Shin'ainaru, Koko De Shūryō

Chap. IV

.

.

.

Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi-sensei

.

.

.

Warming : Gaje, Typo(dimana-mana), OOC (mungkin) !

.

.

.

Tetsuya mengerjapkan matanya berulang kali. Ia pun membuka matanya dan melihat Takao yang tengah menyibakan tirai jendela kamarnya. Senyum ceria pun diberikan Takao pada Tetsuya yang masih mengucek matanya dengan bedhairnya.

"Ohayou Techan."

"Ohayou Takao-kun."

"Mau sarapan atau mandi dulu Techan ?"

"Maaf membuat mu repot Takao-kun."

"Kau sudah sering berkata seperti itu, sudahlah Techan kau itu sahabat ku juga ko jadi apa salahnya menolong sahabat sendiri kan, nah nah nah bagaimana pilihan mu ?"

"Aku mandi dulu Takao-kun."

"Baiklah aku tunggu diruang makan ya Techan dan nanti ku bantu ganti perban di kaki dan lengan mu ya."

"Ha'i."

Selesai mandi, Tetsuya menemui Takao diruang makan. Ya mereka sarapan dengan nasi goreng buatan Takao. Selama sarapan, Takao banyak bercerita mengenai hubungannya dengan Midorima, Tetsuya hanya mendengarkan dan juga memberikan pendapat beberapa kali selama Takao bercerita.

Setelah sarapan, Tetsuya yang mencuci gelas dan piring dan Takao menyiapkan perban. Selesai mencuci piring dibantu Takao, Tetsuya mengganti perban di lengan dan kakinya.

Drrt...Drrt...Drrt...

Tetsuya pun mengambil ponselnya dan melihat nama Akashi Seishirou menelfonnya. Tetsuya sangat ragu untuk mengangkat telfon itu, namun bila tidak di angkat pun Tetsuya merasa tidak enak. Akhirnya walau ragu, Tetsuya mengangkat telfon itu.

"Moshi-moshi."

["Tetsuya."]

"Ha'i Seishirou-sama."

["Apa kau ada waktu siang ini ?"]

"Maaf, kalau boleh tau ada apa Seishirou-sama ?"

["Temani aku makan siang, dan ada hal yang mau ku sampaikan pada mu, bagaimana Tetsuya ?"]

"Baiklah, dimana aku bisa menemui Seishirou-sama ?"

["Di restoran Frozen saja, apa perlu ku kirim buttler untuk menjemput ?"]

"Tidak perlu, aku akan datang sendiri Seishirou-sama."

["Ya, baiklah. Sampai nanti Tetsuya."]

"Ha'i."

Takao pun tersenyum saat melihat Tetsuya menaruh kembali ponselnya dimeja, ya Takao tahu dengan siapa Tetsuya berbicara tadi.

"Jadi apa mau ku antar, siang ini aku mau ke tempat Shin-chan."

"Baiklah Takao-kun."

"Apa Akashi-kun akan datang juga ?"

"Aku tidak tahu, Seishirou-sama hanya meminta ku datang ke restoran frozen untuk menemaninya makan siang dan juga ada hal yang di sampaikan pada ku."

"Ya baiklah ku antar kesana dan selalu aktifkan ponsel mu, kalau perlu bantuan ku jangan sungkan hubungi aku ya Techan, ingat kita sahabat. Lagi pula aku dapat tugas dari Shin-chan menjaga mu sampai pulih kalau aku lalai Shin-chan mengancam akan membatalkan pernikahannya dengan ku hehehe."

"Heh ? Benarkah ?"

"Walau terlihat jutek dan Tsundare, Shin-chan sangat peduli pada mu Techan, dia sahabat yang baik."

"Kau benar Takao-kun, Midorima-kun punya cara sendiri menyampaikan perhatiannya."

"Hahaha kau benar Techan, nah sekarang ayo kita latih kaki mu untuk berjalan bagaimana ?"

"Baiklah."

.

.

.

Takao mengantarkan Tetsuya sampai bertemu dengan buttler Seishirou dan setelahnya Takao dan Tetsuya berpisah. Tetsuya pun menunggu diruang VIP yang memang sudah dipesan oleh Seishirou. Tetsuya cukup tegang dengan pertemuannya kali ini, pertama ia harus bisa berbohong soal lukanya dan harus bisa dipercaya, dan kedua, penasaran mengenai hal yang akan disampaikan padanya. Tidak lama Seishirou datang ke ruangan itu, dan Tetsuya dengan bantuan tongkatnya berdiri untuk membungkukan badan memberi salam.

Seishirou melihat kondisi Tetsuya yang menurutnya memperihatinkan pun menghampirinya dan membantu Tetsuya untuk duduk kembali. Jujur Tetsuya sangat terkejut dengan sikap Seishirou padanya.

"Maaf membuat Tetsuya menunggu."

"Tidak apa Seishirou-sama."

"Nah aku sudah memesan banyak makanan jadi kau harus makan yang banyak agar cepat pulih Tetsuya dan ini ku bawakan minuman kesukaan mu." Seishirou pun memanggi salah satu buttlernya dan menyuruhnya untuk memberikan sebuah kantung plastik pada Tetsuya.

Tetsuya hanya tersenyum saat melihat plastik itu yang ternyata berisi vanilla milkshake.

"Minumlah Tetsuya."

"Terima kasih Seishirou-sama."

"Nah, kita makan dulu baru bicara ya."

"Baik."

Tetsuya merasakan hangatnya keluarga kembali, Seishirou sangat perhatian padanya saat ia sedang menyantap makanannya. Tetsuya yang biasanya tidak mampu menghabiskan makanan dalam porsi yang banyak, saat ini ia mampu menghabiskan porsi yang Seishirou berikan padanya. Perasaan bahagia menjadi obat tersendiri untuk hatinya yang tengah terluka, ya Tetsuya sangat bahagia saat ini.

Acara makan siang selesai, dan beberapa pelayan menyediakan hidangan penutup untuk Tetsuya dan Seishirou. Tetsuya bisa melihat kalau Seishirou berkali-kali menghela nafas, tindakan yang cukup asing dan aneh tentunya.

"Maaf Seishirou-sama, kalau boleh tahu hal apa yang mau disampaikan pada ku ?"

"Ya Tetsuya maaf membuat mu menunggu. Ini mengenai Seijuurou."

Tetsuya tidak menjawab namun tetap memperhatikan semua kata yang keluar dari mulut Seishirou. Tetsuya sudah bisa menebak mengenai topik pembicaraan mereka saat ini. Rasanya memang masih sakit kalau dibahas sekarang namun lebih cepat terselesaikan masalahnya dengan Seijuurou maka semakin baik pula untuknya.

"Kau pasti mengetahui mengenai peristiwa yang di alami oleh Kazuya Misaki."

Yap, topik pembicaraan ini sangat tidak terduga oleh Tetsuya. Sekali lagi, Tetsuya tidak menjawab dan hanya menganggukan kepalanya dan memperhatikan Seishirou.

"Seijuurou melarang ku untuk mengatakan hal ini pada siapa pun termasuk kau Tetsuya. Misaki adalah anak rekan kerja ku Kazuya Hiroma, hubungan Seijuurou dan Misaki sudah ku ketahui. Bahkan sampai kematian Misaki pun aku mengetahuinya tapi apa kau percaya kalau semua itu bukan salah Seijuurou ?"

"J-jadi anda sudah tahu mengenai Misaki-san dan jujur saja aku memang pernah mencuri obrolan antara Sei dan Misaki-san dan yang aku dengan Sei menghamili Misaki-san dan Sei meminta Misaki-san untuk menggugurkannya dan itu yang menjadi penyebab kematian Misaki-san. Dan aku tidak paham mengenai pertanyaan anda mengenai aku percaya atau tidak kalau itu bukan perbuatan Sei."

"Ya Tetsuya tepat seperti yang Seijuurou beritahu pada ku mengenai hal yang kau tahu. Baiklah akan ku ceritakan mengenai hubungan Misaki dan Seijuurou. Memang aku berencana untuk menjodohkan mereka saat aku tahu bahwa ada hubungan khusus antara keduanya, namun ternyata Misaki bukan wanita yang baik dan berselingkuh dibelakang Seijuurou dengan Haizaki Shogou dan aku percaya kau mengenal Haizaki. Seijuurou memang pernah melakukan hubungan tubuh dengan Misaki namun sebelumnya Misaki sudah terlebih dulu melakukannya dengan Haizaki berulang kali dan kehamilan Misaki bukan karena Seijuurou tetapi karena Haizaki namun karena Haizaki menolak untuk bertanggung jawab maka Misaki berencana melimpahkan tanggung jawab itu pada Seijuurou. Tentu saja Seijuurou sudah mengambil satu langkah kedepan dan mengetahui terlebih dulu mengenai kehamilan Misaki dan siapa yang menghamilinya juga mengenai penolakan Haizaki bertanggung jawab, sebelum Misaki mengatakan mengenai kehamilannya pada Seijuurou. Mungkin Seijuurou terlihat kejam dengan menyuruh Misaki menggugurkan kandungan tapi percayalah Seijuurou bahkan siap bertanggung jawab setelahnya Seijuurou hanya tidak bisa menerima Misaki karena anak yang dikandungnya. Tapi takdir berkata lain, Misaki melakukan proses aborsi secara ilegal ditempat yang bahkan Seijuurou tidak tahu dan berakibat dengan kematian Misaki sendiri. Setelahnya Seijuurou terlihat sangat terluka dan kehilangan dari situ juga sikapnya menjadi dingin kepada siapa pun."

Tetsuya tanpa sadar meneteskan air matanya, ia salah menilai Akashi. Kebenaran yang membuat Tetsuya menyesal karena sudah bersikap bodoh kepada Akashi yang jelas adalah suaminya. Rasa bencinya tumbuh karena ia salah memahami Akashi.

"Kau tidak salah Tetsuya, kau wajar menilai seperti itu karena kau tidak tahu bagaimana kebenarannya. Ah bahkan Seijuurou sadar kau menyukainya saat masa di Teiko dulu, hanya saja ia bimbang karena ia pun mencintai Misaki dan juga mencintai mu dalam waktu yang bersamaan. Tapi melihat mu memandang Seijuurou dengan tatapan jijik dan benci menghancurkan Seijuurou dan sikapnya menjadi semakin buruk saja."

"D-darimana anda tahu itu ?" Tanya Tetsuya sembari menahan isakannya.

"Seijuurou anak yang baik dan penurut sebelumnya tidak seperti saat ini. Dia dulu banyak bercerita apapun tentang kehidupannya pada ku, kau tahu aku memegang peran single parents saat ibunya meninggal."

Seishirou pun berpindah tempat ke samping Tetsuya dan memeluknya. Isakan Tetsuya pun keluar dan Tetsuya menangis dalam dekapan Seishirou.

"Wanita yang Seijuurou bawa ke rumah kalian adalah kekasih Seijuurou. Seijuurou melakukan itu karena ia putus asa karena kau sama sekali tidak berubah masih menatap benci dan jijik padanya. Pernikahan mu permintaan Seijuurou dan ku kira dengan pernikahan bisa membuat kalian bersatu dan membuat Seijuurou bahagia, nyatanya justru menyakiti mu Tetsuya, aku meminta maaf untuk itu semua Tetsuya."

Tetsuya tetap terisak dalam dekapan Seishirou. Nyatanya, Seijuurou bukanlah seburuk yang ia selalu kira selama ini. Dan Seishirou yang terlihat dingin ternyata sosok orang tua yang hangat dan mengerti mengenai anaknya. Dua kejutan yang Tetsuya terima mengenai keluarga Akashi itu.

.

.

.

Seishirou sudah pergi, Tetsuya menolak untuk diantar Seishirou. Ia ingin menenangkan dirinya, kebenaran yang ia terima sungguh membuatnya semakin bingung harus berbuat apa.

Kini Tetsuya berdiri didepan pintu rumahnya dan juga Akashi. Entah, apa yang membuatnya harus kembali ke rumah itu. Tetsuya pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah besar itu, beberapa maid menyambutnya dan menanyakan keadaan Tetsuya dengan ramah Tetsuya menjawab semua pertanyaan itu. Setelahnya Tetsuya dengan bantuan maid naik ke lantai dua untuk ke kamarnya. Ya Tetsuya sudah tahu tujuannya untuk mengambil laptopnya dan menyelesaikan tulisannya untuk bisa dirampungkan menjadi novel. Setelah berhasil naik ke lantai dua, Tetsuya meminta maid itu meninggalkannya dan Tetsuya pun berjalan menuju kamarnya. Saat melewati ruang keluarga, Tetsuya mendengar dentingan piano mengalun. Tetsuya pun mengintip ke dalam ruangan itu dan Akashi ternyata ada diruangan itu seorang diri dengan jari-jari yang menari di atas tuts piano itu.

Tetsuya enggan menegur dan lebih baik kalau Akashi tidak mengetahui kedatangannya. Masuk ke dalam kamar Tetsuya pun memasukan ke dalam tas barang-barang yang ia perlukan. Saat sudah selesai, Tetsuya menyampirkan tasnya ke bahunya dan dengan bantuan tongkat Tetsuya keluar dari kamar untuk pulang ke Takao yang pasti khwatir karena ia tidak segera pulang dan tidak memberi kabar pula.

Tetsuya menyesal karena menyuruh maid tadi tidak menemaninya karena ia bingung untuk bisa turun dari tangga. Nekat pun akan berakibat cederanya tidak akan pulih dengan segera.

"Tetsuya."

Tetsuya terdiam ditempat. Sebuah tangan mendarat di kedua bahunya dan Tetsuya tidak sama sekali bisa bergerak.

Akashi awalnya tidak percaya melihat Tetsuya di dekat tangga dan begitu ia menyentuh Tetsuya ternyata itu bukan mimpi tapi kenyataan. Tanpa Tetsuya sadari Akashi tersenyum tulus. Akashi pun memutar tubuh Tetsuya untuk berhadapan dengannya. Ia melihat Tetsuya dari atas sampai bawah. Luka-luka di tubuh Tetsuya sepunuhnya kesalahannya dan membuat Akashi semakin merasa terpuruk dan bersalah.

"Tetsuya ada waktu untuk berbicara sebentar, setelahnya aku berjanji akan menuruti semua permintaan mu termasuk menceraikan mu."

Tetsuya hanya mengangguk setuju. Akashi dan Tetsuya berada di dalam ruang keluarga, keduanya masih terdiam dan menatap satu sama lain.

"Tetsuya, kenapa kembali kesini ? Tidak kah kau takut dengan ku."

"Ada yang harus ku ambil Sei, dan aku tidak takut pada mu."

"Sei ? Kau terlalu baik Tetsuya, jangan bilang kau memaafkan ku sebelum aku meminta maaf pada mu."

"Ya tepat seperti yang Sei katakan."

"Baiklah pertama, aku meminta maaf atas semua perlakuan ku pada mu."

"Ku maafkan."

"Semudah itu ?"

"Tentu, apa kau mau melakukan sesuatu untuk ku agar aku memaafkan mu ?"

"Itu lebih baik daripada kau memaafkan aku begitu saja."

"Baiklah kalau begitu jelaskan bagaimana perasaan Sei pada ku dan siapa wanita yang kau bawa setiap harinya dan tentang Misaki-san. Aku meminta kejujuran Sei."

"Kau bertemu Otou-sama ?"

"Tidak."

"Kau berbohong."

"Tidak."

"Kalau kau berbohong, hidung mu memerah Tetsuya."

Tetsuya pun langsung memegang hidungnya dan tingkahnya membuat Akashi tertawa. Tetsuya pun ikut tertawa. Ya, baru kali ini mereka mengobrol tanpa bertengkar dan tertawa bersama setelah menikah.

Lalu Akashi menceritakan semuanya dan sangat tidak jauh berbeda dengan yang di sampaikan Seishirou. Tetsuya senang karena semuanya telah terungkap kebenarannya. Dan satu hal yang membuat Tetsuya bahagia, saat Akashi mengatakan.

"Jujur aku senang kau mencintai ku Tetsuya, dan terserah kau percaya atau tidak. Aku pun mencintai mu Tetsuya. Mungkin kau tidak akan percaya karena hubungan ku dengan wanita-wanita itu tapi sungguh aku sudah memutuskan hubungan ku dengan mereka, dasar hubungan ku dengan mereka bukan karena rasa sayang namun karena harta dan pemenuhan biologis saja."

"Kau terlihat seperti sedang membela diri setelah ketahuan selingkuh oleh istri mu Sei."

"Nyatanya seperti itu Tetsuya, apa kepala mu terbentur dan lupa kalau kau masih berstatus istri ku."

"Ya, kau benar Sei dan nyatanya kau terlihat seperti benar-benar meyakinkan ku kalau kau sudah tobat dari perselingkuhan mu."

"Aku benarkan ucapan mu kali ini Tetsuya."

"Lalu apa kau sudah melihat kotak merah di bawa meja baca ku Sei ? Aku kehilangan semua isi kotak itu di kamar."

"Itu milik ku Tetsuya, harusnya kau berikan kado-kado itu saat ulang tahun ku tapi tidak apa, aku masih menerimanya walau sudah terlewat selama 3 tahun. Dan apa Shintarou dan Daiki tahu kau kesini ? Aku tidak mau Daiki mengamuk dirumah karena menuduh ku menculik mu Tetsuya."

"Apa kau merasa menculik ku Sei ?"

"Ide bagus Tetsuya, bagaimana kalau kau, ku culik untuk berlibur ke pantai, besok akhir pekan."

"Aomine-kun akan mengamuk kalau kau menculik ku bahkan Midorima-kun akan ikut mengamuk."

"Mereka masih menurut pada ku kalau sudah ku keluarkan Hasami-chan."

"Kau tidak berubah Sei."

"Kau pun sama, jadi bagaimana kau ku culik saat ini juga ? Pemadangan pantai bisa membuatnya mu nyaman menyelesaikan novel mu."

"Tidak bagus mengulik privasi orang Sei."

"Hanya mengulik privasi istri sendiri."

"Tetap saja Sei, itu tidak baik."

"Ya, baiklah aku minta maaf. Sekarang kau bersiap dan ku culik kau tiga puluh menit lagi."

"Baiklah tuan penculik."

"Panggilan yang menggelikan Tetsuya, bisa kau ganti ?"

"Tidak itu sudah sesuai untuk mu dan culik aku dari kamar setelah aku selesai berkemas, aku ragu untuk menuruni tangga sendiri dengan kondisi ya kau bisa lihat sendiri Sei."

"Ya dan minta maid menyiapkan perban dan kebutuhan untuk merawat luka mu juga Tetsuya, sekali lagi aku malas berurusan dengan ceramah medis dari Shintarou kalau aku tidak merawat mu dengan baik."

"Baiklah Tuan Penculik."

-T.B.C-

Yosh ! Chap ini selesai :)

Terima kasih untuk semua yang sudah review yaaa :)

Daaaaaannnnnnn silakan berikan komentar kalian lagi di kolom review untuk chap ini yaaahhhhhhh...

Sankyuuuu...

Jaa na... (^o^)v