Futari! by nyaneenia

Romance, drama. Teen. Akabane Karma x Nakamura Rio. OOC.

.

No profit gained, all characters belongs to Yusei Matsui- sensei.

.

Page 4: Koinobori.

AKHIRNYA KELUAR DARI WB JUGA. SAY THANKS TO BOCAH YANG PADA MAEN LAYANGAN DI LAPANGAN DEKET RUMAH ;'V

Dan sepertinya cerita kali ini alurnya kecepetan, hmm. Dan-dan-dan tanpa sadar cetik cetik tiba tiba langsung 1,7k+/dor

Yosh, happy reading minnah~

.

Prakarya kali ini, membuat Koinobori!( semacam bendera-layangan berbentuk ikan yang dikibarkan tinggi dilangit bertujuan agar sang pengibar mendapat kesuksesan.)

Dengan kecepatan Mach 20, Koro-sensei membagikan alat dan bahan untuk membuat Koinobori kepada seluruh penghuni kelas E.

"Buat dan hias Koinobori kalian, minna-san. Kuberi waktu satu jam, jika lebih dari itu nilai akan kukurangi~" Ujar Koro-sensei.

"Ha'i"

Nakamura menatap malas alat dan bahan Koinobori yang tersaji diatas meja belajarnya. Terdapat kain setengah plastik warna merah, kuning keemasan dan biru langit yang ia lupa apa namanya, gunting, cutter, lem, dan kawat. Serta beberapa cat khusus.

Entah kenapa dia sedang benar benar bosan dan Nakamura juga menjadi sensi. Mungkin karena ia sedang datang bulan. Mungkin.

Koro-sensei yang mengelilingi kelas berhenti dimeja Nakamura. "Oh, Nakamura-san, khusus untukmu, tolong buat berdua dengan Karma, karena sensei lupa beli untuknya. Kebetulan kain punyamu lebih banyak dan besar dibanding yang lain. Dekiru?"

Nakamura menatap Koro-sensei malas. "Apa aku punya pilihan?"

Koro-sensei menyeringai. "Nurufufufufu, kuanggap itu jawaban 'iya'"

Gadis berhelai emas itu mulai mengumpulkan semangatnya dan kembali bertanya kepada Koro-sensei. "Nah, sekarang Karma kemana?"

"Nah itu dia, tolong sekalian cari dia, ya."

Sensei tako itu kembali menyeringai, dan Nakamura mendengus malas seraya merapihkan alat alatnya dan berjalan keluar pintu.

"Aku buat ikan koi-nya diluar ya, sensei. Jaa, jangan ganggu aku."

BLAM.

Nagisa yang dari tadi memperhatikan Nakamura dan Koro-sensei, bertanya kepada Koro-sensei. "Sensei, aku tahu kau sengaja tidak memberikan Karma kain. Dan sengaja memberikan Nakamura-san kain lebih." Ucap Nagisa. "Kenapa kau melakukan itu?"

Koro-sensei menyeringai lagi. "Kau hebat bisa tahu aku sengaja melakukannya, Nagisa-kun." Koro-sensei mengeluarkan kameranya, mencari sebuah foto Yang Nagisa tebak adalah foto rahasia, karena tersimpan dalam sebuah folder bertuliskan 'FOTO KERAMAT' dan menunjukannya pada Nagisa.

"Douzo" Koro-sensei memberikan kameranya pada Nagisa. Lelaki shota biru itu terkejut lalu memasang seringaian. Sangat OOC.

"Hebat, hebat, ini sangat hebat Koro-sensei!" Ucapnya setengah berbisik, takut ketahuan yang lain.

"Maka dari itu, Nagisa-kun. Aku hanya ingin memberi waktu agar mereka bisa lebih dekat. Nurufufufufu~" Koro-sensei memasukan kameranya kedalam jubahnya. "Mohon rahasiakan foto 'keramat' tadi, jangan beritahu yang lain dulu kecuali sensei mengatakan ya,"

Nagisa tersenyum sumringah dan menempelkan ujung jarinya didahi, hormat. "Ayey kapten."

.

"Merah."

"Biru.

"Merah.

"Biru."

"Warna merah lebih cocok jadi warna kepalanya,"

"Tidak. Warna biru lebih cocok."

Karma geregetan dan mengambil kain berwarna keemasan yang terletak dipangkuan Nakamura. "Biar adil; warna emas."

"Dame! Warna emasnya lebih cocok dibuat jadi warna bagian badannya, biar mengecatnya lebih mudah,"

"Mau mu apa?"

Nakamura menggigit bibir bawahnya, lalu menjentikan jari. "Janken,"

Karma menyiritkan dahinya. "Heeh? Boleh. Jangan ngambek kalau aku yang menang, huh?"

"Terserah,"

.

Koro-sensei sedang asik membuat Koinoborinya yang full berwarna kuning, dan bergambar wajahnya sendiri yang sedang menyeringai. Dasar guru narsis.

Dua puluh lima nyawa murid- plus satu mesin juga masih asik membuat layang layang Koinobori milik mereka. Ngomong ngomong soal mesin, Ritsu menggunakan 'tangan'nya sendiri untuk merakit prakaryanya.

Sugaya berdiri dengan hasil prakarya ditangannya. Koinobori miliknya berwarna abu abu silver dan oranye cerah. Ia juga menambahkan corak bertema nature. Koro-sensei terkesan melihat layangan milik muridnya itu.

"Saa, Sugaya-kun, kau bisa keluar dan menggantungkan prakarya mu. Bebas dimana saja, asalkan tidak jauh jauh dari sini,"

"Ha'i, sensei"

Pemuda bersurai abu silver itu membawa hasil prakaryanya keluar. Sugaya celingak celinguk, karena bingung memilih tempat.

"Uhm, mungkin di halaman belakang akan terlihat bagus," Ucapnya pada diri sendiri.

Ia berjalan kearah belakang sekolah dan langsung mencari spot yang bagus. Dan samar samar, Sugaya dapat mendengar suara Nakamura bersama Karma. Pemuda itu menyiritkan dahinya, dan berjalan masuk kedalam hutan dimana ia merasa suara itu berasal.

Dugaannya benar, Rio dan Karma ada didalam hutan, dibawah pohon eucalyptus. Koinobori milik mereka sudah jadi, namun masih polos alias belum dihias. Kepala Koinobiri mereka berdua berwarna merah, badan berwarna kuning, dan biru sebagai ekor.

"Karma-kun, sebaiknya kau ikuti saran ku- oh hai! Sugaya-kun!" Rio memotong ucapannya sendiri karena melihat Sugaya dan langsung berlari mendekatinya, dan menarik tangan pemuda itu.

"Hoi, Nakamura-san, apaan sih?"

Nakamura melepaskan tangan Sugaya dan kembali duduk. Ia menepuk nepukan lahan disebelahnya mengisyaratkan agar ia duduk.

"Akhirnya sang master seni kelas E telah datang!, nee, Sugaya-kun, untuk menggambar hiasan dibadan berwarna kuning ini lebih baik menggunakan warna biru kan?"

"Selera mu kelewat buruk, Nakamura, tentu saja merah lebih baik,"

Sugaya hendak berbicara, suara Nakamura menginterupsinya. "Hah? Kau ini dari tadi memilih warna merah mulu kenapa sih?"

"Asal kau tahu, dari tadi kau memilih biru terus! Dan juga kau ini kenapa marah marah mulu? PMS kah?"

"Huh, jangan sok tau!"

Sugaya menggeser dirinya agar berada ditengah tengah mereka berdua dan merentangkan tangannya. "Maa, maa, jangan berantem melulu, nanti ada yang jatuh cinta,"

"Mana bisa aku jatuh cinta dengannya?!" Koor mereka berdua kompak.

"Aih, jawabnya kok kompak begitu?" Karma dan Nakamura langsung terbungkam, sementara Sugaya cekikikan. "Kalau Karma mau warna merah, sedangkan Rio warna biru, gunakan saja keduanya,"

Nakamura memiringkan kepalanya, "Maksudmu?"

"Kusarankan menggunkan warna merah diawalan, lalu lama kelamaan menjadi warna biru,"

"Oh, gradasi?" Tebak Karma.

"Yaps, betul, buat gradasi antar dua warna tersebut. Lalu dibagian tengahnya gunakan warna ungu sebagai semacam penetralnya? Begitulah,"

"Naru hodo, terimakasih Sugaya-kun!, ngomong ngomong, aku suka Koinobori milikmu," Ucap Nakamura sambil menunjuk kearah layangan dipangkuan Sugaya.

"Begitukah?" Sugaya tertawa kecil. "Oh, aku pergi dulu ya, tujuan aku keluar sebenarnya untuk menggantungkan layanganku." Ucapnya dan beranjak. "Jaa, Karma, Nakamura-san,"

Sugaya melambai dan dibalas oleh Nakamura. Karma terlihat tidak peduli dengan Sugaya dan mulai memegang kuas cat.

"Karena Sugaya bilang 'gunakan warna merah diawalan', berarti aku yang mulai melukis duluan,"

Nakamura mengeluarkan cat warna birunya. Menuangkan sedikit warna merah dan biru diatas pallet cat dan diaduk.

"Memangnya kau tau mau buat motif seperti apa?"

"Motif kita 'sedikit' berbeda dengan yang lain," Ucap Karma santai dengan penekanan dikata 'sedikit'

Nakamura yang sebenarnya masih belum menangkap maksud dari Rio tersenyum dan mengangkat kuasnya. "Sepertinya aku mengerti apa maksudmu"

.

Koro-sensei menatap satu persatu layang layangan milik para muridnya itu dengan membawa buku nilai. Terdapat total dua puluh enam layangan Koinobori warna warni milik murid, dan satu layangan milik Koro-sensei yang kelewat aneh.

Koro-sensei menghitung semua layangan dan menyiritkan dahinya bingung.

"Doushitano, sensei?" Tanya Isogai.

"Etto, sepertinya ada yang kurang.."

"Oh, iya, Nakamura-san dan Karma-kun belum mengumpulkan layangan mereka berdua," Ucap ketua kelas. "Dan dari tadi aku tak melihat mereka berdua, khususnya Karma-kun, sensei,"

"Engg, kalau Nakamura-san sensei memintanya untuk mengerjakan prakaryanya berdua dengan Karma, dan ia mengerjakannya diluar,"

Isogai membalas 'oh' dan melihat kesekelilingnya, siapa tahu bisa menemukan helaian emas atau merah begitu.

"Koro-sensei! kami selesai!"

"Nuru?" Koro-sensei menoleh kearah belakang dan mendapati dua muridnya yang ia cari cari- dengan helaian rambut, wajah, tangan, dan tambahan di betis untuk Nakamura tercoreng bahkan hampir penuh dengan cat. Mereka berdua dengan santainya mengangkat layangan mereka keatas dan menggantungnya. Karma hanya tersenyum tipis, dan Nakamura nyengir.

"Apa yang kalian berdua lakukan hah? Kalian kotor sekali! Apalagi kau, Nakamura-san!"

Karma terkekeh. "Tadi ada sedikit 'bencana' saat kami mengerjakan ini, sensei."

Nakamura juga ikut terkekeh. "So da yo! Ada sedikit 'bencana'!"

"Huh?" Koro-sensei, Isogai, dan murid kelas yang lain memasang tampang bingung.

Maehara angkat bicara. "Didalam hutan tadi, kalian berdua tidak melakukan yang aneh aneh kan?"

Karma dan Nakamura hanya tertawa kecil sambil menggeleng kuat. Teman temannya plus Koro-sensei bingung dibuatnya.

Futari! 4, owari~ ada omake dibawah

Autor not: nyane gila.

.

Dibagian badan Koinobori, Karma menorehkan kuasnya yang diberi warna ungu- membentuk garis, lalu titik titik, dan zigzag. Nakamura menjentikan jarinya.

"Oh, tribal?" Karma mengangguk.

"Tribal hanya untuk bagian tengahnya, sebagai pemisah,"

"Pemisah?" Karma kembali mengangguk.

"Kau menggambar dibagian dekat ekor, dan aku dibagian dekat kepala," Nakamura mengangguk sambil mengatakan 'oh'. "Kusarankan, kau menuliskan harapanmu di badan Koinoborinya."

"Oooh, biar keinginannya cepat terkabul?" Tebak Nakamura. Karma menggeleng.

"Biar anti mainstream,"

Nakamura tertawa kecil mendengar alasan Karma. Kemudian ia membantu Karma menggambar tribal sebagai pemisah, dan mulai menghiasi lahan miliknya.

Pertama, gadis itu menggambar 'love' ditengah. Dilanjutkan dengan torehan kanji, hiragana, dan katakana. Ada yang artinya; KORO SENSEI AKAN MATI SEBELUM KELULUSAN ditulis dengan besar besar, sukses di sekolah menengah atas, sukses di hubungan internasional, dan model. Ia meletakan kuasnya dan berpikir sejenak karena ia bingung dengan apa yang akan ia tulis lagi.

Karma melirik kearah hasil coret coretan Nakamura, lalu tertawa kecil. Nakamura menatap tidak suka pada Karma.

"Ada apa? Punyamu juga tidak kalah anehnya kok!" Ujar Nakamura sambil menunjuk bagian Karma yang bertuliskan KORO SENSEI MATI DITANGANKU, #1,

Karma berhenti tertawa. "Warui warui, aku akan menunggumu menjadi model deh,"

Nakamura menggembungkan pipinya. "Hmph, ini hanya karena sepupuku pernah menyarankannya pada ku," Gadis itu melirik balik pekerjaan Karma, dan berkomentar, "Punyamu masih terlalu polos,"

"Aku tidak tahu lagi mau menulis apa," Balasnya. "Do you have some suggestion?"

"Uhm, cinta?"

"Hah?"

"Bagaimana jika kau tulis nama orang yang kau suka?" Balas Nakamura lalu menyambar kuas milik Karma. "Biar aku saja yang tulis,"

"…Memangnya kau tahu siapa yang kusuka?"

"Tidak tahu. Kukarang saja," Ucapnya asal dan bersiap menulis, namun tidak jadi. "Aku tahu!"

"Huh? Siapa memangnya?" Karma menelan salivanya sendiri.

"Kutulis namaku saja, bagaimana?"

Kepala merah tertohok. Nakamura sudah terlanjur menuliskan kanji namanya, kecil kecil. Ditambah bentuk hati kecil disampingnya.

"..Kau ini, pede sekali? Gantian," Karma mengambil kuas Nakamura yang diletakan asal, dan menuliskan kanji namanya, kecil ditambah bentuk hati juga.

"Hoo, punyaku jadi makin penuh kan? Kalau pipimu ini kucoret boleh tidak ya?" Ujar Nakamura disertai wajah setannya dan mencoreng wajah karma dengan cat merah. Gadis itu langsung kabur setelah mencoreng pipi (mulus) Karma.

"Hoi! Kau ini!" Karma mencelupkan kuas Nakamura yang ia pegang kedalam cat biru langit dan membalas perlakuan temannya itu. Tapi karena gadis berhelai pirang itu sudah kabur duluan, Karma hanya bisa mencoreng betisnya.

"Kena kau!"

"Hee? Mau perang cat nih?" Nakamura mengambil cat merahnya. "Lets start the war!"

Jadi, Karma langsung beranjak dari duduknya dan mengejar Nakamura yang pergi menjauh. Hampir seluruh tubuh Nakamura berlumuran cat biru, sedangkan Karma bercat merah seperti darah. Koinobori sejenak mereka lupakan, dan asik berperang cat. Sampai akhirnya gadis itu ingat bahwa tidak boleh telat mengumpulkan hasil prakaryanya.

Untungnya, mereka berdua tidak telat- yaa, walaupun kena marah juga sih karena kotor.

Dan untungnya lagi, guru dan ke-duapuluh enam teman mereka tidak sadar bahwa ada kanji nama kecil Nakamura, di bagian Karma, dan kanji Karma dibagian pekerjaan Rio.

BENERAN END

ANYBODY KANGEN NYANEE?/gaak. Oh yaudah/pundung/ maen kecoak.

Udah berapa hari ya gak apdet?:3 *dihajar masa* gomen gomen, writer block emang demen banget sama nyanee, boo hoo hoo.

Untuk Maicchi-chan, tenang~ chap depan requestmu dibikinin kok~

Saa, ripiuwnya minna~

-nyanee.