LOVE ME FOREVER
...
a HAEHYUK Fanfiction
.
.
.
Donghae X Eunhyuk
Super Junior members
and other cast
.
.
.
Boys Love / Yaoi , Romance , Hurt/ Comport, Sinetron/?
Typo(s) bergentayangan, DLDR
.
.
.
DochiDochi present
.
.
Enjoy~~
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah pintu terbuka,mata sipit Hyukjae membulat tidak sempurna melihat orang yang tengah berdiri diambang pintu. Orang yang paling dihindarinya saat ini.
"H-Hae?" Cicit Hyukjae.
BRUUK
Dengan kasar Donghae menghempaskannya tubuh Hyukjae hingga punggung sempit itu menghantam dinding disampingnya.
"Akhh ..."
Belum hilang keterkejutanya,tanpa tedeng alih alih Donghae segera membungkam bibir ranum yang hendak menyuarakan protes itu dengan bibir tipisnya.
"Emphh...lhep..hhas..." Erang Hyukjae saat Donghae menciumnya dengan bringas.
"Dong...Hhaee..." Sekuat tenaga Hyukjae mencoba berontak dari himpitan Donghae,namun apalah daya tenaganya tak sebanding dengan Donghae. Ditambah saat ini Donghae sedang dalam pengaruh alkohol. Bahkan Hyukjae masih mengecap pahitnya whiskey dari mulut Donghae. Hyukjae menolehkan wajahnya kekiri dan kekanan berharap Donghae tak berhasil menggapai bibirnya namun semua sia-sia karna kini Donghae tengah mencengkram dagunya dengan kedua telapak tangan besarnya.
BUAAGH
"APA YANG KAU LAKUKAN, LEE ?!"
Chansung dengan sekuat tenaga menghantam pipi kiri Donghae dengan tinjunya. Mengakibatkan namja yang tengah menghimpit Hyukjae itu jatuh tersungkur kelantai.
Tak puas hanya dengan itu, Chansung kembali menarik kerah jaket yang Donghae kenakan membuat Donghae agak mendongak saat harus bertatapan dengan pemuda yang lebih tinggi darinya itu.
Tangannya kembali terangkat untuk kembali mendaratkan pukulan kewajah Donghae jikalau Hyukjae tak menahannya.
Chansung terlihat hendak memprotes tindakan Hyukjae namun Hyukjae hanya menggelengkan kepalanya dengan memasang wajah anak anjing terbuangnya. Dengan kasar Chansung melepaskan cengkramannya dan menghempaskan tubuh lunglai Donghae sehingga namja yang tengah mabuk itu terhuyung kebalakang.
"Mau apa kau kesini, Hyung?" Tanyanya dengan nada dingin yang kentara. Namun Donghae tak menghiraukannya, mata sayunya kini justru menatap lurus kearah Hyukjae dan secara tiba-tiba memeluk tubuh yang lebih kecil darinya itu erat.
"Donghae, apa yang-
"Kembali" Ujar Donghae lirih memutus ucapan Hyukjae.
"Kembali Hyukkie...hiks"
Hyukjae terhenyak saat merasakan bahunya basah, basah dan terus basah.
"Kembaliah Hyuk ...kumohon kembalilah...kumohon hiks...kumohon..." Racau Donghae sambil terus terisak, perlahan tubuh lemahnya merosot hingga terjatuh kelantai dengan kedua matanya terpejam erat.
"DONGHAE!" Hyukjae berteriak panik sementara Chansung hanya memutar matanya imajiner.
.
.
.
Hyukjae terus termangu didalam kamarnya. Kamarnya didorm Super Junior. Setelah perdebatan panjang antara dirinya dan Chansung perihal siapa yang akan membawa Donghae kembali kedorm karna namja itu yang tiba-tiba pingsan. Yang tentu saja dimenangkan olehnya walaupun Chansung tetap ikut mengantarnya dengan alasan akan sangat merepotkan membopong tubuh besar Donghae sendirian.
Apa maksudnya namja kelewat tinggi itu? Hyukjae 'kan juga namja ,mana mungkin tidak kuat hanya untuk membopong tubuh Donghae. Ck, Hyukjae merengut sebal.
Pria cantik itu memandang lurus kearah jendela kamarnya yang gordennya masih terbuka menampakan langit gelap tak berhiaskan bintang. Sedikit merasa bersalah pada Hyung dan dongsaengnya yang selama dua minggu ini ia tinggalkan tanpa kabar. Memang selama Hyukjae menghilang tak ada yang mengetahui keberadaannya selain Chansung dan manager Hyung. Bahkan manager Super Junior itulah yang telah mengurus surat permohonan cuti Hyukjae pada pihak management,walaupun awalnya pria 32 tahun itu menolak mati-matian permintaan Hyukjae, namun entah angin apa yang membuat Sang manager akhirnya luluh dan bersedia membantunya.
Raut sedihnya kemudian berganti tawa geli saat mengingat ia yang baru tiba didorm bersama Chansung dan Donghae yang ada pundak Chansung tak sadarkan diri. Ryeowook yang tengah memasak langsung berlari menuju ruang tengah dan tanpa sadar melempar spatulanya kesembarang arah yang sialnya tepat mengenai kepala Kyuhyun yang baru membuka pintu kamarnya. Kangin, setelah mengambil alih tubuh Donghae langsung melemparnya keatas sofa tanpa perasaan dikarenakan berebut dengan Siwon yang ingin memeluknya. Ditambah lagi dengan rentetan pertanyaan panjang yang dilontarkan Leeteuk yang membuat Chansung berpikir apakah Leeteuk bernafas ketika ia bertanya ini itu tanpa jeda. Membuat cengirannya semakin lebar. Hanya Heechul yang terlihat tidak peduli dengan kegaduhan disekitarnya. Saat Siwon menanyakan perihal sikapnya itu dengan santainya Heechul berkata bahwa dari awal ia telah mengetahui kebaradaan Hyukjae.
"Kau pikir siapa yang membuat Manager Hyung mau mengurus izin cutimu itu, ikan teri?!"
Dan dengan bangganya Heechul mengatakan ancamannya pada Manager Hyung jika ia akan menyebar foto sang Manager yang tengah berciuman dengan mantan kekasihnya ke akun twitter Heechul.
Pria cantik mempesona itu hanya mengedikan bahu acuh ketika serempak seluruh suara menyerukan protesnya kenapa Heechul tak pernah memberitahu mereka tentang keberadaan Hyukjae.
"Kalian tidak pernah bertanya padaku" Jawabnya acuh kala itu.
Hyukjae benar-benar merasa Hyung cantiknya itu memiliki kepribadian 4 dimensi seperti Yesung. Absurd menurutnya.
Ahh, Hyukjae tiba-tiba merindukan Hyung kura-kuranya itu. Andai saja Yesung berada disini sekarang, Hyukjae yakin tanpa ditanya pun Hyung berkepala besarnya itu akan memberi tahu apa yang seharusnya dia lakukan tanpa harus menghindar dan bersembunyi seperti ini.
Ughh, Wamil membuat segalanya jadi sulit. Kembali Hyukjae merengut.
Namun suara ketukan pintu kamarnya membuat Hyukjae memghentikan acara merengutnya. Sungmin muncul membawa segelas susu strawberry digenggamannya. Tersenyum lembut padanya setelah menyerahkan susunya.
"Bagaimana keadaanmu, Hyuk?" Tanya Sungmin membuka pembicaraan setelah sebelumnya mendudukan dirinya disamping Hyukjae.
"Seperti yang kau lihat Hyung, aku sehat" Hyukjae memberikan cengira khasnya.
"Benarkah? Tapi sepertinya kau terlihat lebih kurus, apa kau makan dengan baik Hyuk?"
"Tentu saja, Chansung menjaga dan merawatku dengan sangat baik selama aku tinggal dengannya, kau tak perlu khawatir Hyung" Hyukjae menggenggam tangan Sungmin yang berada dibahunya menyakinkan Hyungnya yang berwajah seolah tak pernah menua itu bahwa ia baik-baik saja.
"Tentu saja si Banana itu akan menjagamu dengan baik, dia itu tergila- gila padamu, kau tahu?!" Heechul yang nyelonong masuk dan sekarang merebahkan tubuhnya di kasur sempit Hyukjae setelah sebelumnya menggeser sang empunya dengan seenak jidat.
"Heechul Hyung!" Hyukjae melotot kearah Heechul bermaksud agar Hyung cantiknya itu tidak melanjutkan ucapannya. Namun bukan Heechul si Ratu iblis namanya jika gentar hanya karena melihat plototan Hyukjae yang tidak ada seram- seramya.
"Apa?!" Justru si tetua iblis balik menyerang dengan death glare paling mematikan miliknya.
"Apa maksudmu dengan tergila- gila, huh?"
"Memang betulkan si Banana itu menyukaimu, kalau aku jadi kau akan kuterima saja dia dan tinggalkan si ikan idiot itu" ujar Heechul menggebu.
"Tapi Eunhyukkie bukan kau, Hyung" Sungmin yang sejak tadi hanya menyimak ikut menengahi perdebatan antara Hyukjae dan Heechul.
"Tapi apa benar si Banana itu menyukaimu, Hyuk?" tanya Sungmin penuh rasa penasaran.
DOEEENG
"Chanana Hyung... Chanana" Hyukjae mencoba membenarkan.
"Manis sekali" cibir Heechul
"Tsk, kenapa kalian jadi seperti ajjhuma- ajjhuma penggosip, eoh?"
Sungmin menggaruk pipinya sambil nyengir sedangkan Heechul tetap acuh meneliti wajah cantiknya dicermin yang selalu ia bawa disakunya.
"Heechul Hyung, terima kasih kau tetap merahasiakan keberadaanku kemarin"
Heechul meletakan cerminnya, pria cantik itu merapat mendekati Hyukjae, mengusap pucuk kepala dongsaengnya yang terkenal cengeng itu dengan lembut.
"Aku tahu rasanya dikhianati dan ditinggalkan, Eunhyukkie.
Kurasa membiarkanmu menyendiri dapat membuat pikiran dan prasaanmu jauh lebih tenang" tatapan pria cantik itu menyendu.
Sungmin ikut merapat dan merangkul bahu Hyung cantiknya. Ia tahu betul bagaimana terpuruknya seorang Kim Heechul saat ditinggalkan oleh seseorang yang telah ia anggap segalanya.
Hyukjae tak bisa menahan air matanya yang terus berdesakan untuk keluar. Ditubrukan tubuhnya dengan Heechul dan terisak didada pria cantik itu.
"YA! YA! ingusmu mengotori bajuku, bocah cengeng!" Alih- alih menjauhkan Hyukjae darinya, cinderella Super Junior itu justru membelai rambut pirang Hyukjae hingga perlahan isakan Hyukjae mereda.
"Kami semua amat menyayangimu, Eunhyukkie. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu saat kau menghilang kemarin. Member sudah mengetahui masalahmu dengan Donghae, berbagilah dengan kami Hyuk, jangan pendam masalahmu sendiri"
Hyukjae menundukan kepalanya, mengingat masalahnya dengan Donghae membuat matanya kembali memanas.
"Hyung, terima kasih kalian semua masih berada disisiku sampai saat ini"
Hyukjae menabrakan tubuhnya dengan tubuh Sungmin,memeluk Hyung kelincinya itu erat.
"Tentu saja kami semua akan tetap bersamamu, Hyukkie" Hyukjae mengangguk dalam pelukannya.
"Nah kajja,Teukkie Hyung memanggilmu kekamarnya"
Ajaknya setelah melepas pelukannya.
Hyukjae hanya menurut saat Sungmin menuntunnya menuju lantai 12 dimana Leeteuk dan Donghae berada. Walaupun dengan langkah berat karna sebenarnya ia masih enggan bertemu dengan roommate Sang Leader tersebut.
"Ah, Heechul Hyung, bagaimana kau bisa tahu aku berada diapartement Chansung?
"Itu ra-ha-si-a. Aishhh bajukuu!"
.
.
.
Hyukjae terus menatap Donghae yang masih terbaring diatas ranjangnya. Tidur pria itu terlihat tidak tenang, terus menggumam tak jelas bahkan sesekali Donghae terlihat seperti tengah menangis dalam tidurnya, juga buliran keringat sebesar biji jagung yang terdapat didahinya. Hyukjae terenyuh, apakah Donghae benar- benar menyesal atas perbuatannya. Ingin rasanya Hyukjae merengkuh tubuh lemah Donghae saat ini, mengusap bahu kekar yang biasa menjadi tempatnya bersandar dan membisikan lullaby pengantar tidur agar Donghae tenang dalam tidurnya.
Baru selangkah Hyukjae mencoba mendekat, sekelebat bayangan kejadian menyesakan kembali terbayang, terus berputar bagai sebuah roll film dalam memory otaknya. Sakit dan sesak itu datang lagi. Sehingga Hyukjae memutuskan untuk berbalik dan pergi keluar meninggalkan kamar tersebut sebelum pertahanan yang ia bangun selama ini runtuh dan ia menangis meraung disini. Hyukjae bersumpah itu tidak akan terjadi. Namun baru tangannya hendak menyentuh gagang pintu, suara serak Donghae menghentikannya, sehingga tangannya tetap menggantung diudara.
"Hyuk"
Tidak. Hyukjae tidak ingin berbalik, ia tak boleh berbalik. Donghae pasti hanya tengah mengigau.
"Hyukkie"
Kembali suara berat halus itu terdengar, kali ini lebih pelan dan lirih. Hyukjae masih tak ingin berbalik. Pria cantik itu justru melanjutkan niatnya untuk pergi namun suara bedebum keras dibelakannya memaksanya untuk berhenti dan mendapati Donghae yang kini jatuh tersungkur dari atas ranjangnya. Rupanya pemuda oktober itu mencoba untuk bangun dan menghampiri Hyukjae yang tidak merespon panggilannya.
"Omooo" suara histerus Leeteuk yang menjerit tepat disamping telinganya. Hyukjae tak melihat kapan leadernya itu datang, atau mungkin ia yang terlalu terhanyut menatapi Donghae yang tengah mengerang kesakitan meringkuk dilantai.
"Bodoh" sepasang sabit Hyukjae berkaca- kaca.
.
.
.
Hyukjae dongkol. Teramat sangat dongkol. Bagaimana bisa sekarang ia terjebak dikamar ini hanya berdua dengan Donghae. Dengan semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap buatan Ryeowook ditangannya.
Hyukjae berdehem, merasa risih terus dipandangin oleh Donghae atau Donghae memandangi bubur yang berada dipangkuannya. Entahlah Hyukjae tak perduli. Ingin rasanya Hyukjae menghantam kepala pria dihadapannya dengan mangkuk bubur ditangannya. Beberapa saat lalu Leeteuk tergopoh- gopoh datang padanya dan mengatakan Donghae terus saja mengamuk dan melemparkan barang apapun yang berada didepannya dengan brutal. Pria kekanakan itu mengatakan tak mau makan dan minum obat jika bukan Hyukjae yang menyuapinya.
Ck, orang itu tetap saja tidak berubah.
Modus dan kekanakan.
Donghae itu seperti seorang bocah lima tahun yang terjebak dalam tubuh orang dewasa, semua keinginannya harus dituruti,
merepotkan.
Padahal tadi Hyukjae sudah buru- buru pergi dan bersembunyi dikamarnya agar tidak berlama- lama berada dekat dengan Donghae tapi leader mereka yang katanya jelmaan malaikat tanpa sayap tapi bodoh-menurut Hyukjae- yang begitu memanjakan Donghae berhasil membuatnya terjebak bersama seorang-seekor-ikan piranha yang menatapnya bagai umpan.
"Hyuk"
"Kau mau makan atau terus berdiam diri seperti itu?"
"Hyuk"
"Kalau kau tak mau makan aku pergi saja" Hyukjae memindahkan bubur ditangannya keatas meja nakas disamping ranjang Donghae.
"Hyukkie, please"
Baru Hyukjae hendak bangkit dari ranjang yang didudukinya, Donghae mencekal pergelangan lengannya. Niatan untuk menepis pegangan Donghae hilang begitu saja saat melihat tatapan memelas Donghae dengan sepasang mata kuyunya. Hyukjae tak tega dan memutuskan kembali mendudukan dirinya ditepian ranjang namun tetap tak memandang kearah Donghae.
"Maafkan aku" cicit Donghae namun Hyukjae tak bergeming
"Kumohon maafkan aku Hyuk, maafkan kebodohanku yang melukaimu, maafkan keegoisanku yang menyakitimu. Aku tahu kesalahanku sudah terlalu besar padamu tapi bolehkah aku berharap kau masih mau memaafkanku, Hyuk?"
Donghae tak melihat jika kini Hyukjae tengah memejamkan matanya menahan air mata yang berlomba- lomba untuk keluar dari pelupuk matanya.
"Hyukkie-...
"Jangan sekarang, aku tak ingin membahasnya sekarang" Hanya itu yang bisa Hyukjae ucapkan, tekanan kuat didadanya seolah membuat Hyukjae kesulitan mengontrol suaranya agar tetap terdengar normal, beruntung posisinya kini menyamping agak membelakangi Donghae sehingga pria itu tak bisa melihat wajahnya yang memerah menahan tangis.
"Sepertinya Kau sudah baik- baik saja, lebih baik aku pergi"
Cengkraman pada tangannya yang semula mulai mengendur kembali mengerat, Donghae tak membiarkannya pergi.
"Aku mohon, Lee Donghae"
Cengkramannya terlepas. Donghae tak memiliki pilihan selain membiarkan Hyukjae pergi. Donghae mengerti Hyukjae masih marah dan sangat membencinya.
"Makanlah buburmu setelah itu minum obat dan beristirahatlah" Hyukjae menghilang dibalik pintu setelah menyuruh Donghae makan dan meminum obatnya.
"Biasanya kau yang menyuapiku saat aku sakit, Hyuk"
Donghae menutup wajah yang telah basah oleh air mata dengan kedua telapak tangannya, sakit sekali diacuhkan oleh Hyukjae seperti ini. Tapi setidaknya Hyukjae masih memilki sedikit perhatian dengan menyuruhnya minum obat dan beristirahat. Apa Donghae masih bisa berharap?
.
.
.
.
.
"Kau melihat sepatuku, Ryeonggu?"
"YA, kau memakai kaus kakiku, Kyu!"
"Teukkie Hyung, aku lapar sekali!"
"Aissh Racoon, singkirkan badan besarmu itu!"
Suasana gaduh tak pernah lepas dimanapun Super Junior berada. Kali ini mereka membuat gaduh ruang ganti disalah satu stasiun televisi. Leeteuk hanya memijat pangkal hidungnya, ia terlalu lelah untuk berteriak mengontrol semua membernya.
"Kau baik- baik saja?"
Siwon menghampiri Hyukjae, membawa dirinya duduk disamping pria manis itu , menepuk pelan bahu sempit Hyukjae.
Setelah mengganti kostumnya, Hyukjae hanya duduk tenang sambil bertopang dagu memperhatikan kegaduhan disekitarnya. Terkekeh pelan saat Kyuhyun melemparkan kaus kaki hingga mengenai wajah Kangin, membuat pria berbadan bongsor itu naik pitam kemudian memiting Kyuhyun hingga magnae mereka menjerit heboh sedemikian rupa.
"Aku? Kenapa denganku?" Hyukjae menunjuk hidungnya menggunakan telunjuknya.
"Kukira kau melamun tadi"
"Tidak. Aku hanya sedang memperhatikan mereka. Aku senang sekali bisa tampil bersama kalian lagi, aku merindukan suasana seperti ini. Aku merindukan kalian semua" Bersembunyi di apartement Chansung selama dua minggu lebih membuat Hyukjae begitu merindukan suasana ramai yang diciptakan para member Super Junior. Bahkan Hyukjae sempat terharu melihat fans yang begitu antusias menanti kemunculannya kembali setelah menghilang tiba- tiba.
"Aku- ah Kami juga merindukanmu, Eunhyuk... Hyung" Siwon seperti mencicit diakhir kalimatnya.
"Ada apa dengan panggilanmu itu, Masi?"
"Tsk, aneh sekali rasanya memanggilmu seperti itu Eunhyukkie"
Eunhyuk terkekeh melihat Siwon memasang wajah lawakannya.
"Kau juga merindukannya?" Siwon menunjuk Donghae yang tengah berkutat dengan ponselnya menggunakan dagunya.
Eunhyuk menghela nafas panjang melihat Donghae yang sepertinya tak terganggu dengan Heechul dan Kangin yang terus saja berdesakan memperebutkan kursi disampingnya.
'Pasti dengan yeojanya'
Semenjak ia kembali ke dorm tiga hari yang lalu memang Hyukjae selalu menghindari segala bentuk interaksi dengan Donghae. Jika Donghae maju selangkah mendekat maka Hyukkae akan mundur dua langkah menjauh. Bukan, bukan karena Hyukjae membenci Donghae yang telah berhasil memporak porandakan hatinya, hanya saja Hyukjae masih belum bisa menyiapkan hati untuk berbicara dengan partner duetnya itu.
Siwon mengerti jika Eunhyuk tak akan menjawab pertanyaannya, karna sebenarnya itu bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan.
"Kau tahu, dia berubah menjadi seperti orang idiot selama kau menghilang"
"Kurasa dia memang idiot!"
Mereka tertawa bersama, tak menghiraukan pandangan tak suka yang diam- diam dilayangkan oleh seseorang disudut ruangan.
"Kau baik- baik saja?"
"Biasakah pertanyaanmu lebih kreatif lagi, kuda?!" Siwon tersenyum lembut, menampilkan kedua lubang kecil dipipinya.
Visual Super Junior itu melingkarkan sebelah tangannya dibahu Hyukjae. Entah refleks atau karena lelah, Eunhyuk ikut menyandarkan kepalanya dibahu kokoh Siwon.
"Kau The King of skinship, Masi" Racau Hyukjae menyerupai igauan.
"Aku senang bisa membuatnya cemburu kkkkkk.." gumam Siwon terkekeh pelan, telapak tangan besarnya mengusap punggung Hyukjae, membuat sang empunya terbuai.
"Hnn"
Hampir saja Hyukjae berlayar kedunia mimpi jika saja suara melengking Leeteuk tidak memaksa menerobos gendang telinganya.
"Aku mengantuuk" dengan mata setengah terpejam, Hyukjae bangkit dari kursinya. Siwon memegangi sebelah lengannya, siap siaga kalau- kalau Hyukjae limbung karena mengantuk. Masih dengan saling berangkulan Siwon dan Hyukjae meninggalkan ruang ganti menyusul member lain yang lebih dulu keluar.
Donghae menggenggam ponselnya kekuat yang ia bisa, seakan- akan ingin menghancurkan benda persegi panjang itu. Darahnya terasa mendidih. Perlakuan Siwon pada Hyukjae telah memancing kecemburuannya. Harusnya ia yang berada diposisi Siwon saat ini, harusnya ia yang merangkul dan memeluk pemuda manis itu saat ini. Tapi Hyukjae masih saja mengacuhkannya sejak beberapa hari yang lalu.
'Brengsek!
.
.
.
.
.
Sudah hampir tengah malam saat Hyukjae kembali kedorm. Lampu ruang tengah pun sudah padam, sepertinya para member sudah tertidur. Hyukjae baru saja kembali dari menemui Junsu di cafenya. Mengobrol sana sini sampai tak terasa jika hari sudah larut.
Hyukjae berjalan menuju dapur, segelas air mineral dingin sepertinya bisa menghilangkan kering ditenggorokannya. Lampu dapur juga sudah padam, dan Hyukjae tak berniat menyalakannya. Lampu dari lemari es sudah cukup untuk meneranginya. Hyukjae terhenyak saat mendapati seseorang tengah menelungkupkan wajahnya diatas meja dengan lipatan tangan sebagai alasnya. Sepertinya tertidur. Walau orang itu membelakanginya, Hyukjae sangat hafal siapa pemilik bahu lebar itu. Siapa lagi kalau bukan Donghae yang selalu minum susu sebelum tidur. Buktinya segelas susu putih yang sepertinya sudah dingin ikut menemani tidur Donghae.
Hyukjae mendekat, menatap wajah Donghae lekat- lekat. Jemari lentiknya merapikan poni yang munjuntai menutupi mata Donghae yang terpejam. Terus menyusuri setiap inci wajah Donghae. Dahi, alis, hidung, bibir. Semuanya Hyukjae rindu. Hyukjae amat merindukan pria kekanakan itu. Hyukjae ingin sekali memeluknya, menyandarkan kepala dibahu kokoh Donghae seperti dulu saat Donghae masih kekaaihnya, masih miliknya. Ya, dulu. Sekarang Donghae bukan miliknya lagi atau mungkin memang tidak pernah menjadi miliknya.
"Hyukkie"
Hyukjae jelas mendengar suara parau itu tapi seolah jiwanya berada dilain dunia, Hyukjae masih terus menatap dalam- dalam wajah Donghae dihadapannya. Menatap lurus pada sepasang mata coklat Donghae yang kini terbuka. Masih dengan posisi kepala merebah diatas meja, Donghae menjangkau wajah Hyukjae dengan sebelah telapak tangannya. Hyukjae memejamkan matanya menikmati belaian lembut Donghae dipipinya dan meletakan tangannya diatas tangan Donghae. Namun seolah tertarik dari dunia imajinasinya, Hyukjae terbelalak menatap terkejut pada Donghae. Entah sengaja atau tidak, Eunhyuk menyentak tangan Donghae cukup kasar dan terburu- buru hendak beranjak namun sial karena sebelah kakinya tersangkut di kaki meja sehingga membuatnya hampir tersungkur kalau saja Donghae tidak dengan sigap menangkap tubuhnya.
Donghae mendekap tubuhnya tidak terlalu erat tapi kenapa rasanya sesak sekali membuatnya sulit bernafas. Hyukjae berusaha melepaskan lingkarang lengan Donghae diperut dan sekitaran bahunya tapi bukannya terlepas justru Donghae semakin mengeratkan rengkuhannya.
"Sebentar saja. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu seperti orang gila, Hyuk! Kumohon tetaplah dipelukanku sebentar saja, jangan lagi menghindariku... aku mohon"
Hyukjae tidak menjawab juga tidak menolak. Pria cantik itu hanya sibuk mengatur emosinya agar tak kelapasan kemudian berbalik dan balas memeluk lelaki dibelakannya ini dengan lebih erat.
Butuh beberapa menit hingga Donghae bersedia melepaskan kungkungannya. Kemudian perlahan membalik tubuh Hyukjae agar menghadapnya. Donghae tak mampu menyuarakan perasaannya, ia hanya terlalu merindukan Hyukjae, merindukan Hyukkienya. Malaikatnya yang telah ia sakiti dengan begitu kejamnya. Donghae kembali membawa tubuh kurus Hyukjae kedalam pelukannya, mendekapnya seerat dan selama yang ia bisa. Menghirup dalam- dalam aroma manis yang hanya dimiliki oleh Hyukjae yang begitu ia rindukan.
"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu"
Ingin rasanya Hyukjae membalas untaian kata rindu yang terus terlontar dari mulut Donghae tetapi seolah ada sebongkah batu besar mengganjal hingga ia tidak bisa menyuarakan perasaannya.
"Donghae"
"Maafkan aku. Beri aku kesempatan menjelaskan semuanya. Aku berjanji akan memperbaiki segalanya"
Hyukjae menggeleng pelan, melepaskan telapak tangan Donghae yang menangkup wajahnya.
"Biarkan seperti ini, tak perlu menjelaskan apapun, akan lebih baik jika kita seperti ini saja"
"Hyukkie"
"Kau istirahatlah, ini sudah sangat larut" Hyukjae mundur selangkah menjauh dari Donghae.
"Selamat malam, Donghae" Hyukjae tersenyum meski tipis. Dan berjalan menjauh meninggalkan Donghae yang masih memandang punggungnya yang terus menjauh.
Hyukjae merebahkan tubuh lelahnya diranjang sempitnya. Setetes bulir bening luruh diikuti tetesan yang lainnya. Hyukjae telah berjanji pada Chansung untuk tidak pernah menangis lagi karena Donghae. Tapi Hyukjae harus bagaimana? Rasanya sakit dan sesak. Hyukjae hanya tak ingin terluka untuk kesekian kalinya. Mungkin suatu saat nanti Hyukjae akan memberikan kesempatan untuk Donghae berbicara dengannya mengenai masalah yang tengah mengungkung keduanya.
'Buktikanlah dengan perbuatan, Lee Donghae'
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Ada yang bisa kasih saran ff ini harus berakhir kayak gimana?
.
.
.
~DochiDochi~
