Title : Nappeun Hoobae

Main Cast : Byun Baekhyun. Park Chanyeol.

Other Cast : EXO's Members and other

Main Pair : ChanBaek

Genre : School Life, Romance, Drama, Friendship, Yaoi

Rating : T

Length & Type : Chapter

.

.

.

WARNING! BOY X BOY! YAOI! TYPO!

.

.

.

DON'T BASH

DON'T PLAGIAT

.

.

.

SUMMARY

Basket adalah impian Baekhyun sejak kecil. Lewat basket, ia menemukan teman dan sahabat. Lewat basket ia menemukan kasih sayang. Dan lewat basket pula ia menemukan seseorang yang berarti baginya.

Baekhyun itu kapten basket yang angkuh dan serampangan, berbanding terbalik dengan Park Chanyeol sang ketua OSIS yang sangat dikagumi. Lalu apa alasan Baekhyun menolak pesona Park Chanyeol? Apa karena mereka berdua sesama jenis?

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

Nanti tolong baca catatan author di bawah ya!

Ini sudah sepekan sejak masa orientasi berakhir dan Chanyeol tak pernah lagi melihat Baekhyun sejak hari pertama anak itu mulai belajar di Hiri. Entah kemana anak itu pergi yang pasti Chanyeol cukup penasaran juga.

Ini masih soal kunci mobil Baekhyun yang ia sita, ia pikir anak itu akan membawa kunci mobilnya dengan segala cara tapi ternyata dugaannya salah.

Ia tahu Baekhyun anak seorang chaebol, hanya saja mengherankan sekali jika Baekhyun sama sekali tidak peduli.

Kepala sekolah juga sudah menyuruh agar mobil itu di pindahkan karena sudah terlalu lama terpakir disana dan selalu menjadi pusat perhatian tiap harinya.

"Kau sudah mengerjakan tugas bahasa Inggris?"

Chanyeol terkejut kala seseorang menepuk bahunya tiba-tiba dan ternyata orang itu adalah Xiang Ming, teman sekelasnya.

Dengan malas Chanyeol mengangguk dan menunjuk buku tugas nya yang berada di atas meja dengan dagunya. Ia sudah tahu pasti bahwa gadis China itu pasti akan menyontek tugasnya. Tidak aneh lagi, Chanyeol bisa di sebut sebagai kunci jawaban berjalan di kelas ini.

Jangan salah, kelas unggulan bukan berarti tidak suka menyontek tugas teman. Anak-anak unggulan sama saja dengan anak kelas reguler. Mereka sama-sama manusia.

"Yeol, ada yang mencarimu di luar" Suho datang ke arahnya kemudian menunjuk pintu kelas dengan ibu jarinya.

"Nugu?"

Suho tersenyum aneh, seperti sedang menahan tawa.

"Kau akan terkejut melihatnya" jawab Suho sambil terkekeh-kekeh ria, lalu ia kembali ke meja nya sendiri dan membiarkan Chanyeol menjawab pertanyaannya sendiri.

Dengan rasa penasarannya yang sangat tinggi akibat ucapan Suho barusan, Chanyeol buru-buru keluar kelas dan benar saja, Chanyeol terkejut. Sangat terkejut malah sampai jantungnya hampir lepas.

Byun Baekhyun berdiri di depan kelasnya dengan kedua tangan yang berada di belakang badannya seperti tengah menyembunyikan sesuatu.

"Loh? Anak kecil? Sedang apa kau disini?"

Baekhyun memutar bola matanya dengan malas ketika mendengar panggilan Chanyeol untuknya. Ia ingat dulu Chanyeol pertama kali menyebutnya begitu adalah ketika Chanyeol menemaninya saat cedera kaki kanan di rumah sakit tahun lalu.

"Sudah kubilang aku bukan anak kecil! Dan kau tahu betul bahwa aku menemuimu, babo!" Gerutu Baekhyun dengan kesabarannya yang begitu dangkal itu.

"Maksudku bukan itu. Ya! Aku jengkel sekali" Chanyeol menahan teriakannya pada Baekhyun. Ini masih pagi dan dia sudah dibuat jengkel oleh sikap Baekhyun yang... ugh! Demi apapun susah di prediksi. Seperti punya kepribadian ganda saja.

"Ini untukmu" dengan ogah-ogahan, Baekhyun memberikan sebuah kotak makanan untuk Chanyeol dengan sikap kasarnya.

Chanyeol lantas mengerutkan keningnya, ia sudah membuka mulutnya untuk bertanya namun Baekhyun lebih dulu menyela.

"Anggap saja tebusan untuk kunci mobilku"

Chanyeol tertegun, "kukira kau tidak peduli"

Ingin rasanya Baekhyun meneriaki Chanyeol saat ini dan bilang bahwa ia TERPAKSA. Sesuatu yang mendorong Baekhyun melakukan hal menggelikan seperti ini adalah karena mobil itu ia dapatkan dengan susah payah. Mobil itu hasil jeri payahnya balapan dengan Song Mino. Dan ia tak akan membiarkan si cantiknya itu menjadi sitaan Chanyeol selamanya.

Selama beberapa hari ini ia tidak menunjukkan batang hidungnya didepan Chanyeol karena ia sedang merenung untuk mengambil tindakan yang tepat agar kunci mobilnya bisa kembali lagi. Sempat ia berpikir untuk mencuri diam-diam kunci mobilnya dari Chanyeol namun Kyungsoo melarangnya, tentu saja. Kyungsoo kan anak baik.

Dan hal ini adalah ide Kyungsoo, memberikan bekal makan siang untuk Park Chanyeol.

Sebenarnya Baekhyun ingin muntah karena ia sudah melakukan hal yang menggelikan seperti ini.

Sekarang dia jadi terlihat seperti gadis yang tengah memberikan bekal makan siangnya pada kekasihnya. Huweeee! TIDAK MUNGKIN! Baekhyun melakukan ini karena terpaksa, CATAT ITU!

Pada akhirnya Chanyeol menerima kotak makan siang dari Baekhyun dan langsung membukanya dihadapan bocah biang onar itu.

"Ini pasti bukan masakanmu" Chanyeol memicingkan matanya pada Baekhyun dengan curiga dan Baekhyun malah menguap sebagai responnya membuat Chanyeol menekankan jari telunjuknya di kening Baekhyun, "jaga sikapmu, bocah!"

"Hiiihh! Kau ini banyak maunya!" Amuk Baekhyun yang sudah berang dengan keinginan Chanyeol.

Chanyeol ingin ini, ingin itu. Melarangnya begini, melarangnya begitu. Memangnya dia siapa? Sok berkuasa sekali sih. Ini kan hanya masalah kunci mobil!

"Itu masakan koki di rumahku! Tentu saja! Aku kan tidak bisa memasak, babo!" Ketus Baekhyun sambil mendengus keras-keras.

"Aku ingin masakanmu"

Baekhyun refleks melotot, "YA! Kuberikan bekal makan siang saja seharusnya kau sudah bersukur! Ini kau malah meminta lebih! Haish!"

"Bukankah aku berhak meminta? Kau kan sedang di posisi yang tidak menguntungkan" ujar Chanyeol sambil menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Baekhyun.

"Aku benar-benar jengkel! Sumpah!" Baekhyun merengut kesal lalu berbalik sambil menghentakan kakinya.

Ia berjalan untuk pergi dari hadapan Chanyeol namun Chanyeol memegang tangan Baekhyun dengan cepat sehingga langkah Baekhyun terhenti dan anak itu langsung saja menghempaskan tangan Chanyeol sambil berbalik dan melotot pada Chanyeol.

"Besok pokoknya kau harus membawakan bekal makan siang buatanmu sendiri. Untuk hari ini aku menerima ini. Terimakasih"

Chanyeol mengedipkan sebelah matanya seksi pada Baekhyun membuat Baekhyun melongok. Lalu tanpa berkata-kata lagi, Chanyeol kembali masuk kedalam kelasnya meninggalkan Baekhyun yang masih mematung seperti orang bodoh didepan kelas Chanyeol.

"Dasar gila!" Gerutu Baekhyun setelah ia tersadar dari keterkejutannya lalu segera pergi sebelum Chanyeol datang lagi.

.

.

.

"Kau sakit?"

"Tidak"

"Kau kehilangan ingatanmu?"

"Tidak"

"Apa kau... sudah tidak... waras?"

"YAKKK!"

"Lalu kau kenapa? Tiba-tiba minta untuk diajari memasak. Aneh sekali" cibir Kyungsoo.

"Kalau tidak mau ya tidak apa-apa! Kenapa mesti berpikir yang tidak-tidak sih!" Gerutu Baekhyun yang langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar. Ngambek ceritanya.

"Ehh.. jangan marah. Kau sensi sekali sih. Aku hanya heran" ujar Kyungsoo sambil menarik tangan Baekhyun agar kembali, "oke, aku akan ajarkan kau cara masak. Kapan kau mau memulainya, tuan muda?"

"Tch.. hari ini juga!" Jawab Baekhyun tegas dan tak mau di bantah membuat Kyungsoo melebarkan mata nya yang sudah bulat itu.

"Tapi.. tapiㅡ"

"Temani aku makan siang"

Belum sempat Kyungsoo menyelesaikan ucapannya, Baekhyun sudah lebih dulu ditarik pergi oleh Chanyeol dengan secepat kilat membuat Kyungsoo melongok seperti orang yang baru saja kecolongan.

"Mereka itu pacaran ya?"

Belum selesai ia mencerna kejadian barusan, seseorang justru sudah berdiri di sebelahnya sambil bersedekap dada dan pandangan yang menyelidik pada Chanyeol dan Baekhyun yang sudah berjalan jauh.

"Mollaseo" gumam Kyungsoo setelah melirik sejenak lelaki di sebelahnya.

Kyungsoo tidak tahu namanya, tapi yang pasti dia adalah salah satu dari seniornya yang dulu menjadi penitia orientasi. Yang berkulit paling putih dan tampan.

Lain Kyungsoo, lain juga Baekhyun yang kini diseret Chanyeol dengan paksa menuju suatu tempat yang Baekhyun sendiri juga tak tahu mereka akan kemana.

Chanyeol ternyata menariknya hingga mereka berada di taman sekolah yang cukup lengang dan asri tentunya dengan banyak pohon-pohon menjulang tinggi sebagai pemasok O2 disana.

"Kita duduk disini" ujar Chanyeol sambil menarik tangan Baekhyun agar duduk di antara akar pohon besar yang ada disana.

"Kenapa kau menarik ku kesini?" Desis Baekhyun penuh dengan ketidak sukaan namun Chanyeol sama sekali tak terlihat terganggu atau merasa terancam. Pria imut itu justru malah membuka kotak bekal makan siang yang tadi pagi Baekhyun berikan untuknya.

"Sudah kubilang untuk menemaniku makan, Baekhyun" jawabnya tenang dan santai lalu menyuapkan makanan yang ada didalam kotak bekalnya tanpa beban.

Baekhyun menggeram rendah, sikap Chanyeol betul-betul membuatnya ingin mencekik pria itu saat ini juga.

Beberapa orang yang ada ditaman sudah mulai mengalihkan perhatiannya pada mereka. Bahkan mereka dengan terang-terangan mengambil gambar Chanyeol dan Baekhyun yang saat ini terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang berbagi kotak bekal makan siang.

"Kau membuat harga diriku hancur untuk kedua kalinya, Park" desis Baekhyun dengan rahang tertahan.

"Buang dulu harga dirimu yang setinggi langit itu saat sedang menebus kunci mobilmu" jawab Chanyeol sambil melirik Baekhyun dengan santainya seolah tidak ada yang terjadi diantara keduanya.

"YAK! Kau pikirㅡ ngkkkk"

Chanyeol menyumpal mulut Baekhyun dengan sepotong kimbap hingga anak itu tak bisa berkata-kata lagi.

"Jangan berisik" tuturnya dengan tatapan mata datar kemudian kembali melanjutkan acara makannya lagi.

"YA! KENAPA KAU JADI MENGATURKU?" teriak Baekhyun dengan telinga yang merah dan sudah mengeluarkan asap.

Chanyeol tak menjawab tapi justru malah menatap Baekhyun dengan mulut yang masih mengunyah makanannya.

"Aish! Aku benar-benar kesal sekarang!" Dumel Baekhyun sambil beranjak dari sana namun Chanyeol jauh lebih cepat darinya dan kembali menarik tangan Baekhyun agar duduk lagi.

Memang berhasil sih, tapi bokong Baekhyun sukses mencium akar pohon dengan keras hingga rasanya rulang bokongnya terasa patah.

"Ini sakit, Park bodoh!" Gumam Baekhyun dengan ekspresi mengerikan yang terpancar jelas di wajah manisnya.

"Jaga mulutmu YAAA!" Teriak Chanyeol dengan kesal, "aish! Kau menjengkelkan sekali"

"Kau membuat bokongku sakit"

"Salahmu sendiri pergi begitu saja tanpa persetujuanku"

"Memangnya kau siapa huh sampai aku harus memintan ijin dulu padamu? Jangan sok penting bagiku, tolong deh!"

"Aku orang yang harus kau turuti saat ini, Byun!"

"Bukan begini caranya bodoh! Aku lebih baik kau jadikan babumu daripada begini! Ini menggelikan dasar tidak waras"

"Kau bilang apa, hah? Kau mengajak adu kepalan tangan?"

"Kaja! Aku tidak pernah takut padamu YAAAA Park Chanyeol!"

"Panggil aku HYUNG!"

"SHIRHEOYO!"

"kau rupanya benar-benar ingin berkelahi ya!"

"Ayo! Cepat! Aku tidak takut!"

Mereka terus beradu mulut sambil saling memelototi lawan masing-masing hingga Baekhyun dengan konyolnya menarik rambut Chanyeol dengan keras membuat Chanyeol berteriak kesakitan dan membalas perbuatan Baekhyun dengan menarik kedua telinga Baekhyun sampai memerah.

"YAAA! LEPASKAN AKU!"

"KAU YANG LEPASKAN! SINGKIRKAN TANGANMU DARI RAMBUTKU BYUN BAEKHYUN!"

"SHIRHEO! AKU TIDAK AKAN!"

"KALAU BEGITU AKU AKAN MENARIK TELINGAMU HINGGA PUTUS!"

Kegiatan kekanakan mereka terus berlanjut tanpa menghiraukan orang-orang yang mulai berkerumun dan menyaksikan pergulatan aneh kedua pria populer itu sampai kemudian seorang wanita datang dan berteriak nyaring.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?"

"DIAM KAU!" teriak mereka bersamaan saat seseorang datang menginterupsi kegiatan 'saling menarik' mereka.

Dengan mata nyalangnya, Chanyeol melirik pada orang itu dan pikirannya tiba-tiba kosong saat mengetahui siapa orang yang baru saja mereka bentak.

ITU GURU KONSELING YANG TERKENAL MENYERAMKAN!

'habislah aku kali ini' batin Chanyeol.

.

.

.

"Dia yang mulai"

Chanyeol dan Baekhyun saling menunjuk batang hidung mereka masing-masing membuat guru konseling itu menggeram pada mereka.

"Jangan saling menuduh!" Gertaknya sambil menggebrak meja membuat jantung mereka rasanya copot, "kenapa kau juga jadi tidak dewasa begini, Chanyeol? Kau itu orang nomor 1 di sekolah ini"

Baekhyun mendecih pelan mendengar ucapan guru konseling itu. Chanyeol.. orang nomor satu? Tidak salah?

"Joesonghamnida, seonsaengnim" sesal Chanyeol sambil menunduk dalam.

"Aku sungguh kecewa padamu, Chanyeol" ujar guru konseling itu dengan amarah yang ia pendam kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Baekhyun yang terlihat begitu santai duduk disana, "dan buat kau anak baru. Kau itu baru kelas X dan sudah membuat masalah? Bahkan ini belum genap 1 bulan kau sekolah disini."

"Apanya sih yang kau sebut dengan 'membuat masalah' itu? Aku hanya bertengkar kecil dengannya. Jangan membesar-besarkan masalah deh, ssaem" jawab Baekhyun dengan ketus membuat guru konseling itu serta Chanyeol menatapnya tak percaya.

Wajah Chanyeol sudah meringis membayangkan apa yang akan terjadi pada Baekhyun setelah ini.

BRAK!

Dan kembali Chanyeol dibuat kaget atas gebrakan meja yang sangat keras oleh guru konselingnya itu.

"KALIAN LARI DI LAPANGAN SEPAK BOLA 10 KELILING!"

Chanyeol melotot horror mendengarnya. Lapangan sepak bola itu luasnya bukan main. Lari satu keliling saja sudah membuat keringat bercucuran. Apalagi ini, 10 keliling. Apa guru konselingnya itu sudah gila?

"Oke. Terimakasih, ssaem. Sudah lama juga aku tidak olahraga" balas Baekhyun santai sambil berdiri dan merenggangkan tangannya seolah sedang melemaskan otot-ototnya yang kaku.

Beberapa saat kemudian mereka sudah mulai berlari mengelilingi lapangan sepak bola. Baekhyun yang kelihatan acuh dan menikmati hukumannya yang ia anggap sebagai olahraga, sedangkan Chanyeol dengan wajah kusut serta nafas yang sudah tidak beraturan.

"Oi! Park! Kau laki-laki atau bukan sih?" Baekhyun yang berlari di depan Chanyeol lantas membalikkan badan dan mengubah gaya larinya menjadi lari mundur untuk bisa berhadapan dengan Chanyeol.

"YAK! AISH! ini semua gara-gara kau, Byun Baekhyun! Kita sedang dihukum dan kau seharusnya merasa malu" omel Chanyeol dengan tampang jengkel.

"Untuk apa? Wajar seorang laki-laki kena hukuman. Bukan anak laki-laki namanya jika tidak pernah dapat hukuman" cengir Baekhyun membuat kadar kejengkelan Chanyeol semakin menjadi-jadi. Heol, seumur hidup baru kali ini ia dapat hukuman dan ini sangat memalukan.

Ditambah lagi kini mereka berdua sudah jadi pusat perhatian oleh para anak perempuan maupun laki-laki yang menonton kegiatan lari mereka di pinggir lapangan sambil menjerit histeris seakan mereka tengah melihat artis idola mereka alias si 'oppa' mereka itu tengah mengikuti lomba marathon.

"Kau malu karena mereka? Cihh.. ternyata kau tak sekeren itu" cemooh Baekhyun yang kemudian kembali berlari dengan normal meninggalkan Chanyeol yang berlari di belakangnya.

.

.

.

1 jam kemudian mereka sudah selesai menjalani hukuman mereka dan para penggemar mereka juga masih setia menunggui mereka di pinggir lapangan.

Bahkan saat mereka duduk di tribun penonton, para penggemar itu langsung berlarian ke arah mereka dan saling berebut untuk memberikan air minum, baik itu pada si tampan Chanyeol atau si keren Byun Baekhyun.

Baekhyun itu jadi idaman para wanita juga karena sikapnya yang menurut mereka sangat cool. Menurut mereka berandal berwajah tampan (sekaligus cantik) seperti Baekhyun itu keren. Anggap saja dia sekarang menjadi salah satu dari 4 pangeran sekolah di drama BBF yang nyasar ke sekolah ini.

Mereka itu kepanasan, mereka gerah karena barusan habis berlari sepuluh putaran di lapangan yang sialnya sangat luas dan sekarang mereka tambah panas dan pengap karena di kerumuni seperti ini.

Chanyeol maupun Baekhyun hanya terdiam saat para wanita saling berebut untuk berada di barisan paling depan. Tidak adil kan jika hanya menerima satu dari mereka? Jadi lebih baik mereka berdua diam saja. Bukan mereka berdua sih, hanya Chanyeol saja karena pada kenyataannya Baekhyun tidak peduli sama sekali. Bahkan ia cenderung bersikap dingin.

Namun diantara kerumunan itu, seorang perempuan tiba-tiba saja menyalip dan mendorong paksa mereka yang menghalangi jalannya agar dia bisa sampai di barisan paling depan.

"Chanyeol oppa"

Chanyeol, Baekhyun, maupun para pengggemar mereka langsung menoleh pada seorang wanita yang berdiri di sebelah Chanyeol sambil membawa sebotol air minum.

"Naeun?" Balas Chanyeol yang agaknya kaget.

Dan secara terang-terangan Baekhyun mencibir gadis itu dengan sudut bibirnya. Baekhyun masih ingat betul bahwa gadis itu adalah penyebab kakinya kembali sakit saat masa orientasi. Gadis sok berkuasa itu. Menyebalkan. Baekhyun benar-benar tidak suka.

"Ini buatmu" Naeun memberikan sebotol air minum ke hadapan Chanyeol dan dengan ragu Chanyeol menerimanya. Bukan ia pilih kasih, hanya saja Naeun adalah seseorang yang ia kenal, salah satu bawahannya di Osis. Tidak enak jika menolak pemberian orang yang kita kenal. Tidak apa kan jika dia menerima air minum dari seseorang yang ia kenal? Lagipula setahunya Naeun bukan salah satu penggemarnya. Yahh.. menurutnya.

Kembali Baekhyun berdecih keras dan kali ini Chanyeol maupun Naeun menoleh padanya.

"Wae?" Tanya Chanyeol datar.

Bukannya menjawab, justru Baekhyun malah membuang mukanya dari Chanyeol.

"Baekhyun-ah, ini untukmu. Kau pasti kehausan"

Kembali semua mata terfokus pada seorang gadis mungil nan imut yang tiba-tiba berdiri di depan Baekhyun dengan memasang wajah polos serta senyum manisnya.

Andai Baekhyun membuka matanya lebar-lebar dan tidak bersikap dingin pada wanita, seharusnya Baekhyun sudah jatuh dalam pesona gadis itu. Gadis yang pertama kali Baekhyun kenal di kantin saat masa orientasi. Gadis yang dengan berani meminta izin untuk duduk satu meja dengannya.

'Kwon Ryuu Ji' batin Baekhyun.

"Terimalah, Baekhyun-ah"

Asalnya Baekhyun sudah mau menolak saat Ryuuji menaruh botol air itu di depan Baekhyun namun tiba-tiba saja dadanya terasa panas saat mengingat Naeun yang begitu sok perhatian terhadap Chanyeol. Tidak! Bukan cemburu! Ia hanya ingin memperlihatkan pada Chanyeol bahwa ia juga bisa seperti pria itu.

"Terimakasih" ujar Baekhyun dengan suara pelan sambil menerima botol air minum itu dan segera meneguk isinya dengan rakus.

Bisik-bisik langsung terdengar dramatis di sekitar Baekhyun dan Chanyeol saat melihat keduanya masing-masing menerima botol air minum dari dua gadis yang berbeda dan itu membuat mereka patah semangat untuk terus mengejar kedua pria tampan dan beken itu.

Tanpa berkata apa-apa, Baekhyun bangkit dari tribun penonton dan pergi begitu saja. Kerumunan pun otomatis terbelah untuk memberikan jalan pada si anak orang kaya itu untuk lewat.

Tak hanya itu, penggemar Baekhyun pun juga ikut-ikutan pergi mengikuti Baekhyun. Terkecuali Ryuuji yang hanya berdiri di tribun penonton sambil menatap Baekhyun yang sudah berjalan jauh dengan pipinya yang merona. Ia tak menyangka dari sekian banyak gadis yang memberikannya botol air minum justru botol darinya lah yang Baekhyun terima. Dan saat ini dia mulai merasa percaya diri dan beranggapan bahwa Baekhyun juga menyukainya. Salah paham.

"mau apa kalian mengikutiku?" Para penggemar Baekhyun pun sontak berhenti ketika Baekhyun berbalik dan menatap mereka dengan tajam seakan mau menelan mereka hidup-hidup.

Setelah dipastikannya mereka merasa terancam oleh intimidasinya, Baekhyun pun kembali melangkah dengan cepat dan agak kesal. Entahlah, ia jadi merasa kesal gara gara kejadian tadi.

Saking kesalnya, ia sampai berjalan menatap lantai dan pada akhirnya ia menabrak bahu seseorang menyebabkan ia hampir saja terjungkal namun orang itu segera menarik tangannya agar tidak jatuh.

"Eii.. berhati-hatilah" ujar suara itu ㅡsuara priaㅡ seperti seorang kakak yang tengah menceramahi adiknya yang ceroboh.

Baekhyun mendongak dan ia langsung dapat mengenali pria itu sebagai salah satu pria yang menjadi panitia orientasi. Name tag nya berbunyi 'Oh Se Hun'

"Byun Baekhyun ya? Ahh.. kau ternyata" monolog Sehun sambil mengangguk-angguk, "kenapa kau kelihatan berkeringat sekali? Habis olahraga?"

"Bukan urusanmu" desis Baekhyun dingin dan datar kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Sehun membuat Sehun mengedipkan matanya polos. Ia baru saja di abaikan?

Dan Oh Sehun hanya tersenyum kecil, mungkin ia sudah tidak waras.

"Menarik sekali, Byun Baekhyun"

.

.

.

Byun Baekhyun itu penipu ulung yang menyebalkannya tiada tara. Setidaknya begitulah pemikiran Kyungsoo tentang Baekhyun saat ini.

Ia sangat kesal pada anak itu karena dengan seenak mata sipitnya membatalkan jadwal mereka yang katanya Baekhyun ingin diajari memasak. Memang hal aneh bagi seorang preman seperti Baekhyun, tapi Kyungsoo mendukung kok kalau Baekhyun memang mau belajar memasak. Bagus juga buatnya agar anak itu tidak terlalu sering mengonsumsi junk food.

Dan yang membuat Kyungsoo kesal adalah ia sudah susah-susah membatalkan jadwal les vokalnya sore ini karena tadi pagi Baekhyun bilang bahwa sore ini ia mau di ajari memasak.

Seharusnya Kyungsoo tahu bahwa Byun Baekhyun itu plin-plan dan tidak jelas orangnya. Ia butuh kepastian, okay?

"Plis deh! Ini bukan hubungan asmara, tapi kenapa si Byun muda itu rasanya PHP sih" dumel Kyungsoo dengan langkah kaki lebar-lebar menyusuri jalan menuju gerbang Hiri.

"Anak gadis tidak baik mendumel terus lho"

Kyungsoo hampir saja melempar orang di sebelahnya dengan sepatu yang ia kenakan jika saja tadi ia tak melihat siapa orang yang tiba-tiba mensejajarkan langkahnya dengan dirinya itu lalu seenak perutnya memanggilnya 'anak gadis'. Demi tongkat trisula nya Dewa Poseidon, dia berniat bercanda atau menghinanya sih?

"Aku bukan anak gadis!"

"Aku hanya bercanda, Do Kyungsoo" pria itu ㅡKai, hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum simple pada Kyungsoo. Tampangnya itu benar-benar membuat Kyungsoo ingin menyuruh Baekhyun untuk memukul pria ini saat ini juga. Sayangnya Baekhyun pulang lebih dulu darinya entah apa alasannya. Mungkin tak ingin bertemu lagi dengan kakak sepupunya yang dari China itu. Siapa lagi kalau bukan si tampan nan cantik sekaligus itu, Xi Luhan.

"Kelihatannya kau sangat kesal sekali" Kai mencoba kembali mencairkan suasana yang cukup mencekam di antara mereka akibat dari aura hitam Kyungsoo.

"Ya, dan saat aku kesal aku bisa berubah menjadi kanibal" gertak Kyungsoo ketus sambil menunjukkan raut (sok) seramnya pada Kai dan bodohnya Kai justru malah pura-pura takut membuat Kyungsoo menatap pria itu dengan tatapan datar. Garing sekali.

"Kau tidak pulang dengan si bocah biang onar itu?"

"Dia punya nama, sunbae"

"Panggil aku hyung saja sudah cukup"

"Hn, hyung"

"Kenapa?"

Kyungsoo menoleh pada Kai dengan tatapan aneh lalu membalas dengan sebelah alis terangkat, "kenapa apanya?"

"Kenapa kau tidak pulang bersama temanmu itu, Do Kyungsoo hoobae-nim. Astaga~" keluh Kai karena ia harus mengulang perkataannya dua kali.

"Mungkin dia tak ingin bertemu seseorang"

Kai mengerutkan kening nya kepo, "seseorang? Siapa?"

"Kau akan segera bertemu dengannya" jawab Kyungsoo malas dan malah mempercepat langkahnya saat melihat figure Luhan sudah terlihat di kejauhan untuk menjemputnya dengan motor sportnya, seperti biasa.

"Kekasihmu?"

"Apa dimatamu kami cocok sebagai pasangan kekasih?" Tanya Kyungsoo dengan ekspresi bertanya yang jelas dibuat-buat.

Kai meringis mendengar pertanyaan Kyungsoo, jika boleh jujur jawabannya adalahㅡ

ㅡ"tidak"

"Kau sudah dapatkan jawabanmu. Aku duluan! Bye hyung" Kyungsoo tersenyum datar pada Kai lalu berlari secepat mungkin ke arah Luhan yang masih setia menunggu di atas motor kesayangannya.

"Jawabanku? Mereka tidak pacaran?"

Hahhh, ㅡbiarlah Kim Jongin berpikir keras saat ini.

.

.

.

TAK TAK TAK

TAK TAK TAK

Baekhyun berlari kesana kemari memukul bola melawan dinding menimbulkan suara gaduh di bangunan tempatnya main squash. Sendirian. Tentu saja, ia tak punya orang lain yang bisa di ajak main squash.

Renjun? Ahh.. jangan tanyakan anak itu. Paling-paling dia sedang belajar saat ini. Renjun itu memang berbeda dengan Baekhyun. Jika Baekhyun si jago nya olahraga dan urakan, maka Renjun adalah si anak baik yang pintar dan sopan. Sosok yang di inginkan Yunho ada pada diri Baekhyun, sayangnya hal yang menurut Yunho baik justru ada pada putra bungsu nya, bukan putra sulungnya yang di elu-elu kan akan menjadi pewaris kekayaan Byun Yunho.

Sendiri itu sepertinya dalam artian Baekhyun saja, karena kenyataanya tentu saja lain. Ia selalu di kawal kemana-mana oleh para bodyguard sialannya. Baik itu secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi.

Baekhyun tak pernah menghiraukan mereka. Ia anggap para pengawalnya itu bersifat tak terlihat.

Kenapa Baekhyun bahkan di awasi meski hanya tengah berolahraga? Tentu saja karena mereka takut si anak emas itu terluka saat berolahraga. Mereka bisa digorok Yunho jika sampai Baekhyun terluka karena kelalaian mereka meski pada realitanya Baekhyun sering berkelahi diluar sana.

"Aku ingin masakanmu"

TAK TAK

"Besok pokoknya kau harus membawakan bekal makan siang buatanmu sendiri. Untuk hari ini aku menerima ini. Terimakasih"

TAK TAK TAK

Senyumannya...

TAK

Kedipan matanya...

TAK

BLTUK

"AW!" Baekhyun berteriak sambil refleks melempar alat squash nya dan langsung memegangi keningnya yang terkena pantulan bola dari dinding.

Sial.. ia kehilangan konsentrasi.

"Tuan muda, anda tidak apa-apa?" Tanya salah satu pengawal nya yang kini sudah berada di sekeliling Baekhyun dan memastikan bahwa Baekhyun baik-baik saja.

Baekhyun tak menjawab dan malah mendengus keras-keras kemudian pergi begitu saja dengan emosi di dadanya.

Park Chanyeol

Namja itu...

Kenapa ia bisa teringat Chanyeol tiba-tiba seperti ini?

"Aish! Appo" ringis Baekhyun sambil berjalan menyurusi jalan berlapis koral yang membawanya ke bangunan rumah utama.

"Anda terluka, doryeonim?"

"Mari segera obati luka anda, doryeonim"

"Anda baik-baik saja, tuan muda?"

"Aigoo tuan muda, ada apa dengan kening anda?"

Pertanyaan itu saling bersahut-sahutan saat Baekhyun dengan keningnya yang bengkak memasuki rumah utama dan disambut rasa panik dara para maid yang berjajar di lorong depan.

"Bawakan aku es batu, cepat!" Teriak Baekhyun murka. Rasa sakit di keningnya membuat ia tak tahan mendengar suara berisik yang dibuat para maid nya. Kenapa mereka begitu berlebihan? Ini memang sakit, tapi seharusnya mereka lebih mengandalkan bergerak cepat dari mengandalkan mulut.

Itulah kenapa Baekhyun tak terlalu suka perempuan. Terlalu banyak mengoceh. Dan perempuan itu selalu mengingatkannya pada ibunya yang meninggalkan ia dan Renjun ketika masih kecil.

Ah sudahlah, lupakan tentang itu.

Baekhyun membaringkan dirinya di sofa tempat baca buku sambil memejamkan matanya merasakan denyutan nyeri yang masih sangat terasa sakit dari keningnya.

"Ini es batunya, tuan muda" ujar seorang maid dengan ragu-ragu.

"Letakkan disana" jawab Baekhyun tanpa membuka matanya dan menunjuk arah meja.

"Y-ye"

Maid itu meletakkan sekantung es batu yang ia bawa di atas meja yang dimaksud Baekhyun kemudian membungkuk pergi secepat mungkin dari sang majikan yang terkenal ketus dan tidak bersahabat.

"Ah sial, kau bodoh sekali Baekhyun" rutuk Baekhyun pada dirinya sendiri, ia membuka matanya dan mengambil es batu yang dibawakan pelayannya lalu mengompres dahinya dengan es batu tersebut secara hati-hati.

Masakanmu..

Masakanmu..

Aku ingin masakanmu

Kalimat itu terus terulang-ulang dalam otaknya, tak mau hilang barang sedetik pun membuat Baekhyun jengkel dan melempar kantung es batunya ke lantai marmer rumahnya, "AISH! PERGI MENJAUH DARIKU!" Teriak Baekhyun sambil menjambak rambutnya sendiri.

Abaikan saja dia.

.

.

.

Tangan Chanyeol dengan apik menulis angka-angka rumit di buku catatannya. Tangannya memang bergerak lancar namun otaknya melayang kemana-mana.

"Kenapa aku jadi memikirkan si bocah Byun itu?" Gumam Chanyeol yang akhirnya menghentikan pekerjaan tangannya dan fokus pada pemikirannya.

Otak Chanyeol mungkin memang jalan dua-duanya hingga ia bisa mengerjakan soal matematika sambil memikirkan hal lain.

"Dia sedang apa ya" kembali Chanyeol bergumam pada dirinya sendiri. Ia menaruh sejenak pensilnya di atas buku catatannya kemudian membuka laci pertama meja belajarnya dan mengambil kunci mobil Baekhyn disana.

"Apa aku menyusahkanya?"

Chanyeol berpikir keras sambil mengingat kembali kejadian hari ini yang ia alami bersama bocah Byun itu. Ia bahkan kehilangan harga dirinya di hadapan guru konselingnya gara-gara Baekhyun.

Tapi lama kelamaan Chanyeol justru malah tersenyum-senyum sendiri entah kenapa. Mungkin otaknya sudah koslet.

TOK TOK TOK

Setelah suara ketukan di pintu kamarnya terdengar barulah ia sadar dari dunia maya yang ia bangun didalam otaknya.

Ia beranjak untuk membuka pintu dan melihat sang tangan kanan ayahnya berdiri disana. Pria itu langsung menundukkan kepalanya sopan saat Chanyeol membukakan pintu dan dibalas Chanyeol dengan anggukan singkat.

"Ada apa, hyung?"

"Dibawah ada teman-teman anda datang"

"Siapa?"

"Entahlah"

Chanyeol memutar bola matanya malas saat orang yang ia panggil 'hyung' itu tidak memberikan jawaban yang memuaskan buatnya.

Tanpa banyak bertanya lagi ia pun turun ke lantai bawah dan mendapati Kai, Sehun, Kris, Suho, Chen, Zitao, Xiumin bahkan Lay berada di ruang tengah sedang bercakap-cakap sambil tertawa dan menikmati cemilan yang di suguhkan.

"Wah wahh.. ada apa gerangan kalian berkomplot-komplot datang kemari?" Tanya Chanyeol agak sinis sambil bersadar pada lemari kaca disana. Itu hanya gurauan saja. Chanyeol sendiri kaget melihat teman-teman dekatnya itu kini sudah berkumpul di rumahnya.

"Hyung, coklat panasnya enak" cengir Tao yang tengah memegang mug di tangannya.

"Kalian kesini hanya numpang ngemil?" Tanya Chanyeol sambil berjalan mendekat dan duduk di tangan kursi tepat di sebelah Xiumin.

"Bisa iya bisa tidak" jawab Kris seadanya.

"Ayo kita pergi ke pameran mobil sport di Apgujeong-dong, Yeol" Suho yang pertama mengutarakan maksud kedatangan mereka dan yang lain hanya ikut mengangguki.

"Mobil sport? Aku tidak terlalu suka" jawab Chanyeol seraya menggedikan bahunya acuh.

"Ayolah, kau sudah lama tidak pergi dengan kami" bujuk Xiumin seraya mengguncang tangan Chanyeol seperti anak kecil yang sedang merengek pada kakaknya.

"Ahh.. arasseo, arasseo, kau selalu memang Xiu" desah Chanyeol pasrah. Pasalnya Xiumin menatapnya dengan tatapan puppy yang sangat menggemaskan. Chanyeol tak pernah bisa menolak keinginan teman-temannya.

.

.

.

Setelah selesai mengompres keningnya dengan es batu tadi, Baekhyun kembali ke kamarnya dan terus menatap pantulan dirinya di cermin, ini sudah 15 menit dan Baekhyun terus menatap lebam di keningnya dengan lekat.

Pikirannya melayang kemana-mana, bahkan ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar ia memyembunyikan luka ini ketika di sekolah. Bisa-bisa ia dituduh kalah berkelahi gara-gara lebam ini. Lagipula lebam ini menurunkan kadar ketampanannya MENURUTNYA.

Tok Tok Tok~

"Hyung!"

Tok Tok Tok

"Hyung, aku masuk ya"

Baekhyun dibuat gelagapan saat suara ketukan pintu diikuti suara Renjun mengalun di telinganya.

Tak habis akal, ia segera lari secepat kilat kedalam walk in closet dan mengambil topi berwarna hitam secara acak. Ia lalu keluar beberapa saat kemudian dan melihat Renjun dengan pakaian rapi nya sudah berdiri di tengah kamarnya.

"Hyung.. kenapa kau memakai topi didalam kamarmu?" Tanya Renjun sambil menatap Baekhyun aneh.

"Aaa.." Baekhyun memutar matanya refleks ketika otaknya juga berfikir lalu ia tersenyum kikuk dan menjawab, "tidak apa-apa. Hanya sedang mencari style baru" ujarnya sambil berlagak seperti model majalah.

Renjun tertawa kecil sambil mendekat pada Baekhyun, "hyung ayo kita pergi ke pameran mobil sport di Apgujeong, katanya akan ada atraksi mobil sport juga disana. Kaja hyung" Renjun memegang tangan Baekhyun seperti anak perempuan dan merengek seperti bayi membuat Baekhyun kembali dibuat lemah.

"Pameran mobil sport ya? Sejak kapan kau suka hal-hal seperti ini, Jun-ah?"

"Ayolah hyung~ jebal~ aku sedang mencoba seperti orang lain, setiap di sekolah teman-temanku pasti membicarakan hal-hal kekinian dan aku seperti orang dungu karena tak tahu apapun. Kurasa aku juga harus bergaul, hyung. Seperti mereka, dan seperti hyung juga"

Baekhyun terenyuh, sumpah. Adiknya ingin berubah hanya karena itu? Padahal Baekhyun tahu betul bahwa kekinian bukanlah gaya adiknya. Renjun bisa mendapatkan banyak teman karena ia pintar, tapi tentu saja teman-temannya juga yang sejenis dengan Renjun. Mungkin Renjun ingin seperti Baekhyun, gaul dan tidak kuno.

"Tapi itu bukan kau, Jun-ah. Jadilah dirimu sendiri. Jangan ingin seperti orang lain, abeoji akan marah besar jika mengetahui kau ingin menjadi sepertiku" Baekhyun mengatakannya dengan agak tidak rela, pasalnya ia harus membawa-bawa orang yang ia panggil 'abeoji' itu.

Renjun memang tahu bahwa hubungan kakak sulung serta ayahnya tidak cukup baik, namun Baekhyun tak akan membiarkan Renjun tahu bahwa dirinya sangat membenci ayah mereka berdua.

"Ayolah hyung~ sekali ini saja" Renjun kembali merengek seperti balita, bahkan kali ini ia memeluk pinggang Baekhyun dengan manja.

"Jinjja! Jangan merengek seperti ini, Jun"

"Hyung~"

"Aish" Baekhyun mendesah frustasi, "baiklah, baiklah. Kita pergi. Hanya kali ini saja, arasseo? Hyung tak suka kau seperti orang lain"

Renjun mengangguk patuh seperti anak puppy dan tersenyum lebar, "arasseo hyung"

Setelah mengambil jaket serta kunci mobilnya, Baekhyun pun pergi ke Apgujeong bersama Renjun dengan maniki mobil Lamborghini Veneno nya yang baru ia beli tahun 2016 kemarin.

Tak lupa juga para pengawal ikut-ikutan bersiap-siap karena tentunya mereka harus mengawal kedua tuan muda mereka.

"Hyung.. hyung.. kudengar mobil tercepat di dunia bulan ini akan ada disana juga"

Baekhyun yang fokus menyetir pun menoleh pada Renjun yang duduk di sampingnya.

"Supersonic Car Bloodhound SSC? Tidak mungkin, butuh izin rumit untuk memamerkan mobil itu. Lagipula Apgujeong itu wilayah padat, mobil itu mobil besar dan kecepatannya bukan main, bahkan 180 kali lebih cepat dari F1, dan katanya lebih cepat dari pesawat jet tempur" jelas Baekhyun membuat Renjun melongok mendengar penjelasan Baekhyun.

"Keren sekali hyung!"

"Paling-paling yang akan di datangkan adalah Hennessey Venom GT. Itu mobil sport normal yang di pasarkan. Supersonic Car Bloodhound SSC itu memangdirancang untuk memecah rekor kecepatan, lagipula mobil itu tidak akan dijual untuk umum."

"Pamerannya pasti keren kan, hyung?"

Baekhyun mengangguk singkat. Ia memang pernah pergi ke pameran mobil beberapa kali saat JHS dulu.

Mereka sampai 15 menit kemudian karena jarak Sangji Ritzville ㅡtempat mansion Byunㅡ dan pusat Apgujeong-dong tidak terlalu jauh.

Baekhyun memainkan gas mobilnya dan menimbulkan raungan suara mesin mobil yang ditimbulkan mobil mahal itu.

Orang-orang yang ada disana langsung memusatkan perhatian mereka pada mobil yang di kendarai Baekhyun. Beberapa orang meringis melihat betapa landai nya body mobil tersebut bahkan hampir menyentuh aspal. Sangat di sayangkan kalau tergores.

Baekhyun memarkir mobilnya di tempat yang cukup luang. "Ramai sekali" gumam Baekhyun sambil turun dari mobilnya diikuti oleh Renjun.

Sorotan blitz kamera langsung menerpa mereka saat turun dari mobil. Selain karena mobilnya yang sangat luar biadab mahalnya, mereka juga jadi sorotan karena merupakan putra dari tuan Byun yang sangat terhormat dan kaya raya.

Untung saja para pengawal langsung sigap menghalangi para wartawan yang berburu foto Baekhyun dan Renjun. Kalau para pengawal itu tidak mengamankan wartawan, sudah pasti kedua tuan muda itu tidak bisa bergerak kemana-mana dan terjebak disini dikerumuni wartawan.

"Hyung.. aku tidak suka" adu Renjun sambil memegang ujung jaket kulit yang dikenakan Baekhyun.

"Mereka tidak menggigit, Jun" balas Baekhyun sambil mengusak rambut Renjun dengan gemas.

"Kalian cukup berjaga disini. Jangan sampai mobilku tergores saat kutinggalkan disini atau akan ada yang mati besok" perintah Baekhyun sambil menunjuk para pengawalnya yang tidak mengamankan wartawan. Ada belasan pengawal yang ikut kesini bersama Baekhyun dan ternyata mereka ada gunanya juga.

Mereka mengangguk dan membungkuk sopan pada kedua tuan mudanya sampai keduanya pergi untuk memasuki kawasan pameran ditengah taman kota yang dijaga ketat oleh pihak berwajib.

Mata Renjun berbinar melihat puluhan mobil sport yang dipajang di taman itu. Lain halnya dengan Baekhyun yang hanya menatap biasa ke sekitarnya. Namun ada satu mobil yang membuat fokusnya terkunci kesana.

Itu Hennessey Venom GT. Mobil yang saat ini tengah ia incar karena merupakan mobil tercepat di dunia jika saja tidak ada Supersonic Car Bloodhound SSC. Abaikan saja mobil yang body nya mirip roket itu karena mobil itu tidak dijual untuk umum maka tidak termasuk kategori mobil incaran, dan fokuslah pada Hennessey Venom GT yang hanya ada 26 unit di dunia dengan bandrolan harga sekitar 1,2 juta dollar. Baekhyun harus mendapatkannya.

Ia merogoh ponsel di saku jaketnya dan menghubungi nomor Choi Siwon yang saat ini tengah 'tour' ke Italy bersama Yunho.

"Aku harus mendapatkan Hennessey Venom GT. Bagaimanapun caranya. Hanya ada 26 unit. Aku tidak mau tahu"

Itu saja yang Baekhyun katakan lewat sambungan telepon saat Siwon mengangkatnya dan setelah berkata begitu ia langsung mematikan sambungan teleponnya.

"Hyung.. aku.. kesana dulu ya" Renjun berkata ragu-ragu pada Baekhyun dan ketika Baekhyun melihat arah yang dimaksud Renjun ia langsung mengerti.

"Jangan main-main, okay? Telepon hyung jika kau butuh sesuatu" ujar Baekhyun sambil mengacak surai Renjun, adik kecilnya yang sampai kapanpun akan selalu jadi orang pertama yang ia sayangi.

"Siap, kapten! Aku pergi dulu hyung" Renjun berlari dengan semangat sambil melambai pada Baekhyun dan dugaan Baekhyun ternyata benar, Renjun mungkin sedang mengalami masa pubertas nya. Sudahlah, itu kan hal yang biasa. Tak perlu di pusingkan.

"Hyung, itu sepertinya si bocah Byun itu"

"Benar, itu Byun Baekhyun"

"Dia sendirian, apa dia juga datang untuk menikmati pameran ini?"

Samar-samar Baekhyun dapat mendengar beberapa suara pria yang membicarakannya dan ketika Baekhyun menoleh ia benar-benar merasa menyesal sudah menoleh karena yang ia dapati adalah sekumpulan pria yang merupakan termasuk panitia orientasinya dulu. Tentunya disana ada si ketua Osis juga, siapa lagi kalau bukan Chanyeol.

"Ah, sialnya aku" gumam Baekhyun dan berancang-ancang untuk kabur. Bukan apa-apa, ia hanya malas meladeni mereka, apalagi si Park itu.

Namun belum sempat Baekhyun mengambil langkah untuk kabur, kerah jaket kulit belakang nya sudah ditarik oleh seseorang.

"YAIKS! Kaget aku!" Gerutu Baekhyun sambil memelototi Chanyeol yang menarik kerah jaketnya.

"Mau kabur kemana?" Tanya Chanyeol dengan senyum meremehkan.

"Siapa bilang aku mau kabur, huh? Kau pikir aku ini apa?" Baekhyun bersungut-sungut kesal pada Chanyeol.

"Beruntung sekali kita bertemu disini" ujar Xiumin sambil mengacak surai Baekhyun seolah mereka sudah mengenal lama.

'Sok kenal sekali sih ini orang' begitulah yang di pikirkan diva kita saat ini.

"Jangan lupa masakanmu besok, arra?" Bisik Chanyeol membuat Baekhyun menginjak kakinya dengan kesal.

Sambil melotot horror, Baekhyun berkata "aku tidak bilang akan"

Chanyeol memutar matanya malas lalu menampilkan seringai jahilnya pada Baekhyun. "Ingat mobilmu, Baek"

"Kau selalu saja menjadikan itu alasan. Kau pikir aku ini kekasihmu yang harus membawakan bekal makan siang padamu setiap hari, huh?"

Omelan Baekhyun itu sukses membuat teman-teman Chanyeol menahan tawanya karena geli. Kalau dilihat-lihat interaksi antara Chanyeol dan Baekhyun memang sangat cute. Baekhyun yang keras kepala dan urakan sedangkan Chanyeol yang intimidatif dan 'inovatif' dalam menaklukan Byun Baekhyun.

"Nikmatilah waktu kalian berdua. Kami akan melihat-lihat sekitar" Chen berucap sok serius sambil menepuk bahu Chanyeol diikuti kekehan geli yang lainnya yang pada akhirnya meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol berdua di antara atmosfer aneh yang mereka ciptakan.

"Kenapa kau datang kesini?" Tanya Chanyeol setelah teman-temannya pergi.

Baekhyun memutar bola matanya malas, pertanyaan bodoh menurutnya. "Tentu saja karena aku suka mobil sport. Kau pikir mobil yang kau sita itu apa? Odong-odong?" Tanya Baekhyun sinis, "menyingkirlah dariku, kau merusak mood ku" dumel Baekhyun yang melewati Chanyeol begitu saja namun Chanyeol menahan tangannya dengan cepat sebelum Baekhyun pergi jauh.

"Kau tidak bisa pergi begitu saja, bocah"

"Untuk sekian kalinya aku bilang bahwa aku bukan bocah, Park Chanyeol!"

"Panggil aku hyung, Byun!"

"Tidak akan! Tidak sudi ya"

"Kau mau main kucing-kucingan ya denganku"

"Siapa bilang, huh? Lepaskan tanganku YAAA PARK CHANYEOL!" Jerit Baekhyun frustasi menyebabkan orang-orang di sekitar mereka menoleh namun Baekhyun tak merasa terganggu atau merasa malu sedikitpun, bahkan ia tak minta maaf atas kegaduhan yang ia timbulkan. Menurutnya disini Chanyeol lah yang bersalah, bukan dia.

"Ikut aku"

Sebelum Baekhyun sempat protes, Chanyeol sudah lebih dulu menarik tangan ramping Baekhyun untuk mengikuti kemana dia pergi dan untuk berontak pun rasanya percuma saja. Badan Chanyeol lebih besar darinya dan tenaga Chanyeol juga sesuai dengan porsi tubuhnya.

"Chanyeol! Hentikan! Mau kau bawa kemana aku ini?"

"Diam saja"

"Yeol, aku bukan anak kecil! Lepaskan aku"

"Tidak"

"Tanganku sakit AISH!"

"Kau berisik sekali"

Karena rasa jengkel yang menyerangnya akibat suara Baekhyun yang tak mau diam, Chanyeol pun berbalik dan tanpa diduga ia menempelkan bibirnya ke bibir Baekhyun begitu saja.

Hanya menempel, bibirnya diam merapat dengan bibir Baekhyun tanpa bergerak sedikitpun.

Baekhyun sendiri tak mampu berbuat apa-apa. Otaknya seolah menjadi blank saat bibir tebal Chanyeol menempel di bibirnya.

Lututnya bahkan sudah mulai melemas akibat rasa kagetnya. Perasaan apa ini? Baekhyun merasa bahwa ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Belum lagi jantungnya yang bertalu-talu didalam dadanya memberikan sensani aneh bagi dirinya.

Suara derung mesin mobil di kejauhan lah yang membuat keduanya kembali tertarik ke dunia nyata.

Chanyeol langsung saja menjauhkan bibirnya dari bibir tipis nan merah milik Baekhyun dengan gelagapan. Ia sendiri tak tahu kenapa ia tiba-tiba mencium Baekhyun hanya karena ank itu terus mengoceh.

Keadaan pun jadi canggung. Chanyeol tak berkata apa-apa, apalagi Baekhyun. Mereka sama-sama merasa aneh dengan perasaan masing-masing.

"M-maaf" gumam Chanyeol canggung dan Baekhyun tidak berkata apa-apa selain diam dengan mata yang tidak fokus. Kejadian barusan benar-benar membuat otaknya jadi lemot.

Chanyeol melepaskan tautan tangan mereka dengan canggung dan Baekhyun hanya terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.

"Ayo kita berkeliling" ajaknya dengan kaku lalu berjalan mendahului Baekhyun yang masih terdiam mematung di tempatnya seperti orang yang sedang ikut mannequin challenge.

.

.

.

Semalaman Baekhyun susah tidur gara-gara kejadian tadi siang yang begitu mengejutkannya. Ia hanya berguling kesana kemari di atas tempat tidur.

Perutnya sangat geli tiap kali mengingat kejadian tadi tapi terkadang ia merasa jijik karena mengingat fakta bahwa ia dan Chanyeol sama-sama lelaki. Jadi tidak wajar kan namanya saat Chanyeol menciumnya? Ini gila!

Tok Tok

"Makan malam sudah siap, tuan muda" seru seorang maid di luar sana usai mengetuk pintu terlebih dahulu tanpa membuka daun pintu tersebut.

Dengan gerakan malas, ia turun dari ranjangnya dan berjalan keluar dari kamarnya tanpa menghiraukan seorang maid yang barusan mengetuk pintunya yang kini masih berdiri di samping pintu kamar Baekhyun.

"Selamat malam, tuan muda" sapa para maid yang sudah berjajar rapi dengan serempak saat Baekhyun memasuki ruang makan yang seperti ruang makan di keluarga kerajaan.

Dia mendapati meja makan kosong melongpong. Tak ada satu orang pun yang duduk disana. Tentu saja tak ada, tak akan ada yang berani. Yang biasanya duduk disana adalah ia dan Renjun. Lalu kali ini kemana anak itu pergi?

"Kemana Renjun?" Tanya Baekhyun dingin.

"Mohon maaf tuan muda Baekhyun, Tuan muda Renjun tertidur di kamarnya. Dia bilang tidak akan ikut makan malam" jawab salah seorang maid dengan kepala yang menunduk dalam tak berani menatap mata sang tuan muda.

Baekhyun tak berkomentar apa-apa soal Renjun, ia malah duduk di meja makan super besar itu seorang diri dengan berbagai macam hidangan lezat nan mahal yang tersaji di atasnya namun Baekhyun hanya menatap semua makanan itu dengan tatapan jengah.

Ia jengah terus seperti ini. Tiap harinya ia selalu sendiri. Ia tak suka tinggal di mansion mewah yang baginya seperti rumah hantu ini.

Ia kesepian.

Dan hanya segelintir orang yang memahami isi hati Baekhyun yang sangat kesepian.

Orang-orang tak akan mengerti. Mereka hanya akan memandang bahwa hidup Baekhyun sangat enak karena bergelimangan harta dan diperlakukan seperti seorang pangeran di rumahnya. Mereka hanya melihat Baekhyun dari luar tanpa tahu apa yang sebenarnya Baekhyun rasakan dengan kehidupannya ini.

Orang-orang hanya akan beranggapan bahwa Byun Baekhyun hanyalah anak urakan yang sok berkuasa hanya karena ayahnya adalah seorang chaebol terpandang tanpa tahu bagaimana kelamnya hidup Baekhyun.

Mereka tidak tahu.

Mereka tidak akan pernah tahu.

Dan mereka tidak akan pernah mengerti dirinya.

Meski sibuk dengan pikirannya yang berkelana, ia tetap menyuapkan potongan makanan ke dalam mulutnya.

Rasanya hambar.

Bukan hambar dalam artian karena tidak berasa. Makanannya justru sangat lezat di lidah namun Baekhyun merasa seperti memakan angin. Hampa dan tak berasa. Dinginnya hatinya membuat semuanya terasa hambar, termasuk indra pengecapnya.

Terkadang ia bertanya-tanya dan meratapi nasibnya.

Kapan ia bahagia?

Itulah yang selalu ada di benak Baekhyun.

Apa yang telah ia lakukan di masa lalu hingga kini ia mendapat kehidupan yang sangat tidak enak?

Dimulai dari ibunya yang entah meninggal atau sengaja meninggalkannya. Lalu ayahnya yang selalu bersikap tegas dan dingin juga kurang perhatian. Dan yang terakhir adalah ia yang selalu dipaksa untuk menjadi Byun muda seperti apa yang di inginkan ayahnya.

'Aku rindu kau hyung'

.

.

.

Chanyeol menggiring bola basket yang ada di tangannya menuju ring basket dengan halang rintang yang dibuat Sehun serta Kai.

Mereka berdua berusaha merebut bola yang masih di kuasai oleh Chanyeol sejak permainan dimulai dan permainan Chanyeol membuat mereka kewalahan.

Remangnya cahaya lampu jalan yang menyinari lapangan basket di halaman pinggir rumah Chanyeol tak mengurangi konsentrasi mereka sama sekali.

DUK DUK DUK

CRING

Suara rantai beradu ketika Chanyeol memasukkan bola basket kedalam ring menjadi akhir dari permainan mereka dan menjadikan Chanyeol menang telak dari kedua temannya itu.

"Hyung.. kemampuanmu tak pernah berubah.. hoshh hoshh" ujar Kai seraya menepuk bahu Chanyeol dengan nafasnya yang tersengal-sengal.

"Kau membuat kami seperti pecundang, hyung" tambah Sehun yang sudah duduk di tengah lapangan sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan tak jauh beda dengan Kai dan Chanyeol.

Chanyeol sontak memutar bola matanya malas mendengar penuturan Oh Sehun, "kalian terlalu berlebihan" jawabnya santai.

"Hyung! Katakan padaku apa yang tak bisa kau lakukan, huh? Kenapa kau begitu sempurna dalam segala hal?" Tanya Kai dengan nada frustasinya.

Chanyeol tersenyum samar lantas menjawab, "memasak dan memanah"

Oh! Benar! Chanyeol tak bisa memanah. Kalau memasak sih ia juga sama tidak bisa.

Memanah adalah suatu kegiatan olahraga yang membutuhkan tingkat fokus dan ketelitian yang tinggi.

Dan Chanyeol punya masalah dengan penglihatannya dulu. Ya, dulu. Karena penglihatannya sekarang sudah normal berkat operasi lasik yang di jalaninya beberapa bulan lalu setelah ia genap berusia 18 tahun.

Chanyeol memiliki mata minus dan silinder dulu maka dari itu ia tak pernah ingin belajar memanah. Padahal kan kalau dia pakai kacamata saat memanah juga tidak apa-apa.

"Hyung" panggil Sehun.

"Hn.." gumam Chanyeol sebagai balasan atas panggilan Sehun.

"Kenapa tadi kau dan si bocah Byun itu terlihat canggung saat kami bertemu denganmu lagi? Padahal sebelumnya kalian ribut seperti kucing dan anjing"

Chanyeol lantas terdiam atas pertanyaan Sehun. Tubuhnya sedikit menegang saat Sehun bertanya soal itu. Tak mungkin ia mengatakan kejadian yang sebenarnya terjadi sore tadi kan? Itu memalukan heol~

"Mungkin hanya perasaanmu saja. Kami tidak canggung kok, dia malah sangat berisik" dusta Chanyeol dengan wajah tenang tak mencerminkan bahwa sekarang ia tengah menyuarakan kebohongan.

Berisik dari mananya? Sejak insiden yang Chanyeol sendiri tak tahu kenapa ia bisa melakukannya, Baekhyun tiba-tiba berubah menjadi pendiam sepanjang acara keliling mereka di tempat pameran mobil sport tadi.

"Bohong! Beritahu kami yang sebenarnya. Ceritakan! Ceritakan hyung!" Desak Kai yang sama sekali tak mempercai Chanyeol.

Dan Chanyeol hanya menghela nafas panjang mendengar paksaan dari Kai yang tak akan mampu membuka mulutnya untuk mengatakan yang sebenarnya. "Tidak ada apa-apa, aish. Kenapa kalian mencurigaiku?"

"Kau memang sudah mencurigakan hyung" jawab Sehun dengan tampang (sok) polosnya yang membuat Chanyeol ingin muntah melihatnya.

"Berhenti mencurigaiku. Kalian tak akan mendapat berlian karenanya" ujar Chanyeol malas lantas melenggang pergi dari lapangan basket menuju kedalam rumah mewahnya lewat pintu belakang yang lebih dekat dengan posisinya sekarang.

Kai dan Sehun pun saling melempar tatapan aneh dan keduanya justru malah mengangkat bahunya kompak sebelum akhirnya mengikuti langkah Chanyeol menuju kedalam rumah mewah keluarga Park.

Malam ini mereka akan menginap di rumah Chanyeol. Dan perlu diketahui bahwa tindakan mereka itu tanpa adanya persetujuan dari Chanyeol karena sejak tadi pun Chanyeol tak mengatakan 'boleh' untuk Kai dan Sehun menginap di rumahnya malam ini.

Setelah olahraga malam mereka yang cukup memeras keringat, mereka bertiga pergi untuk membersihkan diri dan ganti baju. Tentunya sendiri-sendiri lah, masa mereka mandi bertiga bersamaan, mereka bukan bocah ingusan lagi.

"Hyung.." panggil Kai pelan dengan posisi berbaring di ranjang king size Chanyeol sedangkan Chanyeol duduk di sofa sambil membaca buku dengan khidmat.

"Hn.."

"Sepertinya Naeun menyukaimu" ujar Kai lagi dengan mata yang memandang lurus langit-langit kamar.

"Lalu?"

Kai langsung bangkit dari posisi tidurannya dan menatap Chanyeol dengan heran. 'Lalu' katanya? Yang benar saja!

"Kau tidak tertarik padanya? Dia miss kecantikan angkatanku lho hyung"

"Memangnya itu bisa jadi tolak ukur untuk aku menyukainya?"

Menghela nafas adalah hal yang pertama di lakukan Kai setelah mendengar jawaban acuh Chanyeol, "jadi kau tidak menyukainya?"

Chanyeol terdiam dan Kai menganggap itu sebagai jawaban 'ya' atas pertanyaannya.

"Sampai kapan kau mau jomblo terus hyung?" Celetuk Sehun yang terdengar begitu menyebalkan.

Ucapannya itu seolah mengatakan bahwa ia punya kekasih sedangkan Chanyeol tidak. Padahal mereka sama-sama tidak punya kekasih.

"Kau sendiri?"

"Aish!" Sehun membuat gerakan seperti tertembak karena ucapan Chanyeol dan jatuh di karpet berbulu yang ada disana.

"Jangan bilang kau masih mengingat Seohyun noona?" Tebak Sehun setelah ia kembali duduk di tempatnya semula.

Pertanyaan Sehun itu langsung membuat Chanyeol terdiam seribu bahasa, tatapan matanya menjadi kosong dan perasaan bergemuruh di dadanya itu kembali ia rasakan. "Dia sudah menikah, Oh Sehun. Mana mungkin aku masih menyukai mantanku yang sudah menikah" jawab Chanyeol dengan wajah suram.

"Sampai sekarang aku benar-benar tak habis pikir kenapa kau bisa punya pacar yang jauh lebih tua darimu. Bahkan saat itu Seohyun noona sudah kuliah sedangkan kau masih JHS hyung!" Pekik Kai dengan dramatis. Kisah percintaan Chanyeol memang selalu aneh di mata Sehun dan Kai.

Menurut mereka sangat konyol karena Seohyun yang saat itu sudah dewasa justru mau-maunya berpacaran dengan Park Chanyeol yang masih JHS. Menggelikan. Memang sih, ukuran tubuh Chanyeol saat masih JHS bahkan sama dengan anak SHS pada umumnya, tapi tetap saja itu konyol!

"Kurasa sejak awal wanita itu memang mempermainkanmu, hyung" ujar Sehun dengan pemikirannya.

"Jangan bicarakan dia lagi, kenapa kalian malah menggosipkannya?" Tanya Chanyeol heran.

Kai dan Sehun hanya tersenyum tanpa dosa, "lalu sekarang kau suka siapa? Naeun yang cantik begitu saja kau tolak. Lalu seperti apa tipe mu hyung? Apa iya noona-noona?" Tanya Sehun lagi dengan kurang ajarnya dan untung saja Chanyeol tak melemparkan buku yang tengah di bacanya pada Sehun dan mulut nista nya.

"Jangan-jangan... kau suka..." Kai dengan sengaja menggantungkan ucapannya membuat Sehun menunggu dengan penasaran sedangkan Chanyeol menatapnya heran, "... Byun Baekhyun ya?"

Dan seketika tawa Sehun dan Kai meledak dibuatnya, lain halnya dengan Chanyeol yang justru terdiam merenung.

Mendengar nama itu tiba-tiba membuat dirinya merasa aneh. Ada perasaan senang disana? Kenapa? Ia juga tidak tahu.

'Mana mungkin aku suka padanya' batin Chanyeol sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.

"Tapi aku yakin kalau ia di dandani seperti wanita pasti dia akan sangat cantik hyung!" Koar Sehun dengan tawanya yang semakin menjadi-jadi jika membayangkan penampilan Baekhyun dengan wig serta gaun perempuan yang sexy.

"Jangan bicara sembarangan" sangkal Chanyeol sambil kembali membaca bukunya.

"Ayolah hyung.. kau tidak menyenangkan" keluh Kai setelah tawa mereka berdua berhenti dan suasana kembali menjadi hening.

"Tapi kudengar ada anak kelas X yang nekat mendekati Baekhyun."

"Nugu?" Tanpa sadar Chanyeol langsung menyahut mendengar ucapan Sehun dan itu membuat Kai serta Sehun saling memberi tatapan bertanya satu sama lain.

"Kalau tidak salah namanya Kwon Ryuu Ji. Dia salah satu ulzang lho hyung. Wajahnya seperti boneka." Itu Kai yang menjawab.

"Bahkan foto Baekhyun dan Ryuuji yang sedang makan dalam meja yang sama saat masa orientasi sudah tersebar di forum Hiri" sahut Sehun.

"Tidak hanya itu. Saat Ryuuji memberikan minuman pada Baekhyun seusai ia dihukum berlari di lapangan pun ada. Itu jadi berita hot setelah fotomu dan Naeun dengan gaya yang sama tersebar disana" tambah Kai lagi sambil menunjukkan layar ponselnya.

Dari kejauhan pun Chanyeol dan melihat dengan jelas bahwa disana memang Baekhyun yang sedang menerima botol minum dari seorang gadis cantik bak boneka.

Oh! Jadi dia itu Kwon Ryuu Ji?

Chanyeol memang ingat bahwa saat itu seorang gadis memang memberikan botol minuman pada Baekhyun dan anehnya Baekhyun menerimanya.

Tiba-tiba saja pegangan Chanyeol pada bukunya mengerat dan alisnya langsung menukik tajam melihat foto itu.

Perubahan Chanyeol itu tak luput dari perhatian Sehun dan Kai membuat keduanya kembali saling melempar tatapan.

Dan dari sana mereka dapat menyimpulkan bahwa Chanyeol mempunyai 'sesuatu' terhadap Byun Baekhyun.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

ATTENTION PLEASE!

Hai chingu~

Mian late banget update nya, soalnya aku lagi pertimbangin apa ff ini stop aja sampe disini ya.

Tolong kasih suara kalian ya, kalian maunya ini tetap lanjut atau stop disini? Kasih jawaban kalian di kotak review, soalnya aku agak pesimis sih lanjutin ff ini. Saran kalian di butuhin banget loh..

Terus mau minta saran satu lagi, aku punya akun satu lagi di ffn, dan publish satu cerita disana. Apa mending ceritanya pindahin aja ya kesini? Atau tetep disana? Soalnya pengen akun yang lain itu dihapus aja, ribet amat ya punya 2 akun. Gatau sih kenapa waktu itu bikin akun lagi. Kasih saran kalian oke? Ditunggu..

Bye chingu~