Ingin rasanya Kongpob tidak bekerja hari ini dan menemani kedua anaknya bermain di rumah -bersama Arthit juga. Namun sekretarisnya kembali mengingatkan jika ia harus menemui klien untuk makan siang sekaligus membicarakan proyek mereka selanjutnya. Prepailin kadang bisa menjadi sekretaris yang menyebalkan jika ia menginginkannya.

Setelah berpakaian dan bersiap berangkat ke kantor, ia menyempatkan diri untuk pergi ke kamar kedua anaknya dan mendapati mereka sedang berbaring di tempat tidur besar mereka dengan Arthit berada ditengah. Arthit terlihat sedang membacakan sebuah buku untuk keduanya.

Ketiganya menoleh ketika kaki jenjang Kongpob memasuki ruangan yang cukup besar untuk ukuran kamar anak-anak itu.

"Po!" M berteriak girang, menjulurkan kedua tangannya menandakan ingin digendong oleh ayahnya itu.

"Po akan berangkat bekerja, kalian bisa menjadi anak baik di rumah, kan?"

Kedua bocah itu mengangguk bersamaan, seperti tidak keberatan ditinggalkan hanya berdua saja di rumah yang sebesar ini, membuat Arthit kembali mengernyit tidak suka dengan tindakan tak bertanggung jawab dari Kongpob.

"Seharusnya kakakku datang untuk menjaga mereka selama aku bekerja, namun karena sekarang ada P'Arthit, aku tidak perlu memanggil mereka untuk datang, kan?"

"Jangan membaca pikiranku, dasar aneh."

"Aku tidak membaca pikiran P'Arthit, khap." kekeh Kongpob, menurutkan M dan mencium keningnya, lalu beralih untuk mencium kening May, "Aku bisa melihatnya dari wajah P'Arthit."

"Sama saja. Itu aneh."

Anak kembar Kongpob kini bermain dengan banyak mainan di lantai berlapir karpet tebal dan meninggalkan kedua orang dewasa itu dalam keheningan mereka. Kongpob tersenyum melihat wajah tidak senang Arthit, mungkin masih tidak menyukai kenyataan bahwa mulai hari ini ia resmi menjad babby sitter anak-anaknya dan harus tinggal di rumah ini pula.

"P'Arthit boleh melakukan apapun di rumah ini, jika memerlukan sesuatu hubungi Wad," Ujarnya sambil memasukkan nomor telepon Wad ke ponsel Arthit.

"Wad?"

"Sahabatku, dia yang membantuku mengawasi rumah dan kedua anakku ketika aku bekerja."

Ah, tentu saja. Rumah sebesar ini tentu memiliki penjaga bukan? Arthit mengangguk mengerti dan menerima ponselnya kembali lalu melihat sosok pria itu menghilang dibalik pintu kamar anak kembarnya itu.

Sebuah senyuman mengembang di bibir Arthit ketika melihat May dan M telah tertidur kembali di atas karpet tebal di kamar itu, ia lalu mengangkat tubuh kecil mereka dan meletakannya di atas tempat tidur. Mungkin memang seharusnya Arthit berhenti berpikir untuk melarikan diri dari rumah itu dan menyetujui tawaran Kongpob untuk menjadi baby sitter merangkap asisten rumah tangga di rumah mewah ini.

Satu helaan nafas panjang lepas dari bibirnya. Ia pun bangkit dan mulai membersihkan mainan si kembar yang tersebar di satu bagian kamar itu, lalu mulai menggunakan penyedot debu untuk membersihkan karpet yang menutupi seluruh lantai kamar itu. Beruntung penyedor debu yang dimiliki rumah itu tidak mengeluarkan bunyi yang begitu nyaring sehingga tidak membangunkan si kembar yang masih terlelap itu.

Arthit kemudian mulai membersihkan seluruh bagian rumah yang ternyata sangat besar jika ia bersihkan sendirian. Walaupun memang tidak begitu kotor dikarenakan Kongpob menyewa pembersih rumah mingguan untuk melakukan pekerjaan sekitar rumah itu, dan Arthit bersyukur karenanya namun tetap saja melelahkan.

Aneh sekali memang ketika ia membersihkan rumah ini, ia hanya mendapati ada 4 kamar di rumah yang sebesar ini. Kamar utama milik Kongpob, kamar anak-anak, kamar tamu (sepertinya) yang ia tempati tadi ketika tak sadarkan diri dan satu kamar lagi yang terkunci. Kongpob tidak meninggalkan kunci untuknya -tidak seperti kamar-kamar lain untuknya bersih-bersih, kamar itu terkunci rapat membuat ia tidak bisa membersihkannya.

Biarlah, toh memang ia tidak bisa membersihkan, bukan tidak mau. Itu tidak bisa dihitung tidak melakukan pekerjaannya kan?

Setelah ia merasa semuanya telah bersih dan tertata rapi, ia beranjak pada ruangan paling disukainya di rumah yang baru hampir satu hari ini ditinggalinya. Dapur.

Ah, Arthit benar-benar menyukai dapur rumah itu. Sangat luas, dan kabinet-kabitnya juga sangat indah. Semua bahan masakan tertata rapi dan peralatan dapur pun bersih -terletah di tempatnya masing-masing pula. Ia lalu mengambil celemek yang tergantung di dinding tak jauh dari kulkas besar di pojok daur, memakainya lalu mulai mengambil bahan-bahan yang akan ia masak untuk makan siangnya dan si kembar.

Tadi pagi si kembar telah makan lumayan banyak jadi untuk makan siang sebaiknya ia hanya membuat Sandwich saja, tentu dengan buah-buahan untuk serat mereka. Ah, dan susu rendah lemak yang ada di kabinet ini mungkin. Arthit tak lupa juga membuat kue kering dari oat-meal yang rendah lemak pula.

Syukurlah ia bekerja sambilan di berbagai tempat dalam dua tahun terakhir sehingga ia mengetahui beberapa menu untuk anak yang menginjak usia 3 tahun seperti si kembar.

Untuk makan siangnya sendiri, ia tidak ambil pusing dan hanya memasak sekenanya. Toh ia memang sedang tidak memiliki selera untuk makan. Walaupun memang lapar itu terasa sekali di perutnya -membuatnya mengambil beberapa buah buah berry dari keranjang buah di dapur dan memakannya.

Si kembar bangun tepat ketika ia memasuki kamar mereka untuk membangunkan mereka berdua -terlalu banyak tidur juga tidak baik untuk pertumbuhan mereka. Yah, walaupun May mungkin tidak akan mengalami masalah dengan tinggi badan dan kemampuan berbahasanya yang bahkan telah melebihi kemampuan anak berusia lebih darinya. Disisi lain, Arthit menyadari bahwa M masih belum bisa mengeluarkan kata-kata selain 'Mar' dan 'Po', juga beberapa kata yang diucapkannya dengan kurang jelas.

"Siapa yang ingin mandi?" tanya Arthit dengan suara yang terdengar terlalu ramah di telinganya sendiri.

"May!" sahut yang satu dengan bersemangat sementara yang satunya hanya mengangkat tangan dengan malu-malu, membuatnya tersenyum gemas.

Mereka bertiga mandi bersama karena memang badan Arthit terasa lengket setelah bekerja keras membersihkan rumah dan memasak. Dengan bermain air bersama dua anak kembar dideannya ini, entah mengapa ia merasa dirinya benar-benar menjadi istri dari Kongpob.

Tidak, tidak.

"Mae, kenapa?" tanya May yang bingung menatapnya menggelengkan kepalanya berkali-kali.

"Ah, tidak apa-apa. Ayo sudah selesai mandinya, nanti masuk angin."

Dengan sedikit rengekan dari kedua bocah itu, Arthit berhasil mengudahi acara mandi merangkat perang air itu. Ia memakaikan baju keduanya dan juga menyisir rambut serta memakaikan sepatu mereka. Ah, mereka terlihat sangat menggemaskan dengan baju yang seragam seperti ini. Arthit mencium kening keduanya, entah karena saking lucunya mereka atau memang karena ia mulai merasa sayang dengan kedua anak kembar itu.

Kekehan kecil terdengar dan membuat Arthit menoleh pada pintu kamar dan mendapati Kongpob yang terdang memandang ketiganya dengan senyum di wajahnya. Wajah Arthit seketika terasa panas, menyadari Kongpob melihat apa yang dilakukannya barusan.

"P'Arthit terlihat cocok menjadi Ibu mereka, khap." ujar Kongpob, terdengar menggodanya.

"Diam kau." bantah Arthit, lalu menyadari sesuatu, "Mengapa kau sudah pulang?"

"Ah, aku biasa makan siang bersama May dan M, khap. Yah, walaupun biasanya hanya makanan yang aku bawa dari luar atau yang dipesan kakaku." jawab Kongpob, mencium kedua anaknya yang kini berada di kedua lengannya yang ternyata kuat untuk ukuran orang yang terlihat kurus sepertinya, "Kakakku juga tidak bisa memasak, haha." lanjutnya sambil tertawa.

"Dasar kalian anak orang kaya," ejek Arthit dengan nada bercanda, "Ya sudah, ayo ikut makan siang dengan kami. Kami mau makan Sandwhich yang enak, iya kan M?" tanya Arthit sembari mengambil M dari gendongan Kongpob ke dalam gendongannya sendiri. M mengangguk dengan antusias dan senyum lebar.

Mereka pun beranjak ke ruang makan yang berada di dapur pula, mendudukkan kedua bocah yang kini berceloteh dengan bahasa mereka sendiri -M yang berceloteh dan May yang menanggapi dengan bahasa sok dewasanya. Arthit dan Kongpob mengangkat makanan yang telah disiapkan Arthit dan mengaturnya di meja makan.

Arthit berpikir ia tidak akan lagi bisa menikmati makan bersama dengan orang lain seperti sekarang ini, namun nyatanya ia salah. Ia menikmati celotehan kedua anak kembar yang manis ini, ia juga -sangat heran karena- menikmati suara Kongpob yang mencoba untuk berbicara dengan kedua anaknya namun kadang harus diam bergeming ketika May justru mengomel padanya tentang bagaimana ia harusnya membuatkan mereka makanan seperti yang Arthit buat itu. Kongpob lalu berpura-pura menangis setelahnya dan M akan menepuk pundaknya dengan pelan, seakan mencoba menghibur ayahnya itu.

Sejak kematian kedua orang tuanya, Arthit menjadi terbiasa dengan sunyi menemaninya makan. Ternyata tidak buruk juga makan dengan suarana ricuh seperti ini.

Tangannya mengambil makanan di depannya dan menyuapi mulutnya sambil tetap memperhatikan interaksi ayah dan kedua anaknya itu. Senyuman kecil tercipta di wajahnya.

.

"Kau akan kembali ke kantor?" tanya Arthit ketika Kongpob kembali memasak jas blazernya. Kongpob mengangguk, "Yah, ada yang harus aku selesaikan di kantor, khap."

Arthit mengangguk, mengerti. "Baiklah."

Kongpob menatapnya dengan senyman jahil, "Kalau P'Arthit masih merindukanku, aku bisa meminta izin untuk tidak kembali ke kantor, kok."

Arthit memutar bola matanya dengan malas, membuat Kongpob tertawa. Ia pun berpamitan pada kedua anaknya (lagi), lalu kembali ke kantornya.

Kedua anak kembar itu ingin menghabiskan sisa hari di halaman belakang rumah mereka -yang baru saja Arthit ketahui beberapa saat lalu. Dia baru satu hari di rumah ini, wajar kan jika ia masih asing dengan rumah besar ini. Kakinya segera melangkah untuk menyusul May dan M namun berhenti ketika menginjak sesuatu yang tebal di lantai.

Dompet?

Sepertinya saking terburu-burunya, Kongpob tak sengaja menjatuhkan dompetnya. Apakah ia harus menelpon Kongpob untuk memberitahukannya, atau menunggunya pulang untuk mengembalikannya? Tapi bagaimana jika ia memerlukannya sekarang?

Ia memungut dompet yang tergeletak di lantai itu dan tak sengaja membukanya. Matanya membulat. Bukan karena melihat isi uang yang sangat banyak di dalam dompet itu, atau kartu-kartu di dalamnya, namun matanya terpaku pada foto yang ada di dalam dompet itu.

Foto yang memperlihatkan Kongpob sedang memeluk seorang pemuda dari belakang.

Apa maksudnya ini? Ini... siapa? Mengapa mirip sekali dengannya?

.

.

tbc~~

Foto yang dilihat Arthit .