~Alat Musik Yang Berharga~

Fairy Tail Fanfic by indranevareth

Disclaimer : Hiro Mashima-Sensei

Pairing : Erza S, Natsu D, Lucy H, Gray F, Leo Loke

Genre : Musical, Romance, Comedy, Friendship


Summary :

Guitar Fender Jaguar, adalah Guitar kesayangan Natsu yang paling berharga, namun Guitar itu tudak bisa digunakan lagi karena mengalami masalah ketika sedang berlatih di kelas musik SMA Higashi, hingga latihan ditunda selama satu hari.

~ Mohon maaf dari penulis apabila cerita dalam chapter ini sedikit agak membosankan, karena penulis sedikit kehilangan inspirasi, tapi penulis berusaha memaksimalkan chapter ini~

~Selamat Membaca~


201655( 05 Mei 2016 ) 11.30 PM

Suasana kelas musik SMA Higashi yang telah diresmikan oleh kepala sekolah, para anggota kelas musik sedang memulai aktivitasnya kembali dan tentunya di bina oleh Erza Scarlet selaku ketua kelas musik tersebut. Erza kali ini sedang menguji tingkatan teknik Vocal yang dimiliki oleh Natsu dan Gray.

"Natsu...Gray...aku ingin melihat seberapa tinggi tingkatan Vocal kalian yang bisa dikeluarkan...dan Lucy...tolong pegang alat pengukur Frekuensi ini dan catat tingkatan Vocal mereka berdua..." kata Erza sambil memberikan cacatan tingkatan teknik Vocal kepada Lucy.

"Baik Erza..." Lucy menerima cacatan kosong dan alat pengukur Frekuensi suara untuk sebuah tingkatan Vocal.

"Natsu...coba ucapkan...A...E...I...O...U...E...A...masing-masing pengucapan huruf dengan tiga ketukan...kemudian lakukan itu sesuai dengan tangga nada..." Erza melakukan hal tersebut untuk melihat seberapa tinggi suara Vocal milik Natsu.

"Erza...sebenarnya kita berdua melakukan hal ini untuk apa...?" tanya Natsu untuk mengetahui apa tujan Erza melakukan itu padanya.

"Sudah aku bilang...aku ingin tahu tingkatan Vocal kalian berdua...nanti akan aku beritahu jika aku mendapatkan hasil tingkatan Vocal kalian berdua...ayo Natsu...mulai" kata Erza.

"Baiklah...a...e...i...o...u...e...a..." Natsu memulainya dari tangga nada awal

"Bagus...Lucy...tolong catat tingkatan milik Natsu...ayo lanjut ke tahap berikutnya...Natsu..." kata Erza.

"...a...e...i...o...u...e...a..." Natsu memulai tangga nada kedua untuk nada tinggi.

"Ok...mungkin tahap selanjutnya akan cukup sulit...aku akan membantumu...ayo mulai.." Erza menguji tangga nada ke tiga sambil menekan-nekan perut Natsu karena harus menggunakan pernafasan perut.

"...A...E...I...O...U...E...A...hmph...tenggorakanku mulai terasa gatal..." Natsu menghela nafasnya sejenak karena mulai merasa menyempit tenggorokannya.

"Baiklah Natsu...ini yang terakhir...jika kau bisa melaluinya kau termasuk dalam kategori jenis suara Tenor " Erza mulai menguji tangga nada untuk Vocal terakhir.

"Yoosh...aku akan memulainya...!" Natsu mulai bersemangat untuk tingkatan yang terakhirnya.
"...A...I...Ooo...Ee...uhuk...uhuk...uhuk...hosh...hosh..hosh...eeh...ternyata susah sekali..." Natsu melemaskan tubuhnya karena terlalu mengeluarkan semua tenaga untuk Vocal miliknya.

"Natsu jangan dipaksakan jika tidak kuat...nanti pita suaramu rusak..." Erza mengelus-ngelus punggung Natsu.

"hmph...aku ingin minum...tenggorokanku mulai kering..." kata Natsu sambil mengelus-ngelus tenggorokannya.

"Baiklah Natsu kau boleh minum dan istirahat...sekarang giliranmu Gray..." perintah Erza untuk menguji tingkat Vocal untuk Gray.

"Baiklah...a...e...i...o...u...e...a..." Gray mulai dengan tangga nada awal.

"Bagus...selanjutnya...Lucy, tolong catat juga tingkatan Vocal milik Gray tadi" kata Erza.

"Siap Erza..." Lucy mencatat data tingkat Vocal milik Gray.

"Baiklah aku mulai...a...e...i...o...u...e...a..." Gray mulai dengan tangga nada tingkat keduanya.

"Bagus...lanjutkan...Gray..." Erza membantunya dengan menekan-nekan perut Gray sama seperti dilakukan kepada Natsu.

"...A...E...I...O...U...uhuk...uhuk...uhuk...hosh...ternyata benar-benar susah..." tingkatan tangga nada Vocal Gray terhenti sampai disini.

"Baiklah Gray...jangan dipaksakan...istirahatlah...Lucy tolong catat tingkat akhir milik Gray tadi..." perintah Erza untuk Lucy.

"Erza...itu berarti...Gray memiliki tingkatan suara yang dinamakan Boxer ya?" Natsu menyudutkan pandangan anehnya kepada Gray.

"Tidak ada jenis Vocal seperti itu Sipit...!" bentak Gray kepada Natsu.

"Tapi aku ingin tahu seberapa tinggi tingkatan suara miliku...mungkin aku bisa mencapainya dalam kategori suara tampan...hmm..." kata Loke dengan penuh percaya dirinya sambil meraih salah satu tangan Lucy.

"Kategori itu tidak ada Loke...!" bentak Lucy sambil mencibirkan mulutnya kepada Loke.

"Lucy...coba aku lihat bagimana hasil nilai tingkatan Vocal mereka berdua..." kata Erza sambil mengedepankan tangannya untuk meminta catatan tersebut.

"Erza...aku sudah mencatan semua nilai tingkatan Vocal mereka berdua...ini hasilnya..." Lucy memberikan catatan itu pada Erza.

"Hmm...untuk cacatan Natsu...mulai dari Artikulasi, lalu Pernafasan, dan Resonansi tadi menghasilkan sebuah Frekuensi dari 64Hz sampai 180Hz, sedangkan untuk Gray sendiri...mulai dari Artikulasi, lalu Pernafasan, dan Resonansi menghasilkan sebuah Frekuensi dari 64Hz sampai 120Hz...hmph...bagaimana menjelaskannya yah...? Baiklah bila aku rumuskan ke dalam bentuk secara Fisika dalam musik berarti...f = n/t sama dengan pencapaian getaran yang dihasilkan dari pita suara mereka berdua...itu berarti mereka mencapai tingkatan ini...dan...ini...lalu...mereka berdua...bla...bla..bla..." Erza sedang melakukan kotretan di kertas kosong yang ada dimeja kelas musik itu untuk merumuskan hasil dari tingkatan Vocal yang dimiliki oleh Natsu dan Gray.

Sudut pandang dari Natsu dan Gray yang sedang tercengang dan fikirannya mulai kusut karena penjelasan Erza begitu rumit dalam mengkategorikan jenis-jenis tingkatan suara untuk Vocal milik mereka berdua.

"Natsu...aku merasa mual mendengar penjelasannya...apa kau mengerti apa yang di jelaskan oleh Erza...?" kata Gray dalam pandangannya yang berputar-putar.

"Aku juga tidak mengerti...karena aku selalu tidur ketika jam mata pelajaran Fisika...jadi jangan tanya aku...!" Natsu mengalami keadaan yang sama dengan Gray.

"Baiklah aku mengerti...sepertinya Erza sedang mengukur seberapa besar ketampanan yang kalian miliki untuk menyaingiku...hmm..." Loke secara tiba-tiba sudah ada disamping mereka berdua.

"Jangan menyamakan kami dengan ketampanan bodohmu itu!" serentak mereka berdua membentak Loke.

Akhirnya Erza selesai merumuskan semua tingkatan Vocal yang dimiliki oleh Gray dan Natsu, lalu Erza menjelaskan hasil catatan tersebut kepada mereka berdua.

"Mulai dari Natsu...aku telah mengakumulasikan nilai dari penghasilan suara Vocal yang kau keluarkan tadi...jadi Vocal yang kau miliki itu termasuk dalam kategori Barito tertinggi, tapi Vocal yang kau miliki itu nyaris mendekati Tenor...jika kau ingin meningkatkannya, kau harus banyak latihan..." kata Erza yang menjelaskan pengkategorian suara.

"Yoosh...aku akan meningkatkan suaraku hingga mencapai Tenor, bahkan aku berniat untuk melebih tingkatan Tenor itu sendiri...haha...haha..." Seperti biasa Natsu selalu bersemangat dengan tawanya yang khas itu, namun sebenarnya dia tidak mengerti maksud dari penjelasan yang diucapkan oleh Erza.

'Natsu...aku mohon...jangan lakukan itu...mendengar suara kohai anak laki-laki yang melengking dari kelas paduan suara saja sudah membuat aku merinding setengah mati...' gumam hati Erza yang membelakangi mereka berdua sambil mengucurkan air matanya. Kohai berasal dari Bahasa Jepang yang artinya Junior.

"Lalu untuk Gray...penghasilan suara Vocal yang kau keluarkan tadi...kau termasuk dalam kategori Barito, namun Barito yang kau miliki itu tergolong rendah..." kata Erza yang menjelaskan golongan Vocal milik Gray.

"Huh..? apa kau bisa menjelaskannya secara rinci...Erza...?" tanya Gray karena masih belum begitu mengerti.

"Begini...bagaimana menjelaskannya...ya...mmm...bisa dibilang kau memiliki suara yang serak-serak basah...mungkin..." Erza sedikit memalingkan mukannya karena malu tidak bisa menjelaskan hal tersebut.

"Sudah aku bilang Gray...suaramu itu termasuk suara Boxer...!" Natsu menyudutkan pandangan anehnya kepada Gray dengan ucapannya yang secara blak-blakan.

"Jangan menyamakan suaraku dengan Boxer-ku...Sipit!" bentak Gray sambil mengeluarkan urat kepalanya.

"hmm...ini menarik...suara Boxer berserak basah...yah...? hmpf..." Loke menahan tawanya dengan satu tangan.

"Aku menyerah..." Gray mendongkol.

"Loke...kau ingin mencobanya...?" Erza sedang ingin mencoba untuk menguji tingkatan Vocal milik Loke.

"mmm...? tentang apa?" tanya balik Loke.

"Yah...mencoba untuk menguji tingkatan Vocal yang kau miliki itu...Loke..." sambung Erza karena rasa penasarannya terhadap Loke.

"hmm...baiklah...aku juga ingin menguji suara ku yang tampan ini..." Seperti biasa Loke selalu percaya diri sebelum melihat hasilnya.

"heee...lagi-lagi seperti itu..." Gray merendahkan nada suaranya sendiri.

"Baiklah...tadi aku sudah menjelaskan semua teknik untuk menguji tingkat Vocal seseorang kan...ayo kita mulai...!" Erza mulai merasa penasaran hingga menajamkan matanya kepada Loke sambil memegang alat pengukur Frekuensi miliknya.

"Ok...a...e...i...o...u...e...a...bagaimana?" Loke memulai nada rendahnya dengan sempurna bersamaan dengan sikap yang sempurna pula.

"Ok...ini semakin menarik...ayo kita mulai dengan tangga nada berikutnya..." Erza semakin penasaran karena nada dasarnya begitu sempurna.

"...a...e...Iiiii...! Oooo...!Uuuu...! Eeee...! Aaaa...!" Akhirnya Vocal yang dikeluarkan Loke mulai menciut dan berantakan sehingga terdengar begitu False.

Sontak membuat semuanya terdiam mendengar suara aneh yang dikeluarkan oleh Loke.

"Eh..?!" Erza menjatuhkan alat pengukur Frekuensi miliknya karena terkejut sekaligus kecewa dengan suara Vocal itu.

"Bagaimana...?" Loke masih tetap melanjutkan sikap sempurnanya.

'BLETAK!' suara jitakan Lucy yang meluncur ke arah kepala Loke.
"Apanya yang bagaimana...?! suaramu itu payah tahu...!" bentak Lucy karena merasa ILFEEL setelah mendengar suara yang dikeluarkan oleh Loke.

"Oh...jadi itu suara tampan yang kau maksud...Loke" Gray menyudutkan pandangannya bersama Natsu kepada Loke dengan wajah polosnya yang aneh.

"mmm...baiklah...itu berarti Vocal milik Loke...ternyata tidak ada dalam kategori apapun..." penjelasan Erza dengan senyumannya yang hangat bersamaan dengan nada dingin khasnya itu.

"Eeh..?! kenapa kau langsung bisa tahu Erza ?!" Lucy terkejut mendengar penjelasan Erza.

"Suara itu tidak perlu dirumuskan...karena terlalu mudah untuk ditebak...hmm..." Erza berpaling pada Lucy dengan senyumannya.

"cuuutt...cucuuutt...cucuuutt.." Suara siulan Loke yang sedang mendongkol dalam posisi jongkok disudut ruangan di dekat Drum-nya.

"mmm...Erza... bukankah kau adalah Vocalist utama? kenapa kau menguji kita berdua ?" tanya Natsu sambil menghampiri Erza.

"Nanti akan aku beritahu Natsu..." jawab Erza dengan singkat.

"Baiklah semuanya...ayo kita latihan kembali untuk sebuah Demo musik yang nantinya akan di pentaskan di acara-acara tertentu untuk kedepannya..." ajak Erza kepada semua anggota kelas musik miliknya.

"Aye, sir...!" serentak menjawab semuanya.

Mereka berlima sedang bersiap-siap untuk berlatih. Gray sedang melakukan Tune terhadap Bass-nya, begitu juga Erza melakukan Tune terhadap Guitar-nya. Seperti biasa Natsu selalu melakukan sesuatu yang berbeda diantara mereka berempat, seperti mengeluarkan beberapa Effect Guitar dari tas miliknya untuk dirangkai.

Effect Guitar adalah alat untuk mengubah suara Guitar dalam mode tertentu.

"Natsu...aku tidak menyangka kau bisa merangkai sebuah Stomp Box Effect Guitar...hmm..." Erza menghampiri Natsu yang sedang melakukan hal tersebut.

Stomp Box Effect Guitar adalah rangkaian dari beberapa jenis Effect Guitar yang disusun secara analog.

"mmm...begini...menurutku...suara yang dihasilkan dari Stomp Box Effect Guitar itu akan terdengar lebih Original ketika kita menghubungkannya dengan sebuah Guitar...aku merangkainya dimulai dari lima jenis Effect Guitar yang aku miliki, seperti Kompresor, Distorsy, Wah, Flanger, Delay, dan Reverb... andai saja aku memiliki sebuah Tremolo...mungkin akan lebih sempurna...tapi, benda itu begitu mahal harganya...hmph..." Natsu langsung mengeluh setelah menjelaskan rangkaian Effect Guitar analog miliknya.

Kelima benda yang disebutkan oleh Natsu tadi adalah komposisi dari beberapa jenis Effect Guitar, masing-masing benda tersebut memiliki fungsi dan suara yang berbeda-beda, hingga dirangkai menjadi satu, itulah yang dinamakan dengan Stomp Box Effect Guitar.

"Oh ya...kenapa kau tidak mencoba untuk menggunakan Digital Effect Guitar, Natsu...? padahal benda itu lebih praktis dibandingkan Stomp Box Effect Guitar, karena kita tinggal mengatur suara-suara Guitar yang kita inginkan bukan ? padahal aku membelinya dua buah tipe model BOSS GT-8 salah satunya yang aku pakai itu...aku membelinya setelah mendapatkan dana dari kepala sekolah waktu itu...aku telah menyimpan satu lagi dilemari penyimpanan alat-alat musik..." Erza menawarkan benda yang telah dibeli itu kepada Natsu.

Digital Effect Guitar adalah Effect Guitar yang sudah modern. Dengan kata lain, suara-suara Effect Guitar yang berbeda-beda itu telah dikemas menjadi satu, jadi kita tinggal setting masing-masing suaranya sesuai yang kita inginkan ke dalam lima bagian tombol bar itu sendiri.

"Kau benar Erza...benda itu lebih praktis...hanya saja benda itu sangat mahal harganya...tapi bukan masalah harga yang aku maksud..." Natsu menghentikan pembicaraannya sejenak.

"Apa kau tahu...? para God of Guitar seperti, Jimmy Hendrix, Jimmy Page, Joe Satriani, dan banyak lagi...mereka semua memakai Stomp Box Effect Guitar, sehingga selain kemampuan mereka yang melegenda...suara yang dihasilkan dari Guitar mereka itu terdengar lebih kental dan Original... maka dari itu, benda seperti inilah yang membuat mereka menjadi seorang Legend...andai saja kemampuanku seperti mereka...hmph..." Natsu menghela nafasnya setelah membicarakan para musisi.

"Kau tidak harus seperti mereka Natsu...bukankah kau ingin menjadi dirimu sendiri...? contohnya ya...seperti musisi favoritmu itu...Kurt Cobain...hmm..." seperti biasa Erza selalu tersenyum hangat setelah membicarakan tentang musik, termasuk kepada Natsu.

'JEG-JEEeeng!' suara distory kental dari teknik Hammer on yang dimainkan oleh Natsu pada Guitar-nya terdengar sangat keren.

"Baiklah Erza...aku sudah selesai dengan persiapanku..." kata Natsu sambil melirik kepada Erza.

"Baiklah semuanya...ayo kita mulai..." perintah Erza untuk bermain musik bersama.

"Aye, Sir...!...1...2...3..." Loke mengawali aba-abanya untuk memulai bermain bersama.

Mereka berlima akhirnya bermain bersama dengan sangat kompak dan menikmati Demo musik itu sendiri, namun terjadi sesuatu yang membuat mereka terkejut di pertengahan musiknya.

'NIIINGGGG!' terdengar suara lengkingan keras yang begitu menyakitkan di telinga mereka berlima hingga menghentikan permainan musiknya.

"KYAA! Suara apa ini!" Lucy menjerit karena tidak tahan dengan suara lengkingan keras itu.

"GYAA! Maaf ! ini suara dari Guitar-ku!" Natsu langsung mencabut kabel Jack dari Guitar miliknya itu.

"Oii..Oii...Natsu, kau jangan menambahkan mode Sipit ke dalam suara Stomp Box Effect Guitar milikmu itu..." Gray menyudutkan pandangan anehnya kepada Natsu.

"Tidak ada jenis suara seperti itu dalam sebuah Effect Guitar...Boxer!" bentak Natsu.

"Natsu...apa yang terjadi...?!" Erza terkejut sekaligus heran kenapa suara Guitar miliknya menjadi seperti itu.

"Entahlah...padahal aku merangkai Stomp Box Effect Guitar milikku seperti biasa yang aku lakukan ketika bermain di acara Metropolitan Rock, sebelumnya hal seperti ini tidak terjadi padaku...baiklah aku akan mengulang rangkaiannya..." Natsu merangkai kembali Stomp Box Effect Guitar miliknya itu.

Setelah selesai merangkai benda itu, Natsu kembali menancapkan kabel Jack pada Guitar miliknya dan 'NIIINGGGG!'suara itu kembali terdengar hingga mereka berlima menutup kembali telinganya.

"KYAA! HENTIKAN BODOH! SUARA ITU MENYAKITKAN TELINGAKU!" Lucy mencabut kabel Jack itu lalu menjitak Natsu'PLATK!'

"Adu..du..duh...sakit tahu..!" kepala Natsu membenjol.

Erza langsung mengambil kabel Jack yang menancapkan pada Guitar Natsu, lalu Erza mencoba menancapkannya pada Guitar miliknya sendiri. Ketika kabel itu ditancapkan, mereka berempat langsung menutup telingannya kembali namun suara lengkingan itu tidak terjadi ketika Erza menghubungkan kabel Jack itu kepada Guitar miliknya.

'JEG-JEEeeng!' Erza memainkan Guitar miliknya yang tersambung dengan Stomp Box Effect Guitar milik Natsu.

"Ini normal...tidak ada masalah dengan Stomp Box Effect Guitar ini..." kata Erza sambil mencoba menekan semua tombol untuk masing-masing suara yang dihasilkan dari Stomp Box Effect Guitar itu sambil memainkan Guitar-nya.'JEG-JEEeeng! 'JEG-JEEeeng! 'JEG-JEEeeng!

Erza mencabut kabel Jack yang terhubung dengan Stomp Box Effect Guitar itu lalu menancapkannya pada Guitar-nya Natsu agar langsung terhubung dengan Amply dan 'NIIINGGGG!'ternyata lengkingan itu berasal dari Guitar-nya Natsu.

"Natsu...sepertinya Guitar-mu sedang mengalami masalah" Erza mengambil Guitar itu dari tangan Natsu, lalu memeriksa keadaan Guitar tersebut.

"Guitar Fender model Sipit murahan...!" Gray dan Loke serentak mengatakan hal yang blak-blakan kepada Natsu.

"Aku membelinya dengan susah payah tahu!" bentak Natsu.

"Natsu...apa kau membawa obeng plus...?" tanya Erza untuk meminta benda tersebut.

"Baiklah aku punya..." kata Natsu sambil membuka tas miliknya dan memberikan obeng plus itu pada Erza.

Erza melepaskan semua senar-senar yang melintang pada Guitar Natsu, lalu melepas semua baut-baut yang menempel pada bagian Fingerboard di depan dan belakangnya.

Fingerboard adalah bagian pada badan Guitar, biasanya terbuat dari fiber tebal untuk menutup komponen-komponen yang ada dalam Guitar itu sendiri.

"Eh..?! ini..." Erza mengambil tiga buah Pick up Sensor yang tertancap pada Guitar itu, ada sesuatu yang mengejutkan dari salah satu benda tersebut.

Pick up Sensor adalah tiga komponen seperti magnet yang tertancap pada sebuah Guitar Electrict untuk menangkap suara dari getaran senar-senar ketika sedang dihubungkan dengan sebuah Amply.

"Ada apa Erza...?" tanya Natsu karena heran ketika Erza sedang terkejut melihat salah satu benda tersebut.

"Pick up Sensor bagian ke-2 ini sudah tidak bisa digunakan lagi..." Erza menunjukkan benda tersebut kepada Natsu.

"Apakah bagian benda itu bisa diganti...Erza...?" sambung Gray sambil melihat kearah benda tersebut.

"Tentu saja...benda seperti ini banyak dijual di toko-toko alat musik...untuk masalah harga...tergolong cukup murah...kira-kira sekitar 5.750¥.." Erza menjelaskan harga komponen yang sedang dipegangnya itu.

"Baiklah...aku akan menggunakan uang tabunganku yang tadinya untuk membeli Effect Tremolo...hmph..." Natsu menghela nafasnya karena akan menggunakan uang tabungan tersebut untuk hal yang lain.

"Natsu...tunggu dulu...kau tidak bisa sembarangan membeli benda seperti ini..." Erza mencoba menghentikan niat Natsu.

"Memangnya kenapa Erza...?" tanya Natsu karena tidak tahu apa-apa.

"Begini...jika kau ingin menggantinya dengan jenis yang lain...itu tidak apa-apa...tapi, ini akan menghilangkan suara Original dari Guitar Fender Jaguar milikmu ini...apa kau tidak apa-apa dengan keadaan seperti itu..?" Erza menerangkan tentang jenis suara yang dihasilkan dari berbagai Pick up Sensor, karena suara dari berbagai model itu berbeda meskipun terdengar sama oleh orang awam.

Mendengar permasalahan yang dikatakan oleh Erza itu membuat Natsu terkejut dan terdiam karena suara Guitar khas miliknya itu sudah menyatu dengan hatinya dan tidak bisa dirubah begitu saja.

"Begini saja...untuk sementara kau pakai saja Guitar ESP MH-250 yang disimpan dipojok sudut itu...sayangkan kalau tidak terpakai..." Loke memberi saran pada Natsu untuk memakai Guitar yang lain.

"Tidak mau...!" bentak Natsu hingga menyudutkan pandangan tajamnya kepada Loke bahwa Natsu sedang benar-benar marah.

"Oii..oii..Natsu tenangkan dirimu..." Gray mencoba menenangkan keadaan Natsu yang sedang benar-benar marah.

"hmph...baiklah, kalau begitu bagaimana jika kita pergi ke toko alat musik...? aku juga ingin membeli sesuatu disana..." Loke menghela nafasnya dan mencoba menenangkan Natsu juga karena Loke tidak suka perdebatan.

"Iya...itu ide yang bagus...aku juga ingin membeli beberapa Sparepart yang dibutuhkan untuk peralatan musik disini" kata Erza.

"Aku juga...aku ingin membeli senar baru untuk Bass miliku, karena sudah mulai berkarat..." sambung Gray.

"Lucy...kau bagaimana?" tanya Erza.

"mmm...baiklah...aku hanya menemani kalian semua saja..." kata Lucy sambil tersenyum.

"Baiklah...karena ada gangguan teknis...latihan kita hentikan dulu untuk sementara waktu...sampai nanti..." Erza meninggalkan kelas musiknya menuju kelas 2 – 1.

Latihan untuk sementara dihentikan karena ada gangguan teknis yang di alami oleh Natsu, hingga mereka semua kembali ke kelasnya masing-masing.

201655( 05 Mei 2016 ) 04.30 PM

Keadaan di Fukuoka Music Center, dimana toko alat musik itu adalah toko langganan Erza sendiri untuk membeli sesuatu yang berhubungan dengan alat musik miliknya. Mereka berlima sedang menuju pintu masuk utama toko tersebut.

"Selamat datang" sambut penjaga toko alat musik itu kepada mereka berlima.

"Sugoii...benar-benar hebat...disini banyak berbagai peralatan musik yang dijual dengan harga yang tergolong cukup murah..." seperti biasa Lucy berlarian kesana kemari karena ada sesutu yang membuatnya menarik. Sugoii yang diucapkan oleh Lucy adalah ungkapan emosi dalam Bahasa Jepang yang artinya woow!.

"Selamat siang Scarlet-san, apakah anda ingin membayar hutang-hutangmu..hmm...?" sapa penjaga kasir wanita itu dengan sopan karena ia selalu mencatan hutang-hutang yang ditunggak oleh Erza.

"Eh..?!" Erza terkejut dan melirik kesana kemari karena ketahuan modalnya.

"Benar-benar mengejutkan ketua kelas musik kita ini.." kata Loke sambil menyudutkan pandangan yang aneh bersama Natsu dan Gray.

'Pada akhirnya mereka tahu juga walaupun aku telah menyembunyikannya selama ini' gumam hati Erza sambil mendongkol dibelakang mereka.

"Nona penjaga kasir ini benar-benar cantik...jika aku membeli sesuatu disini...apakah Nona bersedia berkencan denganku...?" Loke meraih salah satu tangan penjaga kasir wanita itu karena ia memang cukup cantik.

"A..ano...eeh..." penjaga kasir wanita itu serba salah karena telah dirayu oleh Loke dihadapan semua orang.

"Yoo...Erza, ada yang bisa aku bantu...?" salah satu teknisi alat musik itu menghampiri Erza yang sudah akrab dengannya

"Natsu...kemarilah...perkenalkan...ini Akio Hisashi, salah satu teknisi di toko alat musik ini...dia juga temanku..." Erza memperkenal kan teknisi temannya itu kepada Natsu.

"Selamat sore...aku Natsu Dragneel, panggil saja Natsu..." Natsu memberikan salam hormat sambil membungkukan badannya kepada teknisi itu.

"Sugoii...teknisi ini tampan sekali...namaku Lucy Heartfilia...aku keturunan Bangsa Amerika...salam kenal...oh ya...bla...bla..." Lucy melesat menghampiri teknisi yang tampan itu sambil kegirangan.

"Eh...ano...he..he.." teknisi teman Erza mengalami kebingungan yang sama seperti penjaga kasir wanita itu.

'Hmph...aku malu mengakui mereka berdua adalah temanku...mereka memiliki kesamaan yang norak...' gumam Gray ketika melihat keadaan Loke yang masih merayu penjaga kasir wanita dan Lucy sedang kegirangan di hadapan teknisi itu.

"Akio-kun, apakah disini menjual Pick up Sensor untuk Guitar model Fender...?" tanya Erza untuk mencari benda tersebut.

"mmm...boleh aku lihat Guitar-nya...?" tanya teknisi itu untuk melihat kondisi Guitar milik Natsu.

"Baiklah...akan aku tunjukan..." Natsu mengeluarkan Guitar miliknya dari dalam tas Guitar itu dan memberikannya kepada teknisi itu.

"Eh...?! ini Guitar Fender Jaguar yang Original...jadi kenapa dengan Pick up Sensor-nya...?" tanya teknisi itu sambil melihat-lihat kondisi Guitar milik Natsu.

"Entahlah...mungkin ada kerusakan pada bagian komponen itu...makannya aku datang kemari untuk memintamu memeriksanya...ini...aku telah mencabut komponen bagian ke-2 nya" Erza memberikan benda komponen itu kepada teknisinya.

"Baiklah Erza...tunggu sebentar...aku akan memeriksa Pick up Sensor ini..." teknisi itu mulai memeriksa komponen tersebut dengan alat pengukur kekuatan magnetnya.

"hmph...ini benar-benar gawat...lihatlah alur Motorick-nya, semua gelombang magnetnya tidak beraturan...kalau seperti ini jika kita menghubungkannya pada sebuah Amply, pasti akan menghasilkan suara lengkingan yang cukup mendecit ditelinga kita...benarkan?" kata teknisi itu yang sedang menjelaskan kondisi komponen tersebut.

"kau benar...ketika kita sedang latihan...tiba-tiba suara lengkingan itu keluar begitu saja...aku juga terkejut...lalu aku membongkarnya...ketika mengambil bagian komponen yang tua itu...aku merasa ada yang tidak beres Akio-kun..." Erza menerangkan semua kejadian itu kepada teknisi itu.

Teknisi itu mengambil model Guitar yang sama untuk dijadikan percobaan oleh Natsu.

"Natsu...coba kau mainkan Guitar Fender Jaguar ini...aku ingin melihat reaksimu..." teknisi itu menyerahkan model yang sama kepada Natsu.

"Toko ini juga juga memilikinya ternyata...baiklah akan aku coba..." Natsu awalnya merasa senang dengan model yang sama itu, namun ketika dimainkan ternyata suaranya benar-benar berbeda dengan miliknya.

'JEG-JEEeeng!' 'JEG-JEEeeng!' 'JEG-JEEeeng!' suara Guitar yang dimainkan oleh Natsu.

"hmph...kenapa bisa seperti ini...? bukankah modelnya sama dengan milikku...?" tanya Natsu dengan keluhannya karena suara khas dari Guitar itu tidak sama dengannya.

"Sudah aku duga...kau pasti akan berfikiran begitu...aku juga sebenarnya sedikit bingung...karena untuk mengganti Pick up Sensor milikmu harus yang Original juga...kami sudah kehabisan benda itu...karena benda itu benar-benar langka..." teknisi itu menjelaskan masalah keaslian dari komponen tersebut.

"kalau diganti dengan komponen dari model Fender lain, bagaimana? Bukankah merknya juga sama...?" tanya Erza kepada teknisi itu.

"Erza...maafkan aku...setelah aku melihat reaksinya Natsu...aku faham perasaannya...karena itu adalah Guitar pertama yang dimilikinya sehingga suara khas Guitar itu sendiri telah menyatu dengannya seolah-olah seperti teman bermainnya..." teknisi itu memahami perasaan yang dirasakan oleh Natsu.

"Baiklah Erza...aku pulang duluan...nanti aku akan mencari benda itu sendiri..." Natsu langsung mengemaskan Guitar miliknya dan meninggalkan toko alat musik itu.

"Natsu tunggu...!" Erza ke luar toko alat musik itu dan berjalan mengikuti Natsu.

"Erza, ada apa? Bukankah kau ingin membeli beberapa Sparepart yang kau perlukan untuk kelas musik kita?" tanya Natsu dengan perasaan dinginnya ketika sedang berjalan bersamanya.

"Baiklah...aku mengerti perasaanmu, aku akan membantumu untuk mencari benda itu..." Erza langsung menghadang Natsu dari depan dan meraih kedua pundak Natsu untuk menahan langkah kakinya.

"Erza...maafkan aku, hanya saja aku belum bisa menerimanya...Guitar miliku ini begitu berharga...mungkin ini akan terdengar begitu bodoh...tapi aku sudah menganggap Guitar ini sebagai teman bermainku ketika aku mulai belajar Guitar...dan...ah sudahlah lupakan..." Natsu menghentikan pembicaraannya.

Kembali ke sudut pandang di toko alat musik, dimana Loke menemukan sesuatu yang menarik untuk dirinya ditoko alat musik itu.

"Akio-san, bolehkah aku mencoba memainkan Drum ini...?" tanya Loke kepada teknisi toko alat musik itu.

"Silahkan...itu Drum drum merek Pearl yang dimodifikasi dengan Double Bass, apa kau tahu...Yuki sang Drummer dari Group Band L'arc~en~Ciel menggunakan Drum itu juga..." teknisi itu membicarakan seorang musisi yang memakai Drum itu.

"Apa kau bisa memainkan Drum yang seperti itu Loke...?" tanya Gray setelah menghampiri Loke yang sedang duduk dikursi Drum itu.

"Tentu saja...kau tahu Gray ? Jika aku memiliki Drum seperti ini, maka ketampananku akan bertambah dua kali lipat...hmm..." kata Loke seperti biasa dengan sikap yang sok keren itu.

"Oii..Oii...sebenarnya apa yang kau fikirkan? aku sama sekali tidak mengerti.." Gray benar-benar tidak mengerti jalan fikiran Loke mengenai permainan Drum yang berhubungan dengan wajah tampannya itu.

"Baiklah, aku akan mencobanya...1...2...3..." Loke akhirnya memainkan Drum itu dengan sempurna seperti melakukan sebuah Rimshot hingga memainkan ketukan Double Bass Drum nya dengan tempo yang cepat.

"wah...ternyata Erza benar-benar tidak sembarangan memilih seseorang untuk dijadikan anggota Group Band-nya, ini diluar perkiraanku..." teknisi itu terkagum dengan permainan Drum yang Loke mainkan itu.

"Aku juga berfikir seperti itu...tapi Loke benar-benar hebat...hmm..." kata Lucy yang menghampirinya dan berbicara disampingnya.

"Kemampuanku bisa berkembang karena ada wanita cantik seperti dirimu...Lucy...Love you..." Loke memberikan kecupan dua jarinya kepada Lucy.

'Aku menyesal telah memuji orang tampan bodoh itu...!'gumam hati Lucy sambil membalikan badannya dan mengepalkan tangannya dibelakang Loke.

"Baiklah kalau begitu...sebenarnya aku juga menginginkan Drum yang memiliki Double Bass seperti ini, mungkin suatu saat nanti aku akan memilikinnya...mmm...Akio-san, apakah disini menjual Double Pedal juga...?" tanya Loke.

"Eh...Double Pedal itu apa Loke...?" sambung tanya Lucy kepada Loke.

"Nanti akan aku jelaskan besok ketika kita di kelas musik...hmm..." jawab Loke.

"Baiklah...aku akan mengambil model yang terbaru..." teknisi itu mengambil benda itu lalu menunjukannya pada Loke.

"wah...ini model terbaru di tahun ini...GIBRATAL 6711DB...aku tidak menyangka toko alat musik ini memilikinya...benar-benar hebat..." Loke sedang melihat-lihat Double Pedal yang diberikan oleh teknisi tersebut.

"Itu harganya cukup murah untuk keluaran model terbaru...harganya 25.000 ¥...oh ya..aku lupa mengatakannya...itu model satu-satunya yang tersisa...karena Stock-nya terbatas..." teknisi itu memberi tahu benda tersebut.

"wah...benar-benar murah...aku jadi ingin membelinya...Gray pinjamkan aku uang 5000 ¥ yah..?" Loke meminjam uang kepada Gray dengan wajah tanpa dosa.

"Murah dengkulmu...! aku tidak punya uang sebanyak itu...!" bentak Gray.

"Dasar pelit...! nanti juga akan aku bayar kok...! hmph...padahal aku benar-benar menginginkan model terbaru ini...tapi aku hanya membawa 20.000 ¥" wajah Loke memuram seperti anak kecil karena tidak bisa membeli benda tersebut.

"Akio-san, apa tidak ada harga potongan untuk Double Pedal ini...?" tanya Loke.

"hmm...bagaimana ya...? Double Pedal itu model terbaru...kalau aku melakukan potongan harga...nanti aku dipecat oleh kepala toko...sungguh maafkan aku.." kata teknisi itu.

"hmph...ya sudahlah...mungkin lain waktu...kalaupun telah dibeli orang lain juga tidak apa-apa.."

'Loke...aku baru melihat wajahmu memuram seperti itu...aku tahu bagaimana perasaannya...waktu itu juga aku menginginkan sebuah Piano Classic...namun sangat mahal harganya...akhirnya aku hanya membeli Keyboard biasa...hmph...' gumam Lucy karena prihatin terhadap Loke.

"Baiklah Loke...kau boleh memakai uangku...hanya 5000 ¥ kan...?" Lucy memberikan pinjaman uang kepada Loke.

"Eh...?! Lucy kau tidak perlu repot-repot seperti itu padaku...ini hanya keinginanku saja...jangan kau fikirkan..." Loke sebenarnya serba salah, karena dia tidak pernah meminjam uang kepada seorang wanita meskipun dia agak Playboy.

"Tidak apa-apa Loke...bukankah kita ini teman..hmm...baiklah Akio-san...tolong kemas benda yang diinginkan Loke itu...aku akan membayar sisanya..." Lucy dengan senang hati memberikan uang sisa tambahannya kepada Loke.

"Lucy...nanti akan aku bayar secepatnya...terima kasih Lucy aku senang sekali..." Akhirnya kemuraman yang dirasakan oleh Loke berubah menjadi penuh dengan kegembiraan sampai-sampai Loke memegang kedua tangan Lucy.

"Baiklah...kau harus bayar 2x lipat..." Lucy niatnya bercanda untuk menakut-nakuti Loke.

"Aku akan membayarnya...berapa kali lipatpun...sungguh aku tidak bisa membalas kebaikanmu Lucy...hmm..." itu bukan rayuan yang biasa Loke lakukan karena kata-kata itu berasal dari hati yang tulusnya.

'Eh...Loke, aku hanya bercanda...kau seperti anak kecil saja jika wajah gembiramu seperti itu...baiklah aku juga ikut senang kalau Loke juga senang...hmm..' gumam Lucy.

'kring...kring...kring' Suara Smartphone milik Lucy yang berbunyi.

"Disini Lucy Heartfilia...ada apa Erza...?" Lucy mengangkat Smartphone itu.

"Lucy...maaf, kau pulanglah duluan bersama Gray dan Loke...aku sedang bersama Natsu di Stasiun Hataka untuk naik kereta menuju Hasuga.." Suara telepon dari Erza.

"Apa yang terjadi...?" tanya Lucy.

"Aku ingin mengunjungi toko alat musik lain...pemiliknya cukup dekat denganku..." kata Erza.

"Baiklah kalau begitu...semoga sampai tujuan Erza..." kata Lucy.

"Baiklah...sepertinya kereta sudah datang...aku sudahi dulu..." Erza menutup Smartphone-nya.

201655( 05 Mei 2016 ) 05.30 PM

Sudut pandang keadaan Stasiun Hataka, dimana Erza dan Natsu akan memasuki kereta yang telah datang untuk menuju Hasuga.

Natsu P.O.V

Natsu sedang berdesak-desakan ketika memasuki pintu kereta untuk menuju Hasuka.

"Eh..?! aduh...aku tidak bisa masuk...!" Benar-benar menyebalkan kalau berdesak-desakan seperti ini...kereta sebentar lagi akan berangkat...

"Kereta dengan arah tujuan Hasuka akan segera berangkat...kami akan menutup pintu keretanya...harap bergegas untuk memasuki kereta...terima kasih" Suara pelayan di Loby stasiun Hataka.

Akhirnya...aku masuk juga kedalam kereta...dan...Eh...?! Erza masih diluar sedang berdesak-desaka dengan orang lain...!

"Erza...raihlah tanganku..!" Natsu mengulurkan tangannya keluar pintu kereta.

"Ah...! Iya baiklah..." Erza menggenggam tangan Natsu untuk ditarik olehnya.

Menyebalkan sekali orang-orang ini...kenapa tidak mengalah terhadap wanita...dasar...!

Baiklah akan aku tarik...maaf Erza...

"Ghaaa...! minggir...!" Natsu menarik Erza dengan paksa.

"Kyaah!" teriakan kecil dari Erza karena ditarik dengan paksa oleh Natsu dari krumunan orang-orang yang sedang memasuki pintu kereta.

Akhirnya aku mendapatkannya...Syukurlah...

Hmph...apa boleh buat...lagi-lagi aku memeluk wanita ini disaat yang genting...

"Erza...maafkan aku...bukannya aku mengambil kesempatan...kita sedang berdesak-desakan dengan banyak orang" kata Natsu yang sedang berdekatan dengan Erza.

"Apa boleh buat Natsu...memang keadaannya seperti ini...karena ini jam pulang kerja...makannya kereta selalu penuh..." kata Erza sedang ada dalam dekapannya Natsu.

Aku baru menyadarinya...ternyata Erza tubuhnya sekecil ini...waktu aku menyembunyikannya dari para preman itu...aku tidak menyadari apa-apa karena aku sedang melihat keadaan sekitar...

Setelah aku menyadarinya... ternyata kau begitu hangat Erza...dan wangi tubuhmu yang khas ini...

Tinggi badan kita memang hampir sama...namun aku sedikit lebih tinggi beberapa milimeter darinya...tapi tetap saja badanku tidak kelihatan lebih tinggi dengannya...dan aku juga dua tahun lebih muda darinya..karena Erza adalah kakak kelasku...

Aku begitu nyaman bila berdekatan seperti ini dengannya...

Erza...apa kau tidak apa-apa bila aku berdekatan denganmu seperti ini...? aku hanya takut kau akan marah padaku...padahal aku tidak berniat seperti ini denganmu...karena sekarang ini kita telah menjadi teman dekat...

Eh...?! orang-orang di kereta ini benar-benar menyebalkan...aku jadi semakin melekat seperti ini dengan Erza...aku merasakan bagian dada wanita milik Erza yang cukup besar ini menempel pada tubuhku...

Wajahku...terlalu dekat dengan lehernya yang indah ini...tidak...tidak...tidak...aku harus menjaga jarak dengan Erza...karena kita hanya sebatas teman...

Gyaa...! bibirku sebentar lagi menyentuh lehernya...nanti dia akan marah padaku...

Ya Tuhan...kumohon...singkirkan orang-orang disekitarku ini...aku tidak bisa bergerak...!

"N-Natsu...sesak..." kata Erza dalam keadaan berdesak-desakan dengan orang sekitarnya, termasuk Natsu

"Eh..?! ma-maaf..." Gawat...! mudah-mudahan dia tidak menyadarinya...tadi bibirku telah beradu dengan lehernya...hmph..

Ya sudahlah...lupakan...aku hanya takut pertemanan kita yang masih baru terjalin menjadi hancur gara-gara kejadian tadi...

30 menit kemudian.

"Selamat datang di Stasiun Hasuka...harap penumpang yang ingin turun...periksa kembali barang bawaan anda...karena sebentar lagi penumpang dengan tujuan berikutnya akan segera memasuki kereta" Suara penjaga di Stasiun.

"Lagi-lagi...akh...menyebalkan, keluar kereta pun susah..." Natsu dan Erza kembali berdesakan ketika ingin keluar dari kereta.

"Se-sesak..iihh..!" teriak kecil Erza.

Akhirnya...aku keluar juga dari kereta...untung saja aku langsung menggenggam tangan Erza ketika keluar...

"Kyaa! Lepaskan aku...siapa laki-laki ini...!" ternyata wanita ini bukan Erza, melainkan salah satu penumpang dari kereta yang di naiki Natsu.

"Ma-maaf...aku kira kau temanku.." Natsu membungkukan badannya karena merasa bersalah.

"Natsu...! aku terbawa arus oleh mereka...!" Erza sedang dikerumuni oleh orang-orang yang sedang naik untuk tujuan selanjutnya.

"Pintu kereta akan segera di tutup...karena kereta akan melaju untuk tujuan berikutnya" Suara penjaga Stasiun.

"Erza..!" Natsu mengejar Erza disaat-saat pintu kereta itu akan ditutup, dan akhirnya berhasil meraih tangannya.

"Natsu...!" akhirnya Erza ditarik keluar dari pintu kereta itu. "Kyaa!" namun Erza ditarik terlalu kencang oleh Natsu hingga akhirnya mereka berdua bertabrakan hingga jatuh.

Akh...bibirku menyentuh dahinya...! ini hari apa sih...?! kenapa kita berdua malah melakukan hal-hal yang mengejutkan seperti ini...

Normal P.O.V

"hmph...benar-benar menyebalkan orang-orang itu !" Natsu kembali berdiri dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

"hmm...Natsu...lututku berdarah..." Erza lututnya terluka karena tadi terjatuh ketika bertabrakan.

"Eh...?! sebentar...aku pernah menyimpan plaster di tasku...mana yah...?" Natsu sedang membuka semua resleting tasnya untuk mencari plaster miliknya.

"Nah...ini dia...ini belum kadaluarsa kok Erza...tapi kita butuh air untuk membersihkan lukamu...kalau tidak, kau akan terkena infeksi...tunggu sebentar..." Natsu mencari-cari penjual air putih disekitar stasiun.

"Erza...aku akan membersihkan dulu lukamu, kau duduklah dulu dibangku ini..." Natsu menggotong Erza untuk duduk dibangku stasiun.

"iishk...sakit...air dingin ini terasa menusuk lukaku..." Erza merintih kesakitan.

"Erza...tahan sebentar, ada beberapa kerikil dilukamu ini...aku sedang membersihkannya dengan air ini agar kerikilnya terlepas...dan...mmm...kau ini bagaimana sih...? aku dengar kau ini mahir Judo, kenapa luka seperti ini saja kau merintih kesakitan...?" Natsu mengajak bicara sambil membersihkan lukanya, lalu akhirnya Natsu menempelkan plaster itu kepada lutu Erza.

"Nah...sudah selesai...sekarang lukamu sudah tidak apa-apa lagi..." Natsu kembali berdiri setelah mengobati luka dibagian lutut Erza.

"Apa kau tadi melihat bagian pahaku Natsu ?" tanya Erza dengan fikiran negatifnya seperti waktu itu.

"Apakah aku harus menyalahkan rok mini hitam yang kau pakai...Erza ?" tanya balik Natsu yang sedikit memalingkan mukanya karena malu.

'Eh...!? ini seperti waktu itu...kau tidak pernah berbohong untuk hal yang kecil...tapi yang aku takutkan, waktu kau berbohong tentang kecelakan yang kau alami...Natsu, kau benar-benar orang yang sangat baik...' gumam hati Erza yang mengalihkan pandangannya karena malu melihat ke arah Natsu.

Sudut pandang ketika mereka mulai menuju pintu keluar Stasiun.

"hmm...baiklah ayo kita pergi..." Natsu langsung membalikan badannya dan berjalan menuju pintu keluar stasiun.

"Natsu...tunggu, kau tidak tahu tempat toko alat musik itu kan...?" tanya Erza sambil menyusul langkah Natsu.

"Makanya...aku bilang ayo kita pergi..." kata Natsu.

"Tadi kenapa kau mengintip pahaku...?" tanya Erza.

"Apakah aku harus menghadap ke belakang ketika mengobati lukamu...begitu ?"tanya balik Natsu

"Sepertinya kau mulai jadi laki-laki yang mesum Natsu..." sambung Erza.

"Meskipun aku mesum...kau harus bersyukur ketika bersamaku...karena aku tidak pernah macam-macam denganmu..." lanjut Natsu.

"Jika kau berani...lakukan saja!" sambung Erza.

"Nanti pertemanan kita berakhir...hingga kita kembali seperti dulu...tidak pernah bicara satu sama lain..." jawab Natsu.

"Eh...jangan mengungkit masalah itu..." Erza cemberut.

"hahaha...sisi wanitamu keluar kembali..." Natsu mentertawakan Erza.

"Aku memang wanita kok...humh...!" balas jutek Erza.

'Sepertinya aku sudah mulai mengenal sifat Erza dengan baik...ternyata Erza benar-benar hangat dan menyenangkan' gumam hati Natsu.

Sudut pandang di toko alat musik Hasuka, toko alat musik itu tidak begitu besar seperti di Fukuoka Music Center karena toko itu hanya cabang dari perusahan lain yang sama-sama menjual berbagai alat musik, mereka berdua sedang berunding masalah Guitar Fender Jaguar itu.

"Guitar Fender Jaguar ya? Mungkin dulu kami memilikinya...tapi semenjak berdatangan model-model Guitar terbaru...untuk suku cadang Guitar seperti ini menjadi langka karena hampir tidak ada lagi yang memakai Guitar Fender Jaguar yang Original seperti milikmu itu, bahkan hampir semua toko tidak memilikinya meskipun itu perusahaan besar sekalipun..." kata kepala toko yang umurnya cukup tua itu.

"Tapi...apakah Pick up Sensor ini masih bisa diperbaiki?" tanya Erza sambil menunjukan benda tersebut.

"Aku dengar kau temannya Hisashi, nona Scarlet?"

"Eh...?! Akio-kun...anda mengenalnya...?" tanya Erza yang terkejut karena kepala toko ini kenal dengan teknisi dari Fukuoka Music Center itu.

"Tadi dia meneleponku, katanya...apakah disini menjual Pick up Sensor untuk Guitar Fender Jaguar yang Original...lalu aku bilang sudah tidak ada...karena benda itu begitu langka..." jawab kepala toko itu sambil menceritakan hal tersebut.

"Baiklah pak...terima kasih banyak...maaf merepotkan anda..." Natsu undur diri dari kepala toko itu dan pergi keluar meninggalkan toko tersebut.

"Natsu...apa kau tidak apa-apa ? maaf kalau aku membuatmu kecewa...aku hanya berusaha menolongmu..." Erza mengikuti Natsu dan berusaha membujuknya.

"Erza...aku tidak apa-apa kok...terima kasih sudah membantuku...aku tidak bisa terus-terusan bersikap egois seperti ini...hingga mengganggu latihan kita..." Natsu sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.

"mmm...kenapa kau tidak mencoba Guitar tipe ESP MH-250 yang ada di kelas musik itu,Natsu ? kau bahkan tidak pernah menyentuh Guitar itu..." Erza sedang memberi saran kepada Natsu untuk menggunaka Guitar yang lain.

"Apakah Guitar tipe ESP LTD KH202 yang selalu kau pakai itu milikmu yang pertama kali, Erza?" tanya balik Natsu.

"I-iya... kau tahu sendiri...ketika waktu kita masih dikelas belajar Guitar, aku selalu memakai Guitar itu sampai sekarang..." jawab Erza.

"Baiklah...mungkin Guitar Fender Jaguar milikku sudah berakhir hari ini, seperti orang yang sudah mati dan tidak bisa dibangunkan kembali...hmph..." Natsu akhirnya merelakan Guitar Fender Jaguar-nya.

"Aku akan mencoba memakai Guitar tipe ESP MH-250, yang dibeli dari dana kepala sekolah itu..." niat Natsu meskipun sedikit kecewa.

"Begini...sebenarnya dana dari kepala sekolah itu hanya cukup untuk membeli Drum, Bass, dua buah Effect Guitar tipe BOSS GT-8 yang salah satunya telah aku pakai itu..." Erza menjelaskan semua pembelian alat musik dari dana kepala sekolah.

"Lalu YAMAHA MOTIF XF 6 Keyboard yang dipakai oleh Lucy ?" tanya Natsu tentang Keyboard itu.

"Itu milikku, namun setelah bertemu dengan Lucy, dia tertarik dengan Keyboard itu...padahal kalau Lucy suka, dia boleh memakainya...tapi Lucy malah berniat membelinya dan terus memaksaku...ya sudah aku menyerah...aku menjual kepada Lucy seharga 300.000 ¥, dan Lucy langsung melunasinya dengan menelepon ayahnya sendiri...hmm..." Erza menceritan tentang Lucy hingga menghentikan pembicaraan.

"Aku menyimpan uang itu sebagai uang kas untuk kelas musik kita, tapi aku mempunyai firasat bahwa kau akan bergabung dengan kelas musikku waktu kau masih menghindariku...oh maaf, aku tidak bermaksud untuk membahas itu Natsu..." Erza menghentikan kembali pembicaraannya.

"tidak apa-apa Erza...semua itu sudah berlalu...kau boleh melanjutkan ceritamu..." kata Natsu sambil berjalan bersama Erza.

"Mungkin ini akan terdengar kekanak-kanakan, setelah kau dan aku menjadi teman yang begitu dekat, uang itu aku pakai untuk membeli Guitar tipe ESP MH-250...tapi kau tidak pernah menyentuh Guitar itu sama sekali...padahal Guitar itu aku sediakan khusus untukmu..." Erza memalingkan mukanya karena malu mengatakan hal tersebut.

"kenapa kau melakukan sejauh ini untukku Erza...?" tanya Natsu karena heran.

"Karena aku menyayangi temanku yang satu ini...temanku yang sedang disampingku ini telah menyelamatkan kelas musikku...aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan temanku ini..." Erza menghentikan langkah kakinya.

"Ketika kau hampir berdebat dengan Loke tentang Guitar itu...hatiku sedikit terasa sakit...tapi aku juga tidak bisa memaksamu untuk menyukai Guitar itu...karena kau sudah memiliki Guitar Fender Jaguar kesayanganmu itu...maaf kalau aku egois...Natsu...hiks...hiks..." Erza akhirnya menangis.

"Eh...?! lagi-lagi menangis...Erza nanti dilihat banyak orang..." Natsu mencoba menghiburnya sambil menepuk-nepuk punggungnya dalam sebuah pelukan.

"Sungguh...maafkan aku...hiks...hiks...maafkan aku...aku menyesal melakukan itu...hiks...hiks..." Erza malah semakin menangis ketika sedang dihibur oleh Natsu.

"Baiklah...aku memaafkanmu...tapi kumohon jangan menangis...ayolah...bagaimana kalau seperti ini...? agar kau tetap senyum...Erza temanku yang paling cantik...hmm...hmm..." Natsu mencubit kedua bagian pipi Erza dan menariknya sedikit kesamping sambil menggoyangkan ke kanan ke kiri.

"kyaa! Jangan lakukan itu padaku...nanti aku terlihat jelek...hiks...hiks..." teriak kecil Erza karena diperlakukan seperti anak kecil oleh Natsu.

"hmm...jadi aku harus bagaimana agar kau tidak menangis lagi...?" Natsu mengerutkan alisnya dihadapannya karena bingung ketika dia sedang menangis itu.

"Ya sudah untuk sementara pakailah Guitar tipe ESP MH-250 yang telah aku belikan untukmu...sampai kau mendapatkan Pick up Sensor untuk Guitar Fender Jaguar milikmu" permohonan Erza terhadap Natsu.

"Baiklah teman dekatku, aku akan memakai Guitar itu untuk Group Band kita...jadi jangan menangis lagi...hmm...hmm..." Natsu kembali mencubit kedua pipinya.

"kyaa! Kenapa kau jadi seperti ini padaku..?" sebenarnya Erza senang diperlakukan seperti itu karena Natsu yang melakukannya, kalau orang lain mungkin akan mati.

"karena teman dekatku yang sikapnya dingin ini begitu menggemaskan kalau sedang seperti ini...hahaha...hahaha.." Natsu terus menghibur Erza agar menghentikan tangisannya.


201656( 06 Mei 2016 ) 11.30 AM

Sudut pandang SMA Higashi, mereka berempat para anggota kelas musik sedang ada dilantai atas ruang terbuka, sekarang tempat itu sudah jadi tempat mereka untuk untuk berunding satu sama lain.

"Natsu...sampai kapan kau memandangi Guitar-mu yang tanpa ada Pick up Sensor itu...?" tanya Gray.

"hmph...ternyata memang susah mencari bagian Sparepart yang Original ini...waktu kemarin aku dan Erza mendatangi toko musik itu...mereka juga tidak memilikinya..." Natsu kembali murung dengan Guitar miliknya yang sedang dipegang itu.

"Natsu...bagaimana kalau kau membeli yang baru...?" tanya Lucy.

"Aku tidak perlu membeli yang baru...bukankah sudah ada Guitar tipe ESP MH-250 di kelas musik kita? tapi aku tidak tahu apakah Guitar itu cocok denganku atau tidak..."

"Benar juga...mungkin kau tidak akan cocok dengan Guitar yang lain...karena aku juga tidak akan pernah mengganti Bass Fernandes Jazz miliku, maka dari itu aku selalu merawatnya dengan baik..." kata Gray.

"Tapi...apa kau pernah memainkan Guitar yang lain Natsu?" tanya Loke.

"Aku pernah, tapi tetap saja tidak ada yang cocok seperti Guitar Fender Jaguar milikku..." jawab Natsu tentang pendapatnya.

"Maksudku begini, waktu kemarin kau sedang membicarakan God of Guitar dengan Erza, bukan? yang aku tahu, mereka itu memiliki Guitar lebih dari satu, tapi permainan musik para God of Guitar tidak pernah kehilangan seleranya dalam musiknya..." penjelasan Loke.

"Kau tahu Natsu...setahuku Erza tidak pernah sembarangan membeli alat musik, seperti YAMAHA MOTIF XF 6 Keyboard yang dipakai olehku, padahal aku juga punya dirumahku...tapi entah kenapa ketika aku memakai Keyboard miliknya terasa seperti milikku sendiri, lalu aku membeli Keyboard punya Erza itu..." Lucy mengingat masa-masa bertemu dengannya.

"Baiklah kalau begitu...ayo kita kembali latihan untuk Group Band kita...karena Erza telah menunggu kita diruang kelas musik..." keputusan yang diambil oleh Natsu.

Natsu dan yang lainnya meninggalkan ruang terbuka dilantai atas SMA Higashi dan menuju ruang kelas musik.

"Erza...apa kau sudah selesai mengajar kelas paduan suara...?" tanya Natsu.

"Hari ini aku tidak mengajar, karena aku sudah memberi tugas kepada mereka agar berlatih dirumah untuk pentas paduan suara pada pertengahan bulan ini...hmm..." jawab Erza.

"Yosh...baiklah ayo kita latihan kembali..." ajak Natsu.

"Tunggu...Gray...Natsu...waktu itu aku sudah menguji tingkat Vocal kalian bukan? Ini ambilah..." Erza memberikan lembaran lirik lagu yang akan dibawakan untuk latihan Group Band-nya.

"Eh...ini?" Natsu melihat lembar lirik lagu itu.

"Benar, kita bertiga akan bernyanyi dengan lagu itu...dan Natsu, kau harus melakukan Scream Vocal dalam bait lagu itu..." Erza menjelaskan tentang bagian lirik yang akan dinyanyikan.

"Lalu...apa kau sudah mendapatkan acara untuk Group Band lokal seperti kita, Erza?" tanya Gray sambil membaca lembaran lagu tersebut.

"Oh ya...lihatlah ini, aku sudah menemukan acara yang cocok untuk lagu yang akan kita bawakan kali ini, aku sudah memperhitungkan semuanya..." Erza menunjukkan poster acara untuk Group Band lokal disuatu tempat.

"Loke...aku dengar kau sudah membeli sebuah Double Pedal untuk permainan Drum milikmu, pada lagu yang akan di bawakan kali ini, kita butuh permainan Double Pedal-mu..." kata Erza yang menjelaskan tentang iringan musik yang dimainkan dalam lagu tersebut.

"Baiklah Erza...serahkan saja padaku kalau soal Drum, sepertinya ini akan menarik...hmm.." Loke mulai bersemangat karena Doble Pedal miliknya akan dipakai untuk lagu tersebut.

"Ini acara musik Live House Fukuoka, mereka menampilkan berbagai aliran musik Alternatif,.." kata Lucy sambil melihat poster acara tersebut.

"Iya, itu acara panggung tertutup...tapi kita jangan menganggap remeh dengan acara itu, para Group Band lokal yang ikut di acara itu cukup hebat, aku sudah sering melihat acara itu ketika aku masih belum membentuk Group Band dengan kalian, dan hari ini kita akan tunjukan kepada mereka yang ada disana...bahwa kita sebagai Group Band lokal di SMA Higashi tidak akan kalah dengan mereka semua..." Erza mulai bersemangat untuk tampil di acara tersebut.

"Acaranya akan dimulai pada tanggal 12 Mei 2016, itu berarti waktu latihan kita hanya satu minggu lagi..." Lucy membaca jadwal acara tersebut.

"Benar, kita masih memiliki banyak cukup waktu untuk latihan lagu yang akan kita bawakan...ada pertanyaan?" tanya Erza.

"Baiklah kalau tidak ada, Natsu kau coba lakukan Scream dari bait lagu yang telah aku tandai itu..." perintah Erza.

"Yosh...mungkin Scream akan terdengar berisik jika tidak melakukannya dengan benar, tapi aku akan mencobanya.." Natsu memulai menyanyikan lagu itu dengan teknik Scream Vocal.

Scream Vocal Natsu.
Well as I open my eyes...
I see my Shadow...
Will I return like myself...
Or parted atoms...

And as the darkness reveals...
I see no reason...
For me to reach for the cure...
I'm my own demon..

Face it down...
I'm the spine in the flame...
Just let it out of me...
Break it out of the core...
To help me breath...

"Eh...?! jadi itu teknik Scream Vocal ? benar-benar membuat aku terkejut..aku kira Natsu sedang marah...hmph.." Lucy sedikit menghela nafasnya karena terkejut dengan teriakan teknik Vocal Scream.

"Maaf Lucy...aku sedang tidak marah-marah, justru aku sedang bersemangat...karena aku sudah biasa melakukannya ketika membawakan lagu-lagu dari Group Band Nirvana...terkadang Kurt Cobain melakukan hal itu...haha..." kata Natsu.

"Sudah aku duga, ternyata Barito tingkat tertinggi milik Natsu memang cocok untuk Scream Vocal...itu adalah teknik Vocal dimana seorang Vocalist harus berteriak dengan menggetarkan tenggorokannya...itu biasa dilakukan oleh Group Band yang suka memainkan aliran musik Underground...mereka melakukan teknik itu dari lagu awal sampai akhir, jika tidak biasa melakukannya...pita suara orang tersebut akan rusak..." Erza menjelaskan teknik Vocal tersebut kepada Lucy.

"Begitu ya...jadi ada juga teknik Vocal seperti itu, teriakan Vocal yang dilakukan juga sesuai dengan nada dari lagu itu sendiri...cukup sulit juga..." kata Lucy.

"Gray...coba kau nyanyikan bait yang telah aku tandai itu..." perintah Erza.

"Apakah aku harus melakukan teknik Sream Vocal juga, Erza?" tanya Gray.

"Tidak perlu, karena suaramu serak-serak basah..." Erza memalingkan sedikit wajahnya karena mengatakan hal tersebut.

"hahaha...teknik Vocal Boxer...haha...hahaha..." Natsu mengertawakan Gray dengan begitu jahat.

"Sudah aku bilang tidak ada teknik Vocal seperti itu!" bentak Gray.

"Baiklah Gray...ayo mulai..." perintah Erza.

"hmph...baiklah...mungkin suaraku tidak begitu bagus..." Gray menghela nafasnya sebelum menyanyikan bait dari lagu itu.

Vocal Gray.
I have the will inside my mind...
There is a voice I can't deny...

I kept the secrets in my mind...
There is a voice I can't deny...

"Sugoii...Gray, aku tidak tahu suara Vocal tingkat rendah milikmu begitu lembut dan khas..." Lucy terkagum dengan suara Vocal milik Gray.

"Hmph...aku bersyukur karena bait untukku hanya sedikit, karena aku sedikit malu untuk bernyanyi..." Gray memalingkan wajahnya karena malu setelah bernyanyi.

"Tapi...yang membuat aku heran, kenapa Drummer kita yang tampan itu suaranya begitu payah...?" Natsu menyudutkan pandangan anehnya kepada Loke.

"Baiklah aku menyerah..." Loke mendongkol dibelakang Drum itu.

"Erza...bagaimana denganmu? Aku ingin mendengar Vocal dari bagian bait lagu yang kau susun itu..." Lucy penasaran, kenapa lirik lagu itu dipisahkan dalam tiga bait dengan jenis Vocal yang berbeda.

"Baiklah...kalau begitu aku akan memulainya" Erza mulai bernyanyi

Vocal Erza.
Right now
I wanna be the enemy...
I hide
Empower our remedy

Step up
Get your game on
Get your pride back
Never back down, oh...

Yeah...I rise so you can be a part of me...
I hide as part of the machinery...

I have stepped on the wires
Feeding the flames to burn higher-er...

"Maaf...aku juga baru melatih teknik Vocal seperti ini..." Erza sedikit malu dengan teknik Vocal-nya yang baru.

Lucy tercengang dengan teknik Vocal itu, karena tidak seperti biasanya Erza melakukan hal itu dengan lagu-lagu sebelumnya.

"Eh..?! sejak kapan suaramu jadi seksi seperti itu, Erza?" tanya Lucy karena terkejut.

"Aku juga baru melatih teknik Vocal seperti ini...karena teknik ini terlalu sulit untuk suara Vocal berjenis Alto sepertiku...jadi, bagaimana mana menurut kalian? " Erza kembali memalingkan wajahnya karena malu, dia ingin tahu tentang penilaian mereka berempat apakah suara Vocal-nya itu bagus atau tidak.

"Yang membuat aku penasaran kenapa suaramu hampir mendekati Mezzo-sopran?" tanya Lucy.

"Entahlah...aku juga tidak menyadarinya...karena aku hanya berlatih keras untuk sedikit menaikan tangga nada dalam Vocal-ku" jawab Erza.

'Erza...sekarang aku mengerti kenapa kau menyuruh Natsu dan Gray untuk melakukan teknik Vocal... karena kau berniat menyatukan tiga jenis Vocal yang berbeda dalam satu kemasan sebuah lagu...kau begitu pandai dalam hal musik...'gumam hati Lucy karena terkagum dengan pemikiran Erza yang selalu mengeluarkan ide-ide cemerlang dalam hal musik.

"Erza...kenapa kau menyuruhku untuk memakai Double Pedal?" tanya Loke.

"Baiklah aku akan memutar kaset Tape yang telah aku beli ini, dengarkan baik-baik?" Erza memutar lagu dari kaset Tape tersebut.

Mereka semua mendengarkan lagu yang telah diputar dari kaset Tape itu.

"Kau benar, Group Band ini memiliki tiga Vocalist yang berbeda-beda..." kata Lucy sambil mendengar lagu itu.

"Oh...baiklah sekarang aku mengerti...lagu ini ada sedikit corak aliran Music Metal meskipun dibilang Music Rock Alternatif, aku baru mendengar lagu yang seperti ini...hmm.." kata Loke yang sedang meresapi lagu tersebut.

"Scream Vocal-nya begitu mantap...aku akan melakukan Scream Vocal itu dengan versiku sendiri...haha..." sambung Natsu.

"Suara Vocal untuk laki-laki yang satu lagi ternyata memang cocok untukku...kau sudah memperhitungkannya Erza...?" sambung Gray yang mulai mengerti tujuannya untuk melakukan Vocal juga.

Mereka akhirnya selesai mendengarkan lagu yang diputar dari kaset Tape itu.

"Baiklah...tadi kita mendengarkan bagian dari Chorus-nya, itu berarti aku menyanyikan bagian ini,...lalu Gray, kau harus melakukan sebuah Backing Vocal dalam bait Chorus ini, mengerti?" Erza menjelaskan bagian bait lagunya yang terakhir.

"Baiklah...aku akan mencobanya...ayo mulai..." Gray bersiap-siap untuk melakukan Backing Vocal.

Mereka berdua bersamaan menyanyikan bagian Chorus.

Vocal Erza dan Backing Vocal Gray.
I break with the past...
Set the nexus free at last..
As the future...will be there to save us..
Trapped in my skin
See the nexus in my dreas...
But will you bury me within...

"Sugoii...kalian berdua bisa melakukannya dengan sangat Sinkron...ini benar-benar sangat keren" Lucy terkagum dengan mereka berdua yang menyanyikan bagian Chorus itu dengan sempurna.

"Yosh...aku sudah selesai merakit kembali Stomp Box Effect Guitar miliku, aku tinggal Setting ke dalam mode Distory Rock Modern yang telah aku dengar dari lagu tadi...dan..." Natsu menghentikan pembicaraannya ketika melihat ke arah Guitar tipe ESP MH-250 itu.

"Erza...maukah kau menyimpan Guitar Fender Jaguar milikku ?...mungkin suatu saat aku akan menemukan bagian yang hilang dari Guitar-ku ini..." Natsu mempercayakan Guitar miliknya kepada Erza.

"Baiklah Natsu...aku akan menyimpannya baik-baik, sampai kau menemukan Pick up Sensor yang cocok dengan Guitar milikmu..." Erza menerimanya dengan senang hati.

Natsu mengambil Guitar tipe ESP MH-250 itu yang tersimpan disudut ruangan kelas musik.

"Guitar ini memiliki Neck yang nyaman ketika aku menggenggam lehernya...juga senar-senarnya ringan ketika ditekan...aku jadi teringat ketika membeli Guitar Fender Jaguar...aku merasakan hal yang seperti ini..." Natsu merasakan Guitar yang sedang dipegangnya sekarang.

Neck adalah bagian gagang Guitar yang menyimpan banyak Fret dari logam sebagai pembatas untuk melakukan sebuah nada kunci.

"Guitar tipe ESP MH-250 itu juga dilengkapi dengan Whammy Bar dengan mode Up/Down seperti milikku, Natsu..." kata Erza

"Eh..? apa itu Whammy Bar, Erza? tanya Lucy.

"Itu adalah variasi tambahan seperti batang besi di bagian Bridge yang sebelumnya ada pada Guitar milik Natsu, fungsinya untuk memaksimalkan pitch/handle...dalam sebuah Guitar Electrict Modern, bagian itu bisa ditarik keluar untuk menghasilkan nada tinggi dan di dorong ke dalam untuk menghasilkan nada rendah, sedangkan Guitar -nya Natsu termasuk kedalam Guitar Electrict Classic yang hanya bisa di dorong ke dalam untuk menghasilkan nada rendah. Itulah penjelasan secara detailnya Lucy..." penjelasan Erza kepada Lucy mengenai Whammy Bar.

Bridge dalam Guitar adalah lempengan logam yang berfungsi sebagai penyangga untuk menahan senar-senar yang melintang pada Guitar.

"Seleramu bagus juga Erza... Whammy Bar itu sendiri sering dipakai ketika melakukan teknik Swiping hingga terdengar suara jeritan pada Guitar, benarkan ?" sambung Natsu.

"Kau benar...kalau begitu, kenapa kau tidak mencoba untuk suara Guitar itu...?" saran Erza.

"Baiklah aku akan mencobannya...meskipun suara yang dikeluarkannya itu berbeda dengan milikku..." Natsu menghubungkan kabel Jack itu pada Guitar yang sedang dipegang olehnya.

'JEG-JEEeeng!' Hammer on telah dimainkan, namun Natsu terkejut dan menjadi lemas hingga mendudukan badannya karena suara Guitar itu.

"Eh...?! suara Guitar ini...sama dengan suara Guitar Fender Jaguar milikku..." Natsu benar-benar terkejut dengan suara Guitar itu, karena begitu identik dengan suara Guitar miliknya.

"Apa kau pernah mendengar karakter suara seseorang yang identik, namun dalam bentuk raga yang berbeda, Natsu...? tanya Erza.

"Erza..." Natsu menghampiri Erza dan memeluknya.

"Eh...?! Natsu..?!" Erza terkejut karena secara tiba-tiba natsu melakukan itu.

"Erza...maafkan aku...kau selalu mengerti perasaanku...hiks..hiks..." penyesalan yang sedang dirasakan oleh Natsu hingga ia menangis ketika dia tidak pernah mendengarkan apa yang katakan oleh Erza kemarin.

"Natsu, sudahlah...aku hanya berusaha untuk mempertahankan temanku ketika sedang mengalami masalah pada alat musik yang selalu dimainkannya...karena aku juga tidak ingin kehilangan temanku yang satu ini..." Erza membalas pelukan itu untuk menenangkannya.

-Erza Flashback P.O.V-

201652( 02 Mei 2016 ) 11.30 AM

Hari pertama dikelas musik SMA Higashi yang sudah diresmikan oleh kepala sekolah SMA Higashi, dimana anggota kelas musik tersebut sudah lengkap dengan jumlah lima orang.

Waktu itu...Lucy membeli Keyboard YAMAHA MOTOF X6 miliku dengan harga 300.000 ¥...

Sampai sekarang aku masih bingung untuk menggunakan uang itu untuk apa...karena belum ada kerusakan pada alat musik itu...dan lagi...Gray dan Natsu membawa alat musiknya sendiri...ya sudahlah...aku akan menyimpannya sebagai uang kas dikelas musik ini...siapa tau suatu saat aku membutuhkannya...

Untuk saat ini...aku sangat bahagia...karena kelas musikku tidak jadi dibubarkan...itu berkat Natsu yang telah datang waktu kemarin disaat detik-detik kelasi ini akan dibubarkan...kau luar biasa Natsu...

"Natsu...bagaimana dengan lukamu..." tanya Erza.

"Mungkin...masih terasa agak sakit dibagian kaki kananku...mungkin besok atau dua hari kedepan juga akan sembuh...entah kenapa hari ini aku merasa sangat bersemangat..." kata Natsu yang sedang mencoba Guitarnya yang telah dihubungkan langsung pada Amply tanpa menggunakan Effect Guitar.

'Jreng...Jreng...Jreng...ning!' ketika Natsu memainkan Guitarnya terdengar suara lengkingan kecil.

"humph...selalu saja Guitarku seperti ini untuk mengadaptasikan pada Amply yang lain..." Natsu menghela nafasnya ketika mendengar suara lengkingan itu.

Eh...?! sepertinya aku pernah mendengarkan hal seperti ini ditoko musik...apa perasaanku saja...

"Natsu, apa kau tidak pernah melakukan service di toko alat musik pada Guitarmu itu..?" tanya Erza yang sedang duduk dikursi ruang kelas alat musik.

"mmm...sepertinya aku tidak pernah melakukannya, karena aku selalu menabung uangku untuk keperluan yang lain...aku tidak punya uang untuk itu..." jawab Natsu.

Tapi...firasatku mengatakan Guitar milikmu tidak akan bertahan lama lagi Natsu...tapi aku tidak tahu kapan itu akan terjadi...baiklah, aku harus melakukan sesuatu untuknya...karena dia telah menyelamatkan kelas musikku yang sudah lama aku dirikan...

Nanti aku akan pergi ke toko alat musik sendirian setelah pulang sekolah...

Aku harus mengatasi semuanya...

201652( 02 Mei 2016 ) 04.15 PM

Keadaan sudut pandang di Fukuoka Music Center, dimana Erza sedang memilah-milih sebuah Guitar Electrict baru.

"Akio-kun, apa kau bisa membantuku...?" tanya Erza kepada teknisi di toko alat musik itu.

"Sebenarnya, kau melakukan ini untuk apa Erza? apakah kau berniat mengganti Guitarmu dengan merk Fender? Padahal Guitar tipe ESP LTD KH202 itu sudah cocok untukmu Erza..." tanya teknisi itu kepada Erza yang sedang menguji suara-suara Guitar itu.

"Ini bukan untukku Akio-kun, nanti akan aku jelaskan setelah aku mendapatkan Guitar yang cocok..." jawab Erza sambil berkonsentrasi untuk mendengarkan suara-suara Guitar yang telah diuji olehnya.

"hmph...sudah aku duga, suara dari model Fender yang lain tidak ada yang sama..." Erza hampir menyerah karena tidak ada suara yang identik dengan Guitar milik Natsu.

"Kalau begitu, kenapa tidak mencoba dari merk lain, Erza ? contohnya dari merk Guitar ESP seperti punyamu, kami memiliki banyak model yang bisa kau pilih..." saran dari teknisi itu.

"Baiklah...apa boleh buat, mohon bantuannya Akio-kun..."kata Erza.

"Tidak usah sungkan, serahkan semuanya padaku Erza...hmm..." teknisi itu bergegas mengambil berbagai model Guitar dari merk ESP.
"Baiklah Erza, kau bisa mencoba semua modelnya..."

"Baiklah, terima kasih Akio-kun" Erza akhirnya mulai mencoba semua model Guitar dari merk ESP untuk mencari suara yang identik dengan Guitar yang biasa dipakai oleh Natsu.

Ya tuhan...tolong bantu aku untuk menemukan suara yang identik itu...

Eh...?! ini dia...akhirnya aku menemukannya dari merk ini...syukurlah, sekarang aku merasa tenang...

Guitar tipe ESP MH-250, ini Guitar yang bagus...juga begitu ringan ketika aku menekan senar-senarnya...genggamannya juga terasa nyaman di tanganku ini...

Tapi...jika Natsu tidak menyukainya juga tidak apa-apa...aku akan menyimpannya dikelas musik...siapa tahu suatu saat nanti Natsu akan memakainya ketika saat itu tiba...

Aku hanya mengantisipasi keadaan bila itu terjadi pada Guitarnya...aku juga tidak ingin dia merasa sedih bila itu terjadi...hanya ini yang bisa aku lakukan...

"Baiklah Akio-kun, aku pilih yang ini..." Erza memberikan Guitar yang telah dipilihnya pada teknisi itu.

"Guitar tipe ESP MH-250, ini Guitar yang sangat bagus,...baiklah, harganya 35.000 ¥..." kata teknisi itu yang memberi tahu harga Guitar tersebut.

"Baiklah, tolong kemas Guitar yang itu...aku akan membayarnya kepada bagian kasir..." Erza menghampiri penjaga kasir wanita di toko alat musik itu.

"Baiklah nona Scarlet...semuanya 35.000 ¥" penjaga kasir wanita itu memberikan struk harga itu kepada Erza.

"Ini... 35.000 ¥" Erza memberikan jumlah uang itu kepada penjaga kasir wanita itu.

"Erza, ambilah...aku sudah mengemasnya ke dalam tas Guitar..." kata teknisi itu sambil memberikan Guitar yang telah dibeli oleh Erza.

"Terima kasih Akio-kun, baiklah aku pulang dulu...aku akan kembali ke toko ini jika aku memerlukan sesuatu..." Erza meninggalkan toko alat musik itu.

"Baiklah Erza, hati-hati di jalan..." teknisi itu melambaikan tangannya kepada Erza.

Hmph...Natsu, maafkan aku kalau aku egois...tapi semua untuk kebaikanmu...dan juga untuk Group Band kita...

Karena aku tidak ingin kehilanganmu dari kelas musikku...

201656( 06 Mei 2016 ) 00.40 AM

Normal P.O.V

Kembali ke sudut pandang kelas musik SMA Higashi, dimana Natsu yang masih memeluk Erza karena merasa bersalah terhadapnya.

"Dulu waktu kita masih dikelas belajar Guitar, aku sedikit membencimu...karena sikap dingin yang kau miliki ini Erza...sehingga para junior di kelas belajar Guitar itu takut padamu, kecuali aku...lalu setelah itu, mereka mulai mendekatimu... aku beranggapan bahwa mereka mematuhimu karena takut padamu...dan kau menutupinya dengan kemampuan Guitar yang kau miliki untuk mengajari mereka, hingga mereka tetap mematuhimu...aku benci dengan hal seperti itu sebelumnya...aku benar-benar sangat bodoh karena telah berfikiran negatif seperti itu terhadapmu..." Natsu akhirnya mengungkapkan perasaan yang selalu dipendam olehnya.

"Natsu, sudahlah...aku-" pembicaraan Erza dipotong kembali oleh Natsu.

"Tapi akhirnya aku sadar setelah mengenalmu selama ini,...dibalik sikap dingin yang kau miliki ini sebenarnya kau begitu hangat,..kau tidak egois...kau selalu memaksakan dirimu untuk menolongku, padahal kau sendiri dalam keadaan susah,..kenapa kau sejauh ini untuk menolong orang sepertiku, Erza...? hiks...hiks...aku sangat malu terhadap diriku sendiri..." Natsu semakin merasakan penyesalannya yang dulu ketika mengungkapkan hal tersebut.

"Karena dari dulu aku selalu memperhatikanmu,..hanya saja waktu itu kau tidak menyadarinya, bahkan kau tidak pernah memperhatikanku...jadi aku tidak tahu kalau kau berfikiran seperti seperti itu terhadapku,..ini juga salahku karena aku sendiri tidak berani mendekatimu ketika kau bersikap seperti itu padaku waktu itu..." akhirnya Erza juga mengungkapkan isi hatinya.

"Sekarang aku mengerti, ketika kalian bertemu kembali di Sekolah SMA Higashi ini...kalian berdua yang saling beradu seolah-olah kalian seperti bermusuhan,...ternyata semua itu hanya kesalah fahaman diantara kalian berdua...syukurlah, akhirnya permasalah kalian terpecahkan...mulai sekarang kalian berdua harus tetap bersama seperti ini, karena ikatan pertemanan kalian begitu kuat..." kata Lucy.

"mmm...Jadi...kapan kita memulai latihannya, jika kalian tetap berpelukan seperti itu...?" Gray menyudutkan pandangan anehnya kepada mereka berdua.

"Kenapa kau selalu merusak suasana hatiku Boxer...?!" bentak Natsu setelah melepaskan pelukannya terhadap Erza.

"hmph...andai saja aku berada dalam posisimu sekarang ini, kau sangat beruntung Natsu...hmm..." Loke menyentuh kaca matanya sambil melirik ke arah Lucy.

"Eh..?! jangan menatapku seperti itu...!" Lucy gugup ketakutan dan mundur kebelakang menghindari Loke.

"Kalau begitu, aku akan...hmm..." Loke mengalihkan pandangannya kepada Erza.

"Ghaaa! Kau jangan coba-coba menyentuh Erza, dia kakak kelasmu tahu!" Natsu menghalangi pandangannya Loke.

"Oii...oii...Natsu, kau sendiri kenapa menyentuhnya" sambung Gray dengan nada beratnya.

"Baiklah, aku menyerah..." Natsu mendongkol karena tidak sadar perbuatannya tadi.

"Baiklah semuanya, ayo kita lanjutkan kembali latihan kita untuk lagu yang akan dibawakan di acara Live House Fukuoka minggu depan..!" perintah Erza untuk semua anggotanya.

"Aye, Sir !" serentak teriakan semuanya dengan penuh semangat.

Meraka semua kembali berlatih untuk membawakan lagu tersebut dimulai dari penadaan musik, karena mereka baru mendengar lagu itu.

'NGIIIING!'suara lengkingan itu terdengar kembali ketika dipertengahan musik yang mereka mainkan.

"KYAA! BRISIK!" bentak Lucy kepada Natsu.

"Sudah aku bilang jangan menambahkan mode Sipit pada Stomp Box Effect Guitar milikmu Natsu...!" sambung Gray menyudutkan pandangannya pada Natsu.

"kau menarik kabel Jack yang terhubung dalam Stomp Box Effect Guitar-ku... Boxer !" bentak Natsu ketika kabel Jack itu melilit di kaki Gray.

"Kau yang meletakan kabel itu sembarangan!" balas Gray.

"Kau sendiri yang selalu mondar-mandir ketika sedang latihan!" balas Natsu.

"Karena itu ciri khasku dalam bermusik...!" balas Gray.

"GYAA! BOXER MENYEBALKAN" teriak kesal Natsu.

Pada akhirnya mereka selalu mengakhir pertengkaran itu dalam gulungan perkelahian.

"Eh..?! benar-benar menyebalkan kalau melihat tingkah laku bodoh mereka..." sudut pandang Lucy ketika melihat mereka berkelahi.

"Mereka selalu seperti itu..hmm..." Erza hanya tersenyum karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Latihan Group Band di SMA Higashi kembali tertunda pada hari ini.

= To be Continue =


Sedikit bocoran dari Penulis

Lirik yang mereka nyanyikan itu diambil dari Group Band ~Amaranthe - the Nexus~

makannya Erza membentuk tiga Vocalist dalam Group Bandnya :D

~Terima kasih sudah membaca~