.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : T Rate/AU/Typo(s)/OOC (maybe)/Hinata-centric/Multi hints/Harem

No Pair

Sekali lagi Hinata centric

Genre : Romance/Fantasy/Humor

.

Boyfriend Simulation

Chapter 3

.

Kring! Kring! Kring!

Bel sekolah menandakan pelajaran hari itu telah usai berbunyi nyaring sebanyak tiga kali. Anak-anak yang berada di dalam kelas, lekas memberi hormat pada guru masing-masing. Begitu guru mereka keluar kelas, satu-persatu para murid mengekor di belakang dengan posisi teratur.

Hinata bergegas merapihkan buku serta alat tulisnya ke dalam tas, dan cepat-cepat ia pergi keluar kelas tanpa sempat berpamitan pada ketiga temannya seperti biasa.

"Ya, ampun. Hinata buru-buru sekali! Dia bahkan tidak sempat bicara pada kita!" Tenten geleng-geleng melihat Hinata yang benar-benar berbeda dari biasanya.

"Ayo cepat, kita juga harus mengikutinya!" sambar Ino antusias sambil merangkul tas berwarna cream miliknya dan berdiri, bersiap untuk keluar kelas dan menyusul Hinata.

Ketiga gadis itu segera berlari keluar menyusul Hinata, berharap mereka tak ketinggalan jejak. Sakura, Ino dan Tenten berencana untuk menguntit teman mereka yang satu itu. Apa benar Hinata akan berkencan dengan pemuda yang namanya Hidan? Seperti apa sih, rupa Hidan sampai bisa membuat Hinata tersipu malu begitu?

Ketiganya berjalan mengendap-endap di belakang Hinata dan sesekali harus bersembunyi secara darurat ketika si indigo berpaling ke arah belakang karena merasa sedang diikuti oleh seseorang. Tingkah mereka bertiga menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya. Hinata tentunya tak menyadari kalau dirinya sedang dikuntit oleh ketiga temannya itu sampai dia pulang ke rumah.

.

.

"Yah, sekarang bagaimana? Dia sudah masuk rumah." Ino tampak kecewa saat melihat Hinata sudah masuk ke dalam rumah. Rasanya dia seperti tak rela untuk melepas satu detik pandangannya dari temannya itu.

"Mau tidak mau kita harus menunggunya," balas Tenten sambil angkat bahu.

"Kau tidak salah? Menunggunya di sini?" Sakura tampak membelalakan matanya kaget ke arah Tenten. "Ya, ampun Tenten. Lebih baik kita pulang saja. Ini sudah siang dan hari sangat panas!" Sakura mengibas-ngibaskan tangannya ke arah tubuhnya yang merasa kegerahan.

"Memangnya kau tidak penasaran mau melihat cowok yang bernama Hidan itu, seperti apa?" sambar Tenten yang sukses menghasut Sakura.

"Ya..., penasaran sih...," jawab si gadis merah muda sambil menatap ke arah rumah Hinata.

"Makanya, kita tunggu di sini dulu!" Tenten menahan Sakura agar tidak kemana-mana.

Akhirnya ketiga gadis itu kembali menunggu di luar sambil mengamati kediaman Hyuuga.


Kediaman Hyuuga

Begitu pulang sekolah Hinata segera masuk ke dalam kamar dan mengunci diri di dalam. Gadis itu segera mengeluarkan kembali ponsel android miliknya. Dilemparnya tas biru tua itu ke atas tempat tidurnya dan menjatuhkan dirinya sendiri ke atas tempat tidur.

Hinata tersenyum sesaat dan mulai menekan tombol 'continue' untuk melanjutkan permainan boyfriend simulation lagi. Begitu permainan kembali dimulai, Hinata dapat melihat wajah Hidan terpampang utuh di dalamnya.

"Why took you so long? I am bored, waiting of you here, alone."

Hinata terkekeh kecil saat melihat reaksi pemuda itu yang kelihatannya agak marah padanya. Ekspresi masam pemuda itu terlihat lucu di mata Hinata. Benar-benar tipe tsundere.

Tak berapa lama tawa gadis itu hilang berganti menjadi kepanikan saat ia dihadapkan untuk memilih pakaian apa yang harus digunakannya saat pergi bersama Hidan. Apakah dia harus memakai dress ungu dengan model yang sangat feminim? Atau dia harus mengenakan kaos biasa berwarna ungu dengan denim putih selutut dan dipadukan dengan mantel putih berbulu? Atau sebuah pakaian yang tampilannya cukup berani? Atau cukup dengan satu set jumper putih dengan kaos ungu muda di dalamnya?

Keempat pakaian yang ditawarkan dalam game itu membuat Hinata pusing tujuh keliling. Rasanya dia belum pernah merasa sepusing ini dalam memilih pakaian sebelumnya. Hinata mengamati keempat pakaian itu dengan seksama sambil berpikir, kira-kira baju yang seperti apa yang akan disukai oleh Hidan.

Sementara Hinata sedang sibuk memilih baju, ketiga temannya yang menunggu di luar mulai merasa bosan, kepanasan, kehausan, dan kelaparan. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan ketiga gadis itu yaitu, "menderita". Bahkan Ino yang semula semangat pun mulai mengeluh.

"Aduh, kenapa Hinata lama sekali?" ucapnya mulai tak betah berdiri lama-lama di sana.

"Namanya juga orang mau pergi berkencan, pasti lama! Dia harus make up, dan memilih pakaian yang pantas untuknya," sambar Sakura dengan santai, "asal kalian tahu, semua itu membutuhkan waktu lebih dari 2 jam! Aku saja kalau mau kencan butuh waktu lebih dari itu!" Tenten dan Ino sama-sama melotot mendengar penjelasan dari temannya yang sudah lebih berpengalaman dalam hal berkencan.

"Bisa mati lemas aku kalau harus menunggu selama itu di sini," ujar Ino dengan malas.

"Aku juga," timpal Sakura sekenanya.

Tenten tampaknya menjadi satu-satunya pejuang yang masih bertahan sementara dua temannya sudah terlihat ogah-ogahan. Sakura malah kembali berkutat pacaran via-SMS dengan Sasuke dan Naruto sekaligus.

"Aduh, kebelet nih," ujar Ino tiba-tiba sambil menarik ujung baju Tenten yang masih semangat 45 menunggui Hinata keluar dari rumah. "Tenten, kita ke rumahmu dulu, yuk! Aku sudah tidak tahan lagi!" Ino memberikan tatapan memelasnya yang paling terbaik untuk membuat sang gadis bercepol luluh.

"Tidak." Satu kata itu sukses membuat bibir sang teman maju beberapa centi ke depan.

"Kau tega membiarkanku buang air kecil di sini?" Ino mulai terlihat akan menangis.

"Huh, iya, baiklah. Ayo kita kerumahku dulu!" Tenten merengut bete. Tapi apa boleh buat? Dia tidak tega juga membiarkan Ino yang menahan buang air kecil sejak tadi, bisa-bisa gadis itu malah sakit perut kalau dipaksakan.

"Ayo Sakura, kita ke rumah Tenten!" Ino menarik tangan Sakura yang sedang sibuk di dalam dunianya sendiri mengikuti langkah Tenten yang sudah berjalan lebih dahulu.


Kediaman Tenten

Begitu tiba di rumah Tenten, Ino segera berlari menerobos masuk ke dalam menuju ke kamar mandi. Rumah Tenten sudah menjadi rumah kedua baginya. Ia sudah sangat hapal seluk-beluk keadaan rumah temannya itu.

"Jangan lama-lama Ino. Kita harus segera kembali ke sana!" teriak Tenten sambil berjalan menuju ke arah dapur bersama dengan Sakura.

"Huaah, Tenten! Ibumu memasak tumis sayur, ya?" seru Sakura saat melihat makanan yang tersusun rapih di atas meja dengan mata sparkling-sparkling.

"Eh, Tenten sudah pulang? Ada Sakura-chan juga?" seorang wanita berambut coklat muncul dan menyapa Tenten serta Sakura dengan senyuman hangatnya.

"Selamat siang, tante!" sapa Sakura dengan sopan saat melihat wanita itu keluar.

"Sakura-chan sudah makan siang?" tanya wanita itu dengan ramah.

"Hehehe, belum tante," balas Sakura sambil nyengir.

"Kalau begitu makan di sini saja. Kebetulan tante masak banyak!" wanita itu menyuruh Sakura untuk segera duduk di meja makan sambil menyendokkan nasi ke sebuah mangkuk.

"Kalau ditawarin gak bakalan nolak, sih." Sakura pastinya gak nolak ditawarin makan apalagi gratis. Dengan senyum sumringah gadis bersurai merah muda itu duduk di meja makan.

'Yee, Sakura! Kenapa dia malah jadi makan?' Tenten langsung merutuk dalam hati.

"Wah, apa aku boleh ikutan makan siang di sini?" sambar Ino yang baru keluar dari kamar mandi. Gadis itu tanpa disuruh langsung duduk di sebelah Sakura dan menatap makanan-makanan yang tersaji di meja makan dengan mulut terbuka.

"Tentu saja boleh. Ayo duduk!" ibunya Tenten malah terlihat senang sekali kalau Ino mau ikut bergabung makan siang.

"Huaaah, makasih ya, Tante!" Ino tersenyum lebar. Tanpa ba bi bu lagi, gadis itu langsung mengambil mangkuk di meja makan dan mengambil nasi serta lauk-pauk yang tersedia.

"Kalian berdua apa-apaan sih? Bukannya kita harus segera kembali ke tempat Hinata?" Tenten hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan dua temannya yang jadi barbar dalam hal makanan ini.

"Ya, ampun Tenten, santai saja! Lagian Hinata juga gak akan kemana-mana, kok!" celetuk Ino dengan santai.

"Itu benar, Tenten! Lagian untuk menunggu kita membutuhkan tenaga, dan dengan makan akan menambah tenaga kita!" timpal Sakura ikut-ikutan beralasan.

"Kalian berdua ini..." Tenten sudah kehabisan kata-kata, "Bukannya kalian berdua sedang diet?" tanyanya mengalihkan topik. Seingatnya Sakura dan Ino memang sedang menjalani program diet ketat.

"Iya, sih. Tapi masakan Ibumu terlalu menggiurkan untuk dilewatkan!" jawab Ino sambil nyengir dengan tampang tak bersalah.

"Sudahlah, Tenten. Jangan marah-marah terus. Biarkan kedua temanmu makan siang di sini. Kau juga, ayo duduk. Masa kau tidak mau memakan masakan buatan Ibumu sendiri?" wanita itu membujuk putri satu-satunya untuk duduk dan makan siang juga bersamanya.

"Hah, baiklah aku kalah." Tenten menghela napas pasrah.

Pada akhirnya gadis bercepol itu turut serta makan siang bersama dengan Sakura dan Ino, bahkan teman merah mudanya sudah nambah untuk yang ketiga kalinya. Tak disangka gadis bertubuh langsing itu kuat makan juga melebihi dirinya.


Kembali ke kediaman Hyuuga.

Hinata sudah selesai menetapkan pilihannya. Gadis itu memilih pakaian jumper suit berwarna putih yang dipadukan dengan kaos berwarna ungu muda sebagai dalamannya, juga sebuah sepatu putih sporty.

Dia tidak tahu bagaimana caranya, tapi di dalam game itu avatar tokoh perempuan yang menjadi central di dalam game tersebut menggunakan foto dirinya, sehingga Hinata seperti melihat dirinya sendiri berada di dalam game itu.

Hinata menemui Hidan yang kelihatannya sudah bosan lantaran terlalu lama menunggu di luar. Dengan segera Hinata meminta maaf pada pemuda itu begitu muncul pilihan untuk percakapan.

"Nah, forget it. I am fine. I can wait you for forever."

Wajah Hinata berubah merah padam setelah membaca tulisan yang diucapkan oleh pemuda berambut putih itu. Dia benar-benar tak menyangka, Hidan yang kasar bisa berkata seperti demikian.

"Let's go, Hinata!"

Hidan tertawa, seakan mengetahui gadis itu di dunia nyata sedang tersipu berat berkat ucapannya. Kemudian ia menyuruh Hinata untuk segera naik ke atas motor gede yang dibawanya. Hinata beruntung karena pakaian yang ia pilih tepat. Coba bayangkan kalau tadi dia memakai dress mini? Pasti bakalan repot.

Pemuda itu mengajak Hinata berkeliling kota dengan motor besarnya yang memiliki motif tengkorak. Mungkin sebagian orang yang melihatnya akan takut dan menghindar, tapi tidak bagi Hinata. Dia justru merasakan suatu kenyamanan saat bersama dengan pemuda itu. Dibalik sikap kasarnya, ternyata dia pemuda yang baik.

Hidan sengaja melambatkan laju motornya agar bisa sambil mengobrol dengan Hinata. Mereka berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari kegiatan pemuda itu di dalam game, hobinya, sampai ke hal apa saja yang dibencinya. Mereka juga berbicara mengenai diri Hinata sendiri, dan hal yang mengejutkan pemuda itu menanyakan kehidupan Hinata di dunia nyata.

Setelah puas berkeliling hari di dalam game itu berubah menjadi sore. Hidan mengantarkan Hinata pulang kembali ke rumahnya dan mengucapkan selamat tinggal.

"Thanks for today, Hinata. I am really happy."

Hinata mengerjap-ngerjapkan kedua matanya tak percaya saat melihat warna hati pemuda itu yang semula hitam berubah menjadi warna biru! Benar-benar suatu perkembangan yang pesat. Hinata tersenyum tipis, sama halnya dengan karakter perempuan yang ada di dalam game tersenyum pada Hidan sebelum pemuda itu benar-benar pergi. Sebuah opsi percakapan kembali muncul. Kali ini Hinata dapat memilih opsi tersebut dengan cepat.

"Let's go together again!"

Hidan mengiyakan perkataan Hinata, dan setelah itu dia pergi dengan motor besarnya dari kediaman Hinata.

Hati Hinata sukses berbunga-bunga setelah memainkan boyfriend simulation. Gadis indigo itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan perasaan lega dan sambil mendekap ponsel androidnya.

...

Setelah itu Ino, Tenten dan Sakura kembali datang. Ketiganya berdiri mengawasi rumah Hinata setelah menghabiskan waktu hampir 2 jam hanya untuk makan siang tadi, sekarang mereka siap bertempur kembali.

10 menit...

20 menit...

30 menit...

Lama menunggu di depan ternyata tak ada perubahan. Rumah Hinata terlihat sepi, dan Hinata tak kelihatan meninggalkan rumah sejak tadi.

"Kenapa Hinata gak keluar-keluar, ya?" tanya Tenten mulai merasa ada yang janggal.

"Coba ditelpon atau SMS saja!" Ino memberikan usul dengan cepat.

"Baiklah, aku akan mencobanya." Tenten mengangguk dan segera mengeluarkan ponsel berbentuk panda miliknya.

Tenten mencoba menghubungi Hinata. Setelah menunggu beberapa menit, panggilan darinya baru diangkat.

"Halo, Tenten. Ada apa?" suara Hinata terdengar begitu sumringah dari seberang.

"Hinata, kau ada di mana?" tanya Tenten penasaran.

"Engg..., di rumah. Kenapa?" balas Hinata agak bingung. Tidak biasa-biasanya Tenten menanyakan keberadaan dirinya.

"Lho? Bukannya kau bilang mau pergi sama Hidan, ya?" Tenten mengernyit tak kalah heran.

"E-eh..., i-itu..., aku baru saja pulang, hehehe..." Hinata cengengesan sendiri sambil mengingat momen indahnya tadi bersama Hidan.

"Apa? Sudah pulang?" Tenten kelihatan tidak percaya saat mendengar Hinata sudah pulang.

"Iya. Ada apa, sih? Kenapa kayaknya kamu kaget banget?"

"Enggak kenapa-kenapa, kok!"

"Oh, ya sudah. Sampai jumpa besok di sekolah, Tenten!"

Sambungan diputuskan Hinata dan Tenten sukses merengut kesal. Gadis itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku baju dan berbalik ke arah Ino dan Sakura.

"Ini semua gara-gara kalian berdua! Si Hinata itu tadi sudah pergi dan dia baru saja kembali!" Tenten merajuk dan menyalahkan kedua temannya yang tadi terlalu lama di rumahnya, malah pake acara makan siang segala juga lagi di sana.

"Yah, gagal deh!" balas Ino yang kelihatan ikut kecewa.

"Biasa aja kali! Masih ada hari besok, besok dan besok!" sambar Sakura yang sepertinya tidak terlalu memusingkan masalah Hinata dan pemuda misterius bernama Hidan itu.

"Apa boleh buat. Kita cari kesempatan besok-besok lagi saja." Tenten mendesah pasrah, begitu juga dengan Ino.

Ketiga gadis itu pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dan bertanya besok saja pada Hinata mengenai kencannya pada pemuda yang bernama Hidan, serta mengorek informasi di mana dan kapan gadis itu akan kencan lagi.

TBC


A/N : Sebenarnya saya mau membuat chara Sakura itu sebagai tokoh yang lucu, ngeselin, agak realis dan sedikit egois di sini. Tapi dia tetap teman yang baik bagi Hinata, Ino dan juga Tenten.