NARUTO belongs to Kishimoto Masashi
Fuuinjutsu: Shikifujin
Chapter 3: Don't ever believe
that change a history means change one's fate
Naruto tak yakin harus mengatakan apa, atau bereaksi seperti apa saat berhadapan dengan ibunya yang menatap dengan ekspresi yang sama sekali asing baginya. Jadi dia menguatkan tekad, berharap reaksinya ini benar, dan membalas dengan;
"Humm... Jinchuuriki?"
Kushina mengangguk singkat dan menambahkan, "Kyuubi."
"Sebelum itu...," Naruto bergumam cepat, mengabaikan Kyuubi yang terkekeh dalam dirinya, "Jinchuuriki?!"
Setelah empat hari berada dalam tubuhnya yang berusia duabelas tahun, Naruto mulai mengerti bahwa dia mendapat pelajaran dasar shinobi dari Kushina. Setidaknya dia merasa tahu sejak ibunya memberinya latihan pengendalian chakra untuk membedakan chakranya sendiri dengan chakra Kyuubi. Kushina menghabiskan sepanjang hari itu untuk menjelaskan pada Naruto mengenai Kyuubi, Jinchuuriki, dan klan Uzumaki.
Naruto yang sudah tahu mengenai itu semua hanya mendengarkan dalam diam, namun sepertinya hal itu malah membuat Kushina curiga.
"...dan aku adalah Jinchuuriki Kyuubi sebelummu, Naruto."
"Oh...ha?"
Kushina mengamati anaknya yang saat ini tidak mau menatap matanya. Dia sudah memutuskan untuk memberitahu masalah ini sejak chakra Kyuubi keluar empat hari lalu; saat Naruto nyaris meledakkan dirinya sendiri. Dia tak ingin Naruto kehilangan kontrol lagi. Kushina menceritakannya pada Naruto agar anak itu mengerti. Naruto sendiri, setelah mendapatkan informasi itu, memutuskan untuk mulai menyusun beberapa hal yang bisa dan tidak bisa dia lakukan.
Dia bisa melakukan kagebunshin namun tak bisa memproduksi bunshin sembarangan karena, dari reaksi ibunya, dia tahu kalau seharusnya tak bisa melakukan kagebunshin. Dia bisa mengendalikan dan menggunakan chakra Kyuubi dalam batas tertentu, tapi untuk saat ini dia memilih untuk 'tidak bisa mengendalikannya samasekali'. Dia bisa melakukan rasengan tapi tak bisa menggunakan ninjutsu elemen. Dia bisa berada dalam Sennin mode, namun tak bisa melakukan Kuchiyose.
Naruto harus ingat kalau dia belum mengenal kakek Fukasaku dan nenek Shima.
Selama empat hari ini juga dia sudah mengumpulkan informasi, terutama selama menjalankan pekerjaan dari orang-orang Izuno. Mereka menyebut Kushina dan Naruto sebagai Nandemono Izu; keluarga Uzumaki dari Izu yang selalu pura-pura berperan sebagai shinobi, dan menyebut tawaran pekerjaan sebagai 'misi'.
Uzumaki Kushina, berdasar keterangan para tetangga hasil mencuri-dengar, memiliki pekerjaan utama sebagai supplier tanaman obat dan kadang menjual beberapa hasil kebunnya untuk tetangga sekitar. Suaminya tidak jelas, banyak yang bilang mereka tak pernah menikah. Untuk informasi yang satu ini Naruto sangat ingin tahu hanya saja dia tak bisa bertanya; bukankah dia seharusnya tahu?
Naruto sadar kalau dirinya paling banyak menjadi bahan pembicaraan. Dia tidak bersekolah seperti kebanyakan anak-anak seusianya di Izuno. Dia, masih berdasar keterangan para tetangga, menghabiskan masa kecil dengan membantu Kushina untuk bisnis penyewaan jasa. Dia sangat dikenal oleh seluruh Izuno karena hal itu, dan dia paling lemah kalau berhadapan dengan ibunya (untuk yang satu ini Naruto tidak membantah).
Naruto menatap telapak tangannya yang ada di atas meja; satu-satunya penghalang antara dia dan ibunya. Kushina tidak mengatakan apapun lagi setelah memberitahu bahwa dia adalah Jinchuuriki Kyuubi sebelum dia.
Naruto tahu ibunya menunggu (lagi) reaksi darinya, tapi dia tak tahu reaksi macam apa yang diharapkan oleh Kushina. Jadi dia memilih untuk mengobrol dengan Kyuubi selama jeda tersebut.
"Mungkin seharusnya... aku belum tahu tentangmu, ya?"
Kyuubi menjawab dengan nada meremehkan, "...dan kau seharusnya belum bisa berkomunikasi denganku."
"Oh... itu mustahil. Lupakan saja, mereka tak akan tahu kalau aku bisa bicara denganmu."
"Suatu saat nanti Kushina akan tahu. Bagaimanapun aku pernah ada di dalam dirinya."
Naruto menggerumbel namun hati nuraninya mengiyakan. Dia tak mau terus dinasehati Kyuubi—dari semua makhluk yang ada...
"Katanya kau dapat kerjaan dari pelanggan Onishi-kun?"
"Ya," Naruto mengangguk, meraih piring lauk yang disodorkan Kushina, "Namanya Hagi-san. Dia memintaku menggantikannya mengantar sake ke Kiri."
Sebenarnya, Hagi-san tidak memintanya. Dia sendirilah yang mengajukan diri.
"Kirigakure?" Kushina menyerahkan semangkuk nasi, "Aku memang pernah bilang kau boleh menerima pekerjaan dari luar, tapi itu terlalu jauh. Lagipula Kiri agak tak aman akhir-akhir ini."
Selama beberapa hari ini setelah pembicaraan mengenai Kyuubi, Naruto mengerti kalau ibunya mungkin berhenti jadi shinobi dan tinggal di Izuno untuk menyembunyikan Jinchuuriki Kyuubi, anaknya sendiri. Jadi, melarangnya keluar jauh dari Izuno tidaklah mengherankan.
"Aku sudah janji, Kaa-chan. Seorang Uzumaki tak akan menarik kata-katanya. Itu jalan hidupku sebagai seorang pria!"
Kushina tersenyum samar. Lalu dia mengangguk.
"Jangan merepotkan Rin-chan, Naruto. Bagaimana botol air minummu apa sudah terisi penuh? Ah, baju ganti?"
"Kaa-chan... bisa-bisa Hagi-san ragu menyewaku," Naruto membetulkan letak tatakan sake yang digendongnya, "...aku akan hati-hati. Tenang saja."
Rin mengangguk pada Kushina sebelum menggiring Naruto ke arah sekelompok pedagang yang membawa gerobak-gerobak berisi furnitur dan rempah-rempah. Kelompok ini bergerak menuju Hino Kuni, menurut Rin akan lebih menyenangkan kalau pergi secara berkelompok.
"Ini pertama kalinya kau keluar Izuno ya?"
Naruto diam sejenak lalu mengangguk.
"Oh... jangan bilang kalau kau pernah diam-diam keluar?" Rin tertawa, "Kushina-san selalu curiga kalau kau sering melakukan itu!"
Tak tahu apa yang harus dikatakan, Naruto hanya menyeringai.
"Jangan lakukan itu lagi ya. Dia benar-benar khawatir. Apalagi saat menemukanmu dalam kondisi begitu—ah, lihat pohonnya! Mau musim gugur..."
Setelah itu Rin berceloteh mengenai jenis pohon dan tanaman yang mereka lewati sepanjang perjalanan. Ketika matahari benar-benar terbenam dan pemimpin rombongan memutuskan bahwa tidak aman melanjutkan perjalanan melewati tebing curam dalam kondisi gelap, Rin mengajak Naruto menggelar kantung tidur mereka di bawah pohon besar. Naruto memastikan sake-nya tersimpan aman sebelum menerima bungkusan onigiri dari Rin. Mereka makan dengan tenang selama beberapa saat.
"...kau berubah. Akhir-akhir ini jadi lebih... tenang?"
Naruto terbatuk, tersedak nasi yang terlalu cepat ditelan. Rin menepuk punggungnya keras-keras dan menyodorkan botol air.
"Eh?" Naruto mendongak sambil mengelap mulut, wajahnya merah.
"Ehm, begini; Kau tak menolak semua pekerjaan yang sebegitu banyak...padahal Kushina-san hanya bermaksud untuk mengalihkan perhatianmu saja."
Kali ini Naruto tahu harus mengatakan apa karena Rin terus menatapnya hingga dia merasa tidak nyaman. Mungkin dia harus mengingat-ingat kelakuannya saat berusia duabelas?
Naruto menerima pekerjaan dari Hagi si kurir sake karena dia memasukkan masalah Kiri ke dalam daftar yang harus dia selesaikan. Naruto tidak tahu apakah nanti akan bertemu dengan Haku, Zabuza, Tazuna, Inari... Dia tak tahu sejauh mana sejarah telah berubah. Sebagian dirinya berharap sejarah tidak berubah sejauh itu. Gato yang pernah disebut oleh Hagi-san 'pernah' eksis di Kiri 'kan?
Dia dan Rin berpisah dengan rombongan ketika sampai di Namino Kuni. Rin memanggil tukang perahu segera setelah mereka mencapai dermaga Kiri.
"Apa tujuan kalian ke desa kami? Bukan untuk senang-senang sepertinya..."
Rin membalas ucapan tukang perahu, "Kami hanya mengantar pesanan."
"Wah... tak ada yang bisa menjamin keselamatan barang pesanan kalian lho."
Rin dan Naruto saling berpandangan tapi tak mengatakan apapun. Setengah jam kemudian perahu mereka merapat ke dermaga. Baru saja menginjakkan kaki ke atas papan kayu dermaga, laki-laki dengan tampang tak ramah memanggil dan menunjuk.
"Hei, kalian! Sebutkan identitas dan tujuan!"
Rin mengangkat tangan sebelum Naruto sempat membuka mulut, "Kami mengantar sake untuk Gato."
Mata laki-laki itu menyipit curiga. Beberapa orang mundur teratur.
"Sake?"
"Ya. Sake. Sake dari Izuno," Rin menunjuk tumpukan tatakan kayu yang digendong Naruto, "Bisa tunjukkan dimana Gato tinggal? Biar bisa kami antar?"
"Huh, Izuno? Kalian bukan kurir yang biasanya."
Kali ini giliran Naruto bicara, "Hagi-san perlu istirahat jadi dia memintaku menggantikannya."
Segera setelah pernyataan itu, mereka digiring menuju hunian termewah di daerah tersebut. Menurut Hagi, Naruto hanya perlu menyerahkan sake pada penjaga dan mendapatkan cap penerimaan.
Mereka kembali ke kawasan dermaga setelah mendapat cap yang dimaksud.
"Nah... Apa kita istirahat dulu?" Rin mengawasi plakat penginapan kumuh dan kerumunan orang berpakaian lusuh, "Desa ini menyedihkan, lihat...," matanya mengawasi tumpukan lobak busuk dan anak yang menjajakannya. Anak itu sedang menasehati anak yang lebih kecil, yang kelihatannya telah mencuri roti kukus dari suatu tempat.
"Aku nggak mencurinya! Kakak ninja memberiku ini semua!"
Ketika Rin masuk penginapan terdekat, Naruto menghampiri kedua anak yang berdebat.
"Hei... Kakak ninja itu, apa dia dari Konoha?"
Si anak mengangguk, Naruto menyeringai. Tim Konoha, entah siapapun itu, mungkin sekarang ada di rumah Tazuna. Nah, apa yang akan dia lakukan?
Naruto mengutus satu bunshinnya untuk menemani Rin sedangkan dia sendiri melakukan Henge dan berkeliaran di sekitar konstruksi jembatan Tazuna. Dia bisa melihat Tenten mengobrol dengan Tazuna yang sedang memaku papan titian dan membatin, "Timnya Gai-sensei, heh?!"
Menguatkan tekad, Naruto mendatangi Tazuna dan menyapa, "Halo. Kudengar kau butuh tenaga sukarelawan?"
Tazuna mendongak untuk menatap laki-laki berusia duapuluhan dengan rambut hitam dan warna mata biru, "Kau. Bukan dari sekitar sini?"
Naruto memikirkan jawabannya selama beberapa saat.
"Ibuku berasal dari sini. Namaku—Gama... Gamatatsu."
Tenten menyimpan dengusan tawanya dan segera memasang senyum meyakinkan. Naruto membalas senyuman itu dengan seringai. Hanya nama itu yang terlintas di pikirannya.
"Baiklah. Gama-kun," Tazuna sedikit mengernyit, "Orangtua macam apa yang memberi nama 'Gama' pada anaknya...?"
"Orangtua semacam orangtuaku," Naruto mengangkat bahunya, tampak tidak terpengaruh dengan nada keheranan Tazuna.
"Kapan kau bisa mulai kerja? Tahu betul istilah 'sukarelawan' 'kan?!"
"Ya, tentu saja. Aku bisa mulai kerja kapanpun."
"Pengalaman di bidang konstruksi?"
Naruto menggeleng, "Aku sangat percaya diri dengan kemampuan fisik. Banyak yang bilang pekerjaan otak tak cocok buatku."
Tazuna menunjuk tumpukan kayu dan memberi instruksi, "Pindahkan ke sebelah sana—lalu kau juga harus mengenalkan diri pada yang lain. Itu Uro di sana—Yama, Ikkin, lalu Hon. Kerjakan dengan hati-hati."
Naruto mengangguk dan segera bergerak. Mula-mula dia memindahkan semua kayu sambil mengenalkan dirinya. Setelah selesai dengan pekerjaan itu dia diberi pekerjaan lain, dan mulai membantu membuat pondasi. Menjelang matahari terbenam dan seluruh pekerja beranjak pulang, Tazuna mengundangnya makan malam sebagai ucapan terima kasih. Awalnya Naruto bermaksud menolak tapi dia tak bisa menemukan alasan untuk menolaknya.
"Mereka ninja Konoha yang kusewa."
Tazuna memberi penjelasan saat semua orang duduk berkerumun di meja makan. Naruto mengangguk pada Maito Gai, tersenyum pada Tenten, menatap sekilas pada Neji (yang tidak membalas tatapannya), dan melambai pada Lee. Tim Gai... tak kurang suatu apapun. Sejarah hanya berubah untuk dirinya sendiri, sepertinya...
"Ini... cucuku, Inari. Lalu itu anakku Tsunami."
Naruto menatap Inari. Sejarah juga tidak berubah di Kiri.
"Jadi... Gama-san. Dimana kau tinggal?"
"Ehm... agak ke selatan," Naruto menjawab, tidak melihat tatapan Gai saat melakukannya.
"Penduduk sini?"
"Ibuku orang sini," dia tak mengerti kenapa Gai begitu peduli. Lalu dia ingat: Byakugan. Henge yang dia lakukan... dan Byakugan. Bagaimana dia bisa lupa...
"Gama-san, kau ini... shinobi?"
Dia bisa melihat Tenten dan Lee langsung bersiaga dari tempatnya duduk. Tenten meraih kunai diam-diam, Lee memasang kuda-kuda, dan Neji menatapnya. Tapi Naruto hanya berdiri pelan sambil mengangkat kedua tangannya dengan sikap defensif.
"Aku tak bisa bilang 'ya' karena aku bukan shinobi... hanya pernah diberi ketrampilan shinobi, " Naruto tak tahu apakah keterangan ini bisa dibilang jujur, dia memang bukan shinobi untuk saat ini, "...dan tujuanku hanya membantu Tazuna menyelesaikan jembatan. Itu saja!"
"Gai," Tazuna berkata lelah, "Aku sendiri yang mengundangnya kemari. Lagipula menurutku dia bukan ninja suruhan Gato."
"Tazuna-san, mencurigai orang juga salah satu pekerjaan ninja. Aku tak bisa percaya begitu saja walau Anda sudah bilang 'tak apa', dan lagi, aku tak bisa percaya pada seseorang yang menggunakan Henge untuk berinteraksi dengan orang lain."
Naruto mengangguk, "Begini—,"
"Tujuanmu bukan hanya membantu penyelesaian jembatan 'kan?"
"Gai. Menurutku dia bicara jujur. Lagipula mungkin ada alasan bijak di balik Henge itu."
Tapi Gai menghiraukan Tazuna, masih mengawasi tamu mereka. Naruto berpikir cepat.
"Ayahku ninja dari Mizu," Naruto memulai sandiwaranya—dia jadi semakin mahir berbohong sejak harus memikirkan alasan untuk para wanita yang dipermainkan Sennin-mesum, "Dia— bertemu dengan ibuku di sini," Naruto mengangkat wajahnya dan menatap Gai dengan percaya diri, "Ibu sering cerita tentang tanah kelahirannya, dan setelah dia meninggal aku sangat ingin tahu, lalu memutuskan datang kemari. Tapi ternyata Kirigakure sudah menjadi seperti ini," dia mengalihkan pandangannya pada Tazuna, "Lalu soal Henge: banyak orang salah mengiraku sebagai ayah karena wajah kami mirip. Karena reputasinya yang tak begitu baik, aku jadi harus sering menggunakan jutsu. Dia banyak memberiku pengetahuan shinobi tapi aku sendiri bukan shinobi."
Hening selama beberapa saat.
"Bisa kau batalkan jutsu itu? Tak ada seorangpun di sini yang akan salah menganggapmu sebagai... ehm, ayahmu. Hanya untuk memastikan... dan kau tak akan bisa menipuku—," Naruto bisa melihat Gai mengangguk terang-terangan pada Neji. Dia tidak membicarakan soal Byakugan, tapi Naruto sangat mengerti maksud 'tak bisa menipu' itu. Jelas sekali mereka akan memeriksanya dengan Byakugan! Dia harus memikirkan trik lain...
"Tak bisa."
"Hm?"
"Ayahku masuk bingo book. Dia ninja buronan kelas A. Aku juga tak bisa mempercayaimu, tahu! Dia masih ayahku dan aku harus melindunginya. Kalau mereka tahu dia punya anak..."
Gai memandangnya selama beberapa saat, sepertinya menimbang sesuatu, lalu akhirnya berkata dengan nada final, "Baiklah. Jadi tujuanmu hanya membantu Tazuna-san."
Naruto mengangguk semangat, "Itu yang dari tadi kukatakan!"
Tenten berdiri dari kursinya dengan tiba-tiba, tampak keberatan dengan keputusan gurunya, "Gai-sensei...!"
"Tenten," Gai memberi gestur pada Tenten untuk duduk, "...yang perlu kita lakukan hanya mengawasi orang ini. Dia tak akan berkutik kalau melawanku. Ha...ha...haa..."
Tenten menggumamkan, "...bukan begitu, tapi...," namun Gai masih terus terbahak.
Naruto memaksakan diri tertawa; satu masalah selesai, atau mungkin belum selesai samasekali...
"Darimana saja?!"
"Eh..."
Rin mengetuk ambang pintu dengan jemarinya, menunduk pada Naruto yang panik setelah mengetahui bunshin yang dia tinggalkan ketahuan.
"Na-ru-too?"
"Aku...," dia tahu tak ada gunanya mengelak, "...melihat pembuatan jembatan."
Rin memandangnya tanpa berkedip, kelihatannya sangat gusar, "Aku tak pernah tahu kalau Kushina-san mengajarimu ninjutsu tingkat lanjut. Mengagetkanku saja... bunshin."
"Ehm... ya."
"Minggu lalu, Kau bahkan tak tahu bagaimana caranya membagi chakra untuk membuat bunshin!"
"Aku cepat belajar."
Rin masih memandangnya dengan tatapan tak percaya, sementara Naruto mulai menanamkan dalam pikirannya kalau wanita bernama Rin ini adalah shinobi—atau mungkin dokter yang punya pengetahuan chakra shinobi; sebaiknya hati-hati menggunakan jutsu di depan wanita tersebut.
"Kau bisa bilang padaku kalau mau jalan-jalan, tak usah pakai bunshin untuk mengelabui!"
"Maaf..."
"Apa kau pikir Kushina-san menyuruhku benar-benar mengawasimu?" Rin tidak menunggu jawaban Naruto saat melanjutkan kalimatnya, "... kalau kau pikir begitu, maka jawabannya memang iya. Kau sudah tahu soal Kyuubi 'kan? Kau mengerti kenapa ibumu melakukan ini 'kan?!"
Entah kenapa Naruto tidak menyesal samasekali. Bagaimanapun menurut hukum ninja usianya sudah lebih dari cukup untuk membuat keputusan sendiri. Bagaimana dia bisa memperbaiki kesalahan yang dia buat sendiri kalau masih diawasi seperti ini?!
"Cepat putuskan!"
Naruto tahu, seharusnya dia berhenti mendengar nasehat-nasehat Kyuubi. Tapi dia tak bisa mengingkari kalau nasehat Kyuubi jauh lebih efektif daripada keputusannya sendiri. Naruto bergerak cepat dan memukul tengkuk Rin, berbisik jelas dan keras sebelum wanita itu pingsan.
"Sampaikan pada Kaa-chan... aku akan baik-baik saja!"
