"Apa yang kau lihat?"

Psyche merasa seperti tikus kecil yang terpojok, kaget dan ketakutan. Dia mengibaskan tangannya, berusaha mengatakan 'tidak'.

Wajah Tsugaru setenang biasanya, walaupun ada sedikit kekakuan dalam ekspresinya."Kamu harus tahu, itu bukan urusanmu, juga bukan urusan Ibu."

Dengan itu Tsugaru meninju dinding di sebelah wajah Psyche, membuatnya mengernyit ketakutan. Kemudian dia beranjak pergi, tidak memedulikan Psyche yang langsung merosot lemas ke lantai.


Ternyata 4 tahun memang cukup untuk mengubah seseorang.

Tsugaru jarang sekali pulang akhir-akhir ini. Mungkin wajar karena kesibukannya di universitas, tapi Psyche selalu menunggunya di ruang keluarga dan setiap Tsugaru pulang malam, ada bau asing yang menempel padanya. Bau.. parfum wanita. Asap.. dan bau-bau asing lainnya.

Petang tadi, Psyche memutuskan untuk mencari tahu.

Sekarang dia tahu. Segala bau-bauan itu tentu saja ada sumbernya.

Dia mendapati Tsugaru bekerja di sebuah host club di suatu daerah 'terlarang'. Psyche hanya bisa memandang dari kejauhan, itupun sambil mengintip-intip. Dan dia melihat Tsugaru, berdiri dikelilingi wanita. Kakaknya itu tampak begitu lihai membuat wanita-wanita itu tertawa senang. Dia pun tersenyum.

Ah, senyum itu….

Kapan terakhir kali Psyche melihatnya?

Sekalipun senyum itu bukan untuknya, juga bukan senyum yang seindah biasanya, Psyche sangat bersyukur bisa melihatnya. Dia terpana, hingga tidak sadar salah satu dari wanita itu menunjuk ke arahnya, membuat misi membuntuti-nya gagal seketika. Tsugaru menyeretnya pulang, nyaris secara harfiah. Dan sesampainya di rumah…

Tsugaru berbicara padanya.

Walau hanya bentakan-bentakan menyeramkan.

Tapi suara itu, suara itu, Psyche sungguh merindukannya.

Maka walaupun sambil menangis, Psyche tetap menulisi jurnalnya dengan kata-kata bahagia yang dipenuhi dengan luapan harapan dan perasaannya.


21 Smeptembr

Sleamt mlaam Tsugaru-nii. Hrai ini Psyce sdeikt ingn lhiat Tsugaru-nii pgrei keamna, jdai Pyche iukt Tsugaru-nii. Psyce laiht Tsugaru-nii senym… Psyce ingn liht lgai. Tpai Pyche belm dimafkan? Psyce msaih jaht?

Sduah lbeih drai 100 halaman ynag Phycse tuils selmaa 4 tauhn ini, tpai Phycse tiadk paegl. Becbirara pdaa Tsugaru, wlaau hnaya leawt junral ini, menenangkn. Phycse bsia membyaangkan suraa Tsugaru dan syneum Tsugaru, beakrta pdaa Pcyshe bwhaa Psyhce adaalh aidk Tsugaru. Psyhce bsia tdiur bresama mpmii-mpmii Psyhce tnntaeg Tsugaru. Phycse bsia berbrcaia dan mengatkan peaasran Pcyshe pdaa Tsugaru tnpaa menaigns-

Psyche menyeka airmatanya sebelum menetes ke halaman itu. Tentu saja dia berbohong, 3 dari 4 halaman jurnalnya dia tulisi sambil menangis. Tapi suatu hari nanti, dia percaya Tsugaru akan membacanya, dan airmata yang jatuh akan membuat tulisannya kabur dan Tsugaru akan sulit membacanya.

Tapi hari ini lain; tangisannya seakan tidak mau berhenti dan Psyche benar-benar khawatir airmatanya akan membasahi halaman jurnalnya. Maka buru-buru ditulisnya kalimat terakhir sebelum menutup buku itu.

-Kpkanaah akan Tsugaru izaiknn Psyche meilaht seymunmu lagi?

Setelah itu dia mendekap buku itu erat-erat dan jatuh tertidur dengan jurnal itu dalam pelukan eratnya. Bermimpi tentang dikejar asap rokok yang menjerat kaki dan lehernya, dan cakar-cakar bermanikur dengan cat merah mengilap. Berlari ke ujung terowongan gelap, hanya untuk mendapati dirinya berdiri di bibir jurang tanpa dasar. Psyche berusaha untuk tidak jatuh, tapi ada sepasang tangan yang mendorongnya. Ketika badannya terhempas dalam kengerian itu, dia bisa melihat Tsugaru di atas, tersenyum padanya. Melambaikan tangan, lalu berbalik pergi.


Psyche terbangun karena kesesakan yang mencekiknya. Kemudian menangis lagi, sampai tertidur. Sesering dia menangis ketika menulisi jurnalnya, mimpi-mimpi seperti ini juga sering menyiksanya. Sampai pagi.


"..lic?"

"Delic?"

Tsugaru mengerjapkan mata dan menoleh ke arah datangnya suara, menghentikan lamunannya. Bukan hanya karena 'nama panggung'nya yang kadang masih terasa asing, tapi juga karena pikiran-pikiran yang berkabut di kepalanya.

"Ya?" nyaris secara otomatis, senyumnya kembali terkembang ketika wanita itu menghampirinya dan mendudukkan diri di sebelahnya. Dia memperhatikan wanita itu mengeluarkan sebuah kotak yang dibungkus mewah dari tas tangan mahalnya.

Wanita itu meletakkan kotak itu di pangkuan 'Delic' sambil tersenyum. "Bukalah. Itu untukmu, hadiah spesial dariku." Ujarnya dengan suara manis.

'Delic' balas tersenyum. "Terimakasih." Katanya, sambil mengurai pita perak yang membungkus kotak itu. Didalamnya adalah sebuah headphone dengan desain modern yang elegan, dan setelah Tsugaru dengan hati-hati mengangkat dan memeriksanya, kartu kecil yang ada di kotaknya menegaskan bahwa memang headphone itu hasil karya seorang desainer ternama. Duh.

Dia tersenyum, menimang headphone itu. Bagus sekali. Ringan. Warnanya pun dia suka, platina dengan biru lembut di beberapa bagiannya.

"Aku tahu kau menyukai musik." Jelas wanita itu, memperhatikan 'Delic' menimang hadiah darinya. Dia tampak senang, syukurlah. "Jadi kubelikan kau itu, tenang saja, bukan barang mahal. "

Dusta, batin Tsugaru. Aku pernah melihat benda ini di katalog. Tapi pekerjaan ini memang menuntutnya untuk munafik, maka tidak sulit bagi Tsugaru untuk tetap berpura-pura manis dan merangkul wanita itu, mengecup rambutnya. Bau parfumnya menyesakkan, begitu pula raut wajahnya ketika mereka bertatapan. Menyedihkan. Sebegitu kesepiannyakah tante ini? Dia tertawa masam dalam hati.

Kesepian.

Konyol, satu kata itu bergema di kepalanya. Itu kata yang dia kenal baik, dulu, dulu sekali, sebelum Psyche datang ke rumahnya. Dia menggelengkan kepala dan mengingatkan dirinya bahwa sekarang dia punya teman-teman dan wanita-wanita di klub ini. Dia tidak kesepian. Tidak. Tidak masalah walaupun tidak ada Psyche.

Dia mengempaskan semua pikiran itu dan membiarkan dirinya dituntun wanita itu keluar klub, entah kemana.

Tsugaru butuh pengalih pikiran. Apa saja.


Tentu saja, Tsugaru membatasi dirinya. Dia tidak cukup bodoh untuk mengobral harga dirinya demi pendamping malam, tidak seperti tante ini, yang sekarang tertidur pulas di ranjang. Pose tidurnya tidak begitu indah.

Dia melirik headphone yang dia tinggalkan di meja. Benda mahal itu tidak bisa dia terima. Walaupun begitu, dalam catatan yang dia tinggalkan, dia berterimakasih dengan baik dan berkata bahwa dia menghargai kenyataan bahwa wanita itu repot-repot mencari tahu tentang kesukaannya.

Musik, ya…

Psyche juga suka musik—

Ah, sudahlah.

Pelan-pelan, dia menutup pintu kamar hotel itu, lalu beranjak pulang.


Halo ^^ maaf atas keterlambatan updatenya. Saya mengalami masalah dengan sambungan internet di rumah, jadi agak susah untuk mengupdate fic ini…

Bukannya saya mau ngeles, tapi saya mohon maaf kalau ada kesalahan ketik/ ketidaknyamanan membaca karena saya mempublish chapter ini dan chapter selanjutnya lewat HP ^^;; maaf ya…

Nah! Tenang saja, cerita ini masih akan berlanjut…~ silakan follow story supaya up to date P; Terimakasih atas review-reviewnya dan dukungannya dalam segala bentuk, have a nice day…~