俺の思いを君に届けたい
A/N: YA AMPUN! MAAF SEMUANYA KARNA TELAT UPDATE! /head desk/ Saya kena WB untuk chapter 4 ini, dan selesai menikmati golden week-nya indonesia, juga bertahan selama 1 bulan penuh ga bikin fic BL karena puasa. oke ini chap 4-nya enjoy~
Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Review's corner:
Ginpachi-sensei: wahahahahahaha anggep aja disitu ada semak-semak yang bisa nembunyiin Kise /plak/ dan ini kelanjutannya semoga suka ;D dan makasih buat review-nya ya!
jesper.s: aduuuhhh~ bahasanya~ iya nih Kise bakal berjuang keras buat mendapatkan hati Kurokocchi-nya tersayang~ dan chap kali ini adalah KiKuro moment. Full. Jadi silahkan enjoy dan makasih buat reviewnya!
annpui: saya juga ga akan nolak Kurokocchi~ XD *bayangin Kise di dunia nyata* *ikut mimisan* aduuuuuhh~ klo Kise beneran ada sih… enak banget! Setidaknya dia bakal kuculik! XD /apa/ga/ditimpuk/ dan ini dia KiKuro moment yang ditunggu annpui-san~ ;D silahkan enjoy~
NekoTama-1110: wah terasa kecepetan? Saya juga ngerasa begitu tapi mau gimana lagi, saya niatnya ini nggak panjang-panjang. Kalau panjang jadi ribet soalnya /digampar/ waaahhh~ makasih udah mereview dan makasih pula udah di fave hehehe ini chap 4-nya moga-moga enjoy ya ;D
Sukikawai-chan: aduh suki-san, nafas… nafas… nanti sesak nafas lho (?) /bletak/ hahaha makasih ya udah mereview cerita kurobas pertama saya dan makasih juga udah di face hehehe ini chap 4-nya moga-moga suka ya :D
SeraphelArchangelaClaudia: wah makasih Claudia-san udah mereview cerita ini lagi hehehedan makasih buat dukungannya *^*)9 ganbatte deh! Ini chap 4-nya silahkan enjoy~
Waaaaahh~! Saya berterima kasih nih buat semuanya yang udah baca cerita saya terutama buat: annpui, jesper.s dan Ginpachi-sensei yang udah mereview sejak chapter awal dan itu sangat berkesan buat saya dan makasih juga buat yg udah nge fave ama follow… hiks… seneng deh… /lebaynak/plak/ Review kalian sukses bikin saya cekikikan tahan tawa XD. Bagi yg nunggu KiKuro moment, ini diaaa~ :D
Chapter 4
Matahari siang sedang memancarkan cahaya hangatnya ke seluruh bumi, membiarkan cahayanya tersebut menerangi langit biru yang cerah. Suara siswa-siswa yang bermain sepak bola di lapangan, murid-murid yang berlalu-lalang, para gadis yang sibuk bergosip di koridor dan para anggota klub yang sibuk mengurusi klubnya itu merupakan suasana di SMA Kaijou sekarang.
Kise—sang model bersurai pirang ini hanya terduduk diam di kelasnya. Ia menatap ke arah luar jendela—menikmati pemandangan langit biru yang cerah dengan gumpalan-gumpalan benda putih yang halus dan menghiasi langit di atas sana. Hari ini ia bingung harus berbuat apa setelah kejadian kemarin, tiba-tiba saja ponselnya bergetar—menandakan bahwa ada e-mail masuk, kemudian ia membuka slide ponselnya itu.
To: Kise Ryouta
From: Kasamatsu Yukio
Subject: KUMPUL!
PENGUMUMAN! KUMPUL SEMUANYAAA! Semuanya kumpul di gym sekarang! Yang telat akan kena hukuman!
Kise menghela nafas. Kebiasaannya Kasamatsu-senpai kalau kirim e-mail, menggunakan huruf besar semua, selalu tegas. Setidaknya kalau kirim e-mail kan tidak perlu pakai tanda seru banyak-banyak… begitulah pikir Kise ketika melihat isi e-mail yang diterimanya saat itu. Akhirnya Kise segera beranjak dari tempat duduknya dan menggeser pintu kelas, ia menyusuri koridor kelasnya dan sesekali menyapa fangirl yang melihatnya, namun saat ia mencapai bagian loker sepatu, tiba-tiba saja sekumpulan fans-nya menyerang dirinya.
"Kyaaaaaaaaaaa! Kise-kun!"
Kise yang kewalahan melihat itu hanya bisa terdiam di tempat. Kakinya tidak bisa bergerak serasa seperti ada yang memakunya. Melihat gerombolan fans-nya yang menyerang tiba-tiba, akhirnya Kise memilih untuk meladeni mereka sebentar. Seluruh kumpulan fangirl itu berdesak-desakkan ketika melihat Kise, sampai-sampai Kise sendiri kadang kewalahan mengurusi mereka.
"Baik-baik semuanya tenang ya, ada apa ini?" Kise menunjukkan senyum ramahnya pada seluruh fangirl-nya, yang bukannya membuat mereka tenang, malah membuat mereka tambah histeris.
"Kyaaaaaaa! Kise-kun! Kau mau ke gym ya?!"
"Kyaaaaaaa! Kise-kun! Minta tanda tangannya dong~!"
Kehisterisan fans Kise memang hebat. Kisepun akhirnya menyerah dan memberikan tanda tangan seperti yang mereka pinta. Ia harus cepat-cepat karena kalau tidak, ia bisa terkena hukuman dari kapten klub basket Kaijou yang terkenal galak. Bisa terlihat oleh kalian kalau mata para fangirl itu berbinar-binar ketika Kise meladeni mereka. Setelah kehisterisan fans Kise mereda, ia mulai angkat kaki dari tempat itu dan segera menuju ke arah gym, namun langkahnya terhenti ketika Kise melihat salah satu fangirl-nya berdiri dihadapannya dengan tatapan malu.
"A-Anu… Kise-kun… ini!" gadis itu tiba-tiba menyodorkan sebuah kertas berwarna—lebih tepatnya sebuah brosur dan Kise pun menerima brosur itu.
Iris madu kecoklatannya melirik gambar-gambar dan kalimat-kalimat yang mengajak yang terdapat di dalam brosur. Bisa terlihat di dalam brosur itu bertuliskan mengenai event untuk menghabiskan liburan bersama kekasih yang akan diadakan selama libur musim panas berlangsung. Kise merasa cukup tertarik juga, dan ia segera mengulas senyum ramah di sudut bibirnya. Setidaknya ia tahu siapa orang yang pantas untuk diajak dalam event ini.
"Terima kasih ya untuk brosurnya," ujar Kise yang kemudian segera cepat-cepat meninggalkan tempat ia berdiri. Sedangkan sang gadis yang memberikan brosur itu hanya diam di tempat—kakinya tidak mau bergerak karena rasa shock yang menyerangnya ketika melihat idolanya tersenyum ramah.
Kisepun akhirnya bisa melangkahkan kakinya dengan leluasa. Ia berjalan menuju gym sekolahnya untuk kumpul kegiatan klub. Si rambut pirang itu hanya bisa berharap-harap cemas ketika ia melihat ke dalam ruangan gym dengan harapan ia tidak mendapatkan hukuman dari sang kapten.
Namun ternyata apa yang diharapkannya sia-sia, dengan suara yang kasar dan lantang Kasamatsu meneriakki nama si model itu, yang tentu saja membuat bulu kuduk Kise berdiri seketika.
"KISEEEEEEEEEE! KAU TELAT!" seru Kasamatsu yang dengan segera menggunakan kakinya untuk menendang punggung juniornya yang saat itu datang terlambat. Bisa terlihat di wajahnya sebuah kedutan indah tengah muncul di pelipisnya, juga ekspresi wajah Kasamatsu yang amat sangat kesal. Bahkan Moriyama dan yang lainnya sempat bergidik ngeri melihat kapten mereka yang sangar ini.
"Maaf senpai~~ tadi ada fansku yang memberikan sesuatu untukku~~" Kise menggunakan jurus andalannya. Ya, air mata buayanya. Ia menggunakannya agar Kasamatsu bersikap sedikit—setidaknya lembut padanya. Ia tidak mau mendapatkan rasa sakit yang lebih di punggungnya ini.
"Masa bodoh dengan fansmu itu!" Kasamatsu masih menatap tajam model bersurai pirang itu yang tentu saja mendapat anggukan dari sang empunya.
Kise hanya bisa diam. Ia mengunci mulutnya dan mengangguk—tanda bahwa ia mengerti. Kise takut kalau ia buka mulut dan bicara lebih dari ini, maka, bukan hanya punggungnya bahkan mulutnya bisa jadi korban.
Setidaknya dengan keributan barusan membuat Kasamatsu menghela nafas lelah. Ia mengerti akan kepopuleran Kise, jadi wajar kalau banyak fangirlnya yang mengejar dirinya. Akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan masalah itu dan kembali fokus pada pengumuman yang akan ia sampaikan.
"Baiklah daripada itu, aku punya pengumuman untuk kalian," ujar Kasamatsu yang kembali tenang dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Pengumuman?"
"Iya, dan itu adalah latihan basket di tengah liburan musim panas."
"APAAA?!"
"Tenanglah…" terdengar sebuah jeda di kalimat yang ia ucapkan, lalu Kasamatsu melanjutkannya, "…Iya latihan. Latihan basket yang akan kuadakan di tengah liburan musim panas."
"Kau yakin? Kita banyak PR liburan musim panas lho," ujar Moriyama dengan nada suara yang berusaha meyakinkan kapten bernomor punggung 4 itu.
"Kalian bukan anak SD lagi kan? Tentu saja kerjakan PR dulu sebelum pergi latihan. Karena saat selesai liburan nanti kita akan melawan sekolah di distrik sebelah," Kasamatsu kembali menjelaskan. Anggota yang lain hanya mengangguk mengerti.
Sedangkan Kise? Si model bersurai pirang itu hanya diam dengan ekspresi kecewa, juga bisa ia rasakan goose bumps di sekujur tubuhnya. Dengan satu pikiran: tidak bisa menghabiskan waktu bersama kuroko karena latihan. Kisepun akhirnya menghela nafas yang kemudian didengar oleh Kasamatsu.
"Itupun termasuk kau Kise!" seru Kasamatsu. Pemuda bersurai hitam dengan gaya spike ini memang mengerti gestur tubuh juniornya. Kise merasa kecewa dan ia tahu alasannya adalah karena Kise tidak akan bisa menghabiskan waktu dengan pemain basket Seirin bernomor punggung 11 itu.
Kasamatsu mengerti akan hal itu, tapi apa boleh buat, setidaknya Kise harus mencoba mementingkan latihan basketnya dibandingkan obsesinya.
"Kalau semua sudah mengerti, kalian boleh pulang," ujar Kasamatsu sambil menatap satu-persatu anggota klub basket Kaijou.
Semua anggotapun segera berbalik badan dan segera mengemas barang mereka masing-masing. Ada yang memikirkan tentang rencana apa yang akan mereka buat selama musim panas ini, ada pula yang memikirkan cara menghemat waktu agar waktu yang digunakan tidak sia-sia karena latihan basket, dan itu juga termasuk Kise.
Saat ini pemuda bernomor punggung 7 itu sedang memikirkan rencana untuk menghabiskan waktu dengan Kurokocchi-nya. Tiba-tiba selembar kertas brosur yang ia dapat barusan terjatuh di lantai, melihat itu Kise segera memungutnya dan kemudian sinar matanya berubah. Ia tahu kemana ia akan membawa Kuroko sekarang.
XXX
Di sekolah lain—tepatnya di SMA Seirin, Kuroko dan Kagami baru saja keluar dari ruang kelasnya. Jam pelajaran sudah selesai dan mulai besok mereka akan memasuki liburan musim panas, hari ini juga tidak ada pengumuman apa-apa dari pelatih—yang artinya untuk liburan musim panas ini mereka bebas.
Seperti biasa, saat perjalanan pulang Kuroko selalu membaca buku yang tidak pernah lepas dari tangannya dan Kagamipun sedang berjalan santai di sebelahnya. Mereka memutuskan akan pergi ke Maji burger untuk sekedar santai sejenak, melepas penat mereka dari pelajaran yang bagi Kagami memusingkan.
Namun suasana tenang diantara mereka berubah ketika mendengar suara familiar dari kejauhan—suara cempreng yang begitu khas ditelinga.
"Kurokocchi~!" seru Kise dengan ekspresi wajah konyolnya sambil melambaikan tangannya pada pemuda bersurai biru muda itu.
"Kise-kun?"
"Kise!"
Kuroko dan Kagami terkejut ketika iris mata mereka melihat sosok tinggi yang sedang berlari ke arah mereka. Sedangkan yang disebut namanya hanya bisa menunjukkan cengiran khas di wajahnya.
"Kise-kun, ada apa? Kenapa tiba-tiba kesini?" Kuroko melihat Kise dengan tatapan datarnya yang biasa ia gunakan.
"Hehehe… aku datang untuk menjemput Kurokocchi. Oiya ayo ke taman bermain denganku," ajak Kise dengan mata yang berbinar-binar. Berharap Kuroko mau ikut bersamanya.
"Taman bermain? Tapi aku dan Kagami-kun mau ke Maji Burger," ujar Kuroko yang masih memasang ekspresi datar miliknya. Kise diam sejenak. Ia memikirkan cara agar Kuroko mau ikut dengannya.
"Nanti sepulang dari taman bermain, aku traktir kau vanilla shake deh!" Kise menggenggam tangan Kuroko lalu menggerakkannya ke atas dan ke bawah—menunjukkan gestur memohon pada sang pemuda kecil itu.
Kuroko berpikir sejenak. Ditraktir vanilla shake? Tidak ada salahnya kan? Lagipula jarang-jarang ia bisa menghabiskan waktu bersama Kise setelah masuk SMA.
"Baiklah, Kagami-kun kau tidak keberatan pulang sendiri kan?" Kuroko menoleh pada pemuda bersurai merah maroon yang sedari tadi hanya diam saja.
"Lho? Ada Kagamicchi juga ya?" Kagami yang mendengar itu segera naik pitam. Sebuah kedutan kecil timbul di pelipisnya. Tidak disangka, ia dari tadi berdiri di depan Kise tetapi pemuda itu tidak menyadari keberadaannya.
"Apa?! Dari tadi aku berdiri di sini dan kau tidak sadar?!" seru Kagami dengan aura garang yang tiba-tiba timbul. Melihat itu Kise hanya bisa sweat drop.
"Ma-maaf… tadi aku terlalu fokus pada Kurokocchi jadi tidak sadar."
"Cih…"
"Ayo Kise-kun," ujar Kuroko yang ternyata sudah jalan duluan.
"Aaahh~ tunggu Kurokocchi!" Kise kaget ketika Kuroko ternyata sudah jalan duluan dan ia segera bergegas mengejarnya, tapi tentu sebelum pergi ia mengucapkan salam ke Kagami dulu,"Ehehe, sampai nanti Kagamicchi!"
Kagami yang melihat tingkah kedua anggota Kiseki no Sedai itu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali diam yang diikuti sebuah sweat drop yang muncul di kepalanya.
Kise dan Kuroko saat itu sedang berjalan santai. Tidak ada yang bicara karena Kuroko sedang asyik membaca buku yang dipegangnya, sedangkan Kise sendiri sedang asyik memperhatikan pemuda yang memenuhi ruang di hatinya ini. Sesekali ia tersenyum sendiri ketika melihat Kuroko, betapa senangnya model itu ketika ia berjalan bersama Kuroko. namun ia tersadar dari lamunannya ketika suara lembut Kuroko menyusup ke telinganya.
"Aku kaget, tiba-tiba saja Kise-kun mengajak jalan-jalan. Ada apa?" Tanya Kuroko yang pandangannya masih terfokus pada buku yang ia baca.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja kita jarang main bersama kan? Jadi karena itu sekarang aku mengajak Kurokocchi," kalimat itu keluar begitu saja dari mulut sang model—membuat pendengarnya diam. Kise tidak tahu bahwa kalimat yang ia katakan barusan memberikan efek pada Kuroko.
'Main bersama ya…?' batin Kuroko. Memang setelah lulus dari Teikou dan masuk SMA, mereka jarang menghabiskan waktu bersama karena tugas sekolah dan juga latihan yang ketat dari pelatih mereka.
Tanpa mereka sadari bus yang mereka tunggu sejak tadi datang juga, dan mereka melangkah masuk kedalam. Kise dan Kuroko memilih duduk di dekat jendela, dan akhirnya suasana awkward kembali tercipta diantara mereka.
"Ku-Kurokocchi sendiri gimana?" bisa terdengar di telinga Kuroko suara grogi milik Kise ketika melontarkan pertanyaan itu.
"Baik, dan sepertinya di liburan musim panas ini aku bebas."
"Aaaahh~ berbeda denganku~ aku ada latihan basket di pertengahan liburan~ Kurokocchi enak~" Kise melipat kedua tangannya dan menaruhnya di belakang kepalanya—berusaha menciptakan kenyamanan.
Kuroko hanya bisa diam mendengarkan sambil membalikkan kertas halaman buku yang ia baca. Meskipun pandangannya terfokus pada buku itu, tetapi pendengarannya mendengarkan Kise dengan baik. Ia kemudian menggerakkan bibirnya dan mengatakan sesuatu.
"Kise-kun, setidaknya kau harus lebih memikirkan latihanmu. Jangan karena tiba-tiba kau merasa kuat, kau jadi bolos latihan," Kuroko mengatakan hal fakta yang membuat Kise diam.
'Benar juga… aku masih belum apa-apa,' Kisepun menundukkan kepalanya ketika berpikir begitu, dan suasana awkwardpun kembali tercipta.
'Oiya, apa Kurokocchi sudah lupa dengan kejadian Aominecchi itu ya…' batin Kise. Iris madu kecoklatannya menatap lekat-lekat pemuda kecil yang duduk disampingnya itu. Meskipun hanya menyebutkan nama, tapi hati Kise tiba-tiba terasa panas. Akhirnya karena takut tenggelam perasaan panas itu, Kise menggelengkan kepalanya untuk membuang pikirannya. Ia ingin lebih fokus tentang menghabiskan waktunya dengan Kuroko.
Sekitar tiga puluh menitan bus itu berjalan, sekarang Kise dan Kuroko sudah sampai di taman bermain yang ada di kota. Iris mata mereka menatap papan nama besar, kemudian mereka mengangkat kaki mereka menuju taman bermain yang ada di depan mereka.
Bisa terlihat di dalamnya, terdapat banyak sekali wahana. Ada yang memacu adrenalin seperti jet coaster dan semacamnya, ada juga yang untuk bersantai seperti korsel dan wahana anak lainnya. Juga tak ketinggalan toko-toko kecil yang menjual merchandise dan souvenir taman bermain, dan berbagai macam toko yang menjual mainan dan snack-snack lainnya.
"Baiklah~ Kurokochi mau naik yang mana?" tawar Kse sambil menunjukkan senyum sumringahnya.
"Terserah Kise-kun saja," ujar Kuroko yang saat itu masih belum selesai membaca buku yang dipegangnya.
Melihat Kuroko yang masih belum selesai membaca buku, akhirnya tangan Kise menyambar buku itu secepat kilat. Kuroko yang sadar bukunya diambil, segera protes pada pemuda tinggi yang mengambil bukunya itu.
"Kise-kun! Aku belum selesai baca," Kuroko mengangkat tangannya—berusaha mendapatkan bukunya kembali, namun sayang usahanya sia-sia karena Kise malah menyembunyikan buku itu di belakang badannya. Kuroko akhirnya memilih untuk diam dan iris aquamarine-nya menatap wajah tampan Kise, dan ia terkejut ketika melihat Kise menggembungkan pipinya seperti anak kecil.
"Tidak-tidak~ saat ini kita mau bermain, jadi Kurokocchi tidak boleh baca buku," Kise membuang muka ke arah lain—masih dengan gembungan di pipinya. Ia lalu menutup buku Kuroko yang ia ambil lalu menyimpannya di dalam tas sekolahnya.
Kuroko yang melihat tingkah Kise hanya bisa tersenyum kecil. Kise yang saat itu masih sedikit kesal, tiba-tiba kaget ketika mendengar suara Kuroko yang terkekeh kecil. Merasa kaget tentunya, Kise membalikkan kepalanya untuk menatap Kuroko kembali.
"Kurokocchi?"
"Kise-kun lucu kalau sedang kesal begitu, seperti anak kecil saja," ujar Kuroko sambil menutupi mulutnya.
Tentu saja orang yang disebut namanya itu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunjukkan sebuah semburat merah muda yang terajut halus di pipinya. Ia malu, bisa-bisanya dikatai anak kecil oleh orang yang disukainya. Tapi bagi Kise itu sama sekali tidak masalah.
'Setidaknya Kurokocchi bisa tertawa dan tersenyum,' Kise tersenyum ketika ia masih melihat Kuroko menahan tawanya. Kuroko melepas tangannya dari mulutnya itu, dan seperti tertusuk panah, hati Kise senang melihat senyum tipis Kuroko.
"Baiklah Kise-kun, kita mau main apa?" sekarang giliran Kuroko yang menawarkan.
"Bagaimana kalau itu?" Kise menunjukkan sebuah jet coaster yang dengan cepatnya meluncur sambil berputar-putar di jalurnya.
"Kau yakin Kise-kun?" Tanya Kuroko sambil menatap jet coaster yang masih meluncur dengan cepatnya.
"Kalau Kurokocchi tidak mau, tidak apa-apa kok," Kise melepas pandangannya dari jet coaster, lalu menatap pemain bayangan yang berdiri di sebelahnya.
"Baiklah, ayo," Kuroko kemudian menggenggam tangan Kise, lalu mengajaknya masuk ke dalam wahana ekstrim yang jadi pilihan pertama mereka.
Jet coaster. Itulah wahana pertama yang mereka pilih untuk bermain kali ini. Benar-benar permainan yang memacu adrenalin. Saat menaiki wahana itu, Kise dengan bebasnya berteriak kesenangan dengan kerasnya, sedangkan Kuroko hanya bisa diam. Bukan karena ia menikmatinya, tapi karena ia menahan isi perutnya yang kemungkinan akan keluar karena jalur yang terus memutar-mutar.
Tak lama setelah itu, permainan jet coasterpun selesai. Kise keluar dari wahana dengan senyum sumringah yang tertempel di wajahnya, sedangkan Kuroko? ia memegang perutnya berusaha menahan agar isi perutnya tidak keluar begitu saja. Kise yang menyadari kondisi Kuroko sedang tidak enak, mendadak sifat protektifnya menyerang masuk.
"Kurokocchi? Kurokocchi kenapa? Pusing ya?" pemuda itu melangkahkan kakinya dan berdiri di samping Kuroko. ia memegang punggung pemuda kecil itu dan mengusap-usapnya—berusaha memberikan kenyamanan, namun gagal.
"Maaf Kise-kun, tapi bisakah kau antar aku ke toilet?"
"Tentu!" akhirnya mereka segera bergegas menuju toilet. Di toiletpun Kuroko segera membuang isi perutnya. Kisepun yang mendengar jadi tidak tega karena sudah memaksa Kuroko naik jet coaster.
Setelah Kuroko selesai dengan urusannya, ia kemudian membasuh mulutnya dan nampaknya raut wajah Kuroko kembali segar.
"Kurokoccchi, maaf ya. Karena naik jet coaster kamu jadi muntah," Kise menundukkan wajahnya. Ia menyesal sudah membuat Kuroko tidak nyaman, namun lawan bicaranya itu hanya tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa Kise-kun," mendengar ucapan tidak apa-apa dari Kuroko, Kise segera memeluk tubuh kecil pemuda itu.
"Waaaaaa~ syukurlah Kurokocchi~"
"Baik, sekarang kita mau main apa?" tawar Kuroko yang masih di dalam pelukan Kise.
"Bagaimana kalau mirror house? Sepertinya seru," Kisepun melepaskan pelukannya dari Kuroko dan menggenggam tangan pemuda itu. Merasakan tangan Kise yang menggenggam tangannya, membuat hati Kuroko sedikit berdesir akan sesuatu.
'Apa ini? Perasaanku rasanya hangat, berbeda ketika bersama dengan Aomine-kun,' batin Kuroko. ia kaget karena tiba-tiba saja teringat dengan pemuda berkulit tan dan bersurai biru gelap itu, kemudian Kuroko menggelengkan kepalanya—berusaha menghilangkan semua pikiran tentang Aomine.
Sesampainya di wahana mirror house, Kise dan Kuroko segera menyusuri wahana itu. Seperti namanya mirror house, didalamnya terdapat banyak sekali cermin dan siapapun yang masuk ke dalamnya harus mencari jalan keluar. Setelah selesai dengan mirror house, mereka beralih menuju rumah hantu. Disana Kise dan Kuroko menyusuri rumah hantu menggunakan kereta. Sesekali Kuroko mendengar teriakkan Kise ketika melihat hantu dan Kurokopun hanya bisa tersenyum kecil melihatnya. Setelah permainan selesai, mereka berjalan keluar wahana.
"Tak kusangka Kise-kun takut dengan hantu ya?" Kuroko terkekeh kecil melihat Kise yang berkeringat.
"Aku tidak takut! Aku hanya kaget!" sergah Kise. Ya… ia memang tidak takut hantu, tapi cara hantu-hantu itu tadi mengagetkannya benar-benar membuat sang Kise Ryouta jantungan.
Kuroko masih terkekeh kecil, ia kemudian melirik jam taman bermain dan ternyata hari sudah makin sore. Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima, yang artinya sebentar lagi taman bermain akan ditutup.
"Ayo naik bianglala Kurokocchi," Kise segera menunjukkan bianglala raksasa yang menjadi tujuan wahana terakhir mereka. Kuroko hanya menganggukkan kepala birunya dan melangkahkan kakinya mengikuti Kise.
Di dalam bianglala sendriri, Kise dan Kuroko hanya terdiam. Mereka disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing. Sesekali iris madu kecoklatan Kise menatap wajah mulus Kuroko yang saat itu tengah tercampur dengan sinar matahari senja yang berwarna jingga kemerahan. Ia kemudian melirik ke luar jendela—membiarkan matanya dimanjakan sebentar oleh pemandangan luar.
Kuroko sendiri sedang melamun sembari menatap pemandangan luar. Pikirannya berlari mengingat kejadian ia ditolak Aomine sampai perasaannya yang masih belum jelas pada Kise. Entah sejak kapan ia jadi memiliki sifat keperempuannan begini, namun hal itu sama sekali tidak digubris olehnya. Satu hal yang ia inginkan adalah agar perasaannya menjadi jelas, Itu saja.
Kuroko kembali tersadar ketika ia mendengar suara Kise, kemudian iris aquamarine-nya menatap lekat-lekat sosok tinggi yang duduk di hadapannya.
"Kurokocchi, boleh aku duduk di sebelahmu?" Kise bertanya dengan nada yang sangat lembut, membuat sang pemain bayangan itu hanya menganggukkan kepalanya—memperbolehkan sang ace Kaijou duduk tepat di sebelahnya.
Melihat respon dari teman SMP-nya, Kise dengan perlahan bergerak menuju tempat duduk Kuroko. mereka kembali tenggelam dalam diam, menikmati keberadaan masing-masing dan alur bianglala yang pelan—menambahkan kesan romantis bagi siapapun yang melihatnya. Kurokopun kembali melihat pemandangan di sore hari, ia kemudian membesarkan matanya—kaget ketika merasakan sebuah lengan kekar yang memeluk dirinya dari belakang.
"Kise-kun?"
"Biarkan tetap seperti ini, boleh ya," bisa terdengar oleh telinga Kuroko nada memohon yang keluar dari pita suara Kise. Sekali lagi Kuroko hanya bisa diam, sebenarnya di dalam hati ia sedikit menikmati pelukan Kise.
Kise tetap memeluk Kuroko, ia menenggelamkan wajahnya di sudut leher Kuroko sambil sesekali menghirup aroma vanilla pemuda berkulit putih pucat itu. Membuat suasana hati Kise terasa nyaman dan sebuah perasaan longing yang muncul di hatinya. Mereka tetap seperti itu, sampai akhirnya Kise memecahkan keheningan. Ia berbisik dengan wajah yang masih berada didalam sudut leher Kuroko.
"Suka…"
Kuroko seketika kaget, ia mengalihkan pandangannya dan menatap pemuda yang sedang meringkuhnya ini.
"Aku suka Kurokocchi, sangat, sangat suka…" bisik Kise. Ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Kuroko. madu kecoklatan bertemu dengan aquamarine. Bisa Kuroko rasakan tatapan mata Kise yang begitu intens.
"Kise-kun…" Kuroko tak bisa berkata apa-apa kecuali membiarkan kalimatnya menggantung.
"Kurokocchi, apa Kurokocchi membenciku?" Kise sedikit memiringkan wajahnya ke samping, membuat ia terlihat seperti anak kecil.
"Tidak mungkin aku bisa membenci Kise-kun," jawab Kuroko dengan suara yang lembut.
"Jaa… Apa Kurokocchi menyukaiku?" BAM. Seketika perasaan Kuroko seperti dipukul sebuah palu besar. Suka? Ia tak mungkin mengatakan kepada Kise bahwa ia suka dirinya, karena ia sendiri masih belum tahu tentang perasaannya pada Kise. Singkatnya masih belum jelas. Kise yang mendengar tidak ada respon dari Kuroko hanya bisa diam kebingungan.
"Kurokocchi…?"
"A-ah, entahlah Kise-kun, aku juga belum tahu…" sekarang giliran Kuroko yang menunduk kepalanya. Ia takut jawabannya barusan akan melukai hati Kise.
Kise yang melihat Kuroko masih ragu hanya bisa terdiam. Ia mengerti, pasti ini masih membingungkan bagi Kuroko, karena Kuroko masih perlu waktu. Jelas saja, ia baru saja ditolak Aomine dan masih bingung dengan perasaannya. Kise mengerti akan hal itu. Sangat mengeti.
Tak terasa bianglala yang mereka naiki kini sudah berhenti dan pintu tempat mereka berada terbuka—memperlihatkan sosok wanita dewasa yang tersenyum ke arah mereka berdua dan mempersilahkan mereka untuk turun. Akhirnya Kise dan Kuroko melepas momen mereka, dan melangkahkan kaki mereka untuk turun. Kise kemudian melirik jam taman bermain, dan ternyata jarum jam sudah berhenti di angka enam, tentu sebelum pulang Kise membelikan Kuroko vanilla shake karena tadi ia sudah janji.
XXX
Perjalanan mereka cukup lumayan juga. Mereka menaiki bus lalu berhenti di halte tempat mereka naik siang ini, dinginnya angin malam tengah berhembus melewati tengkuk leher mereka—menciptakan kesan dingin pada tubuh mereka yang merengek ingin segera dihangatkan. Bulanpun kini juga sudah menunjukkan wujudnya, menerangi gelapnya malam dengan cahayanya yang bersinar terang.
Kise dan Kuroko juga masih berjalan dalam diam. Mereka tidak berbicara lagi, namun keheningan itu pecah ketika Kise menanyakan sesuatu pada Kuroko yang membuat pemuda bersurai biru muda itu melirik dirinya.
"Kalau Aominecchi dan Kagamicchi itu adalah 'cahaya' Kurokocchi, lalu aku ini apanya Kurokocchi?" Tanya Kise sambil menaruh kedua tangannya di dalam saku celananya.
Kuroko sontak kaget. Tidak biasanya Kise bertanya hal seperti ini.
"Aaahh… kenapa tiba-tiba kau tanya begitu?" Kuroko menatap sosok pemuda bersurai pirang yang sedang berjalan di sampingnya ini.
"A-ah! Yaa... aku hanya ingin tahu saja," ujar Kise dengan sedikit nada basa-basi.
"Begitu…" terdengar sedikit jeda dari Kuroko, kemudian pemuda itu melanjutkan,"…bagiku Kise-kun itu adalah 'bulan'"
"E-eh? A-apa? Bulan?" Kise bingung, kenapa ia disamakan dengan bulan? Alasannya kenapa?
"Ya, bulan," ujar Kuroko kembali dengan nada yang meyakinkan.
"Kenapa?"
"Kise-kun…" Kuroko menyebut nama sang model sambil menatap ke arah kakinya yang berjalan.
"Ya?" jawab Kise yang berusaha menyamakan kecepatan berjalannya dengan Kuroko.
"Kau tahu kan kalau Aomine-kun dan Kagami-kun itu adalah 'cahaya'-ku," Kuroko masih menatap ke bawah. Entah kenapa ia tidak ingin menatap Kise.
"Iya, lalu?"
"Dan kau juga tahu kan kalau aku ini adalah bayangan…"
"I-iya, maksudmu apa Kurokocchi?" Kise bingung dengan jawaban Kuroko barusan. Jujur saja, ia tidak mengerti.
"Semakin terang cahayanya, maka semakin gelap pula bayangannya, Kise-kun."
'Aku tidak tahu maksud Kurokocchi,' batin Kise ketika mendapat beberapa jawaban random dari pemuda yang sedang berjalan di sebelahnya ini.
"Dan kalau cahayanya terlalu terang, maka bayangannya akan terlalu gelap," terjadi jeda kembali ditengah perkataan Kuroko, lalu Kuroko melanjutkannya kembali, "Dan kalau itu terjadi, maka aku akan menghilang."
Kise hanya menatap Kuroko dengan tatapan intens—berusaha mengerti kemana arah pembicaraan ini. Kuroko sendiri kemudian tersenyum tipis, lalu ia menengadahkan kepalanya untuk melihat bulan.
"Kise-kun, apa kau tahu alasan mengapa bulan ada pada malam hari?" Tanya Kuroko yang kemudian dijawab dengan gelengan kepala oleh Kise.
"Alasannya adalah untuk menerangi gelapnya malam kan?" Kise kemudian mengangguk.
"Dan kalau tidak ada bulan, kegelapan yang pekat akan membuat orang tidak bisa melihat apa-apa kan?" yang kemudian nasih mendapat jawaban yang sama.
"Singkatnya…" jeda kembali terdengar dan saat itu Kuroko mengalihkan pandangannya dari bulan menuju wajah Kise, "…'cahaya bulan' Kise-kun ada untuk menerangi sedikit kegelapan bayanganku yang pekat. Kalau 'cahaya bulan' Kise-kun tidak ada, maka aku akan benar-benar menghilang," ujar Kuroko sambil tersenyum.
Kise yang mendengar pernyataan lebar itu hanya bisa diam. Matanya membulat—kaget dengan ucapan Kuroko barusan. Entah seperti tersihir atau apa, kalimat Kuroko barusan terngiang di dalam kepalanya.
''cahaya bulan' Kise-kun ada untuk menerangi sedikit kegelapan bayanganku yang pekat'
"Aaahh… Kurokocchi…" Kise tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia sedikit senang karena keberadaannya ternyata berguna bagi Kuroko.
"Meskipun ada Kagami-kun yang menjadi 'cahaya'-ku sekarang, tapi aku juga butuh 'bulan' Kise-kun agar aku tidak benar-benar menghilang," ujar Kuroko yang saat itu kembali menatap kea rah bulan.
Tiba-tiba—seperti sebuah kilat, Kise memeluk Kuroko lagi dengan sebuah senyum yang tersungging di sudut bibirnya. Ia senang. Sangat senang.
"Terima kasih Kurokocchi," Tak terasa ternyata mereka sudah sampai di perempatan jalan dan mereka harus berpisah di sini. Tentu saja sebelum berpisah mereka mengucapkan salam perpisahan.
"Baiklah sampai sini dulu Kise-kun, terima kasih untuk ajakannya," Kuroko membungkuk dan balik badan sebelum akhirnya dicegat oleh Kise.
"Kurokocchi!" seru Kise.
"Ya?"
"Besok ada matsuri, jadi maukah kau pergi bersamaku lagi? Kebetulan besok sudah libur," Kise mengepalkan tangannya erat-erat. Bisa terlihat di wajahnya sebuah semburat merah muda terajut dengan halus—berusaha menahan malu. Rasanya seperti sedang mengajak kencan seorang kekasih. Ia berharap Kuroko mau menerima ajakannya lagi.
"Tentu saja, jam berapa?" Kuroko tersenyum kecil dan tentu saja itu membuat lawan bicaranya senang bukan kepalang.
"Kujemput kau jam enam sore ya!"
"Oke," akhirnya mereka membalikkan tubuh masing-masing. Mengangkatkan kaki mereka yang lelah menuju rumah. Tubuh mereka berdua sudah merengek minta diistirahatkan.
Kise yang saat itu sudah sampai rumah, tidak henti-hentinya tersenyum cerah. Membuat seluruh penghuni rumahnya merasa terheran-heran dengan sikap anak mereka yang paling muda ini, bahkan kedua kakaknya hanya menggeleng-geleng pasrah. Adik mereka ini memang polosnya tidak karuan.
A/N: Hohoho akhirnya selesai juga chap 4. Chap 5 sedang dalam proses. Menyebalkan sekali banyak tugas sekolah yang harus kuselesaikan, jadi kemungkinan chap 5 update-nya bakal telat juga. Maaf ya readers, tapi akan saya usahakan agar update-nya nggak telat-telat amat. Oiya saya mau mengucapkan minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Maafkan saya readers kalo selama ini banyak salah /bows/ dan terima kasih banyak udah mau membaca. So see you next time (^_^)/
