Fanfiction KaiHun

Cast : Kai, Sehun! GS

Genre : Romance, Drama, Comedy

Summary : Kai adalah artis terpopuler di Korea Selatan saat ini dan Sehun adalah fan-nya. Disuatu musim panas, Sehun mendapat lowongan magang di agensi dimana Kai bernaung. Sehun berusaha keras—dan mempertaruhkan rasa malunya—dalam waktu dua bulan untuk membuat Kai jatuh hati padanya.

Chapter Three

"Sehun! Tolong bawakan ini untuk penata rias di 817!"

"Sehun! Jangan lupa berkas dimeja diberikan kepada resepsionis!"

"Sehun, kau jangan hanya diam saja. Bantu aku mengangkat ini!"

"Sehun belikan croissant pesanan Luhan!"

"Sehun!"

"Sehun!"

Saat ini sudah pukul enam sore, Sehun akhirnya bisa duduk di ruangan kostum dengan tenang dan menikmati bubble tea yang ia beli sejak tadi. Kaki Sehun bergetar karena kelelahan. Ia tidak tahu jika membantu berarti benar-benar menjadi pembantu. Sudah berapa kali hari ini ia mendengar namanya diteriakan. Sehun bersumpah jika ada yang meneriakkan namanya lagi ia akan menyiram orang itu dengan bubble tea yang ia pegang.

Pekerjaan yang Sehun lakukan sebenarnya cukup menyenangkan. Sehun disuruh membantu bagian penata rias, ia jadi tahu kuas yang tepat untuk mengaplikasikan foundation cair. Lalu Sehun juga disuruh untuk menata kostum panggung para artis, Sehun jadi tahu jika kain sutra tidak boleh dicuci dengan sabun cuci biasa. Sehun dimintai tolong untuk membeli berbagai macam makanan untuk artis-artis BT Ent dan juga kru-krunya, Sehun jadi tahu dimana membeli makanan enak dengan harga miring. Sehun hanya tidak tahan dengan teriakan mereka semua. Belum Sehun menyelesaikan satu tugas ia sudah diteriaki untuk melakukan tugas yang lain.

Sehun! Sehun! Sehun! Semua menyuruh Sehun, ia tidak masalah dimintai tolong oleh siapapun dan melakukan apapun, hanya saja mereka perlu tahu jika Sehun hanya memiliki satu tubuh. Jadi jika pekerjaan mereka tidak selesai pada waktunya tolong jangan meneriaki Sehun. Dia kan disini hanya diminta untuk membantu, kenapa seolah Sehun yang bersalah jika sebuah pekerjaan tidak selesai?

"Ya! Bebek!" Sosok tinggi berdiri didepan pintu ruang kostum yang ditempati Sehun. Hampir saja Sehun meneriaki orang itu, namun begitu berbalik Sehun menyadari jika itu adalah Kai. Niatnya itu segera ia buang jauh-jauh. Malah Sehun berdiri tegap dan menyembunyikan bubble tea-nya dibalik punggungnya, tapi ada yang mengganjal, tadi Kai memanggil Sehun apa? Bebek? Kenapa dia dipanggil bebek? Apa wajahnya mirip bebek? Atau suaranya?

"Hah? Kau cari siapa? Bebek?" Sehun bertanya gugup. Bukan hanya karena didepannya adalah pujaan hatinya, tapi juga karena rasa bersalah yang masih memberati perutnya sejak ia meneriaki Kai orang tidak tahu terima kasih.

"Tentu saja kau! Siapa lagi disini selain dirimu!" Sepertinya Kai masih belum memaafkan Sehun karena insiden sepatu sejuta won-nya tadi.

"Hah? Kenapa aku kau panggil bebek?" Sehun masih tidak mengerti. Sehun mengerti jika Kai masih kesal padanya, itu terdengar jelas dari nada bicaranya. Hanya saja Sehun tidak mengerti panggilan Kai untuknya. Bebek? Apa warna kuning norak sepatu tadi mirip warna bebek ya?

"Kau kan si bantal bebek tukang iler itu! Ayo ikut aku, masih banyak sepatu yang harus kau bersihkan!" Kai melenggang pergi begitu menyampaikan tugas yang harus Sehun kerjakan.

Tunggu sebentar. Bantal bebek? Iler? Ingatan Sehun berputar kembali pada kejadian memalukan di lift tadi pagi. Jongdae sialan! Sekarang aku bukan hanya perusak sepatu tapi juga bebek tukang iler! Kau benar-benar harus membayar ini semua Jongdae!

"Ini! Semua harus dibersihkan!" Kai menunjuk segunung sepatu berdebu dan beberapa juga terkena ternoda warna-warni norak yang sepertinya terkena pewarna properti panggung.

"Baiklah." Sehun berkata lemah. Gunungan sepatu didepannya benar-benar melemaskan badannya, entah butuh berapa jam untuk membersihkan seluruh sepatu-sepatu ini. Sehun mengambil kain lap yang sudah disiapkan, sebelum mendudukkan dirinya Sehun melirik Kai yang berbaring disebuah sofa panjang, matanya terpejam. Bibir Sehun mengerucut, hilang sudah khayalan-khayalan indahnya akan pertemuan pertamanya yang romantis dengan Kai. Sekarang Kai akan selalu mengingatnya sebagai bebek, tukang iler dan perusak sepatu sejuta won.

"Apa kau liat-liat? Kau mau tanda tanganku?" ternyata Kai sadar sedari tadi Sehun belum juga memulai pekerjaannya.

"Hah? Jangan besar kepala dasar cowok manja. Kau menduduki ponselmu tuh, layarnya menyala sepertinya ada yang menelepon. Dasar beruang mati rasa." Begitu kalimat itu keluar dari bibir Sehun, ia langsung merasa sangat menyesal. Sepertinya berteman dengan Kyungsoo membuat Sehun tertular sifat sadisnya. Ingin rasanya Sehun menampar dirinya sendiri, bagaimana bisa ia berkata sesadis itu pada Kai? Sehun seharusnya minta maaf dan memperbaiki hubungannya dengan Kai, bukan malah tambah mengatainya.

Kai saat ini memicingkan matanya tajam ke arah Sehun yang memunggunginya. Belum pernah ada yang berani mengatainya, dan apa itu beruang mati rasa? Kai hanya menduduki ponsel tipis! Bukan tank sebesar rumah!

"Kau memanggilku apa? Hah? Beruang mati rasa? Kalau aku beruang mati rasa kau adalah bebek bodoh! Membersihkan sepatu dengan cola? Apa yang kau pikirkan hah? Dasar bebek bodoh!" Rasa bersalah yang tadi Sehun pendam langsung digantikan oleh rasa kesal begitu mendengar dirinya dipanggil bebek.

"Bebek bodoh! Ya beruang manja! Manager-mu saja tidak protes dengan caraku membersihkan sepatu! Kau harusnya bersyukur kan sepatumu bisa kembali bersih?" Sehun berbalik dan menatap Kai kesal.

"Sudahlah bertengkar dengan bebek bodoh tukang iler hanya akan menulariku jadi bodoh saja." Kai memiringkan tubuhnya menghadap sandaran sofa.

"Ya! Aku bukan tukang iler! Itu cuma karangan si cowok cempreng itu saja!"

"Tukang iler!" Kai masih menyahuti Sehun meskipun dia memunggungi Sehun.

Braakk! Sebuah suara yang lumayan keras terdengar dari ruang 912, ruangan dimana Sehun dan Kai sedang saling menghina. Sehun rupanya melempar sepatu kearah Kai, dan sepatu itu mengenai punggung Kai lalu terpental masuk kedalam kantung plastik yang dipenuhi sampah.

"Dasar bebek bodoh! Ini sakit sekali bodoh!" Memang bukan sembarang sepatu yang Sehun lempar kearah Kai. Sepatu boots dengan karet yang lumayan tebal, pasti terasa lumayan sakitnya.

Kai terbangun dari tidur-tidur malasnya, berusaha membalas Sehun dengan mencari-cari barang yang ia rasa pantas untuk dilemparkan ke arah Sehun. Mata Kai seakan mau keluar ketika sepatu yang tadi dilempar Sehun kini berada di kantung sampah.

"Bebek! Kau cari mati ya?! Lihat sepatunya!" Sehun memandang kearah telunjuk Kai yang menunjuk sepatu yang kini terkena sisa saus tteokbokki. Bukan hanya terkena sisa saus saja sebenarnya, tapi tersiram segelas saus tteokbokki. Cairan kental berwarna merah itu kini sudah berada didalam sol sepatu boots itu.

"Astaga! Bagaimana ini?" Sehun cepat-cepat mengambil sepatu yang tadi menjadi korban kekesalannya. Dilapnya noda yang mengotori beberapa sisi luar sepatu, dan ketika Sehun membalikkan sepatu itu, saus tteokbokki mengalir keluar. Kening Sehun dan Kai mengerut jijik.

"Itu sepatu untuk perfomku bodoh! Minhyuk Hyung akan benar-benar marah jika aku punya alasan lagi untuk mangkir dari konser!" Kai mengacak rambutnya frustasi. Wajahnya benar-benar terlihat cemas.

"Ma-maaf. Kau mengesalkan sih." Sehun juga ikut cemas.

"Maaf katamu bodoh? Kau tidak tahu betapa galaknya Minhyuk Hyung jika situasi sedang sibuk seperti ini. Pokoknya kau yang harus bilang pada Minhyuk Hyung tentang sepatu ini."

"Ini kan bukan salahku sepenuhnya! Kalau kau membuatku kesal mana mungkin aku melempar sepatu kearahmu!"

"Harusnya kau belajar menahan amarahmu yang seperti nenek sihir!"

"Kau yang harusnya belajar menahan amarahmu! Juga jaga bicaramu yang selalu mengesalkan!"

"Ugh! Percuma bertengkar dengan bebek bodoh!"

"Aku tidak bodoh! Kau yang bodoh!"

"Kalian masih bertengkar?" Minhyuk tiba-tiba membuka pintu dan meletakkan kedua tangannya didadanya. Menatap Kai dan Sehun tajam.

"Ti-tidak. Kami cuma berdiskusi te-tentang uhm bagaimana menghilangkan no-noda cat ini saja Hyung." Kai berkata gagap, sangat kentara ia sedang berusaha mencari alasan yang masuk akal.

"Be-benar. Kami hanya berdiskusi tapi sepertinya kami terlalu bersemangat." Sehun mendukung kebohongan Kai begitu ia melihat tatapan Kai yang penuh dengan kode.

"Baiklah. Kai, aku harus segera pergi. Kau mau pulang sekarang? Akan aku suruh mobilmu untuk disiapkan." Minhyuk berjalan memasuki ruangan, membuat Sehun terburu-buru menyingkirkan sepatu featuring saus tteokbokki itu kebawah meja.

"A-aku…ma-masih ada gerakan yang ingin aku lancarkan lagi. Nanti biar aku sendiri yang menelepon resepsionis jika sudah akan pulang."

"Baiklah. Langsung pulang, jangan keluyuran."

"Baik Hyung!"

"Oppa!" Sehun melambai dari luar cafe dimana Park Chanyeol bekerja. Saat ini waktunya makan siang dan Sehun tiba-tiba teringat dengan teman pertama yang ia buat ketika pertama kali datang ke Seoul.

Dari dalam Chanyeol memberi kode agar Sehun menunggu sebentar karena ia sedang melayani tamu-tamu yang datang. Sehun mengangguk dan menunggu sambil memperhatikan keadaan sekitarnya. Mata Sehun menangkap beberapa wajah yang familiar dari BT Ent, ada sunbaenya juga yang berasal dari Creative Writing. Dan Luhan! Sehun memandangi wajah Luhan yang duduk dengan beberapa artis BT Ent, sangat cantik. Sehun yang seorang wanita saja mengagumi kecantikan Luhan apalagi pria-pria diluar sana?

"Hei Sehun! Ada apa? Kau merindukanku?" Chanyeol tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang sempurna.

"Iya, aku merindukanmu." Sehun menjawab. Ia memang merindukan Chanyeol, dan jawaban jujur Sehun membuat Chanyeol kehilangan kata-kata. Biasanya gadis-gadis akan tersipu malu ketika ia belontarkan pertanyaan seperti itu, sedangkan Sehun menjawab dengan lugas dan tanpa basa-basi.

"Be-benarkah? Kau merindukanku?"

"Tentu saja. Untuk apa aku kesini jika aku tak merindukanmu? Aku ingin menghubungimu tapi aku tidak punya ponsel. Hehehe." Sehun berkata jujur.

"Oh iya, ponselmu hilang. Bagaimana bekerja untuk BT Ent?" tanya Chanyeol sambil mengajak Sehun untuk duduk disamping cafe, tempat para pekerja cafe beristirahat.

"Menyenangkan! Orang-orang disana sungguh sangat hebat!" Sehun mulai mengoceh tentang pekerjaanya selama beberapa hari terakhir. Tapi Sehun melewatkan kejadian dua hari lalu dimana ia bertemu Kai dan semuanya berjalan tidak sesuai dengan harapannya. Wajah Chanyeol mendengarkan dengan seksama, sesekali Sehun menangkap kesedihan di sorot mata Chanyeol.

"Ada apa Oppa?" Sehun bertanya, begitu ia melihat kesedihan itu semakin kentara.

"Apanya?"

"Kenapa wajahmu seperti itu?"

"Uhm. Kenapa ya? Hehehe." Chanyeol menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Bibirnya menyungginkan senyum gugup.

Keduanya terdiam. Tidak ada yang tahu harus berkata apa.

"Dulu, aku pernah berkali-kali mengikuti audisi untuk menjadi trainee di BT Ent." Chanyeol tiba-tiba bersuara, memecah kehenigan. Hanya saja tidak ada kecerian dalam nada bicaranya, tidak seperti biasa. Sehun hanya diam, menunggu Chanyeol untuk melanjutkan.

"Tapi aku selalu gagal. Mereka selalu menolakku karena dianggap tidak bisa memenuhi kriteria trainee yang mereka cari." Sehun mengerti bagaimana rasanya. Ia teringat ketika ia berusaha melamar pekerjaan ditempat-tempat yang lebih baik dari pada tukang cuci piring atau pembantu rumah tangga.

"Suatu saat akan ada seseorang yang melihatmu berbeda dari cara semua orang melihatmu." Sehun teringat dengan Jisoo yang memberinya kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik, dan ia berusaha menyemangati Chanyeol yang masih terlihat muram.

"Aku bisa main musik lho. Kau mau dengar?" Chanyeol berkata setelah keheningan yang cukup lama.

"Tentu saja."

"Datang ke Muse Cafe dekat sini besok malam. Aku biasa bermain musik setiap Selasa dan Jum'at malam."

"Sungguh? Kau pasti hebat sekali bisa tampil di cafe seperti itu!"

"Maka datang lah untuk menilai sehebat apa diriku." Senyum lebar Chanyeol kembali, menunjukkan ia sudah kembali menjadi Park Chanyeol si happy virus. "Hey istirahat makan siangmu sudah hampir selesai, kau tidak kembali?" Sehun mengecek jam tangan Mickey-nya, ia terlonjak dan langsung berpamitan dengan Chanyeol.

"Sehun! Sehun!" Suara Song Minhyuk yang sudah ia hapal—karena menurut Sehun suaranya sangat seksi jadi ia langsung mengetahuinya—menghentikan langkah Sehun.

"Ya? Ada apa Sunbae?" Sehun membungkuk sopan ketika Minhyuk sudah berada didepannya.

"Aku ingin minta tolong kepadamu sesuatu yang cukup sulit." Minhyuk berkata serius. Sehun jadi tegang, jangan bilang ia diminta untuk membersihkan sepatu lagi.

"M-minta tolong apa Sunbae?" Sehun bertanya gugup.

"Tolong gantikan aku mengurus keperluan Kai sampai konsernya selesai. Cuma sampai lusa. Bagaimana?" Sehun terperangah. Entah ini adalah berkah atau kesialan. Menjadi manager Kai selama dua hari kedepan? Tentu saja ia mau, tapi begitu mengingat kejadian dua hari lalu saat insiden saus tteokbokki membuat Sehun sedikit ragu. Ia jadi teringat betapa panjangnya malam itu untuknya…

"Kau tidak boleh pulang sampai sepatu ini benar-benar bersih!" Kai memerintah.

"Apa? T-tapi… Baiklah, aku akan membersihkan sepatu ini. Tapi kau juga tidak boleh pulang. Ini kan juga salahmu!"

"Salahku? Bagaimana bisa ini salahku?" Kai masih saja keras kepala. Sehun hanya memberengut, ia lelah berdebat dengan Kai yang keras kepala. Sehun hanya menyambar sepatu boots itu dan mulai membersihkannya. Setelah beberapa lama ruangan itu masih saja sepi, Sehun masih berusaha membersihkan sepatu ditangannya dengan sangat teliti, sedangkan Kai—yang entah kenapa juga memutuskan untuk tidak pulang—memainkan ponselnya dalam diam.

"Kenapa kau sepertinya sangat takut pada Minhyuk Sunbae?" Sehun membuka suara, tidak tahan dengan keheningan yang menyelimuti ruangan. Dulu Kyungsoo selalu membuat suasana selalu berisik jadi sekarang Sehun jadi tidak tahan jika suasana terlalu sepi.

"Minhyuk Hyung itu seseorang yang sangat keras, dia tidak suka dengan orang yang tidak disiplin."

"Kau sering dimarahi ya?" Sehun merasa simpati pada Kai.

"Lumayan, tapi itu membuat karirku jadi melesat." Sehun mengangguk, memang butuh pengorbanan untuk bisa mencapai target yang besar.

"Sudah lama Minhyuk Sunbae jadi managermu?"

"Uhm, dia sudah menjadi managerku sejak aku debut."

"Wah, Minhyuk Sunbae berarti orang yang sangat sabar ya, bisa menghadapi beruang manja seperti kau lebih dari lima tahun.." Tidak sadar, Sehun mengucapkan kalimat sadisnya lagi.

"Ya! Kau sepertinya bukan hanya bodoh tapi juga suka memicu pertengkaran ya!" Sehun menyesali perkataannya,dan setelah itu perdebatan kembali dimulai kembali.

"A-apa? Sunbae, kau tahu kan aku dan Kai itu jarang bisa rukun. Bagaimana mungkin dia mau mendengarkanku nanti?" Sehun mengutarakan kecemasannya. Sehun memang ingin sekali menjadi manager sementara Kai, tapi pertengkaran-pertengkarannya dengan Kai kemungkinan besar akan mempengaruhi persiapan konser, dan Sehun tidak mau konsentrasi Kai pecah karena terlalu banyak berdebat dengan Sehun.

"Kai akan mendengarkanmu. Tenang saja." Minhyuk menenangkan Sehun, kini mereka berbicara sambil berjalan kembali kedalam gedung BT Ent.

"Mana mungkin? Dia selalu memanggilku bodoh dan ka—"

"Kau aku pilih bukan karena alasan. Kau berani berkata sejujurnya kepada Kai, dan itu sudah menjadi awal yang baik. Tidak banyak orang yang bisa mengatur Kai, tapi aku yakin kau bisa. Oke? Aku juga sudah meminta ijin dari Jisoo. Temui dia diruang 912 jam enam sore nanti." Minhyuk mempercepat langkahnya ketika ponselnya berdering, ia melambaikan tangannya kearah Sehun yang masih terkejut dengan tugas barunya. Sebenarnya dia meminta tolong atau memaksa sih? Aku kan belum mengiyakan, Sehun membatin.

—-

Pukul lima sore. Sehun sudah berada di ruang 912.

Kenapa sih setiap aku masuk ruangan ini, aku langsung pusing? Ruangan ini sangat berantakan sampai bisa membuat Bibi Joonmyun pingsan jika ia masuk kedalam sini. Apa Kai tidak pernah membersihkannya? Atau paling tidak memanggil petugas kebersihan jika ia tidak sempat.

Sifat Sehun yang selalu rapi membuatnya tidak bisa diam begitu saja saat melihat ruangan Kai yang selalu berantakan. Lelah memang Sehun hari itu, tapi ia tidak bisa diam saja. Sehun mulai mengumpulkan sampak yang berserakan, lalu mengambil baju-baju yang tergeletak diberbagai sudut ruangan dan juga mengelap rak-rak aksesori yang berlapis debu.

Sehun mengamati jika sebagian besar sampah disini adalah gelas plastik bubble tea dari kedai yang sama dan baju-bajunya kebanyakan berupa kaus-kaus dan jaket—yang semuanya sudah sangat bau, huek. Sehun juga mendapati bahwa Kai menyimpan surat-surat dari penggemarnya didalam sebuah laci besar, ternyata Kai memang orang yang sangat menghargai fansnya. Sebuah laci penuh buku-buku dan juga komik—Sehun tidak sengaja melihat beberapa majalah dewasa diselipkan diantaranya.

"Ya? Kau gila? Ini kaus kaki kesayanganku! Kembalikan sini! Apa kau adalah sasaeng yang menyamar hah?" Sehun terlonjak, ia terlalu serius memperhatikan barang-barang milik Kai hingga tidak mendengar kedatangan pemiliknya. Sehun memandang kaus kaki coklat yang ia pegang dan sepertinya sudah berbulan-bulan tidak dicuci.

"Apa? Sasaeng? Aku bahkan bukan fan-mu! Ini aku kembalikan kaos kaki beruang bulukmu!" Tuh kan, Sehun selalu memuja Kai ketika mereka sedang tidak bersama, namun begitu keduanya bertemu Sehun seolah berubah menjadi musuh bebuyutan Kai.

"Tentu saja kau bukan fansku, seleramu pasti rendahan." Kai membalas sengit.

"Sudahlah, aku disini karena menggantikan Minhyuk Sunbae. Aku yang mengurus kebutuhanmu selama dua hari kedepan." Sehun tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka. Sekarang bukan saatnya untuk berdebat.

"Ah iya. Minhyuk Hyung mengatakannya padaku." Kai menjawab santai.

"Benarkah? Kau mengiyakannya?" Sehun kaget. Sepertinya Kai santai sekali mengetahui orang yang selalu bertengkar dengannya menjadi managernya.

"Kau mau aku bagaimana? Minhyuk Hyung memang sedang sangat sibuk."

"Aku pikir kau tidak menyukaiku, jadi kau pasti akan marah-marah saat aku bilang aku menggantikan Minhyuk Sunbae." Sehun berkata jujur. Pertengkarannya dengan Kai mestinya merupakan sebuah tanda jika Kai tidak menyukainya, tapi kenapa Kai sepertinya oke-oke saja?

"Siapa bilang aku menyukaimu? Aku malah sangaaaat membencimu, jadi sekarang aku bisa menyuruh-nyuruhmu semauku." Kai menampilkan senyum mengesalkan.

"Ya! Kau ternyata bukan hanya beruang mati rasa! Kau adalah beruang licik! Aku akan mengadu pada Minhyuk Sunbae!" Sehun menyesal sudah berpikir jika Kai mungkin menyukainya. Ternyata Kai adalah orang yang sangat mengesalkan.

"Bebek tukang ngadu!" Ejekan Kai semakin memancing emosi Sehun. Gadis manis berkulit seputih susu itu mengerucutkan bibirnya. Dia tidak bisa mengadu pada Minhyuk, setidaknya tidak sekarang.

"Baiklah. Tugas pertamamu adalah belikan aku makanan. Aku ingin makan jjajangmyeon, belikan aku dua porsi." Kai mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit lalu ia berikan kepada Sehun.

"Akan kuracuni jjajangmyeonmu!" Sehun melangkah keluar ruangan sambil menghentak-hentakkan langkahnya, meninggalkan Kai yang tertawa penuh kemenangan.

Kai memandangi pintu yang baru saja tertutup dengan tertawa. Entah berapa lama sejak ia merasa sesenang ini. Kai senang dengan pekerjaannya, Kai senang ketika ia sedang bersama penggemar, Kai senang bisa berjalan-jalan ke banyak tempat, tapi rasa senang yang seperti ini sudah lama tidak ia rasakan. Rasa senang diperlakukan sebagai seorang manusia—bukan sebagai artis kelas internasional, rasa senang karena ia merasa menemukan teman yang tidak hanya melihatnya sebagai Kai yang tampan dan terkenal tapi juga memandangnya sebagai Kai yang manja dan kekanakan.

Sehun kembali ke ruang 912 dan mendapati ruangan tersebut kosong, namun ia menemukan sebuah post-it dari Kai yang mengatakan jika ia berada diruang latihan. Sehun membaca kertas kecil itu berulang kali, bagaimana huruf-huruf yang ditulis Kai terlalu berdempetan dan nyaris tidak terbaca. Sehun memasukkan sobekan post-it ditangannya kedalam sakunya, ia ingin menyimpannya sebagai kenang-kenangan dari idol favoritnya. Kalau dia memang favoritmu kenapa kau selalu bertengkar dengannya? Sehun juga tidak mengerti.

Satu jam. Sehun sudah membersihkan seluruh ruangan.

Dua jam. Sehun membaca hampir setengah dari sebuah buku yang tergeletak diatas meja.

Klek.

"Kau belum pulang?" Kai menatap Sehun yang setengah tertidur, setengah membaca buku di sofa panjang mewahnya.

"Aku harus mengantarmu pulang karena Minhyuk Sunbae tidak ingin artisnya keluyuran." Sehun menjawab sarkasme. Kai menghela nafas, ia sebenarnya kasihan dengan Sehun yang terlalu penurut. Belum lagi ia baru saja menyelesaikan latihannya pukul sepuluh malam, dan itu berarti Sehun akan pulang sendirian sangat malam nanti.

"Baiklah, ayo pulang."

Kai dan Sehun sama-sama terdiam dalam van BT Ent yang disediakan untuk artis-artisnya, keduanya lelah. Sehun lelah setelah seharian bekerja dan Kai lelah karena baru saja ia selesai latihan. Sepertinya kedua orang itu tidak ada tenaga untuk berdebat. Hanyak supir pribadi Kai yang sesekali bergumam pada dirinya sendiri tentang pengguna jalan yang semakin hari semakin tidak teratur.

"Ini kartu kreditmu." Sehun teringat dengan kartu yang diberikan padanya beberapa jam yang lalu. Ia merasa harus segera mengembalikan kartu tersebut, bisa bahaya kalu dia bawa terlalu lama lalu hilang.

"Letakkan saja di-di-di…terserah kau letakkan dimana saja. Kau bawa saja dulu." Kai berkata sambil memperhatikan lampu-lampu di Kota Seoul yang tertata cantik.

"Dasar beruang pemalas. Apa sih susahnya menyimpan ini dulu?" Sehun kesal dengan Kai yang tidak menghargai uang yang ia miliki, sedangkan Sehun hanya sarapan tadi pagi karena tidak punya cukup uang untuk membeli makan siang ataupun makan malam.

"Beruang pemalas? Bisa-bisanya bebek bodoh seperti kau mengataiku!" Sepertinya author salah, mereka tetap memiliki tenaga untuk berdebat. Supir pribadi Kai bahkan sampai beberapa kali nyaris menabrak mobil didepannya karena perhatiannya teralihkan oleh perdebatan Kai dan Sehun dibelakangnya.

Perdebatan mereka terhenti ketika mobil memasuki basement apartemen Kai. Dalam hati Sehun mengagumi gedung tinggi tersebut, terlihat sangat mewah dan berkelas. Dibandingkan dengan rumah kecil peninggalan ayahnya, pasti apartemen Kai sepuluh kali lipat lebih mahal. Sehun merasa sedikit minder melihat kenyataan bahwa Kai adalah orang yang sangat jauh dari levelnya, apalagi dengan sikap Kai yang tidak peduli dengan kartu kreditnya tadi. Pasti Kai memiliki kekayaan yang mampu membelikan Sehun ratusan bahkan ratusan ribu ayam jago seperti miliknya dirumah.

"Uhm, baiklah. Naik dan langsung masuk apartemenmu, jangan keluyuran. Aku akan pulang dulu sebelum hujan turun." Sehun merapikan barang-barangnya, mengecek apakah ada yang tertinggal didalam mobil. Sepanjang perjalanan tadi langit memang sesekali mengeluarkan kilat dan guntur, tapi hujan belum turun. Sehun ingin segera kembali sebelum hujan tiba.

"Aku rasa sekarang sudah hujan." Kai bergumam pelan.

"Huh?" Sehun tidak mendengar ucapan yang keluar dari bibir Kai.

"Se-sepertinya sekarang sudah hujan." Kai mengeluarkan ponselnya dan melihat keadaan cuaca di Kota Seoul, dan ternyata benar. Hujan deras sudah mengguyur seluruh Seoul. "Tuh kan apa aku bilang, diluar sudah hujan!" Kai terdengar terlalu bersemangat hanya karena hujan turun. Aneh.

"Benarkah? Bagaimana aku akan pulang?" Sehun berucap sedih. Dia benar-benar ingin beristirahat. Hari ini dia sudah cukup lelah.

"Uhmm… Ba-bagaiman—"

"Apa aku boleh minta diantar dengan van ini?" Sehun bertanya memelas.

"Apa? Tentu saja tidak. Ini kan van perusahaan!"

"Ta-tapi aku rasa bo-bol—" Supir yang dari tadi hanya diam, angkat bicara begitu mendengar jawaban Kai yang sepertinya tidak familiar. Bukankah boleh-boleh saja ya?

"Itu tidak boleh!" Kai menegaskan jawabannya.

"Tidak boleh ya? Aku akan naik taksi saja kalau begitu." Sehun berkata lemah, memikirkan jumlah uangnya yang sudah sangat sedikit. Ia sendiri tidak yakin apakah uangnya cukup untuk membayar taksi. Sedihnya. Belum makan, kelelahan, terjebak hujan pula.

"Kau gila? Kau tidak tahu betapa banyaknya kejadian kriminal belakangan ini?"

"Lalu aku harus bagaimana?" Sehun menatap Kai dengan wajah memelas, matanya menunjukkan sorot yang sangat menggemaskan. Membuat Kai sejenak melupakan bahwa gadis didepannya ini sudah membuatnya banyak marah-marah beberapa hari terakhir.

"Kau tunggu saja sampai reda."

"Hah? Hujannya bisa berjam-jam!"

"Sudahlah ayo turun dulu. Biar mobil ini dikembalikan ke perusahaan." Kai membuka pintunya terburu-buru. Senyum mengembang dari bibirnya, sepertinya Kai masih ingin mengerjai manager sementaranya ini.

"Menurutku, kau tunggu saja diapartemenku. Sekalian kau bisa merapikan apartemenku. Hahahahahaha." Jadi itu sebabnya. Kai tertawa terbahak-bahak melihat wajai Sehun yang langsung memerah menahan kesal. Wajah putih Sehun sangat menggemaskan ketika sedang kesal, setidaknya itu yang ada dibenak Kai.

"Kau ingin aku apa? Membersihkan apartemenmu? Kau ini manusia atau bukan sih?" Sehun marah-marah saat Kai mendorongnya untuk masuk ke dalam lift. Apalagi wajah Kai yang terus-terusan tersenyum menyebalkan, membuat Sehun ingin meninjunya.

"Sudahlah masuk saja. Cepat. Aku sedang baik hati mau memberimu tempat berteduh." Kai membukakan pintu apartemennya yang bernomor 1412. "Lagi pula kau itu managerku kan?" Sehun mengentakkan kakinya masuk kedalam apartemen 1412, matanya menatap Kai seolah ingin membunuhnya.

Sehun ternganga ketika melihat apartemen Kai yang mewah dan memiliki pemandangan malam yang sangat indah, namun alasan utama keterkejutan Sehun adalah betapa bersihnya apartemen itu. Apartemen itu sangat rapi, berbeda jauh dengan ruangan Kai di BT Ent. Apa Kai mengerjaiku lagi? Jangan-jangan…dia ingin melakukan hal yang tidak-tidak padaku. Tidaaaakkk, Kai memang sedikit mengesalkan tapi aku yakin dia bukan orang yang seperti itu!, pikiran Sehun sudah kemana-mana. Sehun merekatkan jaket tubuhnya dan berjalan hati-hati, tidak mau terlalu dekat dengan Kai.

"Kenapa wajahmu begitu? Apa kau baru saja melihat hantu?" Kai mengerutkan keningnya melihat sikap Sehun yang tiba-tiba menjadi waspada.

"Ti-tidak. Mana yang harus aku bersihkan? Aku harus segera pulang sebelum tengah malam." Sehun buru-buru mengalihkan pembicaraan, ia tidak mau Kai tahu jika pikirannya sudah membayangkan hal plus-plus.

"Kau seperti Cinderella saja. Kau akan berubah jadi bebek sungguhan setelah lewat tengah malam?" Ugh, kenapa sih orang ini selalu ada bahan untuk mengataiku, Sehun membatin.

"Sudahlah, mana yang harus ak—-" Kriuuukk, bunyi keras dari perut Sehun terdengar jelas. Wajah Sehun sedikit memerah, ia ingat jika ia belum makan.

"Itu tumpukan buku itu yang dirapikan." Kai mengindahkan bunyi perut Sehun dan menunjuk setumpuk kecil buku diatas meja ruang tengah.

"Hanya itu? Kau kan bisa melakukannya sendiri!"

"Aku malas."

"Ugh!"

Lima menit kemudian Sehun sudah menyelesaikan tugasnya, ia mencari Kai dan menemukannya diruang makan sedang membuka jjajangmyeon yang Sehun beli. Dua porsi jjajangmyeon didepannya membuat perut Sehun semakin bergolak.

"Makanlah dulu, aku tak mau disalahkan jika kau mati kelaparan." Kai menunjuk jjajangmyeon yang sudah ia buka. Kai sendiri duduk dan mulai membuka jjajangmyeon dihadapannya. Sehun kaget dengan tawaran Kai, ia belum juga duduk.

"Kenapa? Kau pikir aku bisa menghabiskan dua jjajangmyeon? Apa kau tersentuh karena aku membelikanmu jjajangmyeon? Kau tidak bisa mencampur bumbunya ya? Kau benar-benar bebek bodoh ya." Oceh Kai. Kai langsung menyambar mangkuk jjajangmyeon Sehun dan mengaduknya. Sehun terlalu terkejut dengan sikap Kai yang ternyata cukup baik sehingga tidak merespon panggilan Kai barusan. Kai membelikannya jjajangmyeon, ternyata Kai peduli dengan Sehun, ternyata ia tidak terlalu mengesalkan. Hati Sehun hangat, Kai tidaklah membencinya. Kai bahkan berpikir untuk membelikan Sehun makan malam.

"Duduklah." Kai menunjuk kursi kosong didepannya. Sehun duduk perlahan.

"Cepat makan. Apa aku harus suapi?" Kai bertanya, dan pertanyaan itu membuat pipi Sehun memerah. Kepala Sehun langsung dipenuhi dengan bayangan ia disuapi oleh Kai, tidak sadar ia jadi senyum-senyum sendiri.

"Cepat makan!" Perintah Kai lagi.

"Kenapa sih kau ini buru-buru sekali?" Sehun bertanya heran.

"Aku ingin mengecek kau benar-benar meracuni jjajangmyeon ini atau tidak." Jawab Kai mengesalkan. Sehun langsung memasukkan jjajangmyeon kedalam mulutnya sambil menatap Kai sengit.

"Ini sudah! Aku tidak mati kan?" Ucap Sehun dengan mulut penuh. Kai mulai makan dengan wajah puas, senang bisa membuat gadis didepannya terus mengomel. Selama beberapa menit keduanya diam, menikmati jjajangmyeon dihadapan mereka.

Pikiran Sehun melayang kembali ke waktu-waktu SMA-nya dulu, bagaimana dia selalu berharap agar bisa bertemu dengan Kai, dia sering numpang menonton video-video perform Kai di komputer salah seorang temannya, dan Sehun dulu sering berdiri didepan toko buku dan majalah untuk memandangi poster Kai yang mereka tempel. Sehun masih tidak percaya beberapa bulan kemudian ia sedang makan jjajangmyeon di apartemen Kai. Sepertinya dulu bisa bertemu dengan Kai saja sudah merupakan impian terbesar Sehun, tapi sekarang ia berhadapan dengan Kai, bisa mencium wangi parfum yang ia gunakan, duduk di ruang makannya, menatap wajah luar biasa tampan Kai. Sehun tidak ingin ia sungguhan jatuh hati pada Kai, karena Kai tidak dalam jangkauannya. Kai berada di level yang jauh diatasnya.

"Maaf, aku merusak sepatumu." Sehun berkata pelan. Kai memang sedikit menyebalkan, tapi ia juga bisa sangat baik, seperti sekarang, membelikan Sehun makan dan membiarkan Sehun menunggu hujan reda didalam ruangan yang nyaman.

"Kau sadar juga ya kalau kau salah."

Sehun diam saja mendengar komentar Kai. Jika biasanya ia akan langsung membalasnya dengan kata-kata yang sama pedasnya, kali ini Sehun hanya terdiam. Sehun ingin memulai hubungannya kembali dengan Kai sebelum terlambat. Melihat Sehun yang tidak marah-marah membuat Kai sadar jika Sehun sungguhan minta maaf.

"Tidak apa-apa. Aku bisa membelinya lagi kok, sepatunya belum ada tanda-tanda akan rusak kok." Sehun tersenyum mendengar kalimat Kai, ternyata Kai bisa juga berkata baik padanya. Keduanya diam lagi.

"Kenapa sih kau selalu ketus padaku?" Sehun bertanya, ia teringat bagaimana Kai langsung meneriakinya dipertemuan pertama mereka.

"Karena kau merusak sepatuku."

"Sungguh hanya itu? Kalau memang hanya itu kau sungguh berlebihan sekali. Baru saja kau bilang kalau sepatunya tidak apa-apa."

"Kau tahu? Parkiran basement di perusahaan?" Kai bertanya, Sehun mengangguk. Tidak mengerti arah pembicaraan mereka.

"Itu adalah tempat favoritku, dan kau menggunakannya untuk pacaran disaat aku membutuhkannya." Kai teringat dengan kejadian beberapa hari lalu, pertama kali ia melihat wajah Sehun. Basement. Tempat favoritnya untuk bersembunyi, dan ia menemukan orang lain menempatinya. Padahal tempat itu bukanlah tempat yang mudah untuk ditemukan.

"Aku? Pacaran? Dengan siapa?" Sehun tidak ingat ia punya pacar. Tring. Chanyeol?

"Maksudmu Chanyeol Oppa? Dia bukan pacarku astaga." Sehun memutar bola matanya, ia ingat dengan makan siangnya dengan Chanyeol beberapa hari yang lalu.

"Lalu kenapa berduaan?" Sehun akhirnya menceritakan pengalamannya saat pertama kali datang ke Seoul. Bagaimana ponselnya hilang, nenek merah muda dan Chanyeol. Kai mengangguk-angguk paham.

"Tapi, apa yang kau lakukan di basement?" Sehun bertanya penasaran. Apa enaknya basement untuk dijadikan tempat favorit?

"Uhm i-itu a-aku…" Kai tidak bisa menjawab pertanyaan Sehun

"Kau menyembunyikan majalah porno ya disana?" Sehun bertanya menggoda.

"Ya! Aku ini laki-laki suci tau! Mana mungkin aku punya majalah seperti itu!" Kai mengelak, wajahnya memerah. Tidak menyangka Sehun bisa berbicara cukup vulgar juga.

"Suci apanya? Aku menemukan majalah seperti itu dilaci ruanganmu. Jangan berbohong. Hahahahah." Sehun tertawa mengetahui Kai sedang berbohong, dan hal itu membuat wajah Kai semakin merah, kali ini karena malu.

"Kan wajar, aku kan cowok normal." Kai mencoba membela diri.

"Ih, Kai ternyata mesum!" Sehun semakin gencar menggoda Kai. Gadis itu tertawa senang, akhirnya ia bisa juga membalas Kai. Sehun akan menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Malam semakin larut dan hujan belum juga reda. Sehun dan Kai masih diruang makan, keduanya masih saling menghina tapi kali ini mereka tidak lagi seperti Tom dan Jerry, mereka lebih seperti kakak dan adik. Sehun senang akhirnya hubungannya dengan Kai perlahan membaik, dan Kai juga bahagia bisa menghabiskan sisa harinya tertawa dengan seseorang yang ia anggap teman. Jantung Sehun terus berdegup terlalu kencang ketika ia melihat Kai tertawa, sangat tampan. Kai jauh lebih tampan ketika ia hanya menggunakan kaus santai dan celana olahraga seperti ini. Kai jauh lebih tampan saat ini dibandingkan dengan seluruh foto-fotonya dengan pakaian designer yang pernah Sehun lihat. Kai terlihat jauh lebih tampan ketika ia sedang tertawa lepas seperti saat ini.

Selamat malam Kota Seoul, tolong jangan redakan hujan derasnya hingga esok pagi. Tolong biarkan Sehun bersama dengan orang yang sangat ia kagumi lebih lama, tolong biarkan Kai menghabiskan waktunya dengan teman barunya lebih lama. Apartemen Kai belum pernah sehangat ini sejak Kai membelinya beberapa tahun lalu, hatinya belum pernah sehangat ini ditengah dinginnya hujan yang mengguyur Kota Seoul.

To Be Continue

Chapter ini panjang banget ._.

Semoga suka ya hehehe, maaf kalo chapter ini agak membosankan.

Author tunggu review-nya!