Disclaimer: All character belong to Masashi Kishimoto. But this story purely mine. I don't take any profit from this work. It's just because I love it.

Warning: AU, miss-typo, miss-OOC(?), SasuSaku

©LastMelodya

.

Fragmen

.

.

"Sebelum aku mampu mendeferensiasikan kita, kau lebih dulu meretas relasi."

.

.

Keberadaannya mungkin sudah menjadi bagian dari repetisi kehidupan Sasuke. Tanpa disadari.

Segalanya hanya terasa benar jika berdua. Seperti sebuah potongan yang saling melengkapi. Sebuah ujung yang saling berlawanan, namun saling membutuhkan dan tarik-menarik.

"Kau bisa di sini sampai Naruto pulang? Sepupu sialanku itu mungkin masih ada acara dengan gadis-gadisnya."

Karin meletakkan satu cangkir berisi kopi hitam di hadapan Sasuke. Sedangkan ia sendiri mengambil cangkir berisi chamomile tea untuk dirinya. Gadis berkacamata itu kemudian duduk di sebelah Sasuke, menyikut lengannya karena lelaki yang diajak bicara tak memberi tanggapan. Berhasil, karena setelahnya Sasuke mengalihkan tatapan padanya dan mengangguk tanpa berpikir panjang.

Sasuke meletakkan ponselnya, kemudian mengulurkan tangan untuk mengangkat cangkir kopi dan menyesapnya. Ia tahu, kopi hitam buatan Karin selalu enak. Dan Karin selalu tahu takaran pahit seperti apa yang ia sukai. Sasuke pernah berpikir bahwa Karin mungkin pernah bekerja menjadi barista atau semacamnya. Karena kopi ataupun latte buatannya selalu terasa pas di lidah.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sasuke mungkin akan telat pulang malam ini. Sepulang dari kantor tadi ia segera pergi ke sebuah pameran properti dengan Karin yang juga membuka stand di sana. Dan sekarang, ia tertahan di sini, di apartemen Naruto—sahabatnya, yang juga merupakan sepupu Karin. Sahabatnya itu meminta Sasuke untuk mendesain kamar tak terpakai di apartemen ini. Hanya saja, sekarang ia malah belum pulang dan meninggalkannya dengan Karin berdua. Masalah bagaimana caranya mereka berdua bisa masuk, Karin memang memiliki kunci cadangan apartemen Naruto.

Ponsel Sasuke kembali bergetar, ada satu pesan baru.

Karin memerhatikan Sasuke yang tengah membalas pesan di ponselnya itu. Wajahnya terlihat serius—yah, memang seperti itu, sih, guratan wajah Sasuke setiap saat. Serius dan kaku. Anehnya, wajah itu tetap tak membosankan untuk dipandang. Bermenit-menit selanjutnya dihabiskan Sasuke untuk berbalas pesan dengan pengirim pesannya tersebut. Tiba-tiba saja bibir Karin tak tahan untuk mencibir.

"Sakura?"

Sasuke menoleh, melayangkan tatapan bertanya dengan satu alis terangkat pada Karin.

Gadis itu tersenyum, mengedikkan kepala pada ponsel dalam tangan Sasuke, "pesan-pesan itu."

Sasuke mengangkat bahu. "Bukan, Itachi."

Ada sedikit keterkejutan dari mata rubinya. Biasanya, pesan-pesan Sasuke didominasi oleh gadis berambut permen itu. Dan memang hanya gadis itu yang selalu bisa membuat Sasuke betah dengan ponselnya.

"Tumben, kukira Sakura."

"Kalau ia, sepertinya tengah sibuk."

Gadis itu mengangkat alis, "sibuk apa?"

"Sibuk dengan kegiatan sosial yang ia ikuti, atau sibuk dengan salah satu pemimpin kegiatan itu, apa peduliku?"

Karin tersenyum. Sedikit banyak memahami sebuah ucapan tersirat yang implisit dari ujaran barusan. Mungkin Sasuke tak menyadari, atau sengaja mencoba untuk tak menyadari, tapi Karin tahu. Kalimat itu berisi sebuah informasi kecemburuan. Bagai sebuah tindak tutur ilokusi yang menyiratkan maksud lain pada ujarannya. Lelaki di sebelahnya ini begitu naïf, atau munafik? Toh, Karin tidak akan peduli. Karena biar bagaimanapun Sasuke, ia tetap tergila-gila padanya. Mencoba tak menghiraukan perasaan tersirat Sasuke akan sahabat perempuannya yang bahkan tak Sasuke yakini.

"Kau memang tak perlu peduli." Karin tersenyum. Walau sedikit menyedihkan, tapi ia tahu, terkadang Sasuke menggunakannya sebagai pelarian dari Sakura. "Sasuke, sepertinya Naruto masih lama. Aku ingin pulang."

Sasuke menatapnya, pandangan itu terlihat jelas tengah menimbang-nimbang. Karin hanya tersenyum, ia tahu Sasuke sedang berada di pihaknya.

"Kuantar." Kata Sasuke akhirnya, gadis itu kembali tersenyum.

Karin terus meyakini dalam hati, tidak apa-apa.

Walau hanya sebagai pelarian.

Mobil hitam Sasuke memasuki pelataran parkir rumahnya. Arlojinya sudah menunjukkan hampir pukul sembilan.

Lelaki itu bergegas untuk keluar dari mobil, tak lupa menyambar jas hitamnya yang ia sampirkan di sandaran jok mobil. Kemejanya sudah mulai mencekik, bahkan hari ini ia gagal bertemu dengan klien-nya. Panggilan Itachi ia hiraukan begitu saja, yang ia inginkan saat ini adalah berendam dengan air hangat beraroma terapi di kamar mandinya.

Ketika sampai di kamar, ia tak dapat menahan diri untuk tak menyibak tirai jendela.

Masih terjaga. Lampunya masih menyala.

Ia ingin menghubungi Sakura, sekadar untuk menegur gadis itu. Menanyakan sedang apa? Ia rindu konversasi kasualnya. Tapi, ia harus menahannya. Ia sadar, ia telah sampai pada batas-batas kelogisannya akhir-akhir ini. Perasaannya pada Sakura mulai tak tertahankan. Entah itu … perasaan apa. Sasuke harus mulai pintar memanej diri.

Maka, ia melepaskan seluruh pakaiannya. Dan berendam dengan segala kemelut pikirannya, mencari ketenangan yang tersisa di antara aroma terapi.

Lalu, ponselnya bergetar.

Sasuke menoleh dari bath up-nya. Ponsel itu berkedip, menyuratkan satu nama.

Ia tak menunggu selesai berendam untuk membuka ponselnya. Masa bodoh.

Sakura: Sasuke, sudah pulang?

Ia tak ingin tersenyum, tapi bibirnya sudah keburu melengkung membentuk kurva manis itu.

Me: hn, sudah. Belum lama

Ia sedang tak ingin berpikir dan menerka-nerka perasaan ini. Ada saatnya. Ia hanya ingin menikmati kegiatan kasualnya dengan Sakura yang hampir hilang seharian ini. Entah apa sebabnya.

Sakura: sudah bersih-bersih?

Me: currently on. Jangan tanya bagaimana aku membalas messenger-mu

Sakura: ih, jorok! *emoticon laugh inserted*

Sakura: selesaikan dulu kegiatanmu. Aku mau cerita panjang. Tak lucu kalau kau menyimaknya sambil telanjang

Sasuke terkekeh membacanya. Maka, ia dengan enggan bangkit dari bath up dan membilas diri. Pikirannya sudah lumayan tenang. Entah efek berendam singkat barusan atau … Sakura?

Ketika Sasuke selesai berpakaian, ia kembali mengecek ponselnya. Ada satu messenger dari Sakura tak lama sejak pesan terakhirnya tadi.

Sakura: kalau sudah selesai, bilang ya

Sasuke kembali tersenyum, ia merebahkan diri di atas tempat tidurnya, mencari posisi ternyaman untuk mendengarkan segala cerita Sakura, apapun itu.

Me: sudah

Ada jeda beberapa lama ketika pesan itu terkirim, menyimbolkan tanda centang dua berwarna biru pertanda si penerima di sana sudah membacanya. Sasuke menunggu, petunjuk layar di bawah nama Sakura tertulis 'Sakura is typing…' mengindikasikan gadis itu tengah mengetik sesuatu.

Lama.

Hingga Sasuke mulai merasa hambar dan ragu akan apa yang ingin dan tengah Sakura ceritakan.

Sakura: aku tak pernah memikirkan sebelumnya, Sasuke. Tapi entah mengapa aku tak terkejut saat ia mengatakannya. Aku senang, jujur saja. Karena sedikit banyak aku juga menyukai hal itu, dan walau tak pernah membayangkan, tapi ternyata aku ingin. Aku ingat ketika aku berbicara tentang pria-pria sebelum ini padamu, tapi aku teringat, ternyata aku tak pernah bercerita tentangnya padamu. Aku senang, tapi aku sedikit bertanya-tanya, karena sepertinya hal ini tak terlintas sebelumnya dalam pikiranku.

Sakura: Shikamaru menembakku. Dan aku menerimanya.

Sasuke hampir lupa bernapas ketika ia membaca pesan panjang itu. Bahkan ia tak menyadari getaran di tangannya saat ini. Perasaannya kini semakin terasa aneh dan kebas, seperti ada sesuatu yang memukul-mukul jantungnya, karena denyutnya kini terasa menyakitkan.

Ia tak menjawab hingga beberapa menit kemudian. Sasuke tahu, tanda pesan di sana pasti sudah bersimbol centang dua dan berwarna biru. Menginfokan pada Sakura bahwa ia sudah membaca pesan itu. Tapi, ia masih tetap mematung di sini.

Sakura: bagaimana menurutmu?

Bagaimana, bagaimana? Ia tak memiliki ide apa-apa.

Sakura: Sasuke?

Sakura: kau masih di sana?

Sakura: hei, Tuan Arsitek?

Sakura: oh yeah, jangan bilang kau tidur. Lupa meng-close aplikasi?

Sasuke memejamkan mata, ponsel itu masih terus bergetar, menampilkan pesan berisikan namanya yang tertulis sama berkali-kali. What should I do?

Sakura: hm, aku tak tahu apa kau memang lupa meng-close aplikasi messenger-mu atau sengaja tak membalas, tapi kuharap kau mau menjadi tempat sampahku besok. I know u know what I mean

Sakura: oke, sleeptight

Tempat sampah yang dimaksud Sakura adalah 'pendengar curhatannya'. Sasuke tahu, mungkin keadaan besok akan jauh lebih buruk dari ini, setidaknya perasaannya. Walau ia masih belum paham mengapa, tapi yang jelas, ia hanya ingin terbebas dari segala tuntutan pendapat tentang cerita Sakura malam ini.

Maka, Sasuke menjawab.

Me: maaf, aku dari kamar kecil, Sakura. Aplikasi tidak ku-close. Kopi Karin membuatku mulas

Me: oke, see u, pink

Dan tak ada jawaban dari Sakura hingga keesokan paginya.

.

To be continued.

a/n: jangan bayangin Sasuke pas lagi berendam, please T.T mood menulis saya lagi swinging banget, jadi maaf kalau diksinya juga ikut swing ke mana-mana xD oh iya, setiap chapter di fic ini memang akan saya buat pendek-pendek. Mungkin sekitar 1000-1500 words saja untuk story only. Syukur-syukur kalau bisa sampe 2000 heu. Tapi, semoga masih bisa dinikmati^^

MaelaFarRon II (hehe makanya saya gak tahan buat jadiin Shika sbg orang ke-3. Makasih ya!), Guest (Hehe thankyouuu, saya juga dukung Shika kok. *lho), Desu ka (ini udh apdet ya, terima kasih :D), daffodil (iya paling bakal dibuat sekitar 1k-1,5k words aja :')) hehe ikutin terus ceritanya ya xD terima kasih!), Orchidflen (aish terima kasih banyak ya :*), zeedly clalucindtha (sudah diapdet yaa), suket alang alang (hehe liat di chap-chap selanjutnya ya x'D) makasih :D), hanazono yuri (ini sudah lanjut yaa), NenSaku (sudah lanjut ya :D), Lullaby Cherry (hihi thank you. I love them too xD), wowwoh geegee (iyaaa ayoo sasu-kuuun :3 terima kasih sudah review ya :D)

Saya senang banyak yang suka ShikaSaku ternyata :'3 yah, karena memang sepertinya GaaSaku/NaruSaku/SasoSaku dll sudah terlalu mainstream untuk dijadikan orang ketiga dalam fic SasuSaku, maka saya memasukkan ShikaSaku di sini (tapi kalau kalian sering mengikuti fic-fic saya, saya sudah sering memakai Shikamaru sebagai pasangan Sakura sih x'D). Yeah, pokoknya thank you for adorable review, guys. I'm sooo honored!

And, how's this chapter? RnR again?^^

LastMelodya