CHLOROFORM
by: roxanne
Teruntuk seseorang yang aku cintai,
Aku mempercayaimu bahkan lebih dari aku mempercayai bahwa esok matahari akan terbit dari arah Timur.
Teruntuk seseorang yang aku sayangi,
Akankah kau dapat mengeja namaku jika kita bertemu dalam syurga? Tapi jangan khawatir aku akan mengajarimu sampai lidahmu tak tau cara berhenti mengeja namaku.
Teruntuk seseorang yang kupanggil paman Chanyeol,
Aku menanti kata maafmu, tapi yang lebih kunanti ada melihat senyummu.
Aku, kau dan kita akan melihat kembali sinar matahari yang menyiangi rerumputan tepat dibelakang rumahmu. Aku akan berteriak padamu dan kau menahan kesal karenanya. Kita akan kembali berguling diatas rerumput itu, dan saat itu tiba kembali jangan lupa untuk meminta maaf pada rerumputan yang tersakiti karena ulahmu yang kasar.
Teruntuk paman Chanyeol,
Aku menyangi dan mencintaimu, maaf sepanjang hidupmu kau tidak pernah mendengar kalimat itu dariku, tapi aku melakukannya lebih dari kata-kata yang dapat aku jelaskan. Dan perlu kau ingat kau pun belum pernah mengatakannya untukku.
Tapi percayalah aku melakukannya, sepercaya aku bahwa kau juga.
"Teruntuk Byun Baekhyun dan Park Chanyeol, aku ingin mengucapkan kata yang tak pernah kalian pun dengar dari mulutku, maaf." Ucap lelaki itu sambil meremas kertas yang berada dalam genggamannya. Dia menghela nafas seperti membuang kebahagiaannya. Tulang-tulang dan otot miliknya terasa selunak busa. Lelaki yang sekeras berlian telah hilang dari tubuhnya, tergantikan dengan lelaki lembek yang sekuat pria berumur seabad.
"Maaf…." Ucapya sekali lagi dengan suara lirih.
Photograph
Kris adalah lelaki pesolek yang selalu dibalut pakaian sekelas Hugo Boss, bahkan dalaman sekelas Calvin Klein yang harganya mewakili harga dirinya. Digandrungi Dolce and Gabbana yang wanginya berbanding terbalik dengan bau busuk dari kelakuannya. Dengan segala kebajingannya ia menjabat sebagai kepala divisi dalam intansi kepolisian, dan hanya satu-satunya simbol kepahlawanan yang ia miliki adalah tubuh tegapnya yang menyerupai Superman. Kebajingannya dilengkapi dengan skema keturunan dari leluhurnya yang luar biasa terhormat, dengan menjabat sebagai anak kepala parlemen dan cucu seorang diplomat yang memiliki usaha dibidang maritim, Kris tidak pernah mengenali arti kata melarat dalam hidupnya.
Latar belakangnya ditambah pahatan fisiknya menciptakn seorang Kris yang penuh dengan egoisme, kekeras kepalaan, ambisius, pengecut, kekanak-kanakan dan sialnya dia benar-benar memiliki ciri-ciri seorang yang mengidap power syndrome* yang semakin melengkapi keburukannya. Hukum filsafat menjamin kemulusan hidupnya, dan tak akan ada seorangpun yang bisa mengotorinya terkecuali orang yang telah menciptakannya menjadi seperti ini. Dengan segala kehebatan –kebajingan- yang dimilikinya, Kris tidak memiliki kelemahan dalam dirinya yang dapat membuat dirinya terjatuh, satu-satu kelemahan yang dimilikinya terletak pada orang lain, seorang yang bernama Kyungsoo. Kyungsoo adalah seorang bocah lelaki dengan rambut hitamnya yang kontras dengan warna kulitnya yang kuning, bola mata besar yang sangat jarang dijumpai pada ras kulit kuning -orietal- lainnya, berserta sikap polos, bodoh dan manjanya yang dikutuk untuk menjadi anak seorang bajingan macam Kris.
Dengan label kepahlawanannya yang ia dapat setelah memecahkan kasus harta karun dari Park Chanyeol yang telah membawa banyak kesenangan baginya, harta yang semakin menumpuk, ditariknya ia menjadi kepala divisi pasukan elit –yang mana penuh dengan kehormatan dan berlahan basah- sekaligus membawanya atau bahkan menjebaknya pada kurungan penangkap tikus yang diciptakan Kim Jongin berserta komplotannya. Tugas pertama sebagai kepala divisi pasukan elit adalah mencari Luhan, yang sialnya dia adalah psikolog yang sedang menangani kasus seorang tawanan dari kelompok pemberontak yang mengancam negara –Luhan mengetahui banyak rahasia kelompok tersebut, yang belum pemerintah ketahui-.
Kris tau, bahkan sangat tau bahwa Luhan dilenyapkan oleh dia. Bukan karena penculikan yang dilakukan kelompok pemberontak seperti yang dihipotesiskan seluruh idiot yang mengaku detektif. Dia, si badut yang harusnya mendiami sirkus bukan perusahaan semi konduktor yang telah banyak menyokong negara ini, lebih dari itu ayahnya telah banyak memakan uang dari seorang Kim Jongin yang artinya ia pun juga.
Mencari Luhan artinya membuka kembali kotak pandora yang telah ia singkirkan bahkan ingin lenyapkan. Ingin sekali dia melepaskan kasus ini dan melemparnya pada siapapun orang yang tidak beruntung, tetapi gelar kepahlawan yang dimilikinya memberatkan, gelar kepahlawanannya seolah meperolok ia dan harga diri Kris yang sangat tinggi akan kejatuhan diskon akhir tahun jika ia tunggang langgang dari kasus ini.
Sialnya seluruh dunia tidak tahu yang ia akan hadapi keseramannya melebihi mitos terseram sekalipun, mereka menganggap tugas ini hanya membutuhkan otak Kris yang katanya seorang genius –faktanya katanya tidak selalu fakta- dan sedikit adu otot, mereka tidak tahu mentallah yang paling digantungkan dalam kasus ini. Terlebih ia masih trauma pasca ancaman atau bisa disebut peneroran yang dihadiahkan untuk keluarganya dari santa Jongin.
Kris menghela nafas frustasi akan kepelikan hidupnya, sambil melemparkan berita acara tentang hilangnya Luhan. Ia mengusap wajah kasar, lalu menjabak rambutnya seolah-olah dengan itu ia dapat membagikan sedikit rasa sakit yang ada dikepalanya kepada tangannya.
"Apa sesulit itu hyung? Aku rasa kau bisa menyelesaikannya. Percayalah semua akan beres." Sehun –adik dari istrinya- yang duduk dihadapannya berkata dengan wajah penuh keyakinan. Dan Kris mendesis dan tertawa disaat berasamaan, dalam hati ia menertawakan sikap sok pintar bocah remaja ini.
"Aku harap begitu. Aku hanya memohon padamu untuk menjaga anakku dan juga kakakmu." Kata Kris yang dibalas anggukan oleh Sehun.
"Aku hanya berpesan padamu, berhati-hatilah jika memang sesulit yang kau bicarakan." Sehun berdiri dari posisinya sambil berbicara. Kris terkikik dengan sikap sok pintar yang lagi-lagi Sehun lakukan.
Revolve Game
Semuanya berawal dari sini, sebuah gereja mewah didaerah pinggiran Seoul. Sebuah bangunan yang dimitoskan dijaga para malaikat berwajah rupawan yang akan melindungi seluruh manusia yang mengakui dosanya. Lalu mengapa tempat yang penuh keaggungan dan kesucian ini menjadi titik terjadinya suatu tindakan kriminal dilakukan? Bukankah ini menjadi berita buruk bagi seluruh orang tua yang telah membujuk anak-anak mereka dengan bualan itu. Dibalik itu, hakikatnya malaikat menjaga kita yang ingin dijaga, tapi malaikat terlalu sibuk dan malas untuk menjaga orang sekeras kepala Luhan yang mengejar kematiannya sendiri.
Tapi otak Kris menyangkal bahwa semua ini berasal dari gereja ini. Ini berawal dari Byun Baekhyun dengan sikap persetannya yang sangat melancholy, dan membuat semua ini runyam. Secara logika jika memang dia mencitai Park Chanyeol cintailah dia sampai busuk maka Kris atau Luhan tidak akan bertemu iblis Jongin. Jika seperti itu harusnya Kris lebih baik menyalahkan hal yang lebih belakang, harusnya Park Chanyeol tidak menculik, lebih belakang lagi harusnya Park Chanyeol tidak menemui iblis Jongin, lebih belakang lagi harusnya ia tidak menjadi seorang polisi, dan lebih-lebih belakang lagi seharusnya ia tidak menghirup oksigen dinegara ini.
Gereja ini menyedot Kris, sama seperti halnya gravitasi yang menarik benda apapun yang ada dipermukaannya sejauh apapun benda-benda itu melompat. Tetapi saat ini Kris hanya mampu untuk memasuki gereja tersebut, keberanian Kris sebatas melihat dan mencari bukti-bukti fisik yang ada dan mengambil jarak aman dari Kim Jongin, tanpa mau menguak rahasia didalamnya.
Daun pintu dan jendela gereja tertutup rapat setelah kejadian hilangnya Luhan, bahkan police line masih memutari gereja. Menurut omongan para suster banyak sekali jamaah yang semakin tertarik dengan kasus ini -tanpa tau bahwa yang telah hilang pantas lenyap-, yang mereka yakini orang-orang jahat telah tega menculik orang sercerdas dan sebaik Luhan –yang sebenarnya tidak pernah sebaik yang mereka pikirkan- melakukan kesalahan yang besar.
Pada akhirnya Kris harus nekat menguak sedikit rahasia yang ada dibalik gereja maha suci dan maha mewah ini. Pandangan Kris mengosong ditengah-tengah ruang tempat pendeta membacakan janji-janji Tuhan dan para jamaah mendengarkan khotbahannya itu. Dilihat dari sidik jari yang ditemukan, tempat diujung ruangan yang sedikit membelok tersembunyi itu sidik jari Luhan lebih banyak ditemukan, dan mungkin disana juga tempat Luhan dilenyapkan. Dibalik boks yang menyerupai kotak telepon itu ditemukan sedikit kelupasan kulit Luhan. Jadi bagaimana bisa seorang bajingan Jongin memasuki tempat ini dan bermain-main disini. Sepengelihatan matanya semua tampak normal disini, pendetanya adalah pendeta, susternya adalah seorang suster, jemaahnya adalah jemaah umat kristiani.
Kris memasuki ruangan yang lebih pribadi dari ruangan sebelumnya, ruangan yang sejatinya dihuni oleh para manusia yang penuh ketaatan. Ruangan itu dipintui sebuah pohon pinus, dan ketika pintu terbuka yang langsung terlihat adalah salib yang menempel didinding berserta senyuman penuh kebijaksanaan suster paruh baya. Kris dipersilahkan duduk dan dalam raut kebimbangannya ia duduk disana.
"Bolehkah saya melihat daftar nama jemaah disini?" Kris menanyai wanita paruh baya yang dibalaskan senyuman. Wanita itu mengangguk dan mengambil sebuah buku bantal –karena sangat tebal sekali- dari balik rak.
"Ini lihatlah, aku benar-benar tidak percaya jika memang benar ada diantara mereka yang melakukan kejahatan. Mereka tampak baik hati tak satupun yang kukira mampu melakukan hal buruk." Kris manggut-manggut sambil menelusuri lembar-lembar buku mencoba terlihat sopan, rupanya kebajingan Kris sedikit bersembunyi jika menghadapi orang yang penuh kebijaksanaan ini.
"Apa anda mengenal tuan Luhan?" Kris menanyai suster dengan lugas.
"Ya saya mengenalnya sedikit, dia baru dua minggu disini. Dia tampaknya benar-benar mencari ketenangan hati, dia tampak serius mendengarkan khotbah, bahkan hari itu adalah hari kedatangannya yang lebih dari ketujuh kalinya dalam dua minggu itu dan beberapa kali saya memergokinya menangis dikotak pengakuan." Kris bergumam menanggapi omongan wanita itu, karena ia sedang terfokuskan pada nama seseorang. Tidak, Kris tidak kaget sama sekali bahkan ini pernah dikhayalkannya berulang-ulang kali.
"Lalu apa anda mengnal Kim Jongin?" tanya Kris ketiga kalinya.
"Ah ya dia anggota jemaah lama, saya cukup mengenalnya. Dia adalah orang yang penuh kesederhanaan. Tapi dia terlalu sibuk katanya untuk hadir disetiap acara kami." Ya mungkin Jongin cukup sederhana pada otaknya bukan hidupnya menurut Kris, otaknya cukup sederhana untuk memilih menikmati mengedarai mobil Maserati yang seharusnya bisa ia beli dibanding menikmati kostum badutnya yang panas dan kasar.
"Apa dia disini juga waktu Luhan menghilang?" Kris bersuara dengan nada penuh selidik.
"Aku rasa tidak?" suster itu mengernyit menyadari arah pembicaraan lelaki ini.
"Apa dia benar-benar tidak kesini?" Kris kembali bertanya dengan nada mengintimidasi kali ini, yang direspon dengan kerutan penolakan dari manusia yang lebih tua disana.
"Ya kurasa tidak, apa kau mencurigainya?" Kris gelagapan atas kelakuannya sendiri.
"Bukan hanya aku mengenalnya dan dia mengenal Luhan, mungki dia melihat Luhan." Kilah Kris yang semerawut dan dia berbicara tanpa otaknya, sehingga lebih terdengar seperti ucapan mesin penjawab telpon.
"Saya harap yang anda alasankan adalah kebenaran, mungkin ada orang jahat yang kami tidak ketahui mampir kesini. Jongin adalah tipikal orang yang bahkan tidak mampu membunuh seekor nyamuk. Semoga ucapanku membuat anda mempetimbangkan kembali penilaian anda tentangnya." Kris tersenyum penuh kecanggungan atas ketersinggungan suster tersebut, yang tercerminkan dalam bahasa si suster yang lebih formal, seakan-akan menunjukan bahwa ia adalah orang terhormat begitupun jemaahnya.
Ada dua kemungkinan yang Kris pikirkan ditilik dari film-film action yang pernah ia lihat. Pertama memang itulah Jongin saat dalam wujud normal, atau suster tersebut bersekongkol dengannya. Tapi perlu diingat bahwa suster tersebut adalah seorang wanita yang mana tidak dapat melakukan hal yang dilakukan kelompok homoseksual. Apapun yang terjadi Kris harap dia dapat menemukan harta karunnya yang kedua.
Admonition
Hari sudah menjadi sore saat Kris berdiri didepan sebuah bangunan yang berwarna putih yang disebut rumah sakit. Langkahnya membawanya kehadapan kamar berpintu besi. Kris harus siap meghadapi amukan orang sinting didalamnya, maka ia menarik nafas yang sangat dalam terlebih dahulu sebelum memasuki kamar tersebut. Kata yang tepat untuk menggambarkan kamar itu adalah hening, saking heningnya seperti membawa orang-orang yang memasukinya ke dunia lain yang penuh ketenangan atau mungkin keputus asaan, yang jelas didalam sana hanya dunia yang diberisiki suara nafas. Seseorang terduduk lesu diatas ranjangnya, sambil memerhatikan jendela. Warna jingga matahari menyirami rambut seseorang itu sehingga tampak kecoklatan. Kulitnya pucat dan tampak tidak sehat dikarenakan ia lama terkurung di dalam ruangan. Pandangannya mengosong seperti orang-orang sinting kebanyakan.
Kris memilih menduduki kursi yang berjarak beberapa meter dari seseorang itu. Ia berdeham mencari perhatian orang tersebut, karena sesungguhnya ia bingung dan tak tau cara berkomunikas dengan orang sinting.
"Byun Baekhyun..." Suara berat Kris menggelegar, menyalahi aturan dalam dunia yang seharusnya hanya diberisiki suara nafas, namun seseorang itu tetap tidak bergeming.
"Baekhyun…" panggil Kris sekali lagi, mencoba menarik seseorang itu untuk keluar dari dunianya dan bernafas lagi didunia yang khalayak sebut sebagai dunia normal, dunia realita, dunia seharusnya manusia hidup.
"Aku minta maaf untuk semuanya" ucap Kris yang tampak sekali tidak tulus dan yang pastinya tetap membuat orang itu tetap tidak bergeming dan memilih berdiam diri di dunia yang digemarinya, "aku minta maaf atas apa yang terjadi terhadapmu dan Park Chanyeol"
"Pa-man…." Seseorang itu bergumam sangat lirih dan berkedip beberapa kali dari lamunannya, ternyata prasa Park Chanyeol mampu menariknya kembali kedalam garis normal. Dipisahi satu hembusan nafas dari gumamannya, kini mata seseorang itu mulai berkabut dan bahunya bergetar, "Paman…paman…paman…paman"
"Aku minta maaf…" kata Kris sekali lagi yang lagi-lagi dengan nada yang tidak dipenuhi dosa kembali.
"Pergilah, aku tidak memiliki apapun lagi yang bisa diambil." Orang itu melemparkan apapun yang dapat diraihnya pada Kris, ia menjerit semaksimal udara yang ada dalam paru-parunya. Urat lehernya yang dibalut kulit pucatnya semakin terlihat saat ia menjerit, jeritan penuh kebencian, kekecewaan dan cerita lain dalam jeritannya yang terdengar putus asa. Ia terus melempar apapun, mungkin jika ia mampu ia akan melemparkan tubuhnya pada arah suara yang bahkan tak ingin ia tatap wujudnya.
"Luhan menghilang dan aku rasa Kim Jongin menghilangkannya." Ucap Kris yang mana akhirnya membuat Baekhyun menatapnya. Kris membalas tatapan iu dengan penuh harap. Kris butuh Baekhyun untuk membuka gerbangnya ataupun menyelamatkannya untuk kedua kalinya.
"Kau kira aku peduli?" Baekhyun menjawab Kris dengan penuh kedinginan, bahkan nada dan senyumnya penuh hinaan, nafasnya berkata bahwa Kris dan Luhan pantas mendapatkan semua kesengsaraan. Kris naik pitam ia berdiri, langkahnya yang lebar dalam sekejap membawanya kehadapan Baekhyun dan meremas bahunya kencang sambil berteriak tepat dimukanya.
"Persetan dengan dirimu! Jika saja kau tidak kabur darinya, semuanya, aku dan Luhan tidak akan menderita seperti ini! Sikap cengeng brengsekmu yang membawa kami kepada si iblis Jongin. Tidak kah penderitaan kami setelah kematian kekasihmu cukup untuk membayar kesalahan kami Baekhyun-ss i!?" Kris terengah-engah setelahnya. Baekhyun mendorong Kris dengan kakinya yang bebas, lalu meninju lelaki tersebut tepat di philtrum-nya yang mana membuat Kris pening walaupun pukulan Baekhyun tidak lebih kuat dari pukulan orang yang tidak makan sebulan.
"Pergilah, aku tidak sedang ingin memberikanmu dongeng saat ini." Baekhyun kembali dengan tatapan kosongnya, kembali dengan Park Chanyeolnya.
"Ya tapi aku akan datang saat nanti untuk mendengarkan dongengmu brengsek." Suara debuman bantingan pintu memulai kembali keheningan yang terjadi dalam ruangan Baekhyun.
.
.
.
Ini salahnya menikahi seorang wanita yang hidupnya hanya dipenuhi susu, coklat dan gulali. Wanita-wanita tipe seperti ini sungguh merepotkan, dan bahkan masih percaya bahwa dia adalah seorang pangeran yang pantas menghamba kepadanya seperti budak. Wanita dengan gelimangan harta ini memang melengkapi kesempurnaan sejarah Kris dengan menikahinya, seorang anak jutawan dengan rupa cantik dan kemolekan tubuh dengan kehormatan yang tinggi, dimana hal-hal tersebut sangat bernilai dalam masyarakat Asia.
Wanita ini mengeluarkan merconnya dengan segala kepanikannya bahwa Kyungsoo tidak ditemukan disekolah. Kris bukan tidak peduli pada darah dagingnya, tapi paling-paling Kyungsoo mengunjungi sesuatu yang dilihatnya menarik yang pastinya tidak akan terlalu dari jauh dari sana.
Kris memasuki lingkungan sekolah Kyungsoo dan mencoba memposisikan dirinya sebagai Kyunsoo, berpikir apa yang membuat ia tertarik. Kris mengelilingi sekolah tersebut yang mana tidak terlalu besar karena hanya terdiri dari tiga kelas, dan balita tidak butuh gymnasium yang harus dibangun sekolah tersebut. Kris tertarik dengan kolam air mancur yang kurang lebih berjarak tiga puluh meter dari belakang bangunan sekolah. Kris berjalan kesana, dan sayup-sayup ia mendengar suara anaknya yang berceloteh, ia tersenyum dan merasa menang atas pemikirannya.
Dari balik air mancur, ia melihat anaknya menjadi lebih tinggi dari biasanya atau bahkan melebihinya. Ternyata ia memeluk sebuah bahu. Senyum Kris dibalas olehnya, ia melambaikan tanagn siap melompat ciri khas seorang anak kecil yang bertemu dengan induknya. Yang dipeluk bahunya membalas senyum Kris dengan garis lengkung yang tidak biasa. Pakaian serba biasa-biasanya tampak kusut dengan Kyungsoo digendongannya. Tatapan khas orang sakit menatapi Kris.
Seluruh jalur nafasnya seakan menghilang, satu-satunya yang bisa menggambarkan perasaan ia adalah rasa takut dengan bumbu kekhawatiran. Bahkan rasa takut itu lebih mengganggunya dari pada kematian. Mungkin adalah kesalahan terbesar mengenal orang itu, atau bahkan menjadi seorang aparat polisi adalah kesalahan terbesarnya, sekali lagi ia menyesali atas pilihannya. Ia menyadari dalam dunia ada beberapa hal yang boleh dan tidak terkuak, dan ia menyesal telah berakting sebagai seorang pahlawan pada hari-hari sebelumnya, mencoba menjadi seseorang yang terlihat gagah berani seperti Genghis Khan. Dan sekarang ia hanya seperti pengemis tua tanpa daya bahkan takut untuk bernafas.
"Selamat siang Tuan Kris." Lelaki itu tersenyum padanya dengan nada penuh hormat dan senyum penuh pengrendahan.
"Kyungsoo ayo pulang." Ia mengabaikan lelaki itu. Lelaki itu sepertiya kecewa dengan mesin kontrol emosi yang sedang aktif dalam dirinya. Lelaki itu mebisik pada Kyungsoo dan satu kecupan disamping bibir Kyungsoo dihadiahkan pada Kris. Kyungsoo yang kesenangan menggeleng menolak ajakan Kris.
"Suster menyampaikan salammu untukku, dan aku menitipkan salamku untukmu dari anakmu ini." Satu kecupan lagi kini tepat dibibir Kyungsoo dihadiahkan lelaki itu.
To Be Continue
Power Syndrome adalah suatu keadaan yang terjadi akibat seseorang hidup dalam kebesaran bayang - bayang masa lalunya
Let me say 'hello' to greet you all…..
Finally, saya dapat melanjutkan fanfiction ini.
Saya berusaha pake banget mikir gimana caranya agar sequel gak lebih ngebosenin dari yang sebelumnya, kalau ternyata sequelnya lebih gak rame maaf saya udah semampunya ;(
Saya nulis KaiSoo di summary, karena ya kyungsoo jadi target jongin dan ya bisa kalian imajinasiin kira-kira gimana kelajutannya. Maaf untuk luhan masih ada dibalik cerita. Dan segini dulu ya penjelasan aku tentang ceritanya, ntar kebanyakan jadi gak rame.
Terimakasih untuk orang yang selalu ngikutin fanfict aku, love ya. Terakhir aku mohon respon kalian review atau apapun, kalua sekiranya gak ada yang tertarik dengan sequelnya aku hapus biar fanfictinya sampai chap 3 saja.
Thanks to:
Kinkyeol, nyupaens, IoriMelody, Abagnale, daishitaao, parkshita, Canbek, jinahyoo, Park Beichan, byunbaekssi, Maknae lines 1994, byunhyurie48, Dazzlingcloud, allete, manyeolbae, cucunyachanbaek, vie, follower, favorite-er and all silent reader. You cheer me up
