Chapter 4 update!

Waahhhh...maaf ya chingu sekalian. Aku terlambat ng - update. soalnya, computerku beserta modemnya lagi heng! Jadi terpaksa deh tunda Up date. Ni aja aku ke warnet untuk update chap 4, Maaaaafff sekali readers sekalian. ^^

hehehee...

Untuk reviewnya, kayaknya aku gak bisa blz semua lewat chap ini deh..soalnya cukup banyak beberapa..hehehe...maaf ya?^^V

Terimaksih yang sebesar besarnya untuk readers yang udah review apa lagi sampai nge- fav! sumpah, suatu kehormatan untukku. Biarpun kedengarannya lebay, tapi emang aku sangat tersanjung dengan Reviewer and yang udah nge- fav cerita perdana ku ^^

Nah, untuk Viody, alias kak Rui, yang udah ngereview super panjang, aku benar benar berterimakasih. Karena banyak masukan juga yang kakak kasi dan memotivasi aku. Jadi aku bisa berbenah dan silakan lihat sendiri perubahan ku di chapter ini. Review lagi yaa...hehehehe...saya sangat membutuhkan ya, salam kenal, aku masih 17 tahun. Hehehe...

Ow ya, gak nyangka lemon di chap sebelumnya ternyata di cap 'WOW'! Hahahaha,,,...aku lega mendengarnya. Aku kira bakal gak ada yang suka dan kedengaran pasaran, tapi syukur deh gak bikin kalian mual...hahahahaha (ngomong apa sih saya neh?)wkwkwkwkwkkwk

Okey, gitu aja cuap cuapnya. Akhir kata, aku ucapkan terimaksih udah singgah.

Cek This Out!

.

Disclaimer : Tite Kubo

.

.

Ichigo melangkah memasuki kamarnya. Wajahnya terlihat berseri seri. Ia membayangkan Rukia yang masih tergeletak di atas ranjangnya. Namun, senyum sumringahnya hilang seketika saat melihat tempat tidurnya sudah kosong. Ichigo mengedarkan pandangannya menuju setiap sudut di kamarnya. Namun, Ia sama sekali tak menemukan sosok wanita bertubuh mungil yang ia cari.

"Rukia!" Panggil Ichigo. Namun tak terdengar suara Rukia yang menyahut panggilannya. Ichigo melangkah menuju kamar mandi. Berharap wanita mungilnya tengah berada di sana. Terbersit setitik fikiran kotor saat ia kembali mengingat tentang 'Kamar Mandi'. Mengingat kejadian tadi siang memang sangat mempengaruhi otaknya kini. Ia berharap Rukia tengah telanjang dan lupa mengunci kamar mandi. Sehingga mereka bisa melanjutkan ronde ke dua untuk hari ini.

Namun, khayalannya tetaplah khayalan. Tidak akan menjadi kenyataan. Ia tak menemukan sosok Rukia yang tengah bertelanjang di kamar mandi mewahnya. Ichigo mulai sedikit beranjak keluar kamar dan mencoba mencari Rukia di sekeliling rumah.

Terlihat sosok Nanao yang baru saja memasuki ruang tengah rumah mewah tersebut. Mata musim gugur Ichigo segera beralih kepada Nanao.

"Nanao!" panggilnya.

Nanao menoleh ke asal suara yang tengah memanggilnya. Dilihatnya wajah majikannya yang terlihat sedikit cemas. Nanao mengerti apa yang ada di fikiran majikannya saat ini. Wanita berpenampilab super rapi itu, segera menghampiri Tuannya. Ia membungkuk member hormat.

"Ia..Kusosaki- sama..Apa anda memanggil saya?"

"Kau tau kemana Rukia? Ia sudah tidak ada di kamarku. Aku sudah mencari nya, tapi masih tidak menemukannya. Kau tau dimana dia?"

Nanao menganguk. "Rukia – sama telah pergi beberapa saat lalu." Jelas Nanao

"Apa? Kenapa dia tidak pamit padaku?" protes Ichigo

"Maafkan saya Tuan, Rukia – sama sendiri ingin segera pergi. Katanya 'biarkan saja Si Kepala Jeruk itu'." jelas Nanao. Ia sedikit menahan tawanya saat mengucapkan kalimat yang Rukia katakan tadi.

"Kenapa tidak kau cegah saja Nanao!" bentak Ichigo frustasi.

"Maafkan saya Tuan, Rukia – sama sendiri yang menginginkan agar saya tidak memberitahukannya sebelum ia benar benar pergi meninggalkan rumah ini. Ia tidak ingin anda tau dan ia juga tidak ingin bertemu anda. Jadi dia cepat cepat pergi tadi" Jelas Nanao kembali.

"Apa?" Ichigo syok mendengar penjelasan nanao. Memangnya ada yang salah dengannya sampai Rukia tak mau menemuinya hanya untuk berpamitan? Ichigo menghela nafas pasrah."Baiklah, kau boleh pergi Nanao." ucap Ichigo kalem.

Nanao berbalik dan berjalan menuju kamarnya sembari tersenyum geli. Memang, tiap kali Rukia pergi tanpa pamit, majikannya yang satu itu pasti akan langsung gawat tak menentu. Tingkah konyol mereka benar benar membuat Nanao rindu. Tapi, sayang sekali jika kini, mereka berpisah.

Ichigo masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang campur aduk bak salad dalam mangkuk. Marah, jengkel, kesal, khawatir dan rindu. baru saja ia bisa melepas sedikit rasa rindunya pada wanita yang paling dicintainya, kini ia harus melepaskannya lagi. 'Dasar Midget keras kepala! Apa yang terjadi jika dia pergi sendirian lagi malam malam begini? Bisa bisa kejadian seperti dulu terjadi lagi.'

Ichigo merasa sangat khawatir. Ia meraih ponselnya dan menekan beberapa digit angka.

"Halo, Renji...aku minta sekarang juga kau kirim anak buahmu untuk menjaga seseorang!" perintah Ichigo

"Baiklah...siapa dia?" tanya suara dari seberang telepon yang bernama Renji itu.

"Namanya Rukia. Nanti akan ku kirim foto dan alamatnya lewat e-mail!"

"Okey! Akan ku tunggu!"

"Baiklah." Ichigo mengakhiri pembicaraannya. namun sebelum ia memutuskan sambungan telepon tersebut, ia kembali menempelkanya di telinganya, "Ingat! Se - Ka - Rang!" ucap Ichigo kembali dengan penekanan di kata terakhir. "Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya." akhirnya dan segera menutup sambungan telepon tersebut.

Ichigo merasa sedikit lega. Setidaknya anak buahnya, Renji, sangat bisa diandalkan.

.

.

Rukia segera memasuki rumah kecilnya. Ia memanggil - manggil nama anaknya, Ichiru. Namun, sepertinya sama sekali tak terlihat Ichiru ada di rumah. Ia mulai panik. Tangan mungilnya merogoh saku celananya. Ia bermaksud mengambil teleponnya. Namu ia baru sadar, barang barangnya tidak ada. Pakaian yang ia kenakanpun, juga bukan pakaiannya, tapi milik Nanao yang di pinjamnya tadi. 'Pasti tertinggal di kantor' batinnya. Rukia segera meraih gagang telepon bermaksud menghubungi kakaknya, Hisana.

"Halo, nee- san? Apa Ichiru ada di sana?"

"Rukia? Syukurlah kau menelpon. Kau ini bagaimana sih? Kemana saja kau tadi hah? Aku menelponmu berkali kali ke telepon genggam mu! Tapi sama sekali tidak kau jawab! Kau tau, Ichiru menangis karena ia tidak bisa masuk ke rumah karena pintunya di kunci. Ia menunggu di luar selama tiga jam! Kau ini bagaimana sih?" omel Hisana panjang lebar. Rukia hanya menghela nafas berat mengingat kebodohannya.

"Maafkan aku nee – san ...Terjadi sesuatu tadi hingga aku tidak bisa pulang cepat," dalihnya.

"Biarpun begitu, setidaknya, kau menelponku untuk menjemput Ichiru! Kasihan kan anakmu harus menunggu lama di luar rumah menunggu ibunya yang tak kunjung pulang!" omel Hisana lagi. Rukia hanya mengangguk pasrah menyadari kesalahannya. Bagaimana caranya dia menelpon jika seharian ini ia tidak sadarkan diri? Dan itu semua gara gara Ichigo!

"Baik nee – san ...maaf..maafkan aku...Terimakasih telah menjaga Ichiru untukku...," ucap Rukia pasrah.

"Baiklah...tidak apa apa..sekarang kau tenang saja, Ichiru sedang tidur di kamar." Jelas Hisana dari seberang telpon.

"Iya...baiklahh,...terimakasih banyak nee – san. Aku berhutang budi padamu."

"Sudahlah...tak usah kau fikirkan! Sekarang kau istirahat saja. Besok kan kau harus pergi bekerja."

Rukia kembali mendesah berat mendengar kenyataan ia masih harus bekerja di kantor Ichigo. Itu berarti ia harus bertemu Ichigo lagi. Rasanya senang bercampur susah. Seperti mendapat emas saat sedang menggali kemudian tertimpa bongkahan batu besar. Entah ia harus senang atau susah. Namun rasanya untuk saat ini, ia tidak ingin bertemu Ichigo. Tapi, mau bagaimana lagi, tuntutan pekerjaan memaksanya.

"Baiklah...aku istirahat dulu. Bye nee – san." Pamit Rukia. Ia meletakan kembali gagang telepon itu di tempatnya.

Rukia berjalan gontai menuju kamarnya. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya. Tak beberapa lama, ia jatuh tertidur.

.

Suara wakernya yang cukup memekakan telinga membangunkan Rukia dari tidur lelapnya. Ia memaksakan dirinya untuk melangkah menuju kamar mandi. Satu persatu ditanggalkannya pakaian yang ia kenakan. Rukia mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar daripancuran di atasnya. Mata violetnya menatap cermin besar yang ada di hadapannya. Rukia sedikit syok melihat kondisi tubuhnya saat ini. Bercak bercak kemerahan mewarnai kulitnya. Dari leher hingga dadanya, apalagi di bagian dada yang terlihat sangat jelas dan banyak.

'Haaahh...apa yang ku lakukan!'Rukia menggerutu pasrah dengan kebodohan yang ia lakukan. Ia menggosok keras ruam ruam kemerahan tersebut dengan tangannya, berharap dapat terhapus semua. Namun tentu saja sia – sia, karena itu bukan sekedar noda dari lipstick ataupun pewarna. Tapi dihasilkan oleh sentuhan bibir manusia, yang tidak lain tentusaja, dari Ichigo. Rukia bergegas menyelesaikan acara mandinya. Ia tak ingin menghabiskan waktu percuma hanya untuk menghapus hal sia sia yang tentu saja tak akan hilang dengan cepat.

Rukia segera memakai pakaiannya ketika matanya melirik jam dinding yang menunjukan pukul delapan tiga puluh. Ia harus segera berangkat sebelum ia terlambat.

.

.

Suara hentakan hak sepatu beradu dengan lantai keramik terdengar di lorong kantor. Kaki jenjang khas wanita dewasa berjalan melenggak menuju sebuah ruangan di lantai teratas. Rambut orangenya yang sengaja di kriting semakin memberi kesan seksi pada wanita dengan bola mata abu abu itu, Orihime Inoue.

Langkah kakinya terhenti di subuah pintu ruangan yang belakangan sering ia kunjungi. Tanpa permisi, ia melenggak masuk menemui

lelaki yang merupakan tunangannya yang terlihat tengah sibuk dengan pekerjaannya.

"Hai Kurosaki - kun..." sapa Inoue lembut kepada Ichigo. Ichigo tersenyum menyambut kedatangan wanita yang kini menjadi tunangannya itu. Orihime memeluk Ichigo yang tengah duduk di kursinya sembari sibuk mengetik pekerjaannya. Ia memberi kecupan singkat di bibir Ichigo sebagai salam.

"Kau sedang apa?" tanya nya lembut memperhatikan kegiatan yang dilakukan Ichigo.

"Seperti biasa. Bergelut dengan dokumen dokumen yang membosankan ini." Jawab Ichigo bosan. Ia kembali mengerjakan pekerjaannya.

"Ikaku, tolong bawakan dua cangkir teh ke ruanganku!" perintah Ichigo melalui saluran telepon.

"Baik!" Jawab Ikaku dari seberang telepon.

Orihime mulai bergelayut manja di lengan Ichigo. "Kurosaki, aku merindukanmu~" rengeknya manja. Ia menenggelamkan kepalanya di lengan kanan Ichigo. " Kemana saja kau kemarin? Koq tidak ada menelponku?" sambungnya masih dengan nada manja. Ia sedikit berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Ichigo yang duduk di kursinya. Orihime menatap manja ke arah Ichigo menanti jawaban.

Ichigo sedikit terkejut dengan pertanyaan Orihime. Tentu saja dia tidak akan lupa dengan apa yang dilakukannya kemarin, tentunya hal yang sangat ia rindukan kembali terjadi bersama seorang wanita mungil, Rukia. Meskipun hatinya sangat senang dengan hal yang dilakukannya kemarin hingga membuatnya melupakan dunia sejenak, Ichigo tentu saja tak akan bicara langsung kepada Orihime mengenai hal itu. Ia harus berbohong jika tidak ingin terjadi perang dingin.

"Maafkan aku Hime, kemarin aku sangat sibuk dengan pekerjaanku hingga aku lupa mengabarimu." Dusta Ichigo. Orihime tersenyum simpul mendengar jawaban Ichigo. Tanpa diduga Ichigo, Orihime duduk di atas pangkuannya. Ia melingkarkan lengan jenjangnya di leher Ichigo. Kemudian menempelkan kedua kening mereka.

"Kau bekerja terlalu keras. Seharusnya kau banyak banyak beristirahat. Kau perlu sedikit relaksasi..." ucap Orihime. Ia menatap iris coklat ichigo dengan dalam. Lalu ia memajukan wajahnya hingga bibir mereka bertemu. Orihime mencium Ichigo dengan lembut. Entah kenapa Ichigo hanya diam saat Orihime menciumnya. Rukia terlintas di fikirannya. Ia merasa Rukia tengah menciumnya. Tanpa Ichigo sadari, kini ia membalas pagutan Orihime.

Suara ketukan terdengar dari arah pintu. Kedua insan yang tengah di mabuk asmara itu masik asik dengan kegiatan mereka. Rukia membawa nampan yang berisi dua cangkir teh hangat. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, ia melangkah masuk setelah memutar knop pintu. Kaki mungilnya berjalan mendekati meja kerja Ichigo. Namun pemandangan di depannya membuat darahnya berdesir sampai di ubun ubun. Dua kepala jingga saling berdekatan dan bibir mereka saling menyatu. Apalagi si wanita tengah berpangku di atas paha si pria. Mereka terlihat begitu menikmati ciuman tersebut. Tanpa memperdulikan keadaan sekitar, mereka saling memagut. Mereka tak menyadari ada seseorang yang masuk dan menyaksikan mereka berciuman.

Rukia menarik nafasnya. Ia mencoba bersikap profesional. Bukan saatnya ia terbawa perasaan. "Ini teh Anda ..,Tuan Kurosaki." Ucap Rukia datar seraya meletakan teh tersebut di atas meja yang berada di tengah tengah sofa di ruang kerja Ichigo. Ichigo yang merasa namanya di panggil, membuka matanya dan baru menyadari kehadiran orang ketiga di ruangan tersebut.'Rukia!' Ia sedikit terkejut melihat tubuh mungil Rukia telah memunggunginya dan berlalu pergi. Orihime masih setia menempelkan bibir mereka tanpa berniat melepaskannya.

'Sial! Kenapa Ikaku menyuruh yang Rukia membawakan tehnya ke sini sih!' jengkel Ichigo.

Ichigo melepas ciuman mereka. Ia tersenyum menatap Orihime yang terlihat merona. "Hime, maafkan aku. Masih ada banyak sekali pekerjaan yang harus ku selesaikan hari ini." Dalih Ichigo. Orihime tersenyum hangat. Ia mengerti kondisi Ichigo. Ia beranjak turun dari pangkuan Ichigo, dan berdiri di sebelah tungannya.

"Baiklah...aku mengerti. Jaga dirimu ya Kurosaki – kun..." pamit Orihime sembari tersenyum hangat. Ichigo membalasnya dengan senyuman hangatnya pula. Orihime beranjak meninggalkan ruangan Ichigo. "Ow ya, jangan terlalu keras bekerja. Nanti kau bisa sakit. Kalau ada apa – apa, hubungi aku ya Kurosaki – kun...aku siap membantumu kok.." pesan Orihime sebelum meninggalkan ruangan Ichigo.

"Baiklah...kau tenang saja...!" jawab Ichigo menenangkan. Orihime pun menghilang dari balik pintu. Ichigo menghela nafas lega. Namun, pikirannya masih terasa mengganjal. Rukia! Ia ingin bertemu Rukia dan menjelaskan apa yang baru saja terjadi pada gadis mungilnya itu.

Ichigo segera meninggalkan ruang kerjanya menuju ke ruangan Office Boy. Ia yakin, Rukia pasti berada di sana sekarang.

.

Rukia tengah duduk di kursi di sudut ruang kerjanya sambil menatap keluar jendela. Ia berusaha mengenyahkan fikiran yang membuatnya menjadi tak menentu. Melihat Ichigo berciuman dengan tunangannya, Orihime, seakan membuat ngilu hati. Serbuan panah seakan tertancap sempurna di hatinya. Rasanya sesak dan menyakitkan. Detak jantungnya masih berdetak tak menentu. Rukia berkali kali menghela nafas untuk menenangka fikirannya. Entah kenapa hatinya merasa sangat jengkel tiap kali mengingat Ichigo.

'Dasar Kurosaki sialan! Sampai kapan dia mau mempermainkanku seperti ini! Tidak boleh! Tidak boleh! Tidak boleh! Rukia, anggap saja kejadian kemarin hanya permainan belaka! Jangan sampai kau terhanyut! Jangan!' Rukia mengingatkan dirinya, ia mendesah berat. Wanita mungil itu kembali mencoba menenangkan fikirannya sejenak dengan memejamkan mata lalu menarik nafas panjang. Sepertinya itu cukup ampuh. Kegundahannya sedikit terobati. Rukia berjalan menuju dapur untuk membuat secangkir teh yang menurutnya ampuh untuk menghadapi situasi hatinya yang kacau saat ini.

Suara dobrakan pintu mengejutkan Rukia. Ichigo terlihat sagat kacau. Wajahnya basah oleh keringat. Nafasnya menderu cepat. Raut kekhawatiran tergambar di wajahnya.

Rukia mengangkat salah satu alisnya. Ia membungkuk memberi hormat. "Selamat datang Tuan Kurosaki. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rukia datar. Ekspresi datar kembali ia perlihatkan pada Ichigo. Seolah olah, beberapa menit yang lalu ia sama sekali tak merasakan kegundahan di dalam hatinya. "Ada apa?" tanyanya dingin.

Ichigo masih berusaha mengatur nafasnya. Sepertinya ia berlari untuk dapat segera bertemu dengan Rukia. Ia berharap, ia mendapati Si mungil yang sedang menangis setelah melihat dia dan Orihime berciuman tadi. Namun, harapannya hanya isapan jempol semata. Rukia terlihat dingin dan baik baik saja. Wajah Rukia masih tetap saja datar dan terkesan cuek. Apakah kejadian kemarin sama sekali ta berkesan di hati Rukia?

"Kau...,,tidak, ..apa – apa?" tanya Ichigo ragu. Ia masih menyimpan harapan Rukia akan memeluknya dan menangis meminta penjelasan atas apa yang dilihatnya tadi.

"Apa? Memangnya aku kenapa?" tanya Rukia cuek.

"Kau...sama sekali...tidak - menangis?"

"Untuk apa? Apa ada yang salah?"

"Kau...,tidak..,cemburu?"

"Cemburu? Heh.,untuk apa?" Rukia tersenyum angkuh. Ia menyeruput tehnya. "aaa..,maksudmu melihatmu dengan Orihime tadi?" tebak Rukia.

Ichigo mengangguk. Rukia tertawa pelan. "Anda lucu sekali tuan Kurosaki. Untuk apa aku harus cemburu? Bukankah kalian itu tunangan. Jadi, wajar saja bukan. Apa urusannya denganku? Aku sudah sering melihat kalian berciuman. Jadi menurutku biasa – biasa saja!" Rukia menatap bosan Ichigo.

Rukia sama sekali tidak terlihat sedang terluka. Ichigo merasa menjadi lelucon. Ia agak jengkel mengetahui reaksi Rukia yang seolah tak pernah terjadi apa pun. Langkah kaki jenjangnya mulai mendekati Rukia. Ichigo menatap violet Rukia penuh tanda tanya. Rukia balik menatapnya heran.

"Hei, Tuan. Bukankah masih ada banyak pekerjaan yang harus anda kerjakan? Sana! Cepatlah kembali keruangan Anda! Berlama lama disini hanya akan membuatmu berbau seperti orang dengan level rendah sepertiku!" canda Rukia. Ia mendorong tubuh Ichigo menuju pintu keluar. Namun, dengan sigap, Ichigo berbalik dan memeluknya. Ia mendorong Rukia ke balik pintu.

"akh!" Rukia memekik kaget. Ia menahan tubuh tegap Ichigo agar tak makin menghimpitnya dengan kedua tanganya.

"Kau tau, saat aku meciumnya tadi, yang terlintas di benak ku adalah.. Kau..." bisik Ichigo.

"Haha...apa yang anda katakan..? Cepatlah menjauh! Anda membuat saya tak bisa bernafas."

"Apa kejadian kemarin sama sekali tak membekas di hatimu?" suara Ichigo terdengar lirih.

"Apa? Maksud anda apa?" Rukia masih berusaha meronta.

"Kau tau, hal itu, sangat berkesan bagiku..." bisik Ichigo kembali." Kenapa kau pergi tanpa pamit? Aku sangat mencemaskanku. Sampai - sampai aku memarahi Nanao karena membiarkanmu pergi sendiri.."

"Anda bicara apa sih? Cepat lepaskan tangan Anda dari tubuh saya Tuan Kurosaki!"

"Tidak mau!"

"A- ap- apa?"

"Aku bilang, 'aku - tidak - mau..'"

Rukia kembali menarik nafas berat,"Lalu.., apa mau mu Kurosaki?" kesopanan telah ia buang jauh jauh mengingat kini bosnya yang berambut orange nyentrik ini sudah mulai kurang ajar padanya.

Ichigo diam membisu, ia makin mengeratkan rangkulannya pada gadis mungil ini. Matanya selalu terpejam ketika mencoba menyesap aroma yang menyeruak dari tubuh wanita mungilnya. Amber nya meredup memancarkan kasih sayang. Hatinya seakan bergemuruh tiap kali wanita ini berada dalam dekapannya.

"Orihime..." Ichigo memulai.

Apa? Dia bilang Orihime? Rukia menarik kesimpulan, 'Ichigo menginginkan Orihime'. Lalu untuk apa kepala jeruk ini memeluknya jika ia menginginkan wanita lain?

Rukia mulai mendidih. Ya, memang tidak seharusnya ia begini dengan si jeruk ini. Tentu saja, sudah ada wanita lain yang akan memiliki pria yang mendekapnya saat ini.

'Dasar pria hidung belang!' gerutu Rukia dalam hati." Kalau begitu, untuk apa kau memeluk ku jika kau menginginkan Orihime, heh? Aku bukan pemuas nafsumu! Tidur saja dengan tunanganmu yang cantik dan sempurna itu!" bentak Rukia. Ia mulai berontak lagi.

"Apa?" Ichigo kaget mendengar penolakan Rukia. Tangan kokohnya makin mempererat rengkuhannya pada gadis berambut pendek ini.

"Apa maksudmu, Midget?" Tanya Ichigo bingung. Akhirnya ia melepas pelukannya dan memberi jarak antara dirinya dengan Rukia. Tangan kokohnya meraih bahu Rukia dengan pelan. Mata musim gugurnya mencoba mencari penjelasan dari pancaran sinar bulan di mata Rukia.

Rukia memalingkan wajahnya. Enggan bertemu pandang dengan Ichigo. Si kepala jeruk hanya tersenyum simpul. Ia tau Rukia sedang cemburu karena ia menyebut nama tunangannya, Orihime. Dan ia juga tau, Rukia tengah salah paham dengan pembicaraan mereka tadi.

"Maksudku bukan seperti itu, Ruki – chan…" goda Ichigo dengan nada lembut.

Rukia merasa risih dengan aksen 'Chan' yang diberikan Ichigo. Ia menatap Ichigo dengan kesal.

"Aku bukan anak kecil Tuan Kurosaki!" kesal Rukia. Matanya menatap tajam Ichigo. Seperti biasa, si jeruk ini selalu saja bertindak dan berbicara seenaknya.

Tanpa memperdulikan Rukia yang tengah kesal, Ichigo tertawa renyah. Raut wajah Rukia terlihat bingung.' Bisa bisanya si jeruk ini tertawa!'

"Kau tau, kau salah paham! Maksudku bukan seperti yang kau bayangkan, Midget! Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu. Jadi berhentilah memasang wajah kusut seperti itu!" jelas Ichigo.

Perlahan Rukia mulai melunak. Raut wajahnya terlihat kembali biasa. Ichigo tersenyum puas dengan respon Rukia. "Tapi sebelum itu, bisakah kau menjauh dari ku, Tuan Kurosaki? Karena posisi seperti sama sekali tidak enak dilihat!" jelas Rukia tajam. Ichigo mengangguk mengerti lalu melepaskan tangannya.

Rukia bergerak mundur dan duduk di kursi di belakangnya. "Baik. Bicaralah!" perintah Rukia bosan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menarik nafas ringan beberapa kali.

Ichigo bersandar di tembok di belakangnya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana hitam panjangnya. Ia manatap Rukia dengan seksama. Mencoba mengahantarkan perasaan yang dirasanya pada Rukia. Perasaan ingin dimengerti dan didengar. Namun Si Mungil sama sekali tak terlihat merespon dan masih terkesan cuek.

"Kau tau, aku memang menyukai Orihime…" mulai Ichigo. Rukia masih setia mendengarkan dengan ekspresi datarnya. Tak sedikitpun tersirat ekspresi kekecewaan ataupun kecemburuan dari wajah cantiknya seperti yang Ichigo harapkan sebelumnya. Ia berharap Rukia akan cemburu saat mendengar jika dirinya menyukai Orihime.

"Ia datang saat kesendirian dan keterpurukan menghampiriku. Ia selalu ada di saat aku membutuhkan seseorang yang bisa menghiburku. Sejak saat itu, aku mulai merasa aku mencintainya..." Ichigo member jeda sedikit. "..dan aku baru menyadari sesuatu yang berbeda akhir akhir ini, semua itu karena kau…"

Rukia merasa sedikit tersentak. Kenapa karena dirinya? Apa hubungannya?

"Apa hubungannya denganku?" Tanya Rukia bingung.

"Karena, sejak aku kembali bertemu denganmu, aku mulai menyadari perasaan yang ku rasakan pada Orihime, berbeda dengan apa yang kurasakan padamu dulu…." lanjut Ichigo. "Aku tidak tau, apa itu. Tapi aku yakin itu adalah perbedaan antara rasa 'Suka', dengan rasa 'Cinta'.

"Aku mungkin hanya menyukai Orihime dan tidak mencitainya, tidak seperti denganmu, aku menyukaimu,..namun... aku juga mencintaimu, Rukia…."

Mata Amber menatap dalam Violet yang terlihat sedikit melemah setelah ucapan terakhirnya. Rukia menuduk. Ia tak mau lagi melanjutkan pembicaraan yang menyakitkan ini. Ia takut, semua pertahanan yang telah ia bangun kembali untuk mengubur perasaannya pada Ichigo menjadi runtuh karena ucapan pria di hadapannya ini. Bagaimanapun juga, kini mereka telah memiliki kehidupan masing masing.

"Kau…serakah Ichigo." Ucap Rukia dingin.

Ichigo tersentak ketika Rukia mulai angkat bicara. Apa maksud dari si mungil ini? Kenapa ia bilang kalau dirinya serakah?

"Seharusnya, jika memang kau menyukai Orihime, maka jangan lagi kau bilang pada wanita lain jika kau juga mencintainya. Sadarilah perasaanmu sendiri." Rukia mendesah sejenak, "Kita sudah memiliki kehidupan masing masing Ichigo. Hubungan kita telah berakhir sejak kau meninggalkanku dulu. Dan sekarang, kau juga telah memiliki wanita lain. Dan aku juga sudah memiliki kehidupan baru yang jauh lebih baik. Sekalipun kau terus berusaha untuk mendekatiku dan membuatku jatuh cinta lagi padamu, sia sia saja. Karena aku akan tetap pada pendirianku dengan tidak akan menghianati Kaien sekalipun ia sudah meninggal. Jadi, berhentilah ingin memiliki dua hati sekaligus. Pilih saja hati yang sudah pasti akan menjadi milikmu. Aku yakin, Orihime wanita yang baik. Dan aku juga yakin kau.. mencintainya.." nasihat Rukia. Ia beranjak bangun lalu membungkuk memberi hormat pada Ichigo." Saya permisi, tuan Kurosaki." stelah mengucapkan salam perpisahan ia beranjak pergi meninggalkan Ichigo.

Ichigo hanya bisa terpaku diam. Tak ada cegahan yang biasa ia lakukan untuk menghalangi Rukia pergi. Tak ada sangkalan apa pun yang terlontar dari mulutnya. Kata – kata Rukia memang sepenuhnya benar. Mungkin..

Jika Rukia telah berkata seperti itu, maka sama saja dengan dia sudah tak lagi mencintai dirinya. Sekalipun kejadian di kamar mandi kemarin sempat membuatnya yakin jika Rukia memang masih mencitainya, namun ucapan Rukia tadi terasa lebih kental menyiratkan jika ia sudah tak lagi mencintai dirinya. Mungkin, kejadian kemarin wanita itu lakukan hanya sebatas karena nafsu semata. Bukankah banyak orang bercinta tanpa rasa suka atau cinta dan hanya mengandalkan nafsu semata?

Ichigo lagi lagi mendesah berat. Hatinya terasa dipukul bertubi tubi. Rukia sudah menyatakan berkali kali penolakannya akan dirinya. Apa lagi yang harus ia lakukan? Semuanya percuma saja jika ia masih melakukan hal bodoh dengan tetap mendekati Rukia. Semuanya sia sia belaka.

Tunggu dulu, masih ada satu hal yang bisa ia lakukan. Ichiru! Ya, Ia harus mencari tau siapa sebenarnya ayah Ichiru. Sekalipun ia yakin Ichiru anaknya, tapi masih belum cukup membuktikan jika Ichiru memang anaknya. Ia harus mencari informasi lebih detail tentang masalah ini. Harus! Jika ia ingin kembali bersama Rukia.

Ya, seperti yang Rukia katakan tadi, 'Sadarilah perasaanmu'. Dan kini, dirinya sadar jika ia memang menginginkan Rukia lebih dari ia menginginkan Orihime. Rukia, Rukia, dan Rukia. Hanya gadis itu yang terbersit di benaknya. Okey, kali ini, ia tak akan melepaskan si mungil lagi. sekalipun Rukia berkali kali melakukan penolakan atas dirinya, lambat laun pasti ia akan menerima Ichigo kembali.

"Baiklah..kau tak akan ku lepaskan lagi, Midget! aku akan mencari tau kebenaran yang kau sembunyikan!"

.

.

Rukia berjalan gontai meninggalkan kantor Ichigo. Ia telah berbicara kepada Ikaku selaku atasannya untuk ijin pulang karena merasa tidak enak badan. Fikirannya kini bak debu yang tertiup angin. Berhamburan entah kemana. Segala jadi terasa begitu rumit dan memberatkan fikirannya. Rasanya ada batu besar yang jatuh dan menimpa kepalanya.

Rukia berjalan menuju stasiun kereta terdekat. Tujuannya kini bukanlah rumah, namun suatu tempat yang selalu bisa menenangkannya di saat sulit seperti ini.

Matanya memandangi pemandangan yang silih berganti seiring laju kereta yang pergi dan meninggalkan ibu kota. Langit terlihat mulai menjingga. Matahari semakin rendah dan hendak turun ke peraduannya. Burung burng beriringan kembali ke sarang mereka. Semilir angin sore yang masuk melalui celah jendela kereta yang setengah terbuka membelai wajah cantuk bermata violet itu.

Kereta telah sampai di tujuannya. Rukia melangkh pergi meninggalkan stasiun menuju tempat yan diinginkannya kini. Ya, danau di pinggir Karakura memang selalu pas untuk memulihkan rasa hatinya yang tak menentu.

Bangku kosong yang berdiri kokoh di pinggir danau menjadi tujuan langkah kaki kecil itu selanjutnya. Semilir angin membelai helaian rambut Rukia dan membawa ketenangan baginya.

Tangan lembut Rukia merogoh saku jaketnya dan meraih ponsel. Jari jemarinya dengan lincah mengetik tombol keypad di ponsel tersebut.

"Halo, Nee- san.."

"Rukia, ..kenapa?

"Aku ingin minta bantuan, bisakah kau urus Ichiru untuk hari ini? Ada banyak sekali pekerjaanku di kantor. Jadi aku harus lembur. Bisakan Nee – san?"

"Baiklah…kau tenang saja. Aku akan menjaga Ichiru. Jangan lupa, kau harus banyak makan agar tidak cepat sakit."

"Ia nee- san..,tenang saja. Terimakasih ya Nee – san …"

"Ia…"

"Bye…"

"Bye…jaga dirimu Rukia…" akhir Hisana diiringi bunyi piiiipp..

Rukia kembali memasukan ponselnya ke dalam saku jaketnya.

Fikirannya kembali terbayang dengan pembicaraannya dengan Ichigo tadi siang. Apa sebenarnya yang harus ia lakukan.? Di satu sisi ia merasa berat mengatakan hal tersebut, semuanya berlawanan dengan hatinya, namun di sisi lain ia juga harus mengatakannya sebelum perasaannya membuatnya semakin serakah menginginkan Ichigo. Ia harus mengerti keadaan mereka berdua yang tidak mungkin bersatu. Sekalipun Ichiru masih berpotensi menjadi jembatan penghubung antara hubungan mereka, namun Rukia masih tidak tega menyakiti dua hati. Orihime dan Kaien. Mungkin saja Kaien telah pergi, tapi hatinya disana mungkin akan terluka jika Rukia kembali menyambut hati Ichigo. Ia tau betul Ichigo masih mencintainya dengan sangat. Namun ia juga harus sadar, ia telah mengucap sumpah jika ia akan setia selamanya pada Kaien. Pria itu telah membantunya di saat tergenting dalam hidupnya. Memberinya harapan baru ketika dirinya tak mampu lagi berdiri disaat terpuruknya.

Setetes air mengalir dari mata hitam termenung. Suara desahan angin yang membelai rerindangan pepohonan mengantarkan kenyamanan bagi hati yang sedang gundah. Sungguh, ia tak mengerti apa rencana tuhan akan dirinya. Semuanya seakan membingungkan dan menyakitkan. Kepergian dan kedatangan orang orang di sekitarnya bagaikan skenario naskah drama. Berkali kali ia coba menghindar dari kenyataan yang menyakitkan, namun, entah kenapa ia akan selalu terjerat di dalamnya.

Ichigo..., dirinya bagaikan yoyo di tangan pria dengan mata musim gugur itu. Segalanya terasa menyenangkan dan menyakitkan di waktu yang sama tiap kali Rukia mencoba terhanyut di dalamnya. Hatinya memang sangat senang dengan setiap perlakuan Ichigo padanya saat ini, semuanya tak pernah berubah sejak dulu. Namun hanya satu hal yang berubah, mungkin hati Ichigo telah terbagi dua kini, untuknya dan untuk wanita sempurna bermata abu abu itu.

.

.

.

To be Continue….

thanks for read, Review please...^^