ansatsu kyoushitsu © yuusei matsui. no profit gained, no copyright law infringement intended.
.
.
.
day 4
something she would say to her beloved
.
.
.
Sebuah paket berisi buku diantarkan oleh petugas pos pagi ini. Rio menerimanya dengan bingung, tidak ingat kapan ia pernah memesan buku—ia nyaris tak pernah membeli buku secara online atau meminta toko buku mengantarkan buku ke alamatnya. Begitu melihat nama dan alamat pengirim yang tertera di bagian belakang paket yang ia terima, Rio langsung mengerti.
Yukiko mengabarkan sesuatu di chat group kelasnya minggu lalu. Ia bilang, ia baru saja menerbitkan buku, dan ia berniat untuk memberikan beberapa sampel bukunya. Dari hasil diskusi panjang yang nyaris berujung pada perdebatan, akhirnya Yukiko memutuskan untuk memberikan bukunya untuk beberapa orang yang masih tinggal di Jepang, dan satu buku khusus untuk Rio karena hanya dirinya yang tinggal di luar negeri. Percakapan itu terjadi beberapa hari yang lalu. Tumpukan tugas dan percakapan di chat group yang tidak relevan dengan soal buku Yukiko (misalnya tentang kuah ramen baru eksperimen Muramatsu, atau Kirara yang iseng mengirimkan mantra-mantra aneh, atau gosip-gosip terkini soal dunia hiburan Jepang) telah mengalihkan perhatian Rio, membuatnya lupa akan kiriman sebuah buku yang khusus diberikan untuknya.
Kebetulan hari ini hari libur. Memang ada tugas kuliah, tapi Rio selalu beranggapan bahwa tugas-tugas seperti itu lebih enak dikerjakan di malam hari. Maka ia berguling di atas sofa, menyobek sampul warna-warni cantik yang membungkus paketnya, dan mulai membaca buku Yukiko dalam sekali duduk.
Buku yang Yukiko tulis bercerita tentang cinta yang sederhana. Berfokus pada bagaimana seorang gadis biasa menyampaikan cinta pada orang-orang yang ia sayangi. Seperti biasa, tulisan Yukiko selalu bagus. Ada perasaan tulus yang Rio rasakan setiap kali membaca tulisannya. Rio membuka halaman terakhir dengan perasaan hangat di hati; perasaan tulus Yukiko saat menulis ini sudah tersampaikan padanya dengan baik.
Rio tahu, sejak dulu Yukiko memang pandai di dunia tulis-menulis. Dengar-dengar, ia juga kerap mengirim surat-surat romantis pada pacarnya dengan tulisan yang benar-benar bagus dan tulus—bayangkan betapa bahagianya sang lelaki beruntung itu, bisa setiap waktu menerima ucapan-ucapan manis yang dapat membuatnya merasa dicintai dan disayangi. Rio selalu bermimpi suatu hari ia bisa memiliki kemampuan yang sama seperti Yukiko. Kemampuan yang dapat membuatnya merangkai kata dengan indah, lalu menyampaikan perasaannya dengan seutuhnya.
Rasanya akan sangat indah kalau suatu hari, Rio bisa menyampaikan cinta pada orang-orang di sekitarnya melalui kata-kata yang cantik, dan membuat orang lain menerima perasaan Rio dengan seutuhnya, bukan?
Rio mengeluh pelan, membiarkan desah napas kecil keluar dari bibirnya. Buku Yukiko ditaruhnya di atas dada. Tatapannya tertuju ke arah langit-langit. Memang tidak ada apa-apa di sana, tapi itu adalah tempat favorit Rio untuk dipandangi kalau pikirannya sedang berkecamuk. Ia menarik napas lagi. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Mengingat mimpi-mimpi seperti ini, sejujurnya, membuat Rio merasa sedikit terbebani.
Ia masih ingin menjadi seperti Yukiko.
.
.
.
"Tapi Nakamura-san, kau bukan Kanzaki-san."
Rio mengerjapkan matanya begitu mendengar kalimat yang diutarakan Nagisa barusan. Meskipun sibuk dan terpisah jarak, Rio masih sering menghubungi Nagisa untuk membicarakan berbagai hal, mulai dari hal-hal yang tidak penting seperti soal pakaian-pakaian yang Rio ingin Nagisa memakainya (contoh: gaun pesta dengan renda merah muda yang Rio lihat di butik kemarin sore) sampai hal-hal yang bersifat lebih serius seperti ini. Nagisa selalu tahu kalau Rio sangat menghargai perasaan seorang individu, termasuk dirinya, dan selalu ingin untuk bisa menyampaikan hal tersebut dengan sepenuhnya. Nagisa selalu tahu kalau Rio ingin menjadi seperti Yukiko. Hanya saja, baru kali ini Nagisa mengingatkannya bahwa Rio bukan Yukiko.
"… Maksudmu, Nagisa?" Rio membetulkan posisi ponsel di telinganya sambil bertanya.
"Aku sendiri baru menyadarinya akhir-akhir ini, setelah aku mengajar dan bertemu dengan banyak orang. Nakamura-san, kau bukan Yukiko-san, kau pasti punya caramu sendiri untuk menyampaikan perasaanmu, meski bukan dengan kata-kata cantik." Tanpa bertemu pun, Rio tahu bahwa Nagisa sedang tersenyum ketika mengatakan kalimat barusan. "Nakamura-san selalu jujur terhadap perasaanmu sendiri, maka aku selalu yakin bahwa Nakamura-san pasti bisa menemukan cara bagaimana mengungkapkan perasaanmu seutuhnya, dengan caramu sendiri. Aku yakin, apapun caranya, itu akan menjadi suatu hal yang sangat istimewa."
.
.
.
Rio menggenggam ponselnya erat. Menurut perhitungannya, sekarang sudah tanggal 24 Agustus di Jepang. Layar ponselnya menampilkan satu nomor telepon yang sangat ingin ia hubungi, namun tampaknya ia masih harus menyusun kata-kata untuk ia sampaikan nantinya. Ia berguling-guling gelisah untuk sejenak.
Nakamura-san selalu jujur pada diri sendiri….
Rio menarik napas. Nagisa benar, yang ia lakukan hanya jujur dengan dirinya sendiri. Yang harus ia lakukan hanyalah berkata apa adanya.
Meskipun kecantikan kata-kata Yukiko tak bisa ia miliki, ia masih punya kejujuran yang istimewa.
Ia sudah memutuskan.
" … Halo, Rio-chan? Tumben sekali kau menelepon jam segini."
"Halo, Mama!" ujar Rio riang, penuh dengan kegembiraan. "Mama, terima kasih sudah melahirkan aku. Aku sayang sekali pada Mama!"
