Mrs. Bangtan Diary
Namaku Bang Tania. Usiaku baru menginjak empat puluh tahun. Namun aku sudah punya tujuh orang anak, dan mereka semua LAKI-LAKI!
Orang-orang bilang aku seperti baju anti peluru. Walaupun diterjang banyak masalah, aku tidak akan pernah tumbang. Itulah kenapa mereka memanggilku Nyonya Bangtan.
Ku beritahu, ya. Mengurus tujuh orang anak laki-laki seorang diri bukanlah hal yang mudah bagiku. Mereka memiliki sifat dan masalah yang berbeda-beda. Tidak mudah mengendalikan mereka untuk berjalan kearah yang aku inginkan. Karena memiliki arah mereka masing-masing. Aku bahkan tidak sempat pergi spa atau hanya sekedar memakai make up karena masalah-masalah yang mereka timbulkan.
Bukannya mengeluh. Aku hanya ingin bercerita tentang kisahku besama ketujuh putraku. Agar kalian semua tahu bagaimana rasanya mengurus tujuh orang anak laki-laki yang memiliki banyak masalah dalam mencari jati diri mereka.
.
Yang Keempat bernama Namjoon. Dia adalah anakku yang paling sulit dibangunkan. Dia selalu tidur disetiap kesempatan. Di rumah, di sekolah, di restoran, dokter gigi, bahkan di toilet. Aku tidak tahu apakah itu hobinya atau dia memang kelelahan yang jelas dia tidur seperti orang mati.
Aku bahkan sempat dipanggil wali kelasnya karena Namjoon sering bolos kelas hanya untuk pergi tidur diatap sekolah. Dia tidak pernah mengikuti pelajaran dikelas. Saat ujian mingguan berlangsung, Namjoon mengerjakan soal dengan sangat cepat dan setelah itu langsung kembali tidur diatas mejanya. Tapi wali kelasnya juga mengatakan padaku jika semua soal yang Namjoon jawab dengan cepat itu menghasilkan nilai sempurna dan dia selalu mendapatkan peringkat satu di kelas dan peringkat delapan di sekolah.
Padahal Namjoon selalu mengeluh saat pergi kesekolah. "Aku benci sekolah", begitu katanya. Dan saat melakukan tes IQ, dia mendapatkan hasil yang jauh diatas rata-rata. Aku, para guru dan siswa, bahkan saudara-saudaranya tidak percaya dia mempunya otak se-genius itu.
Wah Luar biasa. Dia sendiri tidak berkomentar apa-apa tentang otaknya yang genius itu yang dia lakukan hanyalah tidur, tidur dan tidur.
Oh, iya. Dia punya banyak buku berukuran tebal didalam kamarnya. Aku yakin dia punya hobi membaca. Maksudku, untuk apa dia menyimpan banyak buku tebal dikamarnya jika bukan untuk dia baca? Dan lebih hebat lagi, kebanyakan buku itu berbahasa Inggris dan Jepang. Wow! Aku tidak tahu jika dia bisa berbahasa Inggris apalagi bahasa Jepang.
Ya, mungkin dia hanya benci sekolah, bukan benci belajar. Aku kira itulah sebabnya dia sering tidur dimana saja. Dia menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku itu. Dia benar-benar luar biasa. Si genius yang benci sekolah. Aku bangga padanya.
Tapi aku juga ingin dia mengurangi kebiasaan tidurnya. Karena aku juga ingin mengobrol-ah tidak-setidaknya sekali saja dia memandangku dan memberikan senyumannya. Aku rasa itu sudah cukup.
.
Aku selalu berpesan pada semua putraku, bahwa mereka harus bersikap dewasa. Setidaknya bertanggung jawab atas masalah yang mereka timbulkan sendiri. Karena aku tidak selamanya bisa mendampingi mereka.
.
4
