Disclamer by: Masashi Kishimoto
but this story is mine.
*#*
*#*
*#*
Warning!: typos, OOC, EYD tidak baku, AU dan sebagainya. Pokoknya masih belum sempurna.
*Cupid*
*Cupid*
*Cupid*
Happy Reading!!!
*#*
*#*
*#*
Cupid
@••@
@••@
@••@
Hinata sudah putus dari Naruto Uzumaki sejak lama dan enggan memulai hubungan lagi sejak saat itu. Tetapi sebuah bisikan lirih yang ia dengar membuat hidup dan ideologinya berubah sejak saat itu.
/"Apa itu karena aku mirip seseorang yang kau benci sekaligus cinta?"/"Jatuh cinta lah pada orang yang tepat."/"Aku?!"/"Kau?!"/"A... Siapa, ya...? Aku tidak mengenalmu, nona. Maaf,"
#*#
#*#
#*#
Sebelumnya di Cupid...
"Jangan berlagak sok playboy. Aku tahu kamu masih mencintai Hinata Hyuuga." Ujar Himawari sambil memainkan ponsel Naruto seenaknya. Naruto menatap Himawari.
"Aku? CLBK? Norak!"
Himawari balas menatap Naruto tajam, "Aku tidak paham dengan manusia. Hanya karena ego, bisa semudah itu memutuskan janji yang mengikat kalian. Benang merah itu mahal! Sekali kalian terikat, jika benang itu putus, maka satu kebahagiaan kalian akan hilang."
"Memangnya tahu apa kami tentang benang merah dan siapa ujung dari benang merah kami? Itu bukan salah kami sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa. Dan aku tidak suka diatur-atur. Ini keputusanku." Jawab Naruto hendak membungkam Himawari.
Tapi bukan Himawari namanya jika hanya diam menunduk, "Kau boleh saja menggunakan logika dalam mengambil keputusan, tapi kau juga tidak bisa mengabaikan kata hatimu sendiri, Naruto Uzumaki."
Naruto mendesah berat. "Kubilang tidak mau, ya tidak mau!" ucap Naruto mutlak. "Kalau kau memaksaku lagi, aku takkan membiarkanmu menginap di apartemenku!"
Himawari mengunci mulutnya. Yah… jika sudah begini, dia tidak bisa membalas.
*Cupid*
*Cupid*
*Cupid*
Hinata sibuk merapikan buku-buku sesuai dengan abjad. Dengan teliti dan sangat hati-hati, ia menaruh buku tersebut dan kembali memeriksa barisan-barisan buku yang telah ia susun rapi.
"Hinata," suara baritone memanggilnya, membuat Hinata menoleh. Gadis itu menatap datar sosok yang telah memanggilnya. "Aku ada perlu denganmu." Ujar pria tersebut to the point.
Hinata memalingkan wajah, kembali sibuk dengan pekerjaannya, "Aku sibuk."
"Ini sudah waktu istirahatmu."
"Aku tidak—"
'Jangan kau tolak, Hinata… Mungkin saja hal itu sangat penting untuk disampaikan.' Boruto yang melayang-layang berseru pada Hinata. Dengan pandangan malas, Hinata menatap Naruto lalu menghela napas.
"Baiklah…"
Mereka berjalan menuju mesin minuman kaleng.
"Stroberi atau jeruk?" tawar Naruto.
"Cola."
Naruto tertawa kecil saat mendengar jawaban Hinata. "Pilihanmu tidak ada dikalimatku." Ucap Naruto, walau begitu, Naruto tetap mengambilkan cola untuk Hinata dan dirinya sendiri memilih jus jeruk.
"Ada perlu apa?" Tanya Hinata to the point. Naruto membuka kaleng jusnya lalu meminumnya sebentar.
"Kamu pasti tahu tentang dewa Cupid." Ucap Naruto, kali ini dengan raut serius. Hinata hanya menggenggam kaleng colanya yang terasa lebih menyenangkan dibanding mendengarkan ucapan Naruto.
"Begitulah…"
"Dan—"
"Dia bilang ingin membuat kita bersatu." Potong Hinata datar, enggan meminum colanya karena merasa lidahnya sangat tidak enak. Naruto terdiam sejenak.
"Menurutku, tidak ada salahnya kita berdamai dengan masa lalu dan memulai semuanya dari awal."
"Aku sudah berdamai sejak dulu tapi aku tidak mau mengulanginya dari awal."
Boooft
'Hinata, jangan keras kepala, Naruto sudah menurunkan sedikit harga dirinya untuk hal ini.' Boruto memunculkan diri di hadapan mereka berdua, dan Naruto dapat melihat wujud dewa mungil milik Boruto.
"Bukan urusanmu, kecil. Jangan ikut campur!" ucap Hinata tajam dengn tatapan sengit. Bocah ini tadi malam terlihat sangat menggemaskan, tapi kenapa sekarang malah dua kali lipat lebih menyebalkan?!
'Aku dewa cinta, jadi berhak ikut campur! Dan jangan panggil aku Kecil.' Gerutu Boruto.
'Yang dikatakan Boruto itu benar, Hinata Hyuuga. Kami turun ke bumi demi membantu kalian.' Himawari muncul dengan wujud dewi kecilnya juga. Hinata seperti melihat cerminan dirinya waktu kecil meski Himawari memiliki dua goresan di masing-masing pipi dan mata blue ocean.
"Kalau kalian ingin membantu, mengapa tidak menjodohkan aku dengan pria yang lebih baik saja? Bukankah itu lebih mudah daripada menyuruh kami kembali?" debat Hinata tak terima. Untung saja lorong tersebut tak ada orang yang melewati.
'Tidak semudah itu karena—'
'Oh, Hinata… Baiklah, aku tahu ini sangat sulit untukmu, bagaimana jika kita bertaruh? Hm?' Boruto memotong ucapan Himawari dengan cepat, membuat Himawari menoleh ke arah Boruto dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Taruhan?" Hinata dan Naruto membeo bebarengan, membuat Boruto mengangguk semangat seraya terbang mengelilingi mereka dengan sayap-sayap kecilnya.
'Waktunya hanya sebulan. Kalian tinggal satu rumah. Selebihnya, lakukan aktivitas yang biasa kalian lakukan.'
"Se-serumah?!" pekik Hinata terkejut. "Kau pikir—"
"Apa keuntungan yang kami dapat?" Tanya Naruto, memotong ucapan Hinata sambil menatap Boruto dengan pandangan menilai.
'Yah…' Boruto memainkan serbuk berkilau kuning yang ia ciptakan sendiri dengan jemarinya.
'Jika tidak ada benih cinta yang tumbuh dalam hati kalian, kalian akan kami tukarkan dengan pasangan yang kalian impikan. Anggap saja seperti ganti rugi karena menghabiskan sebulan waktu penting kalian. Dan jika kalian sudah saling mencintai, itu sudah terjamin akan berlangsung hingga kalian terpisah oleh maut. Mudah saja.' Boruto menyebarkan serbuk kemilaunya ke atas hingga menyebar, mengenai Hinata dan Naruto, meski serbuk itu kemudian menghilang dengan sendirinya.
Hinata dan Naruto saling bersitatap agak lama. Mempertimbangkan lewat tatapan.
"A-aku tidak mau…"
'Aku tahu ini berat untukmu, makanya aku hanya memberi waktu kalian sebulan. Hanya sebulan sementara kalian melakukan rutinitas seperti biasa, okay? Hanya sebulan.' Boruto terus mengulangi ucapannya untuk meyakinkan Hinata, sementara Naruto hanya diam.
'Demi ratingku yang menurun, Hinata…' suara Boruto mengecil, mendekati Hinata sambil mengatupkan tangan, membuat wajah Hinata berubah masam. Dia tidak sanggup menolak wajah memelas imut dan puppy eyes andalan Boruto. Seriusan!
"Ha-hanya sebulan!"
'Yes!!!'
Himawari masih menatap Boruto hingga Hinata dan Naruto pergi, kembali dengan aktivitas mereka masing-masing.
'Amor, apa maksudmu dengan memotong ucapanku tadi," ucap Himawari menatap Boruto penuh selidik. Boruto membalas tatapan Himawari kemudian menghela napas.
'Jangan coba-coba untuk memberi mantra tersiratmu atau itu menghancurkan segalanya.'
'Tapi dengan begitu mereka bisa bersatu hanya dalam waktu sehari!'
Boruto menatap Himawari serius, 'Ya aku tahu, tapi prinsipku adalah membuat manusia jatuh cinta dengan panahku sendiri, bukan dengan contekan darimu.'
Himawari tersenyum miring, 'Tidak kusangka dewa cinta sepertimu bisa bersikap bijaksana diwaktu yang tepat, Cupid' Sindir Himawari, tetapi Boruto tak ambil pusing karena ia tahu bahwa saudarinya itu memang senang berkata tajam.
'Hinata sedikit kecewa dan takut untuk percaya pada Naruto lagi, Harmonia. Hanya itu.' Ujar Boruto pelan. Himawari memiringkan kepalanya.
'Hum? Apakah terjadi sesuatu pada mereka?'
'Sedikit…' Boruto menghela napas berat lalu terpejam. Sebenarnya dia tidak tega dengan Hinata yang sudah mengalami patah hati terhebat dalam hidupnya, tapi dia juga tidak bisa begitu saja membiarkan ratingnya menurun.
Flashback On
Seorang gadis bersurai indigo sedang berjalan dengan tergesa-gesa menuju rumah setelah berita itu ia dengar dari telepon sepupunya. Satu panggilan ia gumamkan bagai merapalkan mantra seolah-olah dengan satu kata itu, hatinya bisa tenang. Padahal saat ditelepon, dia sedang menikmati istirahat pertama bersama teman-temannya. Untunglah guru piket memperbolehkannya untuk pulang lebih awal.
"Ayah… Ayah… Ayah…" begitu ia bergumam mengabaikan keringat yang menetes dari dahi. Tepat di dalam rumahnya, sudah banyak orang dengan baju gelap dan sopan memenuhi ruangan.
Bisik-bisik penuh duka bisa Hinata dengar secara samar saat Hinata mendekati peti yang memuat jenazah Hiashi yang sudah terias. Wajah pucat pasi dan penuh kerutan milik ayahnya membuat Hinata menangis dalam diam. Air matanya enggan berhenti. Tenggorokannya tercekat kuat, membuat pikiran gadis itu kosong.
Sosok lelaki bersurai cokelat panjang dengan manik sewarna dengannya menepuk pundak bergetarnya lembut.
"Neji-nii…" Hinata menatap sepupunya dengan mata berair.
Neji menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukan hangatnya, membiarkan Hinata menangis tersedu dan memukul dada bidangnya, menumpahkan segala kesedihan yang ia terima begitu saja seperti guyuran air es. Ayah Hinata meninggal karena kecelakaan beruntun.
"Hiks! Bagaimana denganku, Neji-nii…? Bagaimana ini…? Hiks! Aku takut… hiks! Ayah… Ayah pergi meninggalkan aku, Neji-nii… hiks! Ayahku… ayahku… huwaaa!!! Aku sendirian!!!" Hinata menangis histeris meremas baju bagian bahu milik Neji.
Ayahnya adalah sosok yang paling berharga dihidup Hinata, karena sosok itulah keluarga kecil yang Hinata punya. Hiashi Hyuuga, pria yang paling Hinata hormati dan sayangi. Beliau meninggalkan Hinata, menyusul ibunya ke nirwana dan Hinata putus asa akan hal itu.
"Kenapa ayah meninggalkanku sendirian di sini, Neji-nii… kenapa…? Aku tidak bisa… Ayahku… Ayah… Jangan tinggalkan Hinata sendirian di sini… hiks! Hinata butuh ayah… Hinata sayang ayah…hiks! Hinata janji akan belajar giat dan tidak main-main lagi, tapi jangan pergi…" Hinata merancau frustrasi dengan wajah yang penuh air mata dan Neji membiarkan gadis itu membasahi bajunya. Hinata membutuhkan sandaran untuk saat ini, dan Neji lah orang yang wajib menjadi sandaran bagi gadis rapuh itu.
"Kamu tidak sendirian,… Niichan ada di sampingmu… Kamu tidak sendiri di sini… Ada Niichan." Ucapan itu yang terulang dari bibir tipis Neji agar gadis itu tenang.
Hinata menangis tersedu bahkan hingga mengantarkan jenazah Hiashi hingga pengistirahatan terakhir, air mata Hinata tak berhenti jatuh. Hingga kuburan merah itu sepi, Hinata enggan meninggalkan Hiashi di sana. Ia sangat terpukul dan Neji membiarkan Hinata untuk sejenak sendiri, karena gadis itu butuh untuk menenangkan diri.
Sangat lama ia berdiam diri si sana, hingga tanpa sadar, matahari hampir terbenam. Ia beranjak, ayah… aku pergi dahulu… aku janji akan rutin mengunjungimu…
Di tengah perjalanannya, mtanya masih bengkak. Sangat memalukan, tapi biarlah. Ia bisa menutupi mata bengkaknya dengan kacamata minus yang sering ia bawa.
"Naru-kun! Jangan nakal!"
"Hehehe… Kamu cantik jika sedang kesal, Shion-chan…" Hinata terhenti. Itu suara Naruto, kan? Tanyanya dalam hati. Ia menoleh, mendapati pemuda bersurai kuning sedang merangkul mesra pinggang ramping seorang gadis dengan manis sewarna dengannya. Hinata mengernyit. Hinata menghampirinya dengan langkah ragu dan degup yang tak karuan.
"N-Naruto-kun…?" ucap Hinata ragu. Pemuda itu merasa namanya dipanggil pun melirik Hinata dan mengernyit. "Ka-kamu… sedang apa?"
Naruto menatap Hinata lalu Shion yang memandangnya heran. "Shion-chan, kamu di sini dahulu. Ada yang ingin kusampaikan dengan teman lamaku."
Teman lama…?
Shion mengangguk patuh lalu dengan tidak rela, membiarkn tangan Naruto melepas kaitan di pinggangnya.
"Ikut aku." Ajak Naruto tanpa menarik tangan Hinata. Hinata mengikuti Naruto dari belakang. Bingung hendak bicara atau bertindak bagaimana.
Setelah diyakini oleh Naruto tempatnya cukup jauh dari tempat Shion, Naruto berhenti, begitupun Hinata.
Mereka saling pandang dengan rasa tersirat yang berbeda.
"Maaf…"
Ucapan ambigu Naruto membuat Hinata gagal paham. "U-untuk apa, Na-Naruto-kun?" Tanya Hinata dengan suara kecil.
"Aku ingin kita akhiri saja semua ini." Ucap Naruto to the point. Hinata menahan napasnya untuk sejenak. Menatap Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan.
"M-memangnya… aku melakukan kesalahan apa padamu…? A-apakah aku kurang perhatian? A-aku… terlalu mengekangmu? A-aku bisa mengubah sifatku jika memang ada yang membuatmu risih…" Hinata berusaha menatap Naruto, menyembunyikan perasaan sedihnya yang ditambah dengan pernyataan Naruto.
Naruto menggeleng, "Aku hanya berpikir bahwa sepantasnya ini sudah diakhiri. aku lebih menyukai Shion…"
Hinata menggigit bibir bawahnya kuat, menahan perasaannya untuk menangis. Gadis manis itu menunduk dalam, "Kupikir kita bisa bertahan melewati segalanya dengan tegar, Naru…"
"Maaf…"
PLAAK
Naruto sedikit terkejut karena Hinata menamparnya tetapi tak berlangsung lama, karena laki-laki itu sadar bahwa ia pantas menerimanya bahkan lebih dari sebuah tamparan.
Hinata mendongak, masih tersisa air mata di pelupuk yang belum terjatuh. Ia menahan itu erat-erat, "Jangan… minta maaf lagi… Naru…" ucap Hinata lirih. Menggantungkan kedua tangannya di sisi tubuh lalu mengepalkan erat tangannya. "Aku… mencintaimu hingga rasanya sangat sakit… tapi aku selalu bersyukur Naru sudah mau membalas perasaanku meski tidak lebih dari tiga bulan… Naru yang membuatku mengenal arti menunggu… tapi Naru juga yang menunjukkan padaku bahwa… ada saatnya untuk berhenti ketika apa yang kulakukan tidak memiliki arti… bagimu. Bohong jika aku bilang taka pa-apa. Faktanya aku sangat hancur.
Hinata tertawa hambar, "Kamu boleh menilai ucapanku ini terlalu sentimen… Toh tak ada yang bisa kubanggakan. Aku… minta maaf sudah merepotkanmu…"
Hinata membungkuk dalam lalu dengan cepat berlari saat dirasanya air matanya hendak jatuh untuk kesekian kali.
"Hiks… hiks…" Hinata masih berlari dengan kencang dan sibuk menghapus air matanya yang sangat sering keluar tak kenal antrian.
BRUUK
"M-maaf—" Hinata berdiri dengan cepat dan membungkuk berkali-kali.
"Hinata…?"
Hinata mendongak, mendapati manik biru pudar yang tak asing baginya, "To-Toneri-kun?"
"Hei… kamu berantakan sekali. Ada apa, hmm?" Toneri merapikan rambut dan pakaian Hinata yang kusut dan kotor. "Ada masalah…?"
Hinata menatap lekat pada Toneri lalu memeluk laki-laki itu erat. Ia butuh sandaran sekarang. "Hiks… Toneri-kun… hiks…"
Dan itu menjadi patah hati terhebat yang pernah ia rasakan sebelum ia menutup diri dari sosok lawan jenis manapun, selain sahabatnya, Toneri.
Flashback Off
*Cupid*
*Cupid*
*Cupid*
TBC
A/N
Hai readers setia... maaf karena aku terkesan menelantarkan Cupid. HPku remuk karena jatuh dari motor dan laptop yang ku-sleep justru sleep berhari2 a.k.a ga bisa nyala. Huft... kesel... selain itu,
PTS yang melanda bikin aku malas. malas mikir ttg semua hal. Well... nggak parah banget sih. Cuman nggak mau belajar aja. Palingan belajarnya pas satu atau setengah jam sebelum PTS mulai itupun gak bawa buku, tapi cuma nimbrung belajar ama temen. hehe... ga bawa papan ujian juga, padahal biasanya bawa. udah kyak ulangan harian aja. santai. wkwkwk
makasih udah nunggu cerita ini lanjut. moga chapter ini nggak mengecewakan...
