan membusuklah di neraka." Salam perpisahan Yunho pada pria tua bangka yang beberapa menit lalu sudah mati di tangannya.
.
.
Jung Yunho baru saja selesai membersihkan dirinya di kamar mandi dan membuang baju yang terkena cipratan darah orang yang baru saja dibunuhnya beberapa saat lalu. Yunho kembali mengisi beberapa peluru dipistolnya dan menaruhnya di laci.
"Membunuh orang lagi, Bear?" tiba-tiba sebuah tangan mungil melingkari tubuh kekar Yunho.
"Hanya membasmi hama kecil yang menganggu." Ia membalik tubuhnya dan memeluk tubuh kecil yang sangat dirindukannya itu, walaupun mereka hanya tidak bertemu selama kurang lebih 7 jam saja..
Jaejoong menyusupkan kepalanya, menghirup wangi segar dari sabun Yunho.
"Manja sekali, eoh?" Yunho menciumi puncak kepala istrinya.
"Yunnie, bolehkah besok aku keluar dengan Junsu Hyung?" tanya Jaejoong dengan aegyo terbaiknya.
"Hmmm.. Ternyata ada maunya."
Jaejoong terkekeh kecil.
Yunho mengangguk mengijinkan, "Besok akan ku suruh para body guardku untuk mengawasi kalian." Jawab Yunho.
"Tapi Bear, keberadaan para body guardmu itu sangat menggangguku tahu, semua orang selalu minggir ketakutan saat melihat badan kekar seperti kingkong milik bodyguard-bodyguard mu itu." Protes Jaejoong.
Jung Yunho tertawa kecil, istrinya itu masih saja takut dengan badan-badan besar milik anak buahnya.
"Baiklah, biar Jung Hyun dan Himchan saja yang aku suruh ikut untuk menjagamu."
"Tapi, Bear…" protes Jaejoong lagi.
"Jung Jaejoong, aku.. tidak… suka.. dibantah." Yunho menegaskan kata perkata kepada istrinya.
Membuat Jaejoong mau tidak mau tertawa, kala mengingat masa kelam mereka berdua.
"Baiklah, aku setuju. Hanya Jung Hyun dan Himchan. Dan satu lagi, mereka berdua harus berpakaian casual. Aku tidak mau mereka menggunakan kemeja, dasi, jas hitam, lengkap dengan kaca mata yang juga hitam dan sepatu pantopel berisik mereka." Jaejoong mengajukan syarat-syarat yang mau tidak mau membuat Yunho tertawa.
"Siap, Nyonya." Goda Yunho pada istrinya.
Jaejoong terseyum dan menyambar bibir tebal suaminya yang belakangan ini selalu menjadi candu dan vitaminnya.
"Kau tidak lelah, Yunnie?" tanya Jaejoong yang melihat suaminya mulai berkutat dengan dokumen-dokumen tebal di meja kerja kecilnya.
Yunho menatap istri cantiknya itu dan tersenyum, "Tidurlah duluan, sayang. Aku ada sedikit urusan."
Jaejoong mendengus kesal dan menghentak-hentakkan kakinya menuju ranjang mereka, Yunho tersenyum gemas melihat tingkah istrinya yang kadang masih terlalu kekanak-kanakan.
.
Tunggu dulu, apa aku belum bilang bahwa mereka kini tidur satu kamar? Ya.. Mereka berdua telah kembali ke rumah Yunho dan tidur bersama di kamar utama, kamar pribadi Yunho.
.
.
Jung Jaejoong kini tengah menyalurkan hobi belanjanya bersama Junsu. Sejak enam jam yang lalu mereka berkutat dan menyusuri seluruh toko-toko dengan brand terkenal yang ada di dalam Mall tersebut. Namja cantik itu berubah menjadi seseorang yang sangat kuat dan bersemangat pada saat-saat seperti ini. Berkali-kali Jung Hyun dan Himchan mengelap peluh yang menetes di dahi mereka. Di tambah tangan mereka yang penuh dengan tas-tas hasil belanja sang tuan muda.
"Joongie, sudah ya belanjanya. Hyungie sudah sangat lelah. Dan lagi kau tidak kasihan melihat Jung Hyun dan Himchan?" Pinta Junsu memelas.
Jaejoong menatap Hyungnya itu sebentar. Kemudian melihat ke arah dua namja yang kerepotan membawa barang-barang belanjaannya. Ia melihat keringat sebesar biji-biji jagung di dahi dan leher kedua pengawalnya itu.
Jung Jaejoong menutup mulutnya, menahan tawanya yang hampir meledak saat melihat wajah kedua pengawalnya yang tampak kepayahan, padahal dirinya tidak tahu bahwa wajahnya sendiri sudah sangat pucat.
Benar saja, tidak lama setelah mentertawakan penderitaan Jung Hyun dan Himchan, tubuh namja cantik itu limbung dan jatuh tidak sadarkan diri, yang membuat Kim Junsu terpekik kaget.
Dengan segera ia menangkap tubuh Jaejoong yang hampir ambruk ke lantai Mall besar itu, dan memerintahkan kedua pengawalnya untuk segera membopong namja cantik itu ke mobil.
.
.
Jung Yunho melangkahkan kakinya sebesar yang ia bisa agar cepat sampai ke ruangan tempat istrinya dirawat. Ia begitu panik saat mendapat berita bahwa Jaejoong dilarikan ke rumah sakit, karena pingsan setelah kelelahan shopping enam jam non stop bersama adik angkatnya Junsu dan dua pengawalnya.
Dengan gerakan kasar ia membuka pintu kamar rawat Jaejoong dan menghambur mendekat ke arah ranjang tempat istrinya berbaring.
"Boojae.." panggilnya pada Jaejoong yang terpejam.
"Ssshh.. Hyung, jangan terlalu ribut. Biarkan Joongie tidur. Dia kelelahan dan …"
"Dan apa suie?" tanya Yunho panik.
Junsu membekap mulutnya, ia hampir kelepasan. "Oppsss.. kau tanya saja pada Joongie nanti ketika ia sudah bangun." Jawab Junsu lalu buru-buru pergi meninggalkan ruangan.
Yunho melongo begitu sadar bahwa namja imut bertubuh semok itu sudah melesat kabur, sebelum menjelaskan kalimatnya barusan.
"Ngggghh.." namja cantik itu terbangun karena suara berisik Yunho dan Junsu.
"Boo.." sapa Yunho sumringah begitu melihat mata indah itu kembali terbuka.
"Bear…" panggil Jaejoong dengan suara seraknya.
"Kau kenapa?" tanya Yunho dengan nada suara khawatir bercampur kesal. "Sudah kubilang berapa kali, jangan kalap." Omel Yunho.
Jaejoong tertunduk dan mempoutkan bibirnya, dengan gerakan pelan ia mengusap perutnya dan berkata, "Baby, uri Appa marah." Bisiknya kepada dirinya.
Yunho mengerenyitkan dahinya, "Boojae…apa maksudmu?" tanya Yunho yang mulai kebingungan.
"Baby, lihat wajah Appamu, dia terliihat bodoh, nde. Kekeke.." Jaejoong terkekeh kecil sambil masih mengusap-ngusap perutnya.
"Boojae.. Apa kau…" tanya Yunho tertahan, lidahnya seakan tidak mampu meneruskan kalimatnya,. Takut bahwa apa yang diharapkannya terlalu berlebihan.
"Apa, apa bear?" goda Jaejoong.
"Apa kau ... hamil?" tanya Yunho penuh harap-harap cemas.
Jung Jaejoong menganggukkan kepalanya imut. "Nde." Jawabnya dengan nada suara mengayun.
Jung Yunho membelalakan matanya selebar-lebarnya, "kau tidak sedang mengerjaiku kan?"
Jaejoong menggeleng-geleng cepat. "Aku hamil, bear. Usia baby sudah 4Minggu. "
Jung Yunho membuka mulutnya, menganga lebar karena terkejut mendengar apa yang baru saja istri cantiknya katakan.
GREPPPPP..
"Terimakasih sayang.. terima kasih…" Yunho tidak tahu harus bagaimana mengekspresikan kebahagiaan yang tengah ia rasakan. Sempat terpikir untuk lari-lari di jalan raya dan mengumumkan kepada seluruh warga bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah dari baby yang tengah berada di dalam kandungan, hasil buah cintanya bersama istri cantiknya Jung Jaejoong.
Air mata kebahagiaan itu meluncur begitu saja dari mata musangnya, ia kecupi wajah istrinya berkali-kali sambil terus menggumamkan kata 'terima kasih'. Jung Yunho dan Jung Jaejoong memang terlahir dan ditakdirkan untuk menjadi pasangan, tidak peduli bagaimana kisah mereka diawali, mereka akan berakhir sebagai sepasang. Sepasang insan manusia yang diliputi sebuah anugrah Tuhan bernama, Cinta. Cinta yang abadi dan tidak akan tergantikan.
.
.
Kandungan Jung Jaejoong sudah memasuki bulan kelima, saat suaminya mulai berhasil mengembalikan satu persatu asset kepemilikan Kim Corporation ke tangan namja cantik itu. Sedangkan keberadaan Kim Young Min sendiri tidak diketahui dengan pasti. Ia sedang menjadi incaran pihak kepolisian dan seluruh team FBI. Jung Yunho sudah menguak semua bukti kejahatan yang telah dilakukannya, dan Yunho sendiri juga tidak pernah berhenti untuk menyelidiki keberadaan Kim Young Min
Namja cantik yang sudah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di lingkungan suami tampannya itu mulai beradaptasi dengan kehidupan para Mafia, ia mulai belajar caranya bernegosiasi dengan lawan, membuat conclusion, dan bahkan ia mulai belajar caranya menggunakan pistol. Awalnya Jung Yunho menentang keinginan istri cantiknya untuk belajar menembak. Namun Jung Jaejoong adalah seorang yang keras kepala dan semenjak masa kehamilannya Jung Jaejoong menjadi ratusan kali lebih keras kepala.
Hari ini Jaejoong merengek ingin ikut suaminya bernegosiasi dengan mafia asal Brazil tentang peralihan kepemilikan 'Black Carbonado Diamond', tahukah kalian bahwa Jaejoonglah yang memohon pada suaminya untuk memiliki Diamond paling berharga di dunia itu, dan memaksa ingin ikut langsung dalam proses pemindah tanganan benda yang menjadi ngidamnya itu.
.
Jaejoong dan Yunho masuk ke sebuah area pergudangan di ujung selatan Saõ Paulo, Brazil. Sebuah area yang sangat gersang dan terlihat mati. Organisasi gelap menjalar bagaikan sulur merambat di kota ini. Begitu kuat dan kejam.
Mobil mereka berhenti disalah satu bangunan gudang yang paling besar yang ada disana. Beberapa mobil yang mengawal mereka juga sudah terparkir rapi disana. Penjagaan kali ini dilakukan dengan sangat ketat, terutama penjagaan terhadap keselamatan namja cantik yang sedang mengandung calon mafia junior itu.
Yunho terus saja merangkul namja cantik itu, "Jangan jauh- jauh dariku." Bisik Yunho di telinga istrinya.
Jaejoong mengangguk dan tersenyum lebar ke arah suaminya, senyum yang sangat cantik. Sejak ia hamil, Jaejoong memang semakin sering tersenyum dan semakin terlihat bersinar..
Salah satu anak buah mafia Brazil itu membukakan gerbang gudang tersebut dan mempersilakan pasangan suami istri itu masuk dan bertemu dengan Bos mereka. Dengan langkah yang begitu angkuh Yunho masuk kedalam ruangan, jemarinya tetap bertautan erat dengan jemari mungil milik Jaejoong.
"Bem-Vindo, Mr. Jung." sapa suara yang lumayan berat yang menyambut kedatangan mereka..
Yunho mengangguk kecil.
"Silahkan duduk..." Ujar namja itu sambil kembali duduk sofa empuk kebesarannya.
Dua sofa lain sudah disiapkan oleh bawahan mafia asal Brazil itu. Yunho melirik sofa yang terlihat mahal itu, Jaejoong mengikuti Yunho dan duduk di sebelahnya. Tampaknya keberadaan Jaejoong cukup menarik perhatian mafia berusia lanjut yang menjadi lawan transaksi Jung Yunho kali ini. Terlihat dari tatapan matanya yang memandang lapar ke arah Jaejoong. Jung Yunho yang menyadari hal itu langsung menarik Jaejoong untuk duduk dipangkuannya. Meskipun sempat kaget, Jaejoong segera mendudukkan dirinya di atas kedua paha Yunho sambil sengaja mengalungkan tangannya melingkari leher jenjang suaminya. Ia sudah pandai dan cepat membaca situasi, karena jujur saja ia juga sudah merasa risih terus menerus ditatapi sejak tadi.
"Bisa, kita mulai transaksinya sekarang?" tanya Yunho dingin, ia mulai gerah dengan kelakuan mafia bau tanah dihadapannya.
"Tentu saja. Mari kita mulai transaksinya." Ujar mafia Brazil itu sambil matanya tetap memandangi Jaejoong dengan sangat intens.
Setelah transaksi Black Diamond itu berhasil dilakukan, Yunho terburu-buru menarik Jaejoong kembali ke mobil. Untuk segera kembali ke helicopter yang menunggu mereka di pusat kota. Di tengah perjalanan, setelah agak jauh dari tempat transaksi tadi, Yunho terlihat menghubungi seseorang dengan ponselnya, "Ledakkan gudang tadi. Pastikan laki-laki tua tidak tahu diri itu mati."
Jaejoong tahu Yunhonya tidak akan tinggal diam. Dia hanya tertawa sambil mengelus-ngelus perutnya lembut, 'Baby, uri Appa keren sekali, eoh?' batinnya.
.
.
Setelah lama menjadi buronan, akhirnya Jung Yunho mulai mendapat titik terang tentang keberadaan Kim Young Min, bahkan anak buahnya yang bergabung dengan team FBI pimpinan Shim Changmin sudah berhasil menangkapnya.
Lagi-lagi atas permintaan istri cantiknya, Kim Young Min tidak di serahkan kepada pihak kepolisian. Dan tidak ada yang bisa melawan kekuasaan seorang Jung, bahkan pihak kepolisian sekalipun. Kim Young Min dibawa ke sebuah ruang eksekusi yang pengap, disana ia dihajar habis oleh Shim Changmin, Park Yoochun dan juga Jung Yunho sampai babak belur, tapi ia sengaja dibiarkan tetap hidup dan belum dibunuh.
Dengan dibantu Junsu, namja cantik yang kandungannya sudah berusia lanjut dan perutnya sudah semakin membesar itu menyusul suaminya ke ruang eksekusi, tempat Pamannya berada. Ia berjalan mendekat ke arah Kim Young Min yang sudah dalam keadaan tidak berdaya dengan tubuh berdarah-darah dan kedua tangannya yang diikat kuat di kursi. Namja cantik itu menangis ketika melihat wajah namja jahanam tersebut. Jung Jaejoong bukan menangisi keadaan mengenaskan sang paman. Ia menangisi perbuatan bejat yang telah dilakukan namja itu terhadap keluarganya. Obsesi gila sang paman demi menguasai harta kekayaan keluarganya yang menjadikannya manusia tidak berperasaan.
Yunho merengkuh dan membawa namja cantik itu ke dalam pelukan hangatnya. Yunho tahu, Jaejoong ingin membunuh Kim Young Min dengan tangannya sendiri. "Kau yakin kuat melakukannya, sayang? Kalau tidak sanggup, jangan di paksakan." Saran Yunho lembut. Ia mengecupi pipi istrinya.
Jaejoong menggeleng, ia yakin bisa melakukannya. Kemudian ia menengadahkan tangannya pada Yunho dan meminta benda besi itu.
Dengan tekad penuh Jaejoong mengarahkan moncong pistol itu tepat ke arah jantung laki-laki yang telah membunuh kedua orang tuanya, dan membuat orang tuanya tidak bisa melihat kehadiran cucu mereka di dunia. Dengan pemikiran itu, amarah Jung Jaejoong semakin membuncah, dan ….
"Ini untuk pembalasan kematian kedua orang tuaku.."
DOOOOOORRRRRRR…
Satu tembakan tepat di jantung Kim Young Min.
.
"Ini untuk kebencian dan dendamku padamu..,"
DOORRRRRRRRRRRRR…
Satu tembakan lagi di bagian kepala Kim Young Min..
.
Jung Jaejoong baru saja akan menarik pelatuk pistol itu untuk yang ketiga kalinya, namun tangannya bergetar hebat. Yunho menarik turun, tangan istri cantiknya itu dan mengambil pistol dari tangan Jaejoong dengan hati-hati.
"Sudah sayang, sudah cukup. Dia sudah mati." Bisik Yunho lembut.
Namja cantik itu terisak keras, ia membiarkan dirinya melepas semua kebencian dan dendam yang selama ini ia rasakan dengan menangis sepuasnya. Jung Yunho merengkuh tubuh Jaejoong ke dalam pelukannya dengan sangat erat, tangisan Jaejoong semakin melemah sebelum akhirnya tubuhnya tumbang dalam pelukan Yunho yang memang sudah berjaga-jaga dengan kemungkinan istrinya yang akan jatuh pingsan. Dengan sigap, Yunho mengangkat tubuh istri cantiknya itu bridal sytle keluar dari tempat gelap dan pengap itu, lalu menyerahkan urusan selanjutnya kepada Shim Changmin.
Jung Yunho memerintahkan Jung Hyun agar membawa mobilnya menjauhi lingkungan yang terisolir itu. Ia duduk di belakang, dengan Jaejoong yang sedang tidak sadarkan diri di pelukannya.
'Sayangku, Jung Jaejoong, kau adalah namja terhebat yang ku kenal. Terima kasih karena telah hadir dalam kehidupanku, Terima kasih karena telah mengajari aku tentang kelembutan dan cinta.' Jung Yunho mengecup kening Jaejoong dalam.
"Tuhan, ijinkan kami merasakan kebahagiaan ini selamanya." Doa Yunho dalam hatinya.
.
.
- THE END –
Tamat woy.. *tebar confetti* hehehe.. sekali lagi aku ucapin terima kasih kepada semua reviewers, favoriters, dan followers FF Mafia Jung, I LOVE YOU! yang selalu mendukung dan mensupport aku, sepertinya aku akan hiatus dulu mempublish FF, karena 'something' yang membuat aku agak ngedown, tapi tenang aja, aku tetep ngedraft ide-ide yang kadang muncul tiba-tiba. Biar sekali update langsung banyak dan kilat. (kebiasaanku emang gitu, makanya jangan heran kalau aku ngupdate FF suka cepet banget) hehehe..
Terimakasih kepada seluruh favoriters, followers, dan reviewers:
3kjj, Beautiful Beast'98, Cho Sungkyu, ChwangKyuh EviLBerry, DarkLiliy, Dennis Park, aiumax, chidorasen, depdeph, hanasukie, indahtara14, jae sekundes, joongmax, jung aiko, junghyo289, kim anna shinotsuke, kitybear, manyulz, nickeYJcassie, paradisaea Rubra, AKASIA CHEONSA, Jaejung Love, Jejevan, Lady Ze, My beauty jeje, sirayuki Gia, Clein cassie, irengiovanny, Casshipper Jung, runashine88, sakuranatsu90, snowdrop1272, tinaff359, toki4102, xena hwang, zulazhoe, EMPEROR-NUNEO, Himawari23, MalaLee, Kim Eun Seob, NaeKyu, OresamaRei, Park July, Taeripark, UMeWookie, UnnieDongsaeng, WineMing, Youleebitha, Zora Fujoshi, L HyeMi, rnye, TitaniumSP, YunHolic, dejoker, demikyu, lovejeje, meirah.1111, qee, tinaff359, yolyol, yoon HyunWoon, zahraclouds, rie, cindyshim07, henyani, Jung Jaehyun, dew90, I was a dreamer, AliveYJ, kkim vinansia, 6002nope, Choi Hyun Gi, jaena, Diin Cassha, runashine88, Jaelupme, vermilion, gwansim84, jaejae, Yunjae Lovers, t, meybi, ShinJiWo920202, chibiechan01, junghyo289, Vic89, my yunjaechun, angels91, DiniYunjae, aihara irie, Maliza steffhanni, vivi, putri, mimi2806, Dea Yunjae, mega, hi-jj91, Michelle Jung, Minnie95, YJS, fauzia, Yunjae's baby, abilhikmah, BambiJung, Next, BigEastT, gothiclolita89, leeChunnie, ShinnaJaejoong, holepink, keybin, rimadsung, wennycassiopeia, heeli, hikari Vongola, viekrungysweetpumpkin, dipa woon, JJEJEEIND, YunJae kid, Liaohuanie, dan para guest yang berbahagia.
Follow twitterku aja kalau kangen: KimsLovey
Kekekeke~
