TRESPASS

[Chapter 3 : Hackles]

.

.

.

Kim Taehyung (Bottom)

X

Jeon Jungkook (Top)

.

.

.

.

This is KookV fanfiction!

If you don't like, don't read!

Rated-M for Sex and Mature content!

Sider? I warn you

.

.

.

Ellden-K storyline present

TRESPASS

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

.

Entah apa yang ada didalam kepala Jungkook, ketika tubuhnya telah berbaring diatas kasur dengan Taehyung menindih perutnya sambil bercumbu. Ia memagut Taehyung sementara mengangkat kepalanya guna memperdalam lumatan.

Jungkook membiarkan Taehyung menduduki selangkangannya, dengan kedua tangan meraba-raba dada bidang sang suami. Merangsangnya sama seperti apa yang ia lakukan beberapa waktu lalu sebelum mereka menikah.

Sungguh birahi ini rasanya sangat melenakan, apalagi ketika Taehyung mulai memereteli kancing kemeja Jungkook tanpa perintah. Gairah itu memang muncul, tetapi ada hal yang mengganjal didalam kepala Jungkook.

Kala Taehyung menggigit bibirnya halus, kilatan masa lalu kemudian melintas dikepalanya, dimana kebencian yang menumpuk itu semakin menjadi-jadi.

"Akhh!" Taehyung terjatuh diatas ranjang yang empuk akibat dorongan lengan berotot Jungkook pada tubuhnya. Mengakibatkan perawakan kurus itu terlonjak dari atas tubuh kekar Jungkook.

Pria yang lebih kuat bangkit dari posisi terbaringnya, memandang Taehyung dengan penuh kebencian yang tidak hilang.

Jungkook terengah.

Sungguhpun ia tidak ingin melihat wajah cantik Taehyung saat ini, hingga ia membuang tatapannya kearah lain.

Sepasang netra gelap itu mengeredip.

Tidak, Jungkook tidak bisa melakukannya. Rasa benci dan muak telah meracuni hati, ia tidak bisa menerima Taehyung begitu saja. Jungkook tetap tidak bisa.

"Jungkook.. Kenapa-" Taehyung menahan diri, ketika ia menatap wajah gusar Jungkook yang nampak tidak ingin melihat dirinya.

Demi Tuhan, hatinya sakit melihat perubahan Jungkook yang tidak masuk akal ini. Awalnya Taehyung kira suaminya sudah mulai bisa menerima kehadiran Taehyung. Tapi Jungkook nampak terlalu memaksakan diri, hingga emosinya membeludak tiba-tiba.

Taehyung tidak pernah tahu apa yang ada didalam kepala tampan Jungkook, ketika ia mulai mencumbunya dibalkon tadi hingga mereka yang berakhir saling meraba diatas ranjang. Sekarang Jungkook malah mendorong dan melempar Taehyung saat mereka baru hendak mengawalinya.

Kembali, Taehyung berniat menahan diri. Namun rasa penasaran mendorongnya untuk menggenggam punggung tangan berotot milik Jungkook.

"Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja-"

"Jangan sentuh aku." Taehyung tersentak ketika tangan lebar Jungkook menolaknya, kemudian tubuh jangkung itu mengelibat sambil mengancingkan kembali kemeja satinnya yang terbuka.

Meninggalkan Taehyung dengan air mata yang menggenang.

.

.

.

.

.

Dulu, masa kanak-kanaknya sangat bahagia. Hidup ditengah-tengah keluarga kecil yang menyayangi Jungkook tanpa alasan. Sebenarnya ia menginginkan kisah hidup yang biasa saja, sama seperti apa yang orang lain alami.

Namun tragedi itu merenggut semua kehidupan ideal Jeon Jungkook.

Detik itu juga.

Ketika guru pianonya memanggil nama Jungkook dengan suara yang bergetar. Ketika Jungkook masih asyik menekan tuts hitam putih pada alat musik kesayangannya.

"Jungkook, kau harus pulang sekarang."

Saat itu, tatapan polosnya berubah suram. Ujung rambut lembutnya memerangkap sisa debu hitam yang berjatuhan dari atas, tertiup angin hingga berhamburan dimana-mana.

Ia melihat banyaknya orang dewasa berlalu lalang, menggunakan seragam merah dan helm yang senada.

"Apa tuan dan nyonya Jeon sudah ditemukan?"

"Tidak, kami belum menemukannya. Sepertinya mereka terjebak dilantai 2."

Sayup-sayup Jungkook mendengar gumaman kepanikan dimana-mana, orang disekitarnya menonton sambil meringis ngilu.

Sedangkan perasaannya tiba-tiba menjadi sedih. Bocah kecil itu tidak bisa menahan air matanya untuk meluncur keluar. Disertai dengan segukan hebat, ia berdiri menghadap rumah yang biasa Jungkook tinggali telah hangus terbakar oleh api.

Membakar semua kenangan indah bersama kedua orang tua yang amat ia cintai, menggantikannya dengan mimpi buruk yang selalu menghinggapi Jungkook hampir disetiap malam.

Bahkan hingga saat ini, ketika Taehyung menemukannya ketiduran diruang kerja.

Jungkook menangis dalam tidurnya, sambil menangkup lembaran foto masa kecil yang masih tersisa diatas meja kerja.

Tentu saja Taehyung panik mendapati hal tersebut, melihat suaminya memimpikan hal yang nampak amat menyedihkan. Ketika Taehyung menepuk pipi lembut itu sambil membungkuk Jungkook enggan membuka mata.

Segukan serta dengungan kecil mengisi ruangan dengan interior menarik itu hingga ke langit-langit.

"Hei kau! Bocah sialan!." Kemudian Jungkook kecil nampak telah tumbuh lebih besar.

Mengenakan seragam sekolah yang kotor dan sobek dimana-mana, terlihat pula bercak darah mengering pada kerahnya.

Hal itu bukan tanpa sebab, karena Jungkook yang awalnya hendak pergi pulang menggunakan sepeda tuanya tiba-tiba diserang sekumpulan orang berjas hitam yang turun dari dalam mobil mewah.

Mereka memukulnya, menendang dan bahkan melemparkan setumpuk uang tepat diwajahnya yang lagi-lagi memiliki warna baru -merah keunguan-.

"Jauhi dia! Sudah berapa kali kau mendapat peringatan?" Tubuh babak belur itu meringis sambil memegangi perut, dengan puluhan lembar won yang berserakan.

Seorang yang lebih tinggi dari yang lain mendorong kening Jungkook sambil merunduk. Membiarkan pening kembali melanda kepala tampan itu.

"Dasar tidak tahu di untung, kau bahkan membawa petaka kepada keluargamu sendiri."

"Jungkook.." Didunia nyata Taehyung tampak masih belum menyerah untuk membangunkan suaminya, sungguh tidak dapat disangka. Ternyata Jungkook memiliki sisi yang sangat rapuh, berbanding terbalik dengan sikapnya yang enam jam lalu Taehyung lihat. Ia kasar, sama seperti semasa SMA dulu, namun kini. Tubuh atletis itu bahkan menangis sesegukan dalam tidurnya.

Jungkook bukan cengeng, Taehyung dapat menjamin itu. Bahkan jika dihitung baru kali ini ia melihat suaminya bermimpi buruk, dan separah ini.

Kemudian ketika tepukan dibahu Jungkook semakin intens, pria berwajah tampan yang berlinangan air mata pun membuka obsidiannya.

Jungkook cukup menyadari jika Taehyung telah melihatnya mengalami mimpi buruk, karena ia adalah tipe orang yang cenderung waspada disetiap kesempatan apapun. Walau keadaannya baru bangun tidur.

Setelahnya tubuh tegap itu membenahi posisi, dengan kedua tangan yang refleks mengurut wajah lelah penuh gurat kesedihan tersebut.

"Kau tidak apa-apa? Aku rasa kau mengalami mimpi buruk." Taehyung cepat bangkit lalu mengusap punggung suaminya, kemudian kedua tangan kurus itu merapikan berkas diatas meja yang terbuka dan berserakan.

Sekilas ia melihat beberapa foto seorang bocah kecil yang mirip Jungkook, begitu lucu dan menggemaskan. Tengah bermain air dengan pelampung berbentuk ban warna kuning yang melingkari pinggangnya. Foto lain menunjukan hal berbeda, dimana sebuah keluarga kecil tampak bahagia dengan seorang bocah yang sama tengah menggenggam dua buah permen gula-gula pada kedua tangannya.

"Tidak apa, jangan perdulikan aku." Suara berat itu meraih lembaran foto diatas meja, kemudian memasukannya kedalam laci kerja.

Setelah Taehyung merapikan pekerjaan Jungkook, pria yang masih terduduk dengan kernyitan di alis pun mendapatkan sebuah elusan halus pada pundaknya. Sejurus kemudian, Jungkook menghela nafas cukup berat.

"Sudah hampir tengah malam, sebaiknya kau istirahat dikamar." Ketika Jungkook nampak ingin mengelak, Taehyung segera menyelanya. "Aku tidak ingin melihatmu tersiksa akibat mimpi buruk lagi, kau tau tubuhmu lelah tapi tetap memaksakan."

"Jangan menyakiti dirimu sendiri Jungkook."

Tatapan menusuk itu berubah melembut, sudah lama ia tidak mendapatkan perhatian seperti ini selama lima belas tahun terakhir. Tuan Park memang menyayanginya, namun Taehyung memberikan hal berbeda dengan apa yang ayahnya lakukan.

Sebaik apapun seorang ayah, tindakannya tidak akan bisa mengalahkan perhatian seorang ibu maupun istri. Meski begitu Jungkook tetap bersyukur karena ayahnya menyayangi tanpa perlu diungkapkan oleh perkataan.

Jungkook tidak mengucap sepatah kata pun, tatkala Taehyung membaringkan tubuh lelahnya diatas ranjang king size mereka. Desahan halus terdengar begitu merdu kala kelembutan itu menyapa bagian belakang tubuh Jungkook, sungguh ini memang nyaman. Ketika kepalanya sempat pening untuk beberapa saat, kelembutan permukaan bantal itu menyembuhkannya.

Taehyung tersenyum setelah berhasil menyalakan lilin aroma terapi disamping ranjang, membiarkan ruang temaram itu hanya diterangi lilin-lilin harum miliknya.

Ketika kantuk sudah mulai menggoda Taehyung, perawakan kurus itu membawa diri untuk terbaring disamping Jungkook. Namun memposisikan tubuh lebih tinggi dari pria disampingnya.

Betapapun Jungkook ingin menutup mata untuk sekedar berpura-pura tertidur, namun netra gelap itu tidak bisa diajak kompromi. Mimpi buruk tadi bahkan masih membayang dikepalanya, membuat Taehyung harus tidur menyamping dengan wajah Jungkook menghadap dada. Saat pria itu berpaling, tangan kiri Taehyung menahan rahang kanan Jungkook agar tetap menghadapnya.

Pria yang lebih besar menutup mata canggung.

Kemudian telapak lembut itu menyapu surai kelam Jungkook penuh kasih, dengan ibu jari yang sesekali mengurut pelipisnya, tanpa disangka Jungkook mendengus nyaman.

Aroma jeruk yang menguar dari tubuh Taehyung dan wewangian dari lilin-lilin itu sungguh membuat Jungkook luar biasa nyaman. Ia ingin menolak Taehyung sebenarnya, ya, sejak awal ketika pria itu membangunkan Jungkook dengan cara terlembut yang pernah ia rasakan.

"Maafkan aku ya," Taehyung membuka suara, sambil matanya mengawang langit-langit kamar. "Aku tidak tahu kalau kau sedang banyak pikiran."

Tidak ada jawaban, namun Jungkook tetap mendengar.

"Tidurlah setelah kau merasa tenang."

Ia sudah tenang Taehyung, percayalah.

.

.

.

.

Suasana dingin masih menyelimutinya ketika Taehyung memasuki coffeshop yang sama dengan beberapa bulan lalu ia kunjungi. Namun kini interior nya sedikit berbeda, tetapi masih memberikan nuansa indah -atau bahkan lebih. Walaupun diameter ruangan tidak terlalu besar, setidaknya tempat ini dapat meringankan sejenak beban Taehyung. Membantunya menenangkan pikiran dengan secangkir minuman hangat.

Hal pertama yang Taehyung lakukan setelah duduk ialah, memesan capuchino.

Sambil menunggu, Taehyung berinisiatif menghubungi suaminya.

Line

Taehyung : Kau sedang apa? Jika lelah istirahatlah sebentar, jangan terlalu memikirkan banyak hal.

*Read

Beberapa menit setelahnya tidak ada balasan, kemudian pria cantik itu kembali mengetik pesan berikutnya.

Taehyung : Jangan lupa minum obatnya, kau mengeluh pusing tadi pagi.

*Read

Jungkook sedang mengetik...

Taehyung menahan nafas untuk beberapa saat, mendapati dirinya yang gugup akibat menunggu balasan Jungkook terlihat seperti baru pertama mengirimnya pesan semasa SMA dulu.

Kembali tampak seorang pria berkulit pucat yang sama membawakannya secangkir kopi berbau harum, namun Taehyung tidak menyadari kedatangan pria tersebut akibat ia mendudukan diri sambil memunggungi meja barista.

TING

Taehyung segera membuka lock screen pada ponselnya kemudian notifikasi balasan Jungkook pun muncul.

Jungkook : Tolong jangan membuatku kesal dan berhentilah menggangguku dengan pesan-pesanmu itu. Jangan karena kejadian semalam kau bisa mengirimiku pesan sesukamu.

Taehyung memucat, tulisan pada layar ponselnya sungguh amat jelas.

Ya, jelas sekali hingga seorang pria dibelakangnya dapat membaca runtutan pesan menyakitkan itu hanya dalam beberapa detik.

"Ini pesananmu." Min Yoongi berucap setelah menaruh cangkir kopi ditangannya keatas meja, kemudian memberi senyuman singkat ketika Taehyung membalasnya dengan anggukan wajah manis yang nampak murung dan sedih.

"Apa ada yang mengganggumu?" Pria kecil itu bertanya dengan nada sopan, sungguh ia ingin membantu mengatasi kegundahan hati Taehyung. Walau sebenarnya mereka tidak terlalu dekat.

Meski begitu coffeshop ini sudah menjadi salah satu tempat favorit Taehyung, walaupun beberapa bulan terakhir ia tidak terlihat berkunjung.

"Tidak, ini hanya..." Taehyung menggantung kalimatnya, dengan telapak tangan yang mengusap keningnya lembut pria kurus itu menghela nafas pelan.

Yoongi tersenyum kecil.

"Maaf, tapi aku tidak sengaja membaca pesan diponselmu tadi." Pria yang lebih mungil mendudukan diri.

Ya, Yoongi melakukannya karena suasana coffeshop lumayan sepi. Maka dari itu mungkin ia dapat berbicara sebentar dengan pria manis yang malang ini.

"Apa pacarmu berlaku buruk?" Yoongi mencoba bertanya dengan nada hati-hati, tentu saja ia takut salah bicara dan malah menyakiti orang didepannya.

Sedangkan Taehyung menggeleng miris.

"Dia suamiku.."

"Oh.."

Yoongi terkesiap sesaat, sungguh ini bukan masalah sepele. Setelah mengetahui bahwa Taehyung bahkan sudah menikah dan mendapatkan perilaku tidak menyenangkan dari pasangannya.

Yoongi berniat untuk membantu Taehyung dan sedikit meringankan bebannya, walau bagaimana pun ketika suatu masalah sudah menumpuk akan terasa lebih sulit jika ditanggung sendiri.

Lagipula, melihat Taehyung yang nampak selalu sendu ketika berkunjung kemari membuat Yoongi menaruh simpatik pada pria cantik itu. Juga, Yoongi sempat beberapa kali mengalami situasi seperti Taehyung sekarang namun dengan masalah dan tekanan yang berbeda.

Ia tetap mendapatkan cinta dari pasangannya namun tidak dengan restu. Jangan tanya apakah orang tua Yoongi melarangnya menjalani hubungan yang serius dengan Park Jimin, keduanya bahkan sudah tidak lagi menghirup segarnya udara dunia. Iya, Yoongi yatim piatu dan dapat ditebak siapa yang tidak pernah memberikan restu tersebut.

Jangan sebut ini sebagai cerita murahan semacam drama picisan yang selalu tayang pada jaman-jaman dulu ia masih SMA. Tapi ini nyata dan terjadi kepada Min Yoongi dan sepertinya ia dapat mengerti keadaan Taehyung saat ini.

Ketika Yoongi beranjak dari tempatnya Taehyung mengernyit bingung dengan reaksi sang pemilik coffeshop. Namun beberapa saat punggung itu menghilang dibalik pintu dapur pria imut dengan marga Min tersebut kembali dengan membawa soft cake lucu yang nampak manis.

"Anggap saja kue ini gratis untukmu." Taehyung masih terdiam dengan perhatian kecil dari Yoongi, kemudian pria mungil itu kembali melanjutkan kalimatnya, "Asalkan kau tidak bersedih lagi seperti sekarang."

Pasalnya presdir Kim saja tidak pernah bertindak semanis ini. Apalagi Jungkook.

Namun Yoongi begitu hangat, seperti mereka sudah bertemu bertahun-tahun lalu dan menjadi sahabat dekat.

"Astaga terima kasih.." Tentu saja Taehyung sangat terenyuh, akibat bentuk lucu dari kue diatas meja juga sikap hangat dari orang yang nampak mengerti dengan keadaan Taehyung membuat pria itu tersenyum lebar untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu ini menekuk wajah.

Kemudian kedua tangan kurus itu menarik pinggiran piring berisikan kue lezat tersebut untuk mendekat.

"Sama-sama.." Yoongi tersenyum sambil menangkup tangannya diatas meja. "Nah, ingin berbagi cerita denganku?"

.

.

.

.

Sejujurnya akhir-akhir ini Jungkook memang kelelahan dan tadi pagi ia mengeluh sakit kepala pada bagian belakang. Hal itu tidak terjadi secara langsung, karena tidak mungkin Jungkook mengeluh kepada -ataupun dihadapan- Taehyung. Pria manis itu mendapati suaminya sedang memijat tengkuk dengan hati-hati.

Raut wajahnya amat sangat letih dan dengan penuh perhatian Taehyung membuatkannya teh hangat yang dicampur madu.

Sungguhpun Jungkook memang sedikit merasa bersalah dengan apa yang baru saja ia kata- -coret- ketik. Walau ia membacanya dalam hati dengan intonasi yang sedikit dilembutkan, namun serentet kalimat yang ia tulis didalam ponsel hanya bisa mengirimkan teks saja. Jika yang membacanya adalah orang lain, intonasinya pun mungkin akan berubah pula.

Pria itu mengernyit, kemudian ponsel pintar ditangannya berpindah keatas meja.

Jelas sekali Taehyung mengkhawatirkannya, apalagi sampai saat ini wajah itu masih tampak pucat.

Ini adalah akibat dari ia yang harus mengurus banyak hal semenjak sang ayah jatuh sakit.

Lelah tentu saja dirasakan, apalagi dirinya selalu berusaha memulai konflik dengan Kim Taehyung. Walaupun pria yang berstatus sebagai pasangan hidupnya itu tidak pernah terbakar percikan api yang Jungkook buat.

Ia ingin melihat, sampai dimana kesabaran Taehyung untuknya. Sampai mana ia sanggup mencintai Jeon -coret- Park brengsek Jungkook yang terus menerus bersikap acuh padanya.

Namun Taehyung selalu bersikap manis didepan Jungkook, masih sama seperti masa SMA dulu. Tetapi agak sedikit lain ketika Jungkook baru pertama kali bertemu dengannya lagi, dalam keadaan tangan terlilit pita perekat dan tubuh yang tidak berdaya.

Jungkook ingin sekali Taehyung melawannya, membalas bentakannya, sungguh sikap agresif waktu itu membuat- Tidak! Apa yang kau pikirkan Jungkook? Mengapa kau tiba-tiba memikirkan hal semacam itu?!

Konyol-"

Jungkook menggerutu sambil memilin pena dengan kedua jemari tangannya, beruntung sebelum benda sepele yang ternyata mahal itu terlempar jauh akibat tekanan emosinya yang berubah-ubah- seseorang terdengar mengintruksi lewat interkom nya dengan nada sopan.

"Tuan, ada seseorang yang memaksa ingin bertemu dengan anda. Dia bilang ia adalah kawan lama."

Beberapa saat Jungkook terkesiap namun tidak cukup jeda untuk mempersilahkan masuk ketika suara engsel pada pintunya terdengar.

"Ternyata semakin sulis saja ya, bahkan hanya untuk sekedar menjumpaimu." Ucap seorang pria bersurai hitam lembut dengan senyuman manisnya, ia berjalan sembari daun pintu dibelakangnya kembali menutup otomatis.

Sedangkan Jungkook terperangah tak percaya, hal yang paling tidak mungkin dan tidak pernah ia bayangkan sejak dulu. Bahkan jika dipikirkan hal tersebut hanya memiliki kemungkinan kecil untuk terjadi.

Namun kini, dengan begitu nyata sosok manis itu muncul dari balik daun pintu dan tersenyum kepadanya.

Untuk kesekian kali, Jungkook merasakan hatinya bergetar, sesuatu yang berdetak didalam dadanya menendang-nendang tak karuan.

"K-kau?! Bagaimana... Bisa..."

"Tentu saja bisa.."

"Tapi... Tidak mungkin!"

Pria lain yang baru sampai didepan meja Jungkook memangku tangannya diatas dada. Mencebik lucu akibat reaksi Jungkook yang sulit mempercayai realita.

"Tapi aku sudah disini bukan? Apa kau menganggapku hantu?" Orang tersebut memutari meja Jungkook untuk sampai dihadapannya. Sedangkan pria yang dimaksud masih mengernyit tidak mengerti. "Tega sekali menganggap cinta pertamamu sebagai hantu.."

Jungkook menelan ludahnya tanpa diketahui siapapun.

Ternyata benar, ini bukan mimpi.

.

.

.

TBC

Maaf update lama :'v udh lebih sebulan yak :'v

Gimana sama chapter ini? :'v apa garing? Gak ada konflik? Saya tau kok ini gak menarik sama sekali

*tenggelamin diri

Tapi sudahlah '-' semoga lain kali gk mengecewakan :'v

Btw, big thanks buat yg udah review ff ini smpe minta dilanjut" karena saya lama update :'v juga yang komen panjang sampe bikin ell senyum" kasmaran/? :'v

Maaf gk bisa sebut satu-satu, soalnya saya ngebet pengen post chapter ini :'v tapi ell baca semua review kalian kok, (oh I really love it)

Penasaran gak sama yang nyamperin Jungkook di kantornya itu? XD silahkan menebak" dan berandai" xD

Oya, jangan lupa beri ell feedback, biar chapter depan lebih ada rasanya dan gak tijel seperti ini :'v

Thanks and don't forget to review *fly kiss

Ell