[REMAKE] Sleep With The Devil by Santhy Agatha

Genre :: Romance

Cast :: Kim Jongin, Xi Luhan, and others. [KAILU]

Rated :: M

.

Disclaimer : Saya me- remake novel favorit saya, cerita aslinya kalian bisa

baca novel Sleep With The Devil (Santhy Agatha). So, cerita ini

bukan milik saya, saya hanya meremake oke?jangan nuduh saya plagiat ya.

Oh iya ini re-post ya?

.

Typo(s). YAOI. M-PREG

Don't Like , Don't Read chingu!

Annyeong, ini lanjutan ff remake Sleep With The Devil KaiLu Ver ^^

Happy Reading!

Kai keluar dari kamar mandi dengan masih menyimpan kemarahan. Rambutnya basah kuyup. Dan seluruh pakaiannya yang basah teronggok di lantai. Sebuah gerakan di sudut kamar membuatnya menoleh. Chanyeol berdiri di sana, bekas-bekas pukulan Kai masih menimbulkan memar-memar di sana sini, tetapi lelaki itu sepertinya sudah diobati,

"Bagaimana dia?," tanya Kai dingin.

"Dokter sedang menanganinya, paru-parunya kemasukan cairan…Anda sendiri Tuan Kai, Anda tidak apa-apa? Terjun dari lantai dua seperti itu hanya untuk menyelamatkan laki-laki itu…"

Kai melirik pada Chanyeol dengan tatapan tajam, lalu meraih handuk untuk menggosok rambutnya yang basah,

"Tadinya aku berniat membunuhnya"

"Kalau begitu kenapa Anda menyelamatkannya?" Kai membalikkan tubuhnya dan menatap Chanyeol dengan mata menyala-nyala,

"Karena aku memutuskan, belum saatnya dia mati," mata cokelat Kai bagaikan berbinar di kegelapan, "Dan kau…. Kenapa kau sengaja membiarkannya lolos?" Chanyeol menatap Kai, tampak ada keterkejutan di matanya meskipun sekejap kemudian dia langsung memasang wajah

datar, "Saya tidak sengaja membiarkannya lolos"

"Kau pikir aku bodoh?," suara Kai menajam, setajam tatapannya, "Kau adalah pengawalku paling berpengalaman, tak mungkin kau bisa diperdaya pemuda itu, kecuali kau memang membiarkan dirimu diperdaya"

Chanyeol menelan ludahnya, "Saya ingin membebaskannya, saya takut dia akan membawa masalah untuk kita" Kai melempar handuknya dengan marah ke sofa,

"Dalam dua hari ini kau sudah dua kali mengambil keputusan sendiri dan menentangku. Dengarkan ini baik-baik Chanyeol," suara Kai dalam dan mengancam, "Sekali lagi kau membuat kebodohan yang merepotkanku, bukan hanya pukulan yang kau dapat, aku akan menghabisimu secepat aku bisa"

Suara ancaman itu masih menggema di kegelapan, bagaikan janji Iblis yang memanggil-manggil meminta nyawa.

Ketika Luhan terbangun, yang dirasakannya pertama kali adalah rasa sesak di dadanya. Dia menggeliat panik, mencoba menarik napas sekuat-kuatnya, dalam usahanya mencari oksigen sebanyak-banyaknya.

"Tenang, kau sudah ada di daratan, kau bisa bernafas secara normal," Suara Kai membawa Luhan kembali pada kesadarannya.

Dengan waspada dia menoleh dan mendapati Kai sedang duduk di tepi ranjangnya. Luhan beringsut sejauh mungkin dari Kai dan tingkahnya itu memunculkan secercah cahaya geli di mata Kai,

"Apakah kau takut padaku setelah kejadian tadi?," nada gelipun tersamar dalam suara Kai.

Kurang ajar, batin Luhan dalam hati. Dia berjuang meregang nyawa, dan lelaki ini malah duduk disini menertawainya.

Tetapi, apakah benar Kai yang terjun ke kolam waktu itu dan menyelamatkannya? Kenapa? Bukankah jelas-jelas dalam kemarahannya Kai sudah memutuskan untuk membunuhnya? Kenapa lelaki itu berubah pikiran?

"Ya, aku memang menyelamatkanmu," Kai bergumam seolah-olah bisa membaca pikiran Luhan, "Tetapi itu bukan demi dirimu, itu demi kepuasanku."

Luhan menatap Kai geram, "Apa maksudmu?"

Dengan tenang lelaki itu melepas dasinya, gerakannya pelan tetapi mengancam hingga tanpa sadar Luhan bergidik dan beringsut menjauh.

"Aku tidak suka bercinta dengan mayat," Senyum di bibir Kai tampak kejam, "Kau lebih nikmat kalau hidup dan bernafas."

Ketika Luhan menyadari maksud Kai, sudah terlambat. Lelaki itu mencengkeram kedua lengannya dengan satu tangan. Kekuatan Luhan tidak sebanding dengan kekuatan tubuh Kai yang besar dan kuat di atasnya. Dengan mudahnya lelaki itu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan ikatan mati yang sangat rapi, lalu menalikannya di kepala ranjang,

"Kau…. Kau mau apa ?', Luhan mulai panik ketika Kai yang setengah duduk di atasnya membuka kancing kemejanya.

Senyum Kai tampak penuh kepuasan melihat kondisi Luhan yang tidak berdaya. Lelaki itu membuka seluruh kancing kemejanya sehingga dada dan perutnya yang berotot terlihat. Sejenak Luhan terpana melihat kulit berwarna perungggu yang berkilauan bagai satin itu, tetapi kemudian dia sadar bahwa dia ada dalam kondisi genting. Dengan panik Luhan mulai meronta dan menendang, sedapat mungkin bergerak untuk melepaskan diri.

Tapi percuma, ikatan Kai ke tangannya sangat kuat, dan dalam kondisi terikat seperti itu, Luhan benar-benar tak berdaya.

"Semalam kau bercinta denganku, panas, dan memabukkan…. Tapi kau mungkin tak bisa mengingat dengan jelas dan aku tak suka itu….," suara Kai merendah, penuh gairah, "Malam ini, akan kubuat kau mengingat setiap detiknya"

Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, Luhan melihat ketika Kai melepas kemejanya dan setengah menindihnya. Mulutnya sangat dekat dengan bibir Luhan, hingga napas mereka beradu, Kai menundukkan kepalanya, mencium sisi leher Luhan, membuat Luhan berjingkat dan berusaha meronta lagi,

"Sshhh…. Kau akan menyakiti lenganmu kalau kau meronta-ronta terus seperti itu," bibir Kai merayap dan mendarat di bibir Luhan. Lelaki itu mengecup sedikit ujung bibir Luhan, lalu lidahnya menelusup masuk, membuka bibir Luhan yang lembut, mencecapnya dan merasakan seluruh tekstur bibir Luhan yang hangat dan panas. Lidahnya mengait lidah Luhan dan memainkannya dengan intensitas yang sangat ahli.

Ketika Kai melepaskan bibirnya, napas Luhan terengah-engah, ciuman ini adalah ciuman yang paling intens yang pernah di rasakannya.

"Kau menyukainya bukan?', Kai berbisik lembut dengan nafasnya yang panas di telinga Luhan, "Aku sangat menyukai bibirmu, dan sensasi kelembutannya di bibirku….," tangan Kai merayap ke bawah, meraba kulit leher Luhan, "Seluruh tubuhmu hangat sayang, seakan menggodaku….," Jemari Kai menurunkan resleting celana Luhan dan menelusup ke dalam sana, menggoda kejantanannya, "Di sini…. Yang paling panas"

Luhan menggelinjang, mencoba meronta, tetapi tubuh kuat Kai yang setengah menindihnya membuat gerakannya terbatas. Apalagi tangannya yang terikat di atas, membuat lengannya terasa kram dan pergelangan tangannya ngilu ketika dia menggerak-gerakkannya. Kai melirik ke pergelangan tangan Luhan yang terikat, dan menyadari bahwa ikatan itu menyakiti Luhan.

"Jangan bergerak-gerak, atau kau akan mengalami memar-memar ketika ini selesai" Setetes air mata mengalir di sudut mata Luhan, dia putus asa dalam usahanya untuk melepaskan diri.

"Jangan lakukan ini, please…" Mata Kai sedikit melembut ketika mendengar permohonan Luhan, tetapi kemudian senyumannya tampak mengeras,

"Aku hanya ingin membuatmu sadar dimanakah tempat kau seharusnya berada Luhan," Kai membuka kancing kemeja Luhan satu-persatu, membiarkan nipple Luhan terbuka bebas untuknya,

"Ini milikku," Kai menyentuh nipple Luhan dan menggodanya, menikmati ketika mendengar erangan tersiksa Luhan, "Seluruh tubuhmu milikku," Kai mengecup ujung nipple Luhan, mencecapnya dengan lidahnya. Lalu bibirnya berpindah menelusuri bagian samping nipple Luhan, menikmatinya dengan bibirnya sehingga meninggalkan jejak-jejak basah dan panas di sana.

Luhan melengkungkan punggungnya atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, merasakan lelaki iblis itu mencumbunya, dan menyiksanya dengan godaan-godaannya yang sangat ahli, ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Seperti gelenyar panas yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari jemarinya, dan menjadi semakin panas ketika menyatu di kejantanannya.

Dan jemari Kai menyentuh ke sana, dengan begitu ahli, memainkan Luhan sesuka hatinya. Tubuh Luhan meronta tak tahan akan alunan sensasi permainan jemari Kai, tapi lengan Kai yang kuat menahan tubuhnya. Kemudian bibir Kai mengikuti jemarinya. Luhan terkesiap merasakan hembusan napas panas di kejantanannya.

Seketika dia menegakkan tubuhnya dan tertahan oleh ikatan di pergelangan tangannya.

"Jangan!," teriaknya panik, mencoba merapatkan kaki, mencegah bibir Kai menyentuhnya.

Tetapi lengan Kai yang kuat menahannya, dan kemudian, Luhan melengkungkan punggungnya dan mengerang keras merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan lidah Kai di kejantanannya, dengan hembusan nafasnya yang panas. Panas bertemu panas dan dia terbakar. Pandangannya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan.

"Sshhhh…. Semua bagian tubuhmu milikku Luhan, Milikku." Kai mencumbu kejantanan Luhan menyatakan kepemilikannya.

Dan ketika Kai selesai bermain-main, Luhan sudah terbaring, lemas, dan tak berdaya dengan nafas terengah-engah dan tubuh membara. Kai menaikkan kembali tubuhnya dan mengecup lembut bibir Luhan. Dada bidangnya menggesek nipple Luhan, dan Luhan merasakan kejantanan Kai yang begitu keras menyentuh pahanya dengan begitu menggoda seolah mengerti apa yang paling Luhan inginkan. Kai menempatkan dirinya dengan begitu tepat, seolah telah mengenal setiap jengkal tubuh Luhan. Dan Luhan merasakan tubuh Kai yang keras dan panas menyatu dengan tubuhnya, memberikan geleyar kenikmatan yang makin menghujam.

"Luhan," Kai mengerang merasakan tubuh Luhan yang panas, halus, dan membungkusnya dengan begitu erat, menggodanya untuk mencapai kepuasan secepat mungkin. Tapi tidak, malam ini untuk Luhan. Kai ingin Luhan mengingat setiap detik percintaan mereka malam ini.

Ketika Kai bergerak, Luhan mengerang. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya, dia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi, hampir frustasi karena pada akhirnya tubuhnya menyerah dalam pusaran gairah Kai. Kai menundukkan kepalanya, lalu mengecup sudut bibir Luhan dengan posesif, menyatakan kepemilikannya, dan menghujamkan dirinya dalam-dalam.

"Kau milikku, Luhan. Ingat itu baik-baik"

Sedetik kemudian, Kai membawa Luhan melewati pusaran gelombang semakin dan semakin naik hingga guncangan orgasme menerjang mereka berdua. Menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan.

Kai mengangkat tubuhnya dari Luhan yang terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena orgasme. Dengan lembut jemarinya membuka ikatan tangan Luhan, Ikatan itu menimbulkan bekas kemerahan di sana. Dan Kai mengecup kedua pergelangan tangan Luhan,

"Kau milikku, ingat itu. Kalau kau mencoba melarikan diri lagi, aku akan menghukummu dengan hukuman yang lebih berat"

Lalu Kai bangkit, mengenakan pakaiannya dan menatap Luhan yang memalingkan muka darinya, tak mau menatapnya,

"Kuharap kau tidak melupakan malam ini, setiap detiknya," gumamnya dingin, lalu melangkah pergi meninggalkan Luhan yang terbaring diam di ranjang.

Setetes air mata mengalir kembali di sudut mata Luhan. Kai benar, Luhan tidak akan pernah bisa melupakan malam ini, setiap detiknya.

Sudah hampir dua minggu Luhan dikurung di dalam kamar putih ini, tidak boleh keluar sama sekali. Hari-hari Luhan dilalui dengan menatap ke luar dari jendela lantai dua ke pekarangan rumah Kai.

Luhan sudah merasa begitu muak dan frustrasi karena bosan. Setelah memaksakan kehendaknya malam itu, Kai tidak pernah mengunjungi Luhan lagi. Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya. Luhan mencibir, mencoba mengabaikan perasaan seperti tercubit di dadanya. Tetapi kalau memang benar begitu, kenapa Kai tidak melepaskannya?

Apakah karena lelaki itu tahu bahwa Luhan berniat membunuhnya, jadi dia menawan Luhan di sini karena menganggap Luhan ancaman yang berbahaya? Kalau begitu kenapa Kai tidak membunuhnya sekalian?

Beberapa lama terpaku di jendela, Luhan menyadari bahwa ada kesibukan yang tidak biasa di luar sana. Beberapa mobil tampak lalu lalang keluar masuk rumah Kai yang biasanya lengang. Sehari-hari pemandangan yang didapat Luhan hanyalah pemandangan pengawal-pengawal Kai dan beberapa pelayan yang lewat di halaman depan rumah.

Kali ini Luhan melihat ada mobil bunga dan mobil katering. Apakah Kai akan mengadakan pesta? Kalau iya, mungkin saja kesempatan Luhan untuk melarikan diri bisa muncul kembali. Sedang larut dalam lamunannya, tiba-tiba pintu kamar putih membuka. Luhan bahkan tidak menolehkan kepalanya sedikitpun. Karena yang masuk ke kamar ini selalu hanya Chanyeol yang mengantarkan makanan, dan pelayan yang membersihkan ruangan dan membawakan pakaian ganti untuknya – tentu saja di bawah pengawasan Chanyeol.

Luhan tidak pernah berinteraksi dengan Chanyeol lagi setelah kejadian kemarin, dan sepertinya lelaki itu juga tidak berniat untuk mengajaknya berbicara. Lagipula rasa bersalah yang ditanggung Luhan terlalu besar. Karena dialah Chanyeol dihajar oleh Kai, bekas-bekas hajaran itu masih ada dari memar-memar di wajah Chanyeol dan hidungnya yang patah.

Setiap melihat Chanyeol, Luhan disergap perasaan ngeri dan rasa bersalah yang luar biasa. Kai mengancam akan membunuh siapapun yang lengah dan membiarkan Luhan lolos. Apakah sepadan mengorbankan satu nyawa demi meloloskan diri?

Luhan memang tidak kenal dengan Chanyeol, tetapi kalau mendapatkan kebebasan dengan mengorbankan nyawa orang lain, tetap saja terasa tidak benar baginya….

"Luhan."

Itu suara Kai. Luhan terlonjak saking kagetnya. Dia menolehkan kepalanya, dan Kai-lah yang berdiri di tengah ruangan, lelaki itu tadi sepertinya terdiam, mengamati Luhan yang sedang melamun sambil memandang Luhan yang sedang menatap ke luar jendela.

Otomatis Luhan mengepalkan tangannya, reaksi impulsifnya ketika menyadari aura Kai yang berkuasa memenuhi ruangan.

Kai melirik tangan Luhan yang terkepal, dan senyum sinis muncul di bibirnya. Lelaki itu menolehkan kepalanya ke belakang dan Luhan baru menyadari ada orang lain di belakang Kai, seorang laki-laki berbadan kecil dan sedikit gemulai,

"Ini Heechul," gumam Kai tenang, "Dia akan mempersiapkanmu untuk nanti malam," Setelah berkata begitu, Kai melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar itu.

Mempersiapkannya untuk apa?

"Kau sebenarnya cantik sekali Tuan, hanya saja kau tidak pandai berdandan," Heechul bergumam dengan suara gemulainya, memoles wajah Luhan yang masih memejamkan matanya di depan cermin, Sementara Luhan masih memejamkan matanya, diam karena didandani oleh Heechul….

Kalau Kai menyuruhnya didandani, maka dia pasti akan diperbolehkan untuk turun ke pesta yang diadakan Kai. Hal itu berarti ada kesempatan baginya untuk melarikan diri dari rumah ini.

"Nah, sudah selesai, coba buka matamu," gumam Heechul. Ada nada puas dalam suaranya, Luhan membuka matanya pelan-pelan dan dia terpana menatap sosok yang balas menatapnya di depan cermin itu.

Heechul memang perias yang sangat berbakat, dan sangat terkenal tentunya dengan tarif sekali riasnya yang amat sangat mahal. Luhan sering sekali mendengar nama perias ini di media sebelumnya, tapi tidak pernah berfikir bahwa dia akan merasakan tangan dingin sang perias berbakat ini.

Matanya tampak begitu lebar, kuat, sekaligus rapuh dengan polesan warna cokelat keemasan, dan Heechul sedemikian rupa menonjolkan struktur tulang pipinya yang tinggi sehingga tampak menarik dan aristrokat…. Dan bibirnya dipoles dengan lipgloss warna peach dengan nuansa yang membuat bibirnya seolah-olah selalu basah.

Luhan menyentuh pipinya ragu, dan bayangan cantik di depannya juga menyentuh pipinya. Mata Luhan terpaku, masih terpana akan bayangan di depannya. Heechul mendecak kagum melihat hasil karyanya sendiri, kemudian bergumam, mengalihkan perhatian Luhan,

"Kau paling berbeda dari kekasih-kekasih Tuan Kai sebelumnya," Heechul meringis, "Bukan berarti kau kurang cantik, tapi kau kurang glamour, kurang mempesona. Kekasih-kekasih Kai sebelum-sebelumnya selalu cantik luar biasa, bagaikan dewi" Luhan mendengus sinis, apakah Kai juga menyuruh perias ini untuk mendandani kekasih-kekasihnya?

Heechul sibuk merapikan peralatannya di belakang Luhan sambil terus bergumam,

"Tapi kau istimewa, harusnya kau bersyukur, Tuan Kai tidak pernah menyuruhku mendandani kekasih-kekasihnya yang lain," gumaman Heechul itu telah menjawab pertanyaan Luhan sebelumnnya, "Dan yang paling sensasional adalah tuxedo ini, Tuan Kai menyuruhku memesannya langsung dari perancangnya di Paris. Pesanan khusus karena diselesaikan hanya dalam waktu 1 minggu, tuxedo ini khusus dibuat untukmu, tiada duanya di dunia ini. Heechul berseru kecil dengan feminim, tampak terpesona dengan sesuatu di tangannya, "Kau harusnya bersyukur karena Tuan Kai memperlakukanmu dengan istimewa"

Luhan menoleh, ingin tahu apa yang begitu menarik perhatian Heechul, dan sekali lagi dia terpesona. Di tangan Heechul, digantung di gantungan baju yang elegan, ada sebuah tuxedo yang luar biasa indahnya. Jasnya itu dibuat dari bahan sutera hijau berkilau dengan kristal kecil menyebar di sepanjang kerah dan bahu, memberikan efek kilauan yang menakjubkan. Jas itu adalah jas terindah yang pernah dilihat oleh Luhan, dan jas itu untuknya?

"Pakailah tuxedo ini, kau harus siap dalam setengah jam. Tuan Kai ingin melihatmu sebelum ke pesta," gumam Heechul, menghamparkan tuxedo hijau itu di ranjang lalu melangkah keluar dari kamar. Kata-kata terakhir Heechul sebelum pergi itu menyadarkan Luhan dari keterpesonaannya akan keindahan tuxedo itu.

Kai telah memperlakukannya sama seperti kekasih-kekasihnya, yang bisa diperintah sesuka hati seperti boneka! Kali ini dia tidak akan membuat Kai puas. Luhan bukan kekasih Kai dan dia bukan boneka yang bisa diatur-atur sesukanya, Kai harus menyadari itu.

Kai masuk dan Luhan menunggu dengan penuh antisipasi. Kai mengenakan jas hitam legam yang rapi. Rambutnya yang sedikit panjang hingga menyentuh kerah disisir kebelakang, membuatnya tampak seperti iblis tampan yang begitu menggoda. Lelaki itu melangkah memasuki ruangan dan Luhan merasakan Kai tertegun sejenak menatap wajah Luhan yang sudah dirias sedemikian cantiknya.

Tetapi kemudian mata Kai menatap ke arah Luhan yang masih mengenakan baju biasa yang selalu digunakannya di kamar itu. Mata Kai menggelap seolah ada badai yang akan menerjang di sana,

"Kenapa tidak kau pakai tuxedo?," desis Kai pelan.

Luhan mundur selangkah, menyadari intensitas kemarahan dalam suara Kai. Lelaki satu ini mungkin menderita post power sindrome sehingga mudah naik darah kalau keinginannya tidak diikuti, batin Luhan dalam hati.

"Aku tidak mau," Luhan menegakkan dagunya menantang, meski batinnya sedikit kecut.

"Tuxedo itu khusus dipesankan untukmu," kali ini suara Kai sedikit menggeram, menahan kesabaran.

Luhan melirik tuxedo indah itu, tuxedo itu luar biasa indahnya, dan Luhan sudah jatuh cinta pada tuxedo itu sejak pandangan pertama. Tetapi dia tidak boleh mengenakan tuxedo itu, meskipun batinnya berteriak-teriak ingin merasakan tuxedo secantik itu sekali saja.

Tidak! Dia tidak boleh mengenakan tuxedo itu, itu sama saja dengan mengakui penguasaan Kai atas dirinya.

"Aku tidak mau memakainya," Luhan berhasil mengeraskan suaranya hingga terdengar lantang, "Aku bukan bonekamu yang bisa kau perintah-perintah semaumu!"

"Boneka katamu?," Kai melangkah maju dan otomatis Luhan melangkah mundur, "Kau pakai baju itu atau aku akan memperkosamu sekarang juga di lantai. Supaya kau tahu bagaimana aku memperlakukan bonekaku!"

Jantung Luhan berdetak sekejap merasa takut akan ancaman Kai. Apakah Kai akan melaksanakan ancamannya? Tetapi melihat mata yang menyala karena marah itu, Luhan tiba-tiba sadar bahwa Kai tidak main-main. Lelaki ini menyimpan iblis di dalam dirinya, dan ketika iblis itu keluar, Kai tidak akan segan-segan berbuat kejam.

Salah sendiri kau menantang Iblis ini, Luhan! Luhan mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

"Luhan, kenakan tuxedo ini atau aku akan benar-benar membuatmu menyesal," Kai mulai mendesis marah.

Tangannya meraih tuxedo hijau itu dan melemparnya dengan sembarangan ke arah Luhan yang langsung menangkapnya dan memegang tuxedo itu dengan hati-hati. Kai memperlakukan tuxedo semahal dan seindah ini layaknya memperlakukan kain lap. Lelaki iblis ini memang tidak paham keindahan! Tanpa sadar kebencian Luhan meluap lagi kepada Kai, dorongan untuk menantang Kai amatlah besar. Meskipun sisi lain dirinya berteriak untuk tidak menantang Kai lebih jauh lagi.

Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan, udara di antara mereka sangatlah tegang. Senyap dan tanpa suara, hanya dua mata yang saling menatap dan saling menantang.

"Pakai tuxedo itu, Luhan," kali ini Kai melangkah mendekat, seolah tak sabar.

Luhan langsung mundur selangkah lagi, menjauhi Kai, jantungnya berdegup kencang. Dia mulai merasa takut,

"Baiklah, aku akan memakainya, kau keluar dulu dari sini!', teriaknya marah karena dipaksa menyerah, air mata hampir menetes dari matanya.

Tetapi Kai bergeming, lelaki itu menggertakkan gerahamnya menahan marah,

"Aku tidak akan pergi. Kesempatanmu sudah habis, tadi aku sudah berbaik hati memberikan kesempatan padamu untuk ikut pesta dan memakai tuxedo bagus. Sekarang cepat pakai tuxedo itu," Kai tidak menaikkan suara sama sekali, tapi kemarahan di dalam suaranya menjalar ke udara dan memaksa Luhan melakukan apa yang diinginkannya.

Dengan menahan air mata, dan menahan malu, Luhan melepas pakaiannya di depan tatapan Kai yang berdiri kaku menatapnya, kemudian mengenakan tuxedo itu. Tuxedo itu luar biasa bagusnya, meluncur pelan membungkus tubuhnya dan terasa sangat pas. Sejenak Luhan melupakan perasaan frustrasi atas pemaksaan Kai dan larut dalam keterpesonaan atas keindahan tuxedo itu di tubuhnya.

Kai mengamati Luhan sejenak dalam balutan tuxedo indah itu. Luhan tampak seperti dewi hutan yang diturunkan dari khayangan, luar biasa cantiknya.

"Bagus," geram Kai, lalu dengan gerakan cepat meraih tuxedo itu dan merobeknya dari tubuh Luhan.

Luhan terpana ketika Kai merobek tuxedo itu di bagian bahu kiri. Tuxedo seindah dan sebagus itu rusak sudah, dengan robekan kain dan benang yang berjuluran, dan kristal-kristalnya jatuh bertebaran dengan suara dentingan pelan di lantai. Mata Luhan berkaca-kaca, tidak menyangka Kai akan sekejam itu, merobek sebuah tuxedo yang sedemikian indahnya demi memamerkan arogansi dan kekuasaannya. Sungguh lelaki yang kejam!

"Kenapa kau tampak ingin menangis?," Kau tidak mau memakai tuxedo ini bukan?," gumam Kai sambil menatap Luhan tajam, "Maka kukabulkan permintaanmu"

Dengan gerakan tiba-tiba, Kai meraih Luhan, mencengkeram punggung Luhan merapat ke arahnya. Luhan mencoba meronta tapi tak berdaya

"Mulai sekarang kau harus berfikir ulang kalau mau menantangku. Aku bukan orang baik dan aku tidak segan-segan berbuat kejam," Bibir Kai terasa dekat dengan bibir Luhan, dan napas lelaki itu sedikit terengah.

Kepala Kai menunduk dan sejenak Luhan merasa pasti bahwa Kai hendak menciumnya. Tetapi entah kenapa leher lelaki itu menjadi kaku dan mengurungkan niatnya.

Kai mendorong Luhan menjauh. Lalu membalikkan tubuhnya ke arah pintu,

"Heechul!," suara Kai sedikit keras ketika memanggil perias wajah yang gemulai itu.

Pintu terbuka, dan Heechul terburu-buru masuk. Lelaki itu terkesiap mendapati kondisi Luhan yang penuh airmata dengan baju itu – baju eksklusif rancangan desainer terkenal, satu-satunya di dunia, yang sangat mahal dan pasti membuat iri semua laki-laki itu – sekarang menjuntai sobek di bahu Luhan dengan kondisi menyedihkan dan tak karuan. Riasan mahal masterpiece untuk wajah Luhan juga tak karuan karena bekas air mata di wajah Luhan.

"Bereskan dia," Kai tidak menatap Luhan lagi, lelaki itu langsung keluar dan membanting pintu di belakangnya dengan marah.

"Kau benar-benar nekat menantang tuan Kai seperti itu", Heechul bergumam setengah menggerutu.

Dari tadi lelaki gemulai itu memang sibuk menggerutu karena harus memulai dari awal mendandani Luhan. Apalagi ketika tatapannya terarah pada tuxedo hijau Luhan yang sekarang teronggok seperti sampah di lantai, Heechul akan mendesah secara dramatis, lalu menggerutu lagi dengan kata-kata tidak jelas.

Untunglah Heechul membawa tuxedo cadangan. Tuxedo itu cukup bagus meskipun tidak semewah dan seindah tuxedo hijau yang sudah dirobek oleh Kai. Warnanya merah marun dan berpotongan sederhana, membungkus tubuh Luhan dengan sempurna.

"Nah sudah selesai", Heechul meletakkan kuas bibir di meja dan menatap bayangan Luhan di cermin, "Lumayan cantik, meskipun tidak semewah tadi."

Luhan tanpa dapat ditahan melirik ke tuxedo hijau di lantai itu dan menghembuskan napas sedih. Tetapi bagaimanapun juga, dibalik kekecewaannya ada kepuasan karena setidaknya dia bisa menunjukkan kalau dia bisa melawan Kai.

Betapa mengerikannya lelaki itu kalau marah, Luhan mengernyit. Sejak usahanya yang terakhir kali untuk melarikan diri, penjagaan atas dirinya diperketat. Ada dua orang laki-laki berjas hitam dan berbadan kekar yang berjaga di depan pintunya.

Malam ini adalah pertama kalinya Luhan diberi kelonggaran, untuk turun, keluar dari kamar ini. Kalau Luhan cukup waspada, mungkin dia bisa melarikan diri dari rumah ini.

"Nah, pakai sepatu ini", Heechul meletakkan sepatu yang indah di karpet, "Lalu aku akan mengantarmu turun, Tuan Kai menunggu di bawah, karena pesta sudah dimulai".

Ketika Luhan menuruni tangga, seketika itu juga hatinya terasa kecut. Semua orang yang hadir di pesta ini berpakaian spektakuler, semuanya pasti rancangan terbaru dari desainer terkenal.

Para laki-laki bertuxedo tampak berkumpul dan mengobrol di satu sudut dekat perapian, dan para perempuan tampak berkelompok dengan sahabat-sahabatnya menyebar di semua sisi ballroom itu.

Sebuah meja sajian besar di sudut menyajikan berbagai jenis makanan mewah. Bartender di satu sudut sibuk melayani permintaan tamu dan para pelayan berpakaian hitam putih hilir mudik, menawarkan nampan-nampan hidangan dan sampanye yang mengalir tak ada habisnya.

Ketika Luhan menuruni tangga, semua pandangan tertuju padanya, hingga Luhan merasakan tangannya berkeringat. Luhan mencari-cari Kai, tetapi lelaki itu sepertinya tidak ada. Dengan gugup, merasa terasing di keramaian, Luhan berdiri diam, di sudut dekat jendela, memilih untuk mengamati daripada membaur. Dia mengernyit ketika menyadari bahwa di setiap akses pintu keluar, semuanya berdiri dua atau tiga orang pengawal Kai dengan jas hitam yang serupa dan tampak selalu waspada. Luhan harus melewati mereka kalau ingin keluar dari tempat ini.

"Itu kekasih Kai yang terbaru?", sebuah suara sinis terdengar, rupanya pemilik suara sengaja supaya Luhan mendengarnya.

Luhan menoleh dan mendapati segerombolan wanita dan laki-laki cantik tengah berbisik-bisik dan menatapnya dengan tatapan benci. Salah seorang perempuan, yang paling cantik dengan gaun hitamnya yang sangat seksi terang-terangan mengamati Luhan dengan pandangan meremehkan dari atas ke bawah,

"Aku mendengar Kai mengajaknya tinggal bersama bayangkan! Tidak ada satupun wanita dan laki-laki cantik yang pernah diajak Kai tinggal bersama... Kupikir dia laki-laki yang sangat cantik! Ternyata dia biasa saja, mungkin Kai sedang mabuk saat membawanya tinggal bersama"

"Aku pikir juga begitu", laki-laki di kelompok itu, yang bertuxedo merah muda menyahut dengan suara yang tak kalah sinis "Mengingat sejarah kekasih-kekasih Kai selalu luar biasa cantiknya... Tapi lihat dia, dia tampak tak cocok berada di sini, dia pasti bukan laki-laki berkelas!"

"Tuxedonya tuxedo lama, rancangan keluaran bulan lalu, dia pasti pria miskin", suara laki-laki lain berambut kemerahan dengan tuxedo biru muda, berbisik jahat, ikut memanaskan suasana, "Dia mempermalukan Kai dengan penampilannya"

"Dia tak pantas bersanding dengan Kai, berani bertaruh, sebentar lagi Kai pasti muak dan mencampakkannya", perempuan seksi berbaju hitam itu mengibaskan rambutnya angkuh, "Begitu melihatku, Kai pasti akan menyukaiku dan membuangnya"

Pipi Luhan memerah mendengar hinaan-hinaan yang dilemparkan terang-terangan kepadanya, Sabar Luhan, desisnya dalam hati. Laki-laki dan wanita jalang itu terbiasa hidup kaya sehingga kadang tak punya sopan santun.

"Menungguku, sayang?" suara Kai terdengar dekat sekali di belakang Luhan hingga ia terlonjak kaget. Luhan menoleh dan mendapati Kai berdiri santai, sedikit bersandar di jendela di dekatnya. Lelaki itu tampaknya sudah lama berdiri di sana, dia pasti mendengar jelas semua hinaan-hinaan yang dilontarkan kepadanya tadi. Pipi Luhan makin merona, merasa malu sekaligus terhina.

Kai mendekat, wanita dan laki-laki di gerombolan itu tampak terkesiap dengan ketampanannya. Lelaki itu memang tampan, Luhan menggumam dalam hati. Merasa kesal karena mau tak mau dia harus mengakui kebenaran yang terpampang di depannya.

Dengan rambut coklat yang sedikit acak-acakan, mata coklat muda yang dalam tapi tajam, bibir tipis yang melengkung jantan, dan tulang pipi tinggi yang membentuk sudut wajahnya sedemikian rupa, diimbangi dengan jas hitam legam yang membungkus tubuh ramping berototnya dengan pas, membuatnya tampak seperti malaikat tampan dengan nuansa jahat yang mempesona.

Kai tampaknya tahu sedang diperhatikan dengan terkesima oleh gerombolan laki-laki dan wanita muda itu, tetapi dia sama sekali tidak menatap mereka. Matanya terpaku menatap Luhan, dan senyum miring muncul di bibirnya,

"Kau cantik sekali sayang", Kai meraih Luhan, merangkul pinggang Luhan dengan lembut, lalu mengecup hidung Luhan mesra, "Dari semua wanita dan laki-laki cantik di ruangan ini, kau yang paling cantik. Yang lainnya cuma sampah", Kai mengucapkan kata-kata itu dengan lantang, yang terdengar langsung oleh gerombolan laki-laki cantik dan wanita itu. Suara terkesiap terdengar dari sana, dan ketika Luhan menoleh, laki-laki cantik dan wanita itu tampak berdiri dengan wajah merah padam, malu luar biasa atas hinaan Kai. Lalu dengan berbagai alasan, mereka membubarkan diri dan berpindah tempat.

Kai terkekeh, melihat tingkah mereka. Lalu menunduk dan menatap Luhan, senyumnya langsung hilang,

"Jangan coba-coba melarikan diri dan jangan mencoba meminta tolong pada siapapun di sini, mereka tidak akan bisa menolongmu, dan kalau sampai aku tahu kau melakukannya, kau akan dihukum", bisiknya dingin. Sikapnya berubah kaku dan dia melepaskan pelukannya dari Luhan, dan tanpa kata-kata lagi meninggalkan Luhan.

Luhan termangu, masih terpesona oleh pertunjukan sandiwara kasih sayang yang diperagakan Kai tadi. Apakah lelaki itu sengaja melakukannya untuk membelanya dari gerombolan laki-laki cantik dan wanita jahat itu?

"Sungguh kekasih yang baik", sebuah suara lembut terdengar di belakangnya. Luhan menoleh dan berhadapan dengan laki-laki cantik berbaju putih yang tersenyum lembut kepadanya. Mungkin laki-laki cantik inilah satu-satunya tamu pesta ini yang mau menyapanya.

"Siapa?", Luhan mengernyit ketika menyadari komentar laki-laki cantik itu barusan, laki-laki cantik itu tertawa kecil, bahkan tawanya pun terdengar merdu, Luhan membatin dalam hatinya.

"Kim Kai, kekasihmu", Laki-laki cantik itu mengedikkan bahunya ke arah kepergian Kai, "Dia membelamu dengan gagah berani dihadapan laki-laki cantik dan wanita menjengkelkan itu..ups", laki-laki cantik itu menutup bibirnya dengan jemarinya yang lentik, "Aku tidak boleh mengatakannya, tapi mereka memang menjengkelkan bukan? Kalau bukan karena suamiku, aku tidak akan mau menghadiri pesta ini dan berbaur dengan mereka", laki-laki cantik itu tertawa lagi.

Dia laki-laki yang bahagia, Luhan membatin dalam hati. Laki-laki cantik yang bahagia, ralat Luhan. Dengan tuxedo putih keemasannya yang indah, tatanan rambut sempurna, make up sederhana, dan tatapan matanya yang berbinar-binar penuh cinta. Laki-laki cantik di depannya ini tampak memancarkan kebahagiaan. Suaminya pasti sangat mencintainya, Luhan mengambil kesimpulan dalam hati.

"Ah ya maaf, aku mengoceh ke sana kemari, tetapi lupa memperkenalkan diri", laki-laki cantik itu mengulurkan tangannya dan tersenyum, "Aku Key" Senyum ramah laki-laki cantik itu menular, Luhan membalas uluran tangan Key dan ikut tersenyum lebar,

"Luhan", gumamnya memperkenalkan dirinya, "Terima kasih sudah mau menyapaku"

Key tersenyum lagi, dan menatap ke arah gerombolan laki-laki cantik dan wanita tadi yang sekarang sudah saling berpencar dan asyik bergosip satu sama lain,

"Jangan pedulikan mereka, mereka hanya iri padamu" Luhan mengernyit,

"Iri padaku? Kenapa?"

"Ah kau pasti tak pernah mendengar dunia luar", Key tertawa lagi, "Gosip menyebar dengan cepat di dunia elit ini. Kau adalah laki-laki yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini"

"Kenapa?", Luhan menatap Key penuh ingin tahu.

"Karena Kim Kai, taipan paling dingin di sini, mengajakmu tinggal bersamanya di rumahnya", Key mengedikkan dagunya, "Meskipun memiliki banyak kekasih, Kai dikenal berprinsip mensterilkan rumahnya dari kehadiran laki-laki cantik maupun wanita. Tidak pernah ada satu laki-laki cantik dan wanita pun selain pelayan yang bisa tinggal di rumah ini. Bahkan katanya, kekasih-kekasihnya yang dulu belum pernah ada yang menginap di rumah ini, Kai lebih memilih menemui kekasih-kekasihnya di hotel miliknya", Key menatap Luhan dan tersenyum, "Kaulah satu-satunya laki-laki yang diajaknya tinggal dirumahnya, dan bahkan tak keluar-keluar sampai sekarang. Mereka semua merasa iri, karena apa yang kau alami adalah impian mereka semua, tinggal bersama dengan bujangan paling diminati di sini"

Luhan tercenung. Mereka semua tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Luhan bukan kekasih Kai, dia tinggal di rumah ini bukan sebagai kekasih Kai, tetapi lebih seperti tawanan. Dia disekap dan dilecehkan semau Kai.

"Apakah kau juga salah satu dari mereka? Mengagumi ketampanan Kai?"

Spontan Key tertawa mendengar pertanyaan Luhan.

"Tidak, menurutku suamiku yang paling tampan di dunia ini. Aku tidak sempat mengagumi lelaki lain", Key tersenyum dan matanya berbinar penuh cinta ketika membayangkan suaminya.

Luhan memalingkan muka, tiba-tiba merasa sedih menyadari betapa beruntungnya Key dibandingkan dirinya. Laki-laki cantik itu tampak begitu bahagia dan tanpa beban, sedang dirinya, bahkan dia tidak tahu akan dijadikan apa dirinya oleh Kai. Mata Luhan berkaca-kaca ketika membayangkan kegagalan rencananya untuk melukai Kai yang malah membuatnya terjebak dalam cengkeraman lelaki iblis itu.

Key memperhatikan raut kesedihan di wajah Luhan, dan dahinya berkerut,

"Kenapa Luhan? Kau sakit?"

Luhan menatap Key lagi, laki-laki cantik ini baik hati, mungkin saja Key bisa menolongnya...

"Tolong aku...", Luhan berbisik lemah, takut suaranya ketahuan, oleh Kai ataupun para pengawalnya yang bertebaran di mana-mana, "Tolong aku keluar dari sini"

Key mengernyit, jelas-jelas merasa kaget mendengar permintaan Luhan, matanya menatap penuh tanda tanya,

"Apa Luhan? Tapi... Bukankah.."

"Disini kau rupanya, aku mencarimu kemana-mana sayang", suara yang dalam itu mengalihkan perhatian Key dari Luhan.

Luhan menoleh dan terpesona menatap Lelaki yang melingkarkan lengannya di pinggang Key dengan posesif. Lelaki itu luar biasa tampan, dengan rambut cokelat yang berpadu nuansa keemasan dan mata sipit dengan iris berwarna coklat pekat. Key rupanya tidak main-main ketika mengatakan bahwa suaminya luar biasa tampan. Luhan pun, kalau memiliki suami setampan itu, pasti tidak akan mau melirik lelaki lain.

"Jinki", Key bergumam lembut, pipinya memerah, tampak malu-malu atas kemesraan terang-terangan yang dilakukan Jinki.

Suami Key tampak amat sangat mencintai isterinya, Luhan berkesimpulan dalam hati. Lelaki itu menatap Key seolah-olah akan melahapnya.

"Kita harus segera pulang. Mari kita berpamitan dulu pada tuan rumah"

"Tapi Jinki, kita baru sebentar di sini... Apakah sopan kalau..."

"Ssshh", Jinki menghentikan protes Key dan menyentuh bibir Key dengan jemarinya lembut, "Aku lebih ingin berada di rumah, bersama isteriku", gumamnya penuh arti.

Siapapun mengerti apa maksud kata-kata Jinki. Bukan hanya Key, pipi Luhan pun memerah mendengar nada kepemilikan penuh gairah Jinki kepada isterinya. Key menyentuh lengan Jinki lembut, mengalihkan perhatian Jinki yang tampaknya tidak bisa lepas dari isterinya kepada Luhan,

"Ini, kenalkan, Luhan", gumam Key lembut.

Luhan mengulurkan tangannya dengan sopan, dan Jinki menjabat tangannya, lalu menatapnya dengan tajam. Membuat Luhan merasa nyalinya sedikit menciut di bawah hujaman tatapan tajam dari mata sipit berwarna coklat pekat itu.

"Luhan yang itu?", ada tanya dalam suara Jinki, Key menyentuh lengan Jinki lagi, mengingatkannya, lalu menatap Luhan penuh permintaan maaf,

"Gosip cepat menyebar, bahkan di kalangan suami", gumamnya pada Luhan, meminta pengertian.

Luhan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ada sedikit kekecewaan terbersit di hatinya. Jinki sepertinya rekan bisnis Kai. Kalau begitu, pupus sudah harapannya meminta bantuan kepada Key.

"Ayo sayang, kita berpamitan", Jinki mengangguk pada Luhan, lalu menarik pinggang isterinya untuk mengikutinya.

"Tunggu sebentar", Key mengeluarkan kartu emas kecil dari tasnya, "ini kartu namaku", digenggamkannya kartu nama itu di jemari Luhan, "Hubungi aku kapan saja kau mau. Aku pikir kita bisa bersahabat"

Dan kemudian, pasangan sempurna itu menjauh dan tenggelam di keramaian pesta. Meninggalkan Luhan yang masih berdiri terpaku di sana, menggenggam kartu nama itu erat-erat seolah hanya itulah tiket penyelamatannya.

"Dia meminta tolong kepadaku", Key mengernyit sambil merebahkan kepalanya di dada Jinki. Lelaki itu masih berbaring santai dengan mata terpejam, menikmati saat-saat tenang setelah percintaan mereka yang panas,

Mata Jinki terbuka, menatap Key penuh ingin tahu, "Siapa sayang?"

"Luhan, kekasih Kai"

Jinki tercenung, lalu mengangkat bahunya, "Kurasa kita tidak usah ikut campur dalam urusan Kim Kai. Dia rekan bisnis yang luar biasa, dan aku senang perusahaanku menjalin kerjasama dengan perusahaannya, Tetapi dari segi pribadi...", Jinki mengusap-usapkan jemarinya di punggung telanjang Key, "Aku tidak terlalu menyukainya"

"Kenapa?", Key menatap Jinki ingin tahu,

"Yah... Kai terkenal sangat...kejam. Dia berpenampilan dingin dan kaku, tetapi ketika terusik, dia tak punya ampun. Kadang-kadang aku sedikit tak simpati atas sikap tak berbelas-kasihannya"

"Kalau begitu aku semakin mencemaskan Luhan", Key mengingat permohonan Luhan tadi kepadanya, "Dia minta tolong kepadaku untuk membantunya melepaskan diri dari rumah itu. Pandangannya begitu tersiksa, apakah mungkin Kai menyanderanya di rumah itu dengan paksa?"

"Mungkin saja", Jinki mengecup dahi Key lembut, "Tetapi seperti kataku tadi, itu bukan urusan kita"

"Setidaknya maukah kau mencoba berbicara dengan Kai? Kau ada pertemuan besok pagi dengannya kan?", Key menatap Jinki penuh permohonan. Ada kecemasan di suaranya, apalagi ketika mengingat betapa Luhan tampak sangat tersiksa ketika memohon kepadanya tadi.

Jinki terkekeh, lalu menggulingkan tubuhnya menindih tubuh Key, "Baiklah tuan puteri, akan kucoba", didekatkannya wajahnya ke wajah Key, menggoda bibir Key dengan usapan bibirnya yang panas, "Sekarang bisakah kita menghentikan pembicaraan kita tentang orang lain dan bercinta lagi?"

Key tidak menolak, bercinta dengan Jinki selalu menjadi kegiatan yang luar biasa menyenangkan.

TBC

Annyeong chingudeul :D

Mumpung aku ada waktu, jd aku ngepost ff remake'a ini ne ^^

Gomawo yg uda nunggu ff ini update n jg yg uda nge-review chapter sebelumnya :) #deepbow

Mianhae klo ga menyebutkan namanya satu-persatu #deepbow

Kamsahamnida chingu :D #deepbow

Ditunggu reviewnya chingu :)