Serpihan Kenangan


Hari sudah beranjak gelap saat aku tiba kembali di penginapan, yang juga telah ramai oleh para petualang yang sudah kembali dari perjalanan. Karena di bagian lobi hotel terdapat restoran, yang penuh dengan pelanggan, suasananya jadi cukup meriah. Entah kenapa aku merasa sedikit senang, mungkin karena besok ulang tahunku. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Lebih baik kutanyakan pada Furumi, kapan dia hendak berangkat ke Feita. Tapi di lantai tempat kami menginap, tidak ada orang. King, tidak di tempat. Entah sudah pulang atau belum, aku belum berjumpa dengannya hari ini. Shiro, aku tidak peduli, tidak usah kembali juga tidak apa-apa.

Sesaat sebelum aku masuk ke kamarku, Tamame muncul dari kamarnya dan menarik jubahku hingga aku nyaris terjatuh kebelakang. Beginilah dia, usilnya luar biasa, dan aku sukses kaget. "Tama! Apa-apaan sih?! Jangan bikin kaget gitu dong!", protesku sambil membenarkan jubah yang hampir terlepas. Dia hanya tersenyum tanpa dosa dan lalu mengecup keningku, "Selamat ulang tahun, Yovan! Walau kecepetan ya.. Ehe.. Ini ada kado!", ucapnya sambil menyerahkan Cat's Ear padaku. Aku terdiam menatap aksesoris imut darinya, harus kuapakan benda ini..? Kupakai? Ugh, oke, aku tidak yakin. Ini memang imut untuknya tapi tidak untukku. Uh, dia benar-benar jawara dalam urusan membuatku pusing tujuh keliling.

"Mau kupakaikan?", tanyanya lagi dengan penuh semangat, karena aku tidak merespon, lebih tepatnya tidak tahu harus merespon apa. Aku menatapnya dengan mata terbelalak dan senyum sedikit terpaksa, "H-Harus kupakai ya?", tanyaku dengan pelan. Dia mengangguk cepat, penuh semangat dan harapan, sepertinya sangat ingin melihatku memakai benda ini. Uh, aku tidak mengerti jalan pikirannya sama sekali. Baiklah, karena dia sudah memberikannya sebagai kado ditambah ciuman di kening, kulepaskan Headdress of Darkness dan lalu kusimpan di saku celana belakang; serta mengenakan sepasang kuping hitam itu dengan pasrah. Aku tidak mau berkaca saat ini, hanya untuk menghargai kado pemberian Tamame saja. Diriku, bertahanlah..

"Waaaaaaahhh, maniiiis! Yovan manis bangeeeet!", serunya, sepertinya sangat gemas dengan penampilanku ditambah kuping kucing. Aku hanya bisa tersenyum, dalam hati berdoa semoga ini cepat berlalu tanpa dilihat siapapun. Tapi lalu Tamame menyeruduk dan memelukku dengan erat. "Aku peluk yaaaa, Yovan maniiiiiis, imut bangeeeet!", ujarnya sambil memelukku gemas. Ergh, aku senang sih tapi sesak sekali..! "Ta-Tama, sesak! Lepasin!", protesku dengan bersusah payah, tapi akhirnya dia melepaskan pelukannya. Aku perlu beberapa detik untuk menarik nafas. Ugh, aku benar-benar tidak bisa mengerti isi pikiran cewek! "Ehe, maaf, ah, Tama mau mandi dulu ya! Mungkin sebentar lagi yang lain pulang, sudah larut ini.", ujarnya.

"Memangnya yang lain kemana?", tanyaku penasaran, sebelum Elf itu menghilang ke dalam kamarnya. "Arena Match, kak Furu, Gagak dan Shiro. Mereka sudah berangkat dari sore, Tama aja males ikut, ehehe.. Yovan, mau mandi bareng?", kicaunya lagi, yang lalu kujawab dengan gelengan super cepat. Dia memeletkan lidahnya lalu masuk kembali ke kamar. Baiklah, aku bisa merasakan kepalaku sakit lagi; dan lalu akupun masuk ke kamarku. Perjalanan hari ini tidak ada hasilnya.. Setelah meletakkan pedang dan tas, serta melepaskan pelindung kaki, aku menenggelamkan tubuhku pada kasur. Mataku menatap ke langit-langit, dan pikiranku mendadak kosong. Sebenarnya apa yang sudah kulakukan selama ini ya..


Aku bisa mendengar suara Furumi dan yang lain sudah kembali. Pintu kamar sudah kukunci. Pura-pura tidur saja ah. Kutarik bantal dan mencoba untuk memejamkan mata. Oke, kuping kucing ini mengganggu. Kulepaskan dan kubiarkan saja tergeletak di lantai. Besok baru kukemas kedalam tas. Aku lalu teringat pada kata-kata Tamame, yang entah kenapa mirip dengan kata-kata Yoan dua tahun lalu. Yoan juga memberikan hadiah di waktu malam, dan juga berkata ingin memakaikan hadiahnya, walau tidak memberi ciuman dan pelukan dan aku memang mengharapkannya.. Ah sudahlah, tidak baik kuingat terus jadi kupejamkan saja mataku. Kuharap aku bisa tidur secepatnya agar tidak jadi galau.

Beberapa detik kemudian, aku baru sadar, dimana Headdress of Darkness pemberian Yoan? Saku belakang celana, seperti tidak ada benda apapun. Aku sontak berdiri dan memastikan sendiri dengan tanganku. Benar, benda itu telah hilang entah dimana. Sebentar, mungkin jatuh karena aku dipeluk Tama tadi, dia memeluk setengah mengguncang – dan aku juga tidak menyelipkannya dengan baik. Tanpa menunggu lama aku segera berlari keluar kamar. Uh, mereka masih diluar semua, dan sedang apa Shiro jongkok ditengah jalan? Menyadari aku keluar dari kamar, mereka kompak menoleh padaku. "Umm, halo semuanya.. Sepertinya aku menjatuhkan Headdress-ku disekitar sini, ada yang lihat?", tanyaku sambil melihat-lihat ke lantai.

Shiro berdiri dan melangkah, menyingkir dari sesuatu, Headdressku.. Headdressku rusak dan hancur berantakan. Aku tidak percaya dengan mataku sendiri, dan aku segera mengumpulkan pecahan-pecahannya. Ya, rusak. Entah masih bisa dipakai atau tidak walau sudah diperbaiki.. Dan aku hanya bisa menatap kosong pada hiasan kesayanganku yang rusak itu. Rusak? Ini benda satu-satunya peninggalan dia, dan rusak…?
"Maaf, aku tidak sengaja menginjaknya.", ucap Shiro pelan. Furumi dan King juga tampak bersalah. Aku hanya bisa terbelalak, lalu aku memilih bangun dari tempatku bersimpuh setelah memastikan tidak ada pecahan yang tertinggal; dan masuk kembali ke kamarku. Kuletakkan Headdress itu diatas meja dan kuamati lagi.

Rusak, pecah. Walau pecahan besar masih utuh dan sepertinya bisa diperbaiki.. Bulu-bulu hitamnya juga sedikit rusak. Kuambil dan kurapikan dengan perlahan. Yah, tampak baik. Besok akan kubawa ke tukang aksesoris di Bethma. Semoga bisa diperbaiki. Tidak bisa dipakai lagi juga tidak apa, yang penting bisa diperbaiki. Ini satu-satunya yang tersisa, kenapa harus rusak lagi..?


"Kupakaikan ya..",
Senyum kecil mendadak tersungging di kedua ujung kiri dan kanan bibirku, sayangnya mataku tidak mau bekerja sama. Dia menghangat dan tidak mau lagi menahan air mata. Dingin, rasanya sulit bernafas.. Aku ingin mendengar suara itu sekali lagi, hanya dari dia, bukan dari orang lain..

Kuhela nafas yang panjang, walau tidak membuat lega, setidaknya membantu. Kubungkus dan kurapikan pecahan Headdress pemberian Yoan, dan kumasukkan kedalam tasku. Pagi-pagi besok aku akan ke Bethma. Feita, siapa yang peduli, memperbaiki kado terakhir Yoan jauh lebih penting. Kalau bisa berangkat sekarang juga rasanya aku ingin berangkat. Tapi mana ada pesawat yang beroperasi dan melayani penerbangan malam hari? Yah, aku hanya bisa bersabar. Setelah memastikan bungkusan itu ada dalam tasku dan tidak tercecer lagi, aku kembali duduk ditepian kasur; menghapus sisa air mata yang keluar. Sakit di kepalaku malah semakin menjadi-jadi.. Sial.. Kuharap aku bisa dengan cepat tertidur malam ini.

Suara pintu kamarku yang dibuka seseorang tidak membuatku bergeming. Aku tidak tertarik untuk tahu siapa itu, yang pasti aku hanya ingin sendiri. Kuacuhkan saja, dan aku kembali melamun sendiri.
"Aku minta maaf telah menginjaknya.", orang itu membuka suara. Shiro, mau apa lagi dia? Maaf? Ya, sudah kumaafkan, semoga. Kuhela nafas panjang,"Tinggalkan aku sendiri.", jawabku pendek, tanpa menoleh. Dan suasana kembali hening. Keluarlah, sebelum kuusir, kumohon.
"Besok kita cari yang baru untukmu.", ucapnya secara mendadak.
Baru? Cari yang baru untukku? Apa dia tidak paham arti barang yang sudah dia hancurkan itu, lalu sekarang bisa seenaknya berkata mencarikan yang baru untukku besok?

"Keluar.", jawabku sambil berusaha supaya emosiku tidak meledak. Wajar, dia salah satu dari mereka, tidak paham arti dari sebuah benda berharga dan menganggap benda yang sama persis bisa menggantikannya.
"Berhentilah bertingkah seperti anak kecil, aku sudah minta maaf dan akan menggantinya, tapi kau tetap marah. Maumu apa?", tanyanya lagi, dengan nada yang lebih nyelekit. Tanpa pikir panjang, kuraih Testament yang sengaja kuletakkan tidak jauh dari ranjangku, dan kulemparkan kearah wajahnya; walau dia bisa menghindar dan pedangku tertancap dengan sukses pada tembok, lalu jatuh ke lantai. "Itu mauku, jelas? Selanjutnya tidak akan meleset! KELUAR DARI SINI, NASOD SIALAN!", bentakku dengan kesal.

Tidak ada sedikit pun ekspresi pada wajahnya, dan dia berlalu dengan enteng. Brengsek, aku sudah tidak tahan lagi.. Aku tidak mau melihatnya lagi.. Aku ingin malam cepat berganti, aku ingin pergi..