.

Buku itu berjudul, 'Heaven In The Heaven', menceritakan tentang seorang putri raja yang bersusah payah mencari letak surga. Sang putri hanya ingin bertemu dengan mendiang ibunya, dia juga berharap dapat membalikkan hati sang ayah yang hendak menikahi seorang penyihir jahat. Buku ini akan menjadi 'pendongkrak' nilai Bahasa Inggrisku, aku janji aku akan membalas nilai 30 kemarin itu! Aku akan mempersiapkan segalanya, apapun kulakukan agar nilaiku bisa kembali baik. Agar aku bisa jauh lebih baik lagi. Agar nilai kelulusanku tidak memalukan seperti nilai ulangan mendadak kemarin. Agar Pak Guru Erwin tertarik memperhatikanku...

.

.

.

Setelah si jangkung yang malas, Berthold, selesai membaca deskripsi bukunya, berikutnya pasti giliranku. Karena absenku berada tepat dibawah absen si jangkung itu!

.

.

"What a sweet story!" puji Pak Guru Erwin, ngomong-ngomong Berthold mengangkat buku 'Jack and the Giant' ya... buku tentang petualangan Jack dan kacang ajaibnya.

.

.

"Is that your bedtime story?" lanjut Pak Guru Erwin, sontak seluruh kelas tertawa terbahak-bahak mendengarnya, tidak kecuali aku.

.

.

"Berthold bodoh ah! Kita kan' sudah kelas 3 SMA, kenapa dia mengambil cerita anak-anak seperti itu?" bisik Hanji padaku. Aku hanya bisa terkekeh mendengar ejekkan Hanji tadi. Setelah tawa murid mereda, Berthold dipersilahkan untuk kembali ke tempat duduknya. Sekarang adalah giliranku!

.

.

.

Pak Guru Erwin membuka kembali absensi muridnya, lagi-lagi ia menarik nafas panjang sekali. Kali ini ia sambil memainkan pena berwarna hitam dan emas, yang (sepertinya) selalu menemaninya,

.

.

"By the way, how about Sport Festival's?" tanyanya mendadak.

.

.

Seisi kelas nampak sepi dan serius mendengarkan kalimat itu, ku akui, teman-teman sekelasku sudah sangat berusaha untuk latihan. Permainan mereka sudah cukup baik, dibandingkan dengan kelas-kelas yang lain. Tapi tetap saja, mereka punya titik lelah bukan?

.

.

Aku merasakan sensasi sentuhan tangan yang datang dari arah belakang. Dengan cepat aku menoleh ke belakang, tepat di belakangku adalah Aluo, ya... wakil-ku. Sengaja ia pindah ke belakangku agar kami dapat dengan mudah berkoordinasi.

.

.

"Hei... Pak Guru Erwin memanggilmu Chantal!" ujarnya,

.

.

"Apa maksudmu Aluo?" aku benar-benar tidak mengerti apa maksud Aluo, bukankah tadi ia tidak menyebutkan namaku?

.

.

.

"Chairman!" seru Pak Guru Erwin, "How about our team?" tanyanya,

.

.

"Ehh... itu... ehh... ehem... tha...that..." saking kagetnya aku sampai kelabakan.

.

.

"Santai Chairman, ups... I mean Chair-woman!" ujarnya sambil berdiri dan berjalan mendekatiku, "Kudengar kalian sedikit kesulitan dengan formasi tim basket bukan?" lanjutnya,

.

.

"Se... sedikit..." ujarku pelan,

.

.

"Chantal bilang kalian terus berlatih setiap hari, itu hebat! Bapak memuji kalian semua! Kalian tidak usah begitu khawatir dengan formasinya, bermainlah seperti sebuah tim, dan anggaplah tim itu adalah diri kalian sendiri!" Pak Guru Erwin menularkan semangatnya pada kami.

.

.

"Semuanya, ingat ini... kalau sebuah tim adalah diri kalian sendiri, kalian tentu tidak akan membiarkan salah satu dari tubuh kalian lumpuh bukan?" ujarnya dengan mata berbinar.

.

.

"SETUJU PAK!" seru seorang siswa bertubuh kekar, si kapten tim basket Reiner.

.

.

"Itu artinya kita harus saling membantu?" Hanji mencoba bersuara,

.

.

"Tepat sekali nona Hanji! Saling membantu, saling menghargai, dan jangan saling menyalahkan!" mendengar itu kelas mendadak ricuh, kami jadi kembali bersemangat menghadapi pertandingan olahraga nanti.

.

.

"Levi... berdirilah!" bisik Pak Guru Erwin kepadaku, aku langsung menyanggupinya.

.

.

Sambil tersenyum riang, aku kemudian berseru,

.

.

"Menurutku 'formasi' itu sudah terbentuk karena kita satu tim! Kita bisa! Kita tim! Kita menang!" ujarku riang.

.

.

"YAAA!" seru seluruh siswa kelasku,

.

.

"Siapa Kita?" teriak Pak Guru Erwin,

.

.

.

"SCOUTING CLASS... SCOUTING CLASS...SCOUTING CLASS!" jawab kami kompak.

.

.

.

Kelas kembali ricuh karena semangat yang ditularkan Pak Guru Erwin, ya... dia juga menularkan semangatnya kepadaku juga!

.

.

"We're Scouting, We're Team, We'll Win!" sambung kami, hingga slogan itu terdengar berulang-ulang. Bahkan Hanji dan Reiner sampai berdiri di bangku masing-masing dan memandu kami untuk mengumamkan slogan itu bersama-sama. Erd dan Gunther bahkan sambil memukul-mukul meja. Pak Guru Erwin tidak mau ketinggalan, dia bahkan mengikuti Erd dan Gunther yang duduk di sebelah kananku. Aku mengucapkan slogan itu sambil tersenyum riang, terima kasih Pak Guru Erwin! Kau memberikan kami semangatmu lagi!

.

.

.

Memang setelah dipikir sebentar, beginilah sifat asli Pak Guru Erwin, dia mampu menaikkan mood siswa-siswinya. Dan aku senang melihatnya seperti ini, sekali lagi... kau membuatku kembali tertawa!

.

.

"Ok class... that's enough... that's enough! You did very well! I'm so proud of you all!" seru Pak Guru Erwin, sambil mengembalikan ketenangan kelas tentunya. Nafas kami tinggal satu-satu, karena terlalu bersemangat. "Kapan jadwal latihan lagi Chantal?" tanyanya padaku.

.

.

"Rencananya hari ini setelah jam pelajaran terakhir, tapi saya tidak ikut mengawasi pak, bukankah saya harus ikut kelas tambahan itu?" tanyaku balik,

.

.

"Ah... pelajaran tambahan itu ya? Hari ini aku bebaskan kamu dari pelajaran tambahan itu, bagaimana kalau bapak melihat langsung latihan kalian?" tanyanya pada seluruh kelas,

.

.

"Kebetulan kami akan berlatih sepak bola dan basket hari ini!" Jawab Reiner, dia memang aku tugasi untuk menjadi penaggung jawab lapangan.

.

.

"Baiklah! Selama kalian bersemangat, bapak akan terus mendukung kalian! Bapak janji sore ini bapak akan mengawasi langsung jalannya latihan kalian!" janji Pak Guru Erwin pada kelas. Tentunya itu mengundang semangat murid di kelasku lagi. Sekali lagi kami

.

.

.

meneriakkan slogan itu, We're Scouting! We're Team! We'll Win!...

.

(Wajah Levi perlahan mengarah ke arah pada wajah Pak Guru Erwin. Seketika mereka saling menatap, entah apa yang mereka saling pandang. Hingga kemudian Pak Guru Erwin, yang memang berada di samping kanan Levi, mengangkat tangannya dan meletakkannya tepat di ubun-ubun Levi, sekali lagi ia mengucapkan, "You did well... thanks dear...". seketika itu juga mata kecil Levi membulat, dan badannya tidak mampu ia gerakkan.)

.

.

.

.

~You're the best thing in my life sir...~

.

.

.

.

Petra, kau jangan lagi menertawaiku, apalagi mengejekku sok puitis atau picisan! Kau tidak tahu betapa bahagianya diriku hari ini! Sebelum Pak Guru Erwin datang, aku tidak sengaja keluar kelas untuk pergi ke toilet sebentar. Dari situ-lah aku bertemu Pak Guru Erwin, sepertinya ia datang dari arah lobby utama, dan kami berjalan bersama menuju kelas. Di dalam kelas-pun dia mengusap-ngusap rambutku. Huh! Kesal juga sih, memang aku anaknya apa? Tapi itu-lah... dia selalu menganggap semua murid di kelas sebagai anaknya. Itu artinya aku juga termasuk anaknya ya...? Ahh... yang jelas, tanganku pegal-pegal karena harus membantu Pak Guru Erwin membawa minuman untuk satu kelas. Aku butuh waktu istirahat Petra!

.

.

"Kau benar-benar suka menulis ya!" tegur Pak Guru Erwin dari belakangku, ditangannya ada dua botol minuman yang kami beli tadi.

.

.

"Ah.. ini hanya selingan..." jawabku pelan namun dengan cepat aku menutup buku Diary-ku,

.

.

"Tak apa, daripada kau melamun, lebih baik kau menulis sesuatu Levi," ujarnya sambil menyodorkan satu dari dua botol minuman itu, "Kau belum mengambil bagianmu," lanjutnya.

.

.

"Terima kasih Pak," aku berterima kasih sambil mengambil botol minuman dengan rasa jus jeruk itu.

.

.

"Tidak, tidak usah sungkan seperti itu, aku juga orang yang santai, kau harusnya tahu hal itu,"

.

.

"Ma... Maksud Bapak?" aku menaikkan alisku indikator bahwa aku tidak paham maksud Pak Guru Erwin,

.

.

"Aku tahu kau mencintaiku sejak kelas satu bukan? harusnya kau sudah hafal semua kebiasaan-kebiasaanku," jelasnya padaku, "Boleh aku duduk di sini?"

.

.

"Silahkan saja pak! Ehh..." aku cepat-cepat menutup mulutku, kalau-kalau bahasa yang keluar dari mulutku ini bisa membuat Pak Guru Erwin tidak betah denganku.

.

.

"Ha...ha...ha.. sudah ku bilang... ouch..." keluhnya tiba-tiba.

.

.

Tentu aku sangat kaget! Bagaimana tidak, ia sedikit meringis sambil meremas tutup botol minuman yang tadi ia bawa. Tangan yang lainnya mencengkram kain kemeja di sekitar perutnya, jangan-jangan ia keracunan makanan?

.

.

"Anda tidak apa-apa? perlu bantuan?" tanyaku khawatir,

.

.

"It's okay... it's okay, it just a litle constipacy." jawabnya menenangkan diriku, "See, I can sit by my self." ujarnya kemudian.

.

.

Aku tahu ada kebohongan pada kalimat Pak Guru Erwin tadi! Segera kuperiksa tanggal kadaluarsa jus itu. Masih lumayan jauh ternyata, ahh... kenapa aku lupa ya?

.

.

"Tadi pasti bapak makan sembarangan ya!" aku menerka-nerka apa yang terjadi sebelumnya hingga Pak Guru Erwin sakit perut seperti ini. Bukannya tadi Pak Guru Erwin pergi keluar? Pasti di luar dia makan sembarangan!

.

.

"Tidak juga, hanya tadi aku makan Tacos yang lumayan pedas. " jawabnya enteng.

.

.

"Pantas saja anda sakit perut pak. Makanan pedas juga bisa jadi penyebab sakit perut!" ujarku sebagai tanggapan sikapnya yang terlalu santai tadi. Bagaimanapun juga aku tidak tega melihatnya sakit seperti itu!

.

.

"Hahaha... ternyata ini sakit perut biasa ya... kau memang jago menganalisa penyakit Lev!" pujinya. Aku tidak begitu menanggapinya karena aku terlalu khawatir, bagaimana bisa sih dia makan sembarangan? Kalau sampai terjadi hal buruk padamu bagaimana Pak?

.

.

"Maafkan aku ya, membuatmu khawatir Levi," Pak Guru Erwin kembali meminta maaf padaku, padahal baik aku dan Pak Guru Erwin tidak ada yang bersalah sama sekali. Kami hanya sedikit salah paham, tapi lega rasanya ia sakit perut karena Tacos! Kalau benar ia kena keracunan makanan, aku pasti akan sangat panik!

.

.

.

Meski 'sakit perut' itu berlanjut, tapi kami masih menikmati sore ini bersama. Pak Guru Erwin sedikit merebahkan badannya kepadaku, kasihan sekali melihat badannya yang nampaknya sedikit lebih kurus. Tapi tetap saja berat! Aku hanya bisa menahan tubuh tegapnya semampuku.

.

.

.

.

.

~Ahh... andai aku tahu rasa sakit itu...~