Nyaha~ chapter ke-4!! Sudah sampai 4 chapter lagi? *menghitung dengan jari* ga bisa dibilang banyak tapi saya masih tidak percaya... lamanya chapter ini di-update dikarenakan buntu inspirasi (meh) =_=;; tidak tahu harus membuat kelanjutan apa... sampai tiba-tiba England dengan baju Britannian Angel datang dan memberikan saya inspirasi dengan kekuatan Britannia Beam (tapi juga disebabkan oleh error-nya komputer gara-gara keseringan dipake internetan, meh). Tapi... mari kita kesampingkan England versi bidadari dan lanjut ke cerita. Semoga menghibur, kalau tidak silakan nonton Opera Van Java -- promosi euy!
Disclaimer: masih... tidak punya Hetalia... ataupun negara-negara yang terkandung di dalamnya. Pemilik sah Hetalia adalah Hidekaz Himaruya yang luar biasa dan negara-negara dunia dimiliki oleh pemimpin dan rakyatnya sendiri (oh, dan para binatang liarnya -- penting)
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
Kiku sedang duduk di sebuah restoran yang dimiliki oleh seorang French playboy yang juga teman seangkatannya di Hetalia Academy: Francis Bonnefoy. Dia sedang menunggu seseorang bernama Heracles Karpusi—yang bisa dibilang pacarnya. Pembicaraannya barusan dengan Gilbert membuatnya merasa bimbang.
Aneh... dia kira perasaannya sudah fix pada Heracles sejak mereka berdua lulus dari Hetalia Academy. Tapi ternyata dia masih mengingat waktu-waktu saat dia bersama Rio—yang dia kira sudah dia lupakan lama. Tidak bisa dibilang dekat, tapi juga tidak bisa dibilang tidak dekat. Kiku menjadi seperti kakak sekaligus teman Rio, dan entah kenapa, sesaat dia merasa dia ingin... lebih... dari status senior ataupun teman...
Kiku menarik nafas dalam. Dia tidak boleh bimbang. Dia sudah punya komitmen dengan Heracles. Kiku menghembuskan nafas panjang. Tapi bagaimanapun kata-kata Gilbert di telepon tadi serasa menghantui dirinya...
"Maaf membuatmu menunggu, Kiku," sahut sebuah suara di belakangnya. Kiku berbalik dan melihat Heracles berdiri kikuk di belakangnya. Kiku tidak pernah tidak senang melihat Heracles, dan itu membuatnya otomatis tersenyum. "Tidak sama sekali, Heracles-san. Aku juga baru datang."
Heracles mengangguk kecil dan duduk di samping Kiku. "Kau sudah memesan sesuatu?" tanyanya, Kiku menggeleng. "Aku menunggumu dulu," katanya.
"Tidak perlu seperti itu," kata Heracles dengan gayanya yang my pace, membuka buku menu. "Kau bisa memesan duluan, kok."
Percakapan mereka terhenti saat masing-masing mulai memilih-milih menu, dan menunggu makanan untuk dihidangkan.
"Lalu, kenapa kau mengajakku kesini, Heracles-san?" tanya Kiku.
Heracles terdiam sebentar. "Tidak... aku hanya ingin bertemu... masing-masing dari kita terlalu sibuk dengan pekerjaan... dan jadi jarang bertemu..." matanya yang selalu mengantuk terlihat agak meredup.
Kiku terdiam, wajahnya agak memerah. "Yah... memang kita terlalu sibuk dengan pekerjaan..."
"Dan aku menunggu di saat kau sedang senggang," lanjut Heracles. "Aku merasa tidak enak kalau menginterupsimu saat kau sedang bekerja."
"Yah, aku memang sedang senggang minggu-minggu ini," kata Kiku. "Tapi bukannya perusahaanmu sedang sibuk-sibuknya, Heracles-san? Kudengar Sadiq-san..."
"Jangan-menyebut-nama-orang-itu," kata Heracles, wajahnya langsung mengeras.
"Ah," kata Kiku, menyadari bahwa dia baru saja menyebut sesuatu yang haram. "Maaf, Heracles-san. Maksudku, kudengar bosmu sedang merencanakan untuk meluncurkan produk baru akhir musim ini. Bukankah artinya pekerjaanmu akan semakin banyak?"
"Aku tidak tertarik berbicara tentang pekerjaan," kata Heracles pelan, dan tangannya menggenggam tangan Kiku. "Bisakah kita... membicarakan tentang... kita?"
Wajah Kiku memerah.
Hening...
... dan suasana penuh kekhusyukan itu dirusak oleh teriakan dari arah jalan.
"KEMBALI KAU, GILBERT!!!!!!!!"
"HWAAAA!!!!!"
Kiku dan Heracles berbalik—tangan Heracles masih menggenggam tangan Kiku, entah sadar atau tidak—dan melihat Gilbert berlari dengan wajah histeris sementara di belakangnya, Elizaveta mengayunkan pisau dapur dan panci dengan penuh amarah.
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
(pura-puranya dah malem)
Rio melirik ke arah jam. Sudah jam 7 malam, sementara Dirk belum juga bangun. Tadi Rio mengecek apakah Dirk sudah mati atau belum, hanya untuk menemukan bahwa—ternyata—Dirk masih hidup. Rio sempat curiga apa Gilbert sempat membubuhkan obat tidur ke bir yang diminum Dirk kemarin malam.
Rasanya dia khawatir juga meninggalkan Dirk sendiri di rumah sebesar ini, apalagi Dirk sedang tertidur (lain masalah kalau dia terbangun). Bukannya di rumah ini tidak ada alarm, tapi tetap saja Rio merasa khawatir...
Akhirnya, dia meraih telepon, dan memencet tuts nomor, lalu menunggu...
... sampai seseorang mengangkat.
"Halo?"
"Hoi, Dave, aku Rio," kata Rio. "Begini, bisa kau menjaga kamarku? Aku ingin menginap di rumah teman, semalam ini."
"Rumah Dirk?" tebak cowok enggak penting bernama Dave itu.
"Hmm... gitu deh," kata Rio, agak malu. "Soalnya dia... rada sakit."
"Hmm... hmm... oke, bisa diatur. Oh ya, tadi ada dua kiriman. Masing-masing dari, err... tunggu sebentar... Lee M. Crawford dan Razak Lakesprings. Mereka kenalanmu?"
"Wow, benarkah?" tanya Rio tidak percaya. "Mereka adik-adikku."
"Hoo... tapi nama mereka tidak sama sepertimu," kata Dave ragu. "Perbedaannya jauh... banget."
"Itu masalah lain," kata Rio. "Ya sudah, itu saja yang mau aku bilang. Titip kamarku, ya."
"Sip," kata Dave.
Rio menutup telepon dan menghembuskan nafas. Entah, itu sudah jadi kebiasaanya akhir-akhir ini. Dia pun berbalik, menuju ke kamar Dirk.
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
Mata Dirk terbuka pelan.
Kepalanya terasa berat, dan dia hampir saja menutup matanya lagi kalau tidak melihat sesosok makhluk di kamarnya.
Penglihatannya yang masih buram membuatnya tidak bisa melihat jelas, tapi dia yakin bahwa makhluk itu adalah seorang manusia, bukan seekor beruang grizzly ganas nyasar, atau lebih parahnya seekor gorila sirkus yang kabur dari rombongannya. Dia mengucek-ngucek matanya dan akhirnya melihat bahwa Rio sedang duduk di meja kerjanya, sedang mengerjakan sesuatu.
"Rio...?" gumamnya ngantuk.
Rio berbalik, menatapnya datar. "Oh, kau sudah bangun," katanya cuek, lalu berbalik ke arah kertas-kertasnya. "Bagaimana keadaanmu?"
Dirk menguap lebar. "Lapar," katanya.
"Tentu saja, kau tidur hampir 24 jam," kata Rio. "Tuh, di atas meja ada roti."
Dirk menengok dan melihat sepiring roti di atas meja lampunya. Dia mengambilnya. "Banyak keju?" tanyanya polos. Rio menghela nafas. "Tentu saja, dasar bodoh," gumam Rio.
Tidak ada yang berbicara saat Dirk memakan rotinya.
"Kau belum pulang?" tanya Dirk, sambil mengunyah kejunya.
"Aku menunggumu bangun dulu," kata Rio, tidak melihat Dirk.
Hening.
Rio tetap berkutat dengan kertas-kertasnya sementara Dirk sudah menghabiskan rotinya.
"Oh ya," kata Rio, mengambil kotak berwarna turquoise yang diberikan Kiku tadi sore, lalu melemparnya ke arah Dirk. Dirk menangkapnya, tersenyum lebar. "Wah~ lebih cepat dari yang kuduga~"
"Apa sih, isinya?" tanya Rio penasaran, tapi juga... berharap.
Dirk nyengir dan mengeluarkan iPod versi terbaru dengan corak kulit sapi. "Dengan ini koleksiku bertambah!" katanya senang.
Rio menghela nafas panjang. Dia tidak heran, orang sekaya Dirk pasti bisa langsung memesan barang semahal itu dalam waktu detik, tapi dia merasa... kecewa. Rio pun berbalik dan mengerjakan kertasnya lagi.
Dirk mengerutkan kening. "Kenapa, Rio? Kau sakit?"
"Kau yang sakit," gumam Rio.
"Aku baik-baik saja," kata Dirk heran.
Rio menghembuskan nafas, lalu berbalik ke arah Dirk. "Tidur selama hampir 24 jam dan menerjang sembarang orang dalam keadaan setengah tidur-setengah mabok itu kau katakan sehat?"
"He? Siapa menerjang siapa?" tanya Dirk.
Rio menghela nafas panjang. "Sudahlah," lalu berbalik lagi ke kertas-kertasnya.
"Kau bertingkah aneh hari ini, Rio," kata Dirk, suaranya menjadi terdengar agak serius.
"Kau juga sama," balas Rio pelan.
Dia mendengar Dirk bangkit, dan suara langkah. Sesaat dia mengira Dirk akan pergi ke kamar mandi. Tapi dia tidak menyangka.
Dirk memeluknya.
"Kau marah, ya?" kata Dirk, tersenyum jahil.
"Marah kenapa?" tanya Rio cepat. "Ini—lepaskan aku, dasar bodoh!" Rio berusaha lepas dari pelukan Dirk.
"Tidak mau," kata Dirk simpel. "Kau tidak suka dipeluk?"
"Aku tidak suka dipeluk olehmu!" kata Rio marah. "Lepaskan aku sekarang!"
"Tapi kau mau saja dicium Gilbert."
Hening.
"D-Darimana..." Rio tergagap heran.
Dirk tertawa. "Berarti aku benar, ya?" katanya jahil. "Padahal aku hanya bercanda... ternyata dia benar-benar menciummu, ya?" goda Dirk.
Rio tidak yakin, tapi dia mendengar sedikit nada kecemburuan.
"Kau cemburu?" tanya Rio, dengan nada menohok.
Dirk tidak menjawab.
Kali ini Rio hanya tertawa kecil, lalu mengerjakan kembali kertas-kertasnya. Tapi Dirk masih tetap bergelayut padanya seperti bayi koala. Mungkin dengan sedikit ralat bahwa dia berumur lebih tua dari Rio dan bahwa dia bergelayut di belakang, bukan di depan layaknya bayi binatang normal lainnya (berarti Dirk binatang, dong?).
"Itu apa, sih?" tanya Dirk penasaran.
"Bukan apa-apa," jawab Rio cuek. "Bisa kau lepas aku sekarang? Kau berat, tahu."
"Tidak sebelum kau memberitahuku apa yang sedang kau kerjakan," kata Dirk, dengan nada "show it or die".
Rio mendengus. "Hanya soal-soal enggak penting," kata Rio, memperlihatkan kertas yang berisi rumus-rumus Kalkulus. "Nah, bisa kau turun sekarang?"
Dirk mematuhinya dan melepaskan Rio yang—akhirnya—bisa bernafas dengan leluasa. Dirk tiduran di atas kasurnya, sementara Rio masih melanjutkan mengerjakan soal-soal Kalkulus itu.
"Kenapa kau mengerjakannya?" tanya Dirk.
"Daripada bosen menunggumu bangun," balas Rio, tidak mengalihkan perhatiannya dari kertas soalnya.
"Tidak biasanya," komentar Dirk.
"Ada yang salah dengan itu?" balas Rio, teriritasi. Dirk hanya nyengir. "Kau terlalu terobsesi dengan segala macam pendidikan itu," kata Dirk santai. "Kau butuh hiburan, kau tahu."
"Tidak, terima kasih," tolak Rio dengan nada ketus.
Dirk nyengir. Dia kembali beranjak ke arah Rio dan mengayunkan dua tiket ke depan wajahnya.
"Apa, sih?" gerutu Rio, berbalik ke arah Dirk. Dirk hanya nyengir. "Kau tahu ini apa?"
"Mana bisa aku melihat kalau kau terus mengayunkannya seperti itu," kata Rio. Dirk nyengir makin lebar dan akhirnya membiarkan Rio melihat tiket itu lebih jelas.
Rio terpaku.
"Nonton?" tanya Rio, tidak percaya.
"Yaah... kau kan pernah bilang pengen nonton film ini sejak kau baca review-nya di koran," kata Dirk. "Jadi ya... aku memutuskan untuk memesannya. Kau punya waktu 'kan, besok?"
Rio hanya memandang Dirk tidak percaya.
"Hanya kita berdua?" tanya Rio.
Dirk mengangguk.
"Tidak ada yang lain?"
Dirk menggeleng.
"Jadi," kata Rio perlahan, "ini... semacam... k-k-kencan?"
Dirk terdiam dengan wajah polos. "Hmm," dia berpikir sebentar. "Ya, bisa dibilang," katanya dengan senyum lebar.
Rio hanya ternganga. Dirk terkekeh dan mengacak-acak rambut Rio. "Aku tidak mau tahu kau mau nonton atau tidak," katanya. "Aku sudah memesannya dari dulu, dan kalau kau tidak mau, kau tahu akibatnya." Dirk nyengir lebar dan langsung berbalik ke arah kamar mandi.
"Urgh..." gumam Rio putus asa, dan langsung merebahkan kepalanya di atas tumpukan kertas.
Bisa dibilang dia kecewa. Tapi dia juga senang.
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
XDD tiap kali saya baca ulang fanfic ini, saya masih tidak percaya SAYA-lah pembuat cerita ini. Disini Dirk terlihat manja kayak anak kecil, ya? ^^ itu cuma karena dia lagi berusaha ngerayu Rio. Tapi saya juga masih heran sejak kapan Rio membawa soal Kalkulus? Yaah... namanya juga fanfic X3 oh ya, sekedar informasi: Lee itu Singapore dan Razak itu Malaysia.
Dan kalau ada yang bertanya-tanya bagaimanakah nasib Gilbert, saya membuat omake singkatnya.
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
Gilbert berlari demi nyawanya yang luar biasa, sementara Elizaveta masih mengejarnya dengan ganas seperti seekor cheetah yang sedang mengejar buruannya, sama luar biasanya (biarpun Gilbert tidak ingin mengakuinya).
Gilbert berlari secepat yang dia bisa, lalu dia melihat seseorang baru keluar dari sebuah toko, sedang menggendong boneka beruang kecil dan beberapa belanjaan. Gilbert tidak sempat mengerem dan tabrakan terjadi. *tambahkan sound effect mobil tabrakan, lengkap dengan decitan-mirip-tikus-nya*
"Urgh... siapa yang menghalangi pelarian tidak-luar-biasa dari aku yang luar biasa ini?" gerutu Gilbert, dan melihat seseorang yang baru saja ditabraknya: Matthew Williams.
"G-Gil?" gumam Matthew, membenarkan posisi kacamatanya. "Kau kenapa?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, aku harus kabur sebelum aku dibantai Elizaveta..." dari kejauhan, teriakan: "KEMBALI KAU, DASAR *******, *****..." sudah mulai mendekat. Gilbert menelan ludah ketakutan dan segera menarik tangan Matthew.
"Ap—Gil! Aku tidak ada kaitannya dengan ini, kan?" kata Matthew panik, belanjaannya yang terjatuh tergeletak begitu saja, berantakan di depan toko.
"Yang penting kita kabur!!" teriak Gilbert ketakutan.
Elizaveta, yang baru saja sampai toko, berhenti tepat di depan belanjaan Matthew yang tertinggal. Tergoda dengan semua barang-barang gratisan yang bagus-bagus itu, dia meraup semuanya dan memasukkannya ke kantong kresek, dan membawanya pulang tanpa rasa berdosa, melupakan pengejarannya tentang Gilbert.
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
Maaf kalo chapter ini tidak terlalu seru =_=; mungkin Britannia Beam-nya tidak terlalu berpengaruh, karena England-nya mabuk...
Reviews, or I call The Drunk Mighty Britannian Angel!!! *muahahahahaha!!!!* :DDDD
