"Jadi, Otou-sama memaksamu untuk membaca buku sejarah perihal Kerajaan ini?"

Anggukkan kepala Ichigo membuat gadis Kuchiki tersebut tersenyum tipis. Setelahnya, ia justru tertawa kecil mendapati wajah Ichigo yang kembali menekuk seperti saat ia menceritakan kegiatan pertamanya yang membosankan—membaca sebuah buku tebal di perpustakaan Istana.

"Tidak usah merengut seperti itu," Rukia menegur ketika ekspresi masam masih berada di wajah pemuda ini. "Aku yakin Otou-sama memiliki maksud yang baik. Jangan menilainya dengan pandangan negatif, ne, Ichigo."

Pemuda berambut jingga itu menghela nafas.

"Lalu kau sudah menyelesaikan semua bacaannya?"

Ichigo menggeleng. "Aku terlalu malas untuk membaca berlembar-lembar kisah yang dituliskan di sana. Kau tahu, aku ini tipe orang yang tidak senang melakukan sesuatu di balik meja. Aku lebih senang melakukan hal yang menantang dan memacu adrenalin."

Rukia tersenyum tipis. "Aku tahu. Terbaca jelas di wajahmu, Ichigo, kalau kau termasuk tipe petualang."

Ichigo diam.

"Kalau begitu, kau lebih senang membaca atau mendengarkan?"

Berpikir sebentar sebelum Ichigo akhirnya menjawab, "tidak keduanya, kurasa. Namun bila disuruh memilih, aku lebih baik mendengarkan dibanding diperintahkan oleh Byakuya-sama untuk membaca."

Gadis bermata violet itu tertawa kecil. "Kalau begitu, biar kuceritakan sejarah singkatnya untukmu."

"Berhentilah menggunakan kata singkat."

Kening Rukia berkerut. "Kenapa?"

"Aku trauma dengan kata itu."

Dan Rukia hanya bisa tertawa geli saat mendengarnya.

#

.

.

Bleach © Tite Kubo

Love or Treason oleh Clarette Yurisa

[tatkala dua hal yang saling bertolak belakang memenuhi hati dan hidupmu]

.

.

#

"Saya menemukan pergerakan yang mencurigakan di perbatasan Utara, Byakuya-sama."

Laporan tersebut membuat Byakuya menghela nafasnya. Baru saja sebuah masalah pemberontakan berhasil diselesaikan dengan damai oleh Ichigo, kini muncul lagi pergerakan baru yang besar kemungkinannya berbahaya bagi Kerajaan yang tengah diperintahnya.

"Kau sudah menemukan pelopornya?"

Anggukkan kepala diberikan wanita berambut hitam pendek tersebut sebagai jawaban. Hanya saja, ia terlihat sedikit ragu-ragu. "Saya melihat Tuan Ichimaru Gin berada di sana sebagai pemimpin, Byakuya-sama."

Mata Byakuya membulat, terkejut. Pria berambut hitam tersebut terlihat gelisah dan senang di saat yang bersamaan. Pasalnya, Ichimaru Gin—orang yang berkhianat dengan memecah perang antar keluarga Bangsawan—berhasil ditemukan setelah sekian lama sosoknya sulit untuk dilacak keberadaannya. Sedikit heran Byakuya menerima informasi ini karena Gin merupakan sosok yang pandai menyembunyikan kehadirannya.

Bila keberadaannya kini berhasil ditemukan, ada dua kemungkinan. Pertama, ia memang lalai hingga salah seorang mata-matanya berhasil menemukan keberadaan Pria berambut perak tersebut.

Sayangnya, Byakuya merasa mustahil dengan kemungkinan pertama ini. Ichimaru Gin bukanlah orang yang sebodoh itu.

Berarti, kemungkinan kedua yang lebih tepat. Pria tersebut sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dan memperlihatkan gerakannya untuk membuat Byakuya merasa tertekan.

"Kau yakin, Soifon?"

"Saya yakin, Byakuya-sama," gadis itu menjawab mantap. "Hanya saja saya menemukan sebuah kejanggalan. Saya tidak yakin apakah memang mata saya yang melakukan kesalahan atau…"

"Jelaskan padaku, Soifon. Apa yang kau lihat hingga membuatmu ragu?" Byakuya memotong ucapan Soifon yang terdengar kebingungan dengan fakta yang semula dilihatnya.

"Saya… melihat Yamamoto-sensei ada bersama dengan Ichimaru-san, Byakuya-sama."

"Bagaimana mungkin?" suara Byakuya kali ini terdengar tidak percaya. Laki-laki tersebut terlalu terkejut hingga tidak bisa lagi mengontrol emosinya dengan pembawaannya yang biasa terlihat tenang itu.

"Saya juga tidak mengerti, Byakuya-sama, namun mereka terlihat akrab antara satu sama lain."

Byakuya menghela nafasnya.

"Selain itu, saya juga bertemu dengan Ulquiorra-sama."

"Ulquiorra?" Byakuya meniru ucapan Soifon sedangkan gadis itu membalasnya dengan anggukkan kepala yang mantap.

"Ulquiorra-sama baru saja melewati perbatasan hutan yang berada di daerah Timur-Laut ketika saya bertemu dengannya. Beliau mengatakan pada saya bahwa ia akan menemui Orihime Inoue-sama yang sedang tinggal di Kerajaan Anda, Byakuya-sama."

"Apakah ia mengatakan sesuatu untuk disampaikan padaku?"

Soifon mengangguk. "Byakuya-sama diminta untuk bersiap-siap membantu Ulquiorra-sama."

"Bantuan apa yang dia inginkan?"

"Mengadakan rapat besar yang dihadiri oleh seluruh bangsawan, kecuali kehadiran Ichimaru-san tentunya."

Pria berambut hitam itu terdiam, bingung. Menurut kabar yang beredar—bahkan kepastiannya-pun sudah ditetapkan kebenarannya—bahwa seluruh keturunan Bangsawan telah kehilangan nyawanya dalam penghianatan besar-besaran yang Gin lakukan.

Menurut yang diketahuinya, keturunan yang tersisa hanyalah ia—keturunan Kuchiki, Orihime Inoue, serta Ulquiorra; yang barusaja ia ketahui kalau pemuda tersebut berhasil selamat dari peristiwa pembunuhannya.

"Apa dia sedang berkhayal?" ucapan Byakuya terdengar retoris. Masalahnya, omongan Ulquiorra terdengar sedikit tidak masuk akal.

Soifon terdiam sesaat sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Rapat itu akan dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan sebuah perang besar yang akan terjadi dalam waktu dekat ini."

Byakuya memijit keningnya.

"Diperkirakan kalau pemimpin perang kali ini adalah—"

"Ichimaru Gin?"

Soifon menggeleng. "Bukan, Byakuya-sama. Ulquiorra-sama mengatakan pada saya bahwa pemimpinnya adalah Sousuke Aizen."

Untuk yang kesekian kalinya, Byakuya kembali dibuat terkejut oleh informasi yang datang bertubi-tubi kepadanya.

.

"Bagaimana, Unohana-san?"

Wanita berambut hitam panjang tersebut menatap pria yang muncul secara tiba-tiba di hadapannya. Wajahnya terlihat terkejut namun kembali tenang saat menyadari siapa pria tersebut.

"Berhasil, Lord-sama. Saya merasa senang karena penyelidikan dengan informasi yang sangat minim ini akhirnya bisa terselesaikan setelah memakan waktu nyaris sepuluh tahunan lamanya."

"Cukup lama juga waktu yang kita habiskan."

"Tentu saja," seorang wanita berkulit gelap menyeruak dalam perbincangan dua orang tersebut. "Informasi yang harus kita temukan bukanlah informasi yang mudah untuk didapat. Jadi aku tidak setuju dengan kalimatmu. Bagiku, sepuluh tahun bukanlah waktu yang lama untuk menyelesaikan penyelidikan ini."

"Yoruichi-san," sapa Pria yang dipanggil Lord-sama tersebut.

"Kupikir kau tidak akan kembali ke sini lagi."

Pria itu tertawa. "Kau meledekku."

Yoruichi tersenyum tipis sambil mengangkat kedua bahunya. "Dimana Neliel-san? Biasanya gadis itu selalu mengikutimu."

"Ada pergerakan baru. Aku menyuruhnya untuk memata-matai aktivitas mereka karena pemimpin pergerakannya adalah Ichimaru Gin," sahut pria itu sebelum menampilkan wajah seriusnya. "Aku menemukan banyak hal yang mencurigakan di sana."

"Maksudmu Sousuke Aizen."

"Kau benar, Yoruichi-san. Aku merasa pergerakan Gin hanyalah kamuflase, karena mustahil baginya untuk muncul secara mendadak dan diketahui berbagai pihak. Sifat itu sama sekali bukan tipikal seorang Ichimaru Gin."

"Mengenai masalah kematian Sousuke Aizen," kali ini giliran Unohana yang memotong celah, "itu semua memang benar hanya rekayasa. Setelah aku, Kisuke-san dan Yoruichi-sama mengumpulkan semua hasil pencarian kami untuk digabung menjadi satu, ada kemungkinan semua rekayasa kematiannya berhubungan dengan kekuatan pedang yang dimilikinya."

Kening Pria tersebut berkerut. "Bisa 'kah kau perjelas maksud kalimatmu, Unohana-san?"

"Kemampuan pedang yang dimiliki oleh Sousuke Aizen, berbeda dengan kemampuan pedang pada umumnya. Menurut saya, tipe pedangnya bukanlah tipe untuk menyerang akan tetapi lebih tepat bila dikatakan sebagai kamuflase; sesuatu yang digunakan untuk menipu," Unohana terdiam beberapa saat sebelum kembali melanjutkan, "dan bila kita sudah pernah terkena tipuannya, maka tidak ada kesempatan untuk menang melawan tipuan pedangnya tersebut."

"Itukah… shikainya?"

Unohana mengangguk. "Benar, Lord-sama. Kami bertiga berpendapat bahwa itu adalah shikai yang dimiliki oleh Sousuke Aizen."

"Bahkan tanpa bankai-pun, ia sudah memiliki shikai yang cukup kuat."

"Lalu perihal jasadnya," sambung Yoruichi, "kami juga menemukan kejanggalan. Unohana-san meyakini kalau tubuh tersebut terlihat aneh. Kami semua tidak tahu harus menggambarkannya bagaimana, akan tetapi kami yakin kalau itu bukanlah tubuh asli."

"Bukan tubuh mahluk hidup, lebih tepatnya," koreksi wanita berambut hitam panjang tersebut.

"Aku tidak menyangka kalau Aizen Sousuke memiliki banyak pion yang menarik untuk dimainkan," komentar pria berambut hitam tersebut. Setelahnya ia menghela nafasnya sebelum kembali meneruskan kata-katanya, "kematian memang kamuflase yang paling sempurna. Yang kuherankan hanya satu; mengapa ia menampakkan dirinya di muka umum setelah semua orang memvonis bahwa ia telah mati."

"Kau benar," timpal gadis berkulit gelap itu. "Para mata-mata Kerajaan atau bahkan Sepuluh Ksatria Bintang bisa saja menemukannya. Itu semua bisa menjadi ancaman baginya, bukan?"

"Benar. Aku sendiri bahkan tidak mengerti dengan jalan pikirannya."

.

"Jadi, menurutmu," —Rukia menyela dengan berkata: 'menurut cerita dari keturunan para Bangsawan, Ichigo' yang diacuhkan oleh Ichigo— "Lord itu bisa merasakan keberadaan setiap orang yang ada di bumi ini, begitu?"

Rukia terdiam sesaat. "Aku tidak tahu apakah ia bisa merasakan semuanya, tetapi yang aku ketahui Lord-sama bisa merasakannya pada para keturunan bangsawan. Lord-sama menyebutnya dengan sebutan reiatsu."

Ichigo mengangguk kecil, tanda mengerti.

"Sejujurnya, tidak hanya Lord-sama yang bisa merasakan reiatsu. Ada seorang keturunan bangsawan yang juga bisa menggunakan kekuatan ini. Sayangnya, keberadaannya sekarang tidak diketahui lagi. Sejak peristiwa berdarah itu, hampir seluruh bangsawan lenyap tidak tersisa. Banyak yang mengatakan kalau mereka sudah tiada, hanya saja aku masih tidak bisa percaya."

"Apa dia sehebat itu?"

Rukia mengernyit bingung.

"Maksudku, apa Ichimaru Gin sehebat itu?" Ichigo memperjelas pertanyaannya.

"Aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku masih belum ada di dunia ini saat itu, kalau kau belum tahu. Akan tetapi, menurut rumor yang beredar, Ichimaru-san adalah orang yang kuat. Memang pantas kalau ia dikatakan sebagai keturunan bangsawan."

"Dia masih hidup?"

"Aku berharap tidak. Sayangnya, ya, dia masih hidup."

"Kalau dia masih hidup, kenapa orang yang kalian sebut Lord-sama itu tidak segera membunuhnya? Gin termasuk salah satu bangsawan, berarti Lord-sama kalian pasti bisa menemukannya dengan mudah."

Rukia menggeleng. "Lord sudah menghilang, Ichigo. Dia sudah… mati."

Mata Ichigo membulat. "Bukankah dia kuat? Kenapa dia bisa mati semudah itu?"

"Aku juga tidak mengerti, Ichigo. Tidak ada yang percaya saat Lord dikalahkan. Para bangsawan juga tidak ada yang mempercayainya, tetapi kenyataan memang tetap sebuah kenyataan. Lord memang sudah dikalahkan. Lord benar-benar sudah mati, Ichigo."

Ichigo terdiam.

"Aku juga berharap kalau Lord masih hidup. Dia pasti bisa merasakan reiatsu Ichimaru-san. Kemudian akhirnya Lord akan mengalahkannya dan kebahagiaan yang ada sebelumnya akan kembali lagi seperti dulu."

"Seperti apa dia?"

Gadis Kuchiki ini kembali terlihat kebingungan.

"Ichimaru. Seperti apa dia?"

"Dia tampan, menurut yang orang katakan. Karakteristik para bangsawan memang umumnya seperti itu. Tingginya… dari cerita yang kudengar, ia nyaris sama dengan Otou-sama. Matanya sipit, dan aku bahkan tidak yakin ada orang yang pernah melihat warna iris mata Ichimaru-san. Rambutnya memiliki warna yang unik sepertimu, Ichigo. Dia memiliki rambut berwarna—"

"Perak," potong Ichigo cepat.

Hening. Gadis bermata violet ini terdiam kaget akan tindakan Ichigo yang memotong kata-katanya. Matanya mengerjap beberapa kali, seakan belum tersadar dari kelinglungannya.

"Kau… darimana kau tahu?"

Tindakan Ichigo terlihat gelisah. Pemuda bermata amber itu memijat pelipisnya. "Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya padamu, Rukia. Aku tidak yakin kalau kau akan percaya padaku."

"Katakan saja."

"Saat kau menjelaskan ciri-cirinya, aku seperti melihat gambaran dirinya dalam kepalaku. Aku bahkan…"

Violet Rukia menatap Ichigo penuh rasa ingin-tahu. "Kau bahkan, apa?"

"Aku… tiba-tiba saja merasakan hawa keberadaannya, Rukia. Reiatsunya ada di dekat sini, bahkan terasa jelas sekali. Dia, Ichimaru Gin ini, sedang berjalan menuju tempat Otou-sama mu berada," Ichigo memejamkan matanya saat ia mengatakan hal tersebut. "Dia sekarang sudah ada di dalam istana ini, Rukia."

"Tidak mungkin."

Dalam sekejap, Rukia berlari menuju ruangan dimana Ayahnya berada. Meninggalkan Ichigo yang masih kebingungan dengan dirinya sendiri.

.

Saya mutusin Aizen ga punya bankai di cerita ini. Selain saya gatau bankai dia apa, ini juga demi jalan cerita hehe #dorrr. Yak, untuk kali ini saya lagi males ngebacot guys. Ucapan terima kasih banyak saya berikan buat Naruzhea AiChi, anna chan dan Ishikawa Miharu 150696. Nah, langsung aja deh. Jangan lupa review ya kawan, review kalian bikin saya bisa lebih semangat buat ngelanjutin cerita ini :D

.

Next chapter:

"Terkejut mendapati aku berada di sini, Kuchiki-san?"

"Aku tidak percaya kalian nyaris membuat tawanan berhargaku bebas."

"Aku hanya tidak ingin semua rencana yang tersusun hancur. Para bangsawan cukup Yoruichi, Ulquiorra dan mungkin kini Orihime-chan yang benar-benar mengetahui kalau aku masih hidup."