Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : TITE KUBO
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja. Fic ini hanyalah inspirasi gak sengaja yang nongol setelah membaca artikel di internet. hehehe
.
.
.
'Aku baik-baik saja. Hati-hati di jalan. Berikan kabar baik untukku setelah kalian pulang nanti ya.'
Demikianlah pesan terakhir yang Rukia kirim setelah mengantar Hisana dan kakak iparnya itu ke bandara. Rukia tahu Hisana pasti masih berat hati meninggalkan Rukia sendirian. Tapi siapa sih yang mau didengar Rukia? Dia gadis yang keras kepala dan seenaknya. Byakuya juga sama. Berat hati meninggalkan Rukia sendirian di rumah mereka. Apalagi keadaan Tokyo yang kelewat berbahaya itu. Meski mereka hanya berlibur di tempat yang tidak terlalu jauh, tapi Rukia berharap mereka bisa liburan sampai pertengahan bulan depan. Karena jujur, Rukia cukup sedih dengan fakta bahwa Hisana selama ini tidak pernah mendapatkan liburannya. Dia selalu terkurung di dalam rumah. Dan Byakuya akan sibuk dengan pekerjaan.
Rukia sudah memberitahu bahwa beberapa teman teaternya―yang perempuan tentunya―yang sudah cukup akrab dengan Hisana dan Byakuya. Mereka sering datang kadang untuk menjemput Rukia pergi atau bahkan meminta ijin untuk membawa Rukia ikut hang out. Hisana juga meminta bantuan Rangiku dan Hinamori untuk menjaga Rukia.
Selama beberapa pertunjukkan ini, mereka tidak pernah melihat Bibi Yoruichi. Katanya sih ikut anaknya ke Amerika juga. Gadis itu, entah siapa namanya, punya rekaman penting di Amerika dan baru bisa pulang setelah tahun baru. Jadi beberapa pertunjukkan dipercepat dan akhirnya mereka punya waktu liburan yang cukup.
Hisana sering kali mengirimi Rukia pesan hanya sekadar menanyakan kabar Rukia. Kalau Rukia tidak menjawab pesannya, Hisana akan menelponnya berkali-kali, walau dia tahu Rukia tak mungkin bisa mengangkatnya. Tapi kadang Rukia meminta Rangiku dan Hinamori yang menjawabnya agar kakaknya yakin Rukia baik-baik saja dan masih sehat bugar walau hanya ditinggal tiga hari.
"Rukia... kau... benar-benar baik-baik saja kan?" tanya Renji seusai pentas hari ini. dan lusa adalah hari terakhir pertunjukkan teater mereka.
Rukia menoleh ke arah Renji. Saat ini mereka tengah berada di belakang panggung. Rukia mengerutkan keningnya bingung. Lalu, Rukia mengambil notes kecil yang selalu dibawanya kemana-mana di dalam tas selempang ungunya itu.
'Tentu saja baik-baik. Ada apa?'
Tulis Rukia demikian lalu menyerahkannya pada Renji. Renji membacanya dan terkesan salah tingkah dengan kata-kata Rukia itu.
"Ehh? Uhh... kau tahulah... Matsumoto dan... Hinamori kan tidak setiap hari menginap di rumahmu. Dan... gadis sepertimu tidak baik―"
"Dasar mesum menjijikan! Kau mau bilang apa pada Rukia yang polos itu hah!" bentak Yumichika sambil menghantamkan kepala nanas Renji dengan kipas lipatnya itu. Renji mengaduh kesakitan sambil mendelik horor pada Yumichika.
"Apa-apaan kau ini! Sakit tahu!" teriak Renji.
"Rukia... jangan dengarkan kata-kata nanas bodoh ini. Dia itu cuma mencari kesempatan dalam kesempitan. Jadi... jauh-jauh darinya kalau sudah malam hari. Mengerti!" nasihat Yumichika sambil mendorong Rukia menjauh dari Renji. Wajah Rukia mengkerut tidak mengerti dengan kata-kata Yumichika itu.
"Heh! Apa maksudmu itu! Aku cuma khawatir padanya tahu!" jerit Renji lagi merasa difitnah seenaknya oleh Yumichika.
Semua anggota teater selesai dengan tugasnya masing-masing. Kini giliran mereka untuk pulang ke rumah karena harus mempersiapkan pertunjukkan terakhirnya.
Kebetulan Rangiku hari ini tidak masuk karena sedang flu ringan. Dia tidak ingin gagal tampil di teater terakhirnya. Hinamori dan Shuuhei sudah duluan untuk pulang lebih dulu karena besok Hinamori ada ujian di kampusnya. Demikian juga dengan Yumichika dan Renji.
"Ehh... Rukia... aku akan mengantarmu―"
"Ichigo! Wah... kau datang hari ini ya?" potong Yumichika dengan suara cemprengnya itu menyambut pria berambut menyala yang menghampiri mereka bertiga. Tinggal Yumichika, Renji dan Rukia yang masih berdiri di halte dekat teater ini.
"Apa kabar?" sapa Ichigo ramah. Renji menatap sinis pria tampan itu. Sejak acara minum bersama itu, Renji sudah menganggap Ichigo adalah saingan terberatnya. Insting laki-lakinya mengatakan kalau pria kaya berambut menyala ini sedang mengincar Rukia.
"Baik sekali! Kenapa kau tiba-tiba ada di sini?" sela Yumichika. Rukia tetap menunduk saja. Mungkin sejak acara minum bersama itu, Rukia tak lagi menganggap Ichigo asing dan menakutkan. Dia sudah perlahan-lahan mengenal Ichigo dan tak lagi bersembunyi dari pria tampan ini seperti pertama kali bertemu. Tapi tetap saja Rukia masih malu dan menunduk setiap kali bertemu Ichigo tidak sengaja.
"Tidak sengaja lewat. Oh ya, kalian mau kemana? Kenapa hanya... bertiga saja?"
"Hinamori dan Shuuhei sudah pulang. Rangiku sakit. Tidak parah sih. Kami sebenarnya mau pulang. Dan sepertinya cuaca sudah mulai aneh. Lain kali kita ngobrol lagi ya."
"Oh... begitu. Baiklah," balas Ichigo.
"Kalau begitu aku mau mengantar―"
"Oh ya Ichigo! Bisa antarkan Rukia pulang? Sebenarnya dia biasa pulang dengan Rangiku dan Hinamori. Tapi mereka berdua hari ini tidak ada, kami mau pulang karena ada ujian di kampus besok. Bisa minta tolong? Kau kan pernah mengantar Rukia," sela Yumichika memotong kalimat Renji. Yumichika membekap mulut si rambut nanas itu yang meronta sedari tadi.
"Ehh? Mengantar... Rukia?" ulang Ichigo ragu.
"Hmm! Pastikan dia baik-baik saja ya... soalnya dia sekarang tinggal sendirian, ditinggal liburan oleh kakak dan kakak iparnya. Kalau begitu... duluan ya!" jelas Yumichika cepat lalu menarik Renji masuk ke dalam bus. Renji meronta dan meratapi Rukia yang ditinggal berdua dengan Ichigo dari kaca jendela bus.
Rukia menunduk malu sekali lagi. Yumichika terlalu banyak bicara dan dia tidak bisa mencegahnya.
"Jadi... kau tinggal sendiri sekarang?" tanya Ichigo mencoba meyakinkan.
Rukia mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan beberapa kata. Lalu menyodorkannya pada Ichigo.
'Ya. Sudah biasa kok. Jangan khawatir.'
Ichigo menyerahkan ponsel itu setelah membacanya. Lalu menatap datar pada gadis itu.
"Aku tidak khawatir. Tapi aku cemas. Kau seorang gadis dan tinggal sendirian? Kau tidak tahu betapa bahayanya Tokyo itu?"
Rukia ragu-ragu mendongakkan kepalanya. Aneh. Pria ini. Aneh.
Sekali lagi Rukia mengetikkan beberapa kata di dalam ponselnya dan menyerahkannya lagi pada pria itu.
'Belum ada yang terjadi padaku. Kau tidak usah cemas.'
Ichigo memandang kesal pada gadis ini.
"Kau itu seorang gadis. Punya takut sedikit kenapa? Memangnya kau tidak bisa meminta tolong seseorang untuk menemanimu di rumahmu hah? Selain teman-teman teatermu!"
Rukia merampas ponselnya dari tangan Ichigo dengan raut kesal. Dan mengetikkan beberapa kata lagi di sana.
'Kau lupa aku memang tidak punya teman lain selain teman-teman teaterku!'
Rukia sepertinya cukup merasa tersinggung dengan kata-kata Ichigo itu. Lalu beranjak meninggalkan laki-laki bodoh itu. Langkahnya besar-besar sambil menghentakkannya dengan kesal. Tapi kemudian kembali lagi karena melupakan ponsel yang masih dipegang oleh pria berambut terang itu.
Dan sepertinya Ichigo bodoh itu baru sadar kalau dia salah bicara.
"He-hei... tunggu dulu!"
Ichigo berlarian mengejar gadis itu dan berhenti tepat di depannya. Gadis mungil ini mengangkat wajahnya melihat pria itu.
"Oke! Maafkan aku. Aku memang keterlaluan. Aku akan mengantarmu pulang."
Rukia mendelik sinis lalu pergi duluan meninggalkan pria itu.
"Hei! Kubilang maafkan aku. Kau ini kenapa sih?"
Percaya atau tidak, Rukia malah membiarkan pria itu mengikutinya hingga ke rumahnya.
.
.
*KIN*
.
.
Akhirnya Ichigo tiba juga di rumah gadis mungil itu. Rumah yang pertama kali dilihatnya. Tapi waktu itu dia tak sempat masuk karena sudah terlalu malam. Dan ini juga sudah terlalu malam bukan?
Rumahnya memang sederhana. Dengan desain minimalis dan di halaman depannya banyak sekali bunga lavender yang berjejer rapi di gundukan tanah yang sengaja dibuat seperti taman. Wanginya jelas menguar bahkan sampai di depan pagar seperti ini.
Gadis itu sudah membuka pagarnya kemudian mengulurkan ponselnya lagi pada pria itu.
'Kau mau masuk?'
Dan tentu saja Ichigo kaget karena ditawari seperti itu oleh gadis ini. sebelumnya gadis ini sama sekali tidak pernah menawarkan apapun padanya. Dan tentu saja... ini...
"Kau yakin mengijinkan aku masuk?"
Tentu saja gadis itu tanpa benar-benar berpikir menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah. Kau yang minta ya..."
Rumahnya sederhana tapi terkesan nyaman dan menyenangkan. Banyak warna di dalam rumah itu. Dan beberapa pigura foto yang dipajang dan ditaruh di atas meja hias di ruang tamu itu. Ketika Ichigo masuk, di sana ada ruang tamu kecil yang tampaknya bergabung dengan ruang keluarga, karena ada sebuah TV layar datar ukuran sedang di seberang ruang tamu ini. di sisi lain ada ruang makan yang merangkap dapur juga, lalu di agak kebelakang ada sebuah tangga kecil yang berhubungan dengan sebuah pintu. Tampaknya itu sebuah kamar tidur.
Rukia tersenyum sekilas lalu menunjuk sofa tamu di sana. Ichigo hanya mengangguk setuju lalu gadis itu beranjak masuk ke dapur. Entah apa yang dia lakukan di sana. Tapi Ichigo lebih tertarik melihat beberapa pigura yang digantung di dinding ruang tamu itu.
Pigura satu yang agak sedang memuat sebuah rumah bergaya Jepang kuno yang berada di sebuah pedesaan. Di sana ada dua orang gadis. satu terlihat lebih dewasa namun mirip sekali dengan Rukia. Dan satunya, Ichigo yakin itu adalah Rukia sendiri. Rambutnya yang pendek itu diikat dua sambil memeluk sebuah boneka bertelinga panjang berwarna pink. Sudah pasti itu kelinci. Apa mungkin Rukia kembar? Tapi mereka memang begitu mirip.
Satu lagi foto Rukia kecil yang berada di pesisir pantai sedang duduk di atas batu besar. Gadis itu tetap tersenyum lebar sambil memeluk boneka kelinci itu. Ichigo bisa membedakan dua gadis ini walau mereka mirip. Karena wajah Rukia selalu tersenyum lebar di sana sambil memeluk boneka kelinci. Tapi tunggu...
Ichigo mengenali pantai itu.
Ada sebuah foto yang sepertinya diambil di saat matahari terbenam. Rukia lagi-lagi duduk di atas batu besar sambil memakai tas selempang berwarna ungunya dengan gantungan kelinci yang diributkannya waktu itu. Foto itu diambil dari samping. Rukia tampak duduk menghadap laut. Dan sepertinya... Rukia tampak sedang bernyanyi. Rukia juga sepertinya tak sadar sedang di foto. Kenapa... rasanya ada ingatan yang seperti ini di dalam kepala Ichigo? Setiap kali melihat gantungan kelinci itu, ada saja ingatan aneh yang berseliweran di dalam kepalanya. Apa maksudnya?
Ichigo mendadak terkesiap saat sebuah tangan menepuk pelan pundaknya. Gadis itu juga kaget. Lalu menyodorkan sebuah notes kecil pada Ichigo.
'Kau sedang apa di sana?'
Tulisnya demikian. Ichigo mengembalikan notesnya dan kembali memandangi foto itu.
"Oh, aku melihat foto ini. Apa semua itu foto milikmu?"
Rukia melihat beberapa foto kemudian mengangguk setuju. Menulis sebuah pesan di notes itu kemudian menyerahkannya lagi pada Ichigo. Cepat juga gadis ini menulis.
'Sebagian besar iya. Kakakku yang suka mengoleksinya. Kau lihat gadis yang mirip denganku? Itu kakak perempuanku yang sekarang sudah menikah dan sedang liburan.'
Rukia menunjuk sebuah foto gadis―berarti wanita karena dia sudah menikah―yang mirip dengannya.
"Apa semua foto ini diambil di Tokyo? Kulihat... sepertinya ini bukan Tokyo."
Rukia mengangguk lagi. Kemudian menulis sesuatu lagi di sana.
'Ya. Memang bukan di Tokyo. Aku dari desa. Dulu aku tinggal di Pulau Seireitei. Dan kemudian setelah kakakku menikah, aku menetap di sini.'
Ichigo membelalak. Seireitei katanya?
"Kau... dari Seireitei?" ulang Ichigo tak percaya. Kenapa bisa kebetulan begini? Kenapa gadis ini berasal dari pulau dimana tempatnya pernah terdampar dulu? Apakah murni kebetulan atau cuma...
Gadis itu menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Ichigo. Wajahnya mengkerut samar. Tapi Ichigo tahu gadis ini bingung. Perlahan Ichigo mencoba mengingat kilas balik masa lalunya itu.
"Sejak kapan, kau... datang kemari?"
'Sejak umurku 12 tahun. Aku sudah ada di Tokyo sejak umurku 12 tahun.'
Ichigo sekali lagi diam. Riruka datang ke Tokyo saat umurnya 14 tahun. Jadi gadis ini sudah ada di Tokyo lebih dulu dari Riruka. Ichigo mulai bersikap biasa. Mungkin pikirannya terlalu berlebihan. Atau mungkin dia cukup lelah karena pekerjaannya. Atau bisa jadi dia juga begitu merindukan Riruka hingga berpikiran aneh seperti ini. Yah. Dia hanya merindukan gadisnya. Itu saja. Makanya ada pikiran aneh yang berterbangan di dalam kepalanya.
"Maaf Rukia. Aku... harus pulang. Kupikir ini sudah terlalu malam. Setelah aku pergi kunci pintunya ya."
Rukia mencoba bertanya ada apa dengan pria ini, tapi mendadak kemudian Ichigo sudah keluar lebih dulu dari rumah Rukia dengan keadaan aneh. Memangnya ada yang salah dengan Rukia?
.
.
*KIN*
.
.
Baru kali ini Rukia memikirkan seorang pria sampai seperti ini.
Entah kenapa ada kesan aneh ketika pria itu meninggalkan rumahnya beberapa waktu lalu. Dan ini adalah malam setelah pertunjukkan terakhir mereka selesai. Dan pria berambut terang itu tidak datang. Padahal dia berjanji akan datang di saat pertunjukkan terakhir mereka. Apalagi ini adalah minggu terakhir di bulan Desember. Ahh sudahlah. Apa yang perlu dipikirkan sampai begitunya?
"Hei... cepat tidur. Kita bisa terlambat bangun besok loh!" celetuk Rangiku yang sudah menarik selimutnya.
"Ahh~ aku tak sabar lagi. Tapi, apa kau sudah ijin dengan kakakmu kalau besok kita mau ke sana?" tanya Hinamori yang sudah berguling di tengah ranjang. Dan di ujungnya Rangiku sudah tidur dengan damainya.
'Sudah. Kakak bilang tidak apa-apa. Dia juga sudah memberitahu nenek penjaga di sana.'
Tulis Rukia di ponselnya. Hinamori mengangguk mengerti kemudian menarik selimutnya pula. dua temannya sudah tertidur dengan pulasnya. Kenapa Rukia jadi bingung begini ya?
Sudahlah. Mereka harus berangkat pagi besok. Jangan sampai ketiduran.
.
.
*KIN*
.
.
"Hei nanas bodoh! Kau ini bagaimana sih, tasku belum kau angkut!"
"Aku tidak mau mengangkut tasmu makhluk luar angkasa!"
"Apa kau bilang! Rukia~~~ lakukan sesuatu pada kepala nanas ini..."
Rukia menarik-narik lengan baju Renji dan menunjuk tas besar berwarna pink yang masih tergeletak di jalan itu.
"Kau licik! Mana boleh kau memanfaatkan Rukia begitu!"
"Lalu aku harus apa? Tasku berat tahu!"
"Siapa yang menyuruhmu membawa tas sebesar itu hah!"
"Kita akan di sana sampai awal tahun baru nanti! Kau pikir persiapannya hanya sedikit? Lagipula... kita sudah lama tidak liburan bersama..."
Perdebatan Yumichika dan Renji pun kembali dimulai. Rukia hanya geleng-geleng kepala saja. Benar-benar anak kecil. Atau mereka memang anak kecil?
Rencananya, bersama teman-teman teaternya mereka akan pergi ke Seireitei. Dengan mobil van panjang milik Shuuhei yang dipinjamnya dari pamannya yang hobi traveling itu. Sebenarnya mereka biasa pergi liburan bersama seperti ini. Tapi kadang Rukia jarang ikut. Dia lebih suka bersama kakak dan kakak iparnya. Tapi kali ini dengan terpaksa Rukia harus ikut karena dia sendirian di Tokyo ini. Daripada tidak ada kerjaan bukankah lebih baik pergi liburan ke kampung halaman? Lagipula... Seireitei adalah tempat yang menyenangkan karena pantai di sana selalu hangat walau musim dingin sekalipun. Semua persiapan sudah selesai. Tas-tas mereka untuk bekal satu minggu sudah selesai. Sebenarnya sih mereka hanya membawa pakaian saja. Karena mereka akan tinggal di rumah Rukia yang lama. Rumah itu dijaga oleh seorang nenek yang merupakan kenalan orang tua Rukia dulu. Jadi sampai sekarang rumah itu tetap dihuni oleh nenek itu seorang. Lagipula... rumah Rukia berada di dekat pantai. Suasana pedesaan juga masih sangat terasa di sana. Nanti mereka akan menumpang kapal besar yang bisa memuat mobil untuk akses ke sana.
"Kyaaaa! Pria tampan itu kenapa ada di sini!" jerit Rangiku begitu melihat mobil sedan milik pria kaya itu muncul di rumah Rukia.
Tentu saja peserta liburan ini kaget bukan main.
Ichigo tiba di rumah gadis itu akhirnya. Dia mau membawa mobil sebenarnya, tapi sejak dia mengenal gadis itu, rasanya jalan kaki adalah alternatif menyenangkan untuknya. Apalagi rumah gadis mungil ini dekat dengan halte. Dia sebenarnya datang pagi ini ingin meminta maaf pada Rukia karena kejadian beberapa waktu itu. Alasannya sih karena kemarin-kemarin Ichigo tidak sempat keluar karena sibuk. Dan sekarang dia sudah cukup senggang. Tapi dia malah melihat rombongan teater itu tengah sibuk akan sesuatu.
"Kalian mau kemana?" tanya Ichigo bingung.
"Liburan. Tentu saja!" sela Renji sambil mendelik sinis pada pria itu.
"Yayaya! Kami ke pulau Seireitei! Tempat Rukia tinggal dulu. Kami jamin kau tak akan menyesal datang ke sana!" sela Rangiku sambil mendahului Renji yang mau berkomentar lagi.
"Seireitei?" ulang Ichigo.
"Kau mau ikut? Kurosaki-kun?" timpal Hinamori.
"Hei kalian serius mau menga―hmmpph!"
"Abaikan kepala nanas ini! Ikut saja... ide bagus sekali kalau kau mau ikut liburan bersama kami! Kau tidak ada pekerjaan kan? Kuharap tidak ada..." bujuk Rangiku yang sudah menyumpal mulut Renji dengan tas tangannya.
Ichigo memandang ragu pada rombongan itu. Memang sebagian tidak ada yang keberatan kalau dia ikut. Tapi...
Kalau dia harus kembali ke sana lagi...
Gadis mungil itu mengulurkan ponselnya pada Ichigo kemudian. Ichigo bingung apakah harus membacanya atau tidak.
'Kau bisa ikut kalau kau mau. Lagipula liburan seperti ini pasti menyenangkan kalau banyak orang. Bukankah kau menyukai semua temanku?'
Gadis mungil itu tersenyum hangat kepadanya. Baru kali ini Ichigo melihat Rukia tersenyum padanya seperti itu.
"Ayolah kita harus mengejar kapal pagi ini tahu..." gerutu Shuuhei sambil membunyikan klakson mobil van-nya.
"Nanana... masuklah semuanya..." Rangiku mulai mendorong-dorong semua anggota teaternya masuk ke dalam van itu.
"Tapi... aku tak bawa baju ganti..." sela Ichigo.
"Itu mudah, kau bisa pinjam bajunya Renji, Shuuhei atau... Yumichika!"
Dan menurut Ichigo, saran terakhir sangat tidak menguntungkan.
.
.
*KIN*
.
.
Kursi belakang di tempati oleh Yumichika dan Hinamori, kursi di depan ada Renji dan Shuuhei yang bertugas menyetir. Karena perjalanan menuju Seireitei agak lama, makanya Renji dan Shuuhei nanti yang bergantian menyetir. Rangiku duduk di pinggir sedangkan Rukia juga ikut duduk di bangku tengah. Dan terakhir Ichigo yang duduk di sebelah Rukia. Awalnya Renji iri setengah mati karena pria tampan ini ikut. Tapi mau bagaimana lagi, kalau Rangiku sudah memutuskan tidak ada yang boleh menentangnya. Lagipula selain Renji semuanya baik-baik saja Ichigo ikut.
Selama perjalanan itu mereka bernyanyi bersama, bermain lempar kata dan tentu saja Shuuhei hanya ikut mendengarkan karena dia sedang menyetir.
Begitu tiba di pelabuhan, Ichigo mulai panik.
Mobilnya memang sudah masuk ke dalam kapal, tapi beberapa orang mulai ingin keluar melihat laut. Suasana mencekam saat ini sangat tidak menyenangkan untuk Ichigo. Dia tahu seharusnya dia menghindari laut. Tapi entah kenapa saat ini dia tidak ingin kebiasaannya kumat seperti ini. dia tak mau mengecewakan siapapun dengan tingkah konyolnya ini. astaga...
"Ayoo semua turun sebentar! Lautnya bagus kok! Setengah jam lagi kita baru tiba di Seireitei..." seru Rangiku sambil berlarian menuju atas kapal. Hinamori dan Yumichika, juga Shuuhei ikut ke sana. Renji masih mengawasi dengan hati-hati tingkah aneh pria berambut orange itu.
Dengan gugup, Ichigo menahan tangan Rukia yang baru akan beranjak keluar dari mobil van ini. mobilnya memang sudah diparkir di dalam kapal besar ini.
"Bisakah... kau tidak keluar? Aku... agak kurang enak badan," lirih Ichigo.
Ini memalukan memang. Tapi dia tidak bisa menahannya. Sendirian di kapal seperti ini membuatnya merasa takut sekaligus panik.
Rukia mengintip wajah Ichigo yang mulai panik dan gugup itu. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Apalagi tangannya yang menggenggam tangan Rukia ikut terasa dingin.
Semua teman-temannya sudah keluar dari mobil. Dan Renji sepertinya sudah dibawa paksa oleh Rangiku untuk menikmati laut. Sepertinya Rukia tak punya pilihan sekarang ini.
Dengan sebelah tangannya yang tidak digenggam oleh Ichigo, Rukia mengeluarkan ponselnya dan menulis sesuatu di sana. Lalu menyerahkannya pada Ichigo.
'Kau mabuk laut?'
Ichigo tertawa pelan begitu membaca tulisan di sana. Mabuk laut? Kalau benar begitu seharusnya dia mual-mual. Entah kenapa mendadak perutnya mulai kram karena mengingat dia ada di atas laut sekarang ini.
"Hanya merasa kurang nyaman saja," balas Ichigo setelah membaca tulisan di ponsel itu. Tak lama kemudian gadis itu kembali mengetikkan sesuatu di sana.
'Maaf. Kalau kau tidak enak badan, seharusnya kau tidak ikut saja.'
Ichigo melihat gadis itu merasa bersalah sekali. Ichigo juga tak mau membuat gadis itu merasa bersalah. Tapi jika gadis ini tahu bahwa sebenarnya Ichigo tidak suka laut, tentu saja dia akan akan semakin merasa bersalah. Karena tempat yang akan mereka kunjungi adalah laut yang luas dan menakutkan. Sekaligus... masa lalu yang mencekam itu.
"Sebentar juga baik. Bisa kau diam sebentar? Aku janji hanya sebentar saja."
Belum sempat Rukia memberi respon apapun, Ichigo mulai menyandarkan kepalanya di pundak Rukia. Saat itu rasanya aneh sekali. Entah kenapa Rukia merasa aneh.
Dan entah kenapa pula Ichigo merasa benar melakukan ini. Mendadak kram perutnya berangsur menghilang. Rasanya nyaman saja dengan posisi begini. Dia hanya perlu memikirkan bahwa dia tidak berada di laut tapi di dalam mobil. Dan wangi lavender ini, semakin membuatnya terasa nyaman.
.
.
*KIN*
.
.
Setengah jam berlalu dengan damai.
Ichigo tak menyangka bahwa selama ini dia menghindari laut sejak berusia sembilan tahun dan kembali melihat laut di saat usianya sudah seperti ini. Benar-benar sama sekali tidak menyangka. Dia sempat lupa jika dia berada di laut ketika berada bersama Kuchiki Rukia ini. Gadis mungil ini bahkan tidak terlalu memikirkan apa yang mereka lakukan barusan. Ichigo sempat tertidur di pundak gadis itu. Dan ketika mereka keluar dari pelabuhan, rasanya Ichigo kembali hidup. Menjauh dari laut adalah satu-satunya obat untuknya saat ini.
Tampaknya teman-teman Rukia memang orang-orang yang menyenangkan. Mereka tahu bagaimana cara menghidupkan suasana yang tadinya sunyi jadi sangat ramai. Wajar saja Rukia suka mereka. Mereka selalu membuat semua orang nyaman bersama mereka. Dan itulah yang dialami oleh Ichigo sekarang.
"Hei nanas bodoh! Bodoh! Berhenti cepat!" pekik Rangiku sambil mencekik leher Renji yang menyetir menggantikan Shuuhei sejak dari pelabuhan itu.
"Oii! Kita bisa tertabrak Matsumoto!" balas Renji.
Akhirnya dengan rem dadakan, Renji menghentikan mobil van itu. Rukia yang setengah mengantuk nyaris saja terjungkal ke depan karena rem mendadak itu. Tapi untungnya Ichigo menarik lengan gadis itu agar tidak langsung terjungkal. Sebagian tidak memperhatikan mereka berdua secara langsung, tapi Rukia cukup kaget dengan aksi Ichigo itu.
Mereka baru sadar bahwa mobilnya sudah lama berhenti dan Rangiku sudah berlarian ke luar. Ichigo yang masih merasa terkejut karena sikapnya sendiri tadi langsung memutuskan untuk keluar dari mobil itu.
Renji mematikan mesin mobil dan bersiap mengajak Rukia juga keluar. Kesempatan berdekatan dengan Rukia sangat sedikit saat ini. Apalagi semenjak kehadiran kepala labu itu!
Yumichika mendorong Ichigo untuk ikut berlarian ke arah pantai. Dan ternyata pantai itu memang hangat. Padahal ini masih musim dingin. Shuuhei hanya menunggu di dekat mobil. Rangiku sudah naik ke atas batu besar di pesisir pantai itu. Mereka berhenti di pantai menikmati pemandangan indah ini. Renji juga ikut naik di atas batu besar ini. Hinamori dan Yumichika tengah berkejaran dengan ombak di sana.
Ichigo masih berdiri agak jauh dari pantai itu. Tapi tak terlalu jauh dari batu besar yang berjejer rapi di pinggir pantai itu. Rangiku, Renji, Yumichika dan Hinamori sudah naik ke atas batu besar itu sambil berfoto-foto. Renji akhirnya punya kesempatan berdekatan dengan Rukia walau sebentar saja karena Rangiku sudah menyuruhnya mengambil foto model itu dari berbagai arah untuk dimasukkan ke dalam akun sosial pribadi miliknya.
Ichigo perlahan mendekati rombongan itu. Tapi tetap saja masa lalu yang menakutkan menghantuinya. Takut kalau-kalau ombak di laut itu datang menggulung dan menelannya hidup-hidup. Membayangkannya saja sudah membuatnya gemetar. Memalukan! Kalau rombongan itu tahu Ichigo begini pengecut tentu saja akan jadi bahan tertawaan.
Tiba-tiba sebuah tangan kecil terulur ke depannya. Ichigo mendongak mendapati gadis mungil itu mengulurkan tangannya. Padahal Rukia masih duduk di atas batu saat itu.
Saat itu Rukia tersenyum lagi padanya.
"Tidak apa-apa. Aku di sini saja," akhirnya justru kalimat itu yang keluar dari mulut Ichigo.
"ICHIGOO~~ CEPATLAH NAIK! PEMANDANGANNYA BAGUS LOH!" pekik Rangiku dari jauh. Mereka sudah naik-naik ke batu-batu yang lebih tinggi lagi.
Sekali lagi gadis itu mengulurkan tangannya pada Ichigo. Mungkin Rukia berpikir Ichigo tak suka naik ke atas batu itu. Karena Ichigo tak kunjung menjawab uluran tangannya, akhirnya Rukia malah menyerahkan ponselnya lagi.
'Kau takut jatuh duduk di atas batu ya?'
Ichigo membelalak mendapati gadis itu seperti tengah meledeknya.
"Tidak! Aku... aku hanya belum pernah naik ke atas situ..." jawab Ichigo gengsi karena disangka penakut.
'Makanya belum pernah cobalah naik. Tempatnya tidak buruk kok.'
"Kau yakin?" Ichigo jadi bertambah bimbang.
'Percayalah padaku.'
Komunikasi itu berlangsung dengan saling menyerahkan ponsel Rukia. Ragu, Ichigo menerima uluran tangan gadis itu. Padahal tubuh Rukia begitu mungil tapi dia sanggup menarik Ichigo yang bebannya lebih dua kali tubuh mungilnya itu. Dan benar. Pemandangannya memang indah. Di atas batu besar ini semuanya terlihat jelas. Baru pertama kali Ichigo melihat laut tidak seseram dugaannya. Dengan hati-hati Ichigo duduk di sebelah Rukia. Gadis itu masih tersenyum lebar sambil menunjukkan pemandangan laut pada Ichigo.
Tapi yang namanya gugup dan panik tetap tak bisa dibohongi. Ichigo masih cukup merasa gelisah berada di dekat laut. Ooh, kalau mereka tahu Ichigo takut pada laut, pasti tak ada yang berani memaksa Ichigo seperti ini.
'Kau masih tidak enak badan?'
Tulisan di ponsel itu tertera jelas di sana. Wajah Rukia tampak khawatir sambil meneliti wajah Ichigo yang gugup itu.
"Tidak. Aku... aku baik-baik saja. Ahh~ apa aku boleh memintamu bernyanyi untukku? Nyanyikan apa saja. Boleh?"
Ichigo tak punya pilihan lain. Biasanya kalau dia tidak nyaman begini Ichigo akan meminta Riruka menyanyikan sebuah lagu untuknya. Lagu apa saja. Asal bisa membuat Ichigo tenang.
Namun dahi gadis cantik ini mengernyit ketika mendengar permintaan konyol Ichigo. Tentu saja. Terdengar konyol dan―
Tak lama dari situ dia mendengar suara Rukia. Suara gadis ini begitu dekat dengannya. Rukia menghadap ke depan laut membiarkan angin laut ini menerbangkan helai rambut pendeknya. Suaranya tetap menggetarkan hati. Sepertinya dia menyanyikan salah satu lagu lullaby. Lagu itu... bukan lagu lullaby. Tidak. Ini lagu yang pernah didengarnya di suatu tempat. Tapi lagu apa?
Seketika itu pula bayangan foto Rukia sewaktu kecil ketika dia duduk di batu besar sambil bernyanyi itu berkelebat dalam kepalanya.
Siapa kau ini Kuchiki Rukia? Gumam Ichigo.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hola minna?apa ada yang bosan sama fic ini? kayaknya sih iya yah? hehehe karena lagi nge-blank total jadi yang dapet cuma ini. chap depan acara liburannya Ichi tuh ama Ruki... hahahaha entah kenapa saya suka banget acara libur kelompok gini. hehehe padahal mestinya si Ichi ikut ke Amerika bareng Riruka nape coba? malah ikut ke pulau lagi... ckckckc...
hehehe gimana? kalo ada yang bosen sama fic ini bilang ya. jadi gak perlu saya terusin lagi.
hohoo... becanda kok! kalo ada yang bosen bilang aja gak papa. jadi saya bisa ngatasinnya secepat mungkin. dimana yang ngebosenin. saya suka kok nerima kritik dalam bentuk apapun. artinya semua perhatian sama saya dan pengen cerita saya jadi bagus kan? hehehe
ok deh sesi balas review...
Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru...kyaa! profpic kamu itu kesukaan saya tahu! itu Ichi versi dewasa yang keren banget! hehehe nih Last Rose udah saya update. hehehe
lola chan : makasih udah review senpai... wah... Hime? hmm Riruka aja udah ribet senpai, kalo tambah Hime jadi dobel ribetnya. hheeh gak ada kok. tenang aja senpai. hohoho... RenRuki? wah saya pribadi sebenernya gak begitu suka RenRuki. hehehe tapi mungkin adegan itu bakal ada di chap-chap depan kok. hehhe
Nyiia : makasih udah review senpai... hehehe aduh jadi merona dibilang bagus semua... hehehe
Rizuki Aquafanz : makasih udah review senpai... loh emang kenapa dengan Inoue? heheeh maunya sih dia, tapi kayaknya gak lolos casting tuh. hehehe
Ray Kousen7 : makasih udah review Ray... Beautiful Affair udah saya update. hehehe aduh jangan dipuji ketinggian gitu dong, saya masih kena getok sama senior lain kok karena diksi yang hancur sumpah.. hehehe
Mikalitiku : makasih udah review mika... hehehe hmm gak tahu deh, kayaknya sih sambil jalan dijelasin kehidupan Ichi, soalnya saya lebih fokus hubungan IchiRuki gitu. heheeh nih udah saya update heheheh
ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... berharap aja gitu endingnya. hehehe nih Ruki ditinggal liburan... hhehe ok deh saya update deh... hehehe
XenNa Scarlet : makasih udah review senpai... kalo update sih emang sesuai sitkon. kadang bisa tiga hari sekali, kadang bisa seminggu, kadang bisa sebulan. sesuai situasi saya sih. hehehe oh ya Ichiruki... saya sih ngutamain plot. jadi emang belum berasa IchiRuki-nya hehehe doain aja chap depan jadi lebih berasa banget. hehehe
gui gui M.I.T : makasih udah review senpai... wah... pelan-pelan ntar kita tahu ada apa sih sama cerita ini. hehehe
Seo Shin Young : makasih udah review senpai... nih apa udah tahu nasibnya Ruki ditinggal sendiri? hehehe
hirumaakarikurosakikuchizaki : makasih udah review aka-chan... apa nih chap udah banyak Ichirukinya? hehehe
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... wah nenk... jangan gitu, kalo Riruka tahu bisa direbus si Ruki-nya. hehehehe
Ok deh. sekali lagi makasih yang udah baca. review... ato apa aja sama nih fic saya seneng banget. hehehe
pokoknya saya ada karena perhatian semua senpai sama fic saya. saya bakal terus semangat buat update... hehehe
Reviewnya yaa... hohoho
Jaa Nee!
