Apdet!

Akhirnya kelar juga nih fic, cape ni dari kemaren2 dikejar2 ma Vi terus, hehe

Thanks buwat yang udah ripyu ya, buwat Light, Nate, Kuru, Vi dan Megu, ripyu kalian sungguh berarti bagi chubby *lebay mode on*

R&R fic ini lagi ya!!! *pasang sesajen*

Ok Let's play!!!

Lihat Aku

Chapter 4 : Ketidakberuntungan atau...?

Author : Chubby Chu

Pairing : SasuNaru

Rated : T

Disclaimer : Masashi Kishimoto punya!

.

.

Lonceng pertaruhan telah berdentang. Saat ini sudah tidak mungkin lagi bagi Sasuke untuk mundur ataupun membatalkan apa yang telah dimulai.

Di pertaruhan ini bukan hanya harga diri Sasuke sebagai seorang Uchiha saja yang dipertaruhkan, tetapi juga Dobenya, Cintanya, Narutonya.

Pagi ini adalah langkah awal bagi Sasuke menuju kepada kemenangannya. Sasuke tidak ingin melewatkan satu waktu pun untuk itu.

Mumpung besok adalah hari libur, Sasuke ingin mencoba untuk mengajak Naruto jalan, hehe… kencan gitu deh!

Dan kini Sasuke telah berada di depan rumah Naruto yang hanya bersebelahan saja dengan rumahnya.

Setelah menekan bel rumah itu, tidak lama kemudian pintunya pun terbuka, dari balik pintu itu tampak seorang wanita paruh baya yang dikenal Sasuke sebagai ibu dari Naruto.

"Ohayou gozaimasu, Kushina-san!" sapa Sasuke dengan sopannya.

Kushina tersenyum melihat kedatangan Sasuke, "ohayou, Sasuke-kun!" balas Kushina, "menjemput Naru ya?" tanyanya kemudian.

Sasuke menganggukkan kepala pelan, "iya, Kushina-san! Apakah Naruto sudah berangkat?"

"Belum, Naru masih ada di kamarnya kok," jawab Kushina, "ayo masuk!" ajaknya.

Sasuke mengikuti Kushina masuk ke dalam rumah, lalu Kushina berkata, "Sasuke-kun, sebaiknya kamu langsung saja naik ke kamar Naru!"

"Baik, Kushina-san, permisi!"

Sasuke bergegas menaiki tangga menuju ke kamar Naruto yang berada di lantai dua, tepatnya lorong sebelah kanan dari tangga.

Semakin mendekati kamar yang dituju, Sasuke merasakan jantungnya pun berdetak semakin cepat.

Sasuke menghela nafas panjang, kemudian mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu kamar Naruto.

Terdengar sahutan dari dalam kamar, "masuk, tidak dikunci!"

Tanpa pikir panjang lagi, Sasuke langsung memutar kenop dan mendorong pintu untuk membawanya masuk ke dalam kamar.

Namun apa yang terjadi?

Sasuke langsung membeku seketika, apa pun yang berada di dalam sana telah dengan sukses membuat Sasuke terdiam dan membuat wajahnya benar-benar memerah seperti tomat.

Naruto yang semula membelakangi Sasuke pun tiba-tiba bergerak membalikkan badannya ke arah pintu, "ada apa, Kaa… san?" kata Naruto sedikit terputus-putus, ketika mengetahui bahwa yang masuk ke dalam kamarnya bukanlah ibunya, melainkan Sasuke.

Sekarang bukan hanya Sasuke yang syok, tapi Naruto juga.

Setelah beberapa saat saling tatap, Sasuke melihat wajah Naruto memucat, tangan Naruto dengan cepat bergerak ke dadanya yang telanjang, dan…

"Waaa~…"

Sasuke langsung menutup pintu kamar Naruto. Dan dari arah tangga terdengar seseorang sedang berlari menaiki tangga, kemudian nampaklah Kushina dengan wajah penuh kepanikan.

"Ada apa, Sasuke?" kata Kushina, "tadi sepertinya terdengar suara teriakan dari sini?" tanyanya lebih lanjut mencoba mencari tau.

Namun Sasuke tidak segera menjawab pertanyaan Ibu Naruto itu, otaknya yang masih over load dan jantungnya yang berdetak dengan kecepatan yang melebihi batas normal belum mau diajak kompromi.

"Kenapa wajahmu memerah begitu, Sasuke-kun? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Kushina lagi, ketika Sasuke tidak kunjung juga menjawab pertanyaannya yang pertama.

Sasuke berusaha mencari-cari alas an yang tepat, matanya berkeliling dalam lorong itu, "belalang…" katanya tanpa sadar, saat tanpa sengaja matanya menangkap keberadaan belalang di situ.

"Belalang?" tanya Kushina tidak mengerti dengan maksud Sasuke.

"Aah… iya, belalang! Saya tadi memang berteriak, Kushina-san, ehm… tapi tidak apa-apa, hanya kaget saja karena tiba-tiba ada belalang yang hinggap di kepala saya."

Dalam hatinya, Sasuke merutuki dirinya sendiri atas jawaban konyol yang telah dia katakan barusan.

Kushina tampak mengernyitkan dahi mendengar jawaban dari Sasuke, tapi kemudian Kushina kembali tersenyum.

"Oh begitu, ya sudah, kalau ada apa-apa pergilah ke dapur!" katanya, lalu berjalan kembali ke bawah.

Sasuke mencoba menghela nafas hela, tapi hingga kini debaran jantungnya belum juga kembali normal, bayangan Naruto yang sedang bertelanjang dada masih terus berkelebat di otaknya, hal itu terlihat dari wajah Sasuke yang masih memerah sempurna.

Sasuke semakin tidak habis pikir, mengapa dia bisa sekacau ini menghadapi seorang Naruto, apalagi setelah melihat Naruto bertelanjang dada barusan, kulitnya terlihat putih, padahal saat Sasuke dan Naruto kecil dulu mereka sering mandi berdua, dan seingat Sasuke kulit Naruto dulu warnanya lebih kecoklatan, membuat Sasuke ingin menyentuhnya saja.

'Jyah… apa yang sedang kupikirkan?!' rutuk Sasuke dalam hati, 'aku jadi mirip seperti om-om mesum begini!' lanjutnya sambil mengusap-usapkan tangan pada wajahnya, berusaha menyingkirkan bayangan indah yang menari-nari di pikirannya. Lalu membalikkan badannya ke arah pintu mencoba untuk menyembunyikan wajahnya.

Saat Sasuke sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu yang sedari tadi menjadi sandaran Sasuke tiba-tiba dibuka dari dalam.

Sasuke pun kehilangan sandaran dan menimpa Naruto yang telah membuka pintu tersebut, hingga membuat keduanya terjatuh dengan posisi saling tindih dimana Naruto berada di bawah tubuh Sasuke.

Selama beberapa saat, Sasuke dan Naruto saling menatap dalam diam.

Tubuh Naruto yang mungil, terasa begitu pas dalam pelukan Sasuke.

Rambut Naruto yang pirang terasa begitu lembut dan harum saat beberapa helainya menyentuh tangan Sasuke.

Bibir Naruto tampak merah dan basah, Sasuke hanya bisa menelan ludah melihatnya, Sasuke ingin sekali mengecup bibir itu dengan bibirnya sendiri, merasakan seberapa lembutkah bibir yang menggoda itu.

Dan pipi itu, meski bisa dibilang tembem tapi terlihat begitu halus dan dengan tiga bekas luka di kedua sisi membuat Sasuke ingin menyentuh pipi yang sedang memerah sempurna itu.

'Eh… memerah?' Sasuke mengalihkan pandangan matanya pada mata biru Naruto yang benar-benar indah, hingga mampu membuat Sasuke tidak berkedip melihatnya.

Tiba-tiba Naruto memalingkan wajahnya, namun tak lama kemudian Naruto kembali menatap mata onyx Sasuke dengan lekat, sedikit mengangkat wajahnya, semakin dekat… semakin dekat, hingga…

"Sasuke, mau sampai kapan kamu akan menindihku seperti ini?" bisiknya di telingaku, "berat tau!" lanjutnya.

Sasuke terhenyak mendengarnya, Sasuke benar-benar tidak sadar bahwa dia telah terlalu lama menindih Naruto.

Sasuke segera bangkit. Dia kembali bersikap wajar dengan memasang tampang stoicnya yang sempurna, untuk menutupi kegugupannya. Diulurkan tangannya untuk membantu Naruto berdiri, dan Naruto menyambutnya.

Naruto kesal melihat Sasuke yang bak MANUSIA TANPA EKSPRESI itu, "lagian ngapain kamu berdiri di balik pintu begitu? Mau nyintip ya?" tuduh Naruto, seraya merapikan seragamnya yang sedikit kusut, karena kejadian barusan.

Naruto menunjukkan kekesalannya dengan menggembungkan pipinya yang memerah itu.

"Siapa? Aku? Memang apa yang bisa aku intip darimu, Dobe?" jawab Sasuke, dingin.

"Kalau begitu, kenapa mata kamu jelatatan tadi?" tanya Naruto yang tidak mau kalah.

Sasuke tetap tidak beraksi, "aku hanya kaget saja kok, salahmu sendiri kenapa kamu sembarangan membuka pintu begitu!"

Naruto mendengus kesal, "terserah aku dong, Teme! Pintu-pintu kamarku sendiri," katanya.

"Terus kenapa masih nyalah-nyalahin aku terus, Dobe?" jawab Sasuke dengan sengaknya.

Naruto tiba-tiba menundukkan kepalanya, lalu bertanya dengan suara lirih, "Teme, tadi pas pertama kamu membuka pintu, kamu benar-benar tidak melihat apa-apa kan?"

"Huh… apa yang bisa aku lihat, badanmu itu sama sekali tidak seksi sedikit pun, jika dibandingkan dengan cewek-cewek di luar sana," elak Sasuke, padahal dalam hatinya Sasuke merasa kalau badan Naruto itu lebih seksi daripada cewek paling seksi sekalipun, tapi tidak mungkinkan kalau Sasuke mengatakan hal seperti itu pada Naruto, bisa-bisa bogem mentah Naruto bersarang dengan telak di wajahnya.

Sasuke melihat Naruto mengembungkan pipinya lagi, membuatnya ingin memakan pipi itu saking gemasnya.

Naruto mencoba mengabaikan Sasuke, dia kembali pada kesibukannya semula yaitu merapikan buku-bukunya ke dalam tas kuning kesayangannya.

Sebenarnya dalam hati, Sasuke merutuki dirinya sendiri, kenapa sedari tadi dia tidak juga bisa mengatakan pada Naruto tentang ajakan 'kencan'nya, yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata ejekan saja.

Sasuke membuang nafas sejenak, kemudian mencoba mengingat-ingat kata-kata ajakan untuk ber'kencan' yang sudah dirancang dan dilatihnya semalaman.

"Dobe…" panggil Sasuke.

Naruto memalingkan wajahnya ke arah Sasuke, "apa?" katanya sedikit sengak karena Naruto masih sedikit kesal.

Sejenak timbul rasa ragu dalam hatinya, dalam hati Sasuke sudah berteriak-teriak frustasi sedari tadi, "em…" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.

Naruto menatap ke arah mata Sasuke langsung.

"Eeee…" ucap Sasuke lagi.

Naruto masih menunggu Sasuke bicara, namun Sasuke tidak kunjung juga bicara, maka dengan kesalnya Naruto mencibir Sasuke, "oia, sejak kapan kamu takut sama 'belalang', Teme?"

Naruto menyeringai melihat wajah Sasuke yang memerah, membuatnya terlihat manis.

Sasuke hanya diam, tidak menanggapi lemparan ejekan dari Naruto. Dialihkan pandangan matanya keluar jendela.

Akhirnya karena tidak menemukan cara untuk mengajak Naruto keluar, Sasuke memutuskan untuk mengatakannya pada waktu istirahat siang nanti di sekolah, otaknya sama sekali tidak bisa ikut diajak kompromi, karena sedari tadi Sasuke telah mengalami ketidakberuntungan yang menyenangkan, hehe…

Mulai dari melihat Naruto bertelanjang dada hingga jatuh menindih tubuh Naruto dengan enaknya.

Namun tampaknya Naruto tidak puas dengan tanggapan dari Sasuke, dia kembali mendesak Sasuke, "belalang! Alasan macam apa itu, Teme~?"

Sasuke langsung menatap lekat mata Naruto, lalu dengan memasang tampang stoicnya dia berkata, "Ternyata di dadamu banyak tahi lalatnya juga ya, DOBE!"

Seketika wajah Naruto memerah, dia benar-benar syok dengan apa yang didengarnya dari mulut Sasuke barusan, "ap… apa kamu bilang?" katanya dengan terpatah-patah.

Sasuke mengangkat alisnya sebelah.

"Teme~, tadi kamu bilang, kamu tidak melihat apa-apa?" teriak Naruto frustasi, "awas kau, Teme!" ancamnya.

Sasuke hanya menyeringai puas, kemudian berjalan keluar dari kamar Naruto yang sudah berteriak heboh.

Melewati dapur, dimana Kushina memasang wajah bingung, namun Sasuke hanya tersenyum saja pada ibu dari Naruto itu.

"Huh… gagal juga akhirnya!" desahnya, yang lebih terarah pada dirinya sendiri.

Setelah pamit, Sasuke segera berangkat ke Konoha High School, dan di belakangnya Naruto berlari mengejarnya.

"Teme, tunggu~!" teriak Naruto dari depan rumahnya.

Sasuke pun menghentikan langkah, membalikkan badan, menunggu Naruto hingga dapat berjalan beriringan, dan sasuke pun tersenyum tulus, senyum yang sungguh jarang, bakal hampir tidak pernah dia berikan pada orang lain, selain kepada Naruto.

Naruto menatap Sasuke heran, "kenapa kamu tersenyum begitu, Teme?" tanyanya dengan sedikit memiringkan epalanya ke arak Sasuke.

"Tidak! Ayo berangkat!" ajak Sasuke kemudian.

Sasuke mengulurkan tangannya, yang tidak lama kemudian disambut hangat oleh Naruto, dan mereka pun berjalan beriringan ke sekolah mereka dengan bergandengan tangan.

'Tunggulah nanti, Dobe!' janji Sasuke dalam hati.

.

.

Bersambung

Peace en Smile

Chubby Chu