0.5

.

.

Present by December28

.

Cast: Jung Daehyun – Choi Junhong

BAP Members, Others

-Perhatian! Ada beberapa marga member yang harus saya ganti untuk kepentingan cerita-

.

Warning: YAOI, Not EYD, OOC, Typo, Don't like don't read.

This is Daelo Fanfiction

.

Lets Start

.

'Jika angka untuk kematian adalah 0, dan angka kehidupan adalah 1. Maka kau berada diangka 0.5, karena faktanya kau tidak hidup dan juga tidak mati'

..

Junhong berlari kencang, air mata terus mengalir deras dengan langkah kaki yang mulai bergetar lelah. Menggenggam erat ponsel pemberian Jongup yang sejak tadi belum sempat ia gunakan, menoleh ke belakang memastikan bahwa sudah tidak ada yang mengejarnya lagi.

Terisak kecil dan dengan susah payah mengingat angka yang disebutkan Jongup beberapa menit lalu.

"A-ku mohon hiks…berapa nomornya"

Junhong jatuh menangis, memeluk lututnya dan mencengkram celana panjang sekolahnya erat-erat.

"Dimana bocah itu?!"

Junhong mendongak, menatap sekeliling yang tertutupi rumput ilalang setinggi tubuh orang dewasa. Mendekap erat mulutnya mencegah suara sekecil apa pun keluar.

"Dia pasti belum jauh, cari di pelosok ilalang"

Junhong mengenal suara itu, suara datar hyung pertamanya yang sejak dulu ia kagumi.

"Baik Tuan Himchan"

"Berikan laporan padaku saat ia sudah mati. Jangan berani-berani datang jika laporan yang ku inginkan tidak bisa kau berikan"

Junhong semakin bergetar ketakutan, merutuki kerja otaknya yang memang lemah sejak dulu.

Teringat ucapan Jongup yang bertemu dengannya sebelum memasuki gudang itu. awalnya Junhong hanya merengut tak mengerti. Setahunya, Ia hanya harus datang karena Himchan memintanya datang untuk membantunya mengerjakan sesuatu. Junhong tak mengerti bagaimana bisa Jongup tiba-tiba hadir dan mengatakan hal yang tidak masuk akal.

"Saat aku bilang lari maka berlarilah sejauh mungkin, jangan menoleh ke belakang. Jangan percaya siapa pun kecuali Tuan Lee dan hyungku. Kau mengerti?"

"Apa maksudmu hyung?"

Jongup mengeluarkan ponsel yang baru ia beli dari sakunya, menelan ludahnya gugup saat hendak mengetikkan nomor yang mungkin nanti bisa Junhong hubungi.

"Apa Junhong belum datang?"

Jongup menoleh mendengar suara Himchan, membekap mulut Junhong menyuruhnya untuk tetap diam di samping gudang itu.

"Tetaplah disini dulu, aku yakin ini hanya salah paham. Aku akan masuk lebih dulu dan berbicara dengan hyungmu"

Jongup mengusap rambut Junhong yang mulai berkeringat, walau tak mengerti keadaan Junhong sadar ia sedang dalam masalah.

"017XXXXX, kau harus mengingatnya. 017XXXXX. Hubungi hyungku dan katakan untuk datang membantuku disini"

"Hyung….ada apa sebenarnya, apa ada penjahat?"

Jongup menggeleng, mengusap pipi Junhong dan tersenyum kecil.

"Jangan pernah menghubungi polisi, kau mengerti? Kau hanya perlu melihat keadaan di dalam dari kaca ini, jangan sampai orang sadar dengan kehadiranmu"

Junhong mengangguk mengerti. Melepaskan genggaman tangan Jongup yang tersenyum dan melangkah masuk ke dalam gudang itu.

Meninggalkan Junhong dengan senyum tulus, mengorbankan dirinya hanya untuk membuktikan bahwa orang yang disayanginya tidak mungkin merencanakan hal jahat yang tidak sengaja didengarnya beberapa hari lalu.

"Jaga dirimu baik-baik, Junhong-ah"

.

"Jong-up hyung sudah mati..a-aku pasti akan mati setelah ini"

Terisak kecil saat mengingat kembali tubuh Jongup yang dipukuli berkali-kali oleh orang berbadan besar, tatapan sendu mata Jongup yang masih tertuju pada hyung keduanya. Uluran tangan Jongup yang meminta hyungnya raih namun pukulan lagi yang diterimanya.

"Aku harus bagaimana Jongup hyung..hiks"

'Saat aku bilang lari maka berlarilah sejauh mungkin, jangan menoleh ke belakang. Jangan percaya siapa pun kecuali Tuan Lee dan hyungku. Kau mengerti?'

Junhong menelan liurnya susah payah, perlahan bangkit dan menatap sekeliling dengan hati-hati. Saat akan mencoba melangkah Junhong kembali terjatuh karena lutut kakinya yang melemas.

"Aku mohon, jika aku berlari sekarang. Mungkin saja Jongup hyung bisa diselamatkan"

Junhong menatap ponsel itu, mengingat ucapan Jongup yang melarangnya untuk menghubungi polisi. Nomor telepon yang dikatakan oleh Jongup pun hanya mampu diingat oleh Junhong setengahnya. Memejamkan matanya erat-erat dan mencoba mengingat nomor ponsel Tuan Lee.

"Aku mohon…"

Mulai memasukkan beberapa digit angka yang ia ingat.

"Apa kau sudah memeriksa daerah sini?!"

Junhong memucat, dengan cepat mulai memasukkan sisa digit angka nomor ponsel itu.

"Aku mohon…jika nomor ponsel ini tidak benar, aku mungkin tidak bisa mengingat nomor yang lain lagi"

Mulai mendekatkan ponsel itu kearah telinganya, menelan liurnya susah saat mendengar nada sambung yang terus bersautan.

'Hallo..'

"Lee Ahjussi hiks.."

'Hallo? Siapa ini? Bisa bicara lebih ker-'

"Selamatkan aku Lee Ahjussi, aku mohon-"

"KAMI MENEMUKANNYA!?"

Junhong menoleh kebelakang, air mata mengalir deras dengan bola mata yang bergetar ketakutan.

"CEPAT TANGKAP!?"

'Hallo?!'

Junhong berlari kencang, mengabaikan lelah dan gemetar di kakinya. Menoleh kebelakang dan berlari semakin kencang saat dilihatnya 3 orang berlari mengejarnya.

'Aku mohon..selamatkan aku'

Berlari semakin kencang dengan tangan yang masih menggenggam ponsel itu erat-erat.

Melebarkan matanya saat melihat cahaya diujung jalan setapak itu. Memilih terus berlari dan tidak menghiraukan teriakan orang di belakangnya yang bersautan memintanya berhenti.

Junhong melihatnya, lampu temaram jalanan yang sepi di penghujung sore hari. Berlari semakin kencang untuk sampai di tengah jalan tanpa menyadari ada satu kendaraan yang melaju cepat menghampiri dirinya. Menabrak tubuhnya yang terpental beberapa meter ke depan, Junhong masih dapat mendengar suara lelaki dan wanita yang berteriak panik dan saling suruh menyuruh memanggil ambulans.

'Aku mohon…bawa aku pergi dari sini'

"Noona, bagaimana ini?"

"Kita bawa dia ke rumah sakit dan ambil ponsel itu. mungkin kita bisa menghubungi keluarganya"

Mendengar kata-kata sayup itu, Junhong hanya mampu menangis dalam diam. Berterima kasih kepada Tuhan karena membiarkannya mendengar harapan terakhir sebelum semua yang dapat ia lihat berubah menjadi gelap.

…..

….

Daehyun menoleh kearah sofa, menghembuskan nafasnya kala melihat Junhong yang masih terdiam sejak tadi.

"Junhong-ah"

"Apa benar-benar tidak diangkat?"

Daehyun mengangguk, meraih kembali ponselnya dan mencoba menghubungi nomor itu lagi.

"Junhong-ah, aku akan mencoba menelepon menggunakan telepon kantor"

"Tapi hyung-"

"Aku tak akan mengatakan macam-macam. Jika kali ini diangkat, pasti ada alasan khusus kenapa telepon dari ponsel pribadi tidak dijawab"

Junhong akhirnya menyerah, menganggukkan kepalanya dan memilih memejamkan mata.

"Hallo!"

Junhong menoleh, menatap pada Daehyun yang tersenyum lebar kearahnya.

"Aku Jung Daehyun dan aku yang menghubungi Anda sebelumnya"

"…."

"Aku menelepon anda dengan nomor 017XXXXX 10 menit yang lalu"

Mata Junhong terbelalak kaget, menatap Daehyun yang mengangguk kecil dan mengakhiri sambungan teleponnya.

"017XXXXX, kau harus mengingatnya. 017XXXXX. Hubungi hyungku dan katakan untuk datang membantuku disini"

Tidak mungkin.

Wush!

Junhong dengan cepat menghilang.

Meninggalkan Daehyun untuk mencari titik terang dari semua potongan ingatan yang menghampirinya sedikit demi sedikit.

Mencoba berusaha sendiri untuk memecahkan masalah tanpa melibatkan Daehyun kali ini. Jika tebakannya benar, maka adik yang selama ini diceritakan Daehyun adalah….Jung Jongup sahabatnya.

Tok tok!

"Buka pintunya!"

Pemuda itu memilih menghiraukan suara berisik di depan pintu apartemennya, masih menyandarkan tubuh lemasnya pada sofa besar di ruang tengah.

"Buka pintunya Youngjae!"

Youngjae menutup telinganya, menangis kecil dan menggigit bibirnya keras-keras.

"Buka sekarang atau aku akan menyuruh penjagaku mendobraknya!"

"PERGILAH!"

BRAK!

Youngjae memejamkan matanya lelah, dia pasti benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Orang menakutkan itu…akan melakukan semua yang menjadi keinginannya.

"Aku sudah memperingatkanmu bukan?"

"Pergilah aku mohon"

Youngjae bangkit, melempar orang itu dengan bantal sofa dan masih terus terisak.

"Kau menangis? KAU MASIH SAJA MENANGIS!"

"PERGILAH DAN JANGAN CAMPURI URUSANKU, KAU-"

PLAK!

Youngjae menunduk dalam, mengabaikan panas di pipinya yang baru saja ditampar keras.

"Sadarlah Youngjae, kau tidak seharusnya begini"

Youngjae semakin terisak, menjatuhkan tubuhnya dan menangis semakin keras.

"AKU HARUS BAGAIMANA! Hiks..Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan!"

PLAK!

"Aku menyuruhmu untuk sadar"

"Kenapa kau tidak bunuh aku juga Himchan hyung?! KENAPA TIDAK KAU BUNUH-"

Ckrek.

Youngjae mendongak kaget, menatap Himchan yang menarik pelatuk senjata dan mengarahkannya kepada Youngjae.

"Kau yang memintanya bukan?"

"Hyung…."

"Bangunlah dan cepat sadar. Kita dalam bahaya karena Junhong masih hidup dan kau..yang kau lakukan disini hanya menangis dan menyesali kematian pemuda itu"

"Aku…memimpikannya setiap hari"

"Itu salahnya yang tetap bersikeras melindungi Junhong, kau tau target kita bukan adik atasanmu itu"

"Aku mencintainya hyung.."

Himchan melunak, melempar pistolnya kesembarang arah dan maju mendekat kearah Youngjae.

"Youngjae-yaa"

"Aku mencintainya…"

Himchan semakin mendekat, memeluk tubuh Youngjae yang semakin hari semakin kurus. Mengusap punggung Youngjae yang masih menangis dan bergetar hebat.

"Ini semua salah Junhong. Kita harus cepat membunuh Junhong Youngjae-ya"

Youngjae menggeleng.

"Tidak bisakah kita berhenti hyung? Aku benar-benar lelah karena semua ini"

"Atas semua perlakuan dan hinaan yang telah ayahnya berikan pada keluarga kita, kau ingin melepasnya?"

"Tapi itu bukan salahnya hyung…"

"Karena Junhong…kita harus kehilangan semua yang seharusnya kita dapat di keluarga baru itu. Aku tidak akan memaafkannya"

"Hyung…"

"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti keluargaku seperti yang dilakukan Ayah kita dulu. Aku tidak akan melepasnya"

Youngjae memilih tidak menjawab ucapan Himchan. Mengeratkan pelukannya pada tubuh Himchan yang masih hangat seperti dulu.

Hanya Himchan yang ia punya.

Hanya Himchan yang dapat ia percaya.

Dan hanya Himchan yang akan mengabulkan semua keinginannya.

Hyungnya..Himchan.

To be continue~

Jangan lupa reviewnya yaah hehehe.

Jadi fanfic ini (Chapter 1-3) sebelumnya diapus sama admin ffn, karena draft fanficnya udah aku bikin makanya aku bikin lanjutannya (Chapter 4) dengan alur yang sedikit aku percepat.

Semoga ga bingung yaa :D

Buat Love Bus wakakakakak /ketawa lagi.

Aku benaran lagi galau dan sudah banget bikin lanjutan cerita love bus dengan mood kaya gini. Maap yaaa T-T

Aku pasti lanjut kok, Cuma nanti yaaa..harus liat banyak poto Daehyun yang manyun-manyun lucu dulu biar mood naek lagi hihhihihi.

Makasih juga buat temen-temen yang udah review di fanfic oneshoot aku : ILLEGAL 1 dan 2, sama SHADOW. Makasih banyak yaa~ aku baca semua reviewnya. Makasiiiih.

Jangan lupa mampir ke blog .

Ada banyak fanfic BAP disana ^^

Akhir kata. Makasih dan Pyooong~