Disclaimer dsb. masih sama seperti di chapter-chapter sebelumnya.

Note : maaf kalau lama update, selain gak ada waktu, modem saya rada-rada error, sempetnya baru sekarang...
balasan review akan digabung di chapter terakhir


Buka Puasa Bersama

Chapter 3 : Let's Do It

.

.

Plan A : Batalkan Pesanan Akashi

Saat ini, Kisedai yang pasti minus Akashi sedang berjalan di trotoar, kalau berjalan di jalan raya, nanti bisa ketabrak mobil atau motor atau bahkan truk.

"Nah, kita sampai," kata Kise begitu mereka sampai di depan sebuah 'Warung Unlimited'. 'Nama warungnya sugoi banget,' batin Kisedai sambil sweatdropped.

Mereka pun masuk ke warung tersebut. Oh, ya, warung itu adalah warung tempat di mana Akashi memesan makanan untuk buka puasa bersama besok Sabtu. Dari mana mereka tahu? Tentu saja tanya Momoi, lewat jasa Kuroko.

"Permisi, mbak," sapa Kise pada salah satu pelayan warung yang ternyata suasananya sangat futuristic itu. Bagian dalam warung itu seperti bagian dalam sebuah pesawat luar angkasa, bahkan Kisedai sempat kepikiran kalau tempat ini adalah warung milik alien. Memang, sangat ngawur sekali mereka ini.

"I-iya, ada yang bisa saya bantu, mas?" balas pelayan yang disapa cowok kuning tadi, terlihat segaris warna pink di pipinya, mungkin efek dari senyuman manis Kise yang bisa membuat cewek-cewek –yang nge-fans dia- langsung pingsan karena anemia.

"Begini, mbak. Kami ini adalah teman-teman Akashi Seijuuro, yang memesan makanan di warung ini untuk buka puasa hari Sabtu besok," Kise berdehem dulu," Nah, kedatangan kami ke sini adalah untuk mewakili Akashicci untuk membatalkan pesanannya itu."

Pelayan itu terdiam. Tidak berkedip sedikitpun.

"Anu, mbak?" panggil Kise, melambaikan tangannya di depan pelayan itu.

Akhirnya pelayan itu tersadar,"A-ah, ya. Apa yang Anda katakan tadi?"

Sumpah, nih pelayan langsung bikin Kisedai jatuh dengan tidak elitnya seketika itu juga.

"Mbak, sebenernya mbak itu tadi denger gak sih saya bilang apaan?" tanya Kise agak emosi.

"Ma-maaf, tadi saya agak melamun, jadi-," pelayan itu tidak meneruskan kalimatnya. Kenapa? Karena Kisedai lain di belakang si ahli copycat itu sudah memberi death glare paling mengerikan.

"Hah.. Saya ngerti kok, mbak. Jadi, gini, kami ke sini mau membatalkan pesanannya Akashi Seijuuro," ujar Kise, menatap sang pelayan dengan tatapan intens. Seketika, sang pelayan itu jatuh pingsan.

Kisedai langsung sweatdropped.

"Oi, Kise. Sepertinya kau jangan keluarkan aura 'model'-mu di sini," nasihat Aomine, menepuk-nepuk pundak Kise.

"Hai," Kise pun langsung merana.

"Eh? Kok, bisa pingsan?" seru seorang wanita yang baru saja keluar dari sebuah pintu di belakang pelayang yang pingsan tadi. Dia menoleh ke arah cowok-cowok beda warna rambut yang masih diam terpaku di tempatnya, walau gak ada paku.

"Ada apa ya, mas?" tanya wanita itu. Dia memandang datar pada Kisedai, sepertinya dia tidak terpengaruh oleh aura 'model' Kise, atau Kise sudah menghilangkan aura-nya itu? Author gak tahu yang mana yang bener.

"Gini, mbak. Kami ke sini mau membatalkan pesanannya Akashi Seijuuro," jawab Kise, dia sudah puas merana rupanya.

Si wanita paruh baya berambut coklat bergelombang itu menghela napas sejenak, kemudian berkata,"Maaf, pesanan yang sudah tinggal 1 hari lagi diambil tidak bisa dibatalkan," dengan tatapan dan nada yang sangat sadis.

"Ano, tidak bisakah dibuat pengecualian untuk kali ini?" tanya Kise, wajahnya sama dengan Kisedai lain, sweatdropped.

"Tidak bisa," wanita itu memandang Kisedai dengan tatapan membunuh,"Sekali saya bilang tidak, tetap tidak. Dan kalau urusan kalian di sini hanya itu, silakan pergi dari sini."

"Tapi–," Kise hendak memprotes, tapi langsung dipotong wanita bertampang sadis itu.

"Tidak ada tapi-tapian! Pergi dari sini atau kubunuh kalian!" seru pelayan wanita sadis itu, mengacungkan sebuah pisau dapur yang entah dia ambil dari mana.

Sontak, Kisedai langsung ngacir dari tempatnya dan langsung hilang bagai ditelan titan dari fandom sebelah.

Wanita bersurai coklat itu terdiam, lalu menyeringai,"Hahaha…! Tidak sia-sia juga aku membeli coklat berbentuk pisau ini," menatap pisau alias coklat yang dipegangnya sambil tertawa-tawa nista.

Kembali ke Kisedai yang tanpa Akashi..

"Hh.. Hh.. Yang tadi itu bener-bener nakutin," ucap Kise di sela-sela dia mengambil napas.

Temen-temennya cuman ngangguk-ngangguk membenarkan.

Saat ini Kisedai sudah ada di depan sebuah taman 1 kilometer dari Warung Unlimited.

"Jadi, rencana yang ini gagal nih?" tanya Aomine, dia masih agak ngos-ngosan.

"Iya," jawab Midorima disertai anggukan.

"….." Murasakibara cuman ngangguk-ngangguk.

"…" Kuroko sudah pingsan di tempat.

Dan 20 menit berlalu untuk membangunkan Kuroko Tetsuya tercinta. Dengan menepuk-nepuk pipinya lembut sampai kasar, memberikan wangi-wangian agar dia cepat bangun, bahkan ada yang sampai ingin memberikan Kuroko napas buatan. Siapa yang berniat kayak gitu? Gak tahu, tapi kelihatannya mereka semua kepingin. (Author : Woi! Bulan Puasa, woi! | Kisedai : Makanya jangan ngetik begituan! | Author : … #pasang headset, ndengerin music)

Setelah Kuroko bangun….

"Yosh! Kalau begitu, kita langsung saja ke Plan B!" seru Kise dengan semangat kemerdekaan. Maklum, bentar lagi HUT Negara kita (gak ada hubungannya.. #plak)

"Pastikan yang ini tidak akan gagal," kata Aomine mengintimisadi Kise dengan tatapan membunuh plus background hitam di belakangnya.

Murasakibara dan Midorima pun sama keadaannya dengan Aomine. Kalau Kuroko biasa-biasa saja.

.

.

Plan B : Curi semua bahan-bahan dan alat-alat untuk memasak di Warung Unlimited

"Aominecchi, jangan dorong-dorong," bisik seseorang bersurai kuning.

"Berisik, jangan salahin gue, salahin si mata empat yang di belakang ini, nih," balas yang lain yang bersurai biru gelap.

"Ahomine! Berani-beraninya lo nyalahin gue, salahkan saja Murasakibara yang dari tadi dorong-dorong gue terus," balas yang lain lagi, yang bersurai hijau.

"Mido-chin, maaf," sahut orang yang di belakang si hijau, yang bersurai ungu.

"Teman-teman, cepatlah," ujar yang terakhir, bersurai biru muda.

Tunggu, ini ngapain pada bisik-bisik? Lagi melakukan 'sesuatu' atau apa? Penasaran? Lihat di bawah ini…

.

.

Saat ini, Kisedai sedang mengendap-endap menuju pintu belakang Warung Unlimited. Mereka ini sedang menjalankan Plan B Kise, yaitu…

Flasback, saat Kise sedang menjelaskan rencananya…

"Mengambil bahan-bahan dan alat-alat untuk memasak?" tanya Midorima.

"Sumpah, yakin lo?" seru Aomine dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan.

"He-eh! Kalau nih warung gak punya bahan-bahan dan alat-alat kan berarti mereka gak bakalan bisa masak," balas Kise, dengan mata berbinar-binar, seperti anak kecil yang ngusulin temennya buat ngerjain tetangga.

"Tapi, itu namanya mencuri, tindakan tidak terpuji, Kise-kun," Kuroko sekarang mirip seorang kakak yang lagi nasihatin adiknya yang nakal.

"Kuro-chin benar," Murasakibara cuman ngangguk-ngangguk doang, sepertinya dia bingung mau bilang apa.

"Tapi, kalian gak punya ide lain selain ini kan?" bentak Kise dengan menggebrak meja, dia sudah mulai emosi.

"I-iya, sih," Aomine sampai sweatdropped.

"Kalau begitu kalian tidak ada pilihan selain menerima rencana ini kan?" bentak Kise lagi, hampir mengangkat meja di depannya, tapi langsung dicegah Kuroko.

"Benar," Midorima sudah pasrah, gak kuat ngadepin sikap kerasnya Kise (emang Kise itu batu ya? #dibuang), plus takut kalau nanti marah-marah pahala puasanya berkurang.

"Berarti kalian setuju kan?" bentak Kise, memasang senyum puas ala pegawai kantoran yang maksa atasannya untuk ngasih THR.

Mau tak mau, alias terpaksa mau, Kisedai lain mengangguk, tanda mereka setuju.

Flashback end..

Kembali ke kegiatan mengendap-endapnya Kisedai…

Cklek!

Pintu belakang dari Warung Unlimited telah dibuka dengan sukses aman sentosa oleh Kise. "Yosh," gumam Kise puas. Model berambut kuning ini pun segera melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang diyakini sebagai dapur.

Dilihatnya di ruangan itu tidak ada orang, ia pun menoleh ke keempat temannya seraya membuat gesture 'Aman' dengan tangannya. Empat orang lain di belakangnya mengangguk kecil, kemudian ikut memasuki ruangan tersebut.

"Aominecchi, kau urus yang di sana. Midorimacchi, kau yang di sana. Murasakibaracchi, ambil yang di pojokkan sana. Kurokocchi, ambil yang ada di lemari itu. Dan aku akan mengambil yang ada di meja itu," bisik Kise, menunjuk tempat-tempat di mana barang-barang yang mereka incar berada.

Kisedai lain –yang tanpa sadar – diperintah Kise hanya mengangguk dan segera melaksanakan tugas masing-masing.

Kriet… (bunyi pintu rusak)

"Hah… Kenapa harus kita yang memasak untuk pesanan orang gak jelas itu sih?" gerutu seorang wanita, yang baru saja melangkah memasuki ruangan di mana Kisedai saat berada.

"Iya, padahal gue hari ini lagi puasa, udah capek bang –," wanita yang satu lagi, menanggapi gerutuan temannya, tapi kalimatnya tiba-tiba berhenti.

"Ada apa?" wanita pertama menoleh ke temannya. Temannya speechless hanya mampu mengangkat tangan dan menunjuk ke depan dengan jari telunjuknya.

"Mereka –siapa?" tanyannya. Wanita pertama ikut melihat ke depan, seketika dia speechless.

Orang-orang yang sudah ada di ruangan –dapur – itu seketika menengok ke arah 2 wanita berpakaian pelayan nyentrik yang masih berdiri mematung di ambang pintu.

"A-ano," Kise hendak bicara, tapi berhenti di awal-awalnya. Semuanya yang ada di situ ikut diam.

1 detik

1.57 detik

2.33 detik

2.5 detik

3.4 detik

–dan seterusnya, pokoknya beberapa detik kemudian….

"Kyaaa! Kalian siapa!? Maling!?" seru salah satu pelayan wanita pertama –yang rambutnya pendek sebahu.

"Mau apa kalian di sini!? Mau maling apaan!?" seru yang satu lagi –yang rambutnya dikuncir kuda (bukan hewan) ke belakang (masa' ke depan? ).

"Bu-bukan, kami bukan maling," balas Kise gelagapan.

"Kalau bukan maling, terus apaan? Ngapain kalian bawa-bawa bahan makanan dan alat-alat memasak di sini!?" seru pelayan pertama, dia sudah mengangkat kursi terdekat ke atas tinggi-tinggi, tapi gak tinggi banget.

"Ka-kami cuman mau meminjam. Ya, hanya meminjam, ya kan teman-teman?" cowok kuning itu menoleh bergantian ke teman-temannya meminta secercah harapan bantuan.

Sayangnya, Kisedai malah diem aja. Aomine malah memberi tatapan 'Jangan libatkan gue'.Kalau Midorima tatapannya 'Ini semua salah lo, jadi tanggung sendiri'. Murasakibara cuman menguap, entah ngantuk atau kekurangan oksigen. Kuroko cuman menatap Kise datar.

Kise semakin gelagapan, kecewa, sedih, dan semacamnya, karena teman-temannya tidak ada yang mau membantu.

"Jadi, kalian ini emang maling kan!?" pelayan kedua tampaknya tidak tanggung-tanggung, dia sudah mengangkat meja terdekat ke atas gak terlalu tinggi –mungkin berat.

"Yah, gimana ya. Dibilang maling, bukan. Dibilang bukan maling juga bukan. Hehehe…" sahut Kise, berjalan mendekati pintu masuk Kisedai tadi sambil berbisik, "Begitu kubuka pintunya kita semua langsung pergi dari sini," pada teman-temannya yang masih menatapnya cengo.

Empat cowok beda tinggi itu hanya memberi respon dengan sebuah anggukan yang disertai tegukan ludah masing-masing, sama nervous-nya dengan Kise saat ini.

"Jawab yang bener, bocah sialan!" seru wanita yang ngangkat kursi, hawa-hawa horror sudah menguar dari tubuhnya.

Cklek!

Kise berhasil membuka sedikit pintu di belakangnya. Kisedai yang mendadak pendengarannya jadi setajam— apaan ya, gak tahu— sontak bersiap-siap dalam posisi hendak berlari.

"Gak mau jawab rupanya," ujar wanita yang megang meja sambil memasang serangai ala tokoh-tokoh psikopat.

"Rasakan ini!" seru pelayan yang ngangkat kursi, langsung ngelempar kursinya ke arah Kisedai yang entah sejak kapan sudah berkumpul di ambang pintu, dengan kecepatan dewa tentu saja.

"Matilah bocah sialan!" seru pelayan yang megang meja, sama seperti temannya langsung melempar mejanya ke arah Kisedai dengan kecepatan yang gak kalah dewanya.

Kisedai yang sudah bersiap-siap lari dari tempat itu, menyempatkan diri melihat ke belakang. Meski perbuatan mereka itu malah mengakibatkan mereka seketika membatu.

Wusss…! Kursi besi dan meja baja sedang terbang ke arah Kisedai.(Readers : Perasaan kecepatannya dewa, deh. Kok lama amat nyampenya? | Author : Dapur itu tuh luasnya seluas lapangan sepak bola, jadi butuh waktu agak lama buat kursi sama meja itu nyampe ke Kisedai. #buat tanda piece | Readers : What? Itu beneran dapur apa lapangan!? Kalo buat setting tuh yang bener dikit napa! | Author : *cuman bisa nyengir gaje doang* )

"Minna, kita harus lari," ujar Kuroko dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa. Dia sepertinya gak panic atau hal semacamnya. (Saya aja gak tahu, kok bisa-bisanya di Kuro-chan masih bisa tenang adem ayem, walau situasi mereka sudah berada di ambang kelemparan #loh)

Now loading….

Otak Kisedai masih memproses kata-kata Kuroko dan keadaan yang sedang mereka alami saat ini.

50%

Mereka sudah bisa menangkap keadaan mereka saat ini. "Kami bakalan mati kalau sampai kena kursi sama meja abnormal itu," gumam Kisedai dalam hati.

70%

"Tadi Kuroko ngomong apaan? Lari?"

95%

"Oh, ya. Lari! Tapi, lari dari apa?"

99%

"Baru inget! Kita harus lari sebelum kena kursi sama meja terbang itu!"

100%

Nah, barulah mereka bisa secara lengkap mengerti akan situasi yang sepertinya sangat abnormal itu sekarang.

"LARIII!" Kisedai langsung lari dari sana sambil teriak-teriak ala tokoh-tokoh anime yang dikejar-kejar monster.

Tepat saat Kisedai baru lari sekitar 5 langkah, kursi dan meja yang terbang tadi telah mendarat dengan mulus persis di tempat tadi Kisedai berdiri.

Kisedai yang masih dalam pelariannya sempat-sempatnya menoleh ke belakang. "Syukur Alhamdulillah, untung kita udah lari," batin kelimanya.

"Woi! Balik sini! Jangan kabur!" seru kedua pelayan nista tadi yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu belakang –pintu masuk dan keluar Kisedai.

Terlihat di depan mereka, sudah tidak ada tanda-tanda manusia yang mirip Kisedai. Menoleh ke kiri, gak ada. Ke kanan, tetep gak ada.

"Wah, cepet amat kaburnya," gumam pelayan yang bersurai pendek.

"Mereka emang kelihatan atletis,sih. Kecuali yang badannya paling kecil," sahut pelayan yang lain.

"Yah, kalau udah kabur, gimana lagi. Biarin aja, toh barang-barang kita selamat semua," pelayan yang tadi ngelempar kursi hanya bisa mnghel napas.

"Iya, kita masuk aja, deh. Kalau pekerjaan kita gak segera diselesein, nanti gaji kita bisa dipotong. Atau parahnya, kita gak bakalan dapet THR," sang pelayan yang ngelempar meja tadi sedikit merinding.

"Setuju," balas pelayan sang pelempar kursi sadis. Orang di sebelahnya mengangguk, kemudian menutup pintu setelah melangkah masuk ke dalam ruangan dapur itu.

Srek! Srek!

Terdengar bunyi semak-semak yang bergerak-gerak, bukan berarti ada hantunya. Karena ternyata, dari semak-semak di depan pintu belakang Warung Unlimited itu segera muncul 5 orang pemuda yang rambutnya warna warni.

"Fuh, hampir saja, kita mati di sini," ujar Aomine dengan sok coolnya, menyeka keringat yang sebenarnya gak ada di sekitar di keningnya.

"Iya, untung Kuroko tadi nyadarin kita," sahut Midorima, pura-pura ngos-ngosan.

"Hosh.. Hosh.." Kuroko malah berkeringat dan ngos-ngosan beneran.

"Kuro-chin, kamu gak apa-apa?" tanya Murasakibara sambil menepuk-nepuk punggung Kuroko.

Kuroko cuman bisa ngangguk.

"Gue heran, pelayan di warung itu pada sadis-sadis semua atau emang mereka disuruh gitu? Dari tadi kita hampir mati terus," gumam Aomine, sok mikir.

"Entahlah," MIdorima gak mau ambil pusing, tak lupa dia membenarkan posisi kacamatanya yang sempat melorot.

"Ano, teman-teman," Kise yang dari tadi diem aja, akhirnya ngomong juga.

"Apa?" sahut Kisedai dengan aura mencekam, kecuali Kuroko yang masih ngos-ngosan, berhasil membuat Kise merinding sejenak.

"Itu, ini kan sudah 09.55. Jadi—," Kise menelan ludah sedikit,"Sebaiknya ki-kita segera kembali ke se-sekolah sekarang," entah kenapa Kise jadi agak gelagapan.

Oh, ternyata karena Kisedai lain sudah memasang death glare paling menakutkan mereka.

Hening….

Loading again…..

25%

30%

50%

70%

90%

100%

"Bener juga! 5 menit lagi Akashi dateng!" teriak Kisedai –minus Kise dan Kuroko. Mereka bertiga langsung ngacir menuju gym sekolah mereka. Meninggalkan Kise dan Kuroko yang masih melongo.

"Woi! Temen-temen! Tunggu!" seru Kise, hendak berlari mengejar Kisedai. Tapi, tiba-tiba dia merasa kalau ujung bajunya ditarik seseorang di belakangnya.

"Kise-kun, jangan tinggalkan aku," ucap Kuroko dengan muka melas tingkat dewa. Ditambah dengan nada yang sangat menyayat hati, permintaan Kuroko langsung membuat Kise seketika takluk.

"Kau bisa berlari tidak?" tanya Kise pada Kuroko yang masih masang tampang melas.

"Sepertinya tidak," jawab Kuroko, mempererat pegangan tangannya pada ujung baju Kise.

"Kugendong saja, ya," ujar Kise yang sudah kelewat takluk dengan muka melas Kuroko.

"Gak apa-apa, nih? Kalau Kise-kun kecapekan nanti gimana?" tanya Kuroko, belum melepas raut wajahnya yang sangat melas sekali itu.

"Gak apa-apa, aku kuat, kok," balas Kise, tersenyum sangat manis –yang bisa membuat fans-fansnya klepek-klepek.

Kuroko akhirnya mengangguk. Kise segera berjongkok di depan Kuroko, membelakanginya. Kuroko yang sudah pasrah, segera mendekati Kise dan melingkarkan tangannya di leher pemuda blonde itu. Kise yang merasa Kuroko sudah siap, perlahan-lahan berdiri, melingkarkan kedua tangannya masing-masing di lutut belakang Kuroko.

"Kau sudah siap, Kurokocchi?" tanya Kise, mengeratkan tangannya pada kaki Kuroko.

"Un," sahut Kuroko, memeluk leher Kise lebih erat.

"Yosh, ikou!" seru Kise, seketika melesat berlari searah dengan ketiga teammate-nya yang sudah sejak tadi pergi.

Kise terus berlari menuju sekolahnya, tidak peduli Kuroko yang terus memintanya untuk tidak berlari terlalu cepat.

.

.

.

.

Dan— pada akhirnya, Plan A dan Plan B Kise gak ada yang berhasil. Terus, apa rencananya cuman ini, doang? Gak mungkinlah.. Masih ada lagi kok.. Tunggu aja di next chapter.. XD

Jaa ne~ *tebar kertas ulangan harian


Blablabla-nya yang biasanya di sini masih tetep sama kayak kemarin, jadi gak perlu ditulis kan.. ;)

Udah itu aja, see you in the next chapter..

Salam,

Yurisa Iru