Aihara adalah marga atau klan terhormat dari Jepang. Mereka berkecimpung di dunia bawah sebagai Keluarga Yakuza. Anggota mereka tak hanya dari ikatan keluarga, tapi juga anak buah yang siap mati untuk Aihara. Untuk loyalitas macam itu, Jepang memang memilikinya.
Luhan adalah Kepala Keluarga Aihara di generasinya. Dia sudah biasa memimpin kelompoknya untuk menghadapi musuh-musuhnya. Mereka, anggota keluarga dan anak buahnya di Jepang, sangat menghormati Luhan. Keluarga Inti dan Non Inti Aihara pun segan terhadapnya, walau semua mengakui Luhan itu 'wanita sinting'.
Hari ini adalah hari melelahkan, bilamana pangeran mahkota naik tahta menjadi Kaisar Jepang. Parahnya, sang 'kaisar baru' berusaha menghancurkan beberapa keluarga Yakuza termasuk Aihara sendiri.
Dan malam ini, adalah kemenangan Luhan karena dia berhasil menancapkan ancaman tak main-main di istana kekaisaran Jepang. Jangan salah, Aihara adalah salah satu bagian kelam kekaisaran Jepang. Jika mau, Luhan dan orang-orang di belakangnya bisa memperburuk nama Jepang.
Luhan punya kartu AS untuk menghadapi musuh-musuhnya. Dia licik. Menyimpan seluruh kebusukan Kaisar baru itu, agar Luhan bisa menginjak kepalanya.
Lalu malam ini, semua orang-orang di belakang Luhan bersorak. Mereka merayakan keberhasilan Aihara, karena kembali aman di bawah otoritas Xi Luhan.
Jadi harap dimaklumi apabila emosi Luhan kurang bagus untuk malam ini. Selain lelah, dia juga kehabisan waktu liburan di sini.
"Aku ingin katanaku."
Itu adalah kode, bahwa semua pelayan di rumah besar Aihara harus menyiapkan 'mainan Luhan'.
"Baik, Luhan-sama."
Dua gadis pelayan sudah memakaikan Luhan jubah kebesaran putih polos, bermodel ala kimono, yang Luhan pakai untuk melampiaskan kekesalannya. Salah seorang lainnya menyerahkan katananya. Katana itu turun temurun dimiliki Kepala Keluarga Aihara. Bersarung hitam, ada motif naga perak di sana. Bisa saja Aihara memilih emas, lambang kekayaan dan kemenangan, tapi Aihara tidak terlalu menyukai emas karena bagi mereka itu kurang elegan.
"Katakan pada seluruh penjaga, malam ini aku tidak menerima tamu."
"Ha'i, Luhan-sama!" Seru dua gadis tersebut, lalu berlari berlawanan arah dengan Luhan.
Di taman belakang rumah besar Aihara, ada sekitar sepuluh manusia lusuh berdiri dan diikat di tiang kayu.
Luhan tersenyum miring, "kalian benar-benar mainan yang lucu."
Mereka semua mengigil ketakutan saat Luhan mengeluarkan katana dari sarungnya, berjalan mendekati mereka, menebas kepala salah satu di antara mereka, mencabik-cabik dan memutilasi tubuh korbannya tanpa ampun.
Luhan hanya berekspresi datar ketika berhasil membunuh manusia bergiliran. Dia tak peduli darah korbannya mengotori jubah dan wajahnya.
Mereka yang sebentar lagi akan dibunuh Luhan, berteriak memohon ampun, menangis, memberontak, mengucap tolong, melolong pilu. Luhan tersenyum miring, sudah biasa menjadi malaikat kematian hanya untuk menyalurkan 'sisi psikopatinya.
Di hadapan korban ketujuh, Luhan mengibaskan katananya di udara. Agar darah yang menempeli katana itu terlepas.
Lalu pedang terangkat, namun terhenti di ambang leher.
Luhan tertegun pada tatapan pria—calon korbannya malam ini—yang seperti ikan mati. Dia tak berteriak, menangis, atau memohon diampuni. Tapi pria itu hanya diam.
Mata lebar pria itu menatapnya.
Luhan mundur selangkah, berjalan ke korbannya yang lain dan menghabisi sisanya. Setelah itu, Luhan kembali pada pria bermata 'ikan mati' itu. Saat Luhan ada di depannya, menancapkan katananya ke tanah berumput, pria itu melebarkan mata lucunya.
"Apa kau ingin mati?" tanya kalem Luhan. Tenang, namun menghanyutkan.
Pria itu menggeleng lemah. Sayang, dia tak punya daya untuk membela diri.
Mata rusa Luhan meneliti kondisi tubuhnya. Dia terkekeh sinis, tahu keahlian anak buahnya berburu gelandangan untuk dibunuhnya.
Hanya saja gelandangan ini... Luhan menggeleng lemah tak habis pikir.
"Mau ikut denganku?"
Ketika tangan lembut Luhan mengusapkan darah korbannya ke pipi pria itu, si pemilik pipi merinding. Kelembutan tangan Luhan dan amis darah korbannya, menyatu di wajah pria kuyu tersebut. Pria itu merasa damai dan...
...ketergantungan.
"Aku.. mau," ucapnya susah payah. Luhan melebarkan senyumnya.
"Kau akan menjadi priaku mulai sekarang. Tugasmu adalah tunduk padaku dan hidupmu diatur sepenuhnya olehku. Apa kau masih mau?"
Pria itu mengangguk tanpa kata.
"Namamu, Park Chanyeol."
Mata pria itu mulai berbinar.
Luhan berbalik dan berkata,
"Aku suka nama Korea, dan itu pas untukmu."
Park Chanyeol, pria ketiga belas milik Luhan.
Mulai malam itu, Chanyeol bersumpah akan setia pada Luhan.
•••
Hingga bingar dunia infotainment, termasuk idolgrup, hanyalah kedok yang diatur oleh Kerajaan Korea Selatan. Lalu, apa guna kedok itu?
Tentu saja menutupi belang hitam berupa aktivitas dunia bawah seperti ini.
Seperti...
...Human Trafficking, misalnya?
"Apakah ada pria atau wanita yang menarik perhatianmu, Lady?
Luhan hanya menghembuskan cerutunya. Kakinya disilangkan. Alisnya naik sebelah untuk mengejek pria bertubuh tambun di sampingnya.
"Siapa kau yang duduk di sampingku? Apakah posisimu setinggi itu untuk duduk di sini?"
Pria itupun menelan ludahnya. Langsung dia merosotkan kakinya agar berlutut di kaki Luhan.
Luhan melirik arah lain tanpa minat. Dia benar-benar wanita congkak. Ratu dari segala pria haus vagina.
"Ji..jika anda berminat pada salah satu dari yang kami suguhkan, anda takkan menghancurkan bisnis kami kan?"
Luhan hanya menatap ke depan. Terdiam. Fokus pada sorak ramai pria dan wanita Konglomerat hidung belang. Bagusnya, tak ada bau-bau aneh seperti alkohol dan asap rokok. Suasana auditorium di sini tenang. Panggung di hadapan pun sangat elegan. Hanya satu yang kurang, penontonnya terlalu bernafsu dan bagi Luhan...
...mereka tak ubahnya segerombolan babi.
Yah, meski mereka semua memakai topeng dan nama samaran demi privasi.
"Mr. Frank."
"ya?"
"Aku tak suka 'wanita'. Karena kebinalan mereka terlalu murah untukku. Aku suka barang eksklusif. Perawan. Seorang gadis," Luhan tertawa sinis. "Apakah tak ada gadis lain yang bisa kau tawarkan padaku? Lihat di sana!"
Pria berpipi penuh bintik-bintik itu menoleh pada panggung.
Ada seorang gadis telanjang bulat, tubuh putih mulusnya memar-memar, dan tangan kaki dirantai. Dia disorot oleh lampu panggung yang megah serta dikelilingi tiga pria.
"Ya! Gadis kesepuluh kami ini berasal dari Asia. Tepatnya Thailand. Kemampuan bahasa Inggrisnya mumpuni. Dia berasal dari keluarga Konglomerat yang bangkrut dan akhirnya, dia dijual. Ugh, mengenaskan sekali dirimu ini, gadis kecil." ucap si pembawa acara bertopeng putih.
Gadis itu meringkuk ketakutan.
Menangis.
"Lepas...kumohon...hikss...tolong aku..."
"Oh lihat bagaimana dia menangis, tuan dan nyonya sekalian! Mata bulatnya bukankah seperti kucing lucu? Tak adakah yang mau mengoleksinya?"
Lalu respon banyak tamu bermunculan.
"Aku mau!"
"Cepat pasang harganya!"
"Oh fvck! Lihat wajahnya itu! Polos sekali..."
Luhan hanya tersenyum sinis atas provokasi si pembawa acara.
"Algojo! Mari kita buktikan betapa menyegarkannya buah ini."
Baik dia, Luhan, dan semua penonton menyaksikan bagaimana dua algojo mencekal masing-masing kaki si gadis. Ingat, gadis itu telanjang. Kakinya dipaksa terbuka lebar-lebar. Hingga terlihat alat kelaminnya merah merekah seperti mawar. Algojo ketiga berlutut di dekat vagina si gadis, jari kekarnya melebarkan bibir vagina hingga terlihat lubang dan klitorisnya.
Nyaris semua tamu langsung mendesis kagum saat vagina itu berkedut-kedut karena sentuhan si algojo.
Luhan menekan ujung rokoknya ke pipi Mr. Frank. Sayang sekali, karena dililit hutang, pria itu tak berkutik bahkan untuk mengerang kesakitan.
"Dia sudah tidak perawan. Vaginanya terlalu lebar untuk jariku yang mungil."
Desis Luhan menimbulkan gemetar di tubuh Mr. Frank.
Luhan tertawa. "Kau tidak tahu ya? Dasar bodoh!"
"Penawaran akan kami buka dari harga satu juta dolar!" Seruan pembawa acara disahut dengan belasan penawaran yang berakhir pada harga sepuluh juta dolar.
Setelah gadis itu diseret pergi, datanglah dua wanita seksi, berkostum hitam ketat, dan ada bando kelinci di rambutnya. Dua wanita itu menyeret rantai seorang pria.
"Ah, sekarang adalah seorang pria!" Seru si pembawa acara.
Luhan terpaku pada pria itu.
Kulit tubuhnya tan, seksi, dan bibir tebalnya tengah digigit.
Pria itu memandang datar tamu-tamu di kursi penonton.
Tak peduli meski dua wanita menggerayanginya untuk mengecek apakah dia impoten atau tidak.
Bahkan sulit untuk membuatnya klimaks, sampai akhirnya pembawa acara memasang harga awal.
"Kita pasang harga dua juta dolar untuk pria tahan banting ini! Kalian lihat sendiri perkasanya penis sepanjang nyaris dua puluh senti itu! Hal langka yang dimiliki pria asia apalagi dari Korea!!"
Saat itulah, ujung bibir Luhan terangkat.
"Sepuluh juta!" Seru seorang wanita berpakaian glamor, yang duduk tepat di samping Luhan. Wanita itu memakai topeng yang tak kalah elegan dengan Luhan.
Si pembawa acara bersorak heboh.
"Wooo! Penawaran yang cukup tinggi. Nah! Apakah ada yang—"
"Dua puluh juta!"
"Penawaran lebih tinggi lagi dari nyonya di ujung sana. Oke, adakah yang mau menaikkan harganya?"
Saat itulah...
...Luhan mulai mengulurkan papan angkanya.
Papan dengan nomer '07'.
"Seratus juta dolar jika aku bisa membuat pria itu klimaks."
Semua tamu terkesiap. Pria yang 'akan' dibeli Luhan hanya melebarkan matanya pada Luhan.
Itu harga yang terlalu fantastis.
Mr. Frank menyeringai setan. Dia tahu, cukup dengan satu pria dan hutangnya terbayar lunas.
"Jika pria itu tidak klimaks di tanganku, maka hutang Mr. Frank dua kali kali lipat."
Seringai Mr. Frank luntur. Berganti pelototan horor.
"Ba..baiklah, silahkan... Nyonya..." Ujar gagap pembawa acara itu.
Luhan berjalan anggun ke atas panggung.
Lampu panggung pun menyorotinya dan si pria.
Setelah berjongkok di samping pria itu, Luhan mulai merambatkan tangan halusnya dari dada hingga turun ke selangkangan si pria.
Pria itu menggeram tertahan. Penis dalam genggaman Luhan mulai panas dan terangsang. Lalu mengacung tegak dan gagah. Tanpa malu pria itu melebarkan kakinya, Luhan memiringkan kepala saat penis itu mulai klimaks di tangannya.
"Sudah kuduga, kau masih amatir dan perjaka... Heh?"
Pria itu membelalakkan mata saat akan mencapai klimaks. Dirasa benar-benar klimaks di hadapan puluhan tamu, Luhan tanpa malu mengoleskan tangannya pada sperma itu dan mengeluskannya ke pipi si pria tan.
"Namamu... Kim Jongin."
Luhan bangkit berdiri hingga pria tan itu menengadah ke padanya.
Setelah itu, Luhan berbalik sambil berujar,
"Nikmati hari-harimu bersamaku, Jonginnie..."
.
.
.
.
.
HUNHAN (GS)
TYPO(s), GS FOR UKE, ABAL-ABAL
NOTE:
Ff ini tuh berlatar mafia dan kerajaan. Jadi, meski latarnya adalah negara dan kota di kenyataan, sistematikanya nanti sedikit dikarang indah.
Guest Star :
Oh Luhan (Luhan's big brother)—from FF Poisonous Love
.
.
.
.
.
Three : My Devil is Exclusive
"Menjadikanmu budak? Terserah diriku mau kuapakan dirimu! Kau tak lebih dari kucing kecil yang akan kupelihara. Bersyukur selama ini aku melunak padamu, Oh Sehun!"
—Xi Luhan—
.
.
.
.
.
Adalah Sehun dan Luhan yang kini menaiki mobil butut melewati jalanan Kota Seoul. Meski lamaran Sehun sedikit berantakan karena hujan, tak dipungkiri Luhan menyukainya dan saat ini masih terbayang. Keduanya pun sudah berganti pakaian dan menghangatkan diri dalam arti harfiah. Awalnya Luhan memaksa untuk menginap di apartemen Sehun, tapi karena ada banyak anak-anak—juga Irene—Luhan diantar pulang oleh Sehun.
Atas ketidakpatuhan Sehun pada Luhan, Sehun dihukum untuk menginap di mansionnya.
Sebenarnya Sehun tak menganggap itu sebagai hukuman. Dia menurut karena ingin mengenal calon istrinya lewat tempat tinggalnya. Sekalian bertemu Baekhyun.
"Apakah gaun santai itu nyaman untukmu?" tanya Sehun sambil sekilas melirik Luhan di sampingnya. Kemudian kembali berkonsentrasi pada setir dan jalanan.
Luhan menyeringai sambil memandangi jalanan di sampingnya. "Untuk seukuran wanita yang menjadi 'sainganku', seleranya bagus juga."
"Yang benar saja, 'saingan'?" Respon Sehun geli. Luhan meliriknya santai.
"Aku tau dari matanya kalau Irene menyukaimu. Apa perlu aku menyodorkannya potret tubuh telanjangmu? Mungkin dia langsung orgasme."
"Ya Tuhan, Luhan, bisakah kau menjaga mulutmu? Dan lagi, kau punya foto diriku yang telanjang?"
"'Jaga mulut'?" Si wanita tertawa. "Tidak bisa, karena di dekatmu, rasa penasaranku semakin membuncah dan pikiranku jadi kemana-mana. Seperti... Bagaimana bentuk asli dari keperkasaanmu? Bagaimana nikmatnya dipompa olehmu?"
"Ya Tuhan, Luhan..." gumam Sehun jengah. Luhan terkikik.
"Dan untuk foto telanjangmu? Aku hanya punya saat kau bertelanjang dada, dengan celana ketat, berenang di kolam renang dini hari dan sendirian menikmati bulan."
Sontak mata Sehun melotot. Untung saja lampu merah menyala.
"Kau benar-benar stalker mengerikan."
"Untuk Oh Sehun? Xi Luhan bisa melakukan apa saja."
Luhan mencuri ciuman di pipi Sehun, sementara yang diciumi hanya tersenyum sangat tampan.
Sontak pipi Luhan memerah. Bayangan wajah terangsang Sehun di atasnya langsung menggerayangi otaknya.
Sial!
Luhan mengigit ibu jarinya. Tiba-tiba tingkahnya seperti gadis perawan pemalu nan polos. Sepuluh detik sebelum lampu lalu lintas berubah hijau, Sehun mencondongkan badan ke Luhan, menurunkan tangan Luhan, dan menabrakkan bibirnya dengan bibir Luhan.
Ciuman itu tanpa lumatan. Mata mereka terpaku.
Mata tajam Sehun bak serigala itu memaku Luhan.
Bahkan saat Sehun kembali menjalankan mobilnya, Luhan masih mematung. Melamun.
Hanya dengan Oh Sehun, wanita jalang macam Xi Luhan tak berkutik.
.
.
.
.
.
Di pos satpam Mansion Xi, Namjoon melihat mobil butut semakin mendekat ke gerbang mansion. Pria itu menelan ludah. Sesekali matanya melirik bocah bernama Guanlin Anderson, bersorak ketika cahaya lampu mobil menyinari wajahnya.
Suara kendaraan mendekat merupakan tanda bahaya bagi Namjoon.
"MOMMY...! MOMMY...!"
"oh tidak..." Desis Namjoon sambil mengacak rambutnya frustasi.
Mobil itu benar-benar berhenti di depan Namjoon. Yang pertama kali keluar dari mobil bukanlah pemiliknya—Oh Sehun—tapi sang wanita jalang bernama Xi Luhan. Sehun menyusul. Mata tajamnya memperhatikan seorang bocah. Dia memakai hoodie, ransel ada di punggungnya, dan baru saja memasukkan notebooknya ke ransel tersebut.
Bocah itu—Guanlin—nyengir sambil melompat-lompat kecil dan memeluk Luhan.
"MOMMY... MOMMY...! GUANLIN RINDU!"
Mata sipit Sehun melebar.
Tubuh Luhan tersentak ke belakang karena pelukan Guanlin mendorongnya.
"Bagaimana bisa kau ada di sini?" tanya dingin Luhan. Dia melirik Namjoon. "Kenapa kau tak usir dia?"
"Mian...Lady Luhan... Saya tengah berusaha. Tapi Young Master tak mau."
"Benar-benar keras kepala."
Luhan mendorong kasar bahu Guanlin. Hingga bocah itu nyaris terjatuh kalau tidak dirangkul Sehun.
"Apa yang kau lakukan, Lu? Kau terlalu kasar padanya," tutur kalem Sehun dibalas decihan dari Luhan.
Guanlin menangis sesenggukan di rangkulan Sehun. "Mommy benci Guanlin...?"
Sehun menghela nafas.
Luhan berseru marah.
"Aku memang membencimu bocah! Sangat. Jadi sebaiknya kau kembali pada Daddymu, dan berhenti memanggilku 'mommy'!"
"Lu, jika dia anak kandungmu, seharusnya kau—"
"Kau tahu apa soal diriku, Oh Sehun?! DIAMLAH! Jangan ikut campur."
Sehun menggeleng lemah atas kendali emosi Luhan. Wanita itu memang tak bisa menjaga mulutnya dengan baik. Lihat saja, Guanlin sekarang memeluk Sehun karena ketakutan.
Sementara Namjoon tahu kalau Luhan mulai tertarik pada Sehun, dan saat wanita itu membentaknya, bisa dipastikan amarah Luhan lebih besar dari biasanya.
"Namjoon."
"Ya?"
"Hubungi Chanyeol. Katakan padanya untuk membawa pulang Guanlin pada Dave!"
"Yes, My Lady."
"Ti..tidak...GUANLIN TIDAK MAU PULANG! MOMMY...!"
"Jangan membuatku mengulang kesalahan sama karena membuatmu nyaris mati, bocah sial!"
"Aku tetap tidak mau pulang!"
"KAU!"
Saat Luhan ingin menampar Guanlin, Sehun mencekal lengan itu dan berbalik memeluk Luhan.
Amarah Luhan berangsur tenang. Dia memejamkan mata, menikmati aroma tubuh Sehun.
Sehun mengelus rambut Luhan, menciumi pucuk kepalanya, bergumam dengan suara beratnya yang seksi. "Tenangkan dirimu... kita bisa membicarakan ini baik-baik."
"Aku hanya tidak suka bocah itu!"
"Aku tahu..."
Sehun melirik Namjoon, berkata tanpa suara, "kau tak perlu menghubungi Chanyeol." Namjoon mengangguk.
"Ayo, masuk!" Ajak Sehun.
"Tidak, dengan bocah itu."
"Luhan... Apa dia anak kandungmu?"
"Ya."
Luhan merengut kesal. Sehun menguraikan pelukannya dan mencubit hidung mancung Luhan. Setelah memerah hingga Luhan meringis kesakitan, barulah Sehun menciumi hidung itu dan berkata sambil menajamkan tatapannya pada Luhan.
"Syarat utama menjadi istri yang baik adalah menuruti suaminya, selama permintaan suaminya itu baik untuk istrinya."
"Kau belum menjadi suamiku," gerutu Luhan.
"Tanpa pendeta, kupikir kau akan menjadikanku sebagai suamimu. 'Luhan akan melakukan apa saja untuk Oh Sehun'. Itu fakta, kan? Jadi boleh dong, kalau aku menganggapmu istri mulai sekarang?" Kerlingan jahil Sehun entah kenapa menimbulkan gejolak di perut Luhan. Rasanya menyenangkan.
Namjoon melihat dengan mata kepalanya sendiri adegan Sehun 'mengendalikan' Luhan. Namjoon tersenyum. Dia berdoa dalam hati agar Sehun benar-benar mencairkan hati majikannya itu.
Luhan mengangguk ringan, "bawa dia masuk ke mansion."
"Yes my lady."
.
.
.
.
.
Sehun tengah berada di dapur, sibuk menyiapkan coklat panas untuk Guanlin dan Luhan. Beberapa pelayan wanita sibuk memandanginya dari balik dinding antara ruang tengah dan dapur. Saat Sehun melirik dinding, buru-buru para pelayan memundurkan badan. Sehun tertawa kecil, kepalanya menggeleng lemah memaklumi.
"Sehun-oppa sepertinya menikmati para wanita mengintip oppa."
Celetuk Baekhyun, gadis milik Luhan yang kini asyik bersandar di set kitchen. Sehun sudah siap dengan dua cangkir coklat panas, dan sepiring biskuit rendah gula di atas nampan. Dia menentengnya diikuti Baekhyun di belakangnya.
"Aku sudah biasa."
"Maksudnya? Oppa gak punya malu ya?"
"Bukan begitu, tapi di kampus tempatku bekerja, banyak mahasiswi di fakultas dan luar fakultas suka mengintip seperti itu. Mereka bahkan lebih ekstrim."
"Diam-diam oppa narsis ya?"
Sehun mengendikkan bahu, "risih di awal. Tapi sekarang aku tak peduli."
"Sampai ada stalker seperti Kyungsoo?"
Sehun berhenti melangkah.
Dahinya mengernyit curiga.
"Dari mana kau tahu tentang Kyungsoo?"
Bibir Baekhyun merengut ke bawah. Dia mendengus saat Sehun menuntutnya jawaban, "Do Kyungsoo, mahasiswa psikologi, dia pernah terlibat kasus pelecahan dengan kau sebagai tersangkanya. Dia memfitnahmu demi obsesinya!"
"Tapi sebenarnya, dia gadis yang baik."
"Dia begitu karena terlalu mencintai oppa, dan oppa sendiri tidak tegas terhadapnya."
"Wah..." Sehun menyeringai ke arah Baekhyun, lebih ke menyindir, "Baekki sudah tahu masalah percintaan, ya?"
Pipi Baekhyun memerah. Tiba-tiba ingat seorang pria. Park Chanyeol. Pria yang berusia sepuluh tahun di atasnya.
"Sehun-oppa jadi laki-laki jangan terlalu lembut, bisa?"
Sehun menyeringai, "sikap? Tentu saja. Tapi keperkasaan?"
Sontak pipi Baekhyun memerah saat Sehun melenggang meninggalkannya. Gadis itu memekik hingga banyak pelayan menutup telinga.
"OPPA KETULARAN LUHAN-EONNI, EOH?! EONNI, KAU APAKAN OPPA?!"
Dunia sungguh dibuat terbalik oleh Oh Sehun!
.
.
.
.
.
Luhan hanya geli saat muka Baekhyun bersungut-sungut ke arahnya. Gadisnya Luhan itu kemudian melempar pantatnya ke samping Luhan. Kini mata sipitnya memicing pada bocah di hadapan. Sementara Luhan, menyeruput secangkir coklat panas buatan Sehun sambil mengintimidasi Guanlin dengan tatapan. Jelas Guanlin—anak kandung seorang Lady Luhan—hanya bisa menyeruput ingus takut-takut dibenci sang mommy.
Mata rusa Luhan terlalu tajam untuk diterima.
"Luhan..."
"Ini bukan urusanmu, Sehun."
"Aku jengah melihat wajah suntukmu. Bisa kita bicarakan ini baik-baik atau setidaknya, biarkan dia tidur dulu?" ucap kalem Sehun.
"Bocah kepala batu sepertinya harus dihukum!"
"Lalu apa bedanya denganmu, sayang? Kau saja keras kepala padaku."
"'Sayang'?" Luhan mendongak pada Sehun yang berdiri di sampingnya. Mengetahui Sehun tersenyum hangat ke arahnya, adalah bencana bagi seorang psikopat macam Luhan. Jadi wanita itu berdeham, matanya mengerling gugup, menggerutu, "berhentilah ikut campur. Terserahku mau menyiksa anak itu seperti yang sudah-sudah."
Sehun menghela nafas. Dia mencium singkat hidung mancung Luhan. Sontak pipi Luhan menghangat. Lucu. Sampai-sampai Baekhyun dibuat menganga.
Oh Sehun benar-benar pria ajaib! Mungkin itu pujian dari Baekhyun.
Sehun bagai obat penenang untuk Luhan. Obat yang lebih mirip narkoba. Mematikan, mengundang sensasi menagih yang meracuni.
"Lu... Kumohon sekali saja... Jangan perlihatkan keras hatimu di depanku."
Alis kanan Luhan terangkat.
"Kenapa?"
"Anggap saja kau belajar mengontrol emosimu. Bukankah ini keinginanmu? Menikahiku demi kesembuhan psikismu juga?"
"Apa aku bisa mempercayaimu?"
"Aku sudah membuktikannya. Sekarang giliranmu."
Benar. Sehun sudah membuktikan bahwa dia akan menjadi suami yang HANYA dan HARUS untuk Luhan. Pria itu menerima Luhan tanpa peduli latar belakangnya sebagai pembunuh, atau penculik ibunya. Meski sedikit memaksa dibumbui drama, Luhan berhasil mendapatkan Sehun. Tidak, tapi usaha itu dilakukan agar Luhan bisa diterima Sehun.
Luhan tidak habis pikir mengapa lingkar obsesinya ada pada pria naif ini?
Luhan menurunkan cangkirnya.
"Kau sudah dapat izin daddy-mu, Linlin?"
Mata bocah itu—Guanlin—berbinar saat sang mama memanggilnya 'Linlin'. "Tidak, mom!"
"Oh God, kenapa kau menunjukkan wajah sumringah pada jawaban tak kusukai?" Sindir Luhan. Padahal dia tahu alasannya. Guanlin akan selamanya bertingkah tidak pada umurnya, kecuali jika Guanlin diterapi. Daddynya, mantan suami Luhan, tidak mempermasalahkan kecacatan mental Guanlin. Karena pria itu sudah memiliki ahli waris meski bukan keturunannya. Dan karena Guanlin itu terlahir dari Luhan, pria itu takkan mencampakkan anaknya.
Luhan tersenyum kecil. Dia akui mantan suaminya itu tipe brengsek yang setia.
"Mommy tidak suka Linlin datang?"
"Ya. Karena kau tidak dapat izin daddy-mu."
"Lain kali, mintalah izin pada daddy-mu." nasihat Sehun.
Guanlin tersenyum lebar kepadanya, "Guanlin suka Sehun! Guanlin suka punya Daddy baru!"
Luhan berdeham intimidatif, Baekhyun speechless, Sehun hanya terkekeh lalu berkata, "sudah malam, bukankah Guanlin harus tidur?"
"Biasanya Guanlin tidur kalau didongengi. Oh iya...! Apa boleh Guanlin panggil Sehun itu... Papa?"
"Aku tidak keberatan kok."
"Wah! Xie xie, papa!"
"Berhenti terlalu akrab padanya, aku tidak suka," geram Luhan sambil tangannya menutup setengah wajahnya.
"Kenapa?"
Luhan melirik Sehun, "apa jika aku menjelaskan, kau mau datang untuk fitting baju besok? Juga cincin. Aku yang akan membiayai semuanya."
"Monochrome. Aku ingin tema pernikahan kita demikian. Aku akan memberimu kartu rekeningku dan lakukan apapun, semaumu, dengan itu. Aku tidak keberatan."
Luhan bersedekap. Wajahnya kusut, "aku ingin kau ikut, Sehun!"
"Oh?"
Baekhyun melongo melihat Luhan kini merengek.
Bukannya menurut, Sehun memangku paha kirinya lalu bertopang dagu. Rahangnya terlihat tegas dan tatapan tajam disertai senyuman miring... Luhan bisa-bisa mimisan melihat calon suaminya.
Karena itulah Luhan melirik ke arah lain.
"Aku ada urusan. Kau tidak cerita pun bukan masalah. Aku bisa cari tahu sendiri tentang anakmu."
"Bagaimana kalau aku membunuh Kyungsoo saja untuk memaksamu? Gadis itu tak ada gunanya. Dia bukan lagi perawan karena diperawani Jongin. Apa kau mau kalau dirimu itu penyebab seseorang mati?" Luhan menyeringai keji. Senyum Sehun luntur. Ekspresinya mengeras.
"Baekhyun." panggil Sehun.
Entah kenapa, setetes keringat mengaliri pelipis hingga pipi Luhan.
Firasatnya buruk.
"Ya, Sehun-oppa?"
"Bawa Guanlin ke kamarnya dan dongengi dia hingga tertidur. Kau bisa kan?"
Baekhyun mengangguk sambil melirik pucuk kepala Luhan.
Setelah Baekhyun membawa Guanlin pergi walau sedikit memaksa, kini hanya tinggal Luhan dan Sehun. Ruang tengah penuh kemewahan dan lampu cendelier yang angkuh, berubah hening mencekam. Mansion ini sudah biasa menyuguhkan adegan penyiksaan dan pembunuhan. Salahkan Luhan yang suka membunuh.
Ditambah pemikiran irasionalnya. Sehun tak yakin apakah dia bertahan seumur hidup di samping Luhan.
Sekarang, Sehun tahu, dia harus menyanggupinya meski itu ekstrimis.
"Luhan."
Suara husky itu sangat dalam.
Suara yang menjadi pemikat pertama Oh Sehun.
"Apa kau tahu? ancaman dan tingkahmu bisa saja membuatku gila, Lu. Apalagi seorang Psikolog tak selamanya berpsikis sehat. karena dia sudah banyak berinteraksi dengan orang tidak waras." ujar tenang Sehun.
"Kalau begitu kau harus sadar posisimu, Sehun. Kau pikir kau siapa? Seorang rakyat biasa yang kebetulan memiliki marga bangsawan! Jadi, bisakah kau menurutiku sekali saja?"
Sehun tersenyum kecut.
"Kalau sebegitu rendahnya aku, kenapa tak kau jadikan aku pria koleksimu atau budakmu? Aku bisa melakukannya jika itu maumu."
"Menjadikanmu budak?" Luhan mendengus meremehkan. "Terserah diriku mau kuapakan dirimu! Kau tak lebih dari kucing kecil yang akan kupelihara. Bersyukur selama ini aku melunak padamu, Oh Sehun!"
"Ah... Jadi inilah Sang Lady Xi Luhan?"
Mendadak, Luhan mematung, menengadah, saat Sehun menangkup tengkuknya. Jika Sehun mau, dalam sedetik mungkin Luhan akan sesak tercekik. Jelas sekali Luhan tak bisa meremehkan Sehun.
Diam-diam menghanyutkan, itulah Oh Sehun.
"'Kucing kecil'? 'Dipelihara'? Aku sudah mengalami banyak hal menyakitkan sejak aku kecil. Hal sinting yang menggerogoti kewarasanku. Anak haram dari rahim pria gay. Apa ada yang lebih hina dari itu?"
Kemudian Sehun meraih pinggang Luhan, dan memangkunya.
Kini Luhan ada di pangkuan Sehun.
"Kau yang lahir dari dua keluarga bangsawan, sebagai anak legal, tidak akan tahu rasanya menjadi sepertiku. Apa dengan itu kau masih ingin menjadikanku mainanmu?"
"Aku sudah tahu sebelum aku melamarmu, Oh Sehun."
"Lalu?"
Luhan tersenyum sinis, "aku punya kakak laki-laki. Dia anak diluar pernikahan. Kelahirannya adalah penyebab kedua orangtuaku menikah. Tapi, karena dia aib, maka atas desakan keluarga besar Xi dan Aihara, dia dibuang dan lahirlah aku sebagai pewaris Xi dan Aihara. Bisa dikatakan, aku paham betul menjadi dirimu."
Sehun mengelus rambut Luhan.
"Kalau begitu, bisakah kau berhenti membunuh seseorang hanya karena diriku? Itu sungguh menerorku, Lu."
"Hm... Kalau karena aku jengah terhadap pekerjaanku? Aku boleh kan mencincang siapa—"
"Luhan."
"Aish!"
"Pertemukan aku dengan Kyungsoo dan Jongin. Malam ini. Apa boleh?"
"Aku tidak paham jalan pikiranmu. Kenapa harus mereka?" Melihat raut memohon Sehun, membuat Luhan mengerang gemas. "Tapi... aaargh! baiklah..."
"Terima kasih," Sehun mencium kening Luhan. Pipi Luhan pun menghangat.
"Perihal persiapan pernikahan kita?"
"Bukankah kau yang mengurusnya? Kau sudah bilang diawal, tak ingat? Aku hanya menyerahkan uangku saja."
"Aku ingin kau ikut juga!" rengek Luhan sambil menarik-narik kerah Sehun.
"Lu... Apapun pilihanmu, aku suka. Aku tak punya selera berseni tinggi untuk memilih. Bisa-bisa, tamu undangan kita akan mengejek kita. Tapi bisakah temanya monokrom saja?"
Luhan mengangguk. "Soal uang, biar aku saja. Uangku banyak."
"Biarkan aku jadi pria sejati untukmu. Pakai saja uangku."
Luhan tahu Sehun lebih keras kepala darinya.
"Baiklah."
"Sekali lagi, terima kasih Luhan..."
Malu-malu, Luhan merangkul leher Sehun dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sehun.
"sama-sama, Sehun."
.
.
.
.
.
"Nikahi Kyungsoo"
"Apa?"
"Aku tahu Luhan lebih suka mengoleksi gadis perawan. Kau tahu apa artinya kan, Jongin? Kau menyetubuhinya dan mengambil keperawanannya. Jadi tolong nikahi Kyungsoo karena dia butuh tanggung jawabmu."
Kyungsoo jelas menolak, "aku hanya menyukaimu, oppa!"
Pengakuan gadis itu mengundang aura gelap di diri Luhan. Tapi wanita itu bergeming, tenang, dan berusaha duduk seanggun mungkin di samping Sehun. Matanya hanya memicing tajam pada Kyungsoo.
"Itu hanya obsesi, Kyung. Kapan kau akan sadar kalau terobsesi pada sesuatu itu tidak baik? Lagipula aku dosenmu. Mengingat kau kehilangan keluargamu, jadi aku bertanggung jawab secara penuh atasmu."
"Kalau begitu, nikahi aku!"
"Bukan aku yang tidur denganmu."
Sekilas Kyungsoo melirik Luhan. Wanita itu menyeringai syarat ejekan. Kyungsoo mendesis kesal, ingin sekali melempar vas bunga ke wajahnya.
Jongin melirik gadis di sampingnya, Kyungsoo.
"Sejujurnya, aku... Punya perasaan lebih terhadap Lady Luhan."
Luhan menanggapinya datar. Dia tahu Jongin ada perasaan romantis terhadapnya dan seperti biasa, wanita itu tidak peduli kecuali kenikmatan penis Jongin.
Kyungsoo melirik Jongin. Dia terkesiap kala bertemu pandang dengan Jongin. Keduanya mulai tersenyum tipis, seakan bertelepati, bahwa mereka bernasib sama.
Cinta bertepuk sebelah tangan.
"Apa aku boleh menikahi Kyungsoo, My Lady? Membangun keluarga sendiri dan...
...lepas darimu?"
Jantung Kyungsoo berdegup sangat kencang. Secara tidak langsung Jongin melamarnya. Padahal, Kyungsoo yakin, Jongin masih mencintai pemilik hidupnya yaitu Luhan. Luhan menyeruput secangkir coklat hangat—cangkir kedua—buatan Sehun. Dia tersenyum di balik bibir cangkir.
"Kalau kau meminangnya, itu berarti kau harus buang jauh-jauh kenangan malam panas kita. Kau yakin, Jonginnie?"
Jongin mengangguk penuh tekad. Dia tahu tak ada harapan meraih cinta dari 'pemiliknya'. Jongin hanya pria yang Luhan beli. Tidak lebih. Dan karena perintah seorang Sehun, dia berkesempatan hidup bebas di luar kekangan Luhan.
Bukankah itu bagus?
"Kyungsoo, bagaimana denganmu? Kemungkinan besar kau akan hamil karena ini masa suburmu." tutur Sehun.
"Dari mana kau tahu hal itu, Sehun?" tanya tajam Luhan.
"Dia pernah mengatakan banyak hal tentang dirinya padaku. Aku juga pengingat yang baik apalagi menyangkut mahasiswaku. Bimbingan konseling sangat dibutuhkan agar mahasiswaku tidak stress."
Kyungsoo menarik nafas dalam, "sepertinya aku harus melepaskan Sehun-oppa juga. Jongin tidak buruk kok."
"Kuanggap itu pujian, nona muda." Ucap Jongin dibalas pukulan jahil di lengan oleh Kyungsoo.
Jongin mengerling pada Sehun. Pria itu memandanginya sambil tersenyum teduh. Sehun seperti seorang ayah yang mempercayakan anak gadisnya dimiliki calon menantunya. Meski Sehun tak setua itu, dan usia Sehun beberapa tahun lebih muda darinya, Jongin tahu suatu saat Sehun punya andil besar dalam tatanan mansion ini.
"Aku akan menjadi walimu di pernikahanmu, Kyungsoo. Kau tidak keberatan?"
"Bolehkah? Sehun-oppa?"
Sehun mengangguk kalem.
"Besok anak buahku, juga Chanyeol akan mengurus pernikahan kalian. Jangan pikirkan biaya. Aku punya uang ditambah merampas dari kekayaan Keluarga Do."
Ucapan mutlak Luhan dibalas sengit oleh Kyungsoo, "brengsek! Aku takkan pernah lupa apa yang kau lakukan pada keluargaku! Walaupun Jongin terlibat, tapi dia... Dia...ehm..."
Kyungsoo terdiam. Kemudian dia menangis. Jongin merangkul bahunya. Gadis itu resmi sebatang kara sama sepertinya. Keduanya sungguh cocok.
"Aku akan mengembalikan harta Keluarga Do di tanganmu, Kyungsoo. Jika benar kau hamil, aku akan memerintahkan Jongin mengelola perusahaan Keluarga Do sampai kau siap memimpin menjadi Presdir."
"Hah? Tapi...Hikss... Aku..."
Kyungsoo lelah. Semua ini terlalu memusingkannya.
"Aku juga punya impian agar seperti Sehun-oppa. Aku ingin jadi psikolog anak! Kalau aku jadi Presdir, itu berarti..."
Luhan tersenyum miring, "bagaimana kalau setelah kau siap, Kyungsoo? Kau bisa menempuh dua jurusan sekaligus. Psikolog dan managemen bisnis. Setelah Baekhyun lulus dari SHS, aku juga membiayainya untuk kuliah di kedokteran dan aset Keluarga Byun kembali menjadi miliknya."
"Luhan...?" Sehun menengadah saat Luhan berdiri dan merapikan gaunnya. Sebelum akhirnya beranjak dan tidak sopannya berkata,
"Pernikahan kalian akan diadakan dua hari lagi. Dan dengan itu, Jongin resmi copot dari pekerjaannya sebagai pengacara pribadiku."
Sehun menghela nafas.
"Sebaiknya kalian istirahat." ucap Sehun. Kemudian meninggalkan Jongin dan Kyungsoo.
Sehun mengejar Luhan hingga ke kamarnya. Di dalam sana, wanita itu memunggunginya. Menghadap terpaan sinar keperakan bulan yang merasuki kaca jendela. Gaun Luhan merosot ke lantai, menampilkan ketelanjangannya. Kulitnya mulus dan Sehun yakin dia akan ketagihan mengelusnya. Namun yang mencengangkan Sehun adalah bekas jahitan memanjang, miring ke kanan, dari belikat sampai pinggang.
"Selama ini aku menutupinya dengan make up. Ada seseorang yang khusus 'mengotak-atik' punggungku jika aku ingin memakai gaun telanjang punggung."
"Luka sepanjang itu? Apa itu karena ayahmu?"
Luhan berbalik. Payudara sintalnya tertutupi rambut panjangnya.
Sehun tak berani melirik ke dada calon istrinya. Jadi dia menunduk dalam-dalam karena tahu memandangi ketelanjangan wanita adalah tindakan senonoh.
"Kau jijik, Hun-ah? karena aku tidak seindah kelihatannya. Apa dengan ini kau masih mau menikahiku?"
Kali ini, Sehun memandang tepat di mata rusa Luhan.
"Inilah caraku memperbaiki kerusakanmu, Lu. Yaitu menikahimu."
"Kau tidak bohong kan?"
"Kita saling mengenal dalam waktu singkat, tapi apa selama itu aku belum membuktikan apapun padamu?"
Sontak mata Luhan berkaca-kaca.
"Aku...aku akan membebaskan gadis dan pria koleksiku. A..aku bersungguh-sungguh! Sebagai bayarannya, adalah kesetiaanmu dan tanggung jawab darimu sebagai suamiku."
Sehun terkesiap saat Luhan memeluknya dalam keadaan telanjang. Sementara pakaian Sehun masih lengkap menutupi badan.
Aroma mawar langsung menggodanya.
"Temani aku tidur. Hanya tidur berdampingan. Bukan seks."
"Kalau begitu, pakai gaunmu."
"Eng!"
Sehun menyelimuti tubuh Luhan. Sepanjang Luhan terlelap, Sehun hanya memperhatikannya dan semakin mengagumi wanita itu di tiap detiknya. Hingga tanpa sadar, keduanya tidur sambil berpelukan.
Keesokan harinya, Chanyeol dan Baekhyun dikejutkan dengan kabar pernikahan Kyungsoo dan Jongin. Belum lagi titah Luhan pada pria dan gadis yang berjejer mengenakan pakaian maid mereka.
Luhan berkata lantang,
"Aku membebaskan kalian."
.
.
.
.
.
"Apakah anda Oh Luhan?"
Oh Sehun kini berada di apartemen sederhana bernomor 107. Nomor apartemen itu dihuni oleh dua orang.
Di depan Sehun adalah seorang pria cantik. Tubuh pria itu mungil, wajahnya sedikit feminim, hidungnya mungil tapi pas untuknya, manik matanya hitam, bulu matanya lentik, ada tahi lalat di atas alis kirinya, dan senyumnya manis. Hanya saja sorot mata rusanya tengah memicing pada Sehun.
Picingan mata curiga.
Tak lama kemudian, pria cantik itu mengangguk.
Sehun pun bernafas lega.
"Jadi... Kau ya yang dimaksud Yunho-appa?"
"Ehm..." Angguk lucu pria imut itu lagi. Lalu pria itu melirik kanan kiri, menyembulkan leher kanan kiri, seakan memeriksa apakah ada yang mengikuti Sehun atau tidak. Namun Sehun hanya bisa mengangkat alis saat pria cantik di depannya mengelus dada sambil menghela nafas lega.
"Luhan-ssi?"
"Ya?"
Dipandangi aneh oleh pria imut itu, membuat Sehun sedikit canggung.
"Mian, Luhan-ssi. Apakah ada yang salah pada penampilan saya?"
Pria imut itu menggeleng lemah, "kupikir kau anakku."
"Memangnya kami semirip itu?"
Pria cantik itu mengangguk kaku, "bedanya, kau lebih dewasa dan anakku terlalu ingusan."
Sehun terkekeh sopan sembari menutup bibirnya menggunakan punggung tangan. Gaya yang terlalu aristokrat, "apakah itu pujian?"
"Tentu saja," pria itu, Oh Luhan, menggeser badannya mempersilahkan Sehun masuk ke dalam apartemennya.
"Silahkan masuk!"
Setelah duduk di sofa, pria cantik itu menanyakan minuman apa yang diinginkan Sehun. Yang ditanya hanya menjawab, "apapun, tapi jangan kopi."
"Kau tidak suka kopi, Sehun-ssi?"
"Aku suka, tapi aku baru saja sembuh dari maag-ku."
"Emph! Baiklah... Teh untukmu saja."
Sehun hanya menunggu pria cantik itu menyuguhkannya teh hangat. Ketika pria cantik itu datang bersama dua cangkir teh, Sehun memberinya senyuman.
"Jadi... Untuk apa anaknya paman Yunho datang kemari?" tanya si pria cantik.
"Tujuanku datang kemari untuk melamar adikmu."
"Adik?"
"Ya, adik perempuanmu."
Pria cantik itu terdiam di seberang Sehun. Tangannya terkepal di atas lengan sofa. Ekspresinya langsung kelam. Sehun tahu maknanya apa. Calon istrinya dibenci kakaknya sendiri. Sepertinya bukan, Sehun terka, kalau calon kakak iparnya hanya tak ingin berurusan dengan Keluarga Xi.
"Dari mana kau tahu kalau seorang 'Lady' Luhan itu... Punya kakak laki-laki?"
Sehun masih saja tersenyum ramah meski ditanggapi dingin oleh si pria cantik. Dia berkata, "aku mencari tahu apapun tentang calon istriku sebelum aku benar-benar menikahinya. Apakah itu menganggumu, Tuan Lu?"
"Ya! Aku paling tidak suka mencampuri urusan Keluarga Xi!" ketus si cantik.
Sehun mengerutkan kening, lalu menghembuskan nafas pelan. Dia berujar tenang,
"Tapi dia adik kandungmu, Luhan-ssi. Kau adalah walinya. Karena itulah aku datang kemari untuk melamarnya, meminta restumu atas pernikahan kami. Apakah kau tidak bisa setidaknya memberinya restu dan doa atas pernikahan adikmu?"
Direspon kalem seperti itu membuat si cantik berdeham gugup. Dia tak pernah diperlakukan sesopan ini oleh pria tampan. Bahkan anaknya kadang memperlakukannya seperti anak kecil.
"Untuk seukuran pria metropolitan, kau terlalu kuno."
"Memang," angguk Sehun.
"Tapi percuma, Sehun-ssi. Aku tidak terlalu peduli pada wanita itu! Urusannya bukanlah urusanku. Dengan atau tanpa restuku pun, kalian tetap menikah kan?"
Oh Luhan—kakak kandung dari sang calon istri Sehun—melebarkan matanya dan tubuhnya merinding saat Sehun berujar,
"Aku hanya terlalu percaya apa yang dikatakan ibu kandungku tentang etika. Jika aku menikahi seorang wanita, artinya, hidupnya sepenuhnya ada di pangkuanku. Itu berarti keluarganya menyerahkan anaknya secara penuh bersama seorang pria. Tidak etis kan, jika aku mengambil adikmu tanpa restu darimu?"
Pria itu, Oh Luhan, hanya bisa tertegun saat adiknya yang super brengsek bisa seberuntung itu dimiliki pria bermoral tinggi seperti Sehun. Sementara dirinya? Pria cantik itu diam-diam mengutuk seseorang di antah berantah!
"Jujur saja, aku terkesan. Adanya dirimu membuatku merasa... Aku masih ada peran untuk adikku. Yaitu menjadi kakaknya." Pria cantik itu mengulurkan kedua tangannya. "Boleh aku menggenggam kedua tanganmu?"
Sehun tersenyum, "ya, Luhan-ssi."
Sehun pun mengulurkan tangan, hingga akhirnya tangan mereka berdua saling bertautan. Jika pria cantik itu tersenyum penuh kebahagiaan dan haru, maka Sehun hanya memicingkan mata... Menganalisa pria di depannya.
Wajah Sehun memang minim ekspresi, tapi otaknya suka menganalisa ekspresi seseorang.
"Aku menitipkan adikku, Lulu-chan, padamu. Cukup dia mendapat perlakuan buruk dariku selama belasan tahun akhir ini. Ditambah menggantikan posisiku yang harusnya menjadi 'Xi Luhan'. Kumohon jaga adikku, jaga Lulu-chan, dan bahagiakan dia... serta maaf, atas ucapan kasarku tadi."
"Bukan masalah, Luhan-ssi. Juga, terima kasih atas restumu."
Sang kakak masih meremas tangan calon suami sang adik. Ada harapan dan rasa sakit di genggamannya. Suaranya bergetar. Memberikan Sehun satu penilaian bahwa calon istrinya disayang oleh banyak orang, disertai penderitaan menaunginya.
Sehun tidak sepenuhnya tahu bagaimana hidup kelam Xi Luhan, hingga menjadi seperti sekarang. Tapi apapun itu, Sehun janji, masa depan calon istrinya akan dipenuhi warna bersamanya.
"Aku janji. Aku menikahi Xi Luhan karena aku ingin membahagiakannya."
Sehun tahu, Xi Luhan tak benar-benar bahagia di sepanjang hidupnya. Kecuali...
...jika ada seorang pria yang berani mengusik 'kekuasaan dan kekuatan' si wanita 'brengsek'.
Si pria cantik melepas genggamannya. Berjalan memutari meja, lalu menangkup kedua pipi Sehun dan mencium keningnya. Sehun hanya tersenyum saat menerimanya. Memang itu tindakan tak sopan, tapi si tampan sepertinya tahu apa tujuan seorang Oh Luhan menciumnya.
"Aku titip ciuman ini untuk Lulu-chan. Tapi jangan bilang kalau itu dariku." Sehun mengangguk.
"'Lulu-chan' ya? Panggilan yang manis."
"Yeah... Aku memanggilnya demikian sebelum 'masalah itu' merusak segalanya."
"Kalian pasti akan jadi sepasang saudara paling bahagia."
"Semoga."
"Luhan-ssi."
"Ya?"
"Boleh aku titip pelukan untuk Yunho-appa?"
"Tentu."
Sehun memeluk perut si pria cantik. Rasanya hangat.
Jika pelukan calon istrinya menggetarkan jantungnya, maka pelukan calon kakak iparnya membuatnya bernostalgia.
"Sehunnie... Joongie-eomma berdoa agar kamu selalu bahagia. Sayangi Yunho-appa, Siwon-aboji, dan Yoona-eomma."
"Joongie-eomma kenapa bicala thepelti itu?"
"Hahaha, Joongie-eomma tidak tahu? Mungkin karena eomma ingin tidur?"
Sehun suka pelukan hangat dari sang kakak ipar. Pria cantik itu memiliki sisi keibuan yang menyamai eomma kandungnya. Apa karena mereka sama-sama pria spesial ?
"Sehun-ssi?"
"Anakmu beruntung memiliki ibu sepertimu, Luhan-ssi."
Si pria cantik mengelus rambut hitam si pria tampan yang kini asyik menangis di perutnya.
"Dan adikku beruntung memiliki suami sepertimu, Sehun-ssi."
.
.
.
.
.
Sebagai kepala mafia, Luhan sudah biasa berkubang dalam hal-hal kotor. Selama ini dia melenggang bebas karena berbagai faktor. Banyak anak buahnya yang duduk di kursi pemerintahan agar kebusukannya tak terendus. Dia juga mendapat dukungan dari Raja Woo, sebelum akhirnya turun tahta dan digantikan sang Putra Mahkota.
Luhan mengigit kuku ibu jari bercat royal blue-nya. Otak Luhan waspada pada Raja Woo yang baru ini. Luhan rasa pekerjaan kotornya akan terancam karena ulah raja baru ini.
Namun untuk saat ini, setidaknya semua baik-baik saja.
Di hadapan Luhan adalah pria parubaya bernama Ryeowook. Biasa dipanggil Ryeo. Dia bukanlah bangsawan, hanya keluarga konglomerat yang tak sudi menyematkan marganya. Lagipula Luhan tak peduli sebabnya.
Mereka berada di salah satu gedung terbengkalai di pinggir Kota Seoul. Lingkungan disekitar gedung ini agak kumuh, sisi lain dari hingar bingar pusat dari segala aktivitas hiburan. Luhan tersenyum kecil memandangi penandatanganan kontrak. Hal ini dilakukan agar tidak ada pengkhianatan di dalamnya.
"Totalnya dua ratus juta dollar. Barang-barang itu akan dikirim ke pelabuhan sejam lagi," ucap Luhan.
"Senang bisa bekerja sama dengan anda, My Lady. Well, apa anda tidak takut karena mengekspos wajah anda? Biasanya seorang bangsawan memakai topeng apabila bekerja 'kotor'."
"Anda begitu istimewa, Tuan Ryeowook. Disamping anda adalah pelanggan tetap kami, juga... Anda adalah pria licik yang sangat disegani." Luhan bangkit, melangkahkan kaki jenjangnya memutari meja kayu lusuh sambil jari telunjuknya mengusap pinggir meja. Hingga akhirnya Luhan berada tepat di hadapan Ryeowook, menyeringai nakal, dan jari telunjuknya kini menggerayangi selangkangan pria itu.
"Bisnis ini tergolong berbahaya untuk pembisnis dunia hiburan seperti anda, Tuan Ryeo..."
Ryeowook mengigit bibirnya, keningnya sedikit berkerut tegang, saat jari telunjuk Luhan menekan-nekan selangkangannya. Belum lagi Luhan mendesahkan namanya.
Pesona dan kebinalan Luhan, mampu membuat pria manapun membeku di bawahnya.
"Anda menjebak artis-artis di bawah naungan agensi anda. Menjejali mereka berbagai skenario skandal demi popularitas dan uang. Bekerja sama dengan pihak kerajaan untuk menutupi aib Korea Selatan, lewat debut atau comeback artis anda. Lalu apalagi? Ah..." Jari telunjuk itu kini merambat dari perut datar berlapis jas hitam, hingga dagu runcing sang CEO agensi hiburan. "...menjual narkoba pada mereka yang rentan dan menjadikannya skandal."
Ryeowook mengernyit, "dari mana anda tahu semua—rghh!!"
Luhan meremas selangkangan pria itu.
"Tentu saja, aku tahu apapun soal pelangganku termasuk..."
Pisau lipat kini berada di leher Ryeowook.
"...kau bekerja sama dengan Raja Woo yang baru untuk menangkapku. Kau pikir aku bodoh?"
Geram Luhan. Matanya berkilat penuh intimidasi. Ryeowook memekik tertahan.
Oh, ini takkan berakhir baik.
Luhan melirik sekitarnya. Ada sekitar belasan pria berbadan besar kini berdiri di sekelilingnya.
"Mereka bukan pengawalmu."
"Memang bukan, My Lady. Mereka adalah pengawal kerajaan."
Jika Luhan sibuk memikirkan cara keluar dari situasi ini, maka Ryeowook gemetar ketakutan apalagi pisau lipat Luhan mulai menggores lehernya sangat tipis.
Tambahan, Ryeowook itu payah dalam hal fisik.
Ryeowook mengerang ketika tangan kanan Luhan menjambak rambutnya. Berkata tepat di atas bibir Ryeowook yang pucat.
"Apa kau tidak bisa memerintahkan mereka untuk mundur?"
"A..ku tidak bisa."
BRAKK...!
Satu kaki Luhan berada di atas kursi, tepatnya di depan selangkangan Ryeowook.
Luhan berharap pria itu tidak terkencing-kencing di celana.
"Kau mau aibmu menyebar ke seluruh Korea, hah?"
"Sayangnya, kau takkan mampu, My Lady."
"Hah?"
Ryeowook masih bisa tertawa mengejek meski terpaksa, "nama baikku dijamin oleh Raja Woo sendiri."
"Raja busuk sialan itu benar-benar! Jadi dia hanya mengincarku?" Luhan menyentak kepala Ryeowook, menancapkan ujung pisaunya ke meja kayu, "brengsek!"
"Eh?" Ryeowook melotot horor pada sesuatu di belakang Luhan.
"Apa yang kau lihat?" Luhan memiringkan kepala.
"Ra...raja Woo?"
Suara langkah kaki terdengar menggema di belakang tubuh Luhan. Wanita itu melirik ke pelupuk mata, menurunkan kaki dari kursi Ryeowook, lalu tangannya menaikkan rok gaunnya, kemudian mengambil revolver yang terikat di pahanya.
Luhan berbalik dan menodongkan revolver ke bawah dagu seorang pria, bersamaan dengan pria itu menodongkan revolvernya ke kening Luhan.
"Halo, baby Lu."
Mata Luhan melotot kesal.
Dia menggeram marah menyebutkan sebuah nama,
"Kris?!"
"Kau masih saja liar seperti biasanya," pria itu—Kris—menjilat bibirnya sambil menyeringai, "aku suka."
"MY LADY..!"
Luhan sekilas melirik Namjoon. Pria itu berlari mendekatinya. Berbarengan dengan banyak pertengkaran antara pengawal kerajaan dan anak buah Luhan. Namjoon berhenti melangkah saat Luhan menatap matanya. Kemudian mata rusa Luhan melirik Kris yang tak disadarinya berada di belakang punggungnya.
Tentu saja, menodongkan revolver ke pelipis Luhan.
"Kau terlalu lengah, Xi Luhan." Kris berbisik. Sementara Ryeowook meninggalkan ketegangan antara Kris dan Luhan. Dia berlari layaknya pengecut.
"Apa maumu, Kris Anderson?"
"Hei... sekarang aku punya marga baru lho... apa kau ingin tahu?"
Luhan bergeming. Tubuhnya biasa saja menanggapi lengan Kris yang bebas melingkari pinggangnya.
"Margaku sekarang adalah Woo."
Luhan terperangah. "Kau Pangeran Mahkota yang disembunyikan Kerajaan ini?"
"Ya..." Kris menjilat daun telinga Luhan. "Rasamu manis seperti biasanya, Baby Lu."
Namjoon adalah saksi hidup satu-satunya kisah masa lalu Luhan. Melibatkan dua pria bersaudara dan seorang gadis muda. Kisah cinta segitiga itu rumit. Berakhir dengan tak satupun dari dua pria itu, berhasil mematenkan kepemilikan mereka atas si gadis muda. Jadi, ketika Namjoon melihat ada Kris di dekat Luhan, Namjoon takut Lady-nya kembali terpuruk seperti membenci dirinya sendiri dan...
...Guanlin, anak kandungnya.
"Aku di sini untuk menganggu hidupmu sekali lagi, Baby Lu. Oh iya... Kudengar kau akan menikah ya?"
"Sehun..." Saat Luhan menyebut nama calon suaminya, ada perasaan hangat dan kebahagiaan membuncah. Rasanya menggelitik perut. Luhan tersenyum kecil.
"Jadi namanya 'Sehun', ya?"
Tapi saat Kris berucap demikian, bayangan kebahagiaan Luhan dengan Sehun hancur. Sangat menakutkan. Hingga Luhan membayangkan Sehun terkapar di bawah kakinya dalam kondisi berdarah-darah.
Mata Luhan menyorot kosong.
"Batalkan saja pernikahan kalian, maka bisnis 'bawah'mu akan bebas seperti yang sebelumnya. Bukankah Luxian, ayahmu, dan ayahku... Adalah sahabat? Mungkin itu bisa dijadikan alasan kita menikah. Kau... Akan menjadi ratu, dan... Kita bisa memiliki anak yang lebih lucu dari Guanlin. Yang pastinya tanpa cacat mental sepertinya. Kau mau kan? Baby Lu?"
"Sehun dan Guanlin adalah sumber kebahagiaanku, Kris. Dan akan kupastikan kau takkan menyentuh mereka!"
Pertarungan di sekitar mereka dimenangkan oleh anak buah Luhan. Mereka mulai mendekati Lady mereka, tapi Namjoon mengangkat tangan tuk melarang.
Lalu sesuatu yang langka pun datang.
Luhan tersenyum manis. Hingga Namjoon merasakan satu hal yang hilang dari Luhan, sebagai wanita, mulai kembali.
Kasih sayangnya sebagai ibu dan istri.
Kris melepaskan pelukannya dan mundur.
"Kau tahu aku paling tidak suka penolakan, Baby Lu."
"Kau juga tahu aku punya kepala batu. Dan lagi, berhenti memanggilku Baby Lu karena aku tidak sepolos dulu, f*cking shit! Aku benar-benar kesal sekarang..."
"Bukankah dari tadi anda kesal, My lady?" Gerutu Namjoon dibalas lirikan sengit oleh Luhan.
Kris tertawa kecil, "jika kau membutuhkanku untuk 'merusak' mainan barumu, hubungi aku."
Luhan berbalik memandanginya.
"Kau—"
"Ah? Kau marah? Bukankah setiap pria yang kau koleksi adalah mainanmu?"
Luhan terdiam.
Niat 'merusak' Sehun tentu saja masih ada. Anehnya, merusak di sini dalam artian berbeda.
'merusak' di sini, benar-benar memunculkan satu hasrat yang muncul di diri Luhan.
Dan ini mengenai keseksian Sehun.
Oke, pikiran mesum Luhan muncul lagi.
"See you again, Baby Lu."
Kris Anderson, yang entah kenapa memperkenalkan diri sebagai Woo Kris—Raja Woo yang baru—melenggang santai tanpa perduli tatapan tajam seluruh anak buah Luhan. Seperginya, seluruh anak buah Luhan mengerubungi tuan mereka.
"Lusa adalah hari pernikahanku dan Sehun. Kalian harus ekstra menjaga dan mengawasi area pernikahan kami, paham?"
"YES, MY LADY...!"
Luhan mulai meninggalkan gedung, sebelum Namjoon mencegatnya dan buru-buru meminta maaf atas kelancangannya.
"Ada apa?"
"Apa tujuan anda menikahi Oh Sehun karena hal ini?"
Luhan mencium singkat bibir Namjoon, lalu mengangguk sambil tersenyum tipis.
.
.
.
.
.
Dan inilah hari yang ditunggu-tunggu.
Pernikahan Sehun dan Luhan tiba. Diadakan di taman luas, tepat di Mansion Xi. Semua hiasan pernikahan bertema hitam putih. Tamu undangan yang hadir hanya kolega bisnis dan beberapa teman kerja Sehun sebagai sesama dosen. Ada juga mantan klien atau pasien Sehun yang masih berkomunikasi dengannya. Dan jangan lupakan anak-anak panti, pekerja panti, dan Irene sendiri.
Calon kakak ipar Sehun tidak bisa menghadiri pernikahannya dengan Luhan. Tapi baiklah, setidaknya Sehun lega karena punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan dua Luhan ini.
Luhan adalah iblis wanita berpikiran sangat irasional juga berlebihan. Tapi tak disangka, pernikahan ini sederhana namun elegan. Sehun hanya beberapa kali terlibat dalam persiapan pernikahannya dan Luhan. Selebihnya, Luhan mengaturnya sendiri menggunakan uang Sehun. Tabungan Sehun terlalu besar untuk seukuran dosen. Luhan pikir Sehun berbisnis atau ini pemberian Oh Siwon.
Tapi tidak, Luhan tahu pria tipe Sehun bukanlah orang yang berpangku tangan.
Hari ini, sehun luar biasa gugup di hadapan pendeta, sembari menunggu kedatangan Luhan.
Dan...
...Luhan ada di sana.
Dia cantik. Luar biasa cantik.
Namun yang mengejutkan Sehun adalah Oh Yunho—ayah kandung Sehun—yang mengantarkan Luhan ke arahnya.
Langkah Luhan diiringi lemparan kelopak bunga oleh dua pasang anak gadis bergaun putih. Mereka adalah anak-anak dari panti asuhan yang Sehun rawat.
Luhan mengenakan gaun dengan rok pendek di depannya, dan panjang menjuntai di belakangnya. Ada sepatu model boots abu-abu menghiasi kaki jenjang mulusnya. Gaun itu sendiri tanpa lengan, sarung tangan putih menutupi sepanjang lengan, tudung pengantin menginjak lantai, serta gulungan rambut keatas.
Luhan luar biasa anggun, jauh dari definisi terbuka dan seksi.
"Kau harus menjaganya, walau nyawamu taruhannya, Oh Sehun!" titah ayah Sehun pada anaknya.
Sehun mengangguk mantap, "tentu, Appa."
Setelah ikrar diucapkan, pendeta mempersilahkan kedua mempelai berciuman.
Luhan mulai berjinjit dan bibirnya mendekati bibir Sehun, namun terhenti saat Sehun mencium keningnya.
Pipi Luhan memerah. Malu karena bertingkah konyol di hadapan Sehun.
"Mari, kita mulai untuk saling mencintai, Hannie."
Luhan sedikit menutup bibirnya dengan jari jemari lentiknya. Dia tersenyum lebar, "ya, Hunnie."
Dari sinilah...
...kisah cinta pertama Sehun, dan kisah cinta terakhir Luhan...
Dimulai...!
.
.
.
.
.
Sementara itu...
.
.
.
.
.
"Anakmu ada di mana, David?"
"Kris?"
"Halo, Big Bro!"
"Kau datang kemari itu berarti kau sudah menemui Luhan."
"Kau benar! Mana rela Baby Lu menikahi pria yang bukan aku?"
"Berhenti terobsesi padanya, Kris. Luhan sudah bahagia bersama suami barunya. Mengenai Guanlin, dia ada di Mansion Xi. Mungkin bersenang-senang di sana."
"Kau menyerah, Dave-hyung? Kenapa tidak dari dulu saat kita dan Luhan menjalin hubungan threesome?"
David Anderson terdiam di balik meja kerja di kantornya. Pikirannya bercabang antara penyesalan dan cinta. Hingga tak sadar Kris sudah bersandar di dinding kaca, menikmati suasana gemerlap malam Kota Seoul.
"Apa itu berarti... Ini pertarunganku dan Sehun ya?"
"Kau seorang raja sekarang, bagaimana bisa kau ada di sini sebebasmu? Setidaknya menyamarlah."
"Rakyatku belum tahu tentangku, jadi untuk apa aku repot-repot menyamar, sementara aku bisa melenggang tanpa disorot media?"
David mendecih kesal.
"Kapan kau menunjukkan wajahmu di hadapan media sebagai Raja Woo?"
Kris mendekati meja David, mengambil sebuah foto dalam bingkai, tersenyum luar biasa tampan tapi kelam.
Di foto itu, ada potret si kembar dan Luhan.
"Kau tahu, Hyung? Hanya Baby Lu yang bisa membedakan wajah kita."
David Anderson hanya memandang datar adik kembarnya.
"Yah... Itulah spesialnya mantan istriku."
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
AUTHOR NOTE:
Habis nikah terus ngapain ya? (ya gitu deh)
ini masih awal, omong-omong. intinya dimulai setelah Hunhan nikah (baca judul). jadi maaf kalau chap ini bosenin ya :'(
Raja Woo sempat disinggung di chapter sebelumnya, kan? Jadi jangan kaget ya kalau raja geblek macam Kris muncul. (cuma mau ngasih tahu, segala deskripsi berharga di sini).
Oke, see you semuanya! Terima kasih atas dukungan dan krisannya.
Surabaya, 07 Juni 2019
