Balasan review ch 3 :

Williewillydoo; dipikir-pikir emang naru gak pernah dapet peran serius ya, hahahaha… nyatanya dia di canon-nya jadi hokage, yakan? Tapi dia disini berwibawa tapi ada pada saatnya *nyengir kuda

Hanazono yuri; oke, ini aku lanjut kok *kedipkedip

Xiuka07; makasih ya… aku juga suka *kedipkedip, aku akan sangat semangat untuk melanjutkan cerita nyaaaaaaaa, makasih…

Atika723; aku lanjut nih, :D

Dewisetyawati441; aku senyum sendiri baca review kamu, oke keep writing and fighting! Grooooaaaarrrrr :p:D

Neripyon; oke aku akan semangat, satu dua satu dua! Makasih ya ^^)9

Cynta dragneel; tanda2 apa nih? Tanda2 apa hayooooooo… coba tebak! Wkwkwkwkwk, oke sip aku lanjutin Chynthiaaaa….

Saki chan19; iya nih tumben *garukgarukkepala, woaaah! Aku ga janji untuk chap ini panjang heheheh

Kirara967; kita lihat saja kelanjutannya kirara-san, semua akan terkuak setajam silet *gaadahubungannya *kesimpulannyaGAJE, hehehe

Wowwoh . geegee; oke… ini udah dilanjut

Applessian; hahahaha mending diliatin adek, nah aku diliatin kakak aku lagi baca fic. Kalo kamu tahu time after time punya hanaruppi, nah itu pas aku baca itu aku lagi nangis kepergok kakakku di dalem kamar, YA AMPUN! Ekspresi kakakku itu lho ya… dan aku? cuman bisa melongo ga jelas… wkwkwkwk jadi malu

Daunilalangkuning; ya gapapa, aku uda seneng banget kok XD. Wah aku ga tau tuh, tapi aku langsung search itu anime. Kayaknya bagus deh, mungkin kalo punya kuota lebih aku mau download kekekekekekekeke :3

Sisi no zhukie; semoga kamu tetep penasaran sampe fic ini selesai yaaaahhhhhh

Guest; ow ow ow ow ow, singkat jelas dan padat. Terimakasih reviewnya…. :D

Simcool; iya lamar, lamar saku sekarang abang sasu! Eitsss! Tunggu dulu, acara lamar melamarnya masih sangat jauh. Dan sebenernya nih simcool, SWWTPH ini belum masuk konflik lhooooo, kasi bocoran nih buat kamu *kedipkedip jangan kasi tau sapa-sapa yaw wkwkwk. Ehm, kecepetan yah alurnya? Duh aku bingung scene adu pedangnya gimana takut ga nge-feel, trus juga aku baru UAS kemaren (kamu tahu lha ya gimana otak sehabis mikir selama dua minggu tanpa jeda #OMG!). Jadi kalo chap kemaren kurang memuaskan aku minta maaf dan semoga ch 4 ini bisa lebih baik dari chap kemarin. Aaaaaaamiiin…

Simcool; hahahaha, sampe dua kali review makasih yak

L chan; bagus dong, kalo gitu kamu harus pantengin terus sampe SWWTPH selesai, jangan lupa juga buat review ch ini wkwwkwkwk ^^]v

Ice; ini udah update, semoga tetep penasaran sampai fic ini rampung ;)

Nanau10; oke ini dah lanjut kok, heehehe, makasih yaa

The rozes; iya, iya, iya, uda termasuk cepet belum nih? Semoga tetep penasaran sampe nih fic tamat yay...

Goodbye summer; semoga beneran seru baca chap ini, *kasijempol! Thanks ;)

Hime; nyahahaha… akhirnya kamu naca ff ku juga xD, iya nih spesial buat hime deh! Semoga suka yaaaa. Biarin typo-nya, itu buat ngingetin aku bahwa fefe juga manusia wkwk :p

Diniavivah1123; wah, makasih uda dibilang keren ^^)a, oke ini aku udah lanjut semoga suka ya…

Lindabalanyafefe; uwaaaa! Aku ga nyangka kamu nge-review lho, lin (o.O)a hehehehe *pelukeratlinda* muah muah :*:*:* makasih linda sayang, hug me~

Untuk embun . adja1 aku minta maaf, karena dibalasan review chap 2 & 3 penname kamu ilang dan menyisakan angka 1. Maaf yaaa… tapi aku seneng kok kamu bisa nge-review fic aku *pelukerat. Sekali lagi aku minta maaf, padahal aku uda cek sebelum posting kemaren chap 3, maafin yaaaaa…

.

.

.

.

.

Untuk chap 4 ini, aku persembahkan untuk MahestiraK. Happy birthday! Semoga kamu suka untuk chap ini #pelukeratMahes (sesuai dengan apa yang kamu request-in ke aku), sekali lagi SELAMAT ULANG TAHUN… aku tahu ini hadiah (kalo kamu nerima ini sebagai hadiah) ga penting-penting amat dan udah lewat dari hari kapan kamu brojol

―Semoga suka dan ENJOY!

.

.

.

.

Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya meminjam beberapa karakter dan tidak mengambil keuntungan apapun dari fic ini

A/n: fic ini terinspirasi dari anime Akagami no Shirayukihime (bagi yang belum tahu anime tersebut, silakan tanya mbah google), long fic, OOC, typos, tidak baku, ada beberapa OC, dll

.

.

.

.

.

"Bagaimana bisa…?" tanya Sakura pelan dan lirih.

Sakura berhenti berjalan, lidahnya sudah tidak bisa lagi menahan pertanyaan yang sedari tadi ingin ia tanyakan kepada Sasuke. Pertanyaan yang sedari tadi mengusik pikirannya. Melihat Sasuke datang, bukan! Bukan itu, tetapi melihat Sasuke sadar membuat logikanya tampak berpikir keras. Ia seorang apoteker, jadi dia tahu jika seseorang yang meminum atau memakan racun kemungkinan kecil bertahan sangat tipis sekalipun meminum obat yang dapat menhambat tersebarnya racun. Kecuali jika orang yang terkena racun itu memiliki antibody yang sangat kuat untuk memerangi racun yang masuk ketubuhnya.

"Hn?"

Sasuke menghentikan langkahnya saat mendengar suara Sakura yang lagi-lagi masih bisa didengarnya dengan jelas. Jubahnya berkibar mengikuti pergerakan tubuhnya yang memutar menghadap Sakura. Sebelah alisnya terangkat, matanya menatap manik hijau yang jernih itu. Dari jarak yang beberapa langkah dari Sakura, membuat Sasuke dengan mudah melihat wajah Sakura yang terkena silau cahaya matahari.

Mulut Sakura terbuka namun tidak ada suara yang keluar dari sana. Tiba-tiba saja dia menjadi segan dengan Sasuke. Dia merasa sangat lancang bertanya pada seorang Pangeran. Sakura hanyalah seorang rakyat kecil bukanlah seorang bangsawan yang berdarah biru maupun orang terpandang, sedangkan Sasuke adalah seorang Pangeran, Pangeran dari Kerajaan Inverno. Jika diibaratkan, Sakura dengan Sasuke bagaikan seekor semut dengan seekor gajah. Tetapi Sakura sudah kepalang bertanya tadi, jadi dia harus memperjelas maksudnya.

"Bagaimana… bagaimana bisa Anda terbangun? Ehm, maksud saya. Bagaimana bisa Anda terbangun setelah memakan apel beracun itu. Padahal Anda hanya meminum obat untuk menghambat tersebarnya racun dari saya, dan saya tidak yakin obat itu berfungsi dengan sangat optimal sampai Anda terbangun."

"Saya dan Anda? Formal sekali, Sakura"

"Ah, ma-maaf…" Sakura menunduk dalam.

Sasuke terus melihat Sakura, memperhatikan dengan seksama tingkah yang gadis itu buat. Matanya menghindari kontak dengan mata hitam Sasuke. Sakura nampak salah tingkah ketika Sasuke mempertanyakan keformalan bahasa yang digunakan gadis pink itu terhadap dirinya. Senyum tipis tak bisa ia tahan lagi melihat Sakura yang sedang salah tingkah. Setelah dia menarik Sakura pergi terlebih dahulu dari ruangan itu dan meninggalakan Pangeran Estate dengan wajah yang memerah tadi.

"Kau tak bisa seenaknya membuat peraturan di kerajaanku, Uchiha." Kata Pangeran Estate dengan menekankan kata 'Uchiha' seraya mata birunya menatap nyalang Sasuke tadi.

Sasuke hanya mendengus pelan. Benar, ini di Estate bukan di Inverno dan ini juga bukan kerajaannya. Lalu kenapa jika ia ingin beradu argument dengan si Pirang itu. Sasuke menyeringai, "Seperti yang dikatakan Kakashi, kau bisa dihukum mati karena telah meracuniku, Uzumaki." Ujarnya dingin.

"Kau mengacamku," Naruto mendesis. Dengan segala emosi yang ia tahan dalam dirinya, mengingat dia hanya sendiri dan dia akan kalah jika beradu argument dengan Sasuke serta pengawalnya itu. Naruto benci melihat senyum menjijikan yang terpasang diwajah Pangeran Uchiha itu. Sial!

Dimana Kozuki? Dimana pengawalnya disaat dia sedang membutuhkannya saat ini. Sudah dipastikan bahwa ia akan kalah beradu argument dengan mereka. Apalagi sudah jelas mereka mendukung gadis itu dan berusaha memojokkannya. Naruto menggeram frustasi, tetapi sesaat kemudian senyumnya mengembang melihat pengawalnya datang dari balik pintu ruangan ini. Dia berjalan mendekat dimana majikannya duduk. Kozuki nampak amat tenang.

"Selamat datang di Estate, Pangeran Uchiha." Kozuki membungkuk hormat pada Sasuke.

Sedangkan Sasuke menggangguk hanya sekadar formalitas. Ia tahu itu hanyalah basa-basi belaka melihat bagaimana ekspresi pria itu yang mengeras ketika datang ke ruangan ini tadi. Pasti dia telah melihat anak buahnya tertidur di lorong rumah ini akibat ulahnya. Sebagai seorang pengawal, dia cukup pintar untuk tidak menarik pedang. Karena jika hal itu terjadi sudah dipastikan dalam waktu yang tak lama akan terjadi perang.

Sasuke memandang pria itu, "Hn, sepertinya aku sudah tidak punya urusan disini," Naruto melotot mendengarnya. Sasuke berdiri berjalan kearah Sakura dan menarik tangannya, "Ayo, kau juga tak punya urusan lagi disini."

Kakashi dan Ino ikut berdiri namun perkataan pengawal pribadi Pangeran Estate menghentikan mereka, "Kami punya peraturan yang cukup kuat untuk mematahkan peraturan Inverno, Pangeran Uchiha. Apalagi Anda berada di dalam wilayah Kerjaan Estate."

Dan Naruto tersenyum sumringah mendengarnya. Berterimakasihlah pada kakek tuanya yang menugaskan Kozuki sebagai pengawal pribadinya.

"Aku pikir semua sudah jelas. Jika kau masih meragukannya, kau bisa mengatakannya pada pengawalku." Sasuke melirik Kakashi dan Ino yang mengangguk mendengar perkataan Sasuke. Mereka―Sasuke dan Sakura, keluar dengan geraman tidak terima dari Naruto. Dan Sasuke tak memperdulikannya.

Sasuke mendengus mengingatnya. Sasuke pun tidak bisa menahan senyum yang mengembang ketika Sakura memilih untuk tinggal di Inverno. Memilih untuk meninggalkan semua kenangannya di Estate dengan berat hati tetapi niatnya untuk meninggalkan Estate sudah tidak bisa digoyahkan lagi.

"Aku lebih suka sebelum kau mengetahui aku adalah seorang Pangeran." mata mereka bertemu, hijau alam dan gelapnya malam saling menatap. "Racun itu hanya membuatku pingsan bukan berarti aku akan sekarat dengan hanya memakan sebuah apel beracun. Lagipula kau telah melakukan pertolongan pertama untuk menghambat racun itu tersebar."

Sakura tak tahu harus membalas apa ucapan Pangeran kedua Inverno itu. Mendengarnya saja telah membuat dirinya sebagai seorang Apoteker bangga. Banyak hal yang telah ia lewati tiga hari kebelakang. Banyak pengalaman juga yang takkan terlupakan, khususnya pertemuan tidak sengajanya dengan Pangeran kedua Inverno, Pangeran Uchiha Sasuke. Yang telah menuduhnya sebagai seorang penyusup sekaligus menyelamatkan masa depannya dari penguasa Estate.

"Terima kasih…" ucap Sakura dengan sangat tulus, dia tersenyum kepada Pangeran terakhir Inverno itu.

Dua kepala yang berbeda warna itu menoleh ketika mendengar suara dari Kakashi yang datang bersama Ino. Sakura dan Sasuke keluar dari rumah singgah Pangeran Naruto lebih dahulu, walau Sakura diseret paksa oleh Sasuke untuk mengikutinya keluar. Karena Pangeran berambut pirang kuning itu bersikeras tidak mau menerima bahwa Sakura menjadi rakyat Inverno.

"Pangeran Uzumaki dan pengawalnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi yah Sasuke?" ucap Kakashi yang datang mendekat ke arah dimana Sasuke dan Sakura berdiri.

Setelah sedikit bernegosiasi yang cukup alot dengan Kozuki―pengawal pribadi Naruto. Kakashi tak heran mengapa Kozuki ditunjuk sebagai pengawal pribadi untuk Pangeran Uzumaki, kecakapan yang dimilikinya lah yang membuat ia unggul. Sangat pantas jika ia harus mengawal Naruto yang hanya bisa memerintah bawahannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi terakhir kali Kakashi bertemu dengan Pangeran berambut pirang itu dulu dibandingkan sekarang, Pangeran Estate itu mengalami perubahan yang cukup positif walau sikap dan sifat masa kanak-kanaknya masih terbawa.

"Bagaimana keadaanmu, Sakura?" Kakashi mendekati Sakura yang tampak tertekan. Sedangkan Sasuke hanya menggendik dan berlalu menuju kudanya.

"Aku baik-baik saja, Kakashi-san. Tak perlu khawatir," ucap Sakura menenangkan, "Terima kasih, berkat kalian aku bisa hidup bebas sekarang. Terima kasih banyak," Sakura membungkuk dalam sebagai rasa terima kasihnya atas pertolongan yang mereka berikan untuknya.

"Ah, jangan sungkan Sakura. Jika bukan karena Sasuke yang ketika terbangun memanggil namamu,―" Kakashi terkekeh melihat tatapan tajam yang diberikan oleh Sasuke, "―dan memakan apel beracun milik Pangeran Uzumaki. Kami juga akan tetap menolongmu dari Pangeran Uzumaki. Jadi jangan sungkan ya, Sakura."

Sakura merasakan rambatan panas yang menjalari kedua pipinya. Dia benar-benar salah tingkah sekarang mendengar pernyataan yang Kakashi ucapkan. Apalagi ketika melihat Ino yang tampak menahan tawa tadi. Bisakah saat ini juga dia menghilang tertelan bumi atau situasi seperti ini tidak tercipta sama sekali. Sakura benar-benar malu saat ini.

Sasuke berdeham keras untuk menghilangkan situasi canggung yang sempat tercipta karena ulah Kakashi. Ingatkan dirinya nanti untuk membuat perhitungan kepada Kakashi. "Hn, cepatlah. Aku tidak ingin sampai di Kastil saat malam hari." Sasuke memacu kudanya untuk berjalan tanpa memalingkan wajahnya. Karena sudah dipastikan wajahnya sedikit memerah.

Kakashi semakin terkekeh melihat Sasuke yang sudah menunggangi kudanya. "Sakura kau bersama Ino, bersiaplah untuk kehidupan barumu di Inverno."

Kakashi memacu kudanya yang diikuti Ino bersama Sakura. Dan mereka meninggalkan rumah singgah Pangeran Uzumaki Naruto. Selamat tinggal Estate, selamat tinggal semua kenangannya, dan selamat datang Inverno, selamat datang untuk kehidupan baru serta lembaran masa depannya. Sakura membenarkan hoodie-nya, menengok kebelakang―menengok tempat kelahirannya untuk terakhir kalinya.

SNOW WHITE WITH THE PINK HAIR

Hari telah berganti malam tetapi tangannya masih sibuk menandatangani setiap perkamen dan dokumen-dokumen yang sudah ada sejak kemarin di meja kerjanya. Matanya dengan jeli membaca setiap kata yang tertulis pada sebuah perkamen yang sedang dipegangnya. Isi dari perkamen itu adalah perihal terjadinya penggelapan dana dari salah satu bangsawan yang berada di utara wilayah Inverno. Ini bukanlah hal sepele, dana yang telah digelapkan oleh bangsawan dengan nama keluarga Masayashi tidaklah sedikit. Hampir seratus ribu silber, dana sebanyak itu bisa untuk membuat sebuah gudang senjata plus gaji para pegawainya.

Seminggu setelah Sasuke berkunjung ke rumah singgah Pangeran Uzumaki. Pekerjaannya di Kerajaan seakan tidak ada habisnya. Apalagi dua belakang ini banyak sekali masalah dan keluhan dari rakyat di wilayah utara Inverno. Sebelah tangannya memijat pelan pelipisnya. Kepalanya pusing seketika membaca banyaknya kasus yang telah dilakukan oleh anak sulung Masayashi. Penarikan pajak yang melebihi dari kebijakan yang telah ditentukan oleh Peraturan Perpajakan Kerajaan, tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat kecil, perjudian serta perlakuan tidak menyenangkan, dan masih banyak masalah yang tertulis di perkamen itu.

"Selesaikan masalah anak sulung Masayashi. Jika perlu tindak lanjuti dia ke Peradilan Para Tetua." Titahnya seraya meminum secangkir teh herbal yang dibawakan oleh Pengawal Pribadinya.

"Baiklah," jawabnya mengambil perkamen dari atas meja kerja Sasuke. "Beristirahatlah, kau nampak seperti mayat hidup." Kakashi terkekeh dibalik maskernya.

Kakashi hapal setiap tindak tanduk Pangerannya itu. Sudah lebih dari sepuluh tahun semenjak dia diutus sebagai pengawal pribadi Pangeran kedua Kerajaan Inverno, Pangeran Uchiha Sasuke. Saat itu umurnya menginjak lima belas tahun ketika ditunjuk sebagai pengawal pribadi pangeran. Dia adalah kandidat terpilih dari tiga kandidat yang ditunjuk. Butuh pengorbanan yang cukup banyak untuk lulus dari ujian yang diselenggarakan. Satu hal yang selalu ia ingat, dia akan terus memegang janji sahabatnya Obito yang gugur saat Ujian Ketrampilan Hidup di Pegunungan Envarino untuk melanjutkan cita-citanya menjadi Pengawal Pribadi Pangeran. Dan disumpah setia untuk selalu menjaga Sasuke dengan nyawanya.

"Hn, akan aku usahakan. Setelah masalah ini rampung." Jawab Sasuke sekenanya. Ia tahu bagaimana keadaan tubuhnya, dua hari berturut-turut tanpa istirahat barang sejenak. Sasuke dapat membayangkan wajahnya seperti mayat hidup, seperti yang Kakashi katakan padanya.

"Ini," Kakashi menyerahkan gulungan perkamen yang cukup tebal diikat dengan sebuah pita berwarna hitam, berbeda dengan perkamen lainnya yang diikat dengan pita berwarna merah. "Aku tidak tahu ini akan membuatmu senang atau sebaliknya. Tetapi, sepertinya bertemu dengan Pangeran Uzumaki membawa dampak lain untukmu."

Sasuke mendongak kemudian mendengus kasar, "Aku tak peduli dengannya. Sekalipun dia peduli dengan hal ini."

"Yah, itu terserah padamu. Aku lihat dia cukup berkembang Sasuke,"

"Tapi dia tetaplah bodoh."

Kakashi mengangguk, tangannya menimang-nimang perkamen yang tadi diberikan Sasuke padanya. Tiba-tiba pikirannya melayang kembali saat kejadian di rumah singgah Pangeran Uzumaki, Kakashi tersenyum dibalik maskernya. "Oh ya, Sasuke. Bukankah kau akan membuat sebuah peraturan bagi rakyat Inverno?" Sasuke menatap Kakashi serius, "Sebuah peraturan yang mengatur hak untuk menolak tawaran yang diberikan―"

Sasuke melempar tatapan tertajamnya kepada Kakashi yang terkekeh dengan keras dibalik masker hitamnya. Dia bangkit dari kursi kebanggaannya. Disini mendengar ocehan tidak mutu dari Kakashi membuat tubuhnya semakin lelah. Namun sebelum itu, perkamen khusus yang tadi diberikan Kakashi ia simpan di lacinya.

"―Ah, begini… seperti rakyatku yang mempunyai hak untuk menolak apa yang ditawarkan kepada mereka." katanya menirukan nada suara Sasuke yang datar, lalu terkekeh dengan mudahnya. "Rakyat pasti akan senang mendengarnya, Sasuke. Atau… memang sudah kau cantumkan dibuku Peraturan Kerajaan secara diam-diam. Jika benar adanya, maka Peraturan Perpajakan Kerajaan akan ditolak mentah-mentah oleh rakyat. Bukankah begitu, Pangeran?"

Sasuke tahu Kakashi sedang menggodanya dan ia tetap berjalan tanpa menghiraukan kekehan menyebalkan yang meluncur dari mulut yang tertutupi masker itu. Sasuke butuh air dingin untuk membasuh wajahnya sekarang. Dan jangan lupakan untuk membungkam mulut Kakashi dengan tambahan masker yang tebal nanti, karena mood-nya telah memburuk saat ini. Sebelum Sasuke sempat menarik pintu ruang kerjanya, pintu itu telah terbuka menampilkan Ino datang membawa beberapa perkamen tambahan yang ia peluk dengan kedua tangannya.

"Pekerjaan tambahan, eh?" tanya sinis keluar dari mulut Sasuke melihat Ino dengan tumpukan perkamen yang dipeluknya. Dan dia keluar meninggalkan ruang kerjanya.

Ino meringis mendengar komentar tajam dari Sasuke. 'Ada apa dengan perubahan sikapnya?' Tanya Ino dalam hati. Bukan salahnya juga jika ia membawakan segunung pekerjaan. Tapi mau bagaimana lagi tugas akan tetap menjadi tugas walaupun ditunda sampai kapanpun. Ia bahkan telah memilah mana saja dokumen yang menurutnya penting untuk ditandatangani oleh Pangeran Inverno itu terlebih dahulu.

"Mau kemana dia?" tanya Ino yang ditanggapi gendikan bahu Kakashi ketika melihat Sasuke berjalan keluar dari ruang kerjanya.

"Dia akan mengusulkan sebuah peraturan baru."

"Peraturan baru?"

Kakashi mengangguk, "Hak menolak tawaran yang diberikan." Dengan sengaja Kakashi meninggikan suaranya agar didengar oleh Sasuke. Kemudian terkekeh untuk kesekian kalinya hari ini.

Dan Ino tahu bahwa Kakashi akan membuat rekor hukuman terbanyak. Sesegera mungkin, ya, Ino akan pastikan hal itu.

.

-fe-

.

Matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang menerpa wajahnya. Dia menguap sebelum menegakkan tubuhnya untuk memulai hari yang cerah ini. Ia tak pernah tidur senyenyak ini selama hidupnya. Mungkin setelah psikisnya yang tertekan akibat menjadi seorang pelarian yang berasal dari kerajaan lain serta sempat dituduh sebagai seorang penyusup di lain kerajaan yang berbeda, membuat tidurnya selalu dihantui rasa khawatir dan gelisah.

Silau cahaya matahari pagi seketika menerpa tubuhnya saat Sakura membuka jendela kamarnya. Sakura menghirup oksigen sebanyak yang bisa paru-parunya tampung kemudian mengeluarkannya melalui mulut secara perlahan, ia melakukan kegiatan itu berulang kali sampai matanya melihat seseorang di halaman belakang. Seorang pria paruh baya yang tengah mengambil beberapa sayur-mayur yang ditanam sengaja di halaman belakang rumah yang juga menyatu dengan kedai ramennya. Paman Teuchi, begitu pengunjung kedai memanggilnya juga Sakura. Ia pria tua yang ramah dan hangat. Masakannya sangat enak, tak heran kedai yang ia buka tak pernah kehabisan pengunjung.

Paman Teuchi mempunyai seorang putri bernama Ayame. Dia gadis yang cantik dengan rambut hitam panjang yang dikucir kuda. Ayame terlihat lebih muda daripada umurnya. Ayame terlihat seumuran dengan Sakura padahal umurnya tiga tahun diatas Sakura. ayame juga punya bakat masak yang luar biasa yang sepertinya diturunkan oleh Paman Teuchi.

"Selamat pagi, Paman." Sapa Sakura.

"Selamat pagi, Sakura."

Pria paruh baya itu masih terlihat sangat segar dengan lipatan keriput yang cukup banyak diwajahnya. Masyarakat Inverno yang ramah membuat Sakura betah tinggal dan memulai hidup baru disini. Selama seminggu terakhir ia bekerja membantu kedai ramen Paman Teuchi yang buka pukul delapan pagi hingga pukul sepuluh malam.

Sakura berbalik menuju kamar mandi untuk melakukan ritual setiap paginya. Setelah selesai dengan semua urusannya di pagi hari, Sakura telah siap membantu Paman Teuchi dan Ayame di kedai.

Tok… tok… tok…

Sakura langsung membuka pintu ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Sakura tersenyum melihat siapa yang telah mengetuk pintu kamarnya tadi. Ia tersenyum dengan amat manis kepada Ayame, "Sudah aku katakan padamu. Tidak perlu repot-repot membawakan sarapan ke kamarku. Aku bisa mangambilnya sendiri, Ayame-san."

Ayame menggeleng, kemudian masuk ke dalam kamar Sakura untuk meletakkan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas teh hijau khas Inverno untuk Sakura. "Tidak, Sakura. Aku juga sudah mengatakan padamu bahwa hal ini sama sekali tidak membuatku repot. Justru aku senang melakukannya."

Sakura tersenyum sekali lagi mendengar ucapan Ayame. Betapa baiknya mereka kepada Sakura, dengan hangat mereka menyambut Sakura. Bahkan gadis berambut hitam yang dikucir kuda itu sangat senang ketika Kakashi-san mengantarnya kesini. "Terimakasih, tapi lain kali biarkan aku membantumu membuat sarapan, Ayame-san"

"Tentu, kenapa tidak?"

Sakura tertawa dengan begitu renyah bersama Ayame diawal hari ini. Ia jadi merindukan pelanggan apotiknya yang senang sekali membuat Sakura tersenyum sampai tertawa lepas. Bagaimana kabar mereka setelah Sakura meninggalkan beberapa resep obat yang hari ini seharusnya sudah habis? Lalu bagaimana mereka mendapatkan obat setelahnya? Dia tak tega melihat nenek yang rumahnya diseberang apotiknya mengalami sakit punggung akibat faktor usia. Sakura merasa tak enak sekaligus khawatir memikirkannya.

"Sakura, Sakura… kau baik-baik saja?"

Sakura terkesiap melihat Ayame yang melambai-lambaikan tangan didepan wajahnya. Dia melamun, sehebat inikah rasa rindu kampung halaman?

"Ah, maaf. Aku baik-baik saja, Ayame-san. Tak perlu khawatir,"

"Kalau begitu, makan sarapanmu. Aku tunggu di dapur, katanya ingin membantuku memasak."

Sakura tertawa mendengar ajakan dari Ayame. Ia mengangguk, "Siap, kapten!" serunya yang disambut tawa lepas dari Ayame.

.

.

Jam makan siang telah lama berlalu, namun para pengunjung seperti tak pernah ada habisnya. Sakura sampai kewalahan melayaninya. Dua pegawai yang dipekerjakan oleh Paman Teuchi pun tak pernah berhenti bolak-balik, dari meja para pelanggan kemudian kembali ke dapur untuk mengambil pesanan. Sakura mengelap sedikit peluh yang menetes dari pelipisnya. Sungguh menyenangkan bekerja di kedai ramen ini, Sakura tak pernah merasakan lelahnya menjadi seorang pelayan dan kini ia merasakannya sendiri.

"Pesanan meja lima!" teriaknya ke arah dapur untuk mengambil pesanan yang Sakura sebutkan.

"Ini. Maaf merepotkanmu, Sakura." kata Ayame tampak tak enak hati.

Sakura tersenyum menerima nampan berisi pesanan meja lima, semangkuk ramen spesial. "Tidak, aku senang membantumu, Ayame-san." Ayame tersenyum sebelum masuk ke dapur membuat pesanan selanjutnya.

"Ini dia, ramen spesial yang Anda pesan, Tuan." Ucap Sakura ramah seraya meletakkan semangkuk ramen yang masih mengepul harum. "Selamat menikmati," Sebelum Sakura benar-benar berbalik untuk mengambil pesanan untuk meja lainnya. Tangannya telah ditarik oleh orang yang tadi memesan ramen spesial.

"Tunggu."

"Ya, ada lagi yang ingin dipesan, Tuan?"

Pengunjung itu hanya menggeleng kemudian mengambil sumpit kayu yang sudah disediakan dan mulai memakan ramen pesanannya. Sakura mengernyit tidak mengerti, dia hanya memandang pengunjung pria itu bertanya. Sakura masih menunggu, mungkin saja setelah mencicipi ramen yang pria itu pesan ada yang kurang atau hal lainnya. Akan tetapi tak ada tanda-tanda pengunjung itu akan menyuarakan komentar atau hal lainnya. Sakura merasa sedang dipermainkan, ia menatap kesal pada pria dengan topic aping yang menutupi kepalanya.

"Jika tidak ada keperluan lainnya, saya akan kembali ke dapur." Ucap Sakura, nada suaranya dibuat menyindir. Masih ada banyak pekerjaan yang harus ia lakukan untuk membantu Ayame di dapur. Bukannya melihat seorang pelanggan yang sedang menikmati ramen pesanannya yang kiranya hanya memperhambat pekerjaannya. "Selamat menikmati pesanan Anda, Tuan." Kata Sakura sebelum berbalik meninggalkan pelanggan meja lima yang tengah tersenyum melihat punggung Sakura yang menjauh.

"Hn."

.

-fe-

.

"Selamat malam, Sakura. Kami pamit pulang, sampai jumpa esok pagi."

Sakura melambaikan tangannya kepada dua pegawai Kedai Ramen Paman Teuchi. Hampir pukul sebelas malam kedai ramen ditutup. Pelanggan terakhirnya adalah seorang ibu hamil yang sedang ngidam ingin ramen buatan Paman Teuchi sendiri. Sakura hanya menggeleng memaklumi ibu hamil itu saat suaminya tak henti-hentinya meminta maaf. Tetapi Paman Teuchi tetap melayaninya dengan amat baik dan ramah. Ia bahkan menolak uang untuk membayar ramen dari sang ibu hamil itu. "Aku senang membantu, simpan saja uangnya. Wanita hamil memang terkadang tak bisa ditebak keinginannya." Kata Paman Teuchi pada suami ibu hamil itu. Dan Sakura tak pernah putus-putusnya untuk bersyukur karena berada ditengah-tengah orang yang berhati baik kepada sesama.

Klontang!

Suara nyaring terdengar dari dapur, Sakura menoleh dan berjalan cepat ke dapur ketika mendengar teriakan dari Ayame. Lantai dapur kotor karena tumpahan kuah ramen saat Sakura datang. Ia melihat Ayame yang sedang meringis sambil memegang tangan kanannya. Sakura mendekat memeriksa tangan Ayame yang sepertinya tersiram kuah panas ramen.

"Segera aliri dengan air dingin hingga suhunya kembali normal, lalu biarkan kering dengan sendirinya. Jangan pakai kain untuk mengeringkannya, itu dapat membuat kulitmu terkelupas. Aku akan mengambil obat untuk lukamu." Intruksi Sakura yang segera dilakukan oleh Ayame. Gadis berambut pink itu dengan cepat meninggalkan dapur menuju kamar untuk mengambil beberapa perlengkapan untuk mengobati luka bakar ringan yang dialami Ayame. Ia berpapasan dengan Paman Teuchi yang nampak sangat khawatir di lorong rumah.

"Apa yang terjadi, Sakura?" suaranya terengah ketika bertanya pada Sakura.

Sakura tersenyum menenangkan, "Ayame-san menjatuhkan panci untuk merebus kuah ramen."

"Tapi tadi aku dengar Ayame berteriak kesakitan."

"Ayame-san terkena sedikit kuah panas saat menjatuhkan panci itu." wajah Paman Teuchi nampak sangat khawatir ketika Sakura menjawab. "Hanya luka bakar ringan, tak perlu khawatir, Paman. Aku akan kembali setelah mengambil obat untuk Ayame-san." Sekali lagi Sakura tersenyum untuk menenangkan Paman Teuchi. Beliau langsung berjalan cepat menuju dapur.

Rambut sebahu Sakura bergoyang seiring langkahnya yang mantap menuju dapur. Dia membawa tas selempang berisi obat-obatan yang sengaja ia bawa dari apotiknya. Sakura melihat Ayame yang duduk disamping Paman Teuchi, raut wajah Paman Teuchi nampak sedikit lega melihat kedatangannya. Dengan cekatan Sakura mengobati tangan Ayame yang terluka dengan salep yang telah diolahnya dari beberapa rempah dan tanaman herbal. Sesekali Sakura melihat Ayame yang meringis menahan sakit ketika ia mengoleskan salep ke tangannya. Setelah itu Sakura membalut tangan Ayame dengan perban.

"Kau terlihat sangat ahli, Sakura. Seperti sering melakukannya." Kata Ayame.

"Ah, aku dulu seorang Apoteker sebelum pindah ke sini,"

"Pantas, kau sangat ahli mengenali jenis rempah-rempah ketika kau membantuku membuat kuah ramen, Sakura. Terimakasih telah mengobatinya," ujar pemilik kedai ramen itu pada Sakura.

Sakura mengangguk tersenyum mendengar ucapan terimakasih dari Paman Teuchi seraya membereskan peralatan yang tadi digunakan untuk mengobati tangan Ayame. "Sama-sama, Paman. Sudah menjadi tugasku untuk mengobati orang yang terluka. Seperti panggilan hati,"

Setelah membersihkan lantai bersama Paman Teuchi. Sakura kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Dia meletakkan tas selempang miliknya di bawah ranjang tidurnya. Ia menghela napas, tubuhnya terasa pegal-pegal setelah seharian membantu Ayame di kedai. Sakura menyeduh teh herbal yang sering ia minum saat masih di Estate. Sakura membaui tehnya, aroma teh yang menguar membuat perasaanya menjadi tenang dan tubuhnya terasa lebih rileks. Kamarnya terasa lebih hening namun tidak sepi ataupun senyap. Karena suara binatang malam menjadi melodi yang indah untuk mengantarnya tidur.

Gelas teh herbalnya, ia letakkan di atas nakas tempat tidurnya. Isinya telah habis lebih dari separuh diminum oleh Sakura. Matanya hampir terpejam ketika sesuatu menabrak jendela kamarnya yang tertutupi kain. Sakura mencoba untuk mengabaikannya tetapi jendelanya terus membuat bunyi seperti ada sesuatu atau seseorang yang melempar batu ke jendelanya. Dengan waspada Sakura mengambil pisau kecil yang selalu ia bawa, takut-takut kalau itu adalah seorang pencuri yang berusaha masuk ke kamarnya melalui jendela. Dengan hati-hati Sakura menyibak kain yang menutupi kaca jendelanya. Dia melihat keluar jendela tetapi tidak ada orang disana hanya terdengar suara jangkrik yang kian nyaring ditelinganya.

Sakura kembali berbaring dan mengabaikan apa yang tadi terjadi. Tetapi suara itu muncul lagi, suara itu bukan lagi sesuatu yang membentur jendelanya melainkan sebuah ketukan. Jantung Sakura memompa darahnya dengan cepat. Entah sejak kapan ia menjadi sangat waspada dan paranoid sekarang. Sakura menelan ludahnya menyibak hati-hati kain yang menutup jendela kamarnya. Tangannya yang lain memegang erat pisau kecil yang mungkin saja dapat ia gunakan untuk membela diri jika orang yang mengetuk jendelanya mempunyai niatan jahat.

Tangannya gemetar ketika berusaha membuka jendela. Pisaunya telah terarah kedepan, siapa tahu pencuri itu akan langsung muncul dihadapannya dan membuatnya kaget. Ini hanya mengantisipasi jika hal itu terjadi.

"Siapa disana?" ujarnya waspada, matanya menyipit mencoba melihat dengan cahaya yang minim. Tidak ada yang menyahut hanya suara jangkrik lah yang terdengar ditelinganya. "Siapa disana?" tanyanya sekali lagi dan hanya suara jangkrik lah yang terdengar.

Mungkin hanya orang iseng, benak Sakura berpikir positif. Ia menutup kembali jendelanya. Tetapi sebuah tangan membuatnya hampir berteriak ditengah malam jika saja tidak menutup mulutnya. Tangannya yang memegang pisau telah ditahan oleh pemilik tangan yang membekap mulutnya. Sakura menatap tajam orang yang tengah memandangnya. Ia tak bisa mengenali siapa orang yang tengah membekapnya itu.

"Pelankan suaramu, Sakura?"

Mata Sakura membulat mengenali pemilik suara itu. Sasuke, ya itu suara Sasuke. Tidak salah lagi!

Dengan cahaya yang sangat minim Sakura mengamati kontur wajah yang ada dihadapannya ini. Mata yang sewarna dengan langit malam dan senyum tipis itu, orang ini memang Sasuke. Sasuke perlahan melepas bekapan dimulutnya serta mengambil pisau dari genggaman Sakura.

"Aku tidak ingin kejadian di sungai terulang kembali."

Dan Sakura tidak akan salah mengenali suara orang yang telah menolongnya ini dari Pangeran Naruto. "Sasuke? Ah, Pangeran."

"Hn."

"Sedang apa Anda disini?"

"Sudah aku katakan, jangan pakai bahasa menyebalkan itu," nadanya tajam dan terdengar tidak suka ditelinga Sakura. Sakura menelan ludahnya.

"Maaf― eh, mau kemana kita?" tanya Sakura ketika tangannya ditarik untuk mengikuti Sasuke. Dengan hati-hati Sakura melompat melewati jendela dibantu Sasuke.

"Diam dan ikuti saja aku."

Sakura mengikuti Sasuke yang berjalan didepannya sambil menggenggam tangannya yang lebih kecil dari tangan Sasuke. Perasaan hangat menjalar dihatinya membuat pipinya sedikit merona. Tangan Sasuke menggengam tangan Sakura dengan sangat erat, seakan-akan Sakura akan melepas tautan mereka sewaktu-waktu. Sakura tak bisa lagi menahan senyum yang mengembang begitu saja diwajahnya. Hatinya menghangat karena perlakuan Sasuke.

.

-fe-

.

Sedangkan di atas sebuah dahan pohon yang cukup besar, berdiri seseorang yang tengah mengamati targetnya. Punggungnya bersandar nyaman pada batang pohon dengan kedua tangannya yang bersedekap. Mata hitam tajamnya tak pernah putus melihat gerak-gerik dua targetnya di bawah sana. Bibirnya membuat lengkungan, dia menyeringai mengetahui bahwa dua orang itu memang lah targetnya. Terutama pada gadis berambut merah jambu itu.

"Rambut yang cantik,―" pujinya dengan senyum yang menghias diwajahnya.

Dia melompat ke dahan lain untuk memperjelas pengintaiannya kali ini. Semakin dekat akan semakin jelas dan rencananya akan berjalan dengan lancar. Matanya menyipit akibat seringaian yang terpasang diwajahnya.

"―berwarna merah jambu. Sesuai dengan yang dibicarakan."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued…

A/n:

Hai… *lambailambai

Selamat Tahun baru 2017! *akutahuinitelatbanget* maaf ya…

Aku minta maaf buat updet yang lebih dari dua minggu ini *ojigi, aku udah pake wifi di hape (gua lupa namanya apa, kalian tahu lah yah) buat posting tapi lolaaaaaaaa pake BGT. Itu juga gak muncul-muncul *kzl, jadi harus ke wifi id buat post nih chap. Tapi tenang aja, chap berikutnya udah jadi. So, bisa updet cepet kalo ga ada masalah lagi. Doa-in yah gaeess…

Gimana? Ini uda cukup panjang 'kan? 3500-an words buat ceritanya doang lho gaes… ohya, tambahan juga sedikit bocoran. SWWPTH masih sangat panjang, konflik yang sebenarnya belum keluar ke permukaan lho gaes. Jadi kalo kalian pengin tahu kelanjutannya, terooosss pantengin SWWPTH sampai tamat. Untuk ending? Kalian mau request happy atau sad nih wakakakaka *ketawasetan. Aku siiiiii… penginnya yang gimana yah? (sok mikir)

Makasih untuk fav dan follow yang baru masuk, aku seneng banget lhooooooo… THANKS YA!

Terus pantengin dan jangan lupa untuk…

Read and Review?

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian disini. Dan untuk para silent readers, jangan malu-malu buat ngeripiu. Aku pasti seneng banget kalo kalian nge-review buat chap ini. Nanti aku dengan semangat melanjutkan cerita SWWTPH ini sampai tamat. Aaaaaaamiiin… jangan sungkan buat ninggalin komen, saran, maupun kritik atau mau ngoreksi buat chap ini. Aku terima dengan tangan terbuka kok, asal yang bisa membangun semangat aku biar setinggi menara Eiffel yang ada di depan rumah sana (tiang listrik kali ah) wkwkwkw

Oke cukup cuap-cuap gaje dari fefe cantik ini #narsis, jangan lupa ya tinggalin jejak kalian…!

Sampai jumpa lagi dichapter selanjutnya… *lambailambai

Rinandafe

8.45 AM, 5/01/2017