Disclaimer : Ide ini muncul murni dari otak cabul saya saat saya lagi jalan ke warung sambil menenteng dua buah susu coklat merek Indomilk seharga Rp. 2500,00.- dan sebuah susu coklat merk Ultramilk dengan harga yang berselisih Rp. 500,00.-, yaitu Rp. 3000,00.- ditambah Tango satu pack seharga Rp. 7500,00.- plus Cheetos dan Jetset seharga Rp. 1000,00.- per buah sehingga bila dihitung menjadi Rp. 2000,00.-, lalu, berapakah jumlah total belanjaan yang dibawa oleh saya?

Warning : OOC, AU, Shonen-Ai, hampir saja fic ini berisi dengan M content Yaoi, karena imajinasi saya yang terlalu ketinggian.

Cast : Faine hanya milik *allenerie yang sampe mampus pun saya ga bakalan dikasih buat ngejadiin dia sebagai milik Neo, Tae Yon juga cuma punya ~beastofdesire yang sampe saya matipun ga bisa diraep-raep seenaknya sama Neo, Rena yang notabene jadi tempat penampungan curhatan Neo dan Faine dimiliki oleh ~shirosagi-yukihiko, dan Neo lahir dari otak cabul nan pedo milik saya yang berharap ada bocah imut yang umurnya 17 tahun tapi fully seme dan ganteng.

.

.

.

.

.

Cherry Blossom pt. 4

.

.

.

.

.

21 Januari. Udara dingin tak lagi begitu terasa menusuk kulit. Menyambut tugas-tugasnya sebagai manager klub sepak bola, Faine yang sedari tadi bolak-balik mengangkat jemuran memutuskan untuk beristirahat sejenak menerima terpaan angin sejuk yang menghapus peluh diwajahnya.

Sudah kira- kira satu minggu ia menjalani kehidupan di SMA barunya. Selama seminggu itu juga, kira-kira ia sudah berhasil untuk bersosialisasi pada lingkungan yang masih asing baginya.

Seperti saran Rena, dengan menambah sedikit keberanian, Faine akhirnya berhasil bangkit dari keterpurukan dan bersiap menyongsong masa muda gemilang yang menjadi angan-angan setiap remaja.

Walaupun bisa saja suatu saat mimpi indahnya ternyata berubah menjadi mimpi buruk…

Ah, tidak-tidak…

Menampik pikiran jelek yang sekilas datang dari kepalanya, Faine berkutat lagi pada cucian yang harus dijemur.

.

.

.

.

.

Satu minggu.

Ya. Satu minggu…

Sudah satu minggu juga perang dingin diantara Tae Yon dan Neo berlangsung. Setelah mengibarkan bendera peperangan, Tae Yon tentunya tidak akan tinggal diam untuk merebut trophy berisi hadiah utama.

Bukan. Bukan Miyabi berkimono yang dihias dengan pita.

Tapi yang pasti lebih baik dari itu.

Melancarkan serangan ke arah gawang, striker kita yang satu ini dengan gencar melakukan PDKT pada Faine secara frontal dan terang-terangan. Tentunya agar sang penjaga gawang semakin panik dan dengan mudah dapat kebobolan.

Menanggapi tantangan yang diajukan oleh Tae Yon, Neo tentunya tak bisa tinggal diam begitu saja. Bukan saatnya dia diam sambil berleha-leha menyedot susu cokelat panas diatas sofa.

Bak kiper unggulan, Neo tetap bertahan melindungi gawang yang dijaganya agar tidak kebobolan dari serangan striker yang juga kapten klub sepak bola. Faine dikawal ketat 24 jam agar Tae Yon tak bisa dengan bebas menyerang Faine saat dia lengah.

Pertandingan mereka bahkan lebih seru daripada Viva World Cup 2010 tentunya.

Faine lagi… Faine lagi…

Cowok lugu yang bahkan nggak mampu nyakitin semut ini ternyata mampu menggaet hati dua cowok yang baru saja ditemuinya.

Kalau bertanya tentang keistimewaan Faine, menurut si cebol berambut putih sih, yang membuatnya luluh yaa… Tampang melasnya itu.

Dengan tatapan kosong dan mata merah seakan mau nangis, puppy eyes no jutsu keluaran terbaru juga kalah. Masalahnya nangisnya Faine itu beda banget kalau dibandingin sama tangis air mata buaya atau ratapan anak tirinya Marshanda.

Pokoknya, siapapun yang liat dia pasti langsung nurut dan sayang banget deh…

Lain Neo, lain Tae Yon.

Cowok yang punya senyuman sejuta dollar ini takluk pada wajah ceria nan moe milik Faine. Apalagi kalau ditambah senyum Angelicnya itu. Uhh, dia seakan nggak berkutik karena dipaksa menenggak morfin dalam jumlah besar.

Tae Yon langsung lepas kendali dan bisa saja menerkam Faine lebih jauh karena over dosis.

Intinya, dua cowok ini sekarang bersaing demi cowok lugu juga cupu, tapi memiliki inner beauty yang sangat mematikan.

.

.

.

.

.

"Hatchiih…" Si 'cowok cupu' baru aja bersin karena terlalu lama diomongin. Merasa bahwa terlalu lama berada di luar dan menerima terpaan angin dapat membuatnya sakit, ia memutuskan untuk masuk kembali ke ruang klub. Menenteng sisa jemuran di keranjang dan membuka pintu ruang klub, ternyata yang menyambutnya adalah lemparan selimut raksasa yang menuju tepat kearahnya.

"Pakai tuh, jangan sampai masuk angin…"

Dari gelagat yang kasar, Faine sudah menduga kalau yang melemparinya dengan selimut adalah Neo.

"Neo-san, kenapa bisa ada disini?"

Tentu saja karena khawatir padamu, bodoh.

"Nggak, cuma mau ngambil barang yang ketinggalan."

Yang ini lagi, sok cool. Padahal dalam hatinya udah panik nggak karuan kalau-kalau Tae Yon dan Faine berduaan lagi di ruang klub. Karena nggak ingin kebobolan dan mengulangi lagi kesalahan yang sama, setidaknya Neo mesti nunjukkin perhatian ekstra pada calon pacarnya yang satu itu.

Heh. Calon pacar…

Neo masih merasa miris kalau mengingat pernyataan cintanya masih dianggap angin lalu dan nggak diseriusin sama Faine.

Inget sama rencana awalnya yang kepengen banget bikin Shuu cemburu, Neo mutusin untuk PDKT lebih lanjut sekalian ngejagain Faine dari raepan pria mesum.

Gimanapun juga, masih ada rasa sayang seorang teman yang nggak rela ngebiarin temannya jatuh kedalam lubang kenistaan.

"Membiarkan Faine dan Tae Yon berduaan is a big no-no…" pikirnya. Padahal kan' dia jahat juga kalau punya niat pacaran, tapi cuma pengen bikin orang lain cemburu. Paling nggak, pikirin sedikit perasaan orang yang dipacarin, dasar cowok nggak sensitif.

Baru aja dipikirin, pangeran pujaan hati Faine dateng. Siapa lagi kalau bukan musuh terbesarnya Neo, Tae Yon.

Melototin Neo sekilas, Tae Yon langsung memajang senyuman sejuta dollarnya pada Faine. "Aa… Arigatou ne, sudah repot-repot mengurus perlengkapan kami."

"Sudah tugas saya sebagai manager, Tae Yon-san…"

Senyum-senyum nggak jelas, Faine malah bikin aura disekitarnya makin panas. Yang bikin Neo makin kesulut lagi, tentunya gelagat Faine yang nunjukkin kalau dia juga suka sama Tae Yon.

Apa? Bertepuk sebelah tangan nggak pernah ada di kamus si cebol satu ini. Gimanapun juga, dia bakalan ngotot berusaha sampai nggak jadi bertepuk sebelah tangan.

Kalau sudah terjerumus, ya nyebur aja sekalian.

Tenggelam kalau perlu.

Seakan lupa kalau di ruangan itu masih ada si kuntet yang melotot dengan aura membunuh, Tae Yon memeluk Faine sebagai ucapan terima kasih dan mencium pipinya yang sedang bersemu merah.

Replay, Replay, Forward, Slow Motion.

~!#$%^&*!

Neo yang udah nggak tahan lagi, langsung narik Faine pergi untuk kembali ke asrama.

Makanya jangan kebanyakan bengong biar nggak kebobolan.

.

.

.

.

.

"Ne-Neo-san, tanganku sakit…"

Masih diseret-seret kembali ke asrama, Faine meringis karena Neo menariknya dengan sekuat tenaga. Ngerasa kali ini dicuekin gitu aja, Faine makin ngerasa bersalah walau dia masih nggak tau letak kesalahannya dimana.

Dipanggil nggak noleh, minta maaf nggak ditanggepin, diajak ngomong juga cuma diem aja.

Sepanjang perjalanan Faine cuma bisa mikir macem-macem kesalahan yang mungkin tanpa sengaja udah dia lakuin sama Neo.

Pokoknya minta maaf dan tanyain dulu…

Tanpa komando apapun, Neo yang sedari tadi hanya marah tanpa kata, akhirnya berhenti dan berbalik menghadap Faine.

Takut-takut membayangkan muka Neo, Faine mulai mengimajinasikan suster ngesot, sadako, pocong bermata satu, kappa, jelangkung dan genderuwo yang bisa aja sama seremnya kayak mukanya Neo yang lagi marah.

Tiba-tiba Neo berbalik dengan muka ala Spongebob yang lagi senyum-senyum gaje. Ngebingungin...

"Etoo… Neo-san, nggak marah?"

"Hm? Ya? Marah kenapa?"

"Marah yaa?"

"Nggak kok…"

"Marah—"

"NGGAK!"

Makin takut karena dibentak dengan muka senyum-senyum yang ternyata lebih nyeremin daripada genderuwo, Faine lebih milih diem dan mulai menatap dengan pandangan melodrama.

Wajahmu mengalihkan duniaku…

Berasa ada sound effect biola menyayat-nyayat, Neo mulai merasa bersalah.

"Fa-Faine, maaf… Aduh, bukan maksud gue ngebentak lo begini…"

Sayang seribu sayang, muka Neo yang ngebentak tadi bener-bener bikin Faine desperate dan makin ngerasa bersalah. Oh, well… Makanya jadikan ini sebagai pelajaran biar lain kali nggak diulangi lagi.

Udah kalang kabut dan nggak ngerti mesti bagaimana, akhirnya Neo nurutin instingnya. Tarik Faine, lalu cium.

Kiss on The Forehead.

Mata Faine membulat sempurna karena bener-bener terkejut. Menunduk untuk menutupi mukanya yang memerah, Neo minta maaf.

Faine yang nggak lagi lemot dan ngerti situasi, akhirnya mengangguk pelan. Dia udah lupa tadi ditarik gara-gara urusan apa, karena untuk sekejap, Neo berhasil mencuri semua perhatiannya.

"Neo-kun…"

What the?

Menyadari bahwa ada seseorang yang tengah melihat dirinya dari jauh, Neo bangkit, dan untuk sesaat… Freeze.

Dengan rambut biru gelap yang tertiup angin, Shuu sedang berdiri tepat dibelakangnya. Dengan mata biru pucatnya yang mengecil karena shock dan tekejut, kedua tangannya yang memegang paper work itupun melemah.

Setelah paper work jatuh, yang ada hanyalah hening sejenak.

"Shuu… Shuu nee-sama!"

Eh?

Dan Faine bingung lagi…

.

.

.

.

.

(A/N : LOLLLLLL IDKWHAT'SWRITTENINTHISFICCCC

Lagi-lagi pendek. Maaf… QAQ

Balesan review—halah

Shiro-Yuki—demen banget nyingkat nama orang.

Iya, itu… masih bingung supaya bikin fic yang greget gimana…

MoCy—still nyingkat nama.

Aduh, kudoakan semoga kau cepat sembuh nak…-eh? Udah sembuh malah ya? 8D)

Gomenne readers,

nikmati sajalah kebodohan saya yang nggak bisa ngetik cerita dengan baik… QAQ /digampar rame-rame/