This Vampir Wants You
4 : Dance
.
.
.
Idea(s):
Eye Candy (MTV)
Winter Woods (Webtoon)
N.C.S.I. : Los Angeles (AXN)
C.S.I.'s Walk of Fame (FoxCrime)
.
.
.
.
.
—Sabtu, 31 Oktober 2015; pukul 5.30 PM; suatu tempat di Tokyo—
"Kau akan pergi?"
Langkah kaki seorang pria terhenti di ambang pintu yang terbuka. Suara lembut yang baru saja bertanya membekukan seluruh ototnya dan mengirim rasa dingin di sepanjang pembuluh darahnya. Ia tak berbalik ke belakang, tidak. Bahkan dalam lorong sempit tak bercahaya ini ia bisa mengetahui tatapan memohon yang terus mengarah ke punggungnya. Hanya saja tatapan itu dapat membuatnya mencengkram gagang pintu lebih keras.
Pria itu meneguhkan dirinya sebelum membalas, "Ya."
"Pekerjaan yang sama?" tanya suara itu lagi, yang datang dari wanita muda yang berdiri lima langkah di belakangnya.
Ada jeda untuk pria itu membuka bibirnya. Ia sedang berpikir apakah perlu menjawab pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya oleh si penanya. Tapi, pada ujungnya, ia selalu merasa tidak tega. "Ya."
"Apakah kau…" wanita itu tanpa sadar menahan napas, berusaha menahan lara yang nampak pada suaranya. "…harus pergi?"
"Aku mungkin akan lama, Koumi. Tidurlah duluan tanpa aku."
"Tapi—!" seru wanita itu, sebelum menelan bulat-bulat ludahnya. "Tapi kau tahu aku tak bisa memejamkan mata tanpamu." Intonasinya kembali lara dan penuh permohonan. Pria itu tahu, bahkan tanpa menoleh, bahwa wanita itu sedang memain-mainkan jemari tangannya dengan gelisah.
Setelah sebuah helaan napas, pria itu melangkah melewati ambang pintu. "Aku harus pergi." Dan menghilang bersama pintu yang dikunci dari luar.
-:-
-:-
-:-
—'Medusa' Night Club, Harajuku; waktu yang sama—
Alunan musik menggelegar dari setiap sudut ruangan, memekakkan telinga siapapun yang baru saja menginjakkan kaki melewati pintu di bagian belakang sebuah toko bunga di sudut Tokyo, untuk memasuki klub malam tersembunyi penuh dengan pemuda-pemudi yang mengenakan berbagai macam kostum. Mereka berdansa, berteriak, meloncat, berbicara dalam ratusan jenis suara berbeda yang membuat Akashi Seiko langsung sakit kepala. Apalagi hentakan ritme elektro yang khas ditambah suara nyaring Icona Pop dalam lagu 'I Don't Care', hanya membawa kenangan memalukan tadi siang muncul kembali ke benaknya.
And not to mention she's with her source of embarrassment, standing right next to her.
Nijimura Shuuzou tak banyak bicara dalam perjalanan. Ia sempat bertanya alasan mereka ke mari, dan selebihnya hanya mengikuti Akashi seperti anak itik mengikuti induknya. Namun Akashi tahu matanya selalu mengawasi, mencermati keadaan, menghapal letak berbagai hal, mencari sesuatu yang ganjil, sambil menutup bibir yang tertekuk itu rapat-rapat.
Untuk sesaat ia tak mengkhawatirkan polisi muda itu. Sosoknya cukup membaur dengan keadaan pesta di sekeliling mereka. Ia tak memamerkan senjata, lencana, atau apapun yang mudah membongkar identitasnya. Akashi bahkan bisa merasakan ia tak lagi mengeluarkan aura polisi yang kental. Kini Nijimura hanya pemuda biasa, yang di mata orang lain, datang hanya untuk minum beberapa gelas dan berdansa. Dan ditambah fakta bahwa klub malam hampir selalu minim cahaya, tak akan ada yang menyadari identitas aslinya sebagai werewolf. Bahkan Akashi ingin melupakan fakta itu untuk sesaat.
Gadis itu menghela napas singkat. Ia tahu Nijimura terus memandanginya dengan tatapan penasaran karena tak kunjung beranjak dari area di sisi pintu masuk. Ia sendiri menyadari alasan dari sikapnya itu karena sesuatu yang baru saja ia sadari: ia bukan gadis pesta. Telinganya jauh lebih sensitif dari manusia dan suara nyaring yang memukul-mukul gendang telinga bukanlah hal yang ia suka, tak peduli sudah berapa lama ini hidup. Ia tak suka berdesak-desakan dengan banyak orang karena pasti ada saja yang menyentuh kulitnya. Ia benci bau parfum yang kental di udara bersama puluhan jenis alkohol yang bercampur menusuk hidungnya. Dan ia bisa berteman dekat dengan seorang introvert seperti Kuroko karena memiliki alasan yang pasti: mereka sama—tipe wanita pendiam yang lebih memilih mendekam di perpustakaan dibanding berpesta sepanjang malam.
Hanya karena pergaulan Akashi lebih luas dari Kuroko, bukan berarti ia terbiasa dengan pesta. Tidak, tidak. Untuk pertama kalinya ia yakin sahabatnya itu salah menilai orang. Akashi hanya lebih pintar bersandiwara dengan poker face saja, terimakasih karena kepribadian ambivertnya, itupun demi pekerjaan dan kelangsungan hidupnya.
Dan sekarang ia tak bisa menemukan orang yang telah membuatnya repot-repot dari kantor polisi ke tempat yang tidak disukainya ini. Menyebalkan memang untuk mencari orang dengan hawa keberadaan tipis seperti Kuroko di tempat ramai.
Untungnya Kagami Taiga adalah orang yang sangat bertolak belakang dengan si biru muda. Tubuhnya yang tinggi besar membuatnya mencolok di antara pemuda-pemudi Asia yang biasa. Akashi bahkan bisa melihat rambut marun-hazelnya dengan mudah dari jarak dua puluh meter di sisi kirinya. Dan syukurlah kakak idiotnya itu mengikuti sarannya untuk menjadi manusia harimau, karena ia bisa meyakinkan diri bahwa itu benar-benar Kagami dari sepasang telinga harimau palsu di atas kepalanya.
Akashi mengarahkan kakinya menembus kerumunan langsung menuju tempat Kagami, tentu sambil diikuti Nijimura. Kini, dari jarak sedekat ini, ia sangat yakin kakaknya adalah idiot super, karena dengan bangga bertelanjang dada sehingga memamerkan deretan otot-otot yang menyembul indah, dengan kulit tetutupi cat oranye-hitam loreng-loreng. Entah bagaimana ia bisa melakukan itu semua dalam waktu kurang lebih satu jam, dan Akashi sama sekali tak tertarik mengetahuinya.
Akashi memijit pelipisnya dan menggeleng. Kini ia bahkan enggan memanggil Kagami walau ia berdiri tepat di depan punggungnya. Satu hal yang ia syukuri, setidaknya Kagami masih memakai celana.
"Akashi-san?"
Suara lembut dan sentuhan ringan tiba-tiba di lengan kanannya menyadarkan Akashi dan langsung berpaling. Kuroko Tetsuna menatapnya dengan pandangan datar di mata besarnya seperti biasa. "Aku hampir tidak mengenalimu. Kau cantik sekali."
Akashi secara reflek memberikannya senyum manis. "Kau juga, Tetsuna. Sudah kuduga kostum ini memang cocok untukmu." Ia tersenyum pada gaun putih panjang Kuroko yang bagai selembar kain yang tersampir dari pundak kanannya dan hanya berhias sebuah sabuk perak di bawah dada, kepangan kecil di rambut biru pendeknya yang melingkari kepala, hingga sepasang sandal kayu dengan tali yang melilit kakinya hingga sebatas lutut. Kuroko terlihat bagai gadis yang keluar dari mesin waktu dari pertengahan masa Yunani Kuno, bahkan bisa dibilang seperti dewi Athena yang anggun dan bijaksana.
Dan ketika gambaran indah Kuroko ia sandingkan dengan Kagami, yang langsung berbalik badan begitu mendengar Kuroko menyebut namanya, entah mengapa terlihat menggelikan. Kekehan ringan Akashi lepas begitu saja tanpa ia sadari. "Aku masih tidak mengerti bagaimana kalian bisa saling jatuh cinta," ujarnya, menutupi tawanya dengan sebelah tangan.
Kagami berkacak pinggang. "Dan aku juga tidak mengerti kenapa kau setuju diikuti anjing hutan berbulu manusia ini," ia menunjuk Nijimura dengan sorot matanya.
"Hei, jaga bicaramu, siluman harimau," balas Nijimura, tak kalah sarkastik.
"Apakah itu hinaan?"
Akashi menghela napas lagi sementara Kuroko memiringkan kepalanya dan bertanya, "Kalian sudah saling kenal?"
"Um, dia pemuda yang kusebutkan kemarin," balas Akashi cepat-cepat.
"Oh! Teman kencanmu itu?"
"Yeah, polisi," timpal Kagami, kini melipat tangan di depan dadanya yang terbuka. Ekspresi tidak suka tak berusaha ia tutupi ketika terus menatap Nijimura.
Kuroko mengedikkan bahu. "Setidaknya ia punya pekerjaan." Dengan sengaja ia melirik Kagami yang langsung berubah tegang. "Katakan, Pak Polisi, apakah kau sedang menyamar?"
"Sejujurnya? Tidak. Aku hanya teman kencan Seiko malam ini," jawab Nijimura, membuat Akashi menoleh kepadanya dengan cepat dan membombardirnya dengan tatapan terkejut dan heran. "Dan jikapun dalam penyamaran, aku tidak diperbolehkan untuk memberitahukannya," lanjutnya dengan senyum.
Mata biru Kuroko kini berbinar-binar. "Wow. Aku ingin melihatmu di saat jam kerja. Apakah kau menggunakan seragam? Aku suka sekali pria berseragam."
Entah Kuroko mengatakannya dengan niat tertentu atau tidak, yang jelas di mata Akashi dan Nijimura, Kagami benar-benar terlihat seperti siluman harimau sekarang—terutama ketika ia menggeram dan menatap Nijimura dengan kebencian, cat loreng di tubuhnya seolah berubah menjadi bulu-bulu yang menegang.
Menyadari perang dunia ketiga mungkin saja pecah jika keadaan ini terus berlanjut, Akashi langsung mengambil alih dengan tersenyum pada Kuroko dan berkata, "Jadi, tidak ada minuman gratis?"
Kuroko langsung tersadar dan berseru, "Ah, tentu saja ada! Tunggulah di sini sebentar. Aku akan menemui sepupuku." Dan sosoknya pun menghilang di antara keramaian tak sampai dua detik kemudian.
Kini sepetak tempat di lantai klub yang sempit itu seolah menyisakan tempat yang luas untuk keheningan bisa menyusup masuk. Lagi-lagi Akashi yang memecah suasana canggung itu dengan bertanya pada Kagami, "Kapan kau sampai di sini?"
"Tidak lama," jawab sepupunya itu. "Kemana saja kau?"
Akashi menjawab cepat, "Butik Reo."
"Kucing hitam itu? Kau masih bergaul dengannya?" Sebelah alis bercabang Kagami menanjak tinggi ketika menatap mata rubi sepupunya yang tertutup lensa kontak emas.
"Dia salah satu orang kepercayaanku, Taiga. Dan kau tahu aku sulit mempercayai orang lain."
"Yeah, aku bisa lihat itu," sindirnya sambil kembali melirik Nijimura.
Yang disindir pura-pura tidak menyadarinya dan malah asik memperhatikan sekeliling. "Ini firasatku saja, atau bukan hanya kita yang bukan manusia di ruangan ini?" tanya Nijimura, melipat tangan di depan dada.
Akashi menoleh padanya. "Setahuku Mayuzumi Chihiro meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu dan berhasil dibangkitkan dengan semacam ilmu hitam."
Kagami membulatkan matanya. "Sepupunya Tetsuna?"
"Pemilik klub ini?" timpal Nijimura.
"Ya." Akashi mengangguk. "Dan sepertinya Tetsuna tidak mengetahui itu. Aku berharap kalian tidak membocorkannya juga. Pasti akan sangat traumatis baginya jika mengetahui satu-satunya saudaranya adalah…" Akashi tak melanjutkan kalimatnya. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri untuk mencari ungkapan yang tepat.
"Zombie?" ujar Kagami dan Nijimura bersamaan.
"Sebenarnya itu bukan kata yang tepat, tapi singkatnya seperti itu." Akashi menarik napas dalam. "Namun, jika ada yang lain selain Chihiro, maka aku tidak tahu."
"Tunggu, tunggu." Fokus dua saudara itu beralih pada sang polisi. "Kenapa kau menyebutnya seperti itu? 'Chihiro'. Apakah kalian dekat?"
Kagami mendengus kesal. "Bukan itu yang seharusnya diper—"
"Kami teman dekat saat kuliah," jawab Akashi, tak sadar memotong sepupunya. "Kenapa? Apakah itu mengganggumu, Pak Polisi?"
Nijimura memasukkan kedua tangannya ke saku celana dengan kasar. "Bagaimana jika memang begitu? Dan sudah kukatakan padamu jangan memanggilku seperti itu."
"Oh, apakah kecemburuan yang aku tangkap saat ini? Haruskah aku juga memanggilmu dengan nama kecil?"
"Ya! Lakukan saja seperti itu karena aku juga akan melakukannya, Seiko."
"Then as you command, Shuuzou-san."
Kagami, yang merasa diacuhkankan sebagai orang ketiga, memutar kedua matanya. "If you gonna kiss him right now, I'll puke."
Untung saja percakapan itu tak berlanjut karena kedatangan Kuroko, yang lagi-lagi dengan tiba-tiba, bersama seorang pria muda berambut biru pucat yang jika diperhatikan lebih lama memang memiliki kemiripan dengannya. Kuroko membawa nampan dengan lima gelas anggur merah di atasnya, yang kemudian dibagikan oleh pria yang Nijimura tebak sebagai Mayuzumi Chihiro itu.
"Selamat datang di Medusa, dan terimakasih sudah datang," ujarnya, tersenyum sambil menatap tamunya satu-persatu.
Baik Akashi maupun Kagami membalas sapaan Mayuzumi dengan keramahan yang sekedar formalitas. Dari cara mereka mengobrol dan menatap, Nijimura menyimpulkan bahwa bukan hanya Akashi yang berteman dekat dengan sang pemilik klub. Dan ia tidak suka menjadi yang tersisih. "Hai, aku Nijimura Shuuzou," ujarnya sambil menjulurkan tangan. Mayuzumi menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat seolah baru saja menyadari kehadirannya. "Pacar Seiko," lanjutnya lagi, berniat memperjelas posisinya di sini.
Lagi-lagi Akashi menoleh dengan cepat ke arahnya dengan ekspresi tidak percaya.
Dan sepertinya Mayuzumi tidak kalah terkejut. "Wow, senang mengetahui Akashi-san masih memiliki perasaan," candanya dengan wajah datar. Ia pun mengulurkan tangan untuk menerima jabatan Nijimura. "Mayuzumi Chihiro, teman lama Akashi-san."
"Ya, aku tahu." Nijimura berusaha tersenyum formal. "Kau memiliki tempat yang bagus. Pestanya meriah."
"Terimakasih. Aku rasa ini karena Halloween—atau mungkin karena promosi yang dilakukan Tetsuna cukup berpengaruh. Kalian tahu, aku tidak bisa membuka Medusa malam ini jika tidak karena dibantu olehnya." Mayuzumi menoleh pada Kuroko yang juga menatapnya, kemudian tersenyum. Kemudian ia pun mengangkat gelasnya untuk bersulang. Senyumnya mengembang lebih lebar ketika mengatakan, "Demi Medusa."
Baik Kuroko, Kagami, Akashi hingga Nijimura menganggap kalimat itu agak aneh, tapi mereka hanya mengacuhkanya dan ikut mengangkat gelas masing-masing. "Demi Medusa."
Mereka mencicipi minuman yang menyerupai darah itu. Akashi mengenalinya sebagai anggur merah buatan tahun 1947—salah satu yang terbaik—dan merasa sangat tersanjung karena harganya yang tak rendah. Dalam beberapa kesempatan ketika ia sendiri, Akashi sering mengonsumsi minuman sejenis dengan berbagai macam tahun pembuatan karena alasan yang sederhana: anggur merah mirip dengan darah dan dapat memberikannya kehangatan yang menyengat di sepanjang aliran darahnya. Bagi makhluk berdarah dingin sepertinya, anggur merupakan salah satu minuman favorit selain darah binatang.
Dan ia sama sekali tak merasa aneh ketika tak berapa lama sensasi uforia akibat alkohol membuat kepalanya berputar dan tubuhnya terasa ringan.
Ia memperhatikan gelas panjang yang setengah kosong di tangannya, kemudian berkata, "Chihiro, kau memiliki selera yang bagus."
Mayuzumi menundukkan sedikit kepalanya dengan kesopanan yang merupakan candaan. "Terimakasih pula untuk seseorang yang kadang mentraktirku."
Kali ini Nijimura yang memutar bola matanya dan Mayuzumi menyadari itu. Pria yang berdandan layaknya manusia tengkorak itu—dengan kemeja putih kebesaran yang ia kenakan dengan beberapa kancing atas yang terbuka, celana panjang hitam, dan lukisan hitam-putih serupa tulang belulang di kulitnya yang pucat—menghabiskan minumannya dalam sekali teguk dan berkata, "Nikmatilah pestanya. Aku akan meminta DJ memainkan sesuatu yang romantis." Ia memberikan senyum manis penuh makna, yang, walau di mata Kuroko dan Kagami terlihat tulus, bagi Nijimura sangat mencurigakan.
Sang werewolf melirik pada Akashi untuk melihat reaksinya, namun sepertinya 'teman kencannya' itu juga sudah terpengaruh—entah oleh Mayuzumi atau alkohol.
Mayuzumi pun beranjak menuju ke atas panggung dan menghampiri seorang wanita muda yang memakai gaun hitam ketat dengan sepasang tanduk merah kecil dan sayap kelelawar. Wanita itu melepas sebentar headphone-nya begitu Mayuzumi mencondongkan tubuh dan membisikkan sesuatu. Ia mengangguk, dan Mayuzumi beranjak, sepertinya ke belakang ruangan.
Ke manapun pria kurus itu pergi, Nijimura tak sempat memperhatikannya lebih lama karena musik semena-mena berganti menjadi versi remix dari lagu yang sedang hits akhir-akhir ini, Love Me Like You Do milik Ellie Goulding. Segala gerakan dan tarian orang-orang di sekitarnya berubah lebih tenang, dan lampu dan laser pun berganti warna menjadi merah temaram. Kalimat singkat Kagami, "Shall we dance?" yang diikuti uluran tangannya pada Kuroko, membuat Nijimura kembali tersadar pada kenyataan. Sekonyong-konyongnya ia malah memperhatikan sepasang kekasih itu bergandengan tangan dan berjalan menuju lantai dansa untuk berdansa mesra.
Ia tak yakin ekspresi apa yang ia pasang saat ini, dan sejujurnya ia tak yakin sedang berekspresi. Namun Akashi terkekeh dan bertanya, "Ada apa, Shuuzou-san?"
Ia menoleh dengan bingung. "Memangnya aku kenapa?"
"Kau terlihat menggelikan."
"Maksudmu?"
Akashi kembali terkekeh dan mengalihkan pandangannya. Perlahan, ia menghabiskan minumannya dalam esapan-esapan yang lambat. Kemudian ia kembali menatap Nijimura. "Apakah kau pernah berdansa, Shuuzou-san?"
"Jika yang kau maksud adalah berjingkrak-jingkrak mendengar lagu Linkin Park atau One OK Rock, maka, ya."
"Tidak pernah dengan pasangan?"
Nijimura menggeleng. "Tidak pernah."
Akashi kembali terkekeh.
"Bagaimana denganmu…" ujar Nijimura, terdengar sedikit berat untuk melanjutkan. "…Seiko?" Lidahnya tidak terbiasa dengan menyebut nama kecil seorang gadis, dan jelas kecanggungan dan malu yang dirasakannya adalah sesuatu yang jarang ia dapatkan.
Akashi pun menoleh dengan sedikit terkejut.
"Pernah berdansa sebelumnya?" lanjut Nijimura.
"Jika yang kau maksud adalah waltz sederhana dengan Shintarou, Taiga, atau adikku, Seijuurou, maka, ya, pernah."
"Belum pernah, ya…" gumamnya sembari meneguk minumannya. Ia terlihat menatap kosong pada beberapa pasangan di tengah ruangan yang saling melingkarkan tangan di tubuh yang lain dan bergerak sesuai irama lagu. "Berarti aku akan jadi yang pertama, ya…."
Akashi lagi-lagi terkekeh. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, aku mengajakmu berdansa, Nona Akashi. Duh, kau tidak peka, ya?"
Bukannya tersinggung, Akashi malah menganggap itu hal yang lucu dan kali ini justru tertawa. Semua orang tahu bahwa vampir adalah makhluk paling peka di seantero jagad dunia bawah. Dan mendengarnya dari makhluk yang hanya bisa mengandalkan insting seperti werewolf, adalah sebuah paradoks yang menggelikan. Astaga, sepertinya ia sudah memasuki tahap mabuk. Tak biasanya ada sesuatu yang bisa membuatnya segembira ini.
"Kau hanya perlu menanyakannya secara langsung, Tuan Nijimura," ujarnya setelah tawanya reda.
"Lalu apa serunya? Aku kan jadi tidak tahu dengan siapa saja kau pernah berdansa." Nijimura kembali mengangkat gelasnya, kali ini untuk menyembunyikan semburat merah yang menjalar dari bawah mata hingga ke telinganya.
"Ah… kau cemburu," Akashi mengangguk, diam-diam menyembunyikan senyumnya. Ia pun turut bersemu hingga merasakan telinganya menghangat.
Ah, seperitnya ia sudah sangat mabuk. Ini tidak baik.
Setelah minumannya habis, Nijimura mengambil gelas Akashi dan menaruh gelas mereka di meja bar di dekat mereka. Ketika kembali, ia mengulurkan tangannya dan Akashi menyambutnya dengan senyum. Mereka berjalan tanpa bicara menuju tengah lantai dansa di tempat yang kosong, kemudian berhadapan. Nijimura kembali membiarkan dirinya terpana menatap sepasang rubi yang tersembunyi di balik lensa emas berkilau, sementara Akashi sedang berusaha mengingat setiap detail wajah pria bermata sipit itu dan berangan-angan bagaimana orang mabuk bisa semanis ini.
Ketika lagu mencapai kalimat, "Fading in, fading out, on the edge of paradise. Every inch of your skin is a holy grail I've got to find. Only you can set my heart on fire, on fire," Nijimura kembali meraih tangan kanan Akashi dan mengangkatnya tinggi. Sementara tangannya yang lain ia tambatkan di belakang punggung Akashi dan tangan kiri Akashi bersandar pada pundak Nijimura. Mereka sama-sama tak mengerti bagaimana bisa malam Halloween menjadi seromantis ini namun tidak ada yang berniat untuk protes.
"Yeah, I'll let you set the pace. Cause I'm not thinking straight. My head spinning around, I can't see clear no more. What are you waiting for?"
Dentuman drum yang diubah menjadi lebih elektro menandai awal intro lagu ketika Ellie Goulding berseru, "Love me like you do. La-la-love me like you do!" Dan nada itu pula yang menjadi bel starter bagi Nijimura untuk mengajak Akashi bergerak dalam langkah-langkah berputar yang kacau.
Akashi berusaha keras untuk menahan tawanya dan menjaga kakinya agar tak terinjak kaki besar Nijimura. Ketika Nijimura membuatnya berputar, ia bisa merasakan euphoria yang sudah lama tak ia rasakan. Ketika ia kembali jatuh dalam dekapan sang werewolf, harum mint yang menguar dari sela-sela lehernya menenangkan indra penciuman Akashi.
Seiring dengan semakin cepat tempo bermain, semakin cepat pula Nijimura mengajaknya berdansa. Satu-dua kali injakan kaki tentu terjadi, dan Akashi memutuskan untuk tak mempermasalahkannya saat ini. Namun ketika lagu mencapai intro akhir, "Touch me like you do. Ta-ta-touch me like you do!" dan Nijimura lagi-lagi menginjak kakinya, ia tak kuasa menahan sedikit untuk berseru, "Ouch!" Dan yang tak ia sangka adalah, Nijimura langsung menghentikan gerakannya, memindahkan tangannya untuk menangkup wajah Akashi, dan menatapnya dalam-dalam.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Sinar di mata abu yang cemerlang itu menerornya dengan kekhawatiran dan penyesalan. "Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku. Apakah sakit?"
Untuk sesaat Akashi melupakan rasa sakitnya.
"Ah, tidak." Kepala merah itu menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Shuuzou-san. Tapi kau payah sekali."
Kini, giliran Nijimura yang tertawa. "Sudah kubilang aku tidak pernah melakukan ini."
"Berarti kau tipe risk-taker."
"Yeah, you can say so."
Nada untuk akhir lagu mengalun lembut. Tubuh mereka mendekat secara tak sadar dan leher saling menjulur untuk menatap lebih lekat. Baik Akashi dan Nijimura sudah menduga apa yang akan terjadi jika mereka melepaskan sisi rasional mereka dan hanya mengandalkan insting. Ini tidak baik. Sungguh. Apa yang akan dikatakan keluarga mereka masing-masing nantinya? Tapi itu tak lagi penting. Sedang tidak penting. Karena saat ini hanya ada mereka berdua, lagu yang indah, dan hasrat untuk mengecup bibir masing-masing.
Tiba-tiba ada yang menjerit.
Suara itu merupakan jeritan wanita yang melengking nyaring membelah segala ketenangan yang romantis ketika tiap-tiap stereo di sudut-sudut ruangan sedang tak bersuara. Jeritan yang secara cepat menarik mundur Akashi dan Nijimura dan membawa mereka menuju kenyataan.
Tanpa berpikir dua kali, hanya dengan saling tatap, mereka beruda melesat ke sumber suara. Pendengaran mereka yang tajam menuntun mereka ke balik panggung, tempat di mana beberapa staf mondar-mandir dari bagian utama ruangan menuju dapur. Beberapa orang yang penasaran mendekat dan membentuk setengah lingkaran, kemudian sebagian dari mereka melangkah mundur setelah ikut menjerit singkat.
Nijimura dan Akashi langsung membelah kerumunan. Langkah mereka terhenti, jantung berdetak keras, mata membelalak, ketika melihat sesosok tubuh pria bercelana hitam panjang dan kemeja putih, terbaring telunglup dengan begitu banyak darah yang menggenang di sekitar kepalanya. Bahkan, mungkin itu tak lagi bisa disebut kepala karena sudah hancur berkeping-keping—menyisakan gumpalan lembek dan menjijikkan berwarna merah yang mereka tebak sebagai otak yang hancur.
Kaki Akashi bergetar, tangan mengepal kuat, air mata sudah merebak, ketika menyadari warna abu-abu kebiruan di sela-sela merah darah pada rambut sang korban. Dan mata terbelalak itu, wajah pucat itu, dan lukisan hitam-putih itu di kulit itu, walau Akashi tak bisa melihatnya dengan jelas karena tertutup rambutnya, kecerdasannya sudah mendahului perasaan enggannya untuk menebak. Dan ia merasa luar biasa takut untuk yang pertama kali.
"AAA!"
Teriakan yang lain sukses mengalihkan perhatian Akashi, kali ini begitu dekat dengannya. Di sampingnya, Kuroko baru saja tiba. Dan gadis berambut biru itu langsung jatuh tersungkur dengan isakan yang keras ketika menyadari siapa yang terbaring di lantai. Ia menangis tersedu-sedu, hampir tak bisa berkata-kata kecuali, "Nii-san… Nii-san…."
Dan isakan itu turut membuat Akashi menangis.
.
.
.
.
.
.
-:-
TBC
Yeeeessssss akhirnya update. Hahaha!
Sungguh, maafkan saya karena fakum 2 tahun (saya juga gk sadar sudah selama itu -_-). Tapi ketahuilah, selama dua tahun itu saya buntu ide. Baru akhir-akhir ini setelah berkesempatan pindah ke rumah saudara dan mendapat asupan FoxCrime 24 jam, ide saya bisa mengalir lagi.
Terimakasih sudah menunggu, terimakasih sudah membaca.
Sekarang saya minta tolong pada Anda untuk memberikan saya masukan dan penyemangat.
Sampai jumpa di chapter depan!
-:-
(Wednesday, August 09, 2017)
Love,
L.A.
