-Prev Chapter-

Sang paman menatap Chanyeol lama, lalu menghela napas. Jelas sekali sang paman tidak percaya dengan kata-kata Chanyeol. Dia seorang dokter dan secara medis, tidak mungkin jantung donor membawa kenangan tentang pemilik sebelumnya.Bagaimana mungkin?

Tetapi sang Paman tidak mau mengkonfrontasi Chanyeol, lelaki itu belum sepenuhnya pulih dari operasinya. Dan dia berharap informasi ini bisa menghilangkan mimpi-mimpi yang mengganggu Chanyeol setiap malam.

"Jantung itu berasal dari seorang lelaki bernama Wu Yifan."

REMAKE NOVEL

Menghitung Hujan

By: Santhy Agatha

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Wu Yifan, Xi Luhan, and others.

WARN!

Gender Switch. Typo(s) everywhere

If you don't like

.

.

.

Don't read!

.

.

.

Check this out!


Mencintaimu itu sama seperti bernapas

Terjadi begitu saja, tak tertahankan

Bahkan sebelum aku menyadarinya

Aku sudah jatuh cinta padamu

Dan aku mau menunggu

Aku mau menunggu untukmu

Meskipun itu berarti : Selamanya

FLASHBACK ON

"Aku harus pergi." Chanyeol menatap sedih ke arah Luhan, yang sedang merapikan pakaian-pakaian Chanyeol dan memasukkannya ke dalam tas.

Jemari Luhan berhenti sejenak, kemudian melanjutkan memasukkan pakaian-pakaian Chanyeol, kali ini jemari itu bergetar,

"Mencari perempuan itu?"

Chanyeol menghela napas panjang, "Maafkan aku Lu."

"Tidak." Suara Luhan pecah oleh tangis, "Bagaimana mungkin aku memaafkanmu? Kau meninggalkan aku untuk mengejar perempuan lain, seorang perempuan yang bahkan belum pernah kau temui hanya karena mimpi-mimpimu."

"Mimpi-mimpi itu nyata Luhan, dan perempuan itu juga, begitu juga jantung yang sekarang berdetak di dadaku ini."

Luhan mengusap air matanya dan menatap Chanyeol dengan pilu,

"Tidakkah kau mencintaiku Chan? Tidakkah kau mengenang masa kita bersama dulu? Aku selalu mencintaimu, bahkan sejak kita kecil. Aku selalu mendampingimu, di saat-saat sulit sekalipun, percaya bahwa masih ada masa depan untuk kita... apakah kau tega membuang itu semua?" suara Luhan terisak-isak tak kuasa menahan perasaannya.

Hal itu membuat Chanyeol mengernyitkan dahi, mencoba menekan rasa bersalahnya. Perempuan ini tidak terbantahkan adalah pasangan yang sempurna, sangat tulus mencintainya dan selalu bersamanya di saat dia sakit. Tentu saja Chanyeol merasakan rasa bersalah yang luar biasa karena mencampakkannya seperti ini, dia bukannya tidak punya perasaan, masalahnya... jantung ini... jantung ini tidak menginginkan Luhan, dan selalu memanggil-manggil perempuan lain, perempuan itu, yang selalu muncul di dalam mimpinya.

"Aku tidak tahu harus berkata apa." Chanyeol meremas rambutnya frustrasi, "Aku tidak bisa berkata apapun selain maaf..."

"Katakan kalau kau mencintaiku Chan..." tatapan Luhan penuh permohonan, penuh air mata.

Chanyeol tahu setidaknya kalimat itu akan membuat Luhan tenang. Tetapi dia tidak bisa mengatakannya.

Dia tidak bisa.

Luhan tahu itu, matanya terpejam berusaha menahankan rasa sakit yang memenuhi dadanya. Tidak pernah disangkanya dia dan Chanyeol akan berujung seperti ini.

"Setiap malam, ketika menggenggam tanganmu di rumah sakit, aku selalu berdoa semoga Tuhan memberikan jantung baru untukmu, supaya kau bisa sehat, supaya kita punya masa depan bersama, supaya kita bisa menua bersama, menatap anak-anak kita nanti dengan bahagia." Rasa sakit di suara Luhan terdengar nyata, "Aku sangat bahagia ketika kau mendapatkan donor jantung itu... sangat bahagia... tapi ternyata aku salah."

Luhan menutup tas Chanyeol di atas ranjang dan melangkah mundur, menatap Chanyeol yang hanya bisa diam membatu.

"Kalau saja aku tahu bahwa jantung itu akan merenggutmu dariku, lebih baik kau tidak pernah mendapatkan donor jantung."

Dan dengan kata-katanya yang penuh dengan kesakitan, Luhan melangkah pergi, berurai air mata.

-CB-

Ketika malam mulai temaram dan senja beranjak menjadi gelap. Chanyeol duduk menghadap eommanya dan menceritakan semuanya. Eommanya hanya menatapnya dengan sedih.

"Jadi begitu saja? Kau tinggalkan Luhan begitu saja?"

Chanyeol mendesah sedih, "Aku tahu semua orang akan menyalahkanku karena perlakuan jahatku kepada Luhan... tapi kuharap eomma bisa mengerti aku. Aku... jantung ini.. jantung ini menginginkan perempuan lain."

"Bagaimana mungkin Chan? Apa yang kau rasakan itu tidak bisa dijelaskan dengan logika, eomma bingung dengan sikapmu. Eomma sedih melihat Luhan, Chanyeol. Dia sangat kecewa, dia hancur, dan bukan hanya itu, persahabatan eomma dan appa dengan kedua orangtua Luhan menjadi rusak karena masalah ini, mereka tidak mengerti." Sang eomma menghela napas sedih, "Tetapi eomma percaya kepadamu nak. Eomma sudah melalui saat-saat dimana eomma hampir kehilanganmu, berkali-kali."

Perempuan itu menyusut air matanya, "Jantung itu membuat eomma tidak akan cemas kehilanganmu lagi, dan...kalau kau bilang jantung itu mencintai perempuan lain, eomma akan berusaha mendukungmu, karena kalau yang kau bilang itu benar, eomma berhutang budi kepada perempuan itu. Perempuan yang jantung kekasihnya didonorkan untukmu."

Chanyeol langsung memeluk mamanya. Erat. Menahan resapan air mata yang sedari tadi berusaha menyeruak keluar. Semua orang boleh membencinya, tetapi asalkan eommanya mendukung, Chanyeol bisa melangkah maju.

"Terimakasih eomma." Suara Chanyeol serak oleh emosi, dipeluknya eommanya, wanita tua bertubuh kecil yang begitu tegar berjuang untuk anak tunggalnya yang sakit. Chanyeol sangat menyayangi eommanya.

"Jadi, kemana kau akan mencari perempuan itu?"

"Seoul, aku sudah mendaftar untuk mengambil magisterku di sana."

-CB-

Pertama kalinya Chanyeol melihat Baekhyun adalah ketika perempuan itu keluar dari toko kelontong di ruko itu, dan melangkah di trotoar.

Saat itu mendung sudah menggelap, mengirimkan pesan bahwa dia akan menjatuhkan muatannya ke bumi. Chanyeol sudah menyelesaikan segala urusannya untuk tinggal di Seoul, administrasi perkuliahannya sudah beres, dan dia sudah menemukan tempat tinggal baru, sebuah Apartement di tengah kota Seoul. Setelah itu, dia menelusuri alamat rumah Yifan, mencari informasi sedapat mungkin dari para tetangga. Dia mendapatkan informasi cukup penting, bahwa Yifan meninggal dunia sehari sebelum pernikahannya dengan Baekhyun. Kesedihan seperti apa yang mungkin ditanggung oleh Baekhyun ketika itu? Chanyeol tak berani membayangkannya.

Butuh waktu dua hari sampai akhirnya Chanyeol menemukan alamat kampus Baekhyun. Oleh salah seorang teman kampusnya, dia diberitahu bahwa Baekhyun sedang mencari bahan tekstil untuk sampling kegiatan perkuliahan mereka. Chanyeol memutuskan memarkir mobilnya dan berjalan menelusuri kawasan itu.

Hampir dua jam Chanyeol menelusuri jalan-jalan kawasan kota kelahirannya, yang masih kokoh memeluk kenangan mereka tentang masa lalu, hingga tak terasa dia sudah melangkah begitu jauh. sampai akhirnya dia menemukan sosok itu.

Chanyeol hanya pernah melihat Baekhyun sekilas di sebuah foto hasil pencariannya di internet. Tetapi dia yakin bahwa perempuan yang berjalan tergesa seolah dikejar mendung di seberangnya itu adalah Baekhyun. Dia tahu. Jantungnya tahu.

Jantungnya berdegup kencang memanggil perempuannya.

Dorongan pertama Chanyeol adalah menghampiri Baekhyun dan memperkenalkan diri, tetapi ketika baru satu langkah berjalan dia berhenti. Apa yang akan dikatakannya kepada Baekhyun?

Apakah dia akan datang dan dengan santainya berkata : "Hai aku Park Chanyeol, aku adalah orang sakit yang beruntung mendapatkan donor jantung dari kekasihmu, Wu Yifan." atau mungkin dia akan berkata : "Hai aku Park Chanyeol, kau mungkin akan menganggapku aneh, tetapi aku mencintaimu. Jantung kekasihmu, Wu Yifan yang sekarang menjadi jantungku masih berdebar untukmu."

Debaran jantung itu makin mengencang, dan Chanyeol tersenyum, menepuk dadanya pelan, "Hei. Aku tahu kau tidak sabar bertemu perempuanmu. Tetapi kita tidak bisa menerobos masuk tanpa perhitungan dulu. Aku harap kau sabar."

Lalu Chanyeol terkekeh sendiri, dia benar-benar seperti orang gila, berbicara sendiri dengan jantungnya sambil berdiri di trotoar seperti ini

Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi kepalanya, butirannya makin lama makin membesar seolah langit meminta agar para manusia menyingkir sehingga dia bisa menumpahkan muatan kelabunya ke bumi. Chanyeol melempar pandangannya kepada Baekhyun, perempuan itu tampak berdiri bingung ketika hujan juga mulai menimpanya, lalu dia memasuki café itu. Café dengan sebutan Coffee of Dream di papan namanya.

Sementara itu Chanyeol tetap berdiri di sana, entah berapa lama dia tidak tahu. dia berdiri bagaikan orang idiot, bingung harus bagaimana. Hujan makin membesar, dan tetesannya mulai membasahi rambut dan mengalir turun ke bahunya, membasahi pakaiannya. Lalu dia menelan ludah, menyeberang jalan dan melangkah memasuki café itu. Sejenak berdiri meragu di depan pintu, kemudian melangkah masuk.

Baekhyun duduk di sudut sana, matanya mencuri pandang. Tepat saat Baekhyun mengangkat kepalanya dan mengadu tatapan dengannya. Dengan gugup Chanyeol memalingkan muka, mencoba bersikap acuh, lalu memilih tempat di sudut yang lain memesan kopi, lalu duduk kebingungan memikirkan bagaimana dia bisa mendekati Baekhyun.

Dan rupanya dia terlalu lama berpikir, karena sejenak setelah hujan sedikit mereda, Baekhyun berdiri dan meninggalkan café itu. Meninggalkan Chanyeol dalam kekosongan. Jantungnya yang tadinya berdebar penuh semangat kini terasa hampa.

FLASHBACK OFF

-CB-

Sejak itu Chanyeol selalu datang. Di jam yang sama, memilih tempat duduk yang sama sambil menatap cemas ke arah pintu dengan setia. Hanya satu hari dia terlambat datang, dan di satu hari itu, entah kenapa Tuhan membuat Baekhyun datang kesana, meninggalkan bukunya.

Lalu perkenalan itu terjadilah, mengalir begitu saja. Ketika Baekhyun tidak kunjung datang lagi ke café itu sesuai janjinya, Chanyeol tetap menunggu.

Dan ternyata penantiannya tidak sia-sia. Baekhyun akhirnya datang menemuinya, membuat Chanyeol yakin bahwa sadar atau tidak Baekhyun merasakan panggilan dari jantung ini untuknya.

Mereka terus bertemu dan semakin dekat. Tetapi kemudian pertemuan-pertemuan mereka diisi oleh kisah kenangan Baekhyun bersama Yifan. Membuat Chanyeol merasakan sesuatu yang membakar di dalam dadanya. Sebuah perasaan yang bisa dideskripsikan sebagai : Cemburu.

Ya. Chanyeol cemburu. Sangat cemburu kepada Yifan. Pria sempurna di mata Baekhyun, yang kini jantungnya berdegup di dalam rongga dadanya. Chanyeol mencintai Baekhyun, itu pasti. Perasaan cintanya tidak bisa dideskripsikan dengan logika, tidak bisa dianalisa dengan kata-kata. Perasaan cintanya ada begitu saja, memenuhi rongga dadanya, menjajah hatinya. Sementara yang dicintai Baekhyun adalah Yifan. Selalu Yifan.

Dan dengan bodohnya Chanyeol memicu pertengkaran itu. Membuat Baekhyun makin menjauh darinya.

Disesapnya kopinya dengan sedih. Dia masih duduk di sini., di sudut yang sama, tempat yang sama, waktu yang sama, menunggu dengan setia seperti yang selalu dia lakukan. Tapi kali ini Baekhyun tak kunjung datang, dan Chanyeol meragu apakah Baekhyun akan datang kali ini.

Kalau Baekhyun tak mau datang, aku akan hancur oleh patah hati. Chanyeol merasakan jantungnya berdenyit menimbulkan rasa nyeri di rongga dadanya.

-CB-

Baekhyun melangkah dengan ragu di depan cafe itu. Masih cafe yang sama, bangunan tua yang sederhana tetapi menyimpan banyak sejarah di dalamnya, konon cafe ini adalah café tertua di Seoul, yang berdiri tahun 1920, tahun demi tahun berlalu, dan cafe ini masih menyajikan menu yang sama, seluruh hidangan kopinya berasal dari bahan kopi pilihan khas Seoul, Kopi Aroma yang pabriknya terletak di sudut lain kota Seoul, kopi yang sangat terkenal dengan proses pembuatannya yang juga tidak berubah dari tahun ke tahun, mempertahankan rasanya. Dan juga mempertahankan kenangannya, bagi beberapa orang.

Baekhyun mendesah. Kenapa dia ada di sini? apakah itu berarti memberi kesempatan kepada Chanyeol untuk mengalihkan perhatiannya dari Yifan? Tetapi Kyungsoo bilang, dengan menerima Chanyeol bukan berarti dia membuang Yifan. Yifan akan selalu ada dan akan selalu hidup di dalam hatinya.

Tetapi tidak terbantahkan, Baekhyun juga menyayangi Chanyeol. Perasaan itu tumbuh entah kapan. Mungkin sejak Chanyeol memperkenalkan dirinya, mungkin juga sejak pertemuan rutin mereka di cafe itu dari waktu ke waktu. Baekhyun tidak tahu. Yang pasti sekarang dia ingin mencari jawaban. Mencari jawaban atas semua pertanyaan yang menggelayuti benaknya.

Baekhyun lalu melangkah masuk ke cafe itu. Dan mendapati Chanyeol duduk di sana, di sudut yang sama tempat mereka biasanya duduk berdua. Lelaki itu tampak merenung, tidak melihat ke arah pintu, tetapi kemudian entah kenapa dia langsung menyadari kedatangan Baekhyun. Kepalanya langsung tegak dan dia setengah berdiri ketika melihat Baekhyun,

"Baekhyun-ah..."

Baekhyun melangkah mendekati Chanyeol, berdiri dengan ragu.

"Aku... aku mau minta maaf karena membentakmu di pertemuan kita terakhir waktu itu."

Chanyeol tersenyum lalu duduk kembali,

"Duduklah Baek, aku akan memesankan pesananmu yang biasa."

-CB-

Kopi dan roti pun dihidangkan, menu tetap mereka selama pertemuan mereka di sana. Chanyeol menatap Baekhyun dengan senyumnya yang tulus,

"Aku minta maaf, aku yang terlalu memaksamu. Percayalah Baek, mulai sekarang aku tidak akan mendesakmu lagi. Aku akan selalu ada, entah sebagai sahabatmu, entah sebagai saudaramu, entah sebagai apapun. Aku akan selalu ada untukmu."

Baekhyun menundukkan kepalanya, lalu menatap Chanyeol dengan senyum sedihnya, "Terimakasih Yeol... aku.. aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa, tetapi kau masih begitu baik untukmu."

"Karena aku mencintaimu." suara Chanyeol tercekat menahan rasa, menahan debaran jantungnya yang makin mendera, Tidak apa-apa kalau ternyata Baekhyun tidak bisa membalas cintanya. Ternyata tidak apa-apa, ternyata cukup baginya bisa duduk di sini dan menatap perempuan itu. Ada, dan menghirup napas yang sama dengan dirinya.

Tidak apa-apa ternyata mencintai, dan hanya ingin mencintai, entah cintanya itu berbalas atau tidak...

-CB-

Chanyeol baru saja pulang dan membaringkan badannya di ranjang, matanya menatap nanar ke langit-langit kamar, membayangkan Baekhyun.

Hanya membayangkan perempuan itu, senyumannya, tawanya, caranya berbicara saja bisa membuatnya tersenyum, dipenuhi oleh perasaan cinta,

Kemudian ponselnya berkedip, sekali. dua kali. Akhirnya Chanyeol meraihnya.

Nama yang tertera di layar ponsel itu membuatnya menegang/?.

"Ya Luhan?"

Sejak perpisahan di rumah sakit itu Luhan memutuskan kontak dengannya. Sama sekali. Dan Chanyeol terima, karena dia memang tidak pantas memohon maaf dari Luhan. Dan mungkin Luhan lebih baik dalam kondisi seperti ini. Chanyeol terima kalau Luhan membencinya dan dia berharap dengan begitu Luhan akan mudah membuka hatinya untuk yang lain.

Suara di seberang sana penuh dengan isak tertahan.

"Chanyeol... Chanyeol-ah... Aku sangat membutuhkanmu... aku tak kuat tanpamu... " Luhan menangis tersedu-sedu di seberang sana, penuh dengan kesakitan tanpa ampun, membuat hati Chanyeol terasa nyeri, "Pulanglah Chan... aku mohon pulanglah kemari..."

TBC

Chapter 3 selesai~~~ chapter ini banyak flasbacknya yap xD hayoo, menurut kalian Chanyeol bakal pulang nurutin kemauan Luhan ga yaaa? Hwhw:3 See you next chapter~~^^

-Balesan Review-

[sunrise blossom: jangan bingung atuhlah~~ wkwk xD liat aja nanti yaa:p ini udah next~ thanks for review^^]

[Park FaRo: udah dilanjutin nih xD thanks for review^^]

[neli amelia: jangan nyesek donggg/? xD ya kita lihat sj nanti ya ;p thanks for review^^]

[ladywufan: muehehe makasiiihhh33 aku juga cinta yifan xD liat sj nanti yaa xD thanks for review^^]

[parklili: iya chan emang udah tertarik sama baek~~ thanks for review^^]

[bubu: liat aja nanti yaa xD wkwk thanks for review^^]

THANKS FOR ALL REVIEWS xD AKU JADI SEMANGAT NIH WALAUPUN LAGI UAS STRES TETEP AJA USAHAIN BIAR FAST UPDATE xD YANG SIDERS SEMOGA CEPET SADAR YA ;p

SO, MIND TO REVIEW?:33

KAMSAHAMNIDA /bow/