My Secret Lover
"aku pulang" kata levi dingin
"levi" sahut rico senang lalu memeluk levi, levi membalasnya bagaimanapun rico adalah istrinya walaupun ia masih menyimpan perasaan pada wanita lain
"ini minumlah" levi membelikan rico susu hamil, rico sangat senang "bagaimana keadaannya?" lanjut levi
"maksudmu?" Tanya rico kebingungan, levi menunjuk pada kandungan rico
"ah, dia baik-baik saja, tadi aku pergi ke rumah sakit untuk USG kata dokter bayi kita perempuan" kata rico bahagia
"kalau begitu jaga dia baik-baik, kau juga jaga kesehatanmu" kata levi datar lalu pergi mandi, rasanya rico ingin menangis terharu karena levi akhirnya memberi perhatian pada dirinya.
"nak, papa mu pasti akan menyayangi kita" rico memegangi perutnya yang sedikit membesar berumur 4 bulan dan matanya mengembun.
..
..
Musim salju
"petra kau mau pergi kemana?" Tanya erwin malam-malam
"aku mau pergi mengunjunginya" jawab petra sedangkan erwin mengangkat alisnya sebelah tanda tak mengerti
"jika kau ingin ikut juga tidak apa-apa"
"souka, aku ikut" erwin khawatir pada petra dan dia mengambil 2 syal "kau lupa memakai syalmu petra" lanjut erwin memakaikan syal pada petra
Tak jauh dari rumah tempat tinggalnya, akhirnya mereka menemukan sebuah taman dan di bagian ujung taman terdapat tanaman bunga kecil yang layu karena salju. Petra membersihkannya dari timbunan salju lalu jongkok untuk mengimbanginya, di ikuti erwin juga.
"hai bagaimana kabar mu sayang, ibu yakin kau senang di pangkuan Tuhan sekarang" ujar petra lalu terisak, erwin mengerti walaupun tak di jelaskan, itu adalah tanda makam anak petra yang keguguran waktu itu, erwin hanya bisa memaklumi dan menenangkan petra lalu menuntun ia berdiri.
"kita pulang petra nanti kau sakit, ia pasti tak ingin melihat ibunya sakit" pinta erwin, petra mengangguk
Matahari pagi menyerang mata pria berbadan kokoh dan berkarisma membuatnya terpaksa membuka matanya, ia menoleh kesamping melihat istrinya masih terlelap tapi wajahnya berkeringat, ada yang tidak beres, ia menyentuh pipi petra dan sangat dingin, petra sakit. Pria pirang itu menaikkan mesin penghangat ruangan lalu menuju dapur untuk mengambil pengompres dan obat. Ibu erwin tampak kebingungan melihat kelakuan anaknya yang terkesan terburu-buru
"ada apa erwin, mana petra? biasanya dia sudah bangun dari pada ibu" Tanyanya
"dia sakit bu, sepertinya dia masuk angin karena semalam ia keluar rumah"
"ya ampun, ya sudah kau rawat dia lalu bawa dia ke dokter, ibu mau buat sarapan dulu" erwin kembali ke kamarnya tapi tidak menemukan petra, ia mendengar suara air mengalir dari westafel dan seseorang muntah-muntah sepertinya petra disana, ia menghampiri dan mengelus punggung petra untuk membantu mengurangi mualnya.
"ibu aku dan petra pergi ke rumah sakit" erwin pamit pada ibunya
Dokter mulai memeriksa petra, di mulai menyenter matanya, memeriksa denyut jantung dan nadinya, dan menekan bagian perutnya "sh ittai dokter" sahut petra saat dokter menekan bagian perutnya, dokter itu tersenyum dan menyiapkan alat sedangkan erwin di samping petra memperhatikannya dengan sangat khawatir.
Permukaan perut petra di olesi dengan jelly ultrasonic dan menempelkan alat bernama doppler lalu menggerak-gerakannya keseluruh bagian perut petra, dan otomatis terdeteksi pada layar USG, terdapat 2 kantung embrio yang sedikit bergerak-gerak dan suara detak jantung bergantian.
"tuan smith selamat istri anda hamil dan akan memiliki anak kembar" ujar dokter tersenyum ramah
"b-benarkah" rasa haru dan senang menyelimuti pasangan suami istri yang sebentar lagi memiliki malaikat-malaikat kecil yang akan menemani hari-harinya nanti.
"moshi moshi ibu" erwin menelpon ibunya untuk memberikan kabar baik itu
"ne erwin, bagaimana petra" sahut Rachel di seberang sana
"petra hamil bu dan akan memiliki bayi kembar"
"wuah yukata ne erwin, ibu senang mendengarnya, apa kau sudah mengabari kabar baik ini pada tuan ral?"tanyanya "uhm sudah bu, katanya dia akan kesini jika bayinya sudah lahir"
..
..
7 bulan kemudian
Erwin sedang duduk santai dan membaca buku tebal, petra menghampirinya dan duduk diantara kedua kaki dan menyandarkan diri di dekapan suaminya, erwin melanjutkan membaca buku dan tangan lainnya mengelus permukaan perut petra yang membesar dan petra mendongakan kepalanya
"erwin aku ingin keluar" pinta petra manja
"malam-malam begini? nanti kau sakit petra" cegah erwin
"tapi ini kan bukan musim salju sayang" petra merayu
"memangnya ada apa disana" Tanyanya
"ada festival, aku ingin makan sosis bentuk kepiting dan makan takoyaki, di yunani tidak ada acara yang seperti itu"
"makanan itu kurang baik bagi ibu hamil petra, nanti saja setelah kau melahirkan aku janji akan menemanimu" petra mengembungkan pipinya
"sudah ikuti saja kemauan istrimu erwin, jarang-jarang petra pergi ke acara festival, tidak baik juga untuk anakmu" Rachel membela petra
"arigato okasan" petra senang lalu di balas dengan kedipan oleh Rachel
"souka souka, kita pergi sekarang"
"jaa hati-hati di jalan" Rachel melambaikan tangan
At festival
"Erwin aku mau ini, itu.. itu juga, wah aku suka semuanya" petra girang sedangkan erwin dengan setia menuntun petra
"petra istirahat dulu, nanti kau kelelahan tidak baik untuk bayi kita" sahut erwin sambil memakaikan aksesoris jepit berbentuk bunga yang baru saja ia beli pada rambut petra, petra mengangguk tapi sesaat itu, petra terdiam membeku tangannya meremas pergelangan tangan erwin, erwin merasakan tangan petra yang dingin
"petra kau kenapa? Kau mules" Tanya erwin sangat khawatir, petra menggigit bibir bawahnya menahan sakit, tanpa pikir panjang erwin langsung menggendong petra yang beban beratnya meningkat mengingat petra hamil anak kembar, tapi mudah baginya karena erwin memiliki badan yang besar dan kokoh sedangkan petra badannya yang terbilang mungil, ia meluncur cepat menuju rumah sakit.
"tidak apa-apa tuan, istri anda hanya kelelahan" sahut dokter yang telah memeriksa petra, akhirnya erwin menghela nafas lega
"maafkan aku telah membuatmu khawatir erwin" petra terisak
"daijobu, yang penting sekarang kau baik-baik saja" kata erwin menenangkan sambil mengelus kepala petra dan akhirnya mereka pulang, tapi sampai koridor rumah sakit petra dan erwin melihat levi hendak masuk keruang pasien
"levi" sapa erwin, sedangkan orang yang di panggil menoleh " apa yang sedang kau lakukan disini" Tanya erwin
"uhm rico baru saja melahirkan" kata levi datar seperti biasanya
"benarkah, aku ingin melihat bayinya, bolehkan?" pinta petra
"boleh, silahkan masuk, tapi rico sedang tertidur kelelahan setelah melahirkan" timpal levi
"daijobu" kata petra
" kau semakin mahir dalam berbahasa petra" levi sedikit tersenyum
"ah petra kau duluan saja, aku ada telephone" kata erwin "uhm" petra setuju
"wah kawaii, kau beri nama dia siapa bayi perempuan ini" Tanya petra sambil memperhatikan bayi mungil levi
"mikasa, mikasa akcerman" jawabnya
"nama yang bagus, lihat dia bersurai hitam sepertimu dan tatapannya seperti rico" petra mendeskripsikannya "naa levi, sekarang kau menjadi seorang ayah" sahut petra gembira, levi hanya diam
" levi, sebaiknya kau harus selalu tersenyum, kau harus mengajarkannya untuk mikasa"
"aku akan melakukannya jika memiliki anak denganmu petra" gumamnya
"kau masih belum bisa melupakanku levi, kau harus bisa, kita sudah memiliki keluarga masing-masing, lihat! Kau sudah menjadi seorang ayah dan aku sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, kita harus mendidik dan mengajarkan anak-anak kita kelak agar menjadi manusia yang baik" pernyataan petra membuat levi tertegun, perkataan petra memanglah benar
"kalau begitu aku pamit, salam ku pada rico" petra undur diri
..
..
"CEO ini berkas-berkas yang perlu anda tanda tangani" sahut mike memberikan berkas-berkas itu pada erwin lalu pamit undur diri
"mike, tunggu!" cegah erwin "cobalah kau peka terhadap hanji" lanjutnya
"ugh kau tau CEO" kata mike malu
"aku selalu memperhatikan karyawanku mike, kasihan hanji selalu mengkode tapi kau sama sekali tidak peka"
"uhm, baiklah akan ku coba" wajah mike memerah lalu pergi
"moshi moshi" erwin mengangkat telephone dari ibunya
"erwin sebaiknya kau cepat ke rumah sakit sina, petra mau melahirkan, ibu sedang menuju rumah sakit sekarang" kata Rachel dan terdengar sedikit teriakan petra kesakitan
"iya bu" erwin langsung bergegas menuju rumah sakit.
..
Erwin meremas-remas jarinya tidak tenang, rasa khawatir dan tegangnya menjadi satu saat mendengar teriakan kesakitan petra berjuang dari dalam ruang bersalin.
"tenanglah erwin, semua akan baik-baik saja" Rachel menenangkan erwin "hmm kau sama seperti ayahmu, dia juga melakukan hal yang sama ketika ibu melahirkan mu, dia mondar mandir tidak jelas" lanjut Rachel
Setelah 6 jam menunggu, akhirnya terdengar suara tangisan malaikat-malaikat kecil bergantian, membuat orang yang menunggunya menghela nafas lega. Lampu yang semula menyala di atas knop pintu akhirnya mati, keluar seorang dokter dan mempersilahkannya masuk, terlihat wajah petra yang kelelahan dan kusut setelah berjuang mati-matian melahirkan pangeran-pangeran kecil dan ia menangis terharu.
"terima kasih petra, kau memberikanku pangeran-pangeran tampan" sahut erwin dan mencium kening petra, petra hanya mengangguk karena kehabisan energy, begitu juga Rachel ia berterima kasih pada petra yang telah memberikannya cucu.
..
..
"kau beri nama apa petra" sahut tuan ral yang kemarin datang dari yunani
"erwin memberinya nama armin dan eren yah" sahut petra
"oh nama yang bagus"
"terima kasih ayah"
"tak menyangka kau begitu cepat menjadi seorang ibu" tuan ral tertawa
"ayah" petra mendengus "masa aku kecil terus" lanjut petra tertawa sambil memperhatikan anak kembarnya tertidur di ranjang
Tuan ral dan bercakap-cakap ria membicarakan bahwa mereka tak menyangka menjadi seorang kakek dan nenek
Entah mengapa eren dan armin terbangun dan menangis berbarengan, membuat petra kebingungan menenangkan siapa yang dulu ia gendong, akhirnya erwin yang selesai mandi membantu petra mengasuh armin sedangkan petra mengasuh eren, petra memberi asinya pada eren dan ia berhenti menangis
"sepertinya kau kehausan nak" petra membelai rambut halus eren yang sedang menyusui, sedangkan erwin membawa armin ke teras kamar mencoba menenangkannya menunggu giliran di beri asi oleh petra
"armin hei armin lihat papa dan dengarkan cerita papa" erwin mencoba bercerita walaupun armin bersi keras menggeliat-geliat di dekapan sang papa sambil menangis "ada seorang lelaki bernama jack, di marahi oleh mamanya karena menukar seekor sapi yang berharga dengan kacang kedelai lalu…"
"erwin sini biar ku beri asi" kata petra menghampiri sambil mengambil armin dari dekapan erwin
"oh, eren sudah tertidur?" Tanya erwin
"iya baru saja" sahut petra langsung memberi asi armin
"ternyata mengurus anak kembar itu sulit ya" kata erwin tiba-tiba
"benar, tapi mereka lucu" petra tersenyum sambil memperhatikan armin yang mulai diam "kau benar petra"
..
Beberapa bulan kemudian
Armin dan eren baru bisa duduk dan merangkak terkadang susah di pakaikan popok tapi armin berhasil di pakaikan, hanya eren yang susah di pakaikan karena terus merangkak lincah, petra berusaha memakaikan popok eren dan akhirnya berhasil sedangkan armin memainkan boneka kelinci.
"pangeran mama memang sangat bandel" petra mencolek hidung eren dan eren hanya tertawa, memang agak lebih repot ketika ibu mertuanya sedang pergi dari rumah.
Disela-sela istirahat di kantor erwin melihat galeri photo pada ponselnya, melihat pangeran kembarnya sedang tertidur, menangis, dan sedang tersenyum. Erwin memasang headset pada telinganya mendengar video yang ia putar, adegan dimana armin dan eren saling memeluk dan mencium pipi satu sama lain, sangat menggemaskan, rasanya ia ingin selalu berada dirumah menghilangkan penat dari kerjanya yang terus menumpuk, keluarganyalah obatnya.
..
5 tahun kemudian
Si kembar sudah mulai besar dan masuk taman kanak-kanak
"papa..papa…eren mengambil buku ceritaku" armin menangis sambil menggoyang-goyangkan bahu papanya yang sedang baca buku tebal tentang bisnis
"eren kembalikan buku armin" sahut erwin ramah pada eren dan eren menurut papanya
"hiks papa….papa…. bukuku di coret hiks hiks" eren yang melihat armin menangis hingga ingusnya keluar hanya tertawa lalu berlari menuju mamanya yang sedang beristirahat dikamar
"mama.. eren ingin di peluk mama" sahut eren pada mamanya, petra memeluknya lalu ia pun tertidur bersama petra setelah energinya habis setelah bermain.
"armin, hidungmu jangan sampai meler begitu nanti tidak tampan lagi seperti papa" hiburnya "ini keluarkan dulu ingusnya" erwin mengambil tisu dan menempelkan pada hidung armin dan menuruti perintah erwin "yosh bagus, nanti papa belikan lagi yang baru"
"hontoni papa"
"hai"
"arigato papa" armin senang dan memeluk erwin
Armin memang sangat dekat dengan papanya sedangkan eren sangat dekat dengan mamanya
..
Kadang dalam rumah tangga tidak selamanya harmonis, kehadiran seorang wanita bernama hitch di kantor erwin, ia selalu berusaha mendapatkan perhatian erwin, gadis itu ingin memiliki erwin yang sudah berkeluarga, seperti sengaja menyelipkan anting pada jas erwin, menempelkan parfum pekat wanitanya, kuno memang tapi berhasil membuat petra geram dan menuduh erwin berselingkuh ditambah erwin tak suka di tuduh seperti itu apa lagi sekarang pikirannya bercabang karena perusahaan sedang tidak stabil
Armin dan eren pernah terkena omelan petra, saat itu mereka baru pulang dari taman kanak-kanak, mendapati orang tuanya bertengkar
"eren armin masuk kamar kalian" suruh petra saat memuncak amarahnya, namun mereka masih diam bingung "kalian masuklah" teriak petra, membuat eren dan armin menangis sesegukan di kamar saling berpelukan, karena sebelumnya mereka belum pernah melihat ataupun di marahi seperti itu oleh mamanya.
"petra! kau tidak boleh memarahi mereka" sahut erwin kesal "aku tidak peduli" petra membanting pintu kamar dan erwin memijat-mijat kepalanya yang pusing harus berbuat apa.
Petra memasuki kamar si kembar, melihatnya tertidur saling berhadapan, petra memeluk kedua anaknya "maafkan mama ya tadi sayang" petra menangis menyesali. Erwin pun menghampiri anaknya tengah malam, mengusap pipi pangeran-pangerannya dengan lembut "maafkan papa"
Pagi-pagi sekali armin hendak ke toilet untuk pipis tapi tidak mendapati eren disampingnya, dia pergi ke kamar papanya, tapi tidak menemukan eren juga dan menyadari bahwa mamanya juga menghilang.
"papa…." Armin menutup matanya dengan lengannya menangis sambil membangunkan erwin
"uhm ada apa armin" Tanya erwin
"mama dan eren tidak ada hiks" erwin terkejut setelah mendengar perkataan anaknya itu, erwin mencari di seluruh rumah tapi tidak menemukan jua, dia menelphone Rachel smith ibunya yang memutuskan pindah rumah tapi tidak disana juga, akhirnya dia menelphone petra namun ponselnya tidak aktif.
Sementara itu
Eren mengucek-ngucek matanya baru bangun tidur, tiba-tiba ia ada di dekapan ibunya, ia mengarah pandangannya ke seluruh tempat itu, tempat seperti ia pernah lihat di tv, pesawat, eren berada di pesawat.
"kau sudah bangun eren" sapa petra ramah
"mama kita mau kemana?" Tanya eren
"kita pergi liburan ke rumah kakek"
"tapi armin mana? Papa juga" petra hanya diam "nanti mereka menyusul"
jangan lupa review dan minta krisarnya untuk membangun author juga
gimana ceritanya seru, biasa aja, lucu, sedih atau gimana?
author pengen tau menurut reader dari chapter 1 sampe 4 ini bagian sedih, sweet, romantis, atau lucu pas adegan mana?
ok selamat baca next chapter ya! yang silent reader usahakan meninggalkan jejak ya makasih :3
