Secret

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

SasukexSakura alternate universe fanfiction for Nenek Immortal, Senju Airin Nagisa.

.

Romance, family, little bit humor, maybe?

.

OOC, typo(s), bad diction, failed humor, and etc. Please red summary first then-

.

-if you don't like, don't ever try to read.

.

Enjoy~

.

Chapter 4 : Bond

.

.

"Saiiiii!"

Sakura hanya memandang malas pada Ino yang berlari menghampiri Sai dengan tangan yang dilebarkan. Sai juga melebarkan tangannya, mereka berpelukan mesra. Di sekolah. Di koridor.

"Hei! Apa yang kalian lakukan! Ini di sekolah!" tegur Sakura. Wajah gadis itu memerah melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya tidak-tahu-malu itu.

"Huh, biar saja. Sai sudah tidak masuk tiga hari. Aku rindu padanyaaa~" sahut Ino manja. Sedangkan Sai hanya tersenyum. Sakura menatap kedua pasangan itu dengan pandangan aneh. Oke, ia akui Ino pasti merindukan kekasihnya yang sudah tidak muncul selama tiga hari itu. Sai memang orang yang 'sibuk', kecerdasannya dalam seni lukis membuatnya diburu oleh beberapa pameran.

"Oh, jadi kau tadi menarikku untuk menyaksikan keromantisanmu itu? Seandainya aku tahu, aku akan tetap di kelas." Sakura memandang jengkel pada Ino. Dan lebih jengkel lagi saat Ino tidak memedulikannya dan melanjutkan kemesraannya dengan Sai. Dasar Ino gila. Pig.

Melihat Ino dan Sai, membuat Sakura bertanya-tanya di benaknya. Masih pacaran saja begitu, apalagi kalau sudah suami-istri? Jangan-jangan, jika mereka sudah sah, Sai akan menggendong Ino ke mana pun Ino pergi. Sasuke saja tidak pernah memeluknya seperti itu, padahal kan mereka sudah sah.

Eh?

Sakura segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Apa yang dia pikirkan?! Kenapa pikirannya langsung ke Sasuke yang memeluknya? Apakah dia ingin jika Sasuke memeluknya juga?

Tidaaak! Tidak mungkin seperti itu!

Plak! Plak! Plak!

Sakura menampar pipinya sendiri secara bolak-balik, sehingga pipinya memerah. Sakit? Iya, tapi mau bagaimana lagi. Hal ini ia lakukan untuk membuat dirinya sadar akan pemikiran konyolnya itu.

Tiiiing! Tiiing!

Tanpa terasa, bel masuk berbunyi. Ino mengerucutkan bibirnya. "Kenapa harus secepat ini," umpatnya kesal.

"Kalau tidak mau belajar, kau tidak usah sekolah saja, Ino," timpal Sakura dengan nada sarkastik, Ino hanya membalasnya dengan sebuah cengiran.

"Aku ke kelas dulu." Sai menepuk pucuk kepala Ino. Ino mengangguk.

Sakura membalikkan tubuhnya dan berjalan, namun saat dirasanya Ino belum mengikutinya, gadis itupun membalikkan badannya lagi ke arah Ino. Ia melihat Sai menundukkan wajahnya, sedangkan Ino mencondongkan wajahnya. Hal itu membuat mata Sakura membulat lebar.

Mulut Sakura sukses menganga saat ia melihat Sai mencium Ino. Hanya dua detik, namun hal itu terlihat jelas di mata Sakura. Setelah itu, barulah Sai pergi setelah pamit lagi pada Ino. Ino berbalik ke arah Sakura, tersenyum sumringah saat menatap sahabatnya itu mematung.

"Ada apa, Sakura?" tanyanya polos.

"Kau—tadi, itu … sama Sai …" Sakura tidak dapat lagi menyusun kata-katanya dengan baik. Dirinya terlalu syok melihat kejadian itu. Ia memang sudah beberapa kali melihatnya di tv, tapi ia baru kali ini melihat adegan itu secara langsung, apalagi … Ino yang melakukannya.

"Kiss?" Alis Ino terangkat, gadis berambut pirang pucat itu kemudian tertawa. "Jangan bilang kau belum pernah melakukannya dengan Sasuke," ucapnya di sela tawanya. Namun, melihat reaksi Sakura, membuat Ino segera menghentikan tawanya.

"Sakura? Kau belum pernah melakukannya?" Ino menyipitkan matanya.

"Tentu saja belum, bodoh."

"APAAAA?!"

"Ino! Jangan berteriak seperti itu!" Sakura menepuk-nepuk telinganya yang sakit karena mendengar pekikan Ino.

"Maaf, maaf. Tapi, aku serius. Kau belum pernah melakukannya?"

"Kami hanya pernah berpelukan, satu kali. Itu saja." Mereka melanjutkan perbincangan sambil berjalan menuju kelas mereka.

"Hanya itu?"

"Ya."

"Sungguh?"

"Iya."

"Tidak ada acara peluk-cium di malam hari?"

"Tidak ada."

"Di pagi hari?"

"Tentu saja tidak. Kau pikir kami apa? Kami dinikahkan secara paksa, tanpa mental dan persiapan diri yang matang." Sakura memutar kedua bola matanya.

"Astaga-! Kalian aneh!" Ino menutup mulutnya yang menganga itu. "Jangan-jangan—Sasuke adalah seorang gay!"

"Siapa yang gay?"

"Kya-!" Sakura dan Ino menjerit kaget saat Sasuke tiba-tiba muncul di belakang mereka dengan alis terangkat.

"S-Sasuke—" Ino memasang senyum paksa. "Ah, Sakura. Aku baru ingat kalau aku ada janji dengan Kurenai-sensei. Aku pergi dulu yah! Daaah! Muah! Muah!"

Sakura baru saja mau mencegah Ino, tapi gadis itu dengan gesit langsung membelok di pertigaan koridor. Ino sialan. Dia kabur, padahal dia yang mencetuskan kalimat 'gay'.

"Kalian sedang membicarakanku?" Sakura tidak tahu apakah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan.

"Emm …"

"Siapa yang gay?"

"Ayolah, Sasuke. Kami hanya bercanda." Sakura mengutuk Ino dalam hati. Padahal Sakura tidak ada sangkut pautnya dengan kata-kata Ino.

"Menurutmu aku gay?"

"Apa? Tentu saja tidak!" sela Sakura cepat. "Sudah kubilang, In—kami, hanya bercanda soal itu."

"Kecurigaan kalian pasti didasari oleh sesuatu."

Sakura menepuk jidatnya. Sepertinya Sasuke tidak menerima jawaban Sakura.

"Ah, jadi begini. Tadi, Sai dan Ino berciuman. Aku terlalu syok melihatnya sehingga Ino bertanya apakah aku sudah melakukannya denganmu atau belum. Aku menjawab tidak. Lalu dia menanyakan pertanyaan aneh. Dia berpikir hubungan kita seperti layaknya sepasang suami-istri, tapi tidak demikian. Jadi, dia berpikir kau gay." Sakura berpikir sejenak, kemudian tersenyum. "Dalam arti lain, aku disebut seksi oleh Ino. Mungkin Ino berpikir 'mana mungkin lelaki normal tidak tertarik dengan keseksianku'."

Sekarang Sasuke yang memutar bola matanya saat Sakura memancarkan rasa percaya dirinya. "Jadi, aku harus 'menyerang'-mu dulu untuk membuktikan bahwa aku tidak gay, hm?"

Sakura sontak menutup dadanya dengan kedua tangannya dan menatap Sasuke dengan tatapan curiga dan waspada. "Jangan macam-macam denganku, atau kau tidak akan memakan apapun malam ini."

Sasuke terkekeh. "Kau bertingkah seperti orang yang pintar memasak."

Sakura tersenyum angkuh. "Hari ini adalah hari lesku yang pertama. Kemampuan memasakku akan mengalahkan koki terhebat sedunia!"

"Hmmm?" Tanggapan Sasuke yang seakan tidak percaya itu membuat Sakura menggembungkan pipinya kesal.

"Jangan menatapku seperti itu, Uchiha Sasuke." Sakura memandang Sasuke dengan pandangan menantang. "Lihat saja, akan ada saat di mana kau bersujud untuk meminta masakanku," ucap Sakura secara yakin. Namun, bukannya mendapatkan respon seperti yang diinginkannya, Sasuke malah tertawa, membuat Sakura menatapnya kesal.

"Kau gadis yang aneh." Sasuke mencoba untuk menghentikan tawanya, namun rasa menggelitik di perutnya tidak membiarkannya untuk melakukan itu.

"Dan gadis aneh inilah yang sudah menjadi istrimu," ucap Sakura dengan nada kesal, gadis itu memutar bola matanya. "Tertawa saja kau terus!" Sakura meninju lengan Sasuke dengan keras saat pemuda itu belum menghentikan tawanya.

"Haha—maaf, maaf. Baiklah, aku berhenti." Sasuke kali ini benar-benar berhenti tertawa, namun bibirnya masih mengulaskan sebuah senyum. Ia angkat tangannya, meletakkannya di pucuk kepala Sakura dan mengacak-ngacak rambut istrinya itu. "Aku akan mengantarmu ke les itu."

"Aku bisa sendiri!" Sakura melipat kedua tangannya di dadanya, pandangannya ia buang ke arah lain, ia masih kesal dengan Sasuke.

"Benarkah? Memangnya kau tahu di mana tempat lesmu itu?" Sakura bungkam mendengar pertanyaan Sasuke. Benar juga, ia bahkan tak tahu letak tempat lesnya itu di mana. Bagaimana caranya ia pergi ke sana?

"Ugh, baiklah. Aku mengizinkanmu untuk mengantarku hari ini saja!" Sakura menunjuk batang hidung Sasuke.

"Yes, Princess." Sakura rasanya ingin menimpuk Sasuke saat Sasuke berlagak sok pengawal di depannya, namun yang ada ia malah mengeluarkan tawa kecil.

.

.

.

.

"Selamat datang, Tuan. Selamat datang, Nyonya."

Sakura tersenyum canggung saat para pegawai kantor menyapanya dengan formal. Ia tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini. Perilaku semua karyawan sangat membuatnya risih, namun anehnya Sasuke bertingkah seolah tidak ada terjadi apa-apa. Apakah pemuda itu sudah terbiasa?

Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kantor Sasuke. Kantor yang terlihat mewah dan sangat besar, karyawannya sangat banyak dan bersikap ramah padanya. Entah apakah itu karena mereka adalah bawahan, atau mereka benar-benar ramah, Sakura tidak tahu dan tidak benar-benar peduli apakah itu tulus atau tidak, namun tetap saja, ia tidak terbiasa.

"Jalanmu cepat sekali!" Sakura berlari-lari kecil demi menyamai langkahnya dengan Sasuke.

"Ck. Kalau tidak terburu-buru, kau bisa terlambat ikut les memasak," ujar Sasuke seraya melirik arlojinya. Dua puluh menit lagi les memasak akan dimulai, ia harus pastikan Sakura tidak terlambat di hari pertamanya. "Kau jangan bertingkah aneh di sini. Ingat, kau adalah istri pemimpin perusahaan."

"Memangnya ada apa kalau aku istri pemimpin perusahaan? Aku harus tampil berkelas? Huh, aku masih pelajar. Jangan menyuruhku menjadi ibu-ibu empat puluh tahunan," oceh Sakura dan sama sekali tidak digubris oleh Sasuke. Mereka masuk ke ruangan Sasuke, ruangan itu besar, terdiri dari dua sofa putih yang saling berhadapan dengan meja sebagai perantaranya. Terdapat satu laptop dan satu komputer di meja kerja Sasuke. Sakura tersenyum, ia suka design ruangan ini. Kaca besar di belakang kursi Sasuke membuat ia dapat melihat pemandangan kota dari lantai delapan.

"Indahnyaaaa …" seru Sakura girang.

"Lebih indah pada malam hari," ucap Sasuke seraya menyalakan komputer. Ia mengambil flashdisk, meng-copy beberapa data ke dalam flashdisk-nya. "Selesai."

"Selesai? Cepat sekali!" Sakura terheran.

"Aku cuma ingin meng-copy data. Sekarang ayo kita pergi." Sasuke merogoh kunci mobilnya dari dalam kantongnya, namun Sakura segera merebut logam tersebut.

"Kita jalan kaki saja! Dari sini, tempat lesku cukup dekat 'kan?" Sakura tersenyum cerah. Semenjak menikah, ia jarang sekali berjalan kaki. Ia diantar Sasuke saat sekolah, namun turun di pertigaan agar tidak ada murid yang tahu bahwa mereka berangkat bersama.

"Jalan kaki?" Sasuke hendak protes.

"Iya! Jalan kaki. Jalan kaki di sore hari itu menyehatkan!"

"Bukannya jalan kaki di pagi hari yang menyehatkan?"

Sakura berdecak. Benar juga Sasuke. "Huh. Kau ini banyak protes sekali! Pokoknya aku mau jalan kaki!"

"Kau sedang merajuk, hn?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Aku bukan anak kecil! Aahh … kau ini menyebalkan!" Sakura menarik tangan Sasuke. "Ayo cepat!"

.

.

.

"Namaku Mitarashi Anko. Aku yang adalah pembimbing di les ini." Wanita berambut ungu dengan celemek hijau muda itu tersenyum ramah pada Sakura. "Dan ini keponakanku, Hyuga Neji."

Sakura tersenyum lebar. "Salam kenal, Anko-san! Neji-san!"

Sasuke yang melihat hal itu di sudut ruangan tersenyum kecil. Ia pikir Sakura akan sulit bersosialisasi karena semua peserta rata-rata berusia di atas dua puluh lima tahun. Ah, pembimbing yang bernama Hyuga Neji itu juga sepertinya masih di bawah dua puluh tahun.

"Apakah dia suamimu?" Sasuke melihat Anko meliriknya dari jauh. Wajah Sakura merona tipis, kemudian ia mengangguk. "Heehh … pasangan muda. Suamimu sangat tampan," puji Anko. Sakura tersenyum kecil, gadis itu membalikkan badannya sejenak, melirik Sasuke yang menyandarkan badannya di sudut tembok, menatapnya sedari tadi.

Ditatap seperti itu, membuat wajah Sakura memerah. Gadis itu segera membuang wajahnya. Fokus pada penjelasan Anko mengenai masakan yang akan dimasak. Masakan hari ini adalah beef teriyaki.

"Oke, silahkan mengiris-iris tipis daging yang telah disiapkan di meja kalian!" Ekspresi Anko berubah tegas. Sakura meneguk ludahnya. Ia menatap daging mentah di depannya. Dengan gerakan lambat, ia meraih pisau di dekatnya dan mulai mengiris daging itu.

"Sakura-san, cara memegang pisaumu salah." Neji menghampiri Sakura. Pemuda itu memegang tangan Sakura, menuntunnya agar memegang pisau dengan baik. "Mulai mengiris," perintahnya, tangannya mulai mendorong tangan Sakura agar mengiris daging itu.

Tanpa sadar, tatapan tajam dari sudut ruangan menghujam mereka.

"—aw!" Sakura melepas pisaunya, ia hisap tangannya yang teriris itu. Ugh, ini baru langkah pertama! Bahkan mereka belum benar-benar mulai memasak! "Susah sekaliiiiiii. Apakah dagingnya harus diiris setipis ini?"

Tangan gadis itu mulai perih. Sasuke memandangnya dari jauh. Baru saja ia ingin menghampiri Sakura, ia langsung melihat Neji berada di samping gadis itu. Pemuda itu meraih tangan Sakura dan memberinya plaster.

"Kau harus lebih berhati-hati," ucap Neji. Sakura mengangguk.

Bulu kuduk Sakura langsung bergidik ngeri. Entah kenapa, ia merasakan aura hitam di sudut ruangan. Ah, sudahlah. Paling cuma perasaannya saja.

.

.

.

"Taraaaaa! Beef teriyaki ala Cheef Sakura!"

Sakura menyodorkan sepiring karyanya itu pada Sasuke. Namun Sasuke hanya menatap datar hal itu dan malah membuang tatapannya ke arah lain, membuat Sakura menampilkan wajah herannya.

"Lho? Ada apa? Tenang saja, ini layak dimakan! Ayo cobalaaahhh!" Sakura memotong beef teriyaki tersebut, menaruhnya di sendok dan hendak menyuapi Sasuke. "Ayo dicobaaa!"

"Tidak mau." Sasuke mendorong sendok itu. "Kau saja yang makan."

"Hah?" Sakura mencium beef teriyaki-nya. "Baunya sedap kok, pasti enak. Ayolah, sekali sajaaaa." Sakura memajukan sendok itu, namun lagi-lagi didorong oleh Sasuke.

"Sudah kubilang aku tidak mau."

Sakura memanyunkan bibirnya. "Huh, kau kenapa sih?" Sakura menatap Sasuke kesal. "Kau … tidak ingin memakan masakanku yah?"

"Bukan begitu. Aku akan memakannya, kalau kau memasaknya di rumah, sendirian." Sasuke mengucapkan kata 'sendirian' dengan penuh penekanan.

"Haaahh … kau cerewet sekali! Apa bedanya memasak di sini dan di rumah?!" Sakura mulai kehabisan kesabaran. "Baiklah, kalau begitu aku makan dengan Neji sa—"

"—suapi aku." Sasuke menarik lengan baju Sakura yang baru saja hendak berbalik.

"Hah?"

"Sekarang aku mau." Sasuke berucap dengan nada datar.

"Haaahhh?" Sakura memandang pemuda itu dengan wajah aneh. Huh, dasar labil. Sakura segera menyodorkan sendok. Sasuke segera memakan beef teriyaki tersebut dengan tenang. "Bagaimana?" Sakura bertanya dengan sinar mata yang antusias.

"—layak dimakan." Sakura menggembungkan pipinya, tapi cukup senang dengan jawaban itu. "Kau mau ke mana setelah ini?" tanya Sasuke kepada Sakura yang juga memakan beef teriyaki-nya. Melihat hal itu, menimbulkan semburat merah tipis di wajah Sasuke. Sakura, memakan beef teriyaki-nya dengan sendok yang sama. Bukankah itu berarti—

"Hm? Memangnya kenapa? Ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Sakura, gadis itu menaikkan sebelah alisnya.

"Tidak juga. Aku bosan di rumah. Di rumah hanya ada aku dan kau. Wajahmu di rumah sangat kusut, membuatku bosan."

"Sialan." Sakura mengiris beef teriyaki-nya dengan sekali sentakan lantaran kesal dengan ucapan Sasuke.

"Bagaimana kalau kita ke pantai?" usul Sakura.

"Semalam ini? Kau ingin sakit, hah?"

"Aku sudah lama tidak ke sana. Ayolaaahh …" Sasuke memutar bola matanya. Ia tahu bahwa keinginan Sakura harus ia penuhi, kalau tidak gadis itu akan terus merajuk, merusak gendang telinganya saja.

"Baiklah. Lepaskan celemek itu dan kita pergi."

.

.

.

Sakura dan Sasuke berjalan menuju pantai. Angin berhembus kencang walau mereka belum berada di pesisir pantai.

"Hei, Sakura."

"Hmm?"

"Kau bilang, Sai dan Ino berciuman di sekolah 'kan?"

Sakura menoleh pada Sasuke dengan cepat. Kenapa tiba-tiba membahas hal ini?

"M-memangnya kenapa?"

"Tidak. Aneh saja. Mereka masih berpacaran, sedangkan kita yang sudah menikah belum pernah melakukannya." Sakura mulai memandang Sasuke dengan curiga, mata gadis itu menyipit. "Tidak usah memandangku seperti itu. Aku bukannya ingin melakukannya padamu sekarang."

"A-aku tidak berpikir seperti itu, Bodoh!" tukas Sakura cepat.

"Aku tidak bilang bahwa kau sedang memikirkannya, 'kan?"

Wajah Sakura memerah. Di balik sinar bulan, ia melihat senyum jahil Sasuke. "K-kau menyebalkan. Kau menyebalkan. Kau menyebalkan. Kau menyebalkaaaannn!" Sakura meninju pelan bahu Sasuke.

"Jangan bilang kau membayangkannya."

"Membayangkan apa, Bodoh?!"

"Membayangkan hal itu."

"M-mesum!"

Sasuke tertawa kecil.

"Aku akan menjaga jarak denganmu!" Sakura memundurkan langkahnya, hendak pergi ke seberang jalanan.

"Silah—SAKURA! AWAS!"

"Eh?"

PIIIIIPPPP!

CKIIIIIIITTT!

Sasuke segera melompat ke jalanan, mendorong tubuh Sakura ke tepi jalanan.

"SASUKE!" teriak Sakura ketika masih melihat Sasuke di tengah jalan.

Sasuke menyilangkan tangannya di depan wajahnya, menunggu saat di mana mobil di depannya menghantam tulang dan dagingnya. Namun untungnya, mobil itu berhenti dengan jarak 10 sentimeter di depan Sasuke.

Sasuke menghela napas lega. Hampir saja.

"Kau tidak apa-apa?!" Supir mobil tersebut mengeluarkan kepalanya di jendela mobil. Sasuke mengangguk. Pemuda itu meminta maaf pada sang supir dan menghampiri Sakura yang tampak bergetar.

"Sakura, kau terluka?" tanya Sasuke dengan pandangan khawatir, pemuda itu menumpu lututnya di atas tanah. Tubuh Sakura bergetar hebat. Air mata mengalir, tatapannya syok. "Sakura?"

Sasuke menyentuh kedua pipi gadis itu. "Hei, Saku-"

"S-S-Sasu … Sasuke … Sasuke …" Sakura melirihkan nama Sasuke berkali-kali. Air mata jatuh bebas dari kelopak matanya. "Sasu … ke … kau … kau baik-baik saja kan? Kau … tidak apa-apa …?"

Sasuke tersenyum tipis dan mengangguk. "Aku baik-baik saja."

"Sasu—" Sakura segera memeluk leher Sasuke, gadis itu menangis terisak. Pelukannya sangat erat, ia tenggelamkan wajahnya di perpotongan leher dan pundak Sasuke. "Aku … aku sangat takut … aku sangat takut … hiks … aku … aku …" Tubuh Sakura semakin bergetar. "Gara-gara aku … ini semua gara-gara aku …"

"Sakura, sudahlah. Semua baik-baik saja." Sasuke membalas pelukan gadis itu.

"Kalau kau menyusul ibuku … hiks … kalau kau menyusulnya … aku harus bagaimana …? Hiks … Sasuke …" Sasuke mengusap punggung Sakura.

"Ssst … tenanglah."

"Tidak!" Sakura melepas pelukannya, air mata membanjiri pipinya. "Ini semua gara-gara aku! Aku sangat ceroboh! Kau … kau pantas membenciku! Kau pantas membenciku!"

"Sakura, apa yang—"

"Aku … aku datang ke kehidupanmu! Aku mengacaukan kehidupanmu! Aku … aku membahayakan nyawamu! Kau menuruti semua perintahku! Kau menurutiku yang egois ini! Aku … menyebalkan, bukan? Aku … hiks … aku menyulitkanmu, bukan? Kau membenciku 'kan? Karena aku, masa mudamu hancur! Kau menanggung beban yang berat gara-gara kemunculanku. Gara-gara kehadiranku!"

"Sakura …" Sasuke menutup mulut Sakura menggunakan telapak tangannya. "Aku sama sekali tidak membencimu. Jangan salahkan dirimu." Sasuke menjeda kalimatnya. "Gara-gara kehadiranmu, kehidupanku menjadi tidak monoton. Kehidupanku lebih menyenangkan karena kemunculanmu."

Sasuke mengusap air mata gadis itu. "Jangan menangis. Buang semua pemikiran bodohmu itu. Sakurakuadalah gadis yang kuat."

Sakura masih terisak, namun gadis itu ikut mengusap air matanya sendiri. "M-maaf …"

"Sudahlah. Kau mau ke pantai 'kan? Ayo." Sasuke berdiri, menjulurkan tangannya pada Sakura. Sakura langsung menyambut juluran tangan itu.

.

.

.

"Ini. Minumlah." Sasuke menyerahkan sekaleng kopi pada Sakura. Sakura menerimanya, membuka kaleng itu dan meneguknya dengan cepat. "Kau kedinginan?"

Sakura mengangguk. Sasuke melepas jaketnya, menutupi punggung Sakura dengan jaket berwarna hitam itu. "Terimakasih," ucap Sakura pelan. Mereka berdua menatap lautan yang luas. Hanya ada mereka berdua di sini. Angin berhembus lebih kencang.

"Bagaimana denganmu? Kau juga dingin 'kan?" tanya Sakura.

"Aku menggunakan lengan panjang. Sudahlah, jangan cerewet." Sasuke meneguk kopinya. "Kita tidak boleh berlama-lama di sini. Atau besok kita akan sakit. Angin sangat kencang."

"I-ini ideku. Maaf …" Sakura menundukkan kepalanya, membuat Sasuke manatapnya dengan tatapan bersalah.

"Sudahlah. Berhenti menyalahkan dirimu, Sakura. Aku tidak suka itu." Sasuke menatap datar pada Sakura.

"Tapi itu memang—"

"Ssst. Kita ke sini untuk bersenang-senang, bukan?"

Sakura terdiam mendengar ucapan Sasuke, gadis itu perlahan-lahan mengulas senyum kecil. "Iya juga. Kita di sini untuk bersenang-senang."

Sasuke ikut tersenyum saat melihat senyum Sakura. akhirnya, gadis itu tersenyum juga. Ia tidak suka melihat Sakura bersedih. Ia tidak suka jika gadis itu tidak ceria seperti biasanya. Ia tahu Sakura adalah gadis yang kuat. Gadis yang kuat menerima takdir yang ditumpahkan kepadanya.

"Terimakasih untuk semuanya, Sasuke." Sakura mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin kawinnya. "Untuk ke depannya, mohon jaga aku. Jaga ikatan ini."

Sasuke menggenggam tangan Sakura, menyalurkan kehangatan pada gadis itu dan berkata, "tentu saja."

Bersamaan dengan angin yang berhembus, mereka mendekatkan wajahnya. Sasuke dan Sakura memejamkan mata mereka, merasakan napas satu sama lain. Yang terdengar hanyalah ombak dan angin yang berhembus. Laut, bulan, dan pasir-pasir pantai menjadi saksi bisu saat bibir mereka menyatu.

.

.

.

To be Continued

Tulisan apaan saya? -_- #plak

Maaaffff banget telat update-nya huhuhu ternyata mood saya naik drastis banget saat sudah mengupdate KgnA wkwkwk xDD

Oh ya, tadi aku baca review yang mau kenalan wkwkwk kamu aja deh yang add line-ku Id-nya : hanyiels. Silahkan di add :3

Makasih banget yah buat yang setia nunggu. Wkwkwk aku memang selalu ngaret update sih xD #plak

Sankyuuu

Sign,

HanRiver