Hujan lagi. Kyungsoo mencoba untuk bersabar tapi kantuk lebih dulu menyambangi, memberatkan matanya disatu dua kedipan, bahunya mulai terkulai. Detik-detik kemudian menjadi pengiring tidur paling hening.

Bangun-bangun Kyungsoo sudah ada di atas kasur, tidur terlentang dengan mata merah yang terbuka lebar. Jam digital yang ada di atas nakas menunjukan angkat tiga. Ditengoknya tempat di sebelahnya yang masih kosong yang langsung membuatnya menghela kecewa.

Dengan sedikit sempoyongan Kyungsoo berdiri. Berjalan sambil menyeret selimutnya, macam anak kecil yang terbangun dari mimpi buruk dan merajuk ke ibunya. Untuk kemudian diam di depan sofa, dengan seorang laki-laki yang tidur tidak nyaman di depannya, dia memutuskan untuk mengusik. Merangsek pelan menyempitkan sofa, ditemani bulir-bulir air yang jatuh ke tanah, Kyungsoo berusaha menyamankan rebahannya.

Detik berikutnya membangunkan. Tertawa sengau karena sadar yang datang tiba-tiba. Kyungsoo tidak bisa untuk tidak ikut tertawa walau dengan volume kecil.

"Kenapa tidak tidur di kamar?" tanyanya sebelum tenggelam dalam Chanyeol.

"Kalau kau lupa kita masih marah-marahan," tanggap Chanyeol, masih dengan suara seraknya. Dia tidak terganggu, malah menyamankan membuat Kyungsoo diam-diam merapatkan kepalanya lagi.

"Jam berapa kau pulang?"

"Sebelas mungkin. Hujan deras, jalanan macet, kupikir tidak apa karena tidak ada yang menunggu di rumah."

"Siapa bilang tidak ada yang menunggu?"

"Kita kan masih...,"

"Marah-marahan?" Kyungsoo mengeluh parau, "aku benci hujan," katanya di kaos tipis Chanyeol.

"Kau mengatakan itu berulang kali tahun lalu," Chanyeol mencoba menyamankan posisi mereka berdua agar Kyungsoo tidak jatuh ke lantai. "tolong jangan katakan hal yang sama tahun ini." Kyungsoo tahu Chanyeol tidak serius jadi dia mengangguk menuruti.

Di berikutnya diisi hening yang tenang, berteman dengan suara hujan dan detik jam dinding, Kyungsoo mulai digelayuti dengan kantuk lagi.

"Chanyeol?" Dia mengecek untuk tahu.

Chanyeol berdehem untuk menanggapi.

"Ayo tidur di kamar." Sebuah ajakan. Kyungsoo hampir menyerah kalau Chanyeol tidak segera berdiri dan menggandengnya.

Detik berlalu dengan cepat setelah mereka berdua sudah berada di atas ranjang. Saat hampir digeluti tembang bunga tidur, Chanyeol tertawa serak.

"Kenapa?" tanya Kyungsoo sangsi.

"Lucu saja." Chanyeol menghadap Kyungsoo, sambil memejamkan matanya, dia tersenyum.

"Lucu apanya?"

"Mengingat kau tadi malam mati-matian mengusirku hanya karena tidak memasukkan kaos kaki di keranjang cucian."

"Hanya, kau bilang? Kau selalu melakukan hal itu, setiap saat." Kyungsoo tersenyum tahzim, dia juga mulai memejamkan matanya.

"Sebenarnya, Kyungsoo, karena kau terlihat menggemaskan saat marah, aku sengaja melakukan hal itu untuk membuatmu marah." Chanyeol tertawa, menggema diheningnya malam. Anehnya, Kyungsoo menemukan hal itu menenangkannya.

Kyungsoo mencubit pinggang Chanyeol main-main, "Tipikalmu sekali."

End.

Entah kenapa aku suka sekali bikin "pillowtalk"nya Chansoo walaupun ga penting2 amat.