sebenarnya oneshot, tapi karena kepanjangan dibagi jadi beberapa chapter.
maaf post gak sesuai janji, ada banyak tugas dari kampus.
.
WARNING! Terlalu banyak bahasa inggris. Dan belum di proofread.
.
Mark sedang duduk disebuah coffee shop, menunggu temannya, Bobby. Mereka berjanji akan bertemu hari ini, semalam Bobby mengirimnya sebuah pesan bahwa dia sudah kembali dari kunjungannya ke New York untuk menemui orang tuanya dan memintanya untuk menemuinya di sebuah coffee shop dekat flat-nya.
Mark memejamkan matanya dan menempelkan dahinya ke jendela kaca coffee shop tersebut yang dingin akibat suhu udara yang rendah. Disetiap dia menutup matanya, dia selalu melihat Jackson. Melihat Jackson memang akan membuat hatinya semakin perih, karena melihatnya sama saja dengan mengingatnya, mengingatnya sama saja seperti menyiramkan air garam ke lukanya. But he can't help himself, he misses Jackson.. Dia sangat merindukan Jackson, si pria bodoh yang dulu mencintai orang bodoh sepertinya.
Dia sudah berusaha mencari Jackson beberapa tahun yang lalu, dia mendatangi kampus yang namanya dia lihat di almamater yang Jaebum kenakan saat mereka bertemu dijalan, namun nampaknya mereka pindah kampus lagi.
Mark tidak berharap Jackson akan menerimanya kembali.. dia hanya ingin minta maaf. Minta maaf karena telah menyakiti hati pria yang lugu dan polos itu. Dia juga ingin menyampaikan bahwa dia sangat menyesal..
Atas..
Atas segalanya.
It's been four years ever since Mark made that one stupid mistake that made his life miserable, that one mistake was breaking someone who-loved-him-with-all-his-life's heart. That someone was a certain Hongkong native who loved him for him and didn't judge him like everyone did. And what the damn did Mark do to him again? Breaking his heart? What the flying Neptunus, Mark. For what, again?
To be together with an asshole named, Junior freaking Park..
..
What the flying pegasus!
.
He ruined everything over someone who was not even as handsome as Jackson, who in the end, broke his heart and used him as a fun playtoy. Tapi setidaknya, Junior mengajarkannya sebuah pelajaran. Yaitu untuk tidak pernah menuntut apapun dari seseorang, untuk merefleksi diri terlebih dahulu sebelum mengeluh, dan yang lebih penting lagi, Junior mengajarkannya bahwa karma itu benar-benar ada.
Hubungannya dengan Junior selama kurang lebih satu tahun itu juga membuatnya menyadari satu hal lain, yang dia tidak tau harus disyukuri atau diumpat, bukannya jatuh cinta dengan Junior yang (saat itu) notabene adalah kekasihnya, Mark malah jatuh cinta dengan mantan kekasihnya. Does that even make sense? Mark tidak jatuh cinta pada Jackson saat mereka bersama tapi malah jatuh cinta padanya saat dia bersama pria lain? What eeeeven.
Indeeed regret always comes later.
Mark menyesal menyia-nyiakan orang yang begitu menyayanginya, saat itu dia lupa bahwa yang dia butuhkan dalam hidupnya adalah seseorang yang mencintainya tulus dari hati dan menerima segala kekurangannya, yang tidak menuntutnya untuk menjadi siapapun yang bukan dirinya, yang tidak pernah meminta imbalan atas apapun yang diberikan kepadanya.
Dan Mark does not remember if there was a time where Jackson asked for his company when he needed comfort after his father passed away following his mother. He does not remember Jackson leaning on his shoulder when things went hard on him. He does not remember Jackson asking for help or protection when some debt-collecters ran after him. He does not remember Jackson telling him about his problems. He does not remember Jackson ever needed him.
Jackson didn't need him.
But Mark does remember segala kesabaran yang Jackson berikan padanya, dia bisa mengingat Jackson yang menghiburnya saat dia sedang terpuruk, dia bisa mengingat Jackson yang selalu meminjamkan bahunya saat dia ingin menangis.
Jadi kesimpulannya adalah maybe back then Jackson didn't need him. But he needed Jackson. He still does. Dialah yang membutuhkan Jackson, Jackson sama sekali tidak membutuhkannya.
And he does remember..
Bahwa dia dulu berpikir Jackson adalah sosok yang lemah yang selalu bersembunyi dibelakang sahabatnya, Jaebum. Sekarang dia sadar Jackson tidak pernah bersembunyi dibelakang siapapun. Jackson selalu menangani masalahnya sendiri, dia tidak pernah lari kepada siapapun untuk minta bantuan. Yang Jaebum lakukan hanyalah mendorong Jackson untuk berani mengungkapkan perasaannya dengan Mark dan satu hal sepele itu membuat Mark berpikir Jackson selalu membutuhkan bantuan Jaebum.
Bahwa dia dulu mengira Jackson adalah ibarat Omega berkedok Beta, dan akhirnya Mark menyadari bahwa dia salah besar.
Jackson adalah Alpha yang berkedok Omega.
Jackson tidak lemah, Jackson adalah sosok yang sangat kuat, Jackson bertahan dengan cinta sebelah pihaknya selama tiga tahun, dan selama lima tahun berjuang demi cintanya pada Mark, dia sanggup menanggung beban yang Mark berikan padanya, dia selalu menjaga perasaan Mark agar Mark tidak tersakiti, dan selalu tersenyum.. selau tersenyum walau dia menerima perlakuan acuh tak acuh yang Mark berikan padanya saat akhir-akhir menjelang berakhirnya hubungan mereka.
Dia juga ingat ekspersi wajah Jackson malam itu, Mark tau Jackson didn't see that one coming, karena Jackson sendiri tidak pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkan Mark apalagi menyakiti hatinya seperti yang dia lakukan pada Jackson. Walaupun sebenarnya... Jackson memiliki beribu-ribu alasan untuk melakukan kedua hal itu.
Hati Mark sangat sakit jika mengingat itu semua. Kejadian itu sudah empat tahun berlalu tapi dia masih bisa mengingatnya dengan jelas and the scar is still fresh like it just happened yesterday.
Mark sangat merindukan Jackson. Mark benar-benar sangat merindukannya. He feels like crying so he hugs himself.
"Apa aku sudah menunggu lama?"
Mark memutar kepalanya kearah sumber suara, kepalanya masih menyender dijendela. "Kau sudah datang?" ujarnya lemas.
"What, man? Kau tidak bersemangat sekali, apa kau tidak merindukanku?!"
"Hm. Aku merindukanmu." Jawab Mark datar.
"Kau tidak terlihat seperti itu.." Bobby merengut.
"Apa aku harus menghujani wajahmu dengan ciuman untuk menunjukannya?"
"Ide yang bagus."
"Terimakasih tapi aku tidak mau melakukannya." Mark menyodorkan secangkir kopi yang sudah dia pesankan untuk Bobby. "Mungkin sudah dingin. Salahmu."
Dia kembali menempelkan dahinya ke jendela kaca, menatap salju yang sedang turun.
Bobby mengambil cangkir kopinya, meminum beberapa tegukan untuk menghangatkan badannya yang sedikit kedinginan.
Hening.
Bobby mendesah, "Apa kau ingin terus seperti ini?" Dia meletakkan cangkir kopinya dimeja.
Mark mengabaikannya.
"Mark, YOLO."
Itu malah membuat Mark tambah murung.
"So enjoy." Tambah Bobby.
"Tidak Bobs, karena aku hanya hidup sekali itulah seharusnya aku tidak melakukan hal bodoh yang akan aku sesali seumur hidupku."
Bobby terdiam, apa dia salah bicara?
"Maksudku bukan begitu. YOLO to just sit there and mourning about the past. The past is in the past Mark, Let it go!" (Let it goo~~~~)
Mark menatap tajam Bobby. "I already did, Bobby, aku sudah menerima kenyataan. Apa menerima kenyataan juga berarti aku tidak bisa merindukannya?!"
Bobby kembali terdiam, 'Dia benar juga.'
"Jadi apa kau ingin seperti ini terus?"
Mark mengabaikannya lagi.
"We didn't move out of town for this, Mark. Kita pindah untuk memulai hari yang baru, berharap dengan suasana yang baru ini kau bisa mendapatkan hal-hal positif dan otak yang baru. We need to get rid of that stupid brain of yours."
Mark memutar bola matanya malas.
"Apa kau sudah dapat pekerjaan baru?"
"Belum.."
"Ya ampun, Mark Tuan!" Bobby mentally flips the table. "Sebulan terakhir ini apa yang kau lakukan?!" and mentally hits Mark's head hard to knock some sense into him.
"Dirumah.."
"..." and mentally slaps his own face.
"Ayo pergi."
"Kemana?" gumam Mark yang masih asik memandangi turunnya salju.
"Aku akan mengantarmu mencari pekerjaan."
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
Sepertinya Mark memiliki suatu ketertarikan tersendiri dengan kaca, karena setelah jendela kaca yang ada di coffee shop, kali ini dia menempelkan dahinya di kaca jendela mobil Bobby.
"Beritahu padaku dimana kau berencana melamar pekerjaan?" tanya Bobby yang sedang menyetir.
"Tidak tau.."
"Sebenarnya aku tau ini akan terjadi, ada satu perusahaan yang muncul dipikiranku saat ini. Apa kau keberatan jika aku mengantarmu kesana?"
"Tidak."
"Baiklah, aku akan menurunkanmu disana dan hubungi aku jika kau sudah selesai jadi aku bisa menjemputmu. Ada sesuatu yang harus aku urus."
"Hmm."
Bobby menggelengkan kepalanya. "Apa yang bisa kau lakukan tanpa ku, Mark?"
"Banyak."
"Ya, banyak. Menangis, mengurung diri dikamar, merenungi masa lalu, menangis lagi, mengurung diri dikamar lagi, merenungi masa lalu lagi, menangis la-"
"Shut up."
So Bobby does.
Bobby terus diam hingga mereka sampai di depan sebuah perusahaan yang besar, dia menghentikan mobilnya didepan gerbang perusahaan tersebut.
"Ingat hubungi aku jika kau sudah selesai.."
Mark menutup kepalanya dengan topi jacket winter yang dia kenakan sebelum turun dari mobil dan masuk kedalam perusahaan itu tanpa memberi Bobby jawaban.
Dia hendak menaiki lift saat dia ingat dia tidak membawa surat lamaran.
Dia mengumpat dalam hati.
Dia memutar balik badannya dan mengeluarkan handphone-nya untuk menghubungi Bobby, setelah beberapa beep akhirnya dia tersambung dengan temanya.
"Apa?"
"Surat lamaranku.."
"Kau tidak punya?"
"Bukannya tidak punya, aku tidak membawanya."
"Kenapa kau tidak bilang?"
"Kau tidak bilang jika hari ini aku akan melamar kerja!"
"Kau tidak bilang kalau kau belum melamar kerja!"
"Kau tidak bilang kalau aku harus melamar kerja!"
"Kau tidak bilang kalau aku harus bilang kalau kau harus melamar kerja!"
"Mengapa aku harus bilang?"
"Karena kau menyalahkanku!"
Mark menghela nafasnya.
"Begini, sebenarnya aku tidak harus bilang.. bahkan sebenarnya aku tidak perlu melamar pekerjaan. Jemput aku."
"Aku bahkan belum sampai ketempat tujuanku dimana aku harus mengurus urusan yang harus aku urusi?"
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan? Aku akan menunggu di lobi."
"Tidak lama.. baiklah. Tunggu aku dan jangan pergi kemana-mana, duduk diam disana dan aku akan menjemputmu. Akan bahaya jika pria cantik seper-"
Mark memutuskan sambungan telepon mereka.
Mark kenal Bobby saat dia pergi ke sebuah club. Saat itu Mark sedang mabuk berat dan Bobby lah yang menjadi wingman dan mengantarnya ke rumah. Bobby tidak pernah menghampirinya saat dia sadar, dia juga tidak bisa mengingat wajah Bobby sang wingman. Interaksi mereka hanya sebatas si pemabuk dan wingman-nya. Kejadian itu terjadi berulang-ulang kali, Mark akan mabuk berat dan Bobby akan mengantarnya pulang. Hingga Bobby sudah tidak sanggup lagi dan membentak Mark saat dia menghampiri Mark yang masih belum mabuk, mengatakan bahwa dia lelah menjadi wingman-nya dan menggurui Mark bahwa mabuk berat setiap hari bukan lah hal yang bagus. Sejak saat itulah mereka menjadi teman.
Back to the story,
Mark berjalan menuju lobi dengan malas, sebenarnya dia sama sekali tidak berniat untuk mencari pekerjaan, uang yang ditinggalkan orangtuanya sebagai warisan cukup untuk memberinya makan seumur hidupnya.
Dia mengambil tempat duduk disebuah sofa yang berada di lobi tersebut, kali ini juga, menempelkan dahinya di dinding kaca gedung itu. Memejamkan matanya kembali dan larut dalam kenangan.
"Sedang apa kau disini?" Suara yang tidak asing membawa Mark kembali ke kenyataan.
Mark mengangkat kepalanya dan apa yang dilihatnya membuatnya terkejut.
Jaebum berdiri tepat didepannya, sama terkejutnya seperti dia.
"Sedang apa kau disini?" tanya Mark dengan suara pelan.
"Itu yang aku tanyakan padamu."
"Aku... Aku tadinya ada urusan namun tidak jadi. Kau?"
"Aku bekerja disini." Jawab Jaebum lalu mengambil tempat duduk disofa yang berhadapan dengan sofa yang sedang Mark duduki.
"Kau bekerja disini?" Mark membulatkan matanya tidak percaya. Siapa yang tau kalau JB akan berakhir di perusahaan clothing dan bukannya menjadi pelatih dancer atau semacamnya?
Jaebum mengangguk. "Yup! Apa kabarmu?"
"Aku.. baik-baik saja. Kau sendiri?"
"Seperti yang kau lihat." Jaebum mengangkat kedua bahunya. "Anyway, apa urusanmu disini?"
"Aku sebenarnya ingin memasukkan surat lamaran.. namun aku lupa membawanya." Jelas Mark.
Jaebum terdiam sejenak, dia terlihat sedang berpikir. "I heard about your parents.. I'm sorry.." ujar Jaebum prihatin.
"Bagaimana kau bisa tau?"
"Bambam memberitahuku."
Mark mengangguk. "Tidak apa, aku jarang bertemu kedua orang tuaku. Ada tidak adanya mereka tidak begitu berpengaruh.."
Jaebum bergumam. "Aku tau, Jackson pernah bercerita tentang kedua orang tuamu yang tidak begitu memperhatikanmu."
"..."
"..."
"..."
"Kau diterima bekerja disini. Kami memang sedang membutuhkan designer tambahan. Tapi untuk beberapa saat kau bisa bekerja dirumah dan mengirim hasil pekerjaanmu padaku." Jelas Jaebum. Sebenarnya dia tidak mau merekrut Mark, tapi mengingat keadaan Mark yang sepertinya membutuhkan pekerjaan, dia merekrutnya.
Mark menaikkan satu alisnya. "Apa jabatanmu disini? Kenapa harus begitu?"
"Aku yang memimpin perusahaan ini. Karena memang harus begitu. Hanya untuk beberapa saat."
"?"
Tiba-tiba handphone JB berdering, dia melirik kearah Mark sejenak sebelum mengangkat teleponnya. "Wae?" JB kembali melirik kearah Mark. "Baiklah, aku akan segera kesana."
JB menutup teleponnya dan memegang pergelangan tangan Mark dan menariknya keluar dari sana dengan terburu-buru.
"Akan aku jelaskan nanti-"
"Apa?"
"-Jika sudah waktunya, aku akan memberitahumu dan kau bisa masuk ke kantor layaknya karyawan normal."
"What?"
Mark masih mencoba memproses apa yang sedang terjadi dalam otaknya dan mencoba melemparkan beberapa pertanyaan yang ingin dia tanyakan namun Jaebum sudah sibuk mendorongnya kedalam sebuah mobil dan menyuruh supirnya untuk mengantar Mark pulang.
"Jae- Jaebum!"
"Kuhubungi kau nanti!" ujar Jaebum sebelum menutup pintu mobilnya.
Mark menyandarkan punggungnya ke kursi mobil sedan itu dan menarik nafas panjang. Dia memberitahu alamat rumahnya kepada sang supir saat ditanyakan kemana dia harus diantar. kemudian memejamkan lagi matanya. Setelah tiga tahun tidak tau keberadaan Jackson dan Jaebum serta mencari keberadaan mereka, Mark malah bertemu dengan salah satunya disaat dia sudah menyerah dan menerima kenyataan.
Disaat dia tidak yakin lagi jika dia masih ingin tau keberadaan mereka atau tidak.
Tapi dia masih merasa sedikit beruntung karena yang dia tidak sengaja temui hanyalah seorang Jaebum, dia belum menyiapkan dirinya jika yang tidak sengaja dia temui tadi adalah justru seorang Jackson.
Mark membuka kembali matanya saat dia merasakan mobil yang dia tumpangi berhenti.
"Terimakasih sudah mengantarku." Ucap Mark sebelum dia turun dari mobil itu dan membungkukkan badannya sopan saat mobil tersebut melaju pergi. Setelah mobil itu tidak bisa terlihat lagi dari pandangannya dia berlari kedalam rumahnya dan mengganti pakaiannya yang sudah sedikit basah oleh butiran salju yang telah mencair.
Mark mendesah untuk yang kesekian kalinya dan melempar badannya ke kasur Queen Bed miliknya itu, berpikir 'bagaimana jika dia bertemu Jackson dan bukannya Jaebum beberapa saat tadi? Apa yang kira-kira akan terjadi? Apa Jackson akan memanggil security dan mengusirnya dengan paksa?' Kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali; itu tidak mungkin. Jackson-nya adalah sosok yang lembut. Dia memejamkan matanya lagi karena mengingat Jackson. Yang ada dipikirannya hanya Jackson, Jackson,dan Jackson saja.
Ugh, dia mengerang dalam hatinya..
Tidak lama kemudian suatu kemungkinan yang baru saja terpikir olehnya membuatnya membuka matanya yang terpejam.
'Jika Jaebum ada disini bukankah artinya Jackson juga berada disini?' tanya Mark dalam hatinya.
Jackson ada di kota ini..
Jackson berada tidak jauh darinya..
Jackson..
Jackson..
Then he falls asleep at the thought of the possibility of meeting Jackson.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
tolong di review untuk menyemangati author yang lagi pusing. kkk.
segala kritik dan saran diterima. :)
saran ff bagus :
aff : kittyfartingbubbles
