Zassou no Uta (Nyanyian Rumput Liar) © Eternal Dream Chowz

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing: Sasuke U. x Hinata H.

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Rate: T

Warning: Typo(s), Out Of Character, Alternate Universe! School, Rush Plot

.

.

Chapter 3. Look At Me

.

.

"Kita bertemu lagi, Hyuuga Hinata …"

Hinata membeku di tempat.

Mungkin kalau diperhatikan baik-baik, wajah Hinata sepucat zombie, hanya saja tidak ada darah amis ataupun luka-luka bernanah menghiasi kulitnya sebagaimana zombie aslinya. Hinata tidak mau mendongak, serius! Takut diiya-iyain apalagi masih ada trauma kemarin. Sasuke yang dasarnya benci diabaikan makin iseng. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga Hinata lalu meniupnya pelan.

"Kyaa! A-apa yang kau lakukan?!" Hinata mengayun-ayun tasnya dengan garang. Sasuke terkekeh, menghindari semua serangan Hinata yang lemah.

Bukannya menjauh, Sasuke malah menatap Hinata lekat-lekat.

"Hm, penampilanmu tidak buruk juga kalau begini."

"A-apa?"

"Nande mo nai. Kau. Tunggu di sini."

Hinata bukannya tidak mau lari, tapi Sasuke jelas-jelas menghalangi pintu keluar untuk mengambil sepatunya yang dipakai sebagai siasat membuat Hinata keluar dari tempat persembunyian. Hinata masih asyik bergumul dalam pikirannya.

Sasuke kembali setelah mengenakan sepatunya dalam tempo singkat.

"Hei."

"H-ha'i!" Hinata sangat terkejut saat Sasuke menepuk pundaknya. Tapi ia segera menepis tangan Sasuke.

"J-jangan sentuh-sentuh." Hinata mengayunkan tasnya dengan sebal.

"Tidak usah galak begitu. Aku tidak berminat mengusilimu." Sasuke melirik jam tangannya.

Tidak minat katamu? Lalu yang semalam itu apa? Apa maksudnya?!

Hinata mengerucutkan bibirnya sebal. Langkahnya terdengar mengetuk-ngetuk lantai batu yang disusun memanjang. Tangannya dicekal namun tidak terasa sakit.

"Kau mau ke mana?" tanya pemuda menyebalkan itu.

"Pulang. Memangnya ada apalagi? Lepaskan aku." Hinata memicingkan matanya, sebal akut pada manusia pantat ayam di depannya.

"Hoo, sudah tidak gagap lagi menjawabku ya?"

Sasuke menyeringai. Hinata tidak suka seringai itu. Pertanda bahaya.

"Memangnya kenapa?"

Sasuke menyeringai.

"Artinya kau sudah mulai terbiasa padaku."

Ya, terbiasa pada sikap menyebalkanmu.

"Hei, k-kita tidak akrab, dan tidak akan pernah! Aku bahkan belum lupa kejadian semalam, jadi—"

Keduanya langsung terdiam.

"Kau … masih ingat?"

Hinata masih mengeluarkan semua uneg-unegnya walaupun kalimat pertamanya telah dipotong Sasuke, "Tentu saja—"

Hinata spontan menutup mulut. Wajahnya memerah. Aduh, kenapa Hinata malah membeberkan semuanya?

Sasuke menggaruk tengkuknya,"Tidak usah diingat lagi."

Hinata mendelik.

Tidak usah bagaimana? Sudah terukir di dalam hati lho, Sasuke.

"Minta maaf dulu, baru kulupakan."

Hinata menggembungkan pipinya kesal. Sasuke mendecih. Minta maaf itu mengurangi setengah dari jumlah harga diri seorang Uchiha lho, Hinata.

"Kalau minta maaf, mungkin tidak, karena aku tidak menyesal."

"A-apa?!"

"Jangan bahas lagi. Kau. Ikut aku."

Sasuke menyeret Hinata yang meronta-ronta karena kaget.

"H-hei! Kau mau membawaku ke mana?"

"Tenang saja. Atau kau mau kucium lagi, huh?"

Wajah Hinata kontan memerah pekat.

"T-tidak!"

"Bagus. Diamlah."

.

.

.

Hinata diseret menuju mobil berwarna hitam. Sasuke mendorong Hinata masuk, kemudian ikut menjatuhkan dirinya di jok belakang dan menutup pintu mobil.

"Kakashi, antar kami ke pusat kota."

"Baik, Tuan Muda."

"H-hei, apa-apaan ini?! Penculikan? Biarkan aku pulang!"

"Aku pikir kau gadis pendiam, tolong jangan berisik."

"K-kau pikir aku bisa santai dibawa seperti ini? P-paman tolong hentikan mobilnya," Hinata memprotes dengan suara hampir mencicit. Paman yang disebut Hinata, Kakashi, hanya tersenyum di balik maskernya.

"Maaf, Nona. Tolong katakan itu pada Sasuke-sama."

Hinata akhirnya menyerah. Kalau nanti benar-benar terjadi sesuatu, Hinata tak akan segan menghubungi Hiashi dan Neji. Serius!

Memikirkan itu, Hinata kembali berwajah sedih.

Apa, Hiashi dan Neji masih akan mempedulikannya?

Sasuke yang sedari tadi menatap ekspresi Hinata mengernyitkan dahi. Apa yang terjadi dengan gadis ini?

Sasuke menyentil jidat Hinata dari samping.

"A-akh!"

"Jangan berwajah seperti itu di sampingku."

"A-apa-apaan?" Hinata mengusap jidatnya yang terasa perih.

"Jangan berwajah seperti ingin menangis di hadapanku."

"D-dasar jahat. Kalau penggemarmu tahu sikapmu seperti ini, mereka pasti akan menjadi anti fans-mu!"

"Biar saja, aku tidak peduli."

Hinata mengerucutkan bibirnya, "Dasar menyebalkan."

Sasuke terkekeh melihat wajah Hinata, "Setidaknya itu lebih baik."

Ya, Sasuke tidak memaksa Hinata untuk bercerita. Sasuke akan menunggu. Menunggu sampai gadis itu membuka diri padanya, tapi Sasuke tidak akan membiarkan gadis itu diambil oleh orang lain. Oh, mengingat-ingat soal ini membuat Sasuke kepikiran juga.

'I-itu … ma-maaf, tapi aku harus menolak. K-karena aku suka pada orang lain,'

Siapa orang yang dimaksudkan Hinata kemarin?

"Hei, Hinata, tentang orang yang kau suka—"

"Tuan Muda, kita sudah sampai."

Sialan kau Kakashi, padahal Sasuke sudah berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya frontal.

Hinata menoleh, "Apa? Aku tidak dengar."

Sasuke keki luarbiasa. Ia memelototi Kakashi yang malah bersiul tenang.

"Tidak ada. Ayo turun."

"Baiklah."

.

.

.

"T-tunggu dulu, Sasuke! Apa-apaan ini?!"

"Tenang saja, mereka tak akan menyakitimu. Aku belum rela dicerca karena membawa gadis buluk bersamaku."

"Hei! L-lepaskan aku!"

"Tenanglah, Nona. Hanya dua puluh menit saja," seorang manusia androgini menggiring Hinata yang mengayun-ayunkan tangannya dengan garang, nyaris mencakar wajah yang dipoles kosmetik berkualitas tinggi milik Orochimaru—sang pemilik butik ternama di kota—.

Hinata meronta tak terima setelah sepuluh menit diajak masuk di bilik luas dengan dekorasi indah dengan plang bertuliskan tinta emas, Oro-oro Cutie Fashions, oleh Sasuke dengan alasan absurd. Hinata digiring menuju ruang bersekat tirai ungu yang membatasi ruangan berisi pakaian mahal dengan bilik kecil berisi cermin besar dan gantungan pakaian.

Singkat cerita, Hinata digeret menuju butik.

Persis seperti perkataan Orochimaru, Hinata keluar dari bilik mini dengan penampilan berbeda. Sangat berbeda malah. Sasuke yang masih membaca beberapa majalah sambil duduk santai di sofa bermotif kulit harimau melirik singkat dan bersiul.

"K-kau … keterlaluan," Hinata nyaris kehilangan sopan santun untuk sekadar memaki Sasuke atas hal yang ia alami. Ia memeluk tubuhnya dengan defensif. Disentuh-sentuh makhluk androgini bukan pilihan terbaik yang bisa kau dapatkan di butik terkenal, nak.

"Kenapa? Hasilnya tidak buruk kan?"

Hinata merengut. Risih, iya. Rambutnya digelung rapi menjadi gelombang halus di bagian bawah, disematkan pita simple di bagian belakang. Wajahnya tidak dipoles lagi, sudah seperti berlian mentah yang disentuh pengrajin menjadi berlian mahal, kata Orochimaru tadi. Pakaiannya diganti secara paksa, tolong garisbawahi 'secara paksa'. Sasuke saja nyaris tertawa karena mendengar suara jeritan Hinata di dalam sana, entah apa yang terjadi, yang jelas Hinata berjuang mati-matian agar pakaiannya tidak direnggut paksa oleh tangan-tangan profesional.

Kini pakaian kasualnya telah berganti dengan model mini dress simple berwarna putih gading yang tidak terlalu terbuka. Dilengkapi cardigan soft pink dan heels dengan hak setinggi empat senti yang membuat penampilannya persis seperti boneka kesukaan anak perempuan.

"Apa maksudmu melakukan ini padaku?"

"Hn? Menarik bukan?"

"Aku bukan mainan—" ucapan Hinata terpotong saat matanya menangkap sosok pemuda berkulit tan yang tengah berjalan di luar sana. Pemuda itu bersama seorang gadis. Hinata menatap mereka lekat-lekat. Sepertinya ia kenal. Tetapi gadis itu memakai topi sehingga Hinata tidak bisa melihat dengan jelas.

"Naruto-kun?" ucapnya dengan suara kecil.

Sasuke mendecih. Tahu jelas apa yang diperhatikan gadis itu di luar sana. Ia berjalan mendekati Hinata. Menepuk wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Gadis itu adalah miliknya. Hinata terlonjak lantas menatap tajam Sasuke.

Pemuda itu menahan wajahnya.

"A-apa yang kau laku—"

"Lihat aku saja."

Eh? Apa katanya?

"Lihat aku, Hyuuga Hinata."

.

.

To Be Continued

.

.

A/N: Maaf baru update. Udah updatenya lama malah singkat seperti ini. Maaf ya, semuanya. Ether bukanlah orang yang pandai merangkai kata-kata sebanyak mungkin sampai lebih dari 2k, itu kekurangan Ether dalam membuat karya multi chapter. Inilah yang bisa Ether persembahkan untuk reader yang masih bersedia membaca. Terima kasih untuk Nurul Maulida yang selalu mengingatkn saya untuk update fanfic MC saya.

Terima kasih.

Salam,

Ether-chan