chap 4 aku post disini,, yg belum baca sebelumnya bisa search di google. thanks. :)
Chap 4
Jam menunjukkan pukul 6 sore saat Luhan keluar dari kamar mandi. Ia langsung berganti pakaian lalu mengambil satu cup ice cream dari kulkas. Tak lupa, ia membawa beberapa snack.
Ia langsung mendudukkan dirinya di karpet berbulu yang ada diruang televisi. Sehun tadi memberitahunya jika EXO akan mengisi acara di salah satu stasiun tv swasta. Jadi, sebagai kekasih yang baik –mereka sudah berpacaran saat hari dimana Sehun mencium Luhan hingga nyaris ketahuan Baekhyun- , Luhan pun menontonnya.
Luhan terlihat asyik dengan ice creamnya, kendati matanya masih terpaku pada layar tv. Ia tidak tahu siapa yang sedang tampil itu. Sampai matanya yang seperti mata rusa itu melihat Sehun sedang menari bersama seorang wanita yang tak ia kenal tadi. Oh, jarak mereka begitu dekat. Luhan merengut kesal. 'Apa-apaan si Oh Sehun itu, ia menyuruhku melihatnya sore ini hanya untuk penampilan gilanya? Menyebalkan. Aku benci padamu, Oh Sehun.'
Gadis cantik itu berniat mematikan televisi yang masih menampilkan wanita itu, -tapi kali ini menari sendiri lagi- saat ia melihat disisi pojok bawah sebelah kanan layar televise itu tertulis nama EXO. Luhan menghela napas kesal, Sehun akan tampil lagi bersama EXO setelah ini. Dan ia sebenarnya masih ingin melihat wajah tampan kekasihnya itu. Alhasil, dengan perasaan dongkol, ia tak jadi mematikan televisinya.
.
.
.
Mata Luhan dibuat terbelalak dengan tingkah Sehun. Pemuda itu membuat Love Sign dan melemparnya kearah kamera. Bagaimana jika yang memegang kameranya seorang perempuan.
Baiklah, mungkin Luhan terlalu berlebihan. Tapi, tak bisa ia pungkiri jika pipinya merona karena kelakuan Sehun barusan. Bahkan sampai saat EXO selesai dengan performnya, pipinya masih saja hangat.
Dering ponsel menyadarkannya, ia melihat kearah ponselnya yang tengah menampilkan nama penelepon.
Sehun's calling
Dengan semangat, Luhan mengangkat telepon itu. "Wae?" tanyanya dengan suara yang dibuat seketus mungkin. Membuat Sehun kesal sepertinya menyenangkan.
"Yak, kenapa suaramu begitu. Kau tidak senang aku menelepon?"
"…"
"Oh, dan apa tadi kau melihatnya? Aku memberimu Love Sign. Kau melihatnya? Kau melihatnya, kan?" sambung Sehun. Pemuda itu benar-benar cerewet, tak sepadan dengan wajahnya yang dingin itu.
Luhan tersenyum jahil, "Ah, benar. Aku tadi menemani Baekhyun ke toko buku. Maaf," Haha.. Luhan ingin tertawa, menyenangkan sekali mengerjai kekasih tampannya itu.
"Mwoya? Lalu siapa yang menerima Love Sign-nya? Kau harus mencarinya, cari videonya sekarang juga." Luhan terkikik geli dengan rengekkan Sehun. Omo! Menggemaskan sekali, batin Luhan.
"Hahaha….. aku bercanda. Hati Sehun sudah mendarat dengan tepat dihatiku."
Luhan mematikan sambungan teleponnya dengan Sehun. Kekasihnya itu menggemaskan sekali, bukan? Lain kali aku kan sering-sering membuatnya kesal. Hihihi…
Tangan Luhan tengah mengotak-atik ponsel pintarnya. Jari nya menelususri folder demi folder yang ada.
GOT IT!
Setelah menemukan foldernya, Luhan langsung mengetikkan beberapa digit angka-password- untuk membuka folder tersebut.
Luhan langsung melihat foto-foto nya bersama Sehun, yang diambil saat kencan diam-diam mereka tiga hari yang lalu. Kencan yang spectacular, menurut Luhan. Sehun begitu romantic dengan memberikannya bunga hasil sulap bohongannya. Kekeke… mengingat itu membuat Luhan terkekeh sendiri.
Luhan mendekap ponselnya erat sambil tersenyum bahagia. Oh Sehun… ia sangat mencintai pemuda itu.
'Sehun adalah milikku!- hihi'
Luhan mendengus kesal. Dirinya sungguh merasa bosan menghadapi situasi yang seperti ini. Huh, selalu saja menonton di kirsi bagian paling belakang. Kencan dengan Idol tak begitu menyenangkan. Tapi, tenang saja! Luhan akan selalu mencintai Sehun.
Hanya saja, ia kadang merasa ingin berkencan layaknya pasangan lain. Tak perlu bersembunyi seperti ini. Tapi, Luhan tahu itu akan sangat beresiko. Luhan masih memikirkan karir Sehun, cita-cita pemuda itu.
"Hey," bisik Sehun yang duduk disamping Luhan. "Wae?" jawab Luhan sembari tangannya mencubit gemas pipi Sehun.
"Apa kau menikmatinya?" dan Luhan hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Geurae. Katakana bagaimana akhirnya nanti, ok? Aku kemobil dulu." Sehun melambai kecil lalu mengecup dahi Luhan. Setelah itu, ia keluar dari gedung dan menuju basement.
Luhan menghela napas setelah Sehun keluar. Sehun harus meninggalkan tempat sebelum lampu menyala. Jadi, Luhan harus melihat bagian akhir sendirian. Huh, menyedihkan. Seperti film yang sedang Luhan tonton.
"Ck! Aku tahu akan seperti itu. Menyedihkan sekali," ucap Sehun begitu Luhan selesai memberitahukan bagian akhir filmnya tadi. Luhan sendiri hanya mengangguk sambil meminum hot chocolate yang ia beli sebelum ke basement untuk menyusul Sehun.
"Tapi….. Ehm," Luhan memandang Sehun bingung,
"Wae?"
"Apa kau kedinginan?" tanya Sehun setelah mengecilkan volume music yang disetelnya.
"Uhmm… sedikit."
"Oh, aku punya selimut dikursi belakang. Kau bisa menggunakannya untuk menghangatkan badan," ujar Sehun gugup.
Gadis berwajah cantik yang duduk disebelah Sehun mengernyit heran. Kepalanya menoleh ke kursi belakang dan menemukan sebuah kotak –seperti kado- ? Aha!
"Tapi, tidak ada selimut? Hanya ada sebuah kotak," gadis itu tersenyum miring dan terkekeh geli didalam hati. Sedangkan Sehun terlihat sangat gugup. Haha! Kena kau, Oh Sehun.
"Ne, ada selimut didalamnya."
-Tidak mungkin,
"Benarkah?" Sehun mengangguk. Kemudian, Luhan mengambil kotak itu. Menempatkan pada pangkuannya lalu membukanya.
'Omo! Sepatu yang sangat cantik,'
"Mwoya? Tidak ada selimut, hanya ada sepatu." Kata Luhan.
Sehun berpura-pura kaget, "Benarkah? Kenapa bisa ada sepatu disana?"
"Ung, apa wanita itu yang meninggalkan sepatunya disini." Luhan yang sedang mengagumi sepatu itu menoleh pada Sehun sembari memelototkan matanya.
"MWO?!"
Sehun terkekeh, "Sepertinya," Sehun mengedikkan bahu. "Tapi, itu milikmu. Kau pernah bilang jika kau menyukai sepatu seperti itu." Perkataan Sehun mau tidak mau membuat Luhan tersenyum. Ia jadi teringat masa dimana ia masih di SMP dulu. Saat ia dan Sehun berdiri didepan sebuah toko sepatu untuk melihat-lihat sepatu ber-hak tinggi, setiap pulang sekolah.
"Mwoya? Kenapa sepatu seperti itu mahal sekali?" Sehun terlihat kaget saat melihat price tag sepatu dengan hak sekitar 8 centi.
Bagaimana tidak, harga sepatu itu 500.000 won. Sangat mahal hanya untuk ukuran sepatu seperti itu. Maklum, saat itu mereka berdua masih sama-sama remaja labil dan masih meminta uang dari orang tua.
"Kau tidak mengerti. Perempuan bahkan rela tidak makan berhari-hari untuk dapat membeli sepatu seperti itu. Agar kakinya terlihat lebih indah." Kata Luhan dengan senyumnya yang manis. Matanya yang seperti rusa berbinar bahagia.
"Cantik sekali~" Sehun yang berada disamping Luhan ikut tersenyum. Berjanji dalam hati, bahwa suatu saat nanti ia akan membelikan Luhan sepatu yang seperti itu. Sebanyak yang Luhan inginkan.
"Terima kasih, sepatunya sangat cantik." Ujar Luhan.
"Tidak masalah. Tapi- apa tidak apa-apa jika aku memberimu sepatu. Kau tidak akan lari?" Sehun tersenyum jahil. Luhan terkekeh kemudian memeluk lengan Sehun. "Tidak, tidak akan. Luhan akan selalu berada disisi Sehun selamanya."
"Geurae, itu bagus." Kekeh Sehun. "Kau benar-benar cantik. Saranghae~" Luhan mengangguk.
"Nado,"
Luhan mengampiri Baekhyun yang sedang menonton tv pagi itu. Dan tentu saja, yang ditonton Baekhyun tidak jauh-jauh dari EXO. Luhan membawa dua buah cangkir coklat hangat ditangannya.
"Seperti apa tipe ideal member EXO?" Luhan mendudukkan dirinya disamping Baekhyun saat mendengar pertannyaan MC yang ditunjukkan untuk semua member EXO. Yah, yang mereka tonton adalah interview EXO di salah satu tv swasta.
"Aku tidak terlalu memikirkan tipe ideal." Jawab Chanyeol
"Memiliki senyum yang indah," kali ini adalah suara Jongin.
"Kalau aku, seperti Boa sunbaenim."
Mata Luhan terbelalak, "Boa?!" sampai tidak sadar ia berteriak bersamaan dengan Baekhyun yang juga berteriak sama dengannya.
Baekhyun memandang Luhan heran, seingatnya- "Bukankah kau suka Boa? Suaranya sangat bagus dan tariannya sangat energik?" perkataan Baekhyun membuat Luhan menelan ludah gugup. Kemuadian Luhan nyengir, "Ani,"
Baekhyun mengedikkan bahu tak peduli lalu kembali memperhatikan tv didepannya. Sementara Luhan yang berada disampingnya menggerutu kesal. Oh Sehun sialan!
"Kenapa kau menyukainya?" Luhan berusaha focus untuk mendengar jawaban Sehun atas pertanyaan yang dilontarkan MC tadi kepada Sehun.
"Um.. aku menyukai wanita yang lebih tua dariku." Jawab Sehun dengan suara yang sedikit malu.
"Oh, bagaimana dengan yang lebih muda atau seumuran?"
"Aku menyukainya. Tapi aku rasa aku lebih suka yang lebih tua dariku."
Ingatkan Luhan untuk mencekik Sehun setelah ini.
TBC
