Maaf banget. Ini chapternya terlambat sekali updatenya. Sebenarnya, chapter ini sudah jadi seminggu lalu, namun karena filenya ilang dan aku nggak mood sama sekali buat ngetik ulang jadinya baru sekarang nge-updatenya. Nulis fic ini dilatar belakangi suara kembang api sama mercon sahut sahutan di belakang rumah .-. Oh ya, selamat hari raya idul fitri 1436 H bagi yang merayakan! Seharusnya diupdate tanggal 17 namun karena suatu kondisi, diupload tanggal 18/7/2015


Rika Miyake Present

Fate meeting

Disclaimer: Yaap, Vocaloid bukan punya saya tapi OC dan ceritanya nya jelas punya saya

Mohon maaf atas kesalahanku yaa!

kalau tidak ada kesalahan, rasanya aku senang sekali haha XD.


3. Masalah mulai datang...

Luka POV:

"Luka? Kau sudah bangun?"

Aku mengerang dan perlahan membuka mataku. Entah kenapa, aku merasa kedinginan. Padahal, aku sudah memakai 4 lapis selimut. Semakin banyak selimut, semakin dingin tubuhku. Aneh..

"Luka! Biarkan aku masuk!"seru seseorang kali ini dengan gedoran pintu. Suara soprano itu..Ah, sudah jelas itu Hatsune Miku, tetanggaku.

"Miku? Kau kan punya kunci duplikatku."kataku. Bukannya aku malas, tapi rasa dingin yang menggerogotiku membuatku enggan keluar dari kasur.

"Kunciku ketinggalan di kamarku. Dan, aku tidak mau repot-repot kembali ke kamarku kalau aku sudah siap begini!"seru Miku.

"Memangnya, ini jam berapa, sih?"tanyaku malas.

"Jam 8.00 hari Rabu."seru Miku.

"Hah?!"ujarku seraya bangkit. Segera, aku mengambil jam digital yang berada di meja kecil samping tempat tidurku. Terpujilah orang yang membuat jam digital dengan tanggalnya. Wednesday 06.00 Sialan, si Miku-.-

"Uso tsuki(tukang bohong)! Ini baru juga jam 6!"seruku kesal.

"Hehehe. Iya, gomen nasai. Hari senin lalu kan kamu datang pagi. Jadi, hari ini juga harus datang pagi."kata Miku.

"Cih. Alasan apa itu."gumamku kesal. Aku bangkit dari tempat tidur—tidak memedulikan rambutku yang seperti singa—dan memakai sendal rumahku. Sedikit mengiggil, aku membuka pintu apartemenku.

"Yo. Luka."sapa gadis berambut honeyblonde yang hanya nyengir kuda. Aku melotot kearah gadis itu.

"Ngapain kamu bawa si cebol ini kemari?"tanyaku kesal sambil menatap Miku dan menunjuk Rin.

"Cebol?!"serunya kesal. Miku buru-buru memotong perkataan Rin seraya tersenyum.

"Masih ada waktu 2 jam lagi. Nah, ini sudah kubuatkan sarapan."kata Miku seraya menyerahkan piring berisi pancake nutella dan secangkir cokelat panas. Aku mengangguk dan mempersilahkan Miku dan Rin untuk masuk ke apartemenku.

"Hari Senin dan Selasa kamu dateng pagi. Lalu, kenapa hari ini nggak?"tanya Miku seraya duduk di sofa. Aku menatap Miku dengan memincingkan mata, ini karena kepalaku mulai berdenyut denyut dan penglihatanku mulai tidak jelas.

"Hari Senin kan aku piket sekolah. Lalu, hari Selasa, kalian semua ingin cepat-cepat ke-sekolah. Jadi, aku ikut saja daripada dikunciin di rumah Kagamine."kataku. Miku dan Rin hanya ber-'oh' ria.

Aku berjalan kearah kamar mandi. Entah kenapa, saat aku hendak memegang engsel pintu kamar mandi, aku merasakan semuanya berputar-putar. Kepalaku pusing sekali bahkan pemandangan di depanku terlihat kabur.

"Aku harus kuat."bisikku seraya memegang tembok dekat kamar mandi. Inikah balasannya? Karena aku tidak bisa tidur Selasa lalu karena memikirkan wanita berambut hijau itu? Ah, harusnya aku tidak memikirkannya. Aku terkadang suka memikirkan hal-hal kecil hingga berlebihan seperti ini. Imbasnya? Aku akan sakit selama beberapa hari.

"Luka? Daijoubu desuka(kau tidak apa-apa)?"tanya Miku. Rin dan Miku menatapku dengan cemas.

Aku menatap kearah mereka dan memaksakkan seula senyum. "Daijoubu desu.(aku baik baik saja)"kataku pelan. Namun, kemudian aku merasakan badanku terhuyung kedepan dan akhirnya jatuh ke lantai. Samar-samar aku bisa mendengar teriakan Miku dan Rin yang panik. Lalu, semuanya menjadi gelap.


Miku POV:

Dengan panik, aku menghampiri Luka yang ambruk ke lantai. Wajah Luka terlihat lelah dan terdapat kantung mata di bagian bawah matanya. Rin menghampiri aku dan Luka dengan wajah tenang. Berbeda sekali denganku, yang berwajah panik dan mati-matian menahan air mata yang menggenang di pelupuk mataku.

"Suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi. Respon imun pada tubuh menurun karena kelelahan. Daijoubu, Miku-chan. Dia hanya perlu ber-istirahat."kata Rin seraya mengelus punggungku. Aku mengangguk namun tetap saja air mata itu mengalir dari mataku. Aku menangis tanpa suara. Ah, aku sangat khawatir dengan kondisi Luka.

Rin dan aku memutuskan untuk membawa Luka ke tempat tidurnya. Sementara Rin mengambil handuk kecil yang dibasahi air untuk menurunkan panas, aku menyelimuti Luka yang pingsan. Aku mendesah panjang, biasanya, Luka pingsan seperti ini bila telah memikirkan banyak hal sehingga tidak tidur. Hal ini, sudah jarang terjadi sejak 1 bulan lalu. Namun, kini, hal itu terjadi lagi.

"Sebaiknya, kamu membuatkan bubur dan teh panas manis untuk Luka, Miku."kata Rin menenangkanku. Aku mengangguk pelan dan berjalan keluar dari apartemen Luka. Sempat kulihat, Rin mematikan Air Conditioner milik Luka lalu menyalakan pemanas ruangan.

"Um, Miku?"tanya Rin.

"Ya?"tanyaku.

"Bisa bawakan bawang putih dan minyak kelapa? usahakan, bawang putihnya sudah dihaluskan dan dicampur oleh minyak kelapa."ujar Rin.

"Uh, untuk apa?"tanyaku.

"Kombinasi bawang putih dan minyak kelapa bisa menurunkan demam, kau tahu.."kata Rin dengan wajah datar.

"Oh, begitu."jawabku. Aku sedikit merasa bodoh disini. Yah, kalau Rin sudah membicarakan medis dan kesehatan akulah yang paling tidak mengerti. Ya, ya aku memang tidak jago dalam IPA. Lain halnya dengan Rin yang jago IPA di bidang Kimia, Biologi, dan Fisika. Bahkan, Astronomi! Sementara, Len sendiri paling jago soal Administrasi Pembukuan.

Rin yang ibunya notabene adalah dokter terkenal, jadi tidak asing dengan dunia medis. Semulanya, Rin ingin mengikuti jejak ibunya. Namun, dilarang ayahnya apalagi ayahnya membenci ibunya. Ya, Leon Kagamine membenci Lola Kagamine. Lola Kagamine, ibu asli dari Rin dan Len Kagamine. Terkadang, Rin dan Len suka mengunjungi ibunya diam-diam. Walau sudah berlalu 3 tahun, tapi janda dua anak itu tetap memutuskan untuk tidak menikah lagi. Alasannya? Karena ia masih mencintai Leon Kagamine. Miris rasanya, saat Leon Kagamine sekarang lebih mencintai Michaela Lily yang sekarang berganti marga menjadi Lily Kagamine.

Oh, kalian pasti bertanya kenapa aku tahu semua itu?

Tentu saja, Rin yang menceritakannya dulu. Dia pernah depresi dan membenci SeeU serta Oliver . Aku sering diceritakan tentang SeeU dan Oliver, tapi baru kemarin aku bertemu dengan mereka berdua. Dari dulu, hubungan Rin dan Len tidak pernah akrab dengan Lily Kagamine. Mereka menghormati bukan rasa sayang. Tapi, menghormati karena terpaksa. Rin dan Len mulai tidak membenci Oliver dan SeeU karena dia akhirnya menyadari bahwa mereka berdua tidak salah apa-apa. Oh, maaf. Aku jadi bercerita Rin seperti ini.

"Hei, Miku. Kenapa diam saja disitu?"tanya Rin saat aku berdiam diri di depan pintu apartemen Luka.

"Oh-eh, Gomen nasai!"seruku seraya menutup pintu kamar Luka. Ah, maaf aku harus memasak bubur untuk Luka daripada membicarakan Rin.

Jam 7.00

Aku masuk ke kamar Luka. Syukurlah, kulihat Luka sudah siuman dan sedang mengobrol pelan dengan Rin.

"Hai!"sapaku. Luka tersenyum lembut sementara Rin hanya menatapku.

"Luka, kamu kan belum makan. Nih, kubuatkan bubur untukmu."kataku seraya duduk di kursi sebelah Rin—yang berada di samping kasur Luka—dan menyerahkan semangkuk bubur. Luka mengernyit menatap kearah bubur terebut. Aku tahu, Luka tidak begitu suka dengan makanan bernama 'bubur'.

"Ayo dimakan, Luka. Tadi, katanya kau mau masuk sekolah. Jadi, dimakan biar cepat sembuh."kata Rin.

"Iya! Aku juga buatin kamu donat strawberry serta sandwich tuna lho! Juga, bubur ini kutambahka tuna!"timpalku menyemangati Luka agar makan. Mendengar kata tuna, binar mata Luka langsung kembali.

"Rin, kamu sarapan pagi saja dulu. Aku tahu kamu belum, apalagi kamu sudah nungguin Luka satu jam. Nanti, kamu juga ikut sakit."kataku seraya menepuk pundak Rin. Beberapa saat, Rin terlihat ragu.

"Sudahlah, Rin. Kan ada Miku."kata Luka pelan dengan suara serak. Akhirnya, Rin mengangguk dan kemudian menuju meja makan yang sudah terhidang roti panggang keju dan teh panas manis buatanku. Mulanya, kami berdua ingin makan di apartemen Luka, tapi.. Luka sendiri pingsan dan sakit begini... Maka, batal-lah rencana kami untuk makan bersama.

"Nah, Luka. Ayo makan. Aaa~"kataku seraya menyodorkan se-sendok bubur.

"A-aku bukan anak kecil lagi tahu! Aku bisa makan sendiri!"seru Luka dengan wajah memerah dan suara serak.

"Kau kan sedang sakit. Jadi, aku saja yang suapi. Atau, kamu mau disuapin Gakupo-san?"tanyaku. Seketika, wajah Luka tambah memerah.

"Dame da yo(jangan)! Aku akan merepotkannya!"seru Luka. Aku hanya terkekeh geli. Aku yakin, wajah meronanya itu bukan karena demam dan flunya. Namun, itu karena kata-kataku tadi.

Setelah Luka meminum teh panas manis, aku menyodorkan sandwich tuna (100% sehat) dan donat strawberry kearahnya. Sambil memperhatikan Luka yang makan dengan lahap, aku memakan makananku sendiri-pancake nutella dan teh panas manis yang harusnya buat Luka-

"Kau benar-benar ingin masuk?"tanyaku pelan seraya menatap Luka. Luka berhenti sebentar dari makannya, lalu menelan sandwich dan akhirnya berbicara.

"Ya, lagipula sakitku tak terlalu parah kok."kata Luka seraya tersenyum lebar.

"Aku sudah mempersiapkanmu bekal. Saat kamu sakit, kamu nggak bisa jajan di kantin. Demo, kamu bisa makan bareng kita."kataku pelan. Ia menepuk kepalaku dan membisikkan kata-kata terimakasih lalu kembali mengunyah sandwichnya. Syukurlah, sepertinya keadaan Luka sudah membaik.


Rin POV:

Aku menyelesaikan makanan yang dibuat Miku tadi. Ah, rasanya memang selalu saja enak. Sambil mencuci piring, aku bersenandung kecil. Tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku.

"Ahh!"jeritku. Lalu, aku mendengar suara tawa geli dari belakangku. Segera, aku membalikkan tubuhku.

"Miku!"seruku kesal. Gadis twintail itu hanya tertawa seraya memegangi perutnya. Untunglah itu Miku..atau mungkin aku sudah pingsan mendadak bila yang menepuk itu..tangan putih yan dingin! Hiyy! Hush, kenapa malah bayangin yang aneh-aneh, Rin?! sadarlah!

"Gitu saja sudah kaget!"ledeknya. Aku mendengus kesal.

"Nanda yo(ada apa)?"tanyaku kesal seraya mencuci tanganku yang masih penuh sabun. Untungnya, piring Miku tadi tidak kujatuhkan sehingga tidak pecah. Piring Miku pecah? Rasakan hukuman dari seorang Hatsune Miku yang akan berubah sadis.

"Tolong panggilkan Gakupo-san kesini. Nomor apartemennya, 439."kata Miku.

"Kenapa bukan kamu?"kataku kesal.

"Aku menjaga Luka disini."kata Miku kalem. Aku mencibir kesal.

"Buat apa manggil Gakupo?"tanyaku.

"Aku ingin, minta dia untuk mengantar kita ke sekolah."jelas Miku.

"Lho, kan bisa pakai bus sekolah."kataku. Seketika, Miku menyentil dahiku.

"Itai!"seruku.

"Baka. Kalau nanti Luka pingsan di bus bagaimana?!"seru Miku jengkel. Aku hanya ber-'hehe' ria sambil menggaruk pipiku

"Untuk mengantar kita ke sekolah kan bisa bersama Len."kataku.

"L-Len-kun?! Ah, Dame desu yo(sebaiknya jangan)! Itu merepotkan.."kata Miku dengan blush di wajahnya.

"Hehehe, Len-kun, ya."gumamku.

"Bagaimana kalau Mikuo?"tanyaku.

"Um, Mikuo tidak bisa. Sekolahnya kan masuk jam 6 dan pulang 2 siang."kataku. Aku hanya ber-oh ria. Oh ya, kan Mikuo sekolah di VOCA sekolah yang sama dengan eonni.

"Nanda, Rin? Cepatlah, Pergi ke kamar Gakupo!"perintah Miku.

"Hai, hai. Miku Obaa-chan.(Baiklah, baiklah. Nenek Miku)"kataku dan kabur sebelum dilempar Miku dengan sapu.

Brakk!

"Itai! Aduuh, aku ceroboh sekali."erang gadis tersebut. Gadis tersebut keluar dari apartemen 436. Aku memerhatikan gadis tersebut dengan heran. Siapa ya? Ah, masa bodo siapa dia! Yang penting, kutolong dulu!

"Itai tokoro ga doko desuka(Bagian mana yang sakit)?"tanyaku seraya menghampirinya. Aku takut, bisa saja ia terkilir kan? Ia menyunggingkan senyum dan menggeleng pelan. Sepertinya, dia gadis yang baik dan ramah.

"a..watashi ha daijoubu desu. Demo, uh...(Aku tidak apa-apa. Tapi, uh..)"dia memperhatikan kertas-kertas yang berceceran diatas lantai. Aku tersenyum dan membantunya merapikan kertas-kertasnnya .

"Arigatou.."bisiknya. Aku tersenyum lebar. Setelah merapikan kertas, dia membungkuk dalam-dalam dan berkata, "Watashi wa Gumi Megpoid desu. Yoroshiku."katanya. Aku tertawa.

"Ah, Gumi-san tidak perlu terlalu formal."kataku seraya tersenyum kearahnya. Ia balas tersenyum. Aku mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, dia menerimanya.

"Namaku, Rin kagamine."kataku. Aku dan wanita berambut hijau itu berjabat tangan sebentar lalu menyunggingkan senyum. Kemudian, ia pamit kedalam kamarnya.

"Eh, Chotto matte. Rasanya, aku pernah dengar namanya.."pikirku. Lalu, aku mengangkat bahu. Ah, sekarang harus ke kamar Gakupo!

Ting..tong..!

"Ha'i! Chotto matte kudasai(Iya! tunggu sebentar)!"seru sebuah suara. Tiba-tiba, pintu terbuka dan munculah seorang laki-laki.

"Waaa!"jeritku seraya menutup wajahku. Laki-laki berambut ungu itu berdiri di depanku dengan rambut terurai panjang, mata mengantuk, dan lebih parah lagi... dia bertelanjang dada! Ia hanya memakai celana pendek.

"Aahh! Gomen nasai, Rin-chan!"seru laki-laki tersebut seraya sujud didepanku.

"A-ah. Ti-tidak apa-apa, Gakupo-san! C-cepatlah berganti baju, segera!"seruku. Sial, aku jadi gugup begini.. Gakupo mengangguk lalu berlari ke kamarnya secepat kilat. Aku mendesah lega dan membuka kedua mataku yang tadi tertutup oleh tangan. Wajahku merah tadi. Ah, selama hidupku, aku belum pernah melihat laki-laki bertelanjang dada. Kecuali, Len tentunya. Dan itu, waktu aku masih berumur 7 tahun! Saat kami kecil, kami sering bermain air ataupun mandi bersama. Sekarang? Tentu saja tidak!

"Gomen nasai, Rin-chan. Nanda, Rin?"tanya Gakupo yang muncul lagi. Kali ini ia mengenakan kaus oblong putih dan celana panjang hitam. Rambutnya sudah disisir rapi dan diikat satu.

"Kata Miku, dia minta dianterin ke sekolah. Soalnya, Luka sakit."jelasku singkat. Gakupo mengernyit heran.

"Luka sakit?"tanyanya. Aku menganguk. Gakupo terlihat khawatir, lalu mengangguk.

"Ah, Gakupo-san tidak ada kuliah kan?"tanyaku.

"Memangnya kenapa?"tanya Gakupo. Aku memberikan tatapan 'you-don't-say' kearah Gakupo, dasar Gakupo aneh! Kan aku menayakan itu agar dia tidak perlu membolos kuliahnya! Namun, dia hanya menatapku datar seakan-akan menungguku berbicara.

"Uh, maksudku..kami takutnya menganggu jadwal kuliah Gakupo-san."kataku. Dia menggeleng pelan.

"Iie, adanya kuliah sore nanti."kata Gakupo. Aku mendesah lega. Lalu, aku pamit ke Gakupo untuk kembali ke kamar Luka. Ah, sepertinya aku akan menanyakan ke Miku atau Luka soal Gumi itu..Aneh.. Rasanya penah dengar namanya..


Normal POV:

"Gakupo?"tanya Luka heran. Gakupo menyunggingkan senyum kepada gadis berambut pink tersebut.

"Silahkan masuk."kata Gakupo seraya membukakan pintu. Miku masuk ke kursi di samping pengemudi sementara, Luka dan Rin duduk di bangku belakang. Sebenarnya, Luka ingin duduk di kursi samping pengemudi. Namun karena kondisi Luka tidak meyakinkan, akhirnya Luka duduk dibelakang di temani Rin.

"Kenapa kamu masuk sih?"tanya Gakupo heran. Memincingkan mata kearah gadis berambut pink yang sudah berada di bangku belakang tersebut.

"Ah, aku hari ini ada ulangan Matematika. Kiyoteru-sensei tidak memperbolehkan untuk ulangan susulan."kata Luka.

"Dasar guru kejam. Ikareterun da! Zanzoku da! (Gila! Jahat!) Untungnya, aku bersama IA-sensei matematikanya. Semoga saja kelas 12 nanti aku tidak diajarkan oleh dia."cibir Rin. Luka tertawa.

"Sepertinya agak mustahil, Rin. Dia kan mengajar seluruh anak kelas 12."kata Miku. Rin merengut. Tawa Luka semakin meledak menatap Miku.

"Sial."gumam Rin.

"Omong-omong, kau mengatai guru, Rin. Kalau kau disekolah kamu sudah kuhukum."kata Miku. Rin melotot kearah Miku lalu mendecakkan lidah.

"Ha'i ha'i, ketua kelas galak."balas Rin seraya melipat tangannya dan menggembungkan mulutnya. Miku hanya melotot tajam kearah Rin sementara Luka sudah tertawa-tawa disamping Rin.

Setelah sampai di sekolah..

"Hai!"seru Chiko seraya menepuk pundak Luka. Luka mengangguk lemah.

"Oy, kau kenapa, Luka? O genki desu ka?( kamu sehat?)"tanya Shin seraya menghampiri Luka.

"O kage desu(aku sehat-sehat saja) Demo, tadi sempat demam saja."kata Luka seraya menyunggingkan senyum. Luka berusaha meyakinkan Chiko dan Shin yang khawatir.

"Hontou ni? Benar tidak apa-apa?"tanya Chiko khawatir. Luka mengangguk. Lalu, ekspresi Chiko menjadi senang kembali.

"Saudaraku pindah ke sini! Mau kenalan? "tanya Chiko. Luka mengangguk sekaligus tertawa kecil melihat betapa Excited-nya Chiko dan betapa cepatnya Chiko berganti mood.

"Dia penggemar Michan, lho! Bahkan, warna rambutnya dicat Teal padahal warna aslinya ash brown. Lalu, dia semulanya yang tidak suka menari. Kini, suka mengikuti lomba-lomba menari. Sepertinya,pengaruh Michan benar benar merubah dia."kata Chiko.

"Sepertinya?"tanya Luka.

"Iya. aku jarang ketemu dia. Lalu, tiba-tiba saja dia pindah kesini kemarin."kata Chiko. Luka hanya menjawab 'oh'.

"Kelas berapa?"tanya Shin acuh.

"Sekelas dengan Michan dan Rinny!"kata Chiko gembira.

"Beruntung sekali dia, ya! Bisa satu kelas dengan idolanya sendiri!"kata Chiko dengan semangat.

"Urayamashii..(Iri..)"kata Chiko sambil mendesah pelan. Luka tertawa.

"Nanti saja kau kenalkan dengan kami, Chiko. Tuh, ada Kiyoteru-sensei."bisikku. Chiko mengangguk lalu duduk di sebelah Luka. Sementara, Shin duduk di belakang bangku Luka dan Chiko.

"Baiklah, saya akan mengacak tempat untuk ulangan Matematika nanti. Ashihara dengan Chiko Fukae, Suzune Ring dengan Hibiki Lui, blablabla.."

Nama-nama terus disebut. Luka berharap-harap cemas. Luka berharap bisa satu tempat duduk dengan Yowane Haku. Anak pendiam namun menyenangkan diajak bicara.

"Akita Neru dan Yowane Haku."sebut Kiyoteru sensei. Aku mendesah panjang. Namun, Haku dan Neru malah high five bareng. Ah, memang Neru dan Haku sudah bersahabat dari kecil.

"Terakhir, Gumi Megpoid dan Luka Megurine. Saya harap, bila kalian berdua bersama, kalian bisa berbaikan."kata Kiyoteru-sensei seraya menyunggingkan senyum. Luka melotot kearah gurunya tersebut seakan berkata 'apa-apaan!' Sementara, Gumi terlihat kalem dengan senyum palsunya.

Dengan enggan, Luka duduk disebelah Gumi. Mereka saling bertatapan selama beberapa saat.

"Jangan mencontek kepadaku ya, Megurine."bisiknya. Aku melotot menatapnya.

"Apa-apaan! Sombong sekali!"bisik Luka. Gumi hanya terkekeh meremehkan. Memang sih, Luka agak lemah dalam Matematika, namun bukan berarti dia bisa diremehkan begitu! Apalagi berbuat sesuatu seperti menyontek!

30 menit kemudian..

Kelas mulai sedikit ramai karena banyaknya anak yang sudah selesai dan asyik bercakap-cakap. Ada juga, berisiknya karena sibuk berbicara pelan untuk mencari contekan. Luka hanya diam dan fokus mengerjakan ulangannya. Namun, tidak sengaja ia salah menyilang di kertas ujiannya.

"Aduh, dimana ya penghapusku?"kata Luka panik seraya mencari di kotak pensil.

"Psst, Megurine. Kau mencari penghapusmu? Kau bisa pinjam punyaku.."kata Gumi dengan nada diramah-ramahkan. Luka berjengit heran. Sebenarnya, ia hendak menolaknya. Namun, waktunya mepet sekali.

"Tumben.."bisik Luka.

"Kau kan temanku."bisik Gumi seraya mengedipkan matanya. Seketika, Luka menampilkan wajah ingin mual mendengar kata-kata Gumi.

"Ambil saja"kata Gumi. Namun, ia tidak menyerahkan penghapusnya. Ia menaruhnya di tengah mejanya. Otomatis, Luka mendekatkan kepalanya dan tangannya untuk mengambil penghapusnya. Tiba-tiba, Gumi berseru.

"Kiyoteru-Sensei! Luka mencotek ulangan saya!"seru Gumi. Aku terkesiap kaget hingga tak mampu membalas kata-katanya. Seketika, semuanya langsung menatapku.

"Luka Megurine! Keluar kelas sekarang! Kamu ke ruang kepala sekolah nanti siang!"seru Kiyoteru-sensei seraya berdecak lidah.

"D-demo, sensei.."kata Luka.

"Tidak ada kata tapi-tapi-an! Segera keluar!"seru Kiyoteru-sensei.

"Tidak kusangka. Biasanya, kau selalu rajin, Megurine. Kenapa kau berubah seperti ini? Saya kecewa dengan perubahanmu."kata Kiyoteru-sensei. Luka hendak menanggapi kata-kata gurunya tersebut. Namun, akhirnya dia cuma mendesah kecil.

"Kenapa Kiyoteru sensei percaya dengan Gumi?!"pikir Luka kesal, "Jelas-jelas, dia kan anak baru.."bisik Luka kesal.

Dengan lemas, Luka keluar dari ruangan tersebut. Semua orang berbisik menggosipkannya. Sementara, Gumi Megpoid tertawa kecil dengan bangga.

"Jahat sekali orang itu..."bisik Chiko ke Shin yang berada disebelahnya.

"Ya, aku yakin Luka tidak akan mencontek walaupun ia tidak tahu jawabannya sekalipun."balas Shin.

"Aku jadi membencinya.."kata Chiko pelan. Shin hanya menatapnya.

Merasa risih ditatapi, Chiko balas menatap Shin, "Nanda yo?"tanya Chiko.

"Ah, tidak. Tidak apa-apa."jawabnya. Chiko mengerutkan dahi. Ah, masa bodoh! Dia harus mengerjakan ulangannya dulu!


Miku POV:

Karena tidak ada guru, kelas kami akhirnya freeclass atau yang biasa mereka sebut sebagai kelas kosong tanpa guru. Aku menyiapkan headsetku, mengambilku buku dan mulai menikmati duniaku sendiri. Semua orang—kecuali Rin dan Len—menggerubungi seorang gadis berambut teal yang sama denganku. Ah, kalau tidak salah namanya Yoshiko siapa gitu.

"Mikuu.."kata Rin seraya mengguncang bahuku. Aku hanya ber-'hah' ria dan menatap Rin. Rin hanya menggembungkan pipinya dan melipat tangannya di depan dadanya.

"Nanda?"tanyaku seraya melepaskan earphone. Aku memang bukannya mau mendiamkan Rin, tapi kondisi di sekitarku berisik. Jadi, aku lebih baik mendengarkan lagu dan menyendiri.

"Jangan menyendiri seperti itu, dong! Bosan nih."kata Rin seraya bergelayut manja di lenganku. Aku menatapnya datar.

"Yee, Rin. Memangnya aku sendiri nggak bosan? Aku juga capek marah-marah tapi setelah diam sebentar mereka ribut lagi."kataku kesal seraya memperhatikan teman-teman sekelasku tampak ribut dan asyik melakukan aktivitasnya masing-masing.

"Sabar, ya."kata Len seraya menaruh tangannya di pundakku. Aku mengangguk pelan dengan pasrah. Namun, Len terlihat tertawa geli melihat wajah lesuku.

"Nanda yo?!"kataku sekaligus bentakan. Bukannya mengurangi tawanya, ia malah tertawa semakin parah.

"Galak amat, ketua kelas."katanya. Aku menyipitkan mataku tanda kesal.

"Bodo amat."jawabku.

"Yang semangat dong. Masa loyo kaya gitu?"tanya Len. Aku hanya memutar bola mataku tanda tidak tertarik.

"Len, jangan godain Miku, dong! Miku lagi bete. Jadi, harusnya dihibur! bukannya malah di godain biar tambah marah."nasihat Rin.

"Tuh, kembaran kamu pinter masa' kamu nggak?"tanyaku sinis.

"Yee, pinteran juga aku. Kalau soal cute, aku yang paling cute! aku kan king shota! coba kalau Rin, paling jadi 'Queen Loli' doang. Tingkat raja itu lebih tinggi daripada ratu!"kata Len dengan penuh percaya diri.

"Nggak gitu! Tetep aja aku yang lebih cute ya, kan, Miku-chan?"tanya Rin dengan mata bersinar-sinar.

Aku terdiam sebentar, "Nggak. Kalian berdua nggak cute."kataku, "Lebih cute juga aku..."lanjutku datar. Len dan Rin sweatdrop.

"Benar juga sih."gumam Len.

"He? berkata sesuatu, Len?"tanyaku yang kurang mejelas kata-kata Len. Dia seketika menggleng cepat.

"Aku tahu tadi kau godain Miku buat modus aja, kan? ngaku aja deh."bisik Rin. Len menatapnya dengan tajam.

Tap..tap..tap..

Terdengar suara langkah kaki berderap berirama di koridor sekolah. Langkahnya tegas dan sepertinya agak tergesa. Aku menatap heran kearah koridor, menunggu seseorang itu untuk lewan di depan kelasku. Ternyat itu adalalah..

"Luka?!"kataku secara tidak sadar berseru.

"Hah? Luka?"balas Kagamine twins bersamaan. Mereka memang tidak melihat Luka, karena Luka berjalan cepat dan hanya terlihat sekilas di depan mataku. Aku tak mengubris kata-kata mereka dan segera berlari menuju koridor sekolah.

"Hei, hei! Miku! Mau kemana?!"seru Rin seraya mengejarku.

"Tunggulah dikelas! Kelas ku jadi tanggung jawabkan denganmu, wakil ketua!"seruku kepada Rin. Ya, memang aku ketua kelas kelas ini dan Rin wakil ketuanya. Rin akhirnya mau tidak mau mengangguk lalu masuk ke kelas. Namun, kali ini ada yang menarik tanganku.

"Ada apa, sih, Rin! Kan sudah kubilang tunggu di ke—"

Ucapanku terhenti saat melihat Len menarik tanganku.

"Kamu kenapa? dan ada apa dengan Luka?"tanyanya dengan wajah khawatir. Aku menggeleng pelan.

"Serius, Miku."katanya lalu memper-erat genggaman tangannya di lenganku.

"Kau tidak perlu tahu."jawabku cepat.

Setelah menyunggingkan senyum, aku melepaskan genggaman Len dengan sedikit kasar. Lalu, aku berlari di koridor. Untungnya, Len tidak menghentikanku kembali. Aku berjalan cepat di koridor sekolah lantai dasar yang terdapat ruang klub, ruang guru, ruang wakil kepala sekolah dan kepala sekolah, serta gudang. Ah, kurasa Luka berada di ruang musik. Ya! biasanya jika Luka gelisah, dia akan memainkan musik. Dengan mempercepat jalanku, aku berlari menuju ruang musik.

"Luka!"seruku seraya membuka pintu klub musik. Ah, kutemukan gadis berambut pink panjang yang sedang memainkan piano dengan asal. Luka mengerjap sebentar seraya buru-buru menghapus air matanya.

"M-Miku, apa yang kau lakukan disini?"tanya Luka dengan suara serak campuran karena sakit dan habis menangis.

"Aku melihatmu berlari kesini."kataku pelan. Luka memperhatikan piano di depannya lalu menunduk dalam-dalam. Kemudian, dia mulai menceritakannya.

"Huh! Menyebalkan sekali Gumi itu!"seruku. Luka hanya tertawa ringan.

"Eh, Miku. Kau kan ketua kelas. Kok kau keluar kelas, sih?"tanya Luka. Giliran aku yang tertawa ringan.

"Menjaga kelas sudah kuserahkan ke Rin."kataku.

"Kelas pasti berubah menjadi neraka pasti."katanya seraya tertawa kecil. Aku tertawa. Yah, Rin memang sangat tegas bila soal tersebut tentang kedisiplinan atau kertertiban.

"Maksudku, punya wakil ketua dan ketua yang kejam saja sudah seperti neraka."lanjut Luka. Aku melotot kearahnya. Sementara, Luka tertawa kecil.

"Kau sendiri, mau disini terus?"tanyaku. Luka mengangguk pelan.

"Mau kemana lagi? Juga untuk memenangkan hatiku lebih baik aku disini sambil menunggu istirahat datang."kata Luka. Dengan pelan, aku mengusap punggung Luka.

"Mainkan satu lagu."pintaku. Luka menatapku pelan lalu mengangguk.

"Demo, kau menari untukku ya. Kamu juga akan menyanyikan lagu itu."pinta Luka. Setelah mendesah beberapa saat, akhirnya aku meng-iyakan permintaan Luka. Ia bersorak kecil. Melihat itu, aku hanya tertawa.

Musik pun mulai mengalun. Aku mengikuti iramanya. Berusaha mengingat-ingat lagu apakah itu.

"Lho, lagu ini kan tentang crime and punishment."kataku saat menyadari lagu tersebut.

"Mm, iya. Aku lagi ingin lagu ini saja. Nggak keberatan, kan?"tanya Luka. Aku menggeleng.

"Tidak. Tentus saja tidak."kataku cepat."Tapi, kenapa kamu memilih lagu itu, Luka?"tanyaku.

"Yah, lagu ini bercerita tentang seseorang yang tidak di notice oleh seseorang yang ia suka. Lalu, ia berkata bahwa ia benci semuanya agar semuanya mau memperhatikannya. Namun, itu tidak berhasil. Jadi, dia bunuh diri agar orang tersebut menyadarinya dan agar seseorang itu bisa melihat orang yang disukainya itu panik dengan keadaan dirinya. Um, memang tidak sesuai dengan perasaanku. Tapi, rasanya pas untuk menggambarkan Gumi. Si wanita pencari sensasi itu. Dia memang mau semua perhatiannya terarah pada dia dan dia hendak melakukan apapun agar mendapatkan itu."kata Luka panjang lebar.

Aku tertawa. Lalu, aku mengikuti nada piano yang mengalun memenuhi ruang musik.

moshimo kimi ni mimi ga attara kono uta wo kikasete agerareru noni

moshimo kimi ni kokoro ga attara kono suki de tsutsunde ageraru noni

nee

kirai ni naru nara boku wa koroshite

kimi ni aisarenai boku nanka iranai

doko nimo inai inai inai baa

moshimo nante doko nimo nakute kitto youisarete nanka nai

"dou shiyou"+ "kou shiyou" + "sou shiyou" = shinjuu kaigi (samitto)

to wa kikoe no ii jikotouta

demo shouganai no sa kou demo shinai to

kimi wa boku wo minai

nee

kirai ni naru kara boku wo aishite

kimi ni aisaretai boku wa inai kara

doku nimo inai yo nee itai yo

moshimo kimi ni mimi ga attara kono uta wo kikasete agerareru

moshimo kimi ni kokoro ga attara kono suki de tsutsunde agerareru

kimi no mimi nante iranai

kimi no kokoro datte iranai

kimi ga sou yatte kurushinderu kao ga miretara ii yo

Prok! Prok! Prok! Prok!

Suara tepuk tangan itu menggema di ruang musik. Aku terkaget melihat ternyata kami berdua punya penonton. Anak kelas 10 dan 11 Berjejelan di pintu dan jendela ruang musik untuk melihat kami. Bahkan, anak kelas 12 yang biasanya kurang peduli, ikut berdesakan di klub musik. Pipiku segera merona.

"Wuah! Miku senpai keren! dia harusnya jadi penyanyi!"

"Luka-senpai juga! Kalau duet sama Miku senpai pasti bagus banget!"

"Itu yang namanya Hatsune Miku, kan?! Keren sekali! Suaranya merdu!"

"Kyaa, Luka-senpai!"

"Ahh! Itu Kouhai yang Kawaii bernama Hatsune Miku!"

"Aahh! Luka-chan sugooi kawaii desu!"

"Ah! Hanya segitu saja! aku tentu saja lebih bagus menyanyikannya!"seru seseorang. Seketika, semuanya hening seraya menatap kearah salah satu gadis yang berdesakan di dekat pintu. Luka dan Miku melotot menatap gadis berambut kehijauan itu.

"Halo, Megurine. Si tukang contek!"seru Gumi. Semuanya berbisik-bisik pelan.

"Benarkah apa yang dikatakan Gumi-senpai?"

"Ah, kurasa tidak."

"Tapi, tadi kulihat Luka keluar duluan dari kelas! Padahal, kudengar tadi kelasnya sedang ada ulangan."

"Kau tahu dari mana?"

"Aku lihat sendiri!"

Bisik-bisik makin terdengar. Sementara, Gumi tersenyum lebar.

"Itu benar, lho. Dia mencontek kearahku!"seru Gumi. Semuanya langsung terkesiap. Lalu, mereka segera menyoraki Luka dan Miku. Bahkan, ada yang tak segan melempar barang kearah mereka berdua.

"Cukup! Yamete yo, Gumi-san!"seru Rin seraya berlari kearah aku dan Luka.

"Ah, kau. Gadis bernama Rin itu. Kau berteman bersama 2 pecundang itu, ya?"tanya Gumi. Rin bersiap-siap hendak mencubit, mencakar atau apapun itu agar bisa melampiaskan emosinya yang hampir meledak. Namun, aku menahannya.

"Sabar Rin.."bisikku. Rin menatapku lalu akhirnya mengangguk lemah.

"Kukira, kau gadis yang menyenangkan dan baik, Rin. Ternyata, kau sama saja dengan mereka berdua."cibir Gumi. Len menyeruak dan datang mendatangi kami. Ia memegang tangan Rin yang menegang seraya menepuk pundakku. Aku mengangguk lemah. Sorot matanya, ia berkata seakan 'berterimakasih' atas menjaga Rin dari kemarahannya.

Tiba-tiba, Gumi mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Rin, "Kalau kamu tidak ingin di bully dan di fitnah olehku, kau bisa bergabung denganku."bisik Gumi. Rin terkesiap.

"Tidak akan! Selamanya aku tidak akan meninggalkan kedua sahabatku!"seru Rin. Aku mendesah lega, kupikir Rin akan menuruti kata-kata Gumi. Namun, kalau begitu.. Rin berarti akan ikut dibully...

"Baiklah, kau sudah memutuskan itu, Kagamine! Semoga kau tidak menyesal!"seru Gumi seraya keluar dari klub musik dan tertawa kencang. Pelan-pelan, orang-orang mulai ke kantin karena sudah jam istirahat.

"Wanita itu gila!"seru Len. Lalu, Len melirik kearah Luka, "Itu yang waktu itu kau ceritakan hari Selasa lalu?"tanya Len kearah Luka. Luka mengangguk lemah.

"Oh, pantas saja aku pernah mendengar namanya! Dia ternyata wanita itu!"kata Rin seraya mengepalkan tangannya.

"Kau pernah bertemu dia, Rin?"tanya Len heran.

"Oh, tadi aku berkenalan dengan Gumi. Dia di apartemen 436."kata Rin.

"Apaa?! Wanita itu di apartemen sebelahku?!"protes Miku. Len tertawa geli. Setelah melemparkan death-glare kearah Len, Len akhirnya berhenti tertawa.

"Iya, semulanya kukira dia baik. Huh! Ternyata dia menyebalkan sekali!"seru Rin.

Terburu-buru, terdengar suara langkah sepatu yang berderap menuju ruang musik. Chiko masuk ke dalam klub musik diikuti oleh Shin. Setelah menjelaskan apa yang terjadi, Chiko menghela napas.

"Tadi, di kelas, dia memaksakku untuk memberikannya contekan."kata Chiko. Semuanya melotot kearah Chiko.

"Hah?!"seru Rin.

"Iya, dia mengancamku, lho. Demo, aku tetap tidak memberikannya."kata Chiko. Semuanya mendesah lega.

"Sebaiknya, tidak usah diberitahu, Hiko-senpai."kataku pelan. Chiko mengangguk.


Gakupo POV:

Aku menguap lebar. Lagi-lagi, hari ini diskusi tentang lagu milik Gumi. Apalagi, perempuan itu selalu menempel kearahku dari tadi! Aku jadi risih rasanya. Namun, apa boleh buat aku tidak boleh membentak ataupun menjauh darinya. Kali ini, kami berada di restoran keluarga. Aku tahu, tadi dia merengek untuk memintaku ke restoran mewah saja. Namun, aku lebih suka restoran keluarga. Lebih tidak terkesan sedang pacaran dan juga makananya enak. Kami-sama, aku kesal sekali kenapa harus di pasangkan dengan Gumi?!

Flashback ON:

Aku berbaring diatas kasur setelah menjemput Miku, Luka, dan Rin dari sekolah mereka. Wajah Luka sedikit pucat, aku sedikit khawatir tentangnya. Saat aku menanyakannya, dia hanya menggeleng pelan dan berkata ia tidak apa-apa. Baru saja aku mandi sore, handphoneku berdering.

"Moshi-moshi."kataku

"Moshi-moshi, Gaku-kun!"seru gadis tersebut. Aku harus menjauhkan handphone selama beberapa saat karena terlalu nyaring suaranya.

"Oh, kami-sama. Berhentilah memanggilku itu, Gumi."ucapku jengkel.

"Nande? Panggilan itu cute tahu!"katanya sambil terkikik geli. Aku mencibir kesal.

"Berhentilah bersikap grumpy dan jelaskan alasanmu kamu tidak menjemputku!"ujarnya terdengar jengkel.

"Nani?! Memangnya aku supirmu!"seruku kesal.

"Demo, kamu ditakdirkan bersamaku, Gaku-kun. Jadi, kita harus bersama selamanya. Secara tidak langsung, kamu tak boleh bersama siapa-siapa selain aku."ujarnya tenang.

"Itu kan hanya perjanjian lagu! Bukan berarti, aku bisa jadi babumu selamanya!"seruku kesal.

"Ah, aku tidak mau tahu. Atau kamu mau memutuskan kontrak denganku?"tanyanya. Aku mengernyit kesal.

Sialan! Jika saja orang tua Gumi tidak kaya dan yang mempunyai Internet co. Pasti aku tidak akan berpasangan dengan Gumi! aku pernah melamar di Crypton Co, sayangnya pemiliknya—Kaito Shion—menolaknya. Ia bilang, sebenarnya aku berbakat namun, Crypton co sudah ada Miku dan Luka serta sederet nama artis lainnya. Jadi, hanya internet co yang bisa menerimaku.

"Gaku-kun?"tanya perempuan itu.

"Nani?"tanyaku.

"Temani aku ya. Hari ini, kedua orang tuaku sedang keluar negri. Jadi, aku tidak ada siapa-siapa dirumah."kata Gumi.

"Ya, nanti kita ke Iroha's restaurant family . Pemiliknya baik sekali."ujarku.

"Nanda yo? Kan kita bisa di-rumahku!"seru Gumi.

"Tidak baik perempuan dan laki-laki berduaan. Lagipula aku lapar."

"Bagaimana dengan restoran mewah saja yang aku tahu?"

"Tidak. Aku tidak bisa membayarnya, kau tahu."

"Aku yang bayar. Lagipula, kau kan sudah kaya sekarang."

"..."

"Baiklah. Iya, iya. Jemput aku ya."

"Astaga! Kamu hanya berbeda beberapa kamar denganku!"

"Ya, ya. Pokoknya jemput aku. Kau juga kenapa sih mau di apartemen kecil ini? Aku kan punya apartemen di roppongi. Kamu bisa kubelikan satu jika kamu mau!"

"Kubilang, aku mau menabung. Kau juga jangan mempedulikan hidupku! Aku lebih suka melakukannya sendirian!"

"Tentu saja aku peduli! Kau pasanganku, Gaku-kun. Baiklah, daah! Jemput ya!"

Aku menghela napas kesal. Mau tak mau, aku harus menuruti kata-katanya. Dia memang benar-benar menyebalkan dan juga suka memerintah! Arghh!

Flashback off

"Jadi bagaimana, Gaku-kun? lagu Wrinkle bagus bukan? Kau yang memerankan laki-laki! Ini seseuai dengan kisah kita!"kata Gumi. Aku hanya mendengungkan suaraku, Malas berbicara.

"Nah, nanti kamu pakai ini blablablabla—"

Aku mulai tidak mendengarkan kata-kata Gumi. Pandanganku terpaku dengan seorang gadis berambut pink yang duduk bersama gadis berambut teal. Di depannya, ada kembaran yang berambut honeyblonde. Luka Megurine, Hatsune Miku, Rin Kagamine, dan Len kagamine itulah nama-nama mereka. Sesekali, Miku berbicara lalu Luka tertawa kecil. Tawa itu.. rasanya semua di sekitarku berhenti.

"—Lalu, ayahku memperbolehkan menulis lagu ini. Katanya lagu ini hebat dan aku—hei! Kau dengar tidak sih?"tanya Gumi kesal. Aku mengerjapkan mataku.

"Ng?"tanyaku. "Motto hakkiri itte kudasai(Tolong ucapkan lebih jelas)"kataku.

"Lebih jelas?! aku sudah ber-ulang-ulang berbicara seperti ini, Kamui!"kata Gumi. Wah, bila ia benar-benar sudah marah ia akan memanggilku dengan nama belakangku.

"Gomen."ucapku pelan.

"Ah, terserahlah. Sepertinya, kau sedang banyak pikiran hari ini. Jadi, untuk kali ini permintaan maafmu ku terima."jawabnya seraya menganduk milkshake miliknya. Aku mendesa lega.

"How could she sit there and laugh and looks so beautiful?" gumamku.

"Nani? Apa yang kau bilang?"tanya Gumi seraya mengikuti kearah pandanganku. Buru-buru, aku mengalihkan padangan.

"Ah, bukan apa-apa. Nah, lanjutkan bahasan lagumu."kataku. Gumi terlihat bersemangat kembali. Lalu kembali bercerita. Maaf, Gumi. Karena kecantikan Luka. Entah kenapa, caranya tertawa, tersenyum, memotong makanan, mengunyah, segalanya terlihat sempurna dan cantik. Bagaimana bisa? Apakah ini jatuh cinta..?

Tiba-tiba, aku terkesiap saat Luka melirik kearahku. Ia menatapku datar dan menaikkan alisnya. Aku merasakan wajahku memanas. Saat tahu aku bersama Gumi, ia mengalihkan matanya kembali dan sejak itu dia tidak melihatku lagi...


Luka POV:

"Miku, kau tahu matematika ini?"tanya Rin.

"Ya, caranya blablabla—"

Aku entah kenapa tidak fokus dengan pembicaraan Miku, Rin, dan Len. Saat, pemuda yang terlihat malas berbicara dengan gadis yang enerjik disampingnya itu berbicara panjang lebar. Bahkan, lelaki itu sepertinya hanya separuh mendengarkan. Gakupo Kamui dan Gumi Megpoid.

"Luka? Luka!"seru Miku seraya mengguncang bahuku.

"E-eh, Nani?"tanyaku.

"Kau tahu soal ini?"tanya Miku.

"Soal ini? Aku tahu sih. Untungnya, aku lumayan bisa."kataku.

"Baguslah. Soalnya, kamu dari tadi bengong terus sih!"kata Rin. Aku tertawa pelan.

"Hontou ni?"tanyaku.

"Kamu sendiri yang bengong kamu sendiri yang tidak tahu."cibir Miku. Aku tertawa kembali.

"Eh, ngomong-ngomong, kepala sekolah berulang tahun yang ke 60 kan?"tanya Len seraya memakan kentang goreng. Kami berada di Iroha's family restaurant. Restoran inilah tempat kami nongkrong. Apalagi, anak pemilik restoran yang bernama Iroha itu sangat baik dan sangat menyenangkan diajak ngobrol. Sayangnya, hari ini dia tidak datang ke restoran milik ayah ibunya. Coba saja dia disini, pasti kami sudah mengobrol seru dengannya. Kami suka restoran ini karena, kami tidak terlalu suka tempat anak muda yang biasanya mengobrol ribut, mabuk-mabukan, atau merokok. Kami sendiri, sudah menganggap sebagai keluarga. Maka, jatuhlah tempat nongkrong sehabis pulang sekolah di Iroha's family restaurant. Biasanya, kami menghabiskan waktu disini sampai jam 8 malam.

"Kau bisa-bisanya hapal, Len. Diam-diam, kamu naksir kepala sekolah ya?"selidik Rin.

"Ih! Kepala sekolah sudah tua berumur 60 tahun dan laki-laki. Dan kau menyukainya, Len?"tanya Miku seraya mengangkat salah satu alisnya. Muka Len memerah.

"Tentu saja tidak! Kebetulan aku mendengar saja dari ruang guru kemarin!"kata Len terburu-buru. Aku menatapnya datar. Iya, aku tahu Len.. kau menyukai Miku kan? Bukan kepala sekolah?

"Huu, kau sekarang mirip adikmu, Len. Suka menguping."seru Miku. Kami tertawa renyah.

Tiba-tiba, aku tak sengaja menatap kearah Gakupo yang menatapku juga. Mukanya terlihat merah. Aku tertawa seraya mengangkat alisku. Lalu, saat aku sadar dia bersama Gumi. Aku langsung tidak melihatnya lagi. Siapa tahu, blushing itu dari Gumi bukan dariku. Bukan sama sekali..

"Aku tidak boleh berharap terlalu banyak."pikirku.

"Lukaaa..Lukaa.."panggil Miku seraya mengguncang tubuhku.

"Haah?"tanyaku saat tersadar dari pikiranku.

"Issh.. kau melamun terus! Kau benar-benar sudah sehat, Luka?"tanya Miku khawatir. Jelas, wajahnya menggambarkan ekspresi khawatir. Aku menggeleng pelan.

Lalu, aku bisa merasakan Gakupo menatapku. Aku tidak menatapnya balik. Karena, kalau aku menatapnya..

Aku akan berharap terlalu banyak..

Dia sudah menjadi milik Gumi dan Chiko. Aku harus mundur perlahan.

Kulirik pelan kearah Gakupo, seraya berbisik, "Kau tak perlu menjauh. Kau hanya perlu diam disana. Dan aku perlahan-lahan akan menjauh darimu.."bisikku.

Aku yakin ini keputusan terbaik. Kupadangi Rin, Len, dan Miku.. aku tak sanggup melihat mereka dibully. Aku sudah mem-bebani mereka. Aku tak mau mereka di bully karena aku. Cukup diriku. Sekali lagi, aku menghela napas dan melirik kearah Gakupo. Tak ada yang salah bukan? merelakan sesuatu demi melindungi teman-temanmu?

"Sayounara.."bisikku. Aku yakin, ini keputusan yang baik untuk diriku.

Haloo! chapter berikutnya bakal ada yang menyatakan perasan nih. Siapa ya? Oh ya, nanti saudara Chiko bakal muncul di chapter 5! Dan harusnya, ini terbit tanggal 15, tapi filenya hilang dan aku akhirnya kehilangan mood untuk menulis kembali. Selamat lebaran bagi yang merayakan! *bow* Oh ya, di chapter depan bakal muncul Lenka dan Mikuo juga salah satu OC-ku, Sayumi Yoshiko. Chapter kedepan bakal mulai ribet huehuehue.


Credit song:

1.Crime and punishment- Hatsune Miku(Tsumi to Batsu)

Deco*27


Happy birthday to:

Ala masanina: Happy birthday! WYATB! Jangan berhenti di tengah jalan ya fic-nya ;^;

Nekochanflat: Happy birthday, Neko-chan! WYATB! I always support your fic!


Balasan review:

Yumiharizuki

Ah tidak apa-apa,lho. Oh ya, di chapter berikutnya ada OC fic ini yang bernama Yumi lho huehuhue. Iya, memang bertele-tele *pundung* Yosh, akan kuusahakan kuperbaiki! Iyaa maenstrim banget ya? hehehe.. Nge-feel ya? Ah, syukurlah. Tadinya, kurasa ceritanya rata( serata aspal(?) ). Terimakasih sudah meng-favorite dan fav! *bow* akan saya usahakan untuk memperbaiki jadi yang lebih baik!

Guest

Huee.. nunggu selama itu ya? maaf-maaf *bow*

Guest 2

Ini sudah dilanjut kok *wink*