Get Married
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Warning : Sho-Ai
hanazawa kay: soalnya chap itu penuh flashback:D, FayRin Setsuna D Fluorite , uzumakinamikazehaki, mifta cinya, Arum Junnie, NaraZee, Kim In Soo , heriyandi kurosaki dan para senpai yang lainnyaaa, terimakasih masih tetap membaca, memfav, memfollow dan membaca ff gaje ini :D:D:D:D. Sesuai janji saya update lagi:D:D:D:D:D. Mumpung lagi nganggur jadi cepet selesai ceritanya hihihihihi:D:D:D
selamat membaca:D:D:D:D
"NARUTOOOO!" Sasuke lovers teriak lebay sambil nunjuk-nunjuk ke aku. Mereka sedih melihat muka Sasuke yang aku lempar pake bola basket. HUHAHAH, rasakan pembalasanku!
"Naruto!" Ino datang sambil memasang muka penuh kemenangan. Mencurigakan yang ada.
"Kenapa?"
"Eh, lihat nih, foto kamu sama Sasuke waktu itu sudah aku sebar ke anak-anak," katanya kalem.
"HAH?"
"Hihihihi, nggak nyangka ya kau bakalan merasakan titik kenikmatan pas tamat SMA nanti haha!"
"Urusee!" kataku sebal.
"Naruto, kita bicara" itu pasti si Sasuke. Ketauan banget dari suaranya yang dingin gitu
"Males!" kataku jutek kemudian aku pergi begitu saja. Sasuke menahan tanganku sambil memasang muka kesalnya.
"Kubilang kita bicara"
"Ish!" Aku mendelik kesal lalu berdiri menghadapnya. Dia terlihat sangat kesal. Matanya yang tajam itu lebih tajam melihat aku. Untung saja aku sudah biasa melihat sorotan matanya Sasuke, coba kalo nggak?, aku mungkin sudah berkeringat dingin
"Apaan?"
"Karin marah samaku."
"Terus?"
"Pergi Ino" kata Sasuke pada Ino yang diam menyimak. Cewek itu mengerutkan kening lalu ngacir.
"Karin menangis sekarang di kelas karna tau kita tunangan. Cincin tunangan kita diambil juga sama dia. Kau ambil cincinku darinya" katanya. Aku mendelik kesal. Karin lagi Karin lagi. Tuh cewek cengeng banget sih! Terus kenapa harus aku yang harus mengambil cincinya! Kan itu punya dia! Asal tau aja ya, si Karin jadian sama Sasuke aku sudah males banget liatnya. Tapi, tumben-tumbenan aja si Sasuke betah sama Karin, padahal dia bilang sendiri kalo dia nggak suka cewek. Terus kenapa dia jadian sama Karin? Aneh kan dia?
"Putusin aja udah," saranku.
Sasuke diam. Sasuke terus memasang wajah super dinginnya itu.
"Segininya kau membenci perjodohan ini? Kau nggak sayang sama mereka?"
"Seharusnya pertanyaan itu buat mereka. Memangnya mereka nggak sayang sama kita? Kita masih muda. Masih punya cita-cita yang harus dicapai. Masih mau bebas dan yang jelas belum mau nikah muda!" kataku penuh penekanan.
"Aku itu-" Sasuke menggantung kalimatnya. Dia segera berbalik padahal kan aku masih nggak mengerti apa maksud 'aku itu' yang tadi dia bilang.
~Karinnya Sasuke marah~
"Oh ini dia si musuh dalam selimut!" Karin menghampiri aku yang baru saja keluar kelas. Matanya merah seperti habis menangis.
"Apaan?" Aku menaikan alis, dia pikir aku takut apa mentang-mentang dia anaknya kepala Sekolah.
"Nggak tau diri ya? Memang nggak ada cowok lain apa selain cowok aku yang kau godain?"
Idih. Karinnya Sasuke mengamuk. Bales nggak ya? Atau dipanas-panasin aja kali ya.
"Oh hei Karin, nanti kalau undangan aku sama Sasuke selesai kau orang pertama deh yang dapat. Tempat duduk juga paling depan deh. Nah! Atau kau mau jadi pengantarku pas aku lagi jalan di karpet merah itu nanti?"
Karin mewek lagi dan kelihatannya sih siap nabok aku. Baru saja mau menghindar Sasuke muncul dan menahan tangan Karin yang sedikit lagi mendarat di pipiku.
"Sudah cukup" kata Sasuke yang dingin. Karin bungkam. Dia melirik panik ke orang-orang yang sekarang jadi penonton.
"Kamu masih saja membela dia!"
"Naruto nggak salah" kata Sasuke masih dingin. Dia menarik tangan kiri Karin yang mengepal."Kembalikan cincinnya."
"Nggak" Karin menyembunyikan tangannya di balik punggung. "Aku buang lihat aja!"
"Buang saja. Bisa beli lagi" Sasuke dengan cuek tambah dingin itu berbalik tapi Karin malah menahannya.
"Sasuke! Aku nggak mau putus! Jangan putusin aku!" lirihnya sambil berlinang air mata.
Waduh, aku tahu Karin emang lebay tapi kelihatannya kali ini dia beneran deh. Aku jadi nggak enak hati. Aku memilih pergi, samar-samar aku masih medengar pertengkaran Karin dan Sasuke yang mulai sepi penonton.
"Naruto! Naruto!" Sakura dan Tenten berlarian mengejar aku.
"Kau ini beneran ya mau menikah sama Sasuke tamat SMA nanti?" Tenten nanya duluan.
"Kok bisa sih Naruto! Kok bisaaaaaaa? Ya ampun aku iri sama kamu!" Sakura histeris bak orang gila
"Hueeee, aku nggak mau tapi Sasuke setujuuuu!" rengekku lalu duduk lemas di koridor. Ini jam pulang sekolah jadinya sekolah sudah agak sepi.
"He? Maksudnya? Kau nggak setuju gitu dinikahin sama Sasuke?" tanya Sakura ikutan duduk
"Iyaalah! Aku sama Sasuke nikah? Ya ampun, sungguh mengerikan!"
"Mengerikan?" tanya mereka bersamaan. Aku ngangguk pelan.
"Ya memang aneh sih tapi kau itu beruntung. Ish, dodol banget sih kau Naruto! Itu Sasuke loh Sasukeeee! Cakep iya, keren iya, pinter, gayanya sempurna pula, dan sepertinya sih dia sangat sayang samamu! Kalau aku menjadi dirimu aku pasti terima" kata Sakura.
"Sayang apanya? Kalo dia sayang sama aku pasti dia akan menolak waktu tahu aku sama dia mau dijodohin! Aku kan suka sama kakaknya! Itachi!"
"Naruto…Naruto… harusnya kau bersyukur dijodohin sama Sasuke. Meskipun aneh perjodohan ini. Percaya sama aku, suatu hari Sasuke bakal membuat kau merasa menjadi ratu, kau pasyi akan sangat menyayangi dia" tambah Tenten.
"Mau jadi ratu atau nggak tetep aku gamau!" Aku merinding geli.
xxxxxxxxxxx
Seminggu sudah aku nggak membuka jendela kamar. Males banget melihat mukanya Sasuke. Sekarang aku sudah jarang pergi sekolah bareng dia. Di sekolah semua bertanya kenapa kok aku sama Sasuke jadi musuhan padahal kan mau menikah. Asdjklkmnihdajkdhs!, nggak tau mau bicara apa. Satu sekolah tahu aku sama Sasuke mau menikah tamat SMA nanti. Aaaaaaa malunya!
"Naruto, kau di dalam?" Sasuke mengetuk pintu jendela kamar aku. "Aku mau bicara."
Yaudah bikcara saja sama tembok. Huft.
Dua menit hening.
"Besok kita harus fitting baju pengantin."
Aku mendengar suara jendela tertutup. Apaan fiiting pengantin. Malas, nggak mau pokoknya titik.
xxxxxxxx
"Cepet jalannya" kata Sasuke dingin yang melihat aku berjalan ogah-ogahan. Tadi malem aku bilangnya nggak mau ikut fitting baju, kan? Nih aku sudah diseret si Sasuke pagi-pagi. Padahal masih ngantuk.
"Gendonglah!" kata aku sewot.
Sasuke berbalik lalu menggendong aku bak karung beras. Ya ampun rame banget lagi orang di dalam.
"Turunin aku nggak! Sasukeeee!" rengekku sambil menggebuk-gebuk punggung belakang Sasuke.
Sasuke menurunkanku tepat di sebuah ruangan yang penuh dengan baju pengantin. Untung ruangan ini sepi, hanya ada tante-tante yang dandanannya menor banget. Oh, sepertinya aku tahu beliau siapa. Tante Tsunade, temannya almarhum mamaku yang ternyata si empunya butik.
"Oh jadi ini calon pengantinnya? Kalian masih muda-muda banget ya ampun," kata Tsunade
Sasuke sedang memperhatikan baju couple yang dipajang di lemari dalam kaca. Bagus juga seleranya.
"Tapi kalian cocok sih. Kalian itu yang mewujudkan mimpi kakek dan ayah kalian yang dulunya nggak bisa menikah sesama jenis begini. Sama-sama proposional, ganteng dan manis. Pasangan yang sempurna. Makanya aku membuat baju yang cocok buat kalian. Ini dia." Tante Tsunade menunjuk baju pengantin yang terpajang manis di salah satu lemari kaca. Satu jas putih (lagi) dengan dalaman warna putih juga (lagi) dan jas hitam dengan dalaman baju warna putih. Begitu elegan dan mewah.
"Dicoba dulu" kata Tsunade membuat aku dan Sasuke tersadar karna terlalu lama memperhatikan baju itu.
Sasuke lebih dulu masuk ke ruang ganti. Baik, waktu dia keluar dengan balutan jas yang kece, kegantengannya meningkat 1000%. Tidak akan kutarik deh kata-kataku ini.
"Bagus" puji Sasuke pas ngeliat aku keluar dari ruang ganti.
"IYA DOOOONG HAHAHA!" entah kenapa aku mendadak senang waktu meelihat pantulanku di cermin. Ternyata aku memang keren kekekekeke.
"Senyum-senyum. Sudah nggak sabar? Bulan madunya mau ke Negara mana?" Tsunade menyilangkan kedua tangannya. Bulan madu? Kok terdengar menggelikan ya?
"Err, bu-bulan madu?" Tanyaku
"Ada apa Karin?"
Aku beralih pada Sasuke yang buru-buru masuk ke ruang ganti sambil nelpon. Dua menit kemudian dia keluar.
"Ganti baju cepat. Kita ke rumah Karin sekarang"
"He?"
"Ganti cepat. Aku tunggu di mobil." kata Sasuke lalu pergi. Maunya apa sih tuh anak?! Apa tadi, si Karin?
xxxxxxxxxx
"Aku nggak mau turun!" kataku waktu mobil berhenti tepat di depan rumah Karin.
"Terserah" balasnya lalu cepat-cepat turun. Mau apa lagi tuh cewek? Dulu sih waktu aku sama si Sasuke masih baik-baik, dia selalu berusaha menjauhkan aku sama Sasuke tapi aku nggak suka. Nah, kalau sekarang, aku setuju banget dia membuat aku dengan Sasuke menjauh. Biar nanti aku nggak jadi menikah sama si Sasuke, ya, kan?
Satu jam sudah aku di dalam mobil. Lama juga ternyata. Sedang apa coba mereka di dalam? Tuh orangnya keluar. Aku semprot lihat aja. Eh nggak deng, harusnya aku suruh lebih lama biar mereka makin deket.
"Maaf lama" kata Sasuke.
"Nggak, kok. Baru satu jam. Kau nggak mengajak Karin jalan-jalan?" tanyaku. Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Nggak" jawab Sasuke singkat sambil menstarter mobilnya.
"Kenapa?"
"Males."
"Oh."
"Kau sungguh membenciku?" pertanyaan membuat aku tertegun sebentar. Membenci Sasuke? Iyalah! Benci banget.
"Hmm. Kau tau aku suka sama Itachi tapi kau malah setuju kita menikah. Aku kecewa sama kamu. Aku pikir kau sahabat, tapi nyatanya? Kau malah seperti ini" Aku melengos lalu membuang pandangan ke luar jalan. Aku tahu Sasuke sebentar lagi mau berbicara sesuatu, tapi aku malas untuk mengarkannya.
Tik tik tik
Asiik hujaaan. Tidur aja deh, hooaaaaams.
Normal POV
"Naruto, aku sebenarnya sayang sama kamu. Dulu aku menolak perasaan ini, karna aku nggak mau abnormal. Sewaktu aku bilang ke kakek kalau ada perasaan aneh ini, ternyata kakek juga suka sama sesama jenis. Aku pikir ini aneh dan gila. Tapi semakin lama aku sadar, jika aku memang sayang kamu, Naruto." Kata Sasuke sambil menyetir. Dari ekspresi wajahnya jelas banget dia sudah mau mengkapkan ini sejak lama tapi belum menemukan waktu yang pas dan takut kalau Naruto menjauh darinya
…..
Sasuke menoleh pada Naruto yang tertidur pulas. Sasuke bete dengan tanpa simpang tiga di kepalanya, Naruto pasti tidak mendengar apa yang dia bilang tadi. Ia menepikan mobil, melepaskan jaketnya lalu menyelimuti Naruto.
Sasuke menyandarkan kepalanya di atas stir mobil sambil memperhatikan wajah polos Naruto yang sedang tidur. Dia selalu sama. Tetap manis.
Ia jadi teringat perkataan Karin tadi di rumah Karin.
"Iya aku tau kau menerimaku karna kau mau membuktikan kalau kau itu normal, maksudnya nggak mau terima perasaanmu yang bisa suka sesama jenis itu. Iya aku tau kau sayang sama dia. Iya aku tau kau seneng banget ketika dijodohkan sama dia! Tapi, apa salah kalau aku sayang sama kamu? Salah aku mengharapkanmu, Sasuke? Kamu tau aku sayang banget sama kamu! Aku selalu berusaha untuk membahagiakan kamu! Memangnya usaha aku selama ini belum bisa ya membuat kamu melupakan Naruto sedikitpun?"
"…"
"Ini belum terlambat. Kumohon, batalkan pertunangan kalian.." kata Karin tanpa mau melepaskan tangannya dari lengan Sasuke.
Tanpa membalas perkataannya, Sasuke beranjak tanpa mau lagi menoleh pada Karin yang terisak sambil memanggil-manggil namanya. Dia menyesal karena percaya waktu Karin menelpon Sasuke akan bunuh diri jika Sasuke tidak akan datang ke rumahnya. Nyatanya apa, Karin lagi tiduran di kamarnya sambil nonton. Memang menyebalkan. Banyak hal yang membuat Sasuke nggak pernah bisa sayang sama Karin.
"Sasukeee! Aku nggak akan diam aja!" kata Karin lalu melempar bantal ke arah pintu.
Sasuke sempat merenung, kemudian memberikan pandangannya ke wajah Naruto.
"Itachi..." bahkan saat Naruto menyebut nama Itachi dalam tidurnya, Sasuke diam. Wajahnya sih emang dingin, tapi sorotan matanya tak bisa menyembunyikan kesedihan. Sasuke mendekatkan dirinya untuk mencium pipi Naruto. Tapiii, berhenti di tengah jalan. Dia mengurungkan niatnya dan kembali duduk ke posisi biasa.
Saya rasa cukup sampai di sini duluuuu heheheh terimakasih banyak senpaaaaai :D:D:D:D:D:D. Mau review?:D:D:D
