Sasori melenguh lesu sembari menguap dan menggerakkan kedua tangan dan kakinya. Hatinya kena sabetan tajam akibat pelarian panjang atas aksinya mengejar anak menyusahkan seperti Sakura. Gadis tak tahu diri, tukang penasaran akut—mungkin kena stadium akhir, seenaknya, tukang mengutil ke mana-mana sampai ke ujung dunia—nyaris bikin capek atau makan hati.
Lama-kelamaan hati Sasori terasa mati jika begini caranya, mendengar pertanyaan ditunjukkan untuknya demi kelangsungan hidup juga memuaskan diri sendiri akibat penyakit stadium akhir tersebut.
Pemuda manis itu sudah berubah kembali, berbeda dengan selama dua hari menyengsarakan hidupnya agar mendapat pujian demi menjauhi gadis bikin jantungnya berdetak sedemikian cepatnya. Sport jantung! Besok-besok mungkin pemuda satu ini akan mati sendirinya di dalam peti mati. Dia benar-benar sudah merasakan itu semenjak masuk ke kelas.
Lagi-lagi Sasori menguap. Bukan termasuk aksinya kemarin-kemarin, tetapi karena bayangan mimpinya menampakkan gadis berambut merah muda datang kepadanya dan menyodorkan berbagai macam pertanyaan.
"Kenapa kamu bisa masuk mimpiku?"
"Kamu memimpikan aku?"
"Senangnya! Kamu pasti berpikir begitu 'kan?"
"Jangan marah ya, kalau aku sering-sering muncul di sini."
"Kamu 'kan, belum menjawab pertanyaan-pertanyaanku."
Semakin banyak pertanyaan, semakin Sasori bangun seketika. Tidak mampu lagi tertidur maupun memejamkan mata. Kilasan balik gadis itu muncul di hadapannya penuh keceriaan dan cerewetnya minta ampun. Mesti nyari pisau berasah kian tajam demikian tempelan berupa lakban, plester, gembok, kunci dan macam-macam lainnya.
Sasori sedemikian frustrasinya! Ini gara-gara siapa, coba?
Ini berkat Haruno Sakura.
Gadis yang membolak balikkan keadaan tadinya normal berubah abnormal atau bisa jadi absurd. Astaga, dia benar-benar mau menghabisi gadis itu. Sekarang. Juga.
Demi apa?
Demi seseorang selalu mengutamakan kepelikkan dunia semu ini. Seenaknya menjadikan dia makhluk tak berguna karena tak bisa melawan gadis bau kencur tersebut!
"Aku bisa stress!"
"Sabar ya, Sasori, sebentar lagi keinginanmu akan tercapai!"
Makhluk di pikirannya dan juga ikut mendominasi saat perwujudan rupanya, menggubrisnya. Karena apa pun, pastinya, gadis itu tak bisa dilawan meski mencabut nyawa sekali pun.
Gadis itu tangguh!
"Sasori, awas!"
Baru membicarakan dia, Sasori kembali mendengar suara cempreng tersebut. Sesaat berbalik, Sasori merasakan benda basah mendarat di wajah tertutupi poni—sengaja dipanjangkan biar dramatis, maksudnya culun—dan kacamata bertengger di hidungnya. Benda basah tercium aroma tak mengenakkan.
"Maaf, Sasori, itu aku ingin kubuang di tempat sampah di belakangmu. Tapi, kamu malah kena. Padahal itu—" Ucapan Sakura menggantung, tak mau membeberkan rahasia di balik benda basah tersebut, menggaruk pelipisnya tak gatal. "—itu milik Kakakku sedang 'pup'!" cengirnya tanpa dosa.
Alamak! Sasori tak tahan!
Dilemparkannya benda basah itu ke tanah. Wajah tadi putih bersih berubah kotoran tanah tak diketahui apa namanya. Sakura menyengir lucu melihat rona wajah Sasori berubah berantakan, kembali berantakan akibat ulahnya semakin menjadi.
"Haruno! Sakura!" teriaknya sembari mengejar Sakura yang masuk ke halaman sekolah.
Mereka kembali berkejaran, tadinya berubah hening jadi berubah menghela napas memandangi aksi kucing mengejar tikus. Tony versus Jeny.
.
.
..oOo..
MONSTER
.
.
DISCLAIMER: NARUTO © KISHIMOTO MASASHI
WARNING: Out Of Character, Alternate Universe, miss typo. Mystery and General. Genre akan berubah sewaktu-waktu, yang penting genre penuh misteri di sini.
..oOo..
S – 04
.
.
"Kamu melakukannya lagi, Sakura?"
Ino menyadarkan Sakura dari ulahnya membuat Sasori marah, memenuhi indera perasa akan Sakura berniat melakukannya demi memuaskan nafsunya mendapatkan jawaban. Tapi kali ini, Sakura justru kelewat batas. Sakura tidak seperti ini di mana tahun lalu, Sakura melayangkan berbagai pertanyaan kepada teman-teman diketahuinya.
"Jangan biarkan egomu menyulut kemarahan Akasuna Sasori, Sakura. Dia bisa mati gara-gara pertanyaan bodohmu."
Sakura terkekeh geli pada penuturan Ino, memandang Ino penuh senyum. "Tidak bakalan, Ino. Selama dia belum menjawab, aku pastikan tidak bisa tenang dalam masa hidupku. Aku terobsesi sama kehidupan Sasori, Sakura."
"Tapi, tidak mesti juga kamu menjahilinya sampai segitunya. Melempar sepatu, melempar kain basah berupa kotoran anjing dan kali ini, kamu memberikan boneka tikus, entah mengapa dia sangat takut pada seekor Tikus padahal Cuma boneka."
Tawa geli terdengar di bibir Sakura mengundang decak kegelian memenuhi isi kelas, Sakura mengedipkan sebelah mata ke Ino dan teman-teman sekelasnya. "Itu mana aku tahu, Ino. Sasori saja tidak memberitahukanku tentang fobia Tikusnya. Mana aku tahu juga, dia bakalan menjerit-jerit seperti orang gila. Aku jadi ingin gelindingan."
Ino menggeleng letih mendengar pernyataan Sakura. "Hentikanlah, Sakura, aku yakin Akasuna tidak akan menyukaimu kali ini. Bisa saja saat dia akan mencincangmu sampai terbelah jadi dua, dimakan karena dahaganya tidak kuat. Sasori itu misterius, kita tidak tahu sampai kapan dia menahan segala emosinya tersebut."
"Biarin, karena aku juga sama misteriusnya dengan dia," katanya lirih tak mampu didengar oleh Ino seakan-akan mendengar nyanyian capung hinggap di dalam kelas.
"Eh? Ada Capung!"
Senyum Sakura melebar mendengar gerutuan Ino tak kalah gelinya. Ya iyalah, Ino 'kan tidak suka binatang satu itu. Walau tak bersuara, tapi kepakkan sayapnya bikin orang naik darah dan kabur sekuat mungkin dari kelas.
"Nanti lihat saja kalau Sasori belum menjawab pertanyaanku, aku yang menjanjikan sesuatu untuknya."
Kerlingan manik mata Sakura mengherankan bagi Ino untuk terbengong-bengong. Namun, suara memekiknya keluar karena seekor Capung mendarat mulus di meja kayu di depannya. Ino pun memeluk erat Sakura sedemikian kencangnya.
Sakura sesak!
.
.
.
.
Dalam hitungan jam sekaligus bolos jam pelajaran, Sasori keluar dari toilet sembari menyiramkan semua tubuhnya dari sentuhan boneka Tikus—dikiranya masih hidup karena bergoyang-goyang. Sasori sangat tidak tahan pada Tikus, karena Tikus pernah jadi ancaman bom waktunya saat itu seenaknya menggelitik ekornya tanpa diminta. Membuang hasrat memakannya.
Sasori pecinta Kucing. Apa pun Kucing pasti dia sukai. Kucing itu lucu seperti dirinya. Kucing berbulu merah memiliki gigi runcing sangat tajam nan panjang, mata semerah darah, penciuman sangat kentara—bau amis sanggup diciumnya meski itu gosong sekali pun, dan berbagai macam lainnya.
Berbeda mungkin dengan Sakura mencintai Tikus, karena Tikus sering nongol di depan perkarangan rumahnya demi menghadiahkan Kakaknya daging Tikus telah dimasak. Betapa enaknya itu—hanya orang Thailand mengerti.
"Busyet! Anak itu betul-betul kelewatan kasih aku Tikus. Dia tidak tahu kalau aku geli sama Tikus!" gerutunya mencak-mencak di depan kaca.
Makhluk besar berwajah menyeramkan terkikik geli. "Apakah aku harus mengatakan bahwa kamu tidak menyempatkan ngomong tentang kelemahanmu? Kenapa mesti kamu menyalahkan dia. Justru kamu patut dipersalahkan. Siapa suruh suka kabur," katanya menjulurkan lidahnya, mengejek Sasori yang geram.
"Kamu itu sudah makin mirip dengan dia! Bisa-bisa aku jadikan kamu sambal Pete sering nangkring di depan rumah!"
"Mau sambal pete, sambal terasi, sambal gulek, sambal cawan, sambal bikin orang sembelit, itu tidak ada apa-apa buatku. Toh, aku 'kan Cuma monster biasa. Kalau dipanggil, itu pun meminta persetujuan dari tubuhmu. Tubuh tidak bisa dibohongi, Sasori. Mulut yang selalu berbohong." Makhluk mengerikan berbulu mengangkat bahu. "Bisa jadi, kamu mulai menyukai dia."
"Apanya menyukai?!" bentaknya malu-malu, mulai lagi jantungnya berdentum kencang. "Yang ada aku mulai membencinya sekarang juga! Dia bikin aku sakit jantungan, tahu tidak?!"
Makhluk itu tertawa terbahak-bahak, seketika menghilang sekilas berhadapan langsung delikan kekesalan dilontarkan untuknya. Makhluk itu terdiam barulah ngomong hanya beberapa kalimat.
"Walau kamu sering menolak, tapi rongga tubuh maupun organ mengatakan segalanya lewat tubuhmu. Jangan membohongi perasaan, Sasori."
Retak lagi kaca di hadapannya, tubuhnya merespon marah. Pikirannya kalut akan bayang-bayang gadis di dalam otaknya. Napasnya sungguh tak teratur. Gigi runcingnya mulai tampak. Mata merah mendominasi segala hasrat siap ditebas.
"Hari ini juga, dia akan mati di tanganku!" teriaknya menggelegar seolah-olah tak membiarkan anak cowok masuk ke toilet malah jadi tertunda, kemudian balik kembali ke kelas biarpun akan dimarahi guru.
.
.
.
.
Bel istirahat kedua berbunyi, Sakura keluar dari kelas bersama Ino sambil menggenggam tangan. Langkah mereka untuk keluar kelas lewat pintu depan terhalang tubuh tegap di depannya. Sakura melihat kedua kaki memakai sepatu kemudian naik ke tengah-tengah—menatap seragam kedodoran dan ... basah, dan tampaklah wajah Sasori kini memucat.
Senyum Sakura muncul seketika. "Hei, apa kabar? Kenapa baru kelihatan?"
Sikutan keras di pinggang Sakura, menggelitik pinggangnya. "Sudah dari tadi kali dia muncul. Kamu terlalu focus di depan makanya tidak ingat dia masuk lewat jendela."
"Kok Ino tahu?" tanyanya mengguncang anak-anak berhenti di tengah-tengah kegiatannya. "Kenapa kamu tidak bilang supaya aku bisa say Hello."
Ino mengusap wajahnya kasar, tak mau mengacuhkan kelemotan Sakura berada di luar ambang batas kesabaran. Sasori tak mau main-main pada permainan kata Sakura, meraih lengan Sakura walau tidak sepenuhhnya berada di dalam genggaman kelima jari—itu pun Cuma tiga jari. Kebiasaan!
"Ikut aku!"
Senyuman Sakura semakin melebar mirip hantu merobek bibirnya sampai ke telinga—eh, mengerikan! Menyejajarkan langkah dari langkah Sasori kian melebar karena tidak sabar pada masalah semakin kian rumit ini.
"Kamu mau bawa aku ke mana, Sasori?"
"Ikut saja, bawel!"
Sakura mengerucutkan bibirnya ke depan, mengikuti langkah Sasori walau pun tiga jari menggenggam lengan Sakura bisa saja terlepas. Tapi karena Sakura memiliki akal luar biasa banyaknya, Sakura melilitkan lengan Sasori sampai pemuda itu memekik kaget.
"Jangan pelit menyentuhku. Aku ini bukan penggigit, pembunuh, penebas meski aku sering meminta tebusan! Tapi, aku ini bersahaja dan tidak akan makan teman!"
"Bukan begitu maksudku!" Sasori terus melepaskan rautan tangan di lengannya, tapi kesepuluh jari Sakura mengikatnya, Sasori menghentakkan agar terlepas namun itu sia-sia saja. "Aku geli jika bersentuhan dengan wanita atau gadis sepertimu!"
Sakura melongo, baru sadar. "Oh, masa? Kok aku baru tahu."
Asal bicara dan membuka aib, Sasori menepuk jidat. "Ini akibat kemarahanku seakan-akan aku ini adalah maling Ayam."
"Mau maling Ayam?" tanya Sakura antusias. "Bisa! Bisa! Kepala Sekolah sedang memelihara Ayam di halaman belakang sekolah. Kamu mampu menangkapnya dan menggorengnya sesuai kamu mau. Ayam kampung itu enak, lho."
Astaga! Anak ini lemotnya sampai ke mana sih?
Perbedaan maksud maling Ayam dengan maling Ayam sesungguhnya itu sedikit menjurus pada sebuah makna tidak diketahui orang banyak.
Kelopak mata Sasori melebar maksimal, rahangnya hampir jatuh ke tanah, tubuhnya runtuh ke bawah mendengar kalimat Sakura asal ceplas ceplos. "IQ kamu berapa, sih?" ocehnya tak kalah rendah.
"IQ-ku—"
"Lama-lama aku mati di tempat bersamamu!"
"Mirip Romo dan July dong?"
Film fiksi apa pula itu?! Sasori mana tahu soal begituan!
"Terserah deh, ikut aku atau kamu kubuat pingsan agar tidak cerocos lagi!"
Sakura mengedipkan mata sambil berbinar-binar, menjentikkan jari. "Iiih, Sasori tahu saja kesukaanku!"
Sasori mati di tempat!
.
.
.
.
Halaman belakang sekolah tak berpenghuni, sekarang menjadi tempat singgahan Sasori dan Sakura. Gadis itu mengedar pandangan ke segala arah, di mana-mana semua tempat kosong tidak pernah dihuni oleh semua orang kecuali sering mengawasi tempat gelap ini.
Sasori, berdiri diam seraya menenggelamkan kedua tangan di saku celana sekolah. Menghembuskan napas dalam-dalam, lalu melepaskan kacamata bertengger di hidungnya dan menaruhnya di saku seragam sekolah bagian dada kiri. Pemuda itu menatap Sakura berputar-putar tak karuan.
"Aku mau berbicara padamu!"
Tubuh Sakura berhenti otomatis, langsung berhadapan dengan Sasori. Senyum muncul di bibirnya. Manis, itu pemikiran Sasori. "Apa? Apa?"
Sosok Sasori berubah aneh, Sakura mengetahuinya sekilas karena perubahan itu signifikan sangat cepat dalam proses kecepatan maksimal. Makhluk berbadan besar berbulu merah serupa warna rambut Sasori, bergigi runcing nan tajam, bermata merah berdarah, jari-jari tadinya rata berubah berkuku seperti Singa—siap menebas dan mengoyak tubuh di depannya. Makhluk bernama Monster berubah wujud dan berkaki empat dan ekor berkepala dua.
Sakura menegang dan gemetaran. Netranya melebar. Napasnya bertautan—sesak dan tak beraturan. Peluh sebesar biji Jagung muncul di pelipisnya. Mulutnya melongo. Aktifitas dalam bagian tubuhnya terpaku di tempat, tak mampu melangkah mundur atau ke samping demi melarikan diri.
"Sa—Sasori ..."
"Kenapa? Kamu takut?" tanya suara berat khas toa sering mangkal di pasaran. Sasori bersuara hewan sedang mengaum, itu dirasakan Sakura. "Aku capek selalu merespon kegiatanmu, gadis cerewet. Aku capek dengan jantungku sering kali menusukku hingga aku nyaris mati."
"A—apa salahku?"
"Salahmu banyak, gadis cerewet!" dengus Sasori sebal. "Kemarin aku bisa jutek pas awal masuk, namun kamu memutar balikkan duniaku menjadi aku yang sering marah-marah. Sampai aku pulang ke rumah, aku selalu menahan kekesalanku agar tidak melampiaskan ke saudara-saudaraku!"
"Itu 'kan salahmu! Kamu tidak mau memuaskan rasa penasaranku!" serunya tak kalah menerima protes Sasori. "Cu—Cuma aku mau mengenalmu lebih dalam. Itu saja!"
Kelopak mata Sakura berkaca-kaca mirip Kristal telah dibersihkan. Sasori termangu. Detak jantungnya tak kalah cepat untuk berlari sampai finish. Namun itu tak bisa dihiraukan lagi dengan sikap Sakura suka berubah-ubah.
Sasori berjalan mendekati Sakura, menyiapkan segala senjata selalu digunakan demi menyerang mangsa. Kukunya mengkilap, menampilkan katana sudah diasah sedemikian rupanya. Sasori tersenyum menyeringai.
Rentangan tangan Sakura melebarkan kedua netra merah Sasori, berhamburan memeluknya. "Ini lucu sekali, Sasori! Kamu mirip boneka! Kakakku saja tidak selucu kamu, lho!"
Sekali lagi, pemirsa! Sasori terpaku melihat perbuatan Sakura memeluknya dan menganggapnya itu boneka bisa bergerak sama seperti Sasori berubah wujud jadi makhluk jadi-jadian. Sakura memeluk Sasori semakin eratnya, lalu mengendurkan demi menatap wajah pucat pasi Sasori.
"Kalau kamu memuaskan rasa penasaranku, kamu benar-benar hebat! Aku salut padamu, Sasori!" Sakura tidak tahu malu dan seenaknya mencium wajah Sasori di berbagai titik. Wajah pucat Sasori berubah memerah malu, karena dihadapkan ciuman super kilat dari Sakura. "Lucu sekali kamu! Aku suka sama kostummu ini!"
Sasori gelagapan, meneguk saliva menghentak masuk ke tenggorokan. "Ka—kamu tidak takut?"
"Buat apa takut?" senyum Sakura melebar. "Aku malah menyukaimu seperti ini. Apa adanya! Malah aku semakin cinta!"
Blush!
Rona muka Sasori memerah mirip Kepiting rebus baru dikeluarkan dari panci. Makhluk itu menundukkan kepala, malu-malu. Tak siap pada gejolak dadanya sekian berdesir aneh dan mengirimkan beberapa kupu-kupu senang sekali terbang di dalam perutnya. Sampai-sampai makhluk di pikirannya terkekeh geli.
Sakura baru sadar bahwa dia ketinggalan makan siang. "Ya ampun, Ino pasti mencariku! Aku 'kan sudah janji!" Sekali lagi, Sakura mencium pipi berbulu Sasori. "Aku pergi dulu ya, Kucing lucu! Aku senang sekali bisa bertemu denganmu, Sasori."
Gadis itu berlalu pergi meninggalkan Sasori meringkuk menutup wajahnya dengan lipatan kedua tangan. Makhluk tersebut tertawa terbahak-bahak menertawakan Sasori baru menyadarinya sekarang.
"Ternyata benar, aku menyukainya seakan-akan jantung ini mau copot."
"Tuh 'kan, apa aku bilang," tawanya membahana merasuki pikiran Sasori.
.
.
.
.
Gadis berambut merah muda tersenyum setelah meninggalkan Sasori dalam bentuk hewan bertubuh besar memiliki banyak bulu berwarna merah sangat lembut untuk disentuh. Mirip boneka sering dibelikan sang Ibu apabila gadis itu sering sendirian di rumah—meski ada Kakaknya selalu menemani.
Senyuman misterius di bibir Sakura muncul, mengingat apa tadi dilihatnya. Sakura tidak menyangka pemuda seperti Sasori memancing rasa penasarannya keluar hingga menampakkan siapa sosok Sasori sebenarnya walau ada amarah melesat keluar. Sakura terkikik geli membayangkannya.
"Sasori, Sasori. Kamu itu lebih polos dari aku bayangkan, ya. Kukira kamu itu adalah orang paling waspada. Ternyata sama saja kamu denganku. Kamu terlalu bikin aku hanyut."
Gadis berambut pendek ini memeriksa kedua tangannya memeluk bulu lembut yang menempel di tubuh hewan besar tadi. "Bulumu halus, Sasori. Dan aku tidak sangka lagi, kamulah satu-satunya sosok dicari-cari oleh mereka. Apa aku harus bicara sama Ibu kalau aku telah menemukannya?"
"Tidak usah!"
Tubuh gadis itu menegang dan membalikkan badan. Mata hijaunya melotot maksimal, melihat sosok pemuda manis menjulang di tempatnya berdiri. Gadis itu mesti mendongak menatap tatapan tajam dari sepasang netra kian menghujam.
"Aku tidak mengira kamulah orang ingin menangkapku," katanya tajam. Sakura meneguk ludah. Dicengkram pipi Sakura kuat-kuat hingga gadis itu meringis. "Kamu tidak akan bisa menangkapmu selagi aku bisa berlari," dengusnya mengejek. "Sekian lama akhirnya aku tahu siapa kamu, gadis cerewet. Dan akhirnya juga, kamu bisa kembali pulang bersamaku."
Manik hijau itu terbelalak, melepas cengkraman di pipinya. Air matanya mengembang di pelupuk mata, mengingatkan dia akan rasa ketakutan mendalam. Pijakan sepasang kakinya tiba-tiba runtuh, Sakura pun masuk ke lorong hitam dan berteriak nyaring meminta tolong.
Gelakkan tawa terdengar mencekam di pendengarannya. Dia sangat tahu bahwa ini terakhir kalinya, dia tidak akan menapaki tempat selalu jadi pelindungnya. Semua berasa kosong.
Dan hancur.
[To be continued ...]
.oOo.
Zecka Fujioka, 16 Januari 2015
