Sudah sebulan Gilbert menumpang tinggal dengan Kirana. Entah mengapa ia nyaman tinggal bersamanya. Apalagi ketika ia tahu bahwa Kirana tidak tahu siapa dirinya secara jelas. Lebih tepatnya lelah mencari tahu. Awalnya gadis itu memang sangat ingin tahu mengenai didirinya. Banyak pertanyaan yang dicecar kirana untuk Gilbert. Siapa dia, dimana asalnya, mengapa bisa tergeletak di tumpukan Salju. Gilbert hanya menjawab seadanya. Tanpa kebohongan. Hanya saja ada yang ditutupi.
Ia menyatakan ia kabur dari rumah. Ia tinggal di Berlin. Entah apa ada yang dipikirannya, ia memilih kabur ke Munich, ke tempat kenalannya. Sialnya alamatnya berpindah. Gilbert yang kelelahan kemudian pingsan di tengah Jalan. Ia berkata pada Kirana Alasannya melarikan diri dari rumah adalah Karena perbedaan pendapat dengan keluarganya mengenai jalan hidup yang hendak ia pilih. Kirana memaklumi hal yersebut, karena ia juga melakukan hal yang sama.
Hetalia Axis Powers © Himaruya Hidekazu
Fate © Collina
.
.
Warning: OOC, OC Typo, Crack Pair PrussiaxFem!INA straight, Drama Picisan walau nggak separah Utaran, Rating Masih Galau, dll
.
Don't Like? Don't Read!
Berkomentarlah dengan bahasa yang beradab selayaknya manusia. Saran mengenai Gaya Penulisan dibutuhkan.
Sebulan tanpa berbuat apa apa rasanya menjenuhkan bagi Gilbert. Ia banyak menghabiskan waktu dengan mengantarkan Kirana ke kampus sekaligus mengajaknya berjalan jalan. Sebuah kemajuan, kirana Sudah mulai hafal jalan. Setidaknya dari Kampusnya menuju kediamannya. Ia juga berhasil menghafalkan jalan menuju asian grocery, tempat belanja favoritnya yang banyak menjual bumbu yang mendukung selera masakannya. Meskipun jika ia ingin pergi dari rumah ke Asian grocery ia harus transit ke kampusnya sehingga membuat Gilbert geregetan.
Sadar diri telah merepotkan tuan rumah, Gilbert mulai merasa tau diri. Ia memang nyaman tinggal bersama Kirana. Begitu pula dengan Kirana. Karena sejak gilbert berada di sana, dirinya tidak perlu lagi pusing mengenai keran bocor, rembesan hujan, karena Gilbert ada untuk mengatasinya. Memang tidak serapih tukang ledeng, setidaknya Kirana tidak perlu membayar. Uang yang dibawa Gilbert semakin menipis. Baju dan aksesori wanita yang dibelinya ternyata memakan budget yang cukup besar. Oleh sebab itu, ia mulai bekerja di cafe yang dekat dengan kampus Kirana. Tentu saja sebagai Gabriella. Alasannya, selain bisa satu arah dengan Kirana, tempat itu menyediakan tempat musik. Gilbert sangat suka musik. Begitu pula dengan Kirana. Khawatir terhadap Gilbert, Kirana mengambil kerja sambilan di tempat yang sama. Tentu saja di hari dimana kuliah Kirana sedang kosong.
Hari itu hari rabu, Kirana yang sedang kosong berada di Kafe bersama Gilbert yang sudah menjelma menjadi Gabriella. Tiba tiba pintu kafe terbuka. beberapa orang wanita yang dikenal kirana mulai masuk. Mereka teman sekelas Kirana sekaligus pelanggan di kafe tempatnya bekerja sambilan.
"Hai Amelia, Natalya, Alice . Selamat datang," sapa Kirana.
"Hai Kir," perempuan berambut Ikal itu mengambil posisi duduk tepat di kursi bar dekat kirana berdiri, diikuti teman temannya yang lain.
" Pesan seperti biasa," tambahnya. Kirana mengerti. Ia segera membuatkan minuman yang biasa dipesan oleh empat sekawan itu. Eh. Empat.. Seharusnya begitu. Kirana sadar ada yang kurang
"Ngomong ngomong dimana Bella? Tumben dia tidak ikut?," tanya Kirana. Gadis bersurai ikal itu menghembuskan nafasnya panjang.
"Bella saat ini sedang ke Belgia. Neneknya sakit," jawab gadis bersurai panjang berwarna pirang platina dengan santai. Kirana tersenyum dan memgerti.
"Dia mungkin ke sana dalam waktu lama. Makanya amelia uring uringan," ujar gadis dengan pony tail. Kirana mengangguk paham.
"Bagaimana tidak uring uringan. Tiga bulan lagi kita pentas, dan Bella malah pulang. Kita tidak punya gitaris," ujar amelia lemas sembari membaringkan kepalanya ke meja bar.
"Kami butuh Gitaris perempuan. Setidaknya sampai Bella kembali," tambah amelia.
Hmm..gitaris perempuan.
Kirana bergumam dalam hati. Gilbert memang bisa bermain Gitar. Terutama Gitar elektrik. Tetapi ia bukan perempuan. Ah..tetapi saat ini dia bukan Gilbert. Dia Gabriella. Hmm..mungkin saja bisa dicoba.
"Sepertinya aku punya kenalan gitaris perempuan," ujar Kirana. Amelia mengangkat kepalanya.
"Serius Kir? Bisa kau kenalkan padaku," kirana mengangguk.
"Tentu saja,"
Amelia tiba tiba berubah lebih bersemangat.
"Oh ya...kau bisa kenalkan dengan kami. Kapan? Besok? Lusa? Minggu depan,"
"Hahaha, tidak Amelia. Ia berada di sini sekarang," mata Amelia, natalia dan Alice berbinar.
"Tunggu sebentar. Aku panggilkan dia," kirana Masuk ke belakang Bar, menuju Gilbert yang sedang sibuk dengan menu yang dibuatnya.
"Gil..Gil..eh..masih sibuk ya..ada yang ingin bertemu denganmu. Temanku," bisik Kirana.
"Sebentar lagi selesai. Ada siapa?," tanya Gilbert
"Temanku butuh bantuanmu," tiga wanita yang di depan. Ujar Kirana sembari menunjuk ketiga perempuan itu dengan jempolnya.
"Butuh apa? Belaian orang tampan yang awesome? Kesese," balas Gilbert
"Mereka minta bantuan Gabriella. Dan jika kau membelai mereka kau akan terlihat seperti lesbi dasar bodoh," balas Kirana. Gilbert terkekeh.
"Sudah temui saja mereka. Kau pasti akan suka," sahut Kirana. Gilbert mengiyakan ajakan Kirana dan bertemu dengan ketiga gadis itu sembari membawa pesanan mereka.
"Ini minumanmu Amelia, Nat, dan Alice. Dan Ini orang yang aku maksud. Namanya Gi..eh..Gabriella. Ia sangat pandai memainkan gitar. Terutama gitar elektrik," ujar Kirana. Gilbert memperkenalkan dirinya dengan suara yang dibuat setinggi mungkin.
"Kau termasuk tinggi untuk seorang perempuan. Hm...jadi kau benar benar bisa bermain gitar?" ujar Natalya
"Sejak kapan kau bisa bermain gitar?" tambah Alice
"Aku mulai tertarik sejak kecil sih..," balas Gilbert.
"Bagus juga," ujar Alice
"Kau mau menggantikan Gitaris kami untuk tampil tiga bulan kedepan?," pinta Amelia.
"Boleh saja...untuk sementara," balas Gilbert
"Bagus, sekarang bisa kau tunjukkan pada kami levelmu seperti apa?" tanya Amelia
"Caranya?" Gilbert kembali bertanya. Sedangkan Amelia menunjuk pada panggung yang sedang kosong.
"Kita Jamming sekarang," ujar Natalya. Gilbert menerima tawaran ketiga gadis tersebut. Alunan drum mulai dilantunkan oleh Alice. Gilbert dengan mudah mengikutinya. Ini diperkuat oleh petikan bass yang Natalya. Dan disempurnakan oleh vokal Amelia yang memiliki vokal nan khas.
Sebuah lagu dilantunkan. Kirana terpukau oleh permainan ketiga gadis dan satu gadis jejadian tersebut. Demikian pula dengan penonton yang berkunjung di sana. Mereka Bertepuk tangan untuk pertunjukkan yang memukau.
"Bagus Gab. Kau diluar dugaanku. Mulai besok kita berlatih. Tentunya setelah kau selesai bekerja. Kau tidak keberatan kan," tanya Amelia
"Tentu saja. Tapi Kirana boleh ikut? Aku khawatir dengannya," tanya Gilbert.
"Ah..khawatir ia tidak bisa pulang? Tentu saja. Dia nampaknya betul betul merepotkanmu ya," Amelia terkekeh.
"Dia memang tidak awesome. Tapi aku merasa tidak direpotkan. Kesesese," ujar Gilbert menoel pipi Kirana disusul tawa ketiga gadis tersebut.
LLLLL
Seminggu kemudian Gilbert Mulai sibuk. Ia berlatih bersama Amelia CS. Biasanya Kirana ikut dengannya. Namun tidak untuk kali ini. ia memilih tinggal di kampus untuk mengerjakan tugas bersama teman temannya, termasuk Ludwig. Gilbert berjanji akan menjemputnya ketika ia sudah selesai. Ia menghindar bertatap muka dengan adiknya, walaupun saat ini ludwig pasti tidak mengenali dirinya.
Tiga jam latihan cukup melelahkan bagi Gilbert. Namun ia senang dan puas. Semenjak Kuliah dia belum pernah merasakan kepuasan seperti hari ini. Dahulu ia sering bermain dengan Francais dan Antonio, teman kuliahnya. Setelah lulus,mereka hampir tidak pernah bersua. Francais kembali ke paris sedangkan Antonio berada di Spanyol. Meski demikian mereka masih bertukar khabar lewat email.
Gilbert berjalan menuju kampus Kirana. Membawa alat musik kesayangannya di punggungnya. Tidak jauh, hanya memakan waktu 10 menit hingga ia tiba. Gilbert mulai masuk menuju gazebo. Dari kejauhan ia menemukan kirana. Bersama Ludwig. Niat Gilbert menjemput kirana diurungkannya. Ia menunggu dari kejauhan sembari memandanginya.
Ada sesuatu yang menarik bagi Gilbert, yang ada dalam diri Kirana. Senyumnya? Mungkin bukan itu. Semua gadis tersenyum setiap kali melihat gilbert. Apalagi ketika ia tebar pesona. Gilbert memandangi wajah kirana lagi mencari tahu sisi menarik dari gadis Asal Indonesia itu. Secara keseluruhan terlihat biasa saja. Bahkan orang eropa mungkin lebih cantik dibandingkan dia. Jauh. Namun tetap saja ada hal yang memesona. gilbert memang ekspresif. Namun Kirana lebih dari itu. Wajah Kirana berubah ubah saat berdiakusi dengan Ludwig. Kadang bertekuk. Kadang melongok, kadang tersenyum, hingga tertawa. Lalu serius, tertawa lagi. Ia punya banyak ekspresi. Tidak seperti ludwing yang cenderung kaku, kirana sangat cair..ekspresinya begitu tulus. Bahkan menurut Gilbert, adiknya jauh lebih santai dibanding yang ia kenal saat berada bersama Kirana.
Beberapa jam kemudian Kirana sudah selesai menyaksikan tugasnya. Ludwig menawarkan diri untuk mengantar Kirana pulang. Secara halus ditolak oleh Kirana. Ia mengatakan temannya akan menjemput. Namun bagi Ludwig agak berbahaya jika perempuan berada sendirian di kampus. Ia bersikeras menemani Kirana. Gilbert yang dari tadi menguping dan mengamati mereka akhirnya muncul di hadapan kirana. Tentunya sembari berdoa, agar identitasnya tidak ketahuan.
"Hai Kirana, lama menunggu?," Ujar Gilbert yang baru saja datang. kirana dan Ludwig menoleh.
"gi..abriella,,tidak..kami baru saja selesai," kirana hampir terpeleset. Sedangkan Gilbert tersenyum sembari setengah melotot. Ludwig memandangi wajah Gabriella.
"Ah..Lud..ini teman satu atapku. Kami tinggal bersama. Kenalkan Gabriella," ujar Kirana. Ludwig mengulurkan tangannya ke arah Gabriella.
"Ludwig. Cukup Ludwig," ujarnya.
"Gabriella," ujar Gilbert. Ludwig memandangi wajah Gabriella dengan seksama sehingga Gilbert mulai merasa risih.
"Ada yang aneh di wajahku bung?," tanya Gilbert.
"Kau mengingatkanku pada seseorang," jawab Ludwig.
"Siapa? Pacarmu?,"
"Bukan kakakku,"
DEG
Jantung Gilbert berdetak tak beriarama
"Kakakmu pasti sangat cantik," Gilbert berusaha menutupi detak jantungnya.
"Tidak, kakakku laki laki. Caramu memuji diri sendiri juga mirip dengannya,"
DEG
Kedua kalinya. Yakali langsung ketauan sama adek sendiri. Batin Gilbert.
"Tapi ia memiliki mata dan rambut yang berbeda denganmu. Ia juga lebih putih darimu. Mungkin aku hanya merindukannya," ujar Ludwig.
Oh em Ji..demi apa Ludwig merindukannya. Jika ia tidak sedang menjadi Gabriella, pasti Gilbert langsung memeluk adiknya. Kapan lagi ia bisa melihat Ludwig bersikap semanis ini di depannya. Mungkin terakhir saat usia Ludwig 8 tahun.
"Kau pasti sangat menyayangi kakakmu," balas Gilbert. Ludwig hanya menunduk malu. Gilbert menepuk Pundak Ludwig.
"Tenanglah, ia pasti merasakan hal yang sama. Ia pasti kembali menemuimu," ujar Gilbert. Ludwig mengerutkan alisnya.
"Aku tidak bilang padamu kakakku sesang pergi," sahut Ludwig
DEG
Mampus mampus..keceplosan...
Gilbert membatin dalam hati.
"Err...aku tahu dari kirana. Ya kan kirana..ini temanmu yang kau ceritakan kalau kakaknya menghilang," Gilbert merangkul Kirana sambil mengeluarkan isyarat wajah yang aneh. Kiranya yang lupa lupa ingat hanya menagguk.
"Oh..jadi itu. Ya sudah..aku kembali dulu," ujar Ludwig
"Terimakasih menemani Kirana," balas Gilbert. Ludwig meninggalkan mereka berdua.
"Gil..aku pernah cerita ke kamu. Tentang kakaknya Ludwig?," tanya kirana
"Kau tidak ingat," Gilbert berusaha ngeles. Kirana memggeleng.
"Perpustakaan," untungnya Gilbert lebih cepat ingat dengan Kirana.
"Ah..aku paham," jawab kirana dengan polosnya. Gilbert bersyukur. Hari ini dia aman. Setidaknya sampai saat ini dia belum siap membuat pengakuan pada Kirana.
Cukup lama mereka berjalan bersama hingga Gilbert membuka sebuah topik pembicaraan.
"Bagaimana tugasmu hari ini?," tanya Gilbert
"Sudah selesai..aku tidak ada tanggungan lagi sehingga aku lega. Dan bagaimana latihanmu,"
"Lebih baik. Ngomong ngomong kau lelah?" kirana mengangguk.
"Akan aku traktir makan malam. Mau? Lagipula kau hari ini tidak sempat masak kan?" tanya Gilbert.
"Dengan senang hati," jawab Kirana.
Mereka meberjalan bersama. Memasuki sebuah kafe italia. Mereka memesan pasta dan sosis. Sedangkan kirana, memesan rizoto. Karena ia lebih nyaman makan nasi. Mereka melahap makanan satu sama lain sambil mengobrol tentang aktivitas mereka sehari hari. nyanyian seriosa menambah indah suasana restoran malam itu. Hingga setelah mereka puas mengisi perut, mereka kembali menuju kediaman Kirana.
Kirana mandi terlebih dahulu, setelahnya Gilbert melakukan hal yang sama dengan Kirana. Kirana duduk di ruang tengah sembari melihat televisi. Setelah membersihkan diri Gilbert menyusul kirana.
"Kau melihat sinetron kesukaanmu? Apa? Drama korea?" ujar Gilbert
"Bukan, aku hanya melihat berita saja. Akhir akhir ini banyak sekali pergolakan. Di tempatku juga demikian. Apalagi mata uang negaraku denga USD. Meskipun masih aman," ujar Kirana.
"Dunia memang berubah kir..orang berpindah menghasilkan upaya memperoleh kesetimbangan baru..," komentar Gilbert. Kirana hanya mengangguk.
Cukup lama mereka terdiam sembari melihat televisi. hingga Gilbert kembali bersuara.
"Ngomong ngomong tentang perpindahan, aku bersyukur bisa bertemu dengamu, Kirana," ujar Gilbert. Ia memandang ke arah kirana yang ternyata sudah tertidur menyendar pada lengan Gilbert yang berada lurus di sandaran kursi. Wajahnya tampak lelah hingga Gilbert tak tega membangunkannya. Gilbert memilih untuk menunggu Kirana terbangun. Aroma sabun dari keduanya tercium. Aroma yang sama satu sama lain sangat nyaman dan hangat. Gilbert menunggu kirana yang sudah tertidur hingga terbangun. Namun tampaknya itu hanya mitos. Karena tak lama kemudian Gilbert ikut tertidur bersama kirana. Kepalanya menyender pada kepala Kirana yang tertidur pulas. Meninggalkan televisi yang menyala sendirian.
Di tengah racauan televisi tanpa penonton, sebuah berita muncul. Dengan wajah Gilbert yang tengah mengwnakan pakaian resmi.
Lama menghilang, Putra Mahkota Beilschmidt masih belum kembali
Tulis berita itu sembari diiringi celotehan sang news anchor.
OOOO
Tiga bulan tanpa terasa segera berlalu. Musim dingin mulai menampakkan tanda kemunculannya. Salju, hal yang paling Kirana nantikan. Ia membayangkan dirinya bisa melompat dan bermain salju dengan menantikan salju datang, seolah merindukan kekasih yang pama tidak bertemu. Berseluncur dan bersenang senang. Bukannya ia tidak pernah melihat salju. Beberapa kali ia dan keluarganya mengunjungi negara subtropis di musim dingin. Jepang Taiwan, Swiss, bahkan Belanda. Namun kenangan bersama salju belum dirasa cukup. Ayah kirana tidak membenarkan dirinya bermain di tumpukan salju seperti kakaknya, Doni. Ia hanya diperbolehkan membuat boneka salju. Itupun hanya sebentar. Ia banyak menghabiskan waktu di depan perapian hangat, atas perintah ayahnya.
Kuliahnya sedang libur, digantikan dengan tugas rumah yang menumpuk. Namun Kirana tidak ambil pusing dengan hal tersebut. Fokusnya hanya kepada salju yang turun satu persatu, menjadi sebuah tumpukan. Ia ingin melompat di atasnya, Membayangkan dirinya adalah seekor kupu kupu, membuat salju, mungkin bermain perang salju. Sebuah kebebasan yang ingin dirasakannya.
Sembari melihat butiran putih yang perlahan mulai turun, ia menyeruput coklat panas yang telah dibuatnya. Pikirannya kembali mengenang masa lalu. Dimana ia dididik agar menjadi seorang perempuan yang menerima nasib. Diam diam bermain dengan anak anak kampung dan diam diam membantu mereka mengangkat sak beras yang baru saja di panen. Berlomba siapa yang paling Kuat. Dan saat itu Kirana mampu memgangkat hingga 3 sak. Walaupun saat ketahuan ia habis di hajar oleh sang ayah. Lalu Bagaimana ia secara secara diam diam berlatih beladiri hingga sabuk hitam tanpa sepengetahuan orang tuanya. Hingga terakhir, ia bersikeras kuliah di Jerman dengan kemampuan sendiri. Ia tidak ingin kuliah hanya karena formalitas. Ia ingin mandiri. Ia tidak ingin kebebasannya direnggut hanya karena terikat tali pernikahan. Kirana menyadari secara utuh bahwa hidupnya memanh diisi oleh sifat memberontak. Ia akan lulus, bisa berdiri dengan kaki sendiri, meskipun kedua orangtuanya bahkan tidak akan bangga.
Sembari menatap jendela yang semakin dipenuhi tumpukan salju, ia mulai berkhayal tentang masa depannya. Mungkin ia akan bekerja di perusahaan multinasional. Membangun karir hingga direksi. Setelah mapan, menjadi salah satu diaspora yang dibanggakan. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri membayangkan masa depannya.
Di tengah lamunannya, ia tiba tiba teringat dirinya beberapa pekan lalu. Ia terbangun dan mendapati dirinya tidur dipelukan Gilbert dengan televisi yang masih menyala. Ia memeluk tubuh gilbert dengan posisi duduk di Sofa. Hal yang sama di lakukan Gilbert. kirana yang terkejut memekik dan mendorong tubuh Gilbert hingga yang punya tubuh bangun.
"Hoi,," sebuah suara datang mengagetkan Kirana. Sontak ia menatap ke belakang dan menjumpai sepasang manik ruby. Kiranya berdeham menanggapinya.
"Melamun saja dari tadi. Pasti memikirkan aku" Gilbert terkekeh.
"Iya, aku memikirkanmu. Memikirkan sampai kapan aku harus tinggal denganmu," balas kirana.
"Oh..jahat sekali. Jadi kau mengharapkanku segera pergi dari sisimu?," Gilbert pura pura sakit hati. Membuat kirana terkikik geli.
"Tidak mempan lagi padaku Gil, dasar kakek penggoda," balas Kirana sembari hendak memyeruput coklat panasnya, sebelum direbut oleh Gilbert dan meminumnya dengan paksa.
"Astaga Gil! Bikin sendiri!,"pekik Kirana. Sedangkan sang lawan bicara hanya terkekeh dengan tatapan yang menyebalkan. Kirana mendengus kepada Gilbert sebelum ia kembali menyeruput coklatnya. Gilbert masih memandangi Kirana dengan pandangan nakal dan menyebalkan.
"Apa?," tanya Kirana. Kembali menegak minumannya yang tinggal sedikit.
"Tidak hanya berpikir kalau kita sudah ciuman tidak langsung," Kirana tersedak mendengar ucapan Gilbert. Sedangkan Gilbert malah tertawa lepas. Menertawakan Kirana.
"Demi Tuhan! Jangan Ngomong aneh aneh!," pekik Kirana sembari memukuli Gilbert dengan ganasnya. Gilbert berusaha melindungi diri walau dirinya masih tertawa.
"Ampun..ampun habis kau lucu sih. Kesesese,"
"Nggak Lucu Gil!"
"Lucu tau, kau harus lihat wajahmu saat tersedak tadi. Hahaha," pipi Kirana memggembung.
"Sudahlah..jangan merajuk begitu. Sebagai gantinya, ayo keluar denganku..," Kirana masih merajuk. Ia hendak membalas kata kata Gilbert sebelum telefonnya berbunyi. Nomor tidak dikenal. Kirana tetap memgangkatnya.
"Halo,"
"Halo Kirana," ujar suara di seberang sana. Suara perempuan yang dikenal oleh Kirana.
"Kakak, apa itu kau? Ada apa memghubungiku?"
"Bukan sesuatu yang penting untukku sebenarnya. Tapi aku rasa kau pasti ingin tahu,"
"Tahu apa?"
"Doni, abangmu minggu depan akan berada di Jerman. Saat ini ia sedang di Berlin untuk urusan bisnis Mungkin beberapa hari kemudian ia berada di Munich. Dan tebak. ia tahu alamatmu dari Ibu. Dan dia diminta Ayah untuk menjemputmu," wajah Kirana pucat mendengar hal tersebut. Bagaimana bisa sang kakak lelaki tahu alamatnya. Ia berada di pihak ayah. Ia begitu ingin Membawa Kirana pulang. Mengikuti Jejak Laras.
"Bagaimana bisa...dia..ah..kak...saat ini kau ada di mana?"
"Aku baru saja pulang dari tempat ayah. saat ini aku sedang di Amsterdam,"
"Aku ke sana kak. Minggu depan aku berkunjung ke tempatmu,"
Kirana menutup telponnya. Air mukanya mulai gusar. Apa yang harus dilakukannya.
"Ada apa? Tiba tiba tertegun seperti itu?"
"Gil, kau punya paspor?" tanya Kirana
"Tentu saja, ada apa?"
"Kau mau ikut aku atau tinggal disini?"
"Kita kemana?"
"Belanda,"
"Untuk apa?"
"Akan bahaya kalau aku ada di sini. Jangan tanya ada apa. Nanti aku jelaskan"
"Kapan kita berangkat?"
"Minggu depan,"
"Tapi minggu depan kan..."
"Aku tidak memaksamu Gil. Gabriella harus ikut latihan untuk kompetisi band kan?" sahut Kirana.
"Tidak. Aku pergi. Setelah kami selesai," ujar Gilbert.
LLLL
Gilbert berdiri di panggung. Hari ini mereka tampil. Gilbert mengenakan pakaian kaos dengan cardigan berbahan latex, celana panjang dan boots. Ia membelinya bersama amelia CS untuk persiapan panggung. Tentu saja Kirana ikut dan memilihkan. Di saat seperti itulah Gilbert mengetahui betapa seram dan ribetnya wanita yang berbelanja. Ia berjanji siapapun pacar atau istrinya kelak, ia tidak akan mau menemaninya belanja.
Mereka tampil di nomor urut awal. kirana tidak berada bersama Gilbert. ia menunggu di bandara. Supaya lebih cepat. Ujar kirana. Gilbert hanya ikut rencana saja. Setelah selesai tampil, Gilbert pamit pada Amelia CS. Ia memang harus mengejar pesawat. Dengan buru buru Gilbert menuju bandara. Di pintu masuk bandara, ia memgganti penampilannya dari Gabriella menjadi Gilbert. Ia mengenakan jaket dan topi serta kacamata hitam. Agar tidak ketahuan. Ia menemukan Kirana sedang menunggu di depan pintu masuk.
"Hai kirana lama menunggu," tanya gilbert mengagetkan Kirana.
"Kok cepat. Dan hei...mana rambut dan pakaianmu?"
"Aku menggantinya. Pasporku kan Gilbert. Bukan Gabriella," sahut Gilbert lupa tentang hal itu. Mereka kemudian melakukan check in penumpang dan menunggu di gate yang ada. Penerbangan KLM menuju Amsterdam.
"Hei Kir, kau belum cerita kenapa kita Harus ke Amsterdam?" tanya Gilbert
"Hmm...kakakku berencana menemuiku. Kakak lelakiku.," jawab Kirana
"Jadi kau punya kakak laki laki?," Gilbert kembali bertanya.
"Satu kakak laki laki dan satu kakak perempuan," jawab Kirana.
"Lalu, memgapa kau menghindar saat kakak laki lakimu ingin memgunjungimu? Bukankah itu bagus?" kirana memandang kesal ke arah Gilbert. Secara tidak langsung berkata 'kau tak tau apapun' sehingga Gilbert memilih diam. Kirana memghembuskan nafasnya.
"Sama sekali tidak Gil. Ia akan membawaku pulang. Sesuai perintah ayah. Aku tidak mau," tambah Kirana.
"Ada apa lagi dengan ayahmu? Kalian bertengkar?"
"Semacam itulah..," balas Kirana seadanya.
"Ya aku bisa mengerti. Tapi kenapa ayahmu begitu menginginkanmu pulang? Apa dia merindukanmu?" Kirana menghembuskan nafas kesekian kalinya. Seolah berusaha merangkai apa yang hendak ia ceritakan.
"Kalau pulang aku pasti dijodohkan. Selesai kuliah aku akan dinikahkan aku tidak mau," ujar Kirana. Gilbert tertegun mendengar penjelasan Kirana.
"Hah? Dijodohkan. Terdengar Kuno. Tapi memang masih ada. Dan itu menyebalkan," tambah Gilbert.
"Terlebih lagi jika kau tidak mengenalnya. Aku tidak mau hidup hanya bergantung pada orang lain. Aku ingin bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Setidaknya untuk beberapa saat. Agar tidak ada yang meremehkanku. Aku pergi sendiri ke Jerman tanpa restu. Aku akan melakukan apapun yang terbaik. Untung saja kakakku yang berada di amsterdam mendukungku," Gilbert mendengarkan Kirana tanpa menanggapi. Dia bingung harus berkata apa.
"Aku lebih suka hidup biasa saja. Dengan kaki sendiri. Dibandingkan tegak di atas kaki orang lain" lanjut Kirana.
"Sebab itu kita ke Belanda saat ini," Kirana menanggapi pertanyaan Gilbert dengan sebuah anggukan. Tidak ada suara menanggapi cerita Kirana. Gilbert tahu perasaan kirana. Sebagai putra dari Milyuner, ia tidak hanya dituntut untuk bisa memanajemen perusahaan. Dipaksa meninggalkan hobinya, dan tentu saja kedepannya akan ada pernikahan politis. Sesuatu yang paling tidak ia inginkan.
Mohon Perhatian, penumpang dengan penerbangan nomor XXX tujuan Amsterdam, diharapkan masuk melalui gate 3
Kirana dan Gilbert kemudian masuk ke dalam pesawat. Menuju Amsterdam untuk beberapa saat.
To Be Continoued
Holla,,
Tiga Ribu kata..Tiga Ribuuu...yeess..akhirnya bisa nulis banyak.
Padahal utang tulisan saya masih banyak..
*digiles boss
Terimakasih Sudah mau meluangkan waktu membaca Fict saya. Agaknya akhir cerita akan melenceng dari perkiraan awal saya. Saya juga ragu apa bakal menaikkan rating fict ini atau akan tetap stay di T. Hmm...
Tapi saya janji tidak akan sampai puluhan Chapter..agak mikir juga kalau nulis banyak banyak.
*dibakar
Makasih Buat Nuruko dan CDS yang udah sempatin diri untuk menulis review..Dan terimakasih juga untuk yang fave.
Grazie
Collina
