Eyes Of The Heart

(^_^)

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Xi Luhan

And Other

.

ChanBaek (GS)

Romance


Happy Reading :)


"itu karena Baekhyun tidak mau melakukannya"

"a-APA?" jawaban Luhan sungguh tidak diterima oleh akal sehat Chanyeol. ohh hayolah, apa kakak dari gadisnya ini sedang bermain-main dengannya.

"yaa, mengapa aku tak pernah membawa Baekhyun untuk melakukan oprasi itu karena Baekhyun tidak menginginkannya Chanyeol-ssi" Luhan kini mengalihkan pandangannya yang awalnya terpusat pada pintu kamar Baekhyun untuk ia bawa memandang manik tajam Chanyeol.

"kau tidak sedang bermain-main denganku bukan Luhan-ssi?" Chanyeol menatap Luhan dengan satu alisnya terangkat, mencoba mengajak gadis bermata rusa itu untuk bernegosiasi dengannya.

"apa segala penderitaan adikku pantas untuk kujadikan bahan bercandaan?" mata indah milik gadis berdarah cina itu mulai memerah dengan air bening yang menggenang di pelupuk matanya. "kau belum sepenuhnya tau bagaiman Baekhyun menjalani hidupnya selama ini Chanyeol-ssi"

"maka beritahu aku sehingga aku mengetahuinya" Chanyeol masih dengan suaranya yang sedingin telaga. Laki-laki itu tetap tak merubah nada bicaranya maskipun jelas-jelas ia sedang berhadapan dengan saudara perempuan dari gadis yang sangat di inginkannya.

"benarkah kau mencintai adikku?" Luhan menatap Chanyeol dengan tajam. Meskipun Luhan sudah pernah melihat sendiri bagaimana Chanyeol bersikap pada Baekhyun dan bagaimana tatapan tulus laki-laki itu pada adiknya, tetap saja Chanyeol adalah orang asing dalam hidup mereka.

"aku bukan seseorang yang bermain-main jika itu menyangkut perasaanku" terdapat sebuah ketegasan dalam amber tajam itu. Luhan melihatnya sangat jelas.

"apa aku bisa percaya padamu?" Luhan masih berusaha menyelami amber milik Chanyeol, mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika dia memang bisa mempercayakan Baekhyun pada laki-laki ini.

"terserah padamu, karena aku tak membutuhkan kepercayaanmu untuk mencintai Baekhyun"

Setelah itu suasana kembali hening. Tak ada satupun dari dua anak manusia itu yang membuka mulutnya. Keduanya tenggelam dalam piirannya masing-masing hingga akhirnya salah satu dari mereka memilih untuk mengalah.

"itu terjadi sekitar 6 tahun yang lalu" Chanyeol kembali membawa fokusnya pada Luhan saat gadis bermata rusa itu mengeluarkan kembali suaranya.

"kau tau Chanyeol-ssi? Baekhyun adalah gadis termanis yang pernah kutemui, bahkan dengan pemikiran konyolku aku pernah berfikir, mengapa aku tak terlahir sebagai laki-laki saja? sehingga aku dapat menjadikan dia kekasihku dan melindunginya dengan seluruh hidupku"

Chanyeol sempat mengepalkan tangannya mendengar cerita Luhan.

"aku masih sangat ingat saat dimana dia mengatakan padaku eonni aku menyayangimu dan baba, sebelum semuanya berubah menjadi mengerikan, adikku berkata jika dia menyayangiku.. hingga saat aku menemukannya berteriak seakan ia benar-benar kesakitan, dia memanggil namaku, dia berkata semuanya gelap, dia terus memanggil namaku kala itu" air mata sudah tak terbendung lagi, Luhan terisak mengingat segala kesaitan yang dirasakan oleh adi kecilnya, seakan ia ikut merasakannya juga.

Chanyeol masih terdiam dengan tangan yang mengepal erat, menahan gejolak emosi kala mengetahui jika gadisnya kesakitan, Baekhyunnya menderita dan kesakitan.

"aku hancur, aku hanyalah seorang gadis remaja berumur 18 tahun kala itu, tapi aku harus kehilangan orang tua satu-satunya yang masih kumiliki.. aku sempat berfikir untuk mengakhiri hidupku saat tau bahwa aku sudah tak memiliki siapapun, tapi saat mendengar isakan kecil itu, saat mendengar suara yang memanggil namaku berulangkali aku sadar bahwa aku memiliki dia, aku memiliki seorang malaikat yang harus kujaga—"

"_hingga dimana dia mengetahui jika yang terjadi selama ini bersumber dari satu orang.. dia semakin hancur kala itu, dia terpuruk saat tau jika ibunya yang menjadi dalang atas semua yang terjadi padanya, aku ingin membenci Baekhyun saat itu.. aku ingin melampiaskan kemarahanku pada wanita iblis yang tak lain adalah ibu kandung Baekhyun, wanita iblis yang sudah merenggut keluargaku, namun aku tak bisa.. aku menyayanginya, dia adikku dan aku harus melindunginya.. dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang di perbuat oleh ibunya, dan dia menganggap bahwa kebutaannya adalah hukuman yang pantas ia terima"

"Omong kosong.!" Chanyeol berdiri dan menggebrak meja yang ada di ruang tamu Luhan. Bahkan laki-laki itu tak peduli jika ini bukanlah rumahnya.

Luhan hanya semakin terisak, keduanya tak menyadari jika ada sosok mungil yang sedari tadi mencuri dengar dengan isakan tertahan di balik sebuah pintu kamar yang sedikit terbuka.

"Kumohon Chanyeol-ssi, aku tak tau lagi harus bagaimana, jadi bisakah kau menolongku? Tolong bawa cahaya pada adikku, tolong selamatkan adikku hiks.."

.

.

.

Sehun seakan ingin berteriak dan berjingkat jika tak ingat usianya saat melihat 3 gadis mungil yang tengah berjalan ke arahnya.

Ingin rasanya ia menabrak pagar pembatas pintu kedatangan luar negeri dari bandara tempatnya berpijak saat ini dan segera membawa sosok yang amat ia rindukan dalam dekapannya.

"aku sangat merindukanmu" Sehun segera membawa Luhan kedalam pelukannya sesaat setelah rusa mungilnya melepas genggamannya pada tangan Baekhyun dan berdiri di hadapannya.

"aku lebih merindukanmu Sehunie" Luhan mengusakkan hidungnya pada dada bidang Sehun, menyalurkan perasaan rindu yang keduanya tahan selama ini, betapa ia merindukan Sehun-nya.

"bisakah kalian melanjutkannya di rumah saja?" Kyungsoo yang kini tengah bergantian menggandeng Baekhyun mengganggu kegiatan sepasang kekasih itu dengan nada malas. Sedangkan gadis cantik bermata hazel disebelahnya hanya tersenyum menatap lurus ke depan.

"kau iri ya?" Sehun pun segera memberikan pelukan hangat pada sahabat kekasihnya yang otomatis menjadi sahabatnya juga.

"ck.. untuk apa aku iri pada kalian" Kyungsoo berdecih sekilas dengan wajah sakratis yang ia buat-buat. Sehun dan Luhan hanya tekekeh melihat itu.

"hei siapa si cantik ini, kenapa diam saja manis?" ingatkan Kyungsoo untuk melempar Sehun ke Segitiga Bermuda setelah ini, wajah Sehun benar-benar menggelikan saat menggoda Baekhyun.

"Oppa Hyunie rindu, apa oppa juga merindukan Hyunie?" Baekhyun menampilkan senyum yang amat manis pada Sehun hingga membuat laki-laki berkulit putih hampir pucat itu tak tahan untuk tidak segera mencubit pipinya.

"tentu saja sayang, aigoo.. seharusnya oppa memacarimu saja Bee, kau bahkan tumbuh menjadi lebih cantik dari pada Luhan" Baekhyun terkekeh dalam pelukan Sehun.

"Benarkah? Lalu bagaimana jika kita berpacaran sekarang saja oppa?" Baekhyun masih menjawabnya dengan kikikan kecil tak melepas dekapan Sehun pada tubuh mungilnya.

"Call, baiklah kita jadian lagi untuk kesekian kali" Sehun terkikik gemas "aiihh kenapa kau manis sekali hum?" Sehun mencubit pipi Baekhyun hingga gadis itu berteriak kesakitan, menghadirkan kekehan dari dua gadis lain yang ada disana, termasuk Luhan kekasihnya.

"rasanya sudah ribuan kali aku mendengar bualan itu keluar dari mulutmu tuan Oh" Itu Kyungsoo yang memang tak pernah bisa akur dengan Sehun.

"kenapa kau sirik sekali padaku sih?" Sehun memicingkan matanya pada Kyungsoo dan dihadiahi pelototan oleh gadis bermata bulat itu.

Nampaknya ke-empatnya tak menyadari jika ada seseorang dengan rahang mengeras dan juga kepalan tangan yang begitu erat menatap tajam pada mereka.

.

.

Lagi-lagi Jongin dibuat kalang kabut oleh bossnya yang entah sejak kapan berubah menjadi lebih menyebalkan. Yaa.. siapa lagi yang mampu membuat Jongin berkali-kali meratapi nasibnya jika bukan seorang Park Chanyeol. rasanya Jongin sudah berubah menjadi keledai bodoh saat ini, laki-laki tan itu hanya terdiam menatap kosong kedepan sedang berfikir bagaimana caranya supaya ia bisa keluar dari Bumi dan segera pindah ke Mars.

Siang ini, ia dibuat darah tinggi karena untuk kesekian kalinya Chanyeol tiba-tiba pergi meninggalkan kantor. Ya Tuhan.. rasanya Jongin benar-benar ingin lenyap dari muka bumi ini, saat ini juga.

"kau sudah mengatur semuanya Yoona?" tanpa sapaan ramah seperti biasa, Jongin segera melempar tanya pada Yoona yang baru saja masuk ke ruangannya.

"semua sudah terkendali pak, pertemuan Park sajangnim dengan Mr. Jon di undur besok begitupun pertemuan dengan Taesan turut di undur setelah makan siang besok pak" Yoona menjawab dengan lancar setelah segala jadwal bossnya yang terpaksa ia atur ulang hari ini.

"aku benar-benar akan di buat gila oleh bossmu itu aiishh" Jongin menjambak rambutnya frustasi. Pertemuan yang akan dihadiri Chanyeol hari ini bukanlah pertemuan biasa, melainkan sebuah pertemuan untuk membahas kerjasama perusahaan mereka dengan perusahaan asal Italia yang nilainya bahkan sangat besar, dan lagi-lagi Park Idiot Chanyeol meninggalkannya begitu saja.

.

.

Chanyeol sudah akan menghampiri Baekhyun yang ia lihat tengah berjalan dengan Luhan yang menggandengnya. Ia menarik nafas panjang guna mengembalikan deru nafasnya agar normal kembali, efek berlari dari parkiran menuju pintu kedatangan luar negeri bandara.

Kemudian ia bawa langkah tegapnya menuju gadis mungilnya yang ada di depan sana. Luhan dan temannya sepertinya belum menyadari adanya Chanyeol. Bandara hari ini cukup ramai oleh hilir mudik orang.

Senyum tercetak jelas pada wajah rupawannya, masih menatap gadis mungil di depan sana, hingga saat ia melihat siluet seseorang yang kini tengah berpelukan dengan salah satu dari tiga gadis yang berniat ia hampiri.

Posisi laki-laki yang tingginya hampir sama dengannya itu membelakangi dirinya, hingga ia belum bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki dengan kemeja putih itu. Mungkin itu kekasih Luhan.

Ahh Chanyeol tak peduli tentang itu, karena tujuannya kemari hanya ingin menjemput gadis mungilnya. Baekhyun sudah melarangnya sejak kemarin karena gadis mungil itu bilang kekasih Luhan akan menjemput mereka.

Chanyeol tetap membawa langkahnya semakin mendekat, namun empat orang disana sepertinya masih belum menyadari kehadirannya yang hanya berjarak sekitar 2 meter, mungkin karena tiang besar yang ada di sebelahnya.

"aku lebih merindukanmu Sehunie" sampai saat telinganya menangkap satu nama yang tak asing untuknya.

Chanyeol menghentikan langkahnya, mengamati interaksi antara empat orang di depannya. Hingga tepat saat laki-laki itu terlihat memeluk mesra Baekhyunnya saat itu pula ia dapat melihat dengan jelas rupa laki-laki tinggi itu.

Tangannya seketika mengepal dengan rahang yang terkantup rapat dan mengeras, semakin parah saat melihat bagaimana manjanya Baekhyun pada salah satu orang yang amat Chanyeol benci dalam hidupnya. Kenapa ia harus bertemu dengan Sehun lagi?

.

.

.

Hari ini adalah hari minggu, dan Baekhyun sudah siap dengan dress sebatas lututnya yang dipadukan dengan sweater menambah kesan sederhana pada dirinya. Entah bagaimana namun gadis bermarga Byun itu benra-benar cantik meskipun dengan pakaian sederhana yang menjadi ciri khasnya.

Hari ini Chanyeol berjanji akan menjemputnya dan mengajaknya untuk jalan-jalan mengelilingi kota Seoul. Sudah empat hari lamanya Baekhyun menetap di Seoul dan hari ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan Chanyeol di tanah kelahirannya.

Luhan dan Kyungsoo memilih untuk pergi berbelanja. Sehun sedang ada di Busan dan baru akan kembali siang ini.

Yaa, mereka semua akhirnya memutuskan untuk tinggal di Mansion besar milik Sehun. Kyungsoo awalnya ingin memiliki apartemennya sendiri, namun Luhan dan Sehun menahannya, hingga berakhir mereka tinggal berempat di Mansion mewah ini.

Baekhyun belum cukup mengenal lingkungan Mansion Sehun, masih memerlukan waktu untuknya beradaptasi dengan tempat tinggal barunya. Namun sungguh beruntung ia memiliki calon kakak ipar seperti Sehun. Laki-laki itu dengan senangnya merubah tatanan perabutan rumahnya sedemikian rupa berharap Baekhyun lebih leluasa dan mudah beradaptasi. Barang-barang yang sekiranya dapat membuat Baekhyun terluka ia tata pada sudut-sudut ruangan. Bahkan Sehun memasang karpet pada tangga takut jika Baekhyun bisa saja terpleset.

Luhan dan Kyungsoo juga membantu Baekhyun untuk mengenali rumah baru mereka. Bagaimanapun ada kalanya Baekhyun harus di tinggal di rumah sendiri, bersama para maid tentunya, karena Luhan, Kyungsoo maupun Sehun darus tetap bekerja. Jadi sebisa mungkin Baekhyun harus bisa berjalan sendiri di rumah ini.

Kepekaan Baekhyun juga sangat menguntungkan, selama empat hari ini ia tak menemukan kesulitan yang berarti.

Baekhyun menuruni tangga di bantu Kyungsoo, segera menghampiri Luhan yang sudah menunggu di meja makan untuk sarapan.

"Chanyeol akan menjemputmu jam berapa Bee?" Luhan bertanya pada Baekhyun sembari mengoleskan slai strawberry pada roti kesukaan adiknya.

"mungkin sebentar lagi, aah Luhan aku ingin meminta tolong" Baekhyun menerima roti yang Luhan berikan pada tangannya dan segera melahapnya sambil menjawab pertanyaan Luhan.

"minta tolong apa?" Luhan menaikkan satu alisnya, tak biasanya Baekhyun meminta tolong padanya secara terang-terangan.

"jangan beritahu Sehun oppa tentang Chanyeol, ku mohoon" rengeknya, dan jangan lupakan wajah anak anjing yang gadis mungil itu tampilkan, membuat Kyungsoo yang ada di depannya gemas bukan main. Sayang posisinya dan Baekhyun terhalang meja makan, coba saja jika ia ada di posisi Luhan yang bersebelahan dengan Baekhyun, sudah pasti pipi gadis kecil itu akan menjadi menu sarapannya saat ini.

"kenapa begitu?" Luhan semakin bingung degan permintaan Baekhyun.

"itu karena Sehun habis mengomelinya kemarin Lu" Kyungsoo menyahut begitu saja.

"benarkah seperti itu Baek?"

Baekhyun hanya mengangguk dengan bibir mengerucut lucu mengingat kejadian kemarin sore saat Sehun memergokinya sedang melakukan sambungan telfon dengan Chanyeol.

Sehun bilang, untuk saat ini Baekhyun tidak boleh dekat dengan laki-laki manapun karena menurut Sehun belum waktunya itu terjadi. Percaya atau tidak Sehun sangat menyayangi Baekhyun seperti adiknya sendiri. Jiwa seorang kakak laki-laki yang ada padanya berteriak keras saat tau Baekhyun dekat dengan seorang laki-laki. Apalagi saat Baekhyun tak mau mengaku siapa laki-laki itu.

Bukan apa-apa, Sehun hanya terlalu khawatir pada Baekhyun. Keadaan Baekhyun yang seperti ini benar-benar membuat laki-laki yang sudah seperti saudara kandung Baekhyun sendiri itu membangun tembok tinggi guna melindungi calon adik iparnya. Sehun benar-benar protektif dalam hal melindungi Luhan dan Baekhyun. Apalagi selama ini sudah berkali-kali Baekhyun berada di ambang bahaya. Baekhyun adalah segalanya untuk Luhan, maka ia juga harus melindungi Baekhyun untuk melindungi Luhan. Karena jika terjadi sesuatu pada Baekhyun, itu artinya juga terjadi sesuatu pada Luhan, satu-satunya gadis yang amat ia cintai.

"kau tau kan Sehun terlalu protektif pada Baekhyun Lu" Kyungsoo kembali menyahuti.

Kemarin, Kyungsoo ada disana saat Sehun memberikan serentetan nasehat pada Baekhyun.

"dia hanya terlalu mengkhawatirkanmu Bee" Luhan mengusap sayang puncak kepala adiknya.

"tetap saja, aku tak mau Oppa tau dan memarahiku lagi Luhan"

"baiklah baiklah, aku akan merahasiakan ini dari Sehun" Luhan hanya bisa mengalah, mungkin dengan perlahan mencoba bicara pada Sehun agar kekasihnya itu mengerti.

"Kyungsoo eonni juga, eonni jangan ember atau nanti Baekhyunie dimarahi lagi oleh Sehun Oppa"

"yaak! Siapa yang kau katai ember anak nakal?" Kyungsoo melotot tak percaya Baekhyun mengatainya ember.

Baekhyun dan Luhan terkekeh bersama, disusul Kyungsoo juga ikut tertawa, menertawai dirinya sendiri.

Kegiatan ketiganya akhirnya terintrupsi oleh suara bel.

"ahh itu pasti Chanyeol, tunggu disini aku akan membukakannya" Luhan sudah bangkit dari duduknya dan akan segera melaangkahkan kakinya untuk membuka pintu sebelum suara Baekhyun mengintrupsinya.

"biar aku saja Luhan"

"kau bisa sendiri?" Luhan masih sedikit khawatir karena Baekhyun pasti belum terlalu terbiasa dengan lingkungan mansion besar ini.

"tentu saja" Baekhyun memberikan senyuman terbaiknya dan segera membawa langkahnya dengan hati-hati. Ia di bantu tongkat kecil untuk saat ini.

.

.

"perkenalkan Lu, ini adalah Johnny, dia yang akan menjadi bodyguard Baekhyun" Sehun memperkenalkan orang kepercayaannya pada Luhan sesaat setelah ia sampai di rumah, tepat pukul 4 sore Sehun sampai rumah bersama dengan seorang laki-laki tinggi berjalan di belakangnya. "dimana Baekhyunie?" Lanjutnya.

Luhan hampir tersedak ludahnya sendiri, Ya Tuhan.. bagaimana dia bisa lupa jika Baekhyun masih di luar bersama Chanyeol.

"a.. a Baekhyun, Baekhyun keluar bersama Kyungsoo, yahh" Luhan menjawab dengan sedikit gelagapan, membuat Sehun sedikit menaikkan sebelah alisnya. "kau sebaiknya mandi Sehunie" Luhan berusaha mengalihkan pembicaraan. Bagaimanapun Kyungsoo bisa muncul sewaktu-waktu karena gadis bermata bulat itu memang hanya keluar ke minimarket terdekat untuk membeli sesuatu yang ia lupakan saat mereka berbelanja tadi katanya.

"kau boleh pergi John, dan kau bisa mulai bekerja besok pagi" Sehun berbicara pada Johnny sebentar sebelum menuruti Luhan yang menggandengnya untuk segera pergi ke kamarnya dan mandi.

.

.

"kau menyukainya?" Baekhyun mengangguk penuh binar dengan pertanyaan yang baru saja di lontarkan Chanyeol.

Keduanya kini sedang berada di kedai es krim, dengan satu kup es krim rasa strawberry dan rasa pisang berada di depannya masing-masing.

Chanyeol tak sekalipun melepaskan atensinya pada gadis cantik yang sudah ia semati tanda kepemilikan olehnya itu. Paras cantik Baekhyun sepertinya benar-benar telah berhasil memporakporandakan ketenangan laki-laki dengan marga Park itu.

Mereka sudah menghabiskan hampir sehari penuh untuk jalan-jalan mengelilingi kota Seoul, sesuai dengan keinginan Baekhyun hari ini.

"Baek, aku sudah mencoba mencari informasi tentang rumah sakit terbaik yang dapat kita jadikan sebagai tempat menjalani oprasimu,dan salah satu rumah sakit di Seoul memilikinya"

Gerakan tangan Baekhyun yang sedang menyendok es krim favoritnya seketika berhenti sesaat setelah ia mendengar serentetan kalimat yang barusaja keluar dari bibir laki-laki yang sudah mulai berhasil mengisi ruang kosong di hatinya.

"Chanyeol sepertinya aku harus segera pulang, ini sudah sore bukan? Luhan pasti mencemaskanku"

Chanyeol tau, Baekhyun telah mencoba menghindar dari topik yang ingin ia bahas.

"Baek, dengarkan aku"

Baekhyun hanya maenunduk setelah itu, Baekhyun tau jika Chanyeol pasti akan membahas ini suatu saat setelah kejadian dimana laki-laki ini terlibat sedikit perdebatan dengan kakaknya, dan itu adalah hari ini.

"kau percaya padaku hum?" Chanyeol mencoba menggenggam kedua tangan hangat Baekhyun, mencoba meyakinkan gadisnya jika Baekhyun hanya perlu percaya padanya.

"Baekhyun.." panggilnya lagi, ia tak ingin menyerah meyakinkan gadisnya.

"aku tak bisa Chanyeol-"

"kenapa?" Chanyeol memotong karena ia tak bisa menerima jawaban Baekhyun.

"kau tau? Aku begitu menyayangi Luhan, aku begitu bersalah saat Luhan harus kehilangan baba" satu tetes air mata yang sedari tadi coba Baekhyun tahan akhirnya terlepas.

"tapi itu bukan salahmu" Chanyeol tak akan menyerah, dia akan membawa dunia Baekhyun kembali dan tak akan ada yang bisa menghalanginya.

"bagaimana itu menjadi bukan salahku jika semua ini terjadi karena ibuku yang melakukan semuanya Chanyeol? hiks, kau tak akan tau rasanya.. aku bukan siapa-siapa sebelum baba menikahi eomma, aku menemukan hidupku kembali saat aku bertemu dengan perempuan cantik yang ternyata dia akan menjadi kakak perempuanku, Luhan sebelumnya sudah bahagia meski tidak ada aku dan eomma dalam hidupnya, namun lihat hiks.."

Tangis Baekhyun pecah kala itu, tak peduli beberapa pengunjung lain melihatnya.

"..Luhan menderita setelah aku masuk di kehidupannya"

"apa kau pikir dengan keadaanmu sekarang membuat Luhan bahagia? Kau egois Baek" rahang Chanyeol mengeras kala itu. Dia tak suka di bantah meskipun itu Baekhyun. Dia pun tak habis pikir dengan jalan pikiran Baekhyun. "apa kau pikir penderitaan Luhan tidak bertambah dengan keputusanmu yang tak masuk akal ini? apa kau pikir hidup Luhan hanya untuk melindungimu saja? Tidak Baekhyun, dia mempunyai kehidupannya sendiri, kekasihnya, kebahagiaanya, apa kau pikir Luhan tak berhak memiliki itu? baiklah jika motivasimu adalah Luhan maka aku juga akan menjadikan Luhan untuk membuatmu sadar"

Baekhyun membeku dengan air mata yang semakin banyak keluar. Benarkah Luhan begitu kesusahan? Kenapa dia hanya menjadi penghalang untuk Luhan? Kenapa ia hanya bisa menjadi beban untuk Luhan?

"aku ingin pulang Chanyeol, kumohon hks"

Chanyeol hanya menghembuskan nafasnya kasar dan kemudian beranjak menggandeng Baekhyun, membawanya keluar dari kedai es krim tempat mereka berada saat ini.

.

.

"agggrrrhh dasar gadis licik" Taeyeon berteriak seperti orang yang tengah kehilangan kewarasannya. Ruangan mewah yang tak lain adalah ruang kerjanya sendiri telah tak ada rupa lain selain berantakan dengan kertas berhamburan kemana-mana.

"Namjoon..! Namjooon!" bahkan Chaeyoung yang berada di ruangan yang sama dengan wanita ambisius itu sampai memejamkan matanya karena takut dengan amarah atasannya yang kini tengah meledak-ledak.

Namjoon terengah ketika sampai di ruangan Taeyeon, ia tau jika atasannya itu tengah dalam suasana hati yang buruk setelah mendengar kembalinya Luhan dan Baekhyun ke Korea.

"kau.. kau segera bawa anak buahmu dan bawa Baekhyun padaku"

"ma-maaf madam..."

"aku tak butuh maafmu, yang kubutuhkan adalah kau membawa Baekhyun ke hadapanku segera" siapapun yang melihat bagaimana wajah wanita jahat ini pasti akan bergedik ngeri. Taeyeon memang tak akan puas sebelum seluruh kekayaan Xi berada di tangannya.

Keberadaan Luhan di Korea benar-benar akan membahayakan posisinya di perusahaan ini.

Dia dan Luhan memang sama-sama memiliki masing-masing 50% dari saham yang dimiliki ayah Luhan. Namun kepemilikan saham pada perusahaan ini tidak 100% milik keluarga Xi. Sekiranya masih ada sekitar 30% saham perusahaan atas nama orangg lain.

Jika Luhan kembali dan mengambil 50% sahamnya maka total saham yang dimiliki Luhan pada perusahaan ini adalah sebesar 35% dan jika Luhan berhasil bersekutu dengan para pemilik saham lain, bukan tidak mungkin jika posisi Taeyeon akan benar-benar tergeser sebagai pemimpin dari perusahaan besar ini.

Tidak, ia tak akan membiarkan itu terjadi. Ingatlah, Kim Taeyeon adalah seorang wanita yang akan selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.

.

.

.

Chanyeol mengeryitkan matanya melihat objek yang cukup jauh dari mobil mereka saat ini. semakin mobil Chanyeol melaju semakin jelas pula jika perempuan yang sedang melambai-lambaikan kedua tangannya itu adalah Kyungsoo.

Chanyeol segera menghentikan mobilnya tepat setelah mereka berada di depan tubuh mungil Kyungsoo.

"apa kita sudah sampai Chanyeol?" tanya Baekhyun, sejak tadi memang hanya hening yang menemani perjalanan mereka.

"tidak, ada Kyungsoo di depan"

"huh? Kyungsoo eonni" Baekhyun bergumam kecil, sedikit membawa pikirannya untuk menerka apa yang dilakukan Kyungsoo dengan menghadang mobil Chanyeol.

Chanyeol segera keluar dari mobil dan menghampiri Kyungsoo.

"Chanyeol-ssi, kau bisa menurunkan Baekhyun disini, aku akan bersamanya pulang"

"mengapa? Baekhyun..!" Chanyeol segera berlari meninggalkan Kyungsoo dan menghampiri Baekhyun yang turun dari mobilnya sendiri.

"eonni?"

"Baekhyunie, ahh kau pulang bersamaku hem, ini sudah dekat dengan rumah"

"aku bisa mengantar kalian, mengapa Baekhyun harus berjalan bersamamu Kyungsoo-ssi?" Chanyeol kiranya sedikit mengeraskan rahangnya, apa-apaan gadis burung ini merebut gadisnya di tengah jalan.

"benar eonni, Chanyeol bisa mengantar kita, eonni sedang apa di luar rumah sendirian?"

"tidak bisa Baek, Sehun ada di rumah"

"nde?" Baekhyun seketika meninggikan suaranya.

Park Chanyeol? laki-laki itu kini sudah berdiri dengan wajah sedikit memerah dan tangan yang sepenuhnya terkepal erat dalam saku celananya.

"ohh begini Chanyeol-ssi, Sehun adalah tunangan Luhan, dan dia belum mengetahui perihal kedekatanmu dengan Baekhyun, emm k—kau tau? Eemm yaa Sehun masih belum tau jadi kami harus menjelaskan padanya terlebih dahulu" Kyungsoo sendiri bingung bagaimana cara menjelaskan keadaan saat ini.

"tak apa Chanyeol, aku akan pulang dengan Kyungsoo eonni, aku akan segera mengenalkanmu pada oppaku, jangan khawatir" Baekhyun memberikan senyumannya namun itu tak berpengaruh pada Chanyeol. mendengar nama Sehun di sebut oleh gadisnya membuat darahnya berdesir menimbulkan amarah yang amat besar dalam batinnya.

"Chanyeolie?" Baekhyun mencicit lagi, ia tak tau mengapa Chanyeol hanya diam. Apakah Chanyeol akan marah?

Sedangkan Kyungsoo hanya diam dengan perasaan bingung melihat bagaimana wajah Chanyeol yang berubah menjadi tegang saat ini.

"Baiklah, kau harus berhati-hati hum?" Chanyeol mendekati Baekhyun dan segera merengkuh gadis mungil itu dalam dekapannya.

"emm.."

.

.

.

Gadis cantik dengan mata hazel itu menuruni tangga dengan perlahan. Ia dapat mendengar suara gelak tawa Luhan dan Sehun dari bawah sana. Baekhyun memang memilih kamar di lantai dua bersebelahan dengan kamar Kyungsoo. Ingin menikmati suasana malam melalui balkon yang ada di kamarnya katanya.

Baekhyun masih memerlukan bantuan tongkat di rumah besar ini karena dirinya memang belum terbiasa.

"oppa, eonni" Baekhyun memanggil Sehun dan Luhan sesaat setelah ia sampai di ruang televisi.

Dua orang yang namanya di panggil masih diam saling memandang satu sama lain. Apa Baekhyun baru saja memanggilnya eonni lagi? Percayalah.. Baekhyun hanya akan memanggil Luhan dengan sebutan itu jika tengah terjadi sesuatu pada gadis itu atau pun saat sedang terjadi pembicaraan serius antar keduanya.

"ekkhhm Baekhyunie belum tidur?" Sehun yang membuka suara terlebih dahulu dan segera menghampiri Baekhyun untuk membantu gadis itu duduk.

Baekhyun duduk tepat di sebelah Luhan saat ini dengan Sehun yang berpindah pada sofa lain.

"kenapa belum tidur Bee?" Luhan membelai wajah Baekhyun pelan, merapikan beberapa anak rambut yang ada di wajah cantik adiknya.

"eonni, oppa.. Bae-Baekhyun ingin sembuh" Luhan dan Sehun saling berpandangan kembali. Keduanya masih sama-sama mencoba mengumpulkan kemampuan berfikirnya untuk memahami perkataan Baekhyun.

"B..Baekhyunie ingin bisa melihat lagi eonni"

Seketika satu tetes cairan bening lolos dari mata rusa gadis yang kini tengah di panggil eonni oleh Baekhyun itu.

Dia tidak sedang bermimpi bukan? Baekhyun benar-benar mengatakannya bukan?.

"Baekhyunie..hiks" Luhan segera merengkuh Baekhyun ke dalam pelukannya. Sehun tersenyum teduh, entah apa yang tengah menjadi alasan Baekhyun untuk mengambil keputusan ini pada akhirnya. Namun Sehun, Luhan dan juga Kyungsoo yang sudah berdiri di belakang Baekhyun dengan isak tangisnya merasakan kelegaan yang luar biasa setelah mendengar keputusan Baekhyun.

"Baekhyun ingin melihat wajah eonni lagi"

"yaa, kau akan mendapatkannya sayang" Luhan masih mendekap erat tubuh Baekhyun.

"Baekhyunie ingin melihat wajah Chanyeol, Baekhyun ingin melihat Chanyeolie"

Entah apa yang terjadi namun Sehun merasakan petir menyambar dirinya saat ini. Apa Baekhyun baru saja menyebut nama seseorang? Tapi mengapa nama itu?

"Chanyeol?" Luhan, Kyungsoo dan Baekhyun terdiam seketika mendengar nama yang di tanyakan Sehun.

"emm Sehun aku bisa menjelaskannya padamu"

"jawab aku Luhan, Chanyeol mana yang kau maksud?" satu tangan Sehun sudah terkepal erat dan nafasnya seketika memburu.

"aku tidak tau ada berapa orang yang bernama Chanyeol di korea, tapi kau tau Park Corp yang.." kalimat Luhan terintrupsi.

"Park Chanyeol?"

"Sehun, ada apa?"

.

.

TBC

.

.

Aduuh apa iniiii...

Hay yorobuun..

Bingun mau ngomong apa wkwkwk.

Sejujurnya Vi sedang kesulitan dengan FF ini, tapi Vi tetep berusaha buat segera nulisnya karena apa yang sudah Vi mulai tetep harus Vi selesaikan kan? Hehe

Maaf kalau feelnya gak dapet..

Jangan lupa Review dan tetap tinggalkan jejak kalian setelah membaca story abal-abal ini.

Sekali lagi maafkan Vi yang lama ngilangnya..

Bay bayyy..

Ooh yaa sorry for typo.